Beranda / Romansa / Satu Miliar Untuk ART / Bab 7. Mulai Terkuak

Share

Bab 7. Mulai Terkuak

Penulis: UmiPutri
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-04 18:11:57

"Eh, iya Mas," wajah Belda terlihat panik, saat melihat kedatangan Alex suaminya. Dia buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria tampan yang duduk di hadapan Belda menatap ke arah Alex. Belda langsung berjalan mendekati suaminya.

"Siapa laki-laki itu?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di hadapan Belda.

"Dia, eh, anu, dia. Oh ya, temanku Mas," jawab Belda gugup.

Alex menautkan kedua alisnya heran, hatinya mulai curiga dengan jawaban Belda yang terlihat gugup. 

Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Alex, dia tersenyum ramah sama Alex.

"Kenalkan, saya sahabatnya Belda. Kebetulan kami bertemu di sini, kerjaan Saya seorang fotografer," si pria itu mengulurkan tangannya. 

Alex terlihat ragu-ragu mengulurkan tangannya, selalu menyambut uluran tangan pria itu, sambil menyebutkan namanya. 

"Alex, suaminya Belda."

"Perta, Perta Cristian."

"Mari kita duduk-duduk dulu, Belda belum selesai pemotretannya," Perta mengajak Alex untuk duduk. 

"Iya Mas, ayo kita duduk," imbuh Belda.

Akhirnya Alex dan Perta duduk, sedangkan beda bersiap-siap kembali untuk pemotretan. 

"Anda seorang pengusaha ya?" Perta mulai membuka obrolannya. 

Alex cuma menganggukkan kepala, matanya tak lepas dari Belda yang sedang memakai make up. 

"Belda, istri anda itu orangnya sangat profesional. Dia adalah foto model terbaik di agensi kami. Pokoknya agensi kami jadi ramai sejak Belda masuk," ucap Perta.

"Oh," jawab Alex singkat. 

Perta mengela nafasnya dalam-dalam. " Benar apa yang dikatakan Belda, kalau suaminya itu kaku, tapi Dia seorang pengusaha sukses. Padahal aku dan Belda....." Gumam Perta dalam hati.

"Sejak kapan kalian bersahabat?" Tanya Alex tiba-tiba. 

"Sejak SMA dulu, Saya dulu tinggal di Indonesia. Tapi ketika kuliah saya langsung tinggal di sini. Paris memberikan masa depan yang cerah bagi hidup saya, di sini kan kota mode. Saya ambil kuliah di bidang fotografer. Dan inilah hasilnya, saya sering dipanggil untuk memotret para model terkenal di dunia," panjang lebar Perta menjelaskan sama Alex. 

"Oh ya, saya bergerak di bidang bisnis. Betulan perusahaan saya membuka cabang di Paris, saya bertemu dengan Belda di sebuah acara pertemuan para pengusaha. Dia datang bersama teman saya, di sanalah saya mulai jatuh cinta sama Belda, sampai akhirnya saya melamar dia untuk menjadikan pendamping hidup saya," Alex sedikit menceritakan tentang pertemuannya dengan Belda.

Perta menatap ke arah," padahal aku tahu semuanya Alex, dan aku tahu kenapa Belda meninggalkanku, hanya karena dia ingin menikah dengan kamu, pria kaya raya," celoteh Perta dalam hati.

"Kenapa sewaktu kami menikah kamu tidak datang?" Tanya Alex, yang mulai akrab dengan sahabat istrinya. 

"Oh, waktu itu kebetulan ada saudaraku yang meninggal dunia, jadi aku tidak sempat datang ke Indonesia," jawab Perta berbohong. 

Sebenarnya Perta waktu itu benar-benar kecewa, dengan keputusan Belda menikah dengan Alex. Waktu itu karir Perta belum seperti sekarang ini, dirinya hanya menjadi seorang asisten fotografer. Tapi sekarang kehidupan Perta jauh berbeda. 

"Turut berduka cita," ucap Alex.

Belda melihat suami dan sahabatnya sedang asyik ngobrol, hatinya merasa tenang. Lalu mengedipkan mata sama Perta, dan sahabatnya itu langsung mengerti. 

Tiba-tiba ponsel Alex berbunyi, terlihat dia menggeser tombol hijau, dan menerima telepon, ternyata kolega bisnisnya mengajak bertemu karena ada yang harus dibicarakan. 

Alex terlihat menganggukkan kepalanya, lalu segera menutup ponselnya.

"Bisakah anda mengantar istri saya pulang?" Tanya Alex. 

"Lho, memangnya ada apa dengan anda?" Perta balik nanya, padahal hatinya bahagia. Kesempatan untuk berduaan dengan Belda cukup terbuka lebar. 

"Saya ada urusan bisnis, barusan kolega bisnis saya telepon, dia minta bertemu dengan saya," jawab Alex. 

"Apakah Anda percaya sama saya?" Tanya Perta sambil terkekeh. 

"Saya percaya sama anda, karena anda sahabat istri saya, pasti tidak akan macam-macam kan," jawab Alex sebenarnya. 

Hati Perta mendengar perkataan macam-macam dari bibirnya Alex.

"Baiklah, Saya akan mengantar istri anda pulang," ucap Perta.

Alex langsung bergegas bangkit dari tempat duduknya, lalu buru-buru melambaikan tangan sama Belda.

Betapa senangnya hati Perta, setelah pemotretan selesai, tentu saja Perta leluasa untuk berduaan dengan Belda. Sebuah kamar hotel yang mewah sudah dipersiapkan sebelumnya, mereka berdua akan menikmati kebersamaan setelah Belda membereskan pekerjaannya. 

Pantas saja, Belda memaksa sama Alex untuk pergi ke Paris, kebetulan waktu itu Alex juga banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di Paris. 

Padahal Alex sudah menyarankan, membawa bayi mereka bersama dengan Nilam.

"Kalau bayi kita dibawa, masih tetap merepotkan Mas, kamu tahu sendiri kan aku setelah pulang bekerja, tidak mau diganggu sama tangisan bayi. Yang tentunya membuat kepalaku pecah," tolak Belda waktu itu. 

Alex yang sangat bucin sama Belda, langsung menyetujui permintaan istrinya tercinta. Entah kenapa Alex sangat mencintai Belda, apapun permintaan Belda pasti diturutinya. 

Sampai-sampai bayi Mereka dititipkan sama asisten rumah, yang baru beberapa bulan bekerja. 

"Kasih saja uang 1 miliar, hitung-hitung kita menitipkan anak, lagian aku malu harus mengakui bayi itu sebagai, mana sudah cacat penyakitan lagi. Daripada kita menaruhnya di panti asuhan, baik di asuh sama pembantu kita. Uang satu miliar itu bisa buat bekal mereka di kampung," saran Belda.

Lagi-lagi Alex menjadi usul istrinya, walaupun hati kecilnya bertentangan. Padahal sebenarnya Alex menginginkan seorang bayi laki-laki, walaupun dalam keadaan cacat dan penyakitan. Toh dokter mengatakan bisa disembuhkan penyakit yang diderita bayinya. 

"Suamiku pergi ke mana?" Tanya Belda saat selesai pemotretan, Belda terlihat duduk di samping sahabatnya, Belda menyandarkan kepalanya di bahu Perta, sedangkan Perta langsung mencium punggung tangan Belda berkali-kali.

"Katanya ada urusan bisnis, dan tidak tahu pulangnya jam berapa. Berarti......" Ucapan Alex tidak dilanjutkan. 

"Aku...." Belda membisikan sesuatu sama Perta.

Lalu mereka berdua bergegas bangkit dari tempat duduk dan menuju mobil yang terparkir di basement gedung, tadi Belda mengambil pemotretan di atas gedung. 

Dan, entahlah apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua. Hanyalah Belda dan Perta yang tahu. 

Jam 11.00 malam, Alex datang ke apartemennya. Wajahnya terlihat lelah, setelah bertemu dengan pengusaha tadi. Karena banyak sekali urusan bisnis yang harus dibicarakan. 

Alex merasa heran karena lampu apartemen masih belum nyala. " Apakah Belda belum pulang?" Tanya Alex dalam hati. 

Lalu tangan Alex memijit tombol, kode untuk membuka pintu. Dan benar saja, lampu ruangan masih terlihat padam, suasana gelap gulita di dalam apartemen itu. 

Apartemen yang super mewah, dengan harga yang membuat mulut kita menganga. Perabotan isi apartemen itu harganya membuat kita geleng-geleng kepala. 

Alex langsung duduk di atas sofa yang empuk, dia membuka jaketnya, hatinya bertanya-tanya terus kenapa sampai jam 11.00 malam waktu setempat Belda belum pulang dari pekerjaannya. 

Ponsel yang ada di saku celana, langsung diambil sama Alex. Terlihat kedua alis mata dia saling bertautan, karena melihat seseorang mengirimkan gambar. 

"Apakah ini istri anda tuan Alex?_____"

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 1. Sebuah Tawaran

    "Satu Milyar! Aku bayar kamu untuk merawat anakku!" Ucap seorang pria yang duduk di samping wanita cantik. Di depannya seorang gadis sederhana yang baru saja beberapa bulan bekerja di rumah mereka. Langsung terlonjak saking kagetnya, mendengar majikannya berkata seperti itu. Gadis sederhana itu bernama Nilam Sari, usianya baru 19 tahun, dia menerima pekerjaan sebagai asisten rumah. Gadis itu bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. "Kami mau tinggal di luar negeri, kami tidak mungkin membawa bayi ini ke sana, apalagi dia penyakitan seperti ini. Aku mohon Nilam, bawalah anak itu ke kampung kamu," ucap wanita cantik itu dengan tatapan mata memelas. Sontak mata nilam hampir meloncat dari cangkangnya. Karena terkejut mendengar ucapan wanita cantik itu. "Iya Nilam, Kamu tahu kan istriku itu siapa? Dia ingin fokus berkarir dulu. Tidak mungkin orang tuaku merawat bayi ini, Kamu tahu kan usia mereka sudah uzur," tambah pria yang duduk di samping wanita cantik. Nilam diam

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

    Nilam merasa aneh mendengar obrolan majikannya. Mereka sampai tidak mau mengakui darah daging mereka sendiri. Padahal bayi itu kelihatan tampan dan rupawan."Maafkan kami mah, belum bisa memberikan cucu yang sesuai harapan Mama dan papa," ucap Belda getir."Sudahlah tidak usah banyak basa-basi, kamu sekarang jadi berangkat kan? Jangan lupa bawa bayi yang penyakitan dan cacat itu," ucap Ibu Alex dengan suara ketus.Alek Kusuma dan Belda Gayatri pasangan muda yang sedang mengejar karir. Alex seorang pengusaha ternama, sedangkan Belda seorang foto model yang sedang meniti karir. Saat ini keduanya akan pergi ke Paris, Karena Belda ada tawaran pekerjaan di sana.Nilam duduk di dekat sopir, sedangkan Alex dan Belda duduk di belakang. Semua barang-barang diantar dengan mobil yang lain. Nilam menggendong bayi dengan perasaan tidak menentu. Dia terus menatap wajah bayi, ternyata walaupun kedua orang tuanya banyak harta, tetapi masih bayi itu disia-siakan oleh keluarganya sendiri. "Ibu kasihan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

    "Lho, itu kan Nilam!" Pekik ibunya Nilam."Iya Bu, tapi kok......" Ucapan Bapak Nilam terhenti, saat melihat tangan Nilam yang menggendong bayi."Lho, itu anak siapa yang dibawa Nilam?" Tanya Titin, ibunya Nilam."Ayo kita cepat ke sana Bu," ajak Udin, bapaknya Nilam.Perasaan Titin menjadi nu tidak enak, melihat bayi yang ada dalam gendongan anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Titin merasa terjadi sesuatu dengan Nilam anaknya. Padahal selama ini, Nilam selalu mengabarkan baik-baik tentang dirinya, bahkan gajinya beberapa bulan ke depan selalu dikirim untuk membantu biaya sekolah kedua adik-adiknya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nilam? Siapakah bayi yang ada dalam gendongannya?" Hati Titin terus bertanya-tanya.Tapi Titin tidak mau berpikir yang bukan bukan dulu. Sebelum Nilam menjelaskan semuanya, karena takut menjadi fitnah, atau keributan. Titin menahan segala keingintahuannya, sebelum Nilam menjelaskan kepadanya nanti.Titin dan Udin langsung bergegas berjalan ke depan.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

    "lho, Memangnya bayi ini belum dikasih nama?" Tanya Titin heran. "Boro-boro dikasih nama Bu, dilirik pun sama sekali tidak. Sayalah yang mengurusi bayi ini dari sejak lahir sampai sekarang," jawab Nilam."Betul apa yang dikatakan Nilam, bayi ini tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya para asisten rumah yang mengasihi bayi ini," tambah Pak sopir. "Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak. Biarlah kamu dirawat sama kami di sini, bayi ini umurnya berapa hari?" Tanya Titin. "Sekitar 3 Minggu Bu, anak ini belum aqiqah. Kasih tahu aku anak yang dilahirkan itu harus aqiqah Bu," jawab Nilam."Betul, kita nanti ada kan syukuran kecil-kecilan. Sekalian memberikan nama anak ini, Siapa tahu suatu hari nanti anak ini menjadi anak yang tumbuh dengan baik dan soleh," ucap Titin dengan suara tertahan. "Betul apa yang dikatakan Bu Titin, semoga anak ini tumbuh menjadi anak yang sholeh," Pak sopir tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Hatinya benar-benar pedih melihat nasib bayi i

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 5. Tuduhan Kejam

    "nama yang bagus, Zahir bin Malik nama anak ini," ujar Udin sambil menatap bayi yang ada dalam gendongan Titin, istrinya."Iya, nama yang bagus. Ibu setuju sekali, tapi....." Titin menghentikan ucapannya. "Tapi apa Bu?" Tanya Nilam cepat. "Nama anak-anak kita kan awalannya huruf "N". Alangkah baiknya nama anak ini juga awalan nya dari huruf itu," jawab Titin sambil terkekeh. "Bagaimana kalau Nizam bin Malik?" Nia adiknya Nilam mengajukan usul."Nah itu bagus, nama yang sangat bagus," tukas Udin."Ya sudah namanya Nizam bin Malik saja," akhirnya mereka setuju, nama bayi ini jadinya Nizam bin Malik bukan Zahir bin Malik. "Bu, besok Nilam ke bank dulu ya. Atau ke ATM dulu, terus untuk beli motor sama mobil setelah selesai acara syukuran saja. Satu-satu dulu saja," Nilam mengajukan usul. "Sebaiknya begitu, satu-satu dulu lah. Baru setelah acara syukuran selesai. Kita renovasi rumah beserta kendaraan," Udin setuju dengan usulan Nilam, begitu pula dengan Titin. Karena syukuran aqiqah N

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 6. Kebencian berujung ramah

    Mereka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Titin datang untuk berbelanja. Mereka semua diam, mulutnya langsung terkunci, mereka menatap Titin dengan wajah bersalah. Karena orang yang digosipkan berada di hadapan mereka. "Kenapa tidak dilanjutkan lagi omongannya ibu-ibu. Silakan lanjutkan lagi, saya ke sini untuk belanja sayuran," ujar Titin, tangannya sibuk memilih-milih sayuran beserta lauk yang lainnya. Ibu-ibu langsung melempar pandangan, mereka merasa malu dengan omongan Titin. Karena tadi mereka begitu bersemangat menggosipkan keluarganya. "Eh, Maaf Bu Titin. Tadi kami memang membicarakan Nilam. Karena jujur saja, kami merasa kaget. Karena tahu-tahu anak ibu pulang membawa seorang bayi. Ingin bertanya sama ibu rasanya sungkan," akhirnya Bu Nonik menjelaskan apa yang sebenarnya dibahas sewaktu tadi. Tapi perkataan Bu Eti yang pasti menyakiti hati keluarga Bu Titin, tidak dibicarakan kembali. Bu Nonik berhati-hati menyampaikannya. "Oh, memang benar. Anak saya pulang membaw

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-04

Bab terbaru

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 7. Mulai Terkuak

    "Eh, iya Mas," wajah Belda terlihat panik, saat melihat kedatangan Alex suaminya. Dia buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria tampan yang duduk di hadapan Belda menatap ke arah Alex. Belda langsung berjalan mendekati suaminya."Siapa laki-laki itu?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di hadapan Belda."Dia, eh, anu, dia. Oh ya, temanku Mas," jawab Belda gugup.Alex menautkan kedua alisnya heran, hatinya mulai curiga dengan jawaban Belda yang terlihat gugup. Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Alex, dia tersenyum ramah sama Alex."Kenalkan, saya sahabatnya Belda. Kebetulan kami bertemu di sini, kerjaan Saya seorang fotografer," si pria itu mengulurkan tangannya. Alex terlihat ragu-ragu mengulurkan tangannya, selalu menyambut uluran tangan pria itu, sambil menyebutkan namanya. "Alex, suaminya Belda.""Perta, Perta Cristian.""Mari kita duduk-duduk dulu, Belda belum selesai pemotretannya," Perta mengajak Alex untuk

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 6. Kebencian berujung ramah

    Mereka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Titin datang untuk berbelanja. Mereka semua diam, mulutnya langsung terkunci, mereka menatap Titin dengan wajah bersalah. Karena orang yang digosipkan berada di hadapan mereka. "Kenapa tidak dilanjutkan lagi omongannya ibu-ibu. Silakan lanjutkan lagi, saya ke sini untuk belanja sayuran," ujar Titin, tangannya sibuk memilih-milih sayuran beserta lauk yang lainnya. Ibu-ibu langsung melempar pandangan, mereka merasa malu dengan omongan Titin. Karena tadi mereka begitu bersemangat menggosipkan keluarganya. "Eh, Maaf Bu Titin. Tadi kami memang membicarakan Nilam. Karena jujur saja, kami merasa kaget. Karena tahu-tahu anak ibu pulang membawa seorang bayi. Ingin bertanya sama ibu rasanya sungkan," akhirnya Bu Nonik menjelaskan apa yang sebenarnya dibahas sewaktu tadi. Tapi perkataan Bu Eti yang pasti menyakiti hati keluarga Bu Titin, tidak dibicarakan kembali. Bu Nonik berhati-hati menyampaikannya. "Oh, memang benar. Anak saya pulang membaw

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 5. Tuduhan Kejam

    "nama yang bagus, Zahir bin Malik nama anak ini," ujar Udin sambil menatap bayi yang ada dalam gendongan Titin, istrinya."Iya, nama yang bagus. Ibu setuju sekali, tapi....." Titin menghentikan ucapannya. "Tapi apa Bu?" Tanya Nilam cepat. "Nama anak-anak kita kan awalannya huruf "N". Alangkah baiknya nama anak ini juga awalan nya dari huruf itu," jawab Titin sambil terkekeh. "Bagaimana kalau Nizam bin Malik?" Nia adiknya Nilam mengajukan usul."Nah itu bagus, nama yang sangat bagus," tukas Udin."Ya sudah namanya Nizam bin Malik saja," akhirnya mereka setuju, nama bayi ini jadinya Nizam bin Malik bukan Zahir bin Malik. "Bu, besok Nilam ke bank dulu ya. Atau ke ATM dulu, terus untuk beli motor sama mobil setelah selesai acara syukuran saja. Satu-satu dulu saja," Nilam mengajukan usul. "Sebaiknya begitu, satu-satu dulu lah. Baru setelah acara syukuran selesai. Kita renovasi rumah beserta kendaraan," Udin setuju dengan usulan Nilam, begitu pula dengan Titin. Karena syukuran aqiqah N

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

    "lho, Memangnya bayi ini belum dikasih nama?" Tanya Titin heran. "Boro-boro dikasih nama Bu, dilirik pun sama sekali tidak. Sayalah yang mengurusi bayi ini dari sejak lahir sampai sekarang," jawab Nilam."Betul apa yang dikatakan Nilam, bayi ini tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya para asisten rumah yang mengasihi bayi ini," tambah Pak sopir. "Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak. Biarlah kamu dirawat sama kami di sini, bayi ini umurnya berapa hari?" Tanya Titin. "Sekitar 3 Minggu Bu, anak ini belum aqiqah. Kasih tahu aku anak yang dilahirkan itu harus aqiqah Bu," jawab Nilam."Betul, kita nanti ada kan syukuran kecil-kecilan. Sekalian memberikan nama anak ini, Siapa tahu suatu hari nanti anak ini menjadi anak yang tumbuh dengan baik dan soleh," ucap Titin dengan suara tertahan. "Betul apa yang dikatakan Bu Titin, semoga anak ini tumbuh menjadi anak yang sholeh," Pak sopir tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Hatinya benar-benar pedih melihat nasib bayi i

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

    "Lho, itu kan Nilam!" Pekik ibunya Nilam."Iya Bu, tapi kok......" Ucapan Bapak Nilam terhenti, saat melihat tangan Nilam yang menggendong bayi."Lho, itu anak siapa yang dibawa Nilam?" Tanya Titin, ibunya Nilam."Ayo kita cepat ke sana Bu," ajak Udin, bapaknya Nilam.Perasaan Titin menjadi nu tidak enak, melihat bayi yang ada dalam gendongan anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Titin merasa terjadi sesuatu dengan Nilam anaknya. Padahal selama ini, Nilam selalu mengabarkan baik-baik tentang dirinya, bahkan gajinya beberapa bulan ke depan selalu dikirim untuk membantu biaya sekolah kedua adik-adiknya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nilam? Siapakah bayi yang ada dalam gendongannya?" Hati Titin terus bertanya-tanya.Tapi Titin tidak mau berpikir yang bukan bukan dulu. Sebelum Nilam menjelaskan semuanya, karena takut menjadi fitnah, atau keributan. Titin menahan segala keingintahuannya, sebelum Nilam menjelaskan kepadanya nanti.Titin dan Udin langsung bergegas berjalan ke depan.

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

    Nilam merasa aneh mendengar obrolan majikannya. Mereka sampai tidak mau mengakui darah daging mereka sendiri. Padahal bayi itu kelihatan tampan dan rupawan."Maafkan kami mah, belum bisa memberikan cucu yang sesuai harapan Mama dan papa," ucap Belda getir."Sudahlah tidak usah banyak basa-basi, kamu sekarang jadi berangkat kan? Jangan lupa bawa bayi yang penyakitan dan cacat itu," ucap Ibu Alex dengan suara ketus.Alek Kusuma dan Belda Gayatri pasangan muda yang sedang mengejar karir. Alex seorang pengusaha ternama, sedangkan Belda seorang foto model yang sedang meniti karir. Saat ini keduanya akan pergi ke Paris, Karena Belda ada tawaran pekerjaan di sana.Nilam duduk di dekat sopir, sedangkan Alex dan Belda duduk di belakang. Semua barang-barang diantar dengan mobil yang lain. Nilam menggendong bayi dengan perasaan tidak menentu. Dia terus menatap wajah bayi, ternyata walaupun kedua orang tuanya banyak harta, tetapi masih bayi itu disia-siakan oleh keluarganya sendiri. "Ibu kasihan

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 1. Sebuah Tawaran

    "Satu Milyar! Aku bayar kamu untuk merawat anakku!" Ucap seorang pria yang duduk di samping wanita cantik. Di depannya seorang gadis sederhana yang baru saja beberapa bulan bekerja di rumah mereka. Langsung terlonjak saking kagetnya, mendengar majikannya berkata seperti itu. Gadis sederhana itu bernama Nilam Sari, usianya baru 19 tahun, dia menerima pekerjaan sebagai asisten rumah. Gadis itu bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. "Kami mau tinggal di luar negeri, kami tidak mungkin membawa bayi ini ke sana, apalagi dia penyakitan seperti ini. Aku mohon Nilam, bawalah anak itu ke kampung kamu," ucap wanita cantik itu dengan tatapan mata memelas. Sontak mata nilam hampir meloncat dari cangkangnya. Karena terkejut mendengar ucapan wanita cantik itu. "Iya Nilam, Kamu tahu kan istriku itu siapa? Dia ingin fokus berkarir dulu. Tidak mungkin orang tuaku merawat bayi ini, Kamu tahu kan usia mereka sudah uzur," tambah pria yang duduk di samping wanita cantik. Nilam diam

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status