Levin pulang ke rumah mewahnya yang terasa sepi dan dingin. Sejak dulu selalu seperti ini, orangtuanya sibuk dengan perusahaan hingga jarang berada di rumah.
Levin bahkan tidak tau apakah orangtuanya sedang berada di Bali atau tidak karena sebagai seorang pengusaha, tidak jarang orangtuanya dituntut untuk bepergian ke kota atau bahkan negara lain jika diperlukan, membahas satu project dengan perusahaan asing yang memiliki target serta visi yang sama. Tidak heran kalau Levin mencari kebebasan di luar untuk mengusir rasa sepi di hatinya. Caranya memang tidak sepenuhnya berhasil, tapi setidaknya Levin bisa bersenang-senang dengan caranya sendiri. Meski hanya sementara, tapi rasa sepi itu bisa terlupakan sejenak saat dirinya berada di bar yang ramai atau di kamar hotel saat sedang bergumul dengan wanita bayaran yang dipilihnya. Contohnya seperti semalam saat dirinya sedang bergumul dengan Claire, sibuk mereguk rasa nikmat. Levin sama sekali lupa dengan rasa sepi yang ada di hatinya. Semalam, yang Levin rasakan hanyalah kenikmatan tiada tara hingga membuatnya ingin mengulang hal itu lagi dan lagi. Terus dan terus, tanpa henti. Oh, andai saja tubuhnya seperti robot yang baterainya terisi penuh, mungkin Levin bisa melakukan hal itu lebih lama lagi. Sayangnya sekuat apapun stamina yang dimilikinya, tapi keperkasaannya tetap ada batasnya, tidak unlimited! Levin menggeleng, tidak ingin gairahnya terpancing lagi. Jika otaknya memutar adegan semalam, bisa saja juniornya minta jatah lagi. Padahal tubuhnya sudah lelah setelah mengeksplor Claire semalaman, jadi Levin harus istirahat agar energynya pulih. Tangan Levin terulur ingin membuka pintu kamar saat satu suara tegas muncul dari belakang tubuhnya membuat pria itu melompat kaget. “Anda baru pulang, Tuan?” sapa Johan, pria berusia akhir 30an yang ditugaskan untuk menyelesaikan setiap masalah yang Levin timbulkan. Awalnya tugas Johan adalah untuk mengawasi Levin agar tidak berkelakuan liar, tapi percuma karena Levin lebih sering menyelinap dan sulit dinasehati hingga Johan menyerah. Akhirnya daddy Keenan menugaskan Johan untuk menyelesaikan setiap masalah yang ditimbulkan oleh putranya agar tidak terekspos ke pihak luar. Seperti semalam contohnya, saat Levin meminta bantuan Johan untuk menghapus rekaman CCTV. Levin tau pasti kalau daddy Keenan tidak ingin citra keluarga dan perusahaannya hancur hanya karena ulahnya. “Begitulah. Bagaimana dengan tugas yang semalam aku berikan? Sudah beres kan?” “Sudah, Tuan. Sekarang tolong beri saya penjelasan, kenapa anda harus memukuli seseorang dengan begitu ganas? Ada masalah apa antara anda dengan pria itu?” Levin menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Pertanyaan Johan terdengar seperti sedang menyelidikinya. Jujur, Levin lebih takut pada Johan daripada daddy Keenan karena Johan lah yang memegang semua rahasianya. Kebandelan apa saja yang Levin lakukan, Johan tau semuanya! Bahkan pria itulah yang membereskannya. Beda dengan daddy Keenan yang tidak tau menau apapun tentang dirinya, hanya tau mengenai masalah perusahaan saja. Seolah perusahaan lah yang menjadi anak kandungnya, bukan Levin! Terdengar miris? Tapi itulah kenyataannya! “Sebenarnya tidak ada masalah. Aku hanya menolong seseorang.” “Siapa wanita yang anda tolong?” Pertanyaan Johan membuat Levin ternganga. “Kenapa kamu tau kalau yang aku tolong adalah seorang wanita?” tanya Levin dengan alis terangkat heran. “Karena anda tidak mungkin membantu seorang pria, pasti wanita. Itupun hanya wanita tertentu yang bisa menarik perhatian anda. Dan di dalam lift hanya ada anda, pria yang anda hajar sampai babak belur dan satu wanita yang terlihat mabuk. Jadi saya berasumsi anda membuat onar karena wanita tersebut,” jelas Johan. “Wuah! Kamu memang sangat memahamiku!” puji Levin, mengabaikan kata ‘membuat onar’ yang digunakan oleh Johan. “Jadi bisa tolong jelaskan pada saya apa yang terjadi?” “Pria itu, pria yang aku hajar maksudnya, hendak melakukan hal jahat pada wanita itu. Kamu pasti tau hal jahat apa yang aku maksud kan?” “Tidak. Tolong diperjelas, Tuan.” Levin mengerang frustasi, terpaksa memberi penjelasan secara detail. Padahal Levin yakin sebenarnya Johan memahami maksudnya, hanya saja pria itu ingin mendengar penjelasan yang sejujur-jujurnya dari Levin. Menyebalkan! “Gadis itu dijebak oleh seseorang dan diserahkan kepada pria itu dengan perintah agar aktivitas ranjang mereka direkam supaya bisa disebarkan di internet, jadi aku hanya membantu wanita itu agar bisa lepas dari pria tersebut.” “Lalu setelah anda menyelamatkan wanita itu dari pria tersebut, apa yang anda lakukan? Karena menurut rekaman CCTV, semalam anda berdua turun di lantai 25, lebih tepatnya di kamar 2512 dan tidak keluar dari kamar itu hingga siang ini.” Levin mengerang, pertanyaan Johan sulit untuk dijawab. Ralat, bukannya sulit untuk dijawab, tapi Levin tau kalau jawabannya akan membuat Johan mengomel dan mengeluarkan ceramah andalannya, tapi lebih baik diomeli dan diceramahi daripada ketauan berbohong. Lagipula untuk apa berbohong? Levin tidak mungkin menyangkal jika bukti sudah jelas di depan mata kan? Levin tidak mungkin mengatakan kalau dirinya tidak berada di kamar tersebut kan? Karena rekaman CCTV tidak bisa berdusta dan lagi Levin bukan makhluk halus, yang pasti akan terlihat dengan jelas jika keluar dari kamar itu. Dan kenyataannya, sepanjang malam hingga siang ini dirinya memang tidak keluar dari kamar Claire karena sibuk menabur benih! Asyik merengkuh kenikmatan dengan Claire, satu-satunya gadis perawan yang pernah Levin cicipi hingga detik ini. Meski secara status Johan adalah orang yang dibayar untuk mengawasinya, tapi Levin menghormati pria itu karena Levin tau pasti alasan Johan bersikap tegas padanya yaitu agar akhlaknya tidak semakin bobrok, meski rasanya sulit karena sifat brengsek sudah terlanjur melekat pada dirinya dan sulit diubah! “Kamu pasti tau apa yang terjadi jika pria dan wanita berada dalam satu ruangan tertutup kan? Tentu saja bersenang-senang.” “Apa…” “Apa kamu tidak mengerti maksudku? Perlu aku jelaskan dengan detail apa saja yang aku lakukan berdua dengan gadis itu semalam?” sela Levin jahil. Johan menghembuskan nafas berat. Dugaannya tepat. Tuan mudanya lagi-lagi meniduri wanita yang berbeda, kali ini lebih parah sampai tidak pulang ke rumah! Padahal biasanya selalu pulang meski baru tiba di rumah hampir menjelang pagi. Tapi kali ini malah baru pulang siang hari. Kacau! Johan tidak tau kalau yang Levin dapatkan semalam adalah gadis perawan yang membuatnya enggan berhenti. Karena biasanya jika dengan wanita bayaran, Levin hanya bermain sekali. Yang penting juniornya sudah ‘ganti oli’, beda dengan semalam. Semalam bukan hanya sekedar ‘ganti oli’, tapi mencari surga dunia. Semalam adalah kesempatan langka bagi Levin, dan tentu saja bagi juniornya, untuk merasakan kenikmatan seks yang sesungguhnya. “Bukankah anda bilang wanita itu mabuk? Anda bilang ingin menyelamatkannya dari pria yang berniat jahat, tapi anda sendiri melakukan hal itu padanya. Bukankah itu berarti anda sama jahatnya dengan pria yang anda hajar sampai babak belur?” “Eihhh! Tentu saja berbeda, aku memang melakukan hal itu saat dia sedang mabuk, tapi aku tidak merekamnya. Beda kan? Dan aku tidak ada niat untuk menyebarkannya ke internet,” elak Levin, tidak ingin disamakan dengan pria brengsek suruhan Mia. Levin jauh lebih baik daripada pria brengsek itu! “Tapi…” “Sudahlah, aku sudah memberitahumu apa yang terjadi kan? Sekarang biarkan aku istirahat, okay? Aku capek setelah kerja rodi semalaman!” sela Levin sambil mengedip jahil dan langsung masuk ke dalam kamar sebelum Johan sempat melarangnya!Claire masuk ke dalam apotek dan membeli satu strip pil pencegah kehamilan. Dirinya takut hamil, apalagi Levin secara terang-terangan mengakui kalau dirinya tidak mengenakan pengaman semalam, menumpahkan benihnya ke dalam rahim Claire pula! Menyebalkan. Pria kurang ajar! Padahal saat ini Claire masih kuliah, walaupun sudah dalam tahap skripsi, tapi bagaimanapun juga Claire belum siap hamil. Masa depannya masih panjang, masih ada banyak hal yang harus Claire raih. Claire tidak ingin kehadiran bayi yang tidak direncanakan merusak masa depannya! Tidak heran setelah masuk kembali ke dalam mobil Claire segera meminum pil tersebut sambil berdoa dalam hati, berharap tidak ada benih yang terlanjur berkembang di dalam rahimnya. Berharap usahanya untuk mencegah benih Levin agar tidak membuahi sel telurnya berhasil! Sementara itu Mia menatap layar ponselnya yang menampilkan nomor asing. “Nona…”Mia mengenali suara orang yang meneleponnya. Dennis, orang suruhannya semalam.Akhirnya pria itu m
Nick mendesah frustasi saat Claire menyumpal mulutnya dengan cokelat, oleh-oleh yang baru saja ditolaknya. Claire bahkan tidak memberi Nick waktu untuk protes dan langsung mengomel dengan nada seperti orangtua yang sedang memarahi putranya.“Rasanya sama kan? Jadi tolong hargai pemberian gadis ini!” omel Claire membuat Nick memberengut kesal karena diomeli oleh Claire hingga membuatnya tidak bisa berkutik. Bagi Nick, ada dua orang wanita yang tidak bisa dibantah atau dilawannya, yaitu sang mommy dan Claire.Claire menoleh kepada sang gadis sambil tersenyum manis. “Jangan khawatir, aku pastikan Nick akan menghabiskan oleh-oleh darimu. Dia suka cokelat kok, apalagi Merlion chocolate adalah cokelat kesukaannya,” beritahu Claire. Setelah itu Claire menoleh dan menatap tajam Nick. Memberi perintah tanpa kata membuat pria itu hanya bisa mendesah pasrah. Tanpa perlu diucapkan pun, Nick tau apa yang Claire ‘perintahkan’ meski hanya melalui tatapan mata. Mereka sudah bersahabat lama, jadi s
Claire baru akan meninggalkan Levin sebelum lengannya dicengkeram kuat oleh pria itu membuat Claire menatap marah padanya. Tidak suka langkahnya dihalangi. “Levin, itu namaku. Rasanya bagaimana pun juga kamu harus tau namaku setelah apa yang kita lewati beberapa malam lalu.”“Who cares? Aku tidak peduli pada namamu. Sekarang lepaskan lenganku!” “Tidak!” Mata Claire menyipit tajam mendengar penolakan Levin. Tidak suka jika perintahnya dibantah, oleh pria yang membuatnya frustasi pula! “Bukankah sudah kukatakan jangan pernah menyapa jika kita tidak sengaja bertemu? Apa kamu tidak paham ucapanku?” “Kamu tidak bisa bersikap seolah tidak terjadi apapun, Claire!”“Tentu saja bisa karena apa yang terjadi kemarin adalah sebuah kesalahan dan ketidaksengajaan, jadi lupakan saja!” jawab Claire sambil menyentak kasar lengannya hingga terlepas dari cengkeraman Levin.Claire menatap Levin dengan sinis dan berlalu pergi tanpa menoleh lagi. Levin mengawasi kepergian Claire dengan tatapan tajamn
Claire mengerang dalam hati saat Levin berjalan ke arahnya. Heran, kenapa pria itu masih mengejarnya terus? Apakah kata-katanya kemarin masih kurang jelas? Sepertinya tidak! Claire yakin sudah mengatakannya dengan sejelas-jelasnya. Tapi kenapa pria itu sangat bebal? Menyebalkan! Apalagi sekarang ada Nick, sahabatnya itu pasti akan penasaran dan bertanya macam-macam. Alasan apa yang harus Claire berikan saat Nick bertanya nanti? Hah! Levin hanya bisa membuatnya repot saja! “Dia siapa, Claire?” tanya Nick penasaran.Nah, benarkan? Pertanyaan pertama yang dilontarkan Nick saja sudah bernada penasaran seperti ini dan pasti akan berlanjut ke pertanyaan selanjutnya. Claire harus memutar otak agar sahabatnya itu tidak curiga! “Entahlah. Aku juga tidak kenal. Abaikan saja, lebih baik kita ke perpustakaan, masih ada buku yang harus aku cari,” ajak Claire sambil menarik lengan Nick, tidak mempedulikan Levin yang menatapnya dengan tajam. Claire melengos, hendak melangkah menjauh saat Levin k
Pertanyaan Levin membuat Claire tersentak kaget, namun dengan cepat wanita itu menguasai dirinya dan menjawab ketus. Tidak ingin membuat Levin melihat kekacauan yang mendera hatinya hanya karena pertanyaan yang diajukan pria itu. “Jangan bicara sembarangan! Aku tidak akan hamil!” “Bagaimana kamu bisa begitu yakin? Kita melakukannya berulang kali, bahkan aku tidak pakai pengaman dan melepas benihku ke dalam rahim kamu, Claire!”Ucapan Levin membuat bulu kuduk Claire meremang. Rasa takut yang sempat dirasakannya beberapa waktu lalu kembali hadir. Padahal selama beberapa minggu terakhir Claire sudah berhasil mengenyahkannya, tapi ucapan Levin barusan membuat ketakutan Claire kembali muncul! Kurang ajar! Levin melepas cengkeramannya pada bahu Claire dan menyugar rambutnya dengan frustasi, berusaha menekan emosinya. Entah apa yang membuat Levin emosi seperti ini. Apakah benar hanya karena rasa bersalah? Atau karena Claire bersikap seolah yang mereka lewati malam itu tidaklah penting hin
Claire merasa tubuhnya membeku seperti disiram air es saat mendengar ucapan Nick. Memang, pria itu mengucapkannya sambil lalu, tanpa ada maksud apapun, tapi tidak bagi Claire yang baru saja berdebat dengan Levin mengenai hal yang sama. Hamil. Bayi. Astaga, kenapa sekarang dirinya sering mendengar kata menakutkan itu?!Claire, yang tidak ingin membuat Nick curiga, berusaha menormalkan raut wajahnya yang mungkin saja terlihat tegang dan hanya tertawa dengan nada sumbang. “Jangan bicara sembarangan! Tadi kan aku sudah bilang lapar karena belum sempat sarapan. Padahal kamu tau sendiri kalau setiap pagi aku selalu sarapan kan? Tapi pagi ini kesiangan. Dan sekarang sudah menjelang siang, waktu yang tepat untuk brunch.”“Kesiangan gara-gara clubbing lagi?” selidik Nick membuat Claire terdiam. Kata clubbing mengingatkannya pada Levin dan malam laknat itu. Malam disaat dirinya harus kehilangan kegadisannya akibat pria brengsek yang bernama Levin. Tidak heran setelah malam itu Claire belum m
“Sudahlah, karena Claire tidak ingin berurusan denganku lebih baik aku kembali menikmati hidup. Semenjak kejadian itu aku belum sempat menginjakkan kaki lagi ke club malam untuk bersenang-senang. Bodohnya lagi saking cemasnya dengan Claire, aku berhenti mengencani wanita lain. Lebih baik nanti malam aku ke klub dan mencari wanita untuk memuaskan diri. Tidak perlu memikirkan Claire lagi. Lagipula Claire tidak membutuhkan pertanggungjawabanku dan berniat mengurus semuanya sendiri. Jadi, lebih baik malam ini aku bersenang-senang!” putus Levin.Keputusan yang didasari rasa kesal saat mengingat penolakan Claire. Pria itu baru saja membuat keputusan saat pintu kamarnya diketuk dan suara Johan terdengar dari luar kamar. “Tuan, apa saya boleh masuk?”“Masuk saja. Pintunya tidak dikunci.”Johan masuk dua detik kemudian, menatap Levin dengan pandangan menyelidik.“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?”“Bukankah seharusnya saya yang bertanya? Apa yang terjadi hi
Malam harinya di bar…Levin terus menenggak alkohol, berusaha melenyapkan kebimbangan hatinya karena ucapan Johan dan tentu saja berusaha meredakan rasa kesalnya akibat penolakan Claire. Sikap ketus Claire, penolakan Claire, kedekatan Claire dengan Nick membuat rasa kesal enggan pergi dari hatinya, tidak heran kalau Levin melarikan diri ke bar. Berharap wanita dan alkohol bisa meredakan rasa kesal di hatinya. Hingga wanita pilihannya malam ini datang mendekati dan langsung menggodanya, tanpa pikir panjang Levin membawa wanita itu ke kamar hotel dan melucuti pakaiannya dengan ganas. Dirinya perlu pelampiasan setelah beberapa minggu berpuasa, lebih tepatnya terakhir kali Levin melakukan hal itu adalah pada saat menggauli Claire. Itu artinya sudah hampir sebulan juniornya tidak ‘ganti oli’. Mengenaskan bukan? Makanya, sekarang saat yang tepat untuk menghibur juniornya. Wanita yang memiliki lekuk tubuh menggoda itu terus berusaha meman
Levin menghela nafas pelan, meratapi kesenangannya yang harus ‘terenggut’ setelah dipertemukan kembali dengan Claire. Jujur, Levin bosan jika hanya menuntaskan hasratnya melalui oral para wanita jalang.Levin bosan jika tidak bisa menikmati permainan di atas ranjang yang membuat hatinya terasa semakin dingin dan hambar. Levin ingin merasakan kehangatan dari pusat inti tubuh wanita dengan penuh gairah.Levin ingin menikmati setiap permainan mereka, bukan hanya sekedar ‘tumpah’!Levin sadar kalau para wanita itu merindukan kehebatannya di atas ranjang.Rindu pada cumbuannya yang menuntut dan bisa membangkitkan gairah wanita sampai ke level tertinggi. Rindu pada hentakan juniornya yang kuat dan bertenaga jika sedang berpacu di atas ranjang seperti kuda yang sedang bertempur di arena balap dan tidak terkalahkan, bukan yang ogah-ogahan seperti orang tidak niat begini! Levin ingin mendengar para wanita itu merintih, mengerang, mendesah dan menjerit puas samb
Malam harinya di bar…Levin terus menenggak alkohol, berusaha melenyapkan kebimbangan hatinya karena ucapan Johan dan tentu saja berusaha meredakan rasa kesalnya akibat penolakan Claire. Sikap ketus Claire, penolakan Claire, kedekatan Claire dengan Nick membuat rasa kesal enggan pergi dari hatinya, tidak heran kalau Levin melarikan diri ke bar. Berharap wanita dan alkohol bisa meredakan rasa kesal di hatinya. Hingga wanita pilihannya malam ini datang mendekati dan langsung menggodanya, tanpa pikir panjang Levin membawa wanita itu ke kamar hotel dan melucuti pakaiannya dengan ganas. Dirinya perlu pelampiasan setelah beberapa minggu berpuasa, lebih tepatnya terakhir kali Levin melakukan hal itu adalah pada saat menggauli Claire. Itu artinya sudah hampir sebulan juniornya tidak ‘ganti oli’. Mengenaskan bukan? Makanya, sekarang saat yang tepat untuk menghibur juniornya. Wanita yang memiliki lekuk tubuh menggoda itu terus berusaha meman
“Sudahlah, karena Claire tidak ingin berurusan denganku lebih baik aku kembali menikmati hidup. Semenjak kejadian itu aku belum sempat menginjakkan kaki lagi ke club malam untuk bersenang-senang. Bodohnya lagi saking cemasnya dengan Claire, aku berhenti mengencani wanita lain. Lebih baik nanti malam aku ke klub dan mencari wanita untuk memuaskan diri. Tidak perlu memikirkan Claire lagi. Lagipula Claire tidak membutuhkan pertanggungjawabanku dan berniat mengurus semuanya sendiri. Jadi, lebih baik malam ini aku bersenang-senang!” putus Levin.Keputusan yang didasari rasa kesal saat mengingat penolakan Claire. Pria itu baru saja membuat keputusan saat pintu kamarnya diketuk dan suara Johan terdengar dari luar kamar. “Tuan, apa saya boleh masuk?”“Masuk saja. Pintunya tidak dikunci.”Johan masuk dua detik kemudian, menatap Levin dengan pandangan menyelidik.“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?”“Bukankah seharusnya saya yang bertanya? Apa yang terjadi hi
Claire merasa tubuhnya membeku seperti disiram air es saat mendengar ucapan Nick. Memang, pria itu mengucapkannya sambil lalu, tanpa ada maksud apapun, tapi tidak bagi Claire yang baru saja berdebat dengan Levin mengenai hal yang sama. Hamil. Bayi. Astaga, kenapa sekarang dirinya sering mendengar kata menakutkan itu?!Claire, yang tidak ingin membuat Nick curiga, berusaha menormalkan raut wajahnya yang mungkin saja terlihat tegang dan hanya tertawa dengan nada sumbang. “Jangan bicara sembarangan! Tadi kan aku sudah bilang lapar karena belum sempat sarapan. Padahal kamu tau sendiri kalau setiap pagi aku selalu sarapan kan? Tapi pagi ini kesiangan. Dan sekarang sudah menjelang siang, waktu yang tepat untuk brunch.”“Kesiangan gara-gara clubbing lagi?” selidik Nick membuat Claire terdiam. Kata clubbing mengingatkannya pada Levin dan malam laknat itu. Malam disaat dirinya harus kehilangan kegadisannya akibat pria brengsek yang bernama Levin. Tidak heran setelah malam itu Claire belum m
Pertanyaan Levin membuat Claire tersentak kaget, namun dengan cepat wanita itu menguasai dirinya dan menjawab ketus. Tidak ingin membuat Levin melihat kekacauan yang mendera hatinya hanya karena pertanyaan yang diajukan pria itu. “Jangan bicara sembarangan! Aku tidak akan hamil!” “Bagaimana kamu bisa begitu yakin? Kita melakukannya berulang kali, bahkan aku tidak pakai pengaman dan melepas benihku ke dalam rahim kamu, Claire!”Ucapan Levin membuat bulu kuduk Claire meremang. Rasa takut yang sempat dirasakannya beberapa waktu lalu kembali hadir. Padahal selama beberapa minggu terakhir Claire sudah berhasil mengenyahkannya, tapi ucapan Levin barusan membuat ketakutan Claire kembali muncul! Kurang ajar! Levin melepas cengkeramannya pada bahu Claire dan menyugar rambutnya dengan frustasi, berusaha menekan emosinya. Entah apa yang membuat Levin emosi seperti ini. Apakah benar hanya karena rasa bersalah? Atau karena Claire bersikap seolah yang mereka lewati malam itu tidaklah penting hin
Claire mengerang dalam hati saat Levin berjalan ke arahnya. Heran, kenapa pria itu masih mengejarnya terus? Apakah kata-katanya kemarin masih kurang jelas? Sepertinya tidak! Claire yakin sudah mengatakannya dengan sejelas-jelasnya. Tapi kenapa pria itu sangat bebal? Menyebalkan! Apalagi sekarang ada Nick, sahabatnya itu pasti akan penasaran dan bertanya macam-macam. Alasan apa yang harus Claire berikan saat Nick bertanya nanti? Hah! Levin hanya bisa membuatnya repot saja! “Dia siapa, Claire?” tanya Nick penasaran.Nah, benarkan? Pertanyaan pertama yang dilontarkan Nick saja sudah bernada penasaran seperti ini dan pasti akan berlanjut ke pertanyaan selanjutnya. Claire harus memutar otak agar sahabatnya itu tidak curiga! “Entahlah. Aku juga tidak kenal. Abaikan saja, lebih baik kita ke perpustakaan, masih ada buku yang harus aku cari,” ajak Claire sambil menarik lengan Nick, tidak mempedulikan Levin yang menatapnya dengan tajam. Claire melengos, hendak melangkah menjauh saat Levin k
Claire baru akan meninggalkan Levin sebelum lengannya dicengkeram kuat oleh pria itu membuat Claire menatap marah padanya. Tidak suka langkahnya dihalangi. “Levin, itu namaku. Rasanya bagaimana pun juga kamu harus tau namaku setelah apa yang kita lewati beberapa malam lalu.”“Who cares? Aku tidak peduli pada namamu. Sekarang lepaskan lenganku!” “Tidak!” Mata Claire menyipit tajam mendengar penolakan Levin. Tidak suka jika perintahnya dibantah, oleh pria yang membuatnya frustasi pula! “Bukankah sudah kukatakan jangan pernah menyapa jika kita tidak sengaja bertemu? Apa kamu tidak paham ucapanku?” “Kamu tidak bisa bersikap seolah tidak terjadi apapun, Claire!”“Tentu saja bisa karena apa yang terjadi kemarin adalah sebuah kesalahan dan ketidaksengajaan, jadi lupakan saja!” jawab Claire sambil menyentak kasar lengannya hingga terlepas dari cengkeraman Levin.Claire menatap Levin dengan sinis dan berlalu pergi tanpa menoleh lagi. Levin mengawasi kepergian Claire dengan tatapan tajamn
Nick mendesah frustasi saat Claire menyumpal mulutnya dengan cokelat, oleh-oleh yang baru saja ditolaknya. Claire bahkan tidak memberi Nick waktu untuk protes dan langsung mengomel dengan nada seperti orangtua yang sedang memarahi putranya.“Rasanya sama kan? Jadi tolong hargai pemberian gadis ini!” omel Claire membuat Nick memberengut kesal karena diomeli oleh Claire hingga membuatnya tidak bisa berkutik. Bagi Nick, ada dua orang wanita yang tidak bisa dibantah atau dilawannya, yaitu sang mommy dan Claire.Claire menoleh kepada sang gadis sambil tersenyum manis. “Jangan khawatir, aku pastikan Nick akan menghabiskan oleh-oleh darimu. Dia suka cokelat kok, apalagi Merlion chocolate adalah cokelat kesukaannya,” beritahu Claire. Setelah itu Claire menoleh dan menatap tajam Nick. Memberi perintah tanpa kata membuat pria itu hanya bisa mendesah pasrah. Tanpa perlu diucapkan pun, Nick tau apa yang Claire ‘perintahkan’ meski hanya melalui tatapan mata. Mereka sudah bersahabat lama, jadi s
Claire masuk ke dalam apotek dan membeli satu strip pil pencegah kehamilan. Dirinya takut hamil, apalagi Levin secara terang-terangan mengakui kalau dirinya tidak mengenakan pengaman semalam, menumpahkan benihnya ke dalam rahim Claire pula! Menyebalkan. Pria kurang ajar! Padahal saat ini Claire masih kuliah, walaupun sudah dalam tahap skripsi, tapi bagaimanapun juga Claire belum siap hamil. Masa depannya masih panjang, masih ada banyak hal yang harus Claire raih. Claire tidak ingin kehadiran bayi yang tidak direncanakan merusak masa depannya! Tidak heran setelah masuk kembali ke dalam mobil Claire segera meminum pil tersebut sambil berdoa dalam hati, berharap tidak ada benih yang terlanjur berkembang di dalam rahimnya. Berharap usahanya untuk mencegah benih Levin agar tidak membuahi sel telurnya berhasil! Sementara itu Mia menatap layar ponselnya yang menampilkan nomor asing. “Nona…”Mia mengenali suara orang yang meneleponnya. Dennis, orang suruhannya semalam.Akhirnya pria itu m