Beranda / Romansa / Satu Miliar Untuk ART / Bab 5. Tuduhan Kejam

Share

Bab 5. Tuduhan Kejam

Penulis: UmiPutri
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-14 12:52:36

"nama yang bagus, Zahir bin Malik nama anak ini," ujar Udin sambil menatap bayi yang ada dalam gendongan Titin, istrinya.

"Iya, nama yang bagus. Ibu setuju sekali, tapi....." Titin menghentikan ucapannya.

"Tapi apa Bu?" Tanya Nilam cepat.

"Nama anak-anak kita kan awalannya huruf "N". Alangkah baiknya nama anak ini juga awalan nya dari huruf itu," jawab Titin sambil terkekeh.

"Bagaimana kalau Nizam bin Malik?" Nia adiknya Nilam mengajukan usul.

"Nah itu bagus, nama yang sangat bagus," tukas Udin.

"Ya sudah namanya Nizam bin Malik saja," akhirnya mereka setuju, nama bayi ini jadinya Nizam bin Malik bukan Zahir bin Malik.

"Bu, besok Nilam ke bank dulu ya. Atau ke ATM dulu, terus untuk beli motor sama mobil setelah selesai acara syukuran saja. Satu-satu dulu saja," Nilam mengajukan usul.

"Sebaiknya begitu, satu-satu dulu lah. Baru setelah acara syukuran selesai. Kita renovasi rumah beserta kendaraan," Udin setuju dengan usulan Nilam, begitu pula dengan Titin. Karena syukuran aqiqah Nizam lebih utama dibandingkan dengan yang lainnya.

"Kita beli dulu 2 ekor kambing, mungkin lusa kita baru bisa syukuran. Besok juga Ibu harus belanja kan mempersiapkan hidangan untuk acara syukuran," ucap Nilam.

"Iya, Tapi sebaiknya Bapak minta satu atau dua hari lah, untuk mempersiapkan acara syukuran Nizam," Udin meminta waktu.

"Baiklah," Nilam setuju dengan usulan kedua orang tuanya.

Baru saja Nilam bangkit dari tempat duduknya, terdengar suara seseorang dari arah pintu masuk.

"Bayi siapa itu?" Ternyata uwak nya Nilam, kakak dari ayahnya.

Semua orang menoleh ke arah Ratmi, yang sudah berdiri tegak di ambang pintu, matanya menatap tajam ke arah bayi yang digendong Titin.

"Ini...." Ucapan Udin langsung dipotong sama Ratmi.

"Itu bayi h***m kan?" Tanya Ratmi dengan suara keras.

Nilam langsung emosi, hatinya tidak terima dengan ucapan uwaknya.

"Jaga mulut uwak! Ini bukan anak yang seperti uwa katakan tadi! Anak ini adalah anak majikanku!" Sentak Nilam.

"Bohong! Aku mendengar gosip dari Tetangga. Kamu kembali ke kampung ini! Karena kamu sudah menikah siri dengan bos kamu! Dan kamu jadi istri keduanya! Kamu sengaja menyembunyikan anak ini, karena tidak mau diketahui sama istri pertama bos kamu!" Mulut Ratmi nyerocos tidak berhenti.

"Astagfirullah Wak! Itu gosip dari mana! Suruh tetangga Wak ke sini! Bicara langsung dengan saya! Jangan bikin gosip sembarangan, atau menyebar fitnah! Bisa-bisa saya melaporkan kalian ke kantor polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik!" Ternyata Nilam bisa melawan juga.

Ratmi nyalinya langsung menciut saat mendengar dirinya akan dilaporkan ke polisi.

"A___aku cuma mendengar dari tetangga Nilam," ucap Ratmi gelagapan.

"Makanya Wak, Jangan suka mendengar omongan dari salah satu pihak. Toh Uwak kan bukan siapa-siapa, Uwak kan keluargaku, kakakku juga. Kita bukan orang lain wak," Udin sengaja memanggil Ratmi sama dengan anak-anaknya.

"Masuk dulu Wak, kita bicara baik-baik. Biar jelas semuanya, kita tidak jadi salah paham, tidak terjadi fitnah dan tidak tuduhan satu dan lainnya," Titin langsung mempersilahkan kakak iparnya untuk masuk ke dalam rumah.

Wajah Ratmi terlihat ragu dan malu, tapi kemudian masuk ke dalam rumah dan duduk di dekat Titin.

"Kalau memang Uwak ingin tahu cerita yang sebenarnya, nanti Nilam yang bercerita. Mana mungkin kami mempermalukan keluarga Wak. Ini sebenarnya anak majikan Nilam yang dititipkan, karena kedua orang tuanya sedang pergi ke luar negeri. Majikan Nilam mempercayakan anak ini untuk dirawat sampai mereka kembali lagi ke Indonesia," Udin tidak mengatakan hal yang sebenarnya, tidak mungkin menjelek-jelekkan majikan dalam di depan Ratmi walaupun kakaknya sendiri.

"Betul apa yang dikatakan bapak, bayi ini bayi majikan Nilam Wak, karena tidak mungkin dibawa ke luar negeri, bayi ini alergi dengan cuaca dingin. Sedangkan di luar negeri mulai musim gugur, sebentar lagi mulai musim salju. Jadi kondisi bayi ini sangat rentan dengan cuaca di sana, bisa dikatakan tidak cocok," tambah Nilam.

Akhirnya Ratmi percaya dengan penjelasan dari adiknya. " Baiklah, nanti saya akan menjelaskan bila ada yang bertanya sama saya, tentang bayi yang dibawa Nilam," ucap Ratmi.

"Rencananya kami akan mengadakan acara syukuran, kalau Uwak tidak keberatan Dan ada waktu luang. Tolong Uwak datang ke sini, tidak membantu juga tidak apa-apa, yang penting gua datang ke sini. Kemungkinan dua hari lagi kami akan mengadakan acara syukuran. Semua biaya sudah ditanggung sama majikan Nilam," ucap Udin.

Ratmi langsung berbinar wajahnya, kalau untuk acara syukuran, pasti paling terdepan. Karena tentu saja di acara itu banyak makanan, yang bisa dibawa pulang oleh Ratmi ke rumahnya.

"Kalau untuk masalah itu mah, Aku pasti datang dong," ucap Ratmi.

Nia dan Nino langsung mencebikkan bibirnya. Karena sudah tahu sifat uwaknya itu bagaimana.

Tetapi yang namanya mulut tetangga masih saja ada yang nyinyir. Yang namanya gosip panas zaman sekarang, tidak di kota atau di kampung, pasti seperti itu selalu menjadi trending topic bagi ibu-ibu yang suka sekali bergosip.

"Aku benar-benar tidak menyangka, kalau si Nilam itu punya anak dari anak majikannya. Memang wajah dia cantik, pasti si majikan laki-lakinya kecantol sama si Nilam. Tahu-tahu dia pulang ke rumah sudah membawa bayinya," ucap salah seorang Tetangga.

Mereka sedang menggosipkan Nilam di warung, saat sedang berbelanja sayuran.

"Wah, berarti Pak Udin sama Bu Titin punya cucu dong," tukas yang lainnya.

"Ah, cucu h***m. Karena aku tahu si Nilam itu pasti hamil di luar nikah, lu disembunyikan sama majikan laki-lakinya. Sudah lahir disuruh pulang ke sini, ibu-ibu tahu tidak. Kemarin dia diantar sama mobil mewah, kapan Aku melihat beberapa peralatan bayi yang cukup mewah. Nilam tinggal di sini juga tidak masalah, dan untuk biaya kan zaman sekarang gampang bisa ditransfer," cerocos Ibu Ratih tetangganya Titin.

"Ah yang benar saja bu Ratih, bagaimana kalau gosip itu tidak benar?" Tanya ibu Nani.

"Lho, saya ini paling tahu urusan orang. Saya ini kan suka update di media sosial, jadi semua gosip orang saya tahu!" Jawab bu Ratih dengan nada ketus, yang tidak terima dengan ucapan Bu Nani.

"Iya, hati-hati bu Ratih. Mulutmu adalah harimaumu, seandainya berita ini tidak benar. Terus keluarga Nilam tidak terima, bagaimana coba? Terus ibu dilaporkan polisi mau?" Tanya seorang ibu-ibu yang berdiri di dekat Bu Nani.

"Hei!! Mana mungkin saya menyebarkan berita bohong! Jelas-jelas kemarin saya melihat si Nilam itu diantar dengan mobil mewah, juga ikut kemarin! Jadi mana mungkin saya bohong!" Bu Ratih masih tidak terima dengan ucapan tetangganya.

"Permisi!______"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 6. Kebencian berujung ramah

    Mereka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Titin datang untuk berbelanja. Mereka semua diam, mulutnya langsung terkunci, mereka menatap Titin dengan wajah bersalah. Karena orang yang digosipkan berada di hadapan mereka. "Kenapa tidak dilanjutkan lagi omongannya ibu-ibu. Silakan lanjutkan lagi, saya ke sini untuk belanja sayuran," ujar Titin, tangannya sibuk memilih-milih sayuran beserta lauk yang lainnya. Ibu-ibu langsung melempar pandangan, mereka merasa malu dengan omongan Titin. Karena tadi mereka begitu bersemangat menggosipkan keluarganya. "Eh, Maaf Bu Titin. Tadi kami memang membicarakan Nilam. Karena jujur saja, kami merasa kaget. Karena tahu-tahu anak ibu pulang membawa seorang bayi. Ingin bertanya sama ibu rasanya sungkan," akhirnya Bu Nonik menjelaskan apa yang sebenarnya dibahas sewaktu tadi. Tapi perkataan Bu Eti yang pasti menyakiti hati keluarga Bu Titin, tidak dibicarakan kembali. Bu Nonik berhati-hati menyampaikannya. "Oh, memang benar. Anak saya pulang membaw

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-04
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 7. Mulai Terkuak

    "Eh, iya Mas," wajah Belda terlihat panik, saat melihat kedatangan Alex suaminya. Dia buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria tampan yang duduk di hadapan Belda menatap ke arah Alex. Belda langsung berjalan mendekati suaminya."Siapa laki-laki itu?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di hadapan Belda."Dia, eh, anu, dia. Oh ya, temanku Mas," jawab Belda gugup.Alex menautkan kedua alisnya heran, hatinya mulai curiga dengan jawaban Belda yang terlihat gugup. Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Alex, dia tersenyum ramah sama Alex."Kenalkan, saya sahabatnya Belda. Kebetulan kami bertemu di sini, kerjaan Saya seorang fotografer," si pria itu mengulurkan tangannya. Alex terlihat ragu-ragu mengulurkan tangannya, selalu menyambut uluran tangan pria itu, sambil menyebutkan namanya. "Alex, suaminya Belda.""Perta, Perta Cristian.""Mari kita duduk-duduk dulu, Belda belum selesai pemotretannya," Perta mengajak Alex untuk

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-04
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 1. Sebuah Tawaran

    "Satu Milyar! Aku bayar kamu untuk merawat anakku!" Ucap seorang pria yang duduk di samping wanita cantik. Di depannya seorang gadis sederhana yang baru saja beberapa bulan bekerja di rumah mereka. Langsung terlonjak saking kagetnya, mendengar majikannya berkata seperti itu. Gadis sederhana itu bernama Nilam Sari, usianya baru 19 tahun, dia menerima pekerjaan sebagai asisten rumah. Gadis itu bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. "Kami mau tinggal di luar negeri, kami tidak mungkin membawa bayi ini ke sana, apalagi dia penyakitan seperti ini. Aku mohon Nilam, bawalah anak itu ke kampung kamu," ucap wanita cantik itu dengan tatapan mata memelas. Sontak mata nilam hampir meloncat dari cangkangnya. Karena terkejut mendengar ucapan wanita cantik itu. "Iya Nilam, Kamu tahu kan istriku itu siapa? Dia ingin fokus berkarir dulu. Tidak mungkin orang tuaku merawat bayi ini, Kamu tahu kan usia mereka sudah uzur," tambah pria yang duduk di samping wanita cantik. Nilam diam

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

    Nilam merasa aneh mendengar obrolan majikannya. Mereka sampai tidak mau mengakui darah daging mereka sendiri. Padahal bayi itu kelihatan tampan dan rupawan."Maafkan kami mah, belum bisa memberikan cucu yang sesuai harapan Mama dan papa," ucap Belda getir."Sudahlah tidak usah banyak basa-basi, kamu sekarang jadi berangkat kan? Jangan lupa bawa bayi yang penyakitan dan cacat itu," ucap Ibu Alex dengan suara ketus.Alek Kusuma dan Belda Gayatri pasangan muda yang sedang mengejar karir. Alex seorang pengusaha ternama, sedangkan Belda seorang foto model yang sedang meniti karir. Saat ini keduanya akan pergi ke Paris, Karena Belda ada tawaran pekerjaan di sana.Nilam duduk di dekat sopir, sedangkan Alex dan Belda duduk di belakang. Semua barang-barang diantar dengan mobil yang lain. Nilam menggendong bayi dengan perasaan tidak menentu. Dia terus menatap wajah bayi, ternyata walaupun kedua orang tuanya banyak harta, tetapi masih bayi itu disia-siakan oleh keluarganya sendiri. "Ibu kasihan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

    "Lho, itu kan Nilam!" Pekik ibunya Nilam."Iya Bu, tapi kok......" Ucapan Bapak Nilam terhenti, saat melihat tangan Nilam yang menggendong bayi."Lho, itu anak siapa yang dibawa Nilam?" Tanya Titin, ibunya Nilam."Ayo kita cepat ke sana Bu," ajak Udin, bapaknya Nilam.Perasaan Titin menjadi nu tidak enak, melihat bayi yang ada dalam gendongan anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Titin merasa terjadi sesuatu dengan Nilam anaknya. Padahal selama ini, Nilam selalu mengabarkan baik-baik tentang dirinya, bahkan gajinya beberapa bulan ke depan selalu dikirim untuk membantu biaya sekolah kedua adik-adiknya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nilam? Siapakah bayi yang ada dalam gendongannya?" Hati Titin terus bertanya-tanya.Tapi Titin tidak mau berpikir yang bukan bukan dulu. Sebelum Nilam menjelaskan semuanya, karena takut menjadi fitnah, atau keributan. Titin menahan segala keingintahuannya, sebelum Nilam menjelaskan kepadanya nanti.Titin dan Udin langsung bergegas berjalan ke depan.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

    "lho, Memangnya bayi ini belum dikasih nama?" Tanya Titin heran. "Boro-boro dikasih nama Bu, dilirik pun sama sekali tidak. Sayalah yang mengurusi bayi ini dari sejak lahir sampai sekarang," jawab Nilam."Betul apa yang dikatakan Nilam, bayi ini tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya para asisten rumah yang mengasihi bayi ini," tambah Pak sopir. "Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak. Biarlah kamu dirawat sama kami di sini, bayi ini umurnya berapa hari?" Tanya Titin. "Sekitar 3 Minggu Bu, anak ini belum aqiqah. Kasih tahu aku anak yang dilahirkan itu harus aqiqah Bu," jawab Nilam."Betul, kita nanti ada kan syukuran kecil-kecilan. Sekalian memberikan nama anak ini, Siapa tahu suatu hari nanti anak ini menjadi anak yang tumbuh dengan baik dan soleh," ucap Titin dengan suara tertahan. "Betul apa yang dikatakan Bu Titin, semoga anak ini tumbuh menjadi anak yang sholeh," Pak sopir tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Hatinya benar-benar pedih melihat nasib bayi i

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14

Bab terbaru

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 7. Mulai Terkuak

    "Eh, iya Mas," wajah Belda terlihat panik, saat melihat kedatangan Alex suaminya. Dia buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria tampan yang duduk di hadapan Belda menatap ke arah Alex. Belda langsung berjalan mendekati suaminya."Siapa laki-laki itu?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di hadapan Belda."Dia, eh, anu, dia. Oh ya, temanku Mas," jawab Belda gugup.Alex menautkan kedua alisnya heran, hatinya mulai curiga dengan jawaban Belda yang terlihat gugup. Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Alex, dia tersenyum ramah sama Alex."Kenalkan, saya sahabatnya Belda. Kebetulan kami bertemu di sini, kerjaan Saya seorang fotografer," si pria itu mengulurkan tangannya. Alex terlihat ragu-ragu mengulurkan tangannya, selalu menyambut uluran tangan pria itu, sambil menyebutkan namanya. "Alex, suaminya Belda.""Perta, Perta Cristian.""Mari kita duduk-duduk dulu, Belda belum selesai pemotretannya," Perta mengajak Alex untuk

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 6. Kebencian berujung ramah

    Mereka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Titin datang untuk berbelanja. Mereka semua diam, mulutnya langsung terkunci, mereka menatap Titin dengan wajah bersalah. Karena orang yang digosipkan berada di hadapan mereka. "Kenapa tidak dilanjutkan lagi omongannya ibu-ibu. Silakan lanjutkan lagi, saya ke sini untuk belanja sayuran," ujar Titin, tangannya sibuk memilih-milih sayuran beserta lauk yang lainnya. Ibu-ibu langsung melempar pandangan, mereka merasa malu dengan omongan Titin. Karena tadi mereka begitu bersemangat menggosipkan keluarganya. "Eh, Maaf Bu Titin. Tadi kami memang membicarakan Nilam. Karena jujur saja, kami merasa kaget. Karena tahu-tahu anak ibu pulang membawa seorang bayi. Ingin bertanya sama ibu rasanya sungkan," akhirnya Bu Nonik menjelaskan apa yang sebenarnya dibahas sewaktu tadi. Tapi perkataan Bu Eti yang pasti menyakiti hati keluarga Bu Titin, tidak dibicarakan kembali. Bu Nonik berhati-hati menyampaikannya. "Oh, memang benar. Anak saya pulang membaw

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 5. Tuduhan Kejam

    "nama yang bagus, Zahir bin Malik nama anak ini," ujar Udin sambil menatap bayi yang ada dalam gendongan Titin, istrinya."Iya, nama yang bagus. Ibu setuju sekali, tapi....." Titin menghentikan ucapannya. "Tapi apa Bu?" Tanya Nilam cepat. "Nama anak-anak kita kan awalannya huruf "N". Alangkah baiknya nama anak ini juga awalan nya dari huruf itu," jawab Titin sambil terkekeh. "Bagaimana kalau Nizam bin Malik?" Nia adiknya Nilam mengajukan usul."Nah itu bagus, nama yang sangat bagus," tukas Udin."Ya sudah namanya Nizam bin Malik saja," akhirnya mereka setuju, nama bayi ini jadinya Nizam bin Malik bukan Zahir bin Malik. "Bu, besok Nilam ke bank dulu ya. Atau ke ATM dulu, terus untuk beli motor sama mobil setelah selesai acara syukuran saja. Satu-satu dulu saja," Nilam mengajukan usul. "Sebaiknya begitu, satu-satu dulu lah. Baru setelah acara syukuran selesai. Kita renovasi rumah beserta kendaraan," Udin setuju dengan usulan Nilam, begitu pula dengan Titin. Karena syukuran aqiqah N

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

    "lho, Memangnya bayi ini belum dikasih nama?" Tanya Titin heran. "Boro-boro dikasih nama Bu, dilirik pun sama sekali tidak. Sayalah yang mengurusi bayi ini dari sejak lahir sampai sekarang," jawab Nilam."Betul apa yang dikatakan Nilam, bayi ini tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya para asisten rumah yang mengasihi bayi ini," tambah Pak sopir. "Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak. Biarlah kamu dirawat sama kami di sini, bayi ini umurnya berapa hari?" Tanya Titin. "Sekitar 3 Minggu Bu, anak ini belum aqiqah. Kasih tahu aku anak yang dilahirkan itu harus aqiqah Bu," jawab Nilam."Betul, kita nanti ada kan syukuran kecil-kecilan. Sekalian memberikan nama anak ini, Siapa tahu suatu hari nanti anak ini menjadi anak yang tumbuh dengan baik dan soleh," ucap Titin dengan suara tertahan. "Betul apa yang dikatakan Bu Titin, semoga anak ini tumbuh menjadi anak yang sholeh," Pak sopir tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Hatinya benar-benar pedih melihat nasib bayi i

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

    "Lho, itu kan Nilam!" Pekik ibunya Nilam."Iya Bu, tapi kok......" Ucapan Bapak Nilam terhenti, saat melihat tangan Nilam yang menggendong bayi."Lho, itu anak siapa yang dibawa Nilam?" Tanya Titin, ibunya Nilam."Ayo kita cepat ke sana Bu," ajak Udin, bapaknya Nilam.Perasaan Titin menjadi nu tidak enak, melihat bayi yang ada dalam gendongan anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Titin merasa terjadi sesuatu dengan Nilam anaknya. Padahal selama ini, Nilam selalu mengabarkan baik-baik tentang dirinya, bahkan gajinya beberapa bulan ke depan selalu dikirim untuk membantu biaya sekolah kedua adik-adiknya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nilam? Siapakah bayi yang ada dalam gendongannya?" Hati Titin terus bertanya-tanya.Tapi Titin tidak mau berpikir yang bukan bukan dulu. Sebelum Nilam menjelaskan semuanya, karena takut menjadi fitnah, atau keributan. Titin menahan segala keingintahuannya, sebelum Nilam menjelaskan kepadanya nanti.Titin dan Udin langsung bergegas berjalan ke depan.

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

    Nilam merasa aneh mendengar obrolan majikannya. Mereka sampai tidak mau mengakui darah daging mereka sendiri. Padahal bayi itu kelihatan tampan dan rupawan."Maafkan kami mah, belum bisa memberikan cucu yang sesuai harapan Mama dan papa," ucap Belda getir."Sudahlah tidak usah banyak basa-basi, kamu sekarang jadi berangkat kan? Jangan lupa bawa bayi yang penyakitan dan cacat itu," ucap Ibu Alex dengan suara ketus.Alek Kusuma dan Belda Gayatri pasangan muda yang sedang mengejar karir. Alex seorang pengusaha ternama, sedangkan Belda seorang foto model yang sedang meniti karir. Saat ini keduanya akan pergi ke Paris, Karena Belda ada tawaran pekerjaan di sana.Nilam duduk di dekat sopir, sedangkan Alex dan Belda duduk di belakang. Semua barang-barang diantar dengan mobil yang lain. Nilam menggendong bayi dengan perasaan tidak menentu. Dia terus menatap wajah bayi, ternyata walaupun kedua orang tuanya banyak harta, tetapi masih bayi itu disia-siakan oleh keluarganya sendiri. "Ibu kasihan

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 1. Sebuah Tawaran

    "Satu Milyar! Aku bayar kamu untuk merawat anakku!" Ucap seorang pria yang duduk di samping wanita cantik. Di depannya seorang gadis sederhana yang baru saja beberapa bulan bekerja di rumah mereka. Langsung terlonjak saking kagetnya, mendengar majikannya berkata seperti itu. Gadis sederhana itu bernama Nilam Sari, usianya baru 19 tahun, dia menerima pekerjaan sebagai asisten rumah. Gadis itu bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. "Kami mau tinggal di luar negeri, kami tidak mungkin membawa bayi ini ke sana, apalagi dia penyakitan seperti ini. Aku mohon Nilam, bawalah anak itu ke kampung kamu," ucap wanita cantik itu dengan tatapan mata memelas. Sontak mata nilam hampir meloncat dari cangkangnya. Karena terkejut mendengar ucapan wanita cantik itu. "Iya Nilam, Kamu tahu kan istriku itu siapa? Dia ingin fokus berkarir dulu. Tidak mungkin orang tuaku merawat bayi ini, Kamu tahu kan usia mereka sudah uzur," tambah pria yang duduk di samping wanita cantik. Nilam diam

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status