“Eirlys,” gumam Yuan. Matanya mulai terbuka lalu dia duduk bersila di atas teratai es. Dia mulai mengatur pernapasannya, ada perasaan yang berbeda di tubuhnya. “Apa yang tadi itu bukan mimpi?” Yuan menyentuh dadanya, dia juga melihat ke sekitar dan tidak mendapatkan jejak keberadaan Eirlys. “Eirlys …,” gumam Yuan kembali. Dia memandang telapak tangannya seakan ada sesuatu di sana. Sesuatu yang terasa dingin, tetapi tidak ada apapun di tangannya saat ini. “Ehm,” deham Yuasa. Tangannya memeriksa pergelangan tangan Yuan lalu memeriksa kening dan juga leher adik lelakinya. Wajahnya mengernyit seakan ada sesuatu yang tidak biasa. “Kak, apa kau merasakannya? Aku merasa sedikit berbeda.” Yuan menatap Yuasa dan berharap kakaknya akan memberikan jawaban. “Ini memang aneh, tapi aku tidak bisa memastikannya. Jangan ke mana-mana, tetaplah di sini, aku panggil Ayahanda dulu,” pesan Yuasa. Dia bergegas meninggalkan Yuan menuju ke tempat ayahnya. “Aurum, Yuan selamat, kita tidak perlu mengulan
“Paman, apa lukanya tidak apa-apa?” Yui berada di sebelah Rafael. Dia khawatir karena Rafael tidak mengindahkan peringatan tabib. Mereka sudah berada di depan gerbang dimensi. Rainsword dan Fiona datang berdua kemudian disusul Lixue bersama Eirlys. “Pangeran Rainsword akan mulai melemah jika terlalu lama di dunia bawah, Yui. Fiona juga tidak akan bisa terbang jika mulai terkontaminasi. Kediaman Blackdragon memiliki tingkat kontaminasi paling kecil karena selama ini ada Yuan di sini, tapi sekarang dia tidak di sini. Aku tidak mau mengambil resiko.” Rafael mulai membuka gerbang. Gerbang besar itu perlahan semakin melebar menampilkan sebuah pusaran hitam dengan tekanan kekuatan yang tidak main-main. Yui menghela napasnya, dia kemudian membuat barrier untuk semuanya termasuk Rafael yang tidak menolak saat Yui memasang barrier. “Fury, ayo!” Rafael mulai masuk ke dalam gerbang diikuti yang lain. Mereka berjalan menyusuri lubang hitam yang memiliki tekanan luar biasa. Mereka keluar di t
Naga hitam berputar di langit Kota Naga, beberapa pengawal waspada dan bersiap untuk menyerang. Tepat saat para pengintai Kota Naga sudah mulai membidik, Yuasa menghentikan mereka. “Dia bukan musuh, turunkan senjata kalian,” teriak Yuasa. Pemuda dengan rambut matahari itu melambaikan tangan dan memberi kode kepada penunggang naga untuk turun. Yuasa memberi perintah kepada Rafael untuk turun di atas taman bunga. “Paman!” Yuasa mendekati naga hitam dan juga penunggangnya yang kini telah mendarat. Melihat kedekatan mereka para pengintai pun mengingat wajah Rafael sebagai tamu kehormatan Kota Naga. “Yuasa bantu aku,” perintah Rafael. “Lancang! Beraninya memanggil Yang Mulia hanya dengan nama!” Salah satu dari pasukan pengintai menarik pedangnya menghunus ke arah Rafael. Rafael hanya melirik ke arah prial itu, dia menghela napas panjang. “Aku benar-benar lupa kau sudah jadi raja, Yuasa. Ah, salah Yang Mulia.” Yuasa terkekeh, “Panggil saja seperti biasa, Paman, tidak perlu terlalu for
“Yuan!” Yui berlari ke arah Yuan. Mereka berempat telah sampai di hutan kecil dalam Kota Naga. Lixue, Eirlys dan Fiona hanya bisa diam mengamati hutan yang tidak wajar. Mereka berdua tercengang saat melihat Rafael sedang berada di dalam kepompong jalinan tanaman rambat di atas teratai es. “Yuan, apa yang terjadi dengan Paman!” Yui yang tidak tahu mengapa Rafael berada di sana berusaha mengeluarkan Rafael. Namun, Yuan segera mencegahnya. “Yui, Paman baik-baik saja, Ayahanda sedang mengeluarkan racun dalam tubuh Paman Rafael.”“Yuan, bagaimana dengan Rainsword?” Fiona langsung mendekati Rainsword yang terbaring di tanah. “Rumput itu juga sedang menyembuhkan Kak Rainsword,” balas Yuan. Fiona yang awalnya marah karena perlakuan mereka terhadap Rainsword mereda. Dia tidak tahu jika rumput itu merupakan cara mereka mengobati pemuda itu. Dia mengira Rainsword ditelantarkan. “Kenapa Rains belum siuman?” tanya Fiona. Tangannya membelai lembut wajah Rainsword yang tertidur. “Itu juga yan
Ular berkepala sembilan menatap musuh-musuhnya. Makhluk itu begitu garang dan menyeramkan. Sementara Rainsword masih belum siuman. Tubuhnya melayang di udara dengan sendirinya. “Pangeran Lixue serang makhluk itu!” perintah Yuichi. Yuan mulai mengaktifkan kekuatan pemurniannya, dia juga memanggil Krisan, sang Slyph. Lingkaran sihir berwarna perak berputar di bawah tubuh Rainsword yang melayang. Dia harus mengambil sisa-sisa kontaminasi yang menempel pada makhluk itu, ular berkepala sembilan. “Lixue, tahan dia!” teriak Yuan. Pangeran dengan rambut dan mata perak ini fokus mengeluarkan semua kontaminasi yang tersisa. “Ternyata kontaminasi masuk ke tubuh ular itu, karena dia dan Kak Rainsword menjadi satu Kakak belum siuman.” Yuan memperhatikan bercak di sisik sang ular yang terdapat beberapa sisik dengan warna ungu kusam tidak mengkilap seperti warna sisik lainnya. Ular berkepala sembilan tidak mudah dibekukan. Ular itu menggeliat dan menyerang ke arah Yui dan yang lain. “E
Kristal hitam semakin pekat mengeluarkan aura. Semua orang mengira kontaminasi berasal dari pengaruh negatif perasaan manusia. Tidak ada satupun dari mereka yang tahu jika semua kontaminasi itu berasal dari besarnya dendam mendalam dari Raja Kegelapan terdahulu, Nacht Fansford. “Yang Mulia?” Leiz memasuki aula kerajaan dan berputar ke segala penjuru mencari sosok Nacht. Raja itu seharusnya duduk di singgasana. Namun, sosok yang ia cari tidak berada di sana. “Yang Mulia!” Leiz kembali memanggil. Sosok itu tidak ada di seluruh penjuru aula kerajaan. Dia ingin melaporkan kegagalan penyerangan Kediaman Blackdragon. Dalam hatinya, Leiz merasa senang penyerangan itu gagal. Dia tidak suka melihat Nacht mendapatkan apa yang paling diinginkannya, Yui. “Leiz, kemari!” Nacht memanggil Leiz, sayangnya pria yang sudah beruban itu tidak merespon. “Sial, dia tidak bisa mendengar suaraku dari dalam kristal.”Nacht mencari cara untuk bisa berkomunikasi dengan pria tersebut. Beberapa kali matanya b
Rainsword menatap Fiona yang sedang berjalan sendiri di bawah. Dia berada di balkon lantai tiga bersama dengan Yuasa. “Ternyata ada juga gadis secantik itu, lebih cantik dari Yuan.” Rainsword melirik Yuasa yang masih meneguk secangkir teh dengan santai. “Sungguh menyebalkan, Fiona bahkan kalah cantik dari raja yang sedang duduk ini,” pikir Rainsword. “Apa kau sudah mantap dengan keputusanmu? Fiona, putri peri dari Avari.” Yuasa selesai menikmati tehnya dan bergabung dengan Rainsword memandang Fiona. “Tentu saja, kau tahu, saat pertama bertemu hatiku sudah memberikan sinyal. Rasanya lonceng berbunyi saat melihatnya.” Rainsword terlihat begitu senang dengan perasaan asing yang dia rasakan saat ini. Yuasa menghela napas panjang, “Kau masih belum paham? Rains, kau dan Fiona tidak bisa bersama, kalian memiliki masa depan yang berbeda.” Yuasa mengingatkan siapa Fiona dan juga temannya Rainsword. “Karena aku manusia? Yuasa, oh aku lupa, Yang Mulia, kau sendiri melawan aturan demi Rosali
“Ayahanda, kami akan berangkat.” Yuasa berpamitan sebelum pergi ke Avari. “Kak, apa tidak bisa menunggu sampai paman siuman?” Yuan menarik ujung lengan baju Yuasa. Seakan tidak ingin kakaknya pergi hari ini. Yuasa berputar dan menarik napas sebelum menjawab Yuan. Namun, disela langsung oleh Yuichi. “Yuan, Fiona harus segera kembali, perayaan panen raya sinar rembulan tidak bisa ditunda, dia harus kembali.” Yuichi menarik Yuan dari Yuasa. “Tapi ….” Yuan menatap ayahnya penuh makna, Yuasa melihat ada sesuatu yang ingin disampaikan Yuan, tetapi dihalangi oleh ayahnya. “Kalau begitu, saya segera mengantarkan Putri Fiona,” lanjut Yuasa. “Yuasa, bawa Rosaline bersamamu.” Yuichi mendekati Yuasa dan memeluknya. “Rosaline bisa menjagamu, Yuasa.”“Baik, Ayahanda.” Yuasa pun pergi meninggalkan ayahnya bersama Rafael dan juga Yuan. “Ayahanda, di Avari ada celah dimensi yang belum tertutup. Saat ini tanpa kristal hitam tidak mungkin bisa ditutup, tapi Paman Rafael bisa, kenapa tidak menungg
Yui dan Yuan berdiri di luar dinding istana, hembusan angin lembut membelai rambut mereka. Jemari mereka dengan hati-hati menaburkan benih-benih ajaib dari dunia atas ke tanah yang dahulu gersang. Di bawah sentuhan mereka, dunia bawah yang dulunya kelam kini dipenuhi berbagai warna—hijau rumput yang merayap, kuning keemasan bunga-bunga liar, segala macam tanaman mulai mengular dari dalam tanah. Yui menoleh, alisnya berkerut melihat saudaranya. "Yuan, kau tidak apa-apa?" tanyanya, memperhatikan kembarannya yang tengah memainkan harpa keemasan—benda legendaris yang diperebutkan banyak makhluk.Yuan menggeleng pelan, jemarinya masih menari di atas senar harpa. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat, matanya tetap terfokus pada alat musik di tangannya.Kebangkitan Yuan beberapa waktu lalu sungguh menggemparkan seluruh kerajaan. Bukan hanya wujudnya yang telah berubah sempurna sebagai raja kegelapan, tetapi juga reaksi tidak biasa dari harpa ajaib tersebut. Harpa keemasan itu bersinar terang,
Cahaya keemasan menyusup di antara dedaunan saat Raja Arlen membimbing Yui menyusuri jalan setapak menuju area tidak jauh dari Pohon Kehidupan. Angin lembut menerbangkan helaian rambut Yui, sementara matanya menangkap sosok Rafael yang tengah berbincang serius dengan Moura di kejauhan, wajah keduanya tampak khidmat di bawah naungan cabang-cabang raksasa."Sebelah sini," ujar Raja Arlen sambil menunjuk dengan jemarinya yang panjang dan ramping. Jubah kerajaannya berdesir lembut menyapu rumput saat ia memimpin Yui menuju sebuah pondok mungil yang hampir tersembunyi di balik rimbunnya aneka bunga warna-warni. Aroma manis nektar merebak di udara, menggelitik indra penciuman.Pintu pondok terbuka dengan derit pelan. Seorang pria melangkah keluar, mengenakan tunik berwarna lumut khas kaum elf yang melekat sempurna di tubuhnya. Namun, tidak seperti para elf lainnya, telinga pria itu tidak meruncing dan wajahnya tidak memancarkan keanggunan abadi yang biasa dimiliki kaum elf."Yoru!" pekik Y
Yui mendarat dengan lincah setelah melompat dari punggung Fury, naga hitam milik Rafael. Rambut panjangnya melambai tertiup angin saat kakinya menyentuh tanah. Matanya berbinar melihat sosok yang telah menunggunya."Kakak!"Yui menghambur ke pelukan Yuasa, jemarinya mencengkeram erat jubah sang kakak sementara aroma khas dedaunan segar menguar dari tubuh Yuasa. Mata keduanya berkaca-kaca, pertemuan yang menggetarkan jiwa setelah sekian lama terpisah."Kau baik-baik saja, Yui? Bagaimana tubuhmu setelah bangkit kembali?" tanya Yuasa sambil meneliti setiap inci wajah adiknya. Jemarinya yang ramping menyentuh pipi Yui, memancarkan energi keemasan yang menelusuri setiap sel dalam tubuh sang adik. "Setelah semua ini selesai, biarkan kakak menyembuhkanmu."Dahi Yuasa berkerut dalam. Sensasi dingin menjalar dari tubuh Yui—sesuatu yang sangat janggal. Api Suzaku yang seharusnya berkobar hangat kini terasa beku seperti es abadi."Tentu, untuk saat ini kakak fokus saja dengan pernikahan. Urusan
Malam di Kota Naga. Bintang-bintang bertaburan seperti permata di langit malam Kota Naga. Rafael berdiri sendirian di balkon gedung tertinggi, kedua tangannya mencengkeram pagar besi yang dingin sementara matanya menelusuri konstelasi-konstelasi yang berkilauan. Hembusan angin malam meniup rambut gelapnya, mengirimkan sensasi dingin yang menusuk tulang, namun Rafael tak bergeming.Suara langkah kaki lembut terdengar di belakangnya. Rafael menoleh, alisnya terangkat saat mengenali sosok yang mendekat."Yuichi?"Sosok itu tersenyum. Wajahnya merupakan versi maskulin dari Yui, garis rahang yang sama, mata yang sama, tetapi dengan ketegasan yang hanya dimiliki seorang ayah."Sendirian?" tanya Yuichi, suaranya merdu membelah keheningan malam.Rafael mengangguk pelan, lalu menggerakkan tangannya ke arah kursi kosong di sampingnya. Yuichi melangkah maju dan duduk, jubah hitamnya melambai pelan tertiup angin."Malam ini indah meskipun tanpa bulan," ucap Rafael, matanya kembali menatap cakraw
Bunga putih mungil bertebaran di aula, mirip kepingan dandelion yang rapuh. Setiap tamu berjalan perlahan, meletakkan bunga kecil tanda penghormatan terakhir. Bunga-bunga itu mencerminkan ketangguhan luar biasa, seperti kehidupan yang bertahan di balik kerasnya dunia bawah, membisu namun tak terkalahkan. Mereka menyebutnya bunga bintang roh. Eirlys menatap Yuan yang terpejam, sosoknya tenang seakan tertidur lelap. Alunan harpa mengalir lembut memenuhi aula, melukiskan kesedihan yang mencekam setiap sudut ruang. Matanya menyipit saat menyadari bunga putih di dekat Yuan mulai membeku, embun es merangkak perlahan mengubah kelopak menjadi kristal dingin. Hawa sejuk mulai merambat, menusuk tulang."Mungkinkah?!"Dalam sekejap, Eirlys bangkit dari tempatnya. Langkahnya cepat mendekati peti kaca tempat Yuan dibaringkan. Jemarinya mendorong penutup tebal dengan tekad membara. Jantungnya berdebar dengan kencang, sebuah api harapan muncul. "Putri Eirlys, relakan Yang Mulia!" Xavier bergerak c
Senar harpa emas kaum elf bergetar lembut, berbeda dari instrumen biasa. Energi yang digunakan untuk menggerakkan senar ini sangat banyak. Eirlys membiarkan jemarinya terkulai di atas senar, tenaga terampas habis. Napasnya terengah-engah, seakan udara di sekitarnya menghisap oksigen dari paru-parunya."Eirlys!" Lixue melompat mendekati, gemetar mengambil harpa keemasan dari tangan sang adik. Dengan lembut, dia meletakkan instrumen berkilau itu di meja terdekat. "Istirahatlah sekarang." Lengannya melingkari pinggang Eirlys, memapah tubuh lemah itu menuju kursi panjang. Dengan hati-hati, dia mengangkat kaki adiknya dan membiarkan Eirlys setengah berbaring."Kak, bagaimana Yuan?" bisik Eirlys, kekhawatiran menembus kelelahan yang menyelimutinya.Lixue menggenggam tangan adiknya, mencoba menenangkan. "Dia akan baik-baik saja. Ingat, Tuan Xavier dan Tuan Ernest sedang menyiapkan ramuan untuknya." Dalam hati, dia berdoa agar takdir berkata lain. “Semoga Yuan bertahan, setidaknya biarkan Eir
Jalanan di depan Yuan terlihat asing. Jalan dengan bebatuan hitam, meskipun itu batu, tetapi tidak terasa seperti batu biasa. Dia mengamati orang-orang yang berjalan menuju ke satu arah yang sama, sebuah gerbang besar di ujung jalan, gerbang yang tidak terlihat jelas tulisan namanya. Yuan masih sangat jauh dari gerbang itu. “Akhirnya perjalanan terakhir,” gumam Yuan yang tahu di mana dia sekarang. Dunia orang mati. Kaki Yuan berhenti melangkah saat seorang wanita dengan jubah putih berdiri di hadapannya, muncul begitu saja hingga dia hampir jatuh tersungkur karena kaget. “Lenora!”“Pangeran Yuan, apa yang Anda lakukan di sini!” Suara Lenora terdengar penuh kekesalan dan amarah seakan dia sedang memarahi seorang anak nakal. “Hah?” Reaksi Yuan mendengar ucapan Lenora. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tentu saja dia di sini karena nyawanya sudah terpisah dari tubuhnya. “Kuulangi, Pangeran, ah tidak, Yang Mulia Raja Yuan, kembalilah sekarang juga!” Lenora berkata dengan nada lebih
“Apa aliran air ini sudah dimantrai?” tanya pria yang menampilkan lengan hitamnya. Dia mengambil air dan menyiramkannya ke tangan hitamnya. “Mantra Genbu dari Putri Yui. Dengan adanya mantra ini tidak akan ada pencurian air untuk kepentingan pribadi yang ingin menjual air ini.” Penjaga itu kemudian terlihat menghela napas panjang sebelum kembali berbicara. “Sayangnya, kabar buruk terdengar di istana. Kabarnya Yang mulia saat ini dalam kondisi kritis.” Mendengar penuturan penjaga tersebut, pria yang sepanjang jalan selalu memberikan argumen tidak menyukai raja yang sekarang terlihat marah. “Apa katamu! Lalu kenapa mengundang kami jika dia sendiri dalam keadaan kritis, bukankah dia tidak akan bisa menyembuhkan kami!” suara pria itu terdengar begitu keras hingga mengundang perhatian orang-orang di sekitar. “Tuan tenang saja, di istana semua sudah dipersiapkan.” Penjaga gerbang berusaha menekan amarah pria itu, tetapi tidak berhasil. “Lebih baik kita pulang saja!” Pria dengan lengan
Dunia bawah lebih berwarna. Langit yang biru membawa semangat baru. Kepala desa dan para pemimpin wilayah lainnya menjalankan perintah yang diberikan Yuan, raja mereka untuk mendata dan membawa penduduk dengan tingkat kontaminasi 80 %. Mereka yang telah mengalami kontaminasi bertahun-tahun dipilah dan dibawa ke ibukota untuk bertemu langsung dengan sang raja. “Apa benar kontaminasi ini bisa hilang? Rasanya aku sudah pasrah dengan kondisi ini seumur hidupku.” Pria dengan tangan dan kaki yang sudah menghitam karena kontaminasi terlihat pesimis. Meskipun begitu, setelah menatap langit biru ada secercah harapan di hatinya. “Kalau sang raja bisa menghilangkan kontaminasi di dunia bawah, kurasa bisa juga menghilangkan kontaminasi di tubuhku.” Semua penduduk dengan tingkat kontaminasi parah sudah mulai berangkat menuju ibukota. Mereka menaruh harapan yang sangat besar kepada sang raja, harapan kesembuhan dari kontaminasi yang selama ini menyiksa diri mereka.“Kudengar sang raja masih belia