Happy ReadingNara menatap Rehan dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia ingin percaya, ingin meyakinkan dirinya bahwa kali ini berbeda. Namun, setiap kata yang keluar dari mulut Rehan terasa seperti gema dari masa lalu yang terus menghantuinya."Tidak lama, hanya beberapa minggu," kata Rehan, seolah ingin meyakinkannya.Tapi Nara sudah sering mendengar janji-janji itu.Malam itu, mereka tetap tinggal di villa. Namun, tidak ada lagi tawa riang seperti sebelumnya. Nara mencoba menahan emosinya, tapi ia tidak bisa mengusir bayangan bahwa mungkin kali ini Rehan tidak akan kembali.Keesokan harinya, Rehan berangkat ke London. Nara tidak mengantarnya ke bandara, memilih untuk tetap tinggal di villa sendirian. Ia ingin menikmati sisa waktu di tempat yang seharusnya menjadi kenangan indah bagi mereka berdua.Namun, hanya beberapa hari setelah kepergian Rehan, sebuah kejadian aneh terjadi.Malam itu, Nara terbangun oleh suara ketukan di pintu villa. Ia melirik jam dinding—pukul dua dini hari.
Happy ReadingMalam itu, Nara duduk di ruang tamu dengan cahaya lampu yang temaram. Surat misterius itu masih tergenggam di tangannya. Pikirannya kalut, dadanya sesak oleh berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Siapa yang mengirimkan surat itu? Mengapa Rehan tidak menjawab teleponnya? Dan yang paling menakutkan—apakah Rehan benar-benar akan pergi dan tak kembali?Ponselnya bergetar di atas meja. Dengan cepat, Nara meraihnya dan melihat nama Rehan di layar. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab.“Rehan, di mana saja kau? Aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali!” suara Nara terdengar putus asa.Rehan menghela napas dari seberang telepon. “Aku sibuk, Nara. Banyak urusan yang harus kuselesaikan.”“Kau bilang hanya pergi beberapa minggu, tapi sejak kepergianmu, aku merasa ada yang tidak beres. Dan sekarang—” Nara menggenggam surat hitam itu erat-erat, “—aku menerima surat ini.”Rehan terdiam sesaat. “Surat? Surat apa?”Nara membaca isi surat itu dengan suara gemetar. “Kau sehar
Happy ReadingNara menggenggam surat itu erat-erat, matanya terpaku pada kalimat yang tertulis dengan tinta hitam tebal. "Jangan menyesal ketika semuanya terungkap. Kau tidak akan bisa kembali." Jantungnya berdebar kencang, sementara pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan buruk. Siapa pria tadi? Mengapa ia terus menerima surat misterius ini? Dan yang paling penting, apa yang sebenarnya terjadi dengan Rehan?Dengan tangan gemetar, Nara meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Rehan lagi, tetapi panggilannya langsung dialihkan ke pesan suara. Ia merutuk pelan, merasa frustrasi dengan semua yang terjadi. Ia tidak bisa hanya duduk diam dan membiarkan rasa takut menguasainya. Ia harus melakukan sesuatu.Nara kembali menatap surat di tangannya, lalu membandingkannya dengan surat pertama yang diterimanya. Ada sesuatu yang aneh—gaya tulisan pada kedua surat itu berbeda. Yang pertama lebih rapi, sedangkan yang baru ia terima terlihat tergesa-gesa, seolah-olah penulisnya tidak ingin ke
"Jika cinta hanya melibatkan obsesi maka hubungan akan berakhir dengan luka." Happy Reading "Gue mau nikah sama Lo." seorang laki-laki mencengkram tangan perempuannya seraya menekankan kalimat yang baru saja terlintas di otak. Kalimat yang seharusnya paling ampuh untuk tidak mengakhiri hubungan ini. "Lo pikir Gue apa Rehan? barang? Aset? Properti? atau pajangan?" "Ingat ya Gue nggak mau nikah sama Lo! Gue mau putus." tekan gadis itu tanpa ada pengulangan, tanpa ada negosiasi dan tanpa ada kesempatan. Gadis itu berusaha melepaskan tangannya dari laki-laki ini, Ia sudah sangat membencinya. Melihatnya saja muak apalagi jika harus menikah dengan orang ini. "Lo lupa sama janji Kita Ra." "Gue nggak pernah lupa, Lo yang lupa Lo yang mengkhianati hubungan ini, Lo yang salah di sini Rehan!" "Gue udah muak sama Lo, tiga tahun kita jalanin ini tapi hampir setiap hari isinya toxic doang. Sekarang izinkan Gue untuk bertindak Gue harap Lo setuju dengan keputusan ini." Nara lantas lang
Happy Reading "Kasus pelecehan terhadap perempuan kerap kali terjadi dari berbagai belahan dunia, satu hal yang menjadi fokus kita adalah traumatis yang dialami korban, diagnosis yang cepat dan tepat serta pengobatan yang paling efektif yang harus kita lakukan." seorang wanita cantik bertubuh proporsional dengan gigi yang rapi itu berdiri di depan layar yang menampilkan gambar ilustrasi dalam bentuk slide power point seraya memegang sebuah spidol. Tentu pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa kalangan para dokter jiwa melainkan pertemuan yang sangat penting dan harus dilakukan secepat mungkin. Mengingat jumlah korban kian bertambah psikiater harus bergerak semakin cepat. Terutama di negara Inggris. "Bersujud!" perintah Rehan meminta Clara bersujud di depannya seraya menampilkan bokongnya. Rehan langsung membuka celananya dengan cepat Ia menarik bokong gadis itu untuk dimasuki. Clara merintih dengan keras Ia merasa kesakitan juga perih bukan hanya bagian bawahnya melainkan perasa
Happy ReadingNara baru saja landing dan tiba di London Heathrow Airport bersama dengan dua rekan lainnya dari kota yang berbeda. Mengingat London Heathrow Airport tidak terlepas dari sejarahnya Airport ini merupakan Bandara terbesar dan tertua di London. Berdiri sejak tahun 1930-an, bandara ini awalnya dikenal sebagai Great Western Aerodrome. Pada tahun 1946, bandara ini resmi dibuka untuk penerbangan sipil. Saat ini, London Heathrow menjadi bandara tersibuk di Inggris dan peringkat kelima di dunia dalam hal lalu lintas penumpang. Bandara ini juga memiliki lima terminal penumpang dan melayani berbagai rute penerbangan domestik dan internasional. Nara tidak melupakan untuk lunch di Lounge VIP sebelum ke hotel yang sudah mereka booking. Tanpa sengaja manik matanya melihat seseorang yang Ia kenal berjalan menaiki lift diikuti dengan beberapa orang. "Kamu tidak lupa 'kan Nara jika Dia berada di London." kalimat itu terlintas kembali di pikirannya tapi sedetik kemudian Ia abaikan tidak
Happy ReadingClara melipat kedua kakinya di dada seraya menangkupkan tangan, tubuhnya bergetar hebat Ia sekarang sudah di rumah sakit setelah sebelumnya Clara menghubungi psikiater yang biasa menangani dirinya. Rehan melepaskan Clara setelah lima jam menyiksa wanita ini. Jika bukan Alex yang melepaskan kesetanan yang ada di Rehan mungkin laki-laki itu sudah membunuh Clara. "Argh...Argh...Argh." pekik Clara berteriak padahal baru satu jam wanita ini diberi obat penenang tapi seperti Ia mengalami kecemasan yang terlalu berlebihan. Sampai seorang dokter pun tidak sanggup lagi menanganinya Ia pun segera menghubungi dokter jiwa yang sedang melakukan penelitian di sini. "Hallo Dok, I'm so sorry tapi ini sangat urgent." Suara dokter ini sangat bergetar membuat Nara pun langsung panik. "Ada apa Dok?""Pasien Kami mengalami anxiety, Saya harap anda bisa menanganinya." "Baik Saya akan ke sana." Nara langsung mengganti baju dan juga mengambil jas putihnya kemudian turun diikuti dengan seo
Happy ReadingRehan sedari tadi mengecek ponselnya menunggu notif dari seseorang yang sedang Ia tunggu. Tapi setelah mengirimkan pesan satu jam yang lalu Ia tidak kunjung mendapatkan balasan. "Apakah Ia mempermainkanku?" pertanyaan itu membuat Rehan mengepalkan tangannya. "Siapkan mobil kita akan ke rumah sakit." sesaat setelah Rehan memerintahkan pada Alex pesannya pun dibalas oleh Nara. "Maaf, Jam 20.00 di Circolo Popolare kita bertemu. Aku masih ada pekerjaan" Rehan tidak sadar jika bibirnya membentuk bulan sabit. Ia pun segera kembali dengan pekerjaannya, menyelesaikan beberapa berkas yang perlu ditandatangani juga memeriksa laporan keuangan. Rehan tidak bisa melepaskan begitu saja pekerjaan kepada staffnya jangan sampai kejadian tahun lalu kembali terulang. Jika Ia bisa mendekati Nara kembali Rehan rela melepaskan para wanita-wanitanya. Bahkan saat malam tadi Ia yang sudah ada janji dengan mucikari yang biasa memberikan wanita polos itu pun tidak jadi ditemuinya. Rehan hany
Happy ReadingNara menggenggam surat itu erat-erat, matanya terpaku pada kalimat yang tertulis dengan tinta hitam tebal. "Jangan menyesal ketika semuanya terungkap. Kau tidak akan bisa kembali." Jantungnya berdebar kencang, sementara pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan buruk. Siapa pria tadi? Mengapa ia terus menerima surat misterius ini? Dan yang paling penting, apa yang sebenarnya terjadi dengan Rehan?Dengan tangan gemetar, Nara meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Rehan lagi, tetapi panggilannya langsung dialihkan ke pesan suara. Ia merutuk pelan, merasa frustrasi dengan semua yang terjadi. Ia tidak bisa hanya duduk diam dan membiarkan rasa takut menguasainya. Ia harus melakukan sesuatu.Nara kembali menatap surat di tangannya, lalu membandingkannya dengan surat pertama yang diterimanya. Ada sesuatu yang aneh—gaya tulisan pada kedua surat itu berbeda. Yang pertama lebih rapi, sedangkan yang baru ia terima terlihat tergesa-gesa, seolah-olah penulisnya tidak ingin ke
Happy ReadingMalam itu, Nara duduk di ruang tamu dengan cahaya lampu yang temaram. Surat misterius itu masih tergenggam di tangannya. Pikirannya kalut, dadanya sesak oleh berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Siapa yang mengirimkan surat itu? Mengapa Rehan tidak menjawab teleponnya? Dan yang paling menakutkan—apakah Rehan benar-benar akan pergi dan tak kembali?Ponselnya bergetar di atas meja. Dengan cepat, Nara meraihnya dan melihat nama Rehan di layar. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab.“Rehan, di mana saja kau? Aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali!” suara Nara terdengar putus asa.Rehan menghela napas dari seberang telepon. “Aku sibuk, Nara. Banyak urusan yang harus kuselesaikan.”“Kau bilang hanya pergi beberapa minggu, tapi sejak kepergianmu, aku merasa ada yang tidak beres. Dan sekarang—” Nara menggenggam surat hitam itu erat-erat, “—aku menerima surat ini.”Rehan terdiam sesaat. “Surat? Surat apa?”Nara membaca isi surat itu dengan suara gemetar. “Kau sehar
Happy ReadingNara menatap Rehan dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia ingin percaya, ingin meyakinkan dirinya bahwa kali ini berbeda. Namun, setiap kata yang keluar dari mulut Rehan terasa seperti gema dari masa lalu yang terus menghantuinya."Tidak lama, hanya beberapa minggu," kata Rehan, seolah ingin meyakinkannya.Tapi Nara sudah sering mendengar janji-janji itu.Malam itu, mereka tetap tinggal di villa. Namun, tidak ada lagi tawa riang seperti sebelumnya. Nara mencoba menahan emosinya, tapi ia tidak bisa mengusir bayangan bahwa mungkin kali ini Rehan tidak akan kembali.Keesokan harinya, Rehan berangkat ke London. Nara tidak mengantarnya ke bandara, memilih untuk tetap tinggal di villa sendirian. Ia ingin menikmati sisa waktu di tempat yang seharusnya menjadi kenangan indah bagi mereka berdua.Namun, hanya beberapa hari setelah kepergian Rehan, sebuah kejadian aneh terjadi.Malam itu, Nara terbangun oleh suara ketukan di pintu villa. Ia melirik jam dinding—pukul dua dini hari.
Happy ReadingNara berjalan melewati koridor kantornya dengan langkah cepat. Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap detik terasa lambat, dan pikirannya terus menerawang ke sosok yang sudah berminggu-minggu tidak ia lihat.Ia melirik ponselnya. Tidak ada pesan dari Rehan. Tidak ada panggilan tak terjawab. Sama seperti beberapa hari terakhir.Sesampainya di apartemen, ia melempar tasnya ke sofa dan berjalan ke balkon. Angin malam menyentuh wajahnya, membawa aroma hujan yang baru saja reda. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan perasaan yang tak menentu.Tiba-tiba, suara ketukan di pintu menginterupsi pikirannya. Dengan sedikit enggan, Nara berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ia membeku di tempat.Di hadapannya, berdiri Rehan dengan senyum khasnya. Namun bukan hanya kehadirannya yang membuat Nara terdiam. Di belakang Rehan, seorang pria membawa sebuah bucket mawar raksasa—seribu tangkai, mungkin lebih. Warna merahnya begitu mencolok, hampir seperti lautan kel
Happy ReadingSetelah beberapa minggu penuh ketegangan, akhirnya situasi mulai mereda. Rehan berhasil melacak dalang di balik ancaman tersebut, dan dengan caranya sendiri, ia memastikan bahwa orang-orang itu tidak akan mengganggu Nara lagi. Rasa aman mulai kembali ke dalam hidupnya, meski bayangan masa lalu masih sesekali muncul di benaknya.Nara kembali ke rutinitasnya, melanjutkan pekerjaan dan kehidupannya yang sempat terhenti. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Setelah semua yang terjadi, ia menyadari bahwa keberadaan Rehan dalam hidupnya lebih berarti dari yang ia kira.Namun, seperti biasa, kebahagiaan itu tidak bertahan lama."Aku harus pergi ke London," ujar Rehan suatu malam saat mereka sedang duduk di balkon apartemen Nara. Angin malam berembus lembut, membawa serta perasaan yang sulit dijelaskan.Nara menoleh, menatapnya dengan ekspresi datar. "Untuk berapa lama?"Rehan menghela napas. "Beberapa minggu. Mungkin lebih. Ada event bisnis yang harus kuhadiri, dan beberap
Happy ReadingNara mengatur napasnya yang tidak beraturan. Ancaman yang baru saja didengarnya masih terngiang di telinganya. Ia menoleh ke arah Rehan yang berdiri tegap, matanya penuh amarah yang tertahan."Apa yang akan kita lakukan sekarang?" suara Nara bergetar sedikit, tapi ia berusaha untuk tetap tegar.Rehan mengangkat dagunya sedikit, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa pria itu ke tempat yang lebih aman untuk diinterogasi. "Aku akan memastikan kita mendapat jawaban. Sementara itu, kau tetap di sini. Jangan keluar tanpa izin dariku.""Jangan bersikap seperti aku ini tahanan, Rehan," protes Nara.Rehan menatapnya tajam. "Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu."Nara menggigit bibirnya. Ia ingin membantah, tetapi bagian dalam hatinya tahu bahwa Rehan benar. Bahayanya nyata, dan kali ini, ia tidak bisa menghadapinya sendirian.Beberapa jam kemudian, Rehan kembali ke apartemen dengan ekspresi serius. "Orang itu akhirnya bicara,"
Happy ReadingDua hari setelah kejadian itu, kondisi Nara semakin memburuk. Tubuhnya terasa lemas, demam tinggi membuatnya sulit bergerak, dan kepalanya terasa berputar setiap kali ia mencoba bangkit. Awalnya, Nara berpikir ini hanya kelelahan biasa, namun setelah muntah beberapa kali dan tubuhnya menggigil hebat, ia tahu bahwa ini bukan sekadar kelelahan.Rehan, yang diam-diam masih memperhatikannya dari jauh, segera bertindak begitu mendapat kabar dari asisten Nara bahwa wanita itu jatuh sakit. Tanpa ragu, ia menghubungi dokter pribadinya dan memastikan bahwa Nara mendapat perawatan terbaik. Karena Nara bersikeras tidak ingin kembali ke rumah sakit, Rehan mengambil keputusan cepat: membawanya ke apartemen pribadinya dan merawatnya di sana.Saat Nara membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah kamar luas dengan nuansa hangat dan nyaman. Selimut tebal menyelimuti tubuhnya, sementara suara samar dentingan piring terdengar dari luar kamar. Kepalanya masih terasa berat, tapi ia c
Happy ReadingRehan merasakan tubuh Nara yang gemetar dalam pelukannya. Ia mengeratkan dekapannya, membiarkan gadis itu merasakan kehangatan dan perlindungan yang ia tawarkan. Hujan gerimis yang mulai turun menambah nuansa dramatis malam itu."Aku di sini, Nara. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi," bisiknya sekali lagi.Nara masih terisak, tapi perlahan ia mencoba mengendalikan dirinya. Ia mendorong dada Rehan pelan, melepaskan diri dari pelukannya. Tatapannya masih dipenuhi luka dan kebingungan."Kenapa kau selalu muncul di saat-saat seperti ini?" suaranya serak, nyaris tak terdengar.Rehan menatapnya dalam-dalam. "Karena aku peduli padamu. Karena aku tidak akan membiarkanmu sendirian, apalagi dalam bahaya."Nara menunduk, pikirannya berantakan. "Aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Aku... Aku terlalu takut, Rehan."Rehan mengusap lembut lengan Nara. "Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku akan membuktikan bahwa aku selalu ada untukmu."Malam itu, Reha
Happy ReadingHampir satu minggu Nara mendiamkan Rehan. Bahkan ketika laki-laki itu menemuinya di rumah sakit, Nara menghindar, tak ingin menemui Rehan.Rehan tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Ia sudah kehilangan seorang sahabat, dan sekarang, Nara juga menjauh darinya. Tapi ia tidak akan menyerah. Jika pengkhianatan Arman telah menghancurkan segalanya, maka ia akan memperbaiki semuanya, meskipun itu berarti melewati neraka.Malam itu, Rehan berdiri di luar rumah sakit, menatap ke arah jendela kamar Nara yang terletak di lantai dua. Hujan turun, membasahi tubuhnya, tapi ia tidak peduli. Yang ada di pikirannya hanya satu: bagaimana ia bisa mendapatkan kembali kepercayaan Nara.****Pagi harinya, Nara keluar dari kamar rumah sakit dengan langkah tergesa-gesa. Sudah cukup, pikirnya. Ia tidak bisa terus berada di tempat yang sama dengan seseorang yang telah menghancurkan hidupnya. Namun, begitu ia mencapai pintu keluar, seseorang berdiri menghadangnya.Rehan.Nara langsung berba