Bill tidak sempat menjawabnya lantaran sang raja tiba-tiba memiliki tamu dan terpaksa menyudahi pertemuannya dengan Bill. Bill pun harus merasakan kegagalan membela seseorang.Anthony yang merupakan ahli sejarah itu pada akhirnya dieksekusi dengan tiga tembakan yang diluncurkan kepadanya. Tembakan itu tepat mengenai alat vitalnya dan membawanya pada kematian.Dua hari setelah kejadian itu, Bill secara resmi diangkat menjadi Penasihat Perang di Kerajaan Ans De Low dan mulai berpindah di ke gedung Emas untuk tinggal bersama dengan Jody Gardner."Kau tahu, Stewart. Kau mendapatkan posisi itu setelah menghilangkan nyawa ribuan orang, apa kau senang akan hal itu?" ujar Jody Gardner saat Bill pertama kali menginjakkan kakinya di gedung itu.Bill tersenyum, "Jenderal, saya hanya menuruti perintah Raja Keannu.""Oh iya? Kau pikir aku percaya?" balas Jody, menatap tajam pada Bill. Pria itu jelas tidak bisa menerima Bill dengan suka rela. Dia hanya terpaksa menerima Bill atas perintah raja.Ia
"Kau ... siapa?" tanya Shirley dengan terbata-bata.Pria berbadan tinggi besar dan tegap itu tersenyum lebar, "Kau lupa padaku, Adik Ipar?"Shirley hampir saja pingsan saat mendengar suara itu, menatap tidak percaya. Begitu juga dengan Cassandra yang tampak terkejut, terpaku sekaligus terpana akan perkataan sang pria dengan setelan jas hitam yang tampan elegan itu."Bill?" ucap Cassandra masih sulit percaya."Iya, Sayang. Ini suamimu," ujar Bill sambil tersenyum pada istrinya.Shirley berusaha menyadarkan diri, "Kau ... mana mungkin si pecundang itu?'Bill memutar badan dan menatap adik ipar yang begitu sering menghinanya itu, "Ah, apa aku harus mengatakan apa saja kata-kata hinaan yang kau lempar padaku saat dulu?"Shirley membuang napas dengan kasar. Oh, itu jelas Bill, kakak iparnya yang merupakan orang rendahan. Hanya Bill yang suka melontarkan kata-kata sindiran pedas semacam itu, ia tidak mengenal pria lain yang akan melakukan hal itu.Cassandra berkata dengan emosi yang bercamp
"Sudah aku letakkan di sana," ucap Bill seraya menunjuk ke arah tumpukan kado yang ada di dekat pintu bagian kanan.Peter Green berkata, "Ah, aku begitu ingin melihatnya.""Ya, benar. Aku juga. Apa yang akan diberikan oleh adik ipar tersayangku ini?" ujar George sambil mengedipkan sebelah matanya. Tetapi, kedipan matanya tampak terlihat sebagai sebuah ejekan yang begitu jelas, sampai-sampai adik bungsunya, Shirley tertawa mencibir.Namun, seperti biasa, Bill masih bersikap tenang dan tidak terpengaruh dengan gangguan kecil itu. Sang pengantin perempuan pun berbicara, "Apa kita harus membuka kado dari tamu sekarang, Sayang?"Shirley Wood menatap sang suami dan melempar senyum sensual yang memikat. Peter membalas dengan sebuah kecupan singkat di bibir, "Jika kau ingin, ayo kita lakukan, Sayang.""Baiklah, ayo minta pembawa acara mengumumkannya," ucap Shirley.Sebelum sepasang pengantin baru itu meninggalkan Bill dan Cassandra, Shirley menyempatkan diri berkata, "Jangan pikir aku berha
Cassandra menggigit bibir bawahnya, "Bill, kau yakin kado itu tidak akan mempermalukan kita kan? Kalau kau tidak yakin, aku sudah menyiapkan kado untuk mereka. Aku sudah membeli kalung perak, memang tidak terlalu mahal tapi aku yakin mereka tidak akan berani menghinanya. Aku ... aku-""Sayang, tenanglah! Sekali lagi, kau tidak usah cemas. Percayalah padaku kali ini saja!" ucap Bill lembut.Cassandra susah mempercayainya, tapi karena tidak memiliki pilihan apapun ia pun mengangguk. Setelahnya, Shirley mulai membuka kado berbungkus hitam itu dan matanya terbelalak kaget.Dengan tangan gemetar ia menyentuh sebuah kepingan emas yang terukir sebuah nama di sana. Ia tidak tahu apakah itu emas murni sehingga tidak tahu bagaimana harus berkomentar. Peter pun mengambil piringan emas yang cukup besar itu dan mulai membaca dengan suara agak bergetar, "Jenderal Mackenzie. Ini kan potretnya. Iya, ini tidak salah lagi. Ini gambar jenderal perang Kerajaan Ans De Lou."Peter meneliti piringan itu de
"Ya, hanya tiga.""Dia tidak salah hitung kan?" George masih begitu berharap hal yang dikatakan oleh Bryan itu salah.Bryan membalas, "Kalau salah hitung, dia pasti sudah digantung oleh Raja Keannu."Ah, benar juga. Seorang pengawal kerajaan pastilah tidak mungkin dipilih dengan begitu mudahnya. Serangkaian tes pasti telah dilalui, rasanya tidak mungkin pengawal itu akan melakukan kesalahan dalam hitung menghitung.George dengan terpaksa bertanya lagi, "Lantas, yang satunya ada di mana?""Kata rekanku yang bertugas menjaga tempat itu, Andrew Reece mendapatkan perintah dari Jenderal Mackenzie untuk memberikan benda itu pada orang yang bernama ... tunggu sebentar, aku tanya lagi. Aku lupa namanya," jawab Bryan.Aura Christopher sudah menggelap bagaikan burung gagak yang ingin mencakar mangsanya. Sementara George terlihat mulai gelisah hingga menggenggam ponsel miliknya dengan lebih erat. Ia sangat resah, tidak ingin apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginannya.Di bagian aula di ma
Christopher terhenyak untuk sesaat. Kata-kata yang dilontarkan oleh Bill terdengar begitu dingin dan membuatnya merinding. Ini pertama kalinya Bill seperti itu. Christopher bahkan merasa jika aura Bill tampak berbeda. Lebih memiliki power dan sanggup membuat orang lain terdiam.Kakek tua itu bahkan harus menelan ludah dan membasahi bibirnya guna mengatasi ketidaknyamanannya saat mendengar perkataan Bill."Kau ... tetap-""Tidak. Aku tidak akan pernah menceraikan Cassie. Dan Kakek tidak berhak menyuruh Cassie melakukan itu. Ayolah, jangan menjilat ludah sendiri, Kek!"Christopher membelalakkan mata, "Kurang ajar. Aku tidak-""Tidak menjilat ludah sendiri tapi pura-pura lupa akan kesepakatan yang baru saja diucapkan sekitar satu jam yang lalu?" sela Bill."Atau memang tidak menganggap kata-kata tadi serius?" lanjut Bill.Christopher menjawab, "Kau sekarang pintar sekali memainkan kata-kata. Apa ini yang kau dapat dari menghilang selama satu bulan lebih?"Bill tersenyum dingin, "Anggap s
"Apakah aku perlu memberitahumu soal ini, Gardner?" tanya Keannu.Jelas sekali ini sangat buruk. Keannu Wellington dikenal memiliki tingkat kesopanan yang cukup tinggi dan tidak akan mungkin menyinggung orang lain dengan mulutnya. Jody Gardner pun tersadar jika saat ini sang raja sedang tidak suka dengannya sampai hanya memanggil nama belakangnya saja tanpa titelnya.Tak mau membuat keadaan malah semakin tidak mengenakkan, Jody buru-buru berkata, "Tidak, Yang Mulia. Anda tidak perlu ... memberitahu saya. Ini urusan Anda dengan Jenderal Mackenzie."Sudut bibir Keannu terangkat sedikit, tampak senang dengan jenderalnya yang cepat tanggap."Bagus, kalau kau sudah mengerti," kata Keannu."Terus, ada lagi yang ingin kau tanyakan?" lanjut Keannu."Tidak ada, Yang Mulia," jawa Jody dan ia pun segera undur diri dari istana pribadi sang raja.Ia sedang menahan kemarahannya hingga tidak berbicara sepatah kata pun selama berjalan.Sang jenderal dengan tergesa-gesa ke luar bersama Steven yang se
"Eh, itu ... itu ... tak usah kau hiraukan lagi, aku hanya sedang linglung," jawab Steven tergesa-gesa.Ia baru saja tersadar jika ia terlalu banyak bicara. Bagaimanapun juga, ia adalah anak buah langsung Jenderal Gardner, tidak seharusnya ia membicarakan permasalahan itu dengan orang lain. Ia bisa saja dituduh menyebarkan rahasia sang jenderal.Astaga, apa yang baru saja ia lakukan? Ia sudah menjadi bawahan sang jenderal perang selama 2 tahun lamanya dan selama itu tidak pernah berbuat kesalahan sedikit pun. Lantas, mengapa sekarang ia malah berbuat salah? Sungguh, Steven ingin menjahit mulutnya sendiri agar tak lagi membocorkan keburukan jenderalnya. Meskipun hanya secuil."Ah, tapi tadi kau bilang Jenderal Gardner baru saja melakukan sesuatu. Apa itu? Apakah dia membuat-""Tidak, tidak. Aku salah bicara. Baiklah, aku akan pergi dulu. Ada tugas yang harus aku selesaikan," pamit Steven dengan segera. Wallace terlihat menaruh curiga, tetapi ia memilih untuk tidak memikirkan hal itu d
Melihat senyuman James yang penuh keyakinan itu, Ben seketika sadar bila sahabatnya itu memang tidak bisa ditebak. Tapi, saat dia kembali mengingat bagaimana hubungan antara James dan Riley di masa lalu, dia merasa bila semua yang dikatakan oleh James memang benar adanya. Riley selalu terbuka sepenuhnya pada James. Pemuda itu hanya menyembunyikan satu hal, yakni fakta mengenai dirinya yang merupakan putra William Mackenzie. Selain itu, Riley tidak memiliki rahasia lain dari James. Sementara itu, Riley pun menjadi satu-satunya orang yang bisa memahami James dengan sangat baik. Hanya Riley yang mampu mengerti setiap tindakan yang dilakukan oleh James dan James pun hanya mau membicarakan banyak hal dengan Riley.Maka, dengan melihat semua fakta itu Ben akhirnya mengangguk, “Baiklah, kalau begitu. Aku harus melakukan apa?”James mendengus dan langsung memasang wajah cemberut, “Ayolah, Ben! Aku tadi sudah memberitahumu.”Ben memutar bola mata, “Aku masih tidak mengerti. Tolong jelaskan
Meskipun tampak bingung dengan perintah sang jenderal perang, mereka tetap kompak menjawab, “Siap, Jenderal.”Tidak lama kemudian semua prajurit itu membentuk sebuah barisan di mana mereka akan bersiap-siap melakukan pencarian terhadap Riley Mackenzie seperti yang diperintahkan oleh James Gardner.Sebagian besar dari para prajurit kelas satu tidak sedikitpun ragu melakukan tugas itu, namun ada beberapa di antara prajurit kelas dua yang tampaknya masih tidak yakin dengan apa yang akan mereka kerjakan.Dua di antara mereka adalah Foei Mccray dan Derrick Weybe“Aku tidak mengerti, mengapa Jenderal Gardner malah melakukan pencarian di hutan. Mana mungkin Jenderal Mackenzie ada di sini? Ini tidak masuk akal,” ucap Derrick yang baru saja berbaris menghadap ke arah depan hutan.Pria muda berusia dua puluh enam tahun itu berada di barisan paling depan bersama dengan teman baiknya sehingga mereka masih bisa berbicara dengan nada suara yang cukup pelan.Foei mengangguk setuju, tampak juga berpi
Gary Davis menggelengkan kepala dengan ekspresi super bingung. Dia tak bisa menerka-nerka perihal apa yang mungkin terjadi. Dia sendiri tidak terlalu mengenal James Gardner. Dia memasuki istana ketika James Gardner tepat mengundurkan diri dari jabatan wakil jenderal perang. Sehingga pada dasarnya dia pun hanya bertemu dengan James beberapa kali saja. Hal itu berbeda dengan Riley Mackenzie. Tidak terhitung jumlahnya dia telah bertemu dengan Riley. Bahkan, bisa dibilang dia sudah mengetahui bagaimana sikap Riley. Namun, dia tidak bisa memikirkan apapun tentang James Gardner. Dia sama saja seperti orang buta jika disangkut pautkan dengan James. “Jenderal Mackenzie muda saja tidak curiga terhadapmu. Padahal dia lebih lama berada di istana dibandingkan dengan jenderal perang yang satu itu. Aku tidak mengerti,” kata Elena yang juga belum menemukan jawaban dari pertanyaan yang mengganggu dirinya itu.Dia pun juga masih belum mengerti. Akan tetapi, sebuah hal pun terbersit di dalam pikir
Elena Goldwin menggigit bibir, merasa telah berbuat salah. Wanita tua itu pun berucap, “Maafkan saya, Pangeran … oh, maksud saya … Gary.”Melihat wajah penuh rasa Elena, Gary menjadi tidak nyaman. Dilihatnya wanita tua yang telah menjaga dirinya sejak dia masih kecil itu. Wanita itu sudah sangat berjasa banyak bagi keluarganya. Tidak hanya mengabdikan dirinya sebagai asisten rumah tangga, dia juga menjadi sosok ibu pengganti bagi adiknya. Memang usianya lebih pantas dipanggil sebagai “nenek”, namun perannya justru lebih cocok sebagai seorang ibu bagi dirinya sendiri dan juga Rowen.Astaga! Apa yang sudah aku lakukan? Dia sudah berkorban banyak, tapi apa yang sudah aku perbuat? Wanita tua yang telah membantuku dengan segala waktu dan tenaganya itu malah aku buat hampir saja menangis, Gary membatin dengan jengkel.Pria muda itu menyentuh tangan Elena, membuat wanita itu kaget. Dia kemudian mendengar Gary berujar, “Kau tidak perlu meminta maaf, Nek. Dan aku … akulah yang seharusnya
Gary Davis seketika mendesah pelan. Rasa bersalah segera mendera hatinya.Dia pun segera memposisikan tempat duduknya ke arah sang adik lal menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah.Tatapan bocah itu benar-benar lugu dan polos sehingga membuat perasaan Gary semakin kacau.Rowen, adik laki-lakinya itu masih begitu sangat kecil, tapi dia harus ikut menanggung permasalahan yang tidak seharusnya dia pikirkan di usia belia. Dengan nada yang begitu sangat lembut Gary pun berujar, “Rowen, maafkan aku. Aku … tahu kau pasti merasa sangat kesepian. Tapi … percayalah aku melakukan semua ini demi kita. Aku-”“Kau mempertaruhkan nyawamu, Kak. Aku … aku ….”Gary menggelengkan kepala, “Jangan pikirkan aku! Kau hanya harus tumbuh dengan sehat dan aman. Agar nanti di saat kita bisa memperoleh apa yang seharusnya menjadi milik kita, kita bisa berdiri dengan tegak.”Tiba-tiba saja perkataan Gary tersebut malah membuat Rowen menunduk sedih. “Gary, tidak bisakah kau tinggalkan itu semua?”Rowen memb
Sesungguhnya, bukan hanya Doris Tan yang rasanya sulit mempercayai apa yang Xylan putuskan. Namun, ketiga rekan pengawalnya pun juga merasakan hal yang sama.Bahkan, gambaran ekspresi ketiga sangat jelas sekali terlihat dari hanya sekali melihat. Terutama Jim Chesnut yang terlihat begitu syok mendengar perkataan Xylan. Mulutnya bahkan sampai terbuka lebar dan dia pun lupa untuk menutupnya lagi. “Y-Yang Mulia, saya sangat bingung. Saya … saya-”“Doris Tan,” Xylan memotong perkataan Doris dengan nada tegas.Doris pun terdiam, seolah tahu bahwa Xylan akan segera menjelaskan alasan raja muda itu. Benar saja, tidak lama kemudian Xylan berkata, “Hm, kau … memang melakukan hal yang benar dengan mengakui kesalahanmu.”Dia berhenti selama beberapa detik, sengaja untuk memberi waktu pada Doris untuk menenangkan diri sebelum dia melanjutkan apa yang ingin dia katakan.Ketika Doris terlihat jauh lebih tenang, Xylan pun melanjutkan, “Namun, kau melakukan itu dengan cara yang salah.”Ludos Flee m
Sesungguhnya Xylan tidak pernah peduli dengan perkataan-perkataan orang di istananya. Dia cenderung mengabaikan berbagai gosip mengenai dirinya.Bahkan, dulu pernah suatu ketika ada sebuah kunjungan dari kerajaan lain, saat itu Xylan diminta ayahnya untuk beramah-tamah dengan salah satu pangeran. Akan tetapi, dia yang memang tidak terlalu pintar bergaul nyatanya malah membuat anak raja dari kerajaan sebelah itu tidak nyaman. Akibatnya, terjadi sedikit keributan saat itu. Xylan dituding bersikap kasar pada sang pangeran sehingga pangeran itu tidak betah tinggal di Kerajaan Ans De Lou dan akhirnya meninggalkan istana lebih cepat daripada yang seharusnya.Situasi di istana sedikit agak kacau. Banyak orang yang menilai Xylan bersalah total sampai mengakibatkan sebuah kerjasama yang penting menjadi gagal. Namun, pemuda itu sama sekali tidak peduli dan tidak pernah menjelaskan apapun.Sang ayah, Raja Keannu kala itu pun tidak pernah bertanya pada sang putra dan malah terkesan membiarkan p
Ronald sedikit agak terkejut dengan perkataan tiba-tiba dari sang raja itu. Walaupun memang sangat wajar bila Xylan Wellington, raja muda baru negerinya itu memberikan sebuah perintah pada siapapun, termasuk dirinya.Xylan memang pernah memberinya perintah, tapi hanya sebatas perintah biasa ketika dia masih menjadi seorang putra mahkota.Dan saat itu situasinya tampak berbeda. Sebab, hari itu adalah hari pertama Xylan memberinya perintah setelah Xylan menyandang gelar raja. Maka, jelas sekali perintah yang bernada serius itu membuat Ronald sedikit agak gugup. Meskipun dia belum mengetahui perintah raja itu, dia tetap menjawab, “Iya, Yang Mulia. Saya siap menerima perintah Anda.”Xylan pun berkata lagi, “Kalau begitu persiapkan dirimu karena kau akan pergi ke luar istana.”Tentu saja perintah itu semakin membuat Ronald kaget, “Apa yang terjadi, Yang Mulia? A-apakah saya telah membuat kesalahan hingga Anda marah terhadap saya? Lalu, lalu … Anda hendak mengusir saya keluar dari istana.”
Lantaran tidak tahu harus menjawab seperti apa, dia pun berpikir sebentar.“Sa-saya tidak berani memberikan pendapat saya, Yang Mulia,” kata Ronald pada akhirnya.Sontak rasa tak puas langsung menghampiri Xylan. Pria muda itu membuang napas dengan kasar, tampak tidak suka mendengar jawaban Ronald. Dengan dingin Xylan pun berkata, “Rajamu sedang bertanya kepadamu dan kau menolak untuk menjawab?”“Kau mau menentangku, Ronald?” lanjut Xylan.Ronald buru-buru berlutut ke hadapan Xylan dengan kepala tertunduk dalam. Dia menelan ludah dengan susah payah, sadar bila sang raja muda itu sedang marah kepadanya. Dia pun langsung menyesal telah melakukan kesalahan bodoh dengan tidak menjawab pertanyaan sang raja.Pengawal muda itu pun dengan terbata-bata berujar, “Saya mohon ampun, Yang Mulia.”Xylan masih diam, enggan membalas ucapan Ronald karena emosinya sedang naik.“Yang Mulia, saya tidak bermaksud membuat Anda kesal. Saya-”“Kalau begitu jawablah!” Xylan memerintah dengan sambil menggerta