Home / Romansa / Satu Miliar Untuk ART / Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

Share

Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

Author: UmiPutri
last update Last Updated: 2025-02-14 12:51:17

"lho, Memangnya bayi ini belum dikasih nama?" Tanya Titin heran.

"Boro-boro dikasih nama Bu, dilirik pun sama sekali tidak. Sayalah yang mengurusi bayi ini dari sejak lahir sampai sekarang," jawab Nilam.

"Betul apa yang dikatakan Nilam, bayi ini tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya para asisten rumah yang mengasihi bayi ini," tambah Pak sopir.

"Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak. Biarlah kamu dirawat sama kami di sini, bayi ini umurnya berapa hari?" Tanya Titin.

"Sekitar 3 Minggu Bu, anak ini belum aqiqah. Kasih tahu aku anak yang dilahirkan itu harus aqiqah Bu," jawab Nilam.

"Betul, kita nanti ada kan syukuran kecil-kecilan. Sekalian memberikan nama anak ini, Siapa tahu suatu hari nanti anak ini menjadi anak yang tumbuh dengan baik dan soleh," ucap Titin dengan suara tertahan.

"Betul apa yang dikatakan Bu Titin, semoga anak ini tumbuh menjadi anak yang sholeh," Pak sopir tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Hatinya benar-benar pedih melihat nasib bayi ini yang diabaikan oleh keluarganya.

"Kalau begitu saya permisi dulu, Saya tidak mungkin lama-lama di sini," Pak sopir langsung permisi.

"Sebentar dulu Pak sopir, kita makan dulu. Pak sopir kan sudah diijinkan sama tuan dan nyonya. Pulang besok hari juga tidak apa-apa," ucap Nilam sengaja menahan kepergian Pak sopir.

"Maaf Nilam, saya masih banyak pekerjaan yang lain, nanti saya makan di jalan saja. Kebetulan anak saya besok minta diantar tamasya, biasalah acara dari sekolah, saya sengaja ambil libur, untuk mengantar anak saya. Jadi kalau besok pulang rasanya tidak mungkin," ungkap Pak sopir.

"Baiklah kalau begitu, tapi mau Tidak dibawakan oleh-oleh? Kebetulan ada buah nangka sama mangga, mau bawa nggak?" Tanya Udin.

"Aduh, Terima kasih Pak. Jangan repot-repot," Ucap pak sopir merasa tidak enak.

"Tidak boleh menolak rezeki Pak, sebentar ya saya bungkuskan dulu," Udin langsung bergegas ke dapur untuk mengambil buah-buahan yang baru diambilnya dari kebun.

"Wah, banyak sekali ini mangganya Pak. Sepertinya manis-manis, terima kasih ya Pak," ucap Pak sopir dengan wajah berbinar.

Akhirnya pak sopir itu berpamitan pulang, Udin dan Nilam mengantar sampai mobil hilang dari pandangan mereka.

Setelah keluarga berkumpul, kedua adik Nilam. Nia dan Nino ikut berkumpul melihat bayi yang dibawa sama Nilam.

"Bu ada yang harus hilang bicarakan," ucap Nilam setelah suasana dirasa cukup tenang.

"Ada apa Nilam? Sepertinya kamu serius ingin membicarakan sesuatu," tanya Titin.

"Betul Bu, Nilam dikasih uang satu milyar....."

"Apa!" Sebelum Nilam menyelesaikan bicaranya, keempat orang itu langsung terpekik, karena merasa kaget mendengar kata " Satu Milyar ".

"Kaget ya?" Tanya Nilam sambil terkekeh.

"Kamu jangan bercanda Nak, kamu tidak bohong kan?" Tanya Udin penasaran.

"Buat apa saya bohong, sebentar saya....." Nilam langsung mengeluarkan ponselnya, terlihat jarinya menggeser layar ponsel. Lalu Nilam mencari aplikas m-bankin. Dia memperlihatkan nominal uang di rekeningnya.

"Ini pak, uang itu sudah masuk ke dalam rekening saya," Nilam memperlihatkan nominal uang yang tertera di rekeningnya.

Mata Udin melotot, Titin menggeser duduknya dan ikut melihat nominal uang itu. Mulut Titin ternganga lebar, karena masih tidak percaya dengan nilai nominal uang yang ada di rekening anaknya.

"Ibu dan bapak percayakan, ini uang dari tuan Alex dan nyonya Belda. Nilam ingin merawat anak ini dengan baik, sebenarnya Nilam sudah menolak Bu. Pasti banyak resiko yang akan dihadapi, Ibu tahu kan Dilan bekerja di kota. Pulang-pulang bawa anak kecil, pasti omongan tetangga yang benci sama kita, sudah pasti menuduh yang tidak-tidak," ucap Nilam sedih.

Suasana hening dan sepi, antara perasaan bahagia dan sedih. Bahagia mereka mendapatkan uang satu miliar, sedihnya pasti mereka harus tutup mata telinga mendengar omongan tetangga yang nyinyir dan julid.

"Tapi Nilam kasihan sama bayi ini. Seandainya bayi ini disimpan di panti asuhan, rasanya Nilam tidak tega juga. Sebelum kemarin juga tuan dan nyonya Alex memutuskan untuk memberikan bayi ini ke panti asuhan. Lalu mereka menawarkan sama Nilam, Karena rasa kasihan yang begitu besar, akhirnya Nilam menerima tawaran itu," lanjut Nilam lagi.

"Ya sudah, saat kita memutuskan sesuatu. Pasti ada resikonya, hidup ini antara enak dan tidak enak. Karena semua sudah diatur sama Tuhan, sudahlah sekarang jangan banyak pikiran. Abaikan saja omongan para tetangga, tidak usah meladeni dia. Menjelaskan apapun sama orang yang membenci kita, tidak akan masuk. Karena hati mereka sudah diliputi rasa kebencian yang begitu besar. Sekarang kita fokus mengurus bayi ini, Nia dan Nino, kalian harus membantu kakak kamu, karena setidaknya kehadiran bayi ini membutuhkan perhatian yang khusus dari kita," panjang lebar Udin berbicara.

"Siap pak, penting bagi kita sekarang, biaya sekolah jangan sampai terlambat. Semenjak Kak Nilam bekerja di Jakarta, Alhamdulillah biaya sekolah selalu tercukupi," ucap Nia.

"Jangan khawatir pula Bu, pak. Tuan dan nyonya Alex setiap bulan akan mengirimkan biaya untuk bayi ini, jadi kita tidak perlu repot-repot untuk membeli kebutuhan bayi ini. Buat susu dan keperluan lainnya," ucap Nilam.

"Masya Allah, tapi mereka baik juga ya mau mengirimkan uang," ucap Titin.

"Bagi mereka uang bukan masalah besar Bu, sebagai seorang pengusaha tentunya mereka banyak uang. Buktinya mereka memberikan uang satu miliar buatku asal mau mengurus bayi ini," tukas Nilam.

"Dan untuk uang ini, Nilam menyerahkan uang sama ibu dan bapak. Belilah kendaraan, dan renovasi rumah ini pak. Nilam menyarankan membeli kendaraan, agar kami transportasi lancar untuk memberi keperluan bayi. Untuk renovasi rumah, Nilam serahkan sama bapak," Nilam akhirnya memutuskan uang yang ada rekening diberikan sama kedua orang tuanya.

Udin dan Titin saling melempar pandangan, karena tidak menyangka Nilam akan mempercayakan uang sebesar itu.

Nia dan Nino melempar pandangan, wajah mereka berharap dibelikan kendaraan. Karena selama pergi ke sekolah mereka naik angkutan umum.

"Beli saja mobil dulu Pak, cari mobil yang kira-kira harganya kisaran 100 juta, beli juga motor buat Nino dan Nia, Mereka pergi ke sekolah," saran Nilam.

Toh uang 1 miliar cukup untuk dibelikan kendaraan juga renovasi rumah. Sisanya akan Nilam pergunakan untuk modal usaha. Samping ngurus bayi rencananya Nilam mau membuka toko kecil-kecilan, kebetulan di sekitar tempat tinggalnya belum banyak yang membuka warung.

Udin menghela nafasnya dalam-dalam, perasaan hatinya bercampur aduk, antara bahagia dan sedih.

"Tapi menurut ibu, utamakan dulu acara syukuran aqiqah anak ini, paling habis berapa. Kasihan anak ini belum aqiqah juga belum dikasih nama," ungkap Titin.

"Benar juga apa yang dikatakan ibu, terus nama anak ini siapa?" Tanya Nilam.

"Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusumah?....."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 5. Tuduhan Kejam

    "nama yang bagus, Zahir bin Malik nama anak ini," ujar Udin sambil menatap bayi yang ada dalam gendongan Titin, istrinya."Iya, nama yang bagus. Ibu setuju sekali, tapi....." Titin menghentikan ucapannya. "Tapi apa Bu?" Tanya Nilam cepat. "Nama anak-anak kita kan awalannya huruf "N". Alangkah baiknya nama anak ini juga awalan nya dari huruf itu," jawab Titin sambil terkekeh. "Bagaimana kalau Nizam bin Malik?" Nia adiknya Nilam mengajukan usul."Nah itu bagus, nama yang sangat bagus," tukas Udin."Ya sudah namanya Nizam bin Malik saja," akhirnya mereka setuju, nama bayi ini jadinya Nizam bin Malik bukan Zahir bin Malik. "Bu, besok Nilam ke bank dulu ya. Atau ke ATM dulu, terus untuk beli motor sama mobil setelah selesai acara syukuran saja. Satu-satu dulu saja," Nilam mengajukan usul. "Sebaiknya begitu, satu-satu dulu lah. Baru setelah acara syukuran selesai. Kita renovasi rumah beserta kendaraan," Udin setuju dengan usulan Nilam, begitu pula dengan Titin. Karena syukuran aqiqah N

    Last Updated : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 6. Kebencian berujung ramah

    Mereka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Titin datang untuk berbelanja. Mereka semua diam, mulutnya langsung terkunci, mereka menatap Titin dengan wajah bersalah. Karena orang yang digosipkan berada di hadapan mereka. "Kenapa tidak dilanjutkan lagi omongannya ibu-ibu. Silakan lanjutkan lagi, saya ke sini untuk belanja sayuran," ujar Titin, tangannya sibuk memilih-milih sayuran beserta lauk yang lainnya. Ibu-ibu langsung melempar pandangan, mereka merasa malu dengan omongan Titin. Karena tadi mereka begitu bersemangat menggosipkan keluarganya. "Eh, Maaf Bu Titin. Tadi kami memang membicarakan Nilam. Karena jujur saja, kami merasa kaget. Karena tahu-tahu anak ibu pulang membawa seorang bayi. Ingin bertanya sama ibu rasanya sungkan," akhirnya Bu Nonik menjelaskan apa yang sebenarnya dibahas sewaktu tadi. Tapi perkataan Bu Eti yang pasti menyakiti hati keluarga Bu Titin, tidak dibicarakan kembali. Bu Nonik berhati-hati menyampaikannya. "Oh, memang benar. Anak saya pulang membaw

    Last Updated : 2025-04-04
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 7. Mulai Terkuak

    "Eh, iya Mas," wajah Belda terlihat panik, saat melihat kedatangan Alex suaminya. Dia buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria tampan yang duduk di hadapan Belda menatap ke arah Alex. Belda langsung berjalan mendekati suaminya."Siapa laki-laki itu?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di hadapan Belda."Dia, eh, anu, dia. Oh ya, temanku Mas," jawab Belda gugup.Alex menautkan kedua alisnya heran, hatinya mulai curiga dengan jawaban Belda yang terlihat gugup. Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Alex, dia tersenyum ramah sama Alex."Kenalkan, saya sahabatnya Belda. Kebetulan kami bertemu di sini, kerjaan Saya seorang fotografer," si pria itu mengulurkan tangannya. Alex terlihat ragu-ragu mengulurkan tangannya, selalu menyambut uluran tangan pria itu, sambil menyebutkan namanya. "Alex, suaminya Belda.""Perta, Perta Cristian.""Mari kita duduk-duduk dulu, Belda belum selesai pemotretannya," Perta mengajak Alex untuk

    Last Updated : 2025-04-04
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 1. Sebuah Tawaran

    "Satu Milyar! Aku bayar kamu untuk merawat anakku!" Ucap seorang pria yang duduk di samping wanita cantik. Di depannya seorang gadis sederhana yang baru saja beberapa bulan bekerja di rumah mereka. Langsung terlonjak saking kagetnya, mendengar majikannya berkata seperti itu. Gadis sederhana itu bernama Nilam Sari, usianya baru 19 tahun, dia menerima pekerjaan sebagai asisten rumah. Gadis itu bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. "Kami mau tinggal di luar negeri, kami tidak mungkin membawa bayi ini ke sana, apalagi dia penyakitan seperti ini. Aku mohon Nilam, bawalah anak itu ke kampung kamu," ucap wanita cantik itu dengan tatapan mata memelas. Sontak mata nilam hampir meloncat dari cangkangnya. Karena terkejut mendengar ucapan wanita cantik itu. "Iya Nilam, Kamu tahu kan istriku itu siapa? Dia ingin fokus berkarir dulu. Tidak mungkin orang tuaku merawat bayi ini, Kamu tahu kan usia mereka sudah uzur," tambah pria yang duduk di samping wanita cantik. Nilam diam

    Last Updated : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

    Nilam merasa aneh mendengar obrolan majikannya. Mereka sampai tidak mau mengakui darah daging mereka sendiri. Padahal bayi itu kelihatan tampan dan rupawan."Maafkan kami mah, belum bisa memberikan cucu yang sesuai harapan Mama dan papa," ucap Belda getir."Sudahlah tidak usah banyak basa-basi, kamu sekarang jadi berangkat kan? Jangan lupa bawa bayi yang penyakitan dan cacat itu," ucap Ibu Alex dengan suara ketus.Alek Kusuma dan Belda Gayatri pasangan muda yang sedang mengejar karir. Alex seorang pengusaha ternama, sedangkan Belda seorang foto model yang sedang meniti karir. Saat ini keduanya akan pergi ke Paris, Karena Belda ada tawaran pekerjaan di sana.Nilam duduk di dekat sopir, sedangkan Alex dan Belda duduk di belakang. Semua barang-barang diantar dengan mobil yang lain. Nilam menggendong bayi dengan perasaan tidak menentu. Dia terus menatap wajah bayi, ternyata walaupun kedua orang tuanya banyak harta, tetapi masih bayi itu disia-siakan oleh keluarganya sendiri. "Ibu kasihan

    Last Updated : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

    "Lho, itu kan Nilam!" Pekik ibunya Nilam."Iya Bu, tapi kok......" Ucapan Bapak Nilam terhenti, saat melihat tangan Nilam yang menggendong bayi."Lho, itu anak siapa yang dibawa Nilam?" Tanya Titin, ibunya Nilam."Ayo kita cepat ke sana Bu," ajak Udin, bapaknya Nilam.Perasaan Titin menjadi nu tidak enak, melihat bayi yang ada dalam gendongan anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Titin merasa terjadi sesuatu dengan Nilam anaknya. Padahal selama ini, Nilam selalu mengabarkan baik-baik tentang dirinya, bahkan gajinya beberapa bulan ke depan selalu dikirim untuk membantu biaya sekolah kedua adik-adiknya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nilam? Siapakah bayi yang ada dalam gendongannya?" Hati Titin terus bertanya-tanya.Tapi Titin tidak mau berpikir yang bukan bukan dulu. Sebelum Nilam menjelaskan semuanya, karena takut menjadi fitnah, atau keributan. Titin menahan segala keingintahuannya, sebelum Nilam menjelaskan kepadanya nanti.Titin dan Udin langsung bergegas berjalan ke depan.

    Last Updated : 2025-02-14

Latest chapter

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 7. Mulai Terkuak

    "Eh, iya Mas," wajah Belda terlihat panik, saat melihat kedatangan Alex suaminya. Dia buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria tampan yang duduk di hadapan Belda menatap ke arah Alex. Belda langsung berjalan mendekati suaminya."Siapa laki-laki itu?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di hadapan Belda."Dia, eh, anu, dia. Oh ya, temanku Mas," jawab Belda gugup.Alex menautkan kedua alisnya heran, hatinya mulai curiga dengan jawaban Belda yang terlihat gugup. Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Alex, dia tersenyum ramah sama Alex."Kenalkan, saya sahabatnya Belda. Kebetulan kami bertemu di sini, kerjaan Saya seorang fotografer," si pria itu mengulurkan tangannya. Alex terlihat ragu-ragu mengulurkan tangannya, selalu menyambut uluran tangan pria itu, sambil menyebutkan namanya. "Alex, suaminya Belda.""Perta, Perta Cristian.""Mari kita duduk-duduk dulu, Belda belum selesai pemotretannya," Perta mengajak Alex untuk

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 6. Kebencian berujung ramah

    Mereka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Titin datang untuk berbelanja. Mereka semua diam, mulutnya langsung terkunci, mereka menatap Titin dengan wajah bersalah. Karena orang yang digosipkan berada di hadapan mereka. "Kenapa tidak dilanjutkan lagi omongannya ibu-ibu. Silakan lanjutkan lagi, saya ke sini untuk belanja sayuran," ujar Titin, tangannya sibuk memilih-milih sayuran beserta lauk yang lainnya. Ibu-ibu langsung melempar pandangan, mereka merasa malu dengan omongan Titin. Karena tadi mereka begitu bersemangat menggosipkan keluarganya. "Eh, Maaf Bu Titin. Tadi kami memang membicarakan Nilam. Karena jujur saja, kami merasa kaget. Karena tahu-tahu anak ibu pulang membawa seorang bayi. Ingin bertanya sama ibu rasanya sungkan," akhirnya Bu Nonik menjelaskan apa yang sebenarnya dibahas sewaktu tadi. Tapi perkataan Bu Eti yang pasti menyakiti hati keluarga Bu Titin, tidak dibicarakan kembali. Bu Nonik berhati-hati menyampaikannya. "Oh, memang benar. Anak saya pulang membaw

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 5. Tuduhan Kejam

    "nama yang bagus, Zahir bin Malik nama anak ini," ujar Udin sambil menatap bayi yang ada dalam gendongan Titin, istrinya."Iya, nama yang bagus. Ibu setuju sekali, tapi....." Titin menghentikan ucapannya. "Tapi apa Bu?" Tanya Nilam cepat. "Nama anak-anak kita kan awalannya huruf "N". Alangkah baiknya nama anak ini juga awalan nya dari huruf itu," jawab Titin sambil terkekeh. "Bagaimana kalau Nizam bin Malik?" Nia adiknya Nilam mengajukan usul."Nah itu bagus, nama yang sangat bagus," tukas Udin."Ya sudah namanya Nizam bin Malik saja," akhirnya mereka setuju, nama bayi ini jadinya Nizam bin Malik bukan Zahir bin Malik. "Bu, besok Nilam ke bank dulu ya. Atau ke ATM dulu, terus untuk beli motor sama mobil setelah selesai acara syukuran saja. Satu-satu dulu saja," Nilam mengajukan usul. "Sebaiknya begitu, satu-satu dulu lah. Baru setelah acara syukuran selesai. Kita renovasi rumah beserta kendaraan," Udin setuju dengan usulan Nilam, begitu pula dengan Titin. Karena syukuran aqiqah N

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

    "lho, Memangnya bayi ini belum dikasih nama?" Tanya Titin heran. "Boro-boro dikasih nama Bu, dilirik pun sama sekali tidak. Sayalah yang mengurusi bayi ini dari sejak lahir sampai sekarang," jawab Nilam."Betul apa yang dikatakan Nilam, bayi ini tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya para asisten rumah yang mengasihi bayi ini," tambah Pak sopir. "Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak. Biarlah kamu dirawat sama kami di sini, bayi ini umurnya berapa hari?" Tanya Titin. "Sekitar 3 Minggu Bu, anak ini belum aqiqah. Kasih tahu aku anak yang dilahirkan itu harus aqiqah Bu," jawab Nilam."Betul, kita nanti ada kan syukuran kecil-kecilan. Sekalian memberikan nama anak ini, Siapa tahu suatu hari nanti anak ini menjadi anak yang tumbuh dengan baik dan soleh," ucap Titin dengan suara tertahan. "Betul apa yang dikatakan Bu Titin, semoga anak ini tumbuh menjadi anak yang sholeh," Pak sopir tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Hatinya benar-benar pedih melihat nasib bayi i

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

    "Lho, itu kan Nilam!" Pekik ibunya Nilam."Iya Bu, tapi kok......" Ucapan Bapak Nilam terhenti, saat melihat tangan Nilam yang menggendong bayi."Lho, itu anak siapa yang dibawa Nilam?" Tanya Titin, ibunya Nilam."Ayo kita cepat ke sana Bu," ajak Udin, bapaknya Nilam.Perasaan Titin menjadi nu tidak enak, melihat bayi yang ada dalam gendongan anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Titin merasa terjadi sesuatu dengan Nilam anaknya. Padahal selama ini, Nilam selalu mengabarkan baik-baik tentang dirinya, bahkan gajinya beberapa bulan ke depan selalu dikirim untuk membantu biaya sekolah kedua adik-adiknya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nilam? Siapakah bayi yang ada dalam gendongannya?" Hati Titin terus bertanya-tanya.Tapi Titin tidak mau berpikir yang bukan bukan dulu. Sebelum Nilam menjelaskan semuanya, karena takut menjadi fitnah, atau keributan. Titin menahan segala keingintahuannya, sebelum Nilam menjelaskan kepadanya nanti.Titin dan Udin langsung bergegas berjalan ke depan.

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

    Nilam merasa aneh mendengar obrolan majikannya. Mereka sampai tidak mau mengakui darah daging mereka sendiri. Padahal bayi itu kelihatan tampan dan rupawan."Maafkan kami mah, belum bisa memberikan cucu yang sesuai harapan Mama dan papa," ucap Belda getir."Sudahlah tidak usah banyak basa-basi, kamu sekarang jadi berangkat kan? Jangan lupa bawa bayi yang penyakitan dan cacat itu," ucap Ibu Alex dengan suara ketus.Alek Kusuma dan Belda Gayatri pasangan muda yang sedang mengejar karir. Alex seorang pengusaha ternama, sedangkan Belda seorang foto model yang sedang meniti karir. Saat ini keduanya akan pergi ke Paris, Karena Belda ada tawaran pekerjaan di sana.Nilam duduk di dekat sopir, sedangkan Alex dan Belda duduk di belakang. Semua barang-barang diantar dengan mobil yang lain. Nilam menggendong bayi dengan perasaan tidak menentu. Dia terus menatap wajah bayi, ternyata walaupun kedua orang tuanya banyak harta, tetapi masih bayi itu disia-siakan oleh keluarganya sendiri. "Ibu kasihan

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 1. Sebuah Tawaran

    "Satu Milyar! Aku bayar kamu untuk merawat anakku!" Ucap seorang pria yang duduk di samping wanita cantik. Di depannya seorang gadis sederhana yang baru saja beberapa bulan bekerja di rumah mereka. Langsung terlonjak saking kagetnya, mendengar majikannya berkata seperti itu. Gadis sederhana itu bernama Nilam Sari, usianya baru 19 tahun, dia menerima pekerjaan sebagai asisten rumah. Gadis itu bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. "Kami mau tinggal di luar negeri, kami tidak mungkin membawa bayi ini ke sana, apalagi dia penyakitan seperti ini. Aku mohon Nilam, bawalah anak itu ke kampung kamu," ucap wanita cantik itu dengan tatapan mata memelas. Sontak mata nilam hampir meloncat dari cangkangnya. Karena terkejut mendengar ucapan wanita cantik itu. "Iya Nilam, Kamu tahu kan istriku itu siapa? Dia ingin fokus berkarir dulu. Tidak mungkin orang tuaku merawat bayi ini, Kamu tahu kan usia mereka sudah uzur," tambah pria yang duduk di samping wanita cantik. Nilam diam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status