"Aduhh. Ini mentok banget. Akh. Ini betul-betul enak. Ohh. Eunyakkk. Shittt." Kata-kata Tineke semakin tidak karuan. Dia terus memuji-muji batang kebanggaan milik Rangga.
"Iya, sayang. Sekarang ini, punyaku untukmu, sayang," desis Rangga sambil terus menikmati goyangan yang dilakukan Tina ini. "Aku ingin terus merasakan ini, sayang. Ini betul-betul enak, sayang. Owhhhh." Tineke terus bergoyang menikmati gesekan-gesekan yang terjadi di antara bagian kewanitaannya dengan rudal milik Rangga. "Aku hampir dapat, sayang. Ohhh. Aku hampir dapatttt. Shittt!" Tineke mulai menurunkan tubuhnya. "Iya, sayang. Kamu enak, sayang." Karena tubuh Tineke turun ke arah bawah maka saat ini Rangga bisa menjangkau butir kecoklatan milik Tineke sehingga dia mulai menjilati butir kecoklatan itu dengan penuh hasrat. Karena itu, beberapa saat kemudian Tineke berteriak kencang. "aku dapatttt. Ahhh." Ternyata Tineke sudah mendapatkan puncak pertamanya. Setelah itu, tubuh Tineke terkulai lemas di atas tubuh Rangga. Rangga menunggu beberapa saat hingga kemudian dia membalikkan tubuh Tineke sehingga tubuh Tineke saat ini sudah terlentang di atas kasur. Kini gantian Rangga yang naik di atas tubuh Tineke. Dia ingin melakukan gaya Man of Top. Rangga menyatukan lagi tubuhnya dengan tubuh Tineke yang sudah lemas itu. Walaupun sudah lemas karena baru saja mendaki puncak kenikmatan pertamanya, tapi tetap saja Tineke merasakan sakit saat area kewanitaannya diterobos oleh benda besar milik Rangga ini. Setelah itu, Rangga mulai memasuk-keluarkan miliknya dan mulai berkreasi seperti yang biasa dia lakukan kepada Jojo, istrinya. Beberapa bulan yang lalu, Rangga tidak pernah membayangkan kalau dia akan berada di atas tubuh wanita lain selain Jojo seperti saat ini. Karena selama bertahun-tahun, bahkan selama mengenal Jojo, tidak sekalipun Rangga memiliki keinginan untuk selingkuh dari Jojo. Selama bertahun-tahun, tidak sekalipun Rangga akan membayangkan kalau dirinya akan bisa berada di atas tubuh wanita lain seperti saat ini. Karena selama bertahun-tahun Rangga selalu setia kepada Jojo, sehingga tidak sekali pun terpikirkan di benaknya untuk selingkuh dari Jojo. Hanya saja, setelah perselingkuhan yang dilakukan Jojo diketahui Rangga, maka Rangga ingin membalasnya dengan lebih kejam daripada itu. Namun dia tidak melakukannya kepada sembarang wanita tapi dia hanya ingin melakukannya kepada wanita-wanita di sekeliling dari Rahul, pria yang mengajak Jojo untuk selingkuh. Karena itu, sekarang ini Rangga mendapatkan dirinya berada di atas tubuh Tineke, istri muda dari Rahul. Rangga mulai melakukan gerakan-gerakannya yang selalu membuat Jojo ketagihan. Gerakan-gerakannya ditambah dengan modal besar yang dia miliki yaitu rudal besarnya, maka membuat hanya dalam waktu singkat saja, maka Tineke sudah mulai naik lagi, hingga Tineke mulai goyang untuk menandingi pergerakan Rangga. Tineke merasakan ada suatu benda yang menyodok-menyodok area kewanitaannya hingga membuat gairah Tineke kembali naik, hingga dia mulai bergoyang. "Ohhhh, kamu sangat hebat, Rangga. Kamu sangat hebat. Kamu sangat dahsyat, sangat besar, aku ingin selalu menikmati ini. Ohhhh." "Saat ini rudal ini milikmu, sayang. Aku akan memanjakanmu dengan rudal ini, sayang." "Iya, sayang. Terus sodok aku, sayang. Kamu sangat hebat. Ugh, benar-benar kerasa. Ini udah mentok banget. Bener-bener luar biasa, bener-bener hebat." Tineke terus memuji-muji pusaka milik Rangga. Sementara Rangga masih terus menggiatkan gebrakannya. Dia terus melakukan tusukan-tusukan mautnya yang membuat gesekan-gesekan terasa sangat nikmat bagi Tineke. Belakangan kata-kata Tineke mulai ngawur dan tidak karuan, tidak membentuk kalimat yang bagus dan itu semua karena Tineke mulai terbawa ke awang-awang karena area kewanitaannya terus menerus disodok oleh barang pusaka yang berkinerja hebat milik Rangga. Tineke bergoyang semakin hebat untuk menandingi kehebatan rudalnya Rangga hingga akhirnya Tineke menancapkan jari-jarinya di punggung Rangga tanda dia sudah berhasil mencapai puncak yang ketiga. Saat Tineke terdiam, Rangga putuskan untuk merubah posisi Saat ini Rangga mengambil posisi di belakang Tineke, setelah itu dia memasukkan miliknya ke dalam area kewanitaan Tineke dari arah belakang. Tineke kembali merasakan sebuah benda besar masuk menerobos ke dalam milik kepunyaannya yang sebenarnya tidak sempit namun jadi terasa sempit karena dimasuki oleh benda sebesar ini. Untuk sementara Tineke tidak melakukan sesuatu. Dia biarkan Rangga mengeksploitasi miliknya dari belakang. Tineke cuma berdiam diri membiarkan Rangga terus bergerak menusukkan rudal milik Rangga dari arah belakang. Hingga pada akhirnya, Tineke kembali merasakan sesuatu. Hasratnya kembali terpicu sehingga dia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya agar supaya tusukan Rangga itu semakin masuk mentok semakin ke dalam. Tineke terus menggerakkan pinggulnya, menggoyang pusaka milik Rangga sehingga pusaka itu semakin masuk-keluar dengan penuh sensasi. Rangga memainkan puting di buah dada Tineke sambil terus bergumam, "kamu sangat hebat, sayang. Kamu sangat hebat, sayang. Ohhh." "Kamu juga sangat hebat, sayang. Kamu betul-betul luar biasa aku ingin terus merasakan ini denganmu. Ohhh." Pada akhirnya setelah hampir 2 jam bermain, keduanya pun tergolek kelelahan. Hari ini Tineke sangat puas karena dia mendapatkan 4 kali kepuasan sebelum Rangga juga mendapatkan puncaknya. Rangga benar-benar memanjakan diri Tineke sehingga Tineke terkulai lemas. Rangga juga ikut terkulai lemas hingga akhirnya dia baru bangun saat waktu sudah menunjukkan jam 03.00 sore. Rangga terbangun karena mendengar suara ponselnya berbunyi yang ternyata merupakan panggilan telepon dari Rahul. Panggilan telepon itu sudah selesai namun Rangga melihat ada yang masuk ke nomor wa-nya. "Ada chat dari Pak Rahul. Bagaimana ini?" bisik Rangga di telinga Tineke. "Ya, udah. Pak Rahul bilang apa?" "Pak Rahul bilang kalau dia memerlukan aku untuk antar jemput dirinya yang akan bertemu dengan klien." "Kamu pergilah." "Baik, sayang." "Tapi ingat, nanti kalau aku perlu maka kamu harus ada. Oke?" kata Tineke sambil menatap Rangga penuh arti. "Baik, sayang." Rangga bangkit berdiri dan mulai memakai bajunya. Saat Rangga baru saja selesai memakai bajunya, tiba-tiba saja Tineke sudah memeluknya dari belakang dan memberikan sejumlah uang kepadanya. "Ini untuk kamu, sayang." "Aku tidak perlu ini, sayang. Uangku cukup kok. Aku malah senang bisa bermesraan denganmu," tolak Rangga halus. Karena sebenarnya uang sejumlah 1 juta ini sama sekali tidak dia perlukan karena dia memiliki banyak uang di bank. "Sudahlah, ambil saja, Rangga. Mumpung aku lagi banyak duit dan lagi baik. Tidak setiap kali kita melakukan ini aku akan memberikan uang kepadamu. Jadi, kamu ambil saja." Untuk tidak membuat Tineke curiga, maka Rangga terpaksa mengambil uang itu. "Terima kasih, sayang." "Oke dan ingat, kamu harus memuaskan aku lagi dan lagi nanti. Mengerti?" "Iya, sayang." Setelah itu, Rangga segera pergi dari kamar hotel ini, meninggalkan Tineke sendiri do sini. Tineke bilang kalau dia kan pulang ke rumah dengan memakai jasa taksi online, karena itu, Rangga segera membawa mobil yang dipercayakan kepadanya itu untuk menuju ke kantornya Rahul. Sesampainya di kantornya Rahul, Rahul sudah menunggu di lobby kantor sehingga Rahul langsung naik ke mobilnya yang dikemudikan Rangga ini setelah Rangga berhenti di depan pintu masuk kantor. Saat kembali melihat Rahul ini, tangan Rangga kembali terkepal. Dia kembali membayangkan akan persetubuhan yang dilakukan Rahul kepada istri tercintanya. Rasa-rasanya Rangga ingin memukuli Rahul di dalam mobil ini, memukuli tubuh tua itu sampai hancur dan meninggalkan tubuh tua itu di mobil saat Rahul hampir mati, tetapi setelah itu, Rangga mengendalikan emosinya. Bukan seperti itu yang dikehendaki Rangga Tetapi dia ingin membalas Rahul dengan caranya sendiri, cara yang sudah dia siapkan beberapa minggu terakhir ini. Setelah itu, walaupun hatinya agak kesal kepada Rahul tapi dia terpaksa mengantar Rahul untuk menemui kliennya Rahul di sebuah hotel. Rangga duduk di lobby saat Rahul bertemu dengan kliennya. Rangga membuka handphonenya untuk melakukan trading seperti pekerjaan yang dilakukannya selama 2 tahun ini, pekerjaannya yang menghasilkan uang milyaran untuknya tetapi hal itu tidak pernah diketahui oleh istrinya. Rangga memang ingin membuat kejutan kepada istrinya, ingin membuat sebuah perusahaan besar dan juga membuat apartemen mewah untuk istrinya, untuk jadi kejutan ulang tahun pernikahan bagi istrinya. Tapi kejutan itu belum juga dia katakan, karena kejutan dari istrinya sudah lebih dulu menerpa hidupnya. Ketika itu, kenyataan perselingkuhan yang dilakukan istrinya dengan Rahul berhasil dia ketahui, hingga membuat rencananya untuk membuat kejutan indah bagi istrinya, masih juga belum dia realisasikan. Sekarang ini, Rangga putuskan untuk tetap melakukan trading dan juga dia putuskan untuk tetap pada rencananya untuk membalas dendam kepada Rahul dengan caranya sendiri. Setelah Rahul selesai melakukan pertemuan dengan kliennya, maka Rangga segera mengantar Rahul pulang ke rumah. Satu jam kemudian, saat Rangga masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang makan, dia mendengar suara pertengkaran yang terjadi antara Rahul dan Ratna, istri pertama Rahul. Dengan penuh rasa ingin tahu, Rangga segera mendekat ke arah sumber suara itu. Dia berada di balik dinding untuk mendengarkan pertengkaran mereka. Ternyata ada chat dari seorang wanita untuk Rahul yang mengajak Rahul ketemuan yang berhasil dibaca oleh Ratna yang membuat Ratna ngamuk. Tapi Rahul tetap memaksa untuk keluar dari rumah, Ratna melarang bahkan mengambil kunci mobil supaya Rahul tidak bisa keluar. Tapi ternyata Rahul malah memesan taksi online dan beberapa saat kemudian sudah keluar dari rumah ini untuk bertemu dengan wanita itu. Mendengar itu, Rangga juga gak cemas. Dia takut kalau wanita yang ingin bertemu dengan Rahul itu adalah Jojo, istrinya. Karena itu, Rangga segera melakukan video call dengan Jojo. "kamu di mana?" "Aku di rumah menjaga anak-anak kita. Memang kenapa?" jawab Jojo di ujung telpon. "Kamu tidak akan keluar, kan?" "Aku tidak akan kemana-mana, Rangga. Aku kan sudah janji aku tidak akan kemana-mana sesuai dengan perjanjian kita. Aku cuma akan berada di rumah, tidak akan kerja lagi dan tidak akan bertemu dengan siapapun dan aku akan fokus menjaga kedua buah hati kita." "Bagus. Aku akan terus mengawasimu." Rangga mematikan handphone tapi dia yang memang sudah memasang sebuah aplikasi GPS di handphonenya Jojo, langsung memperhatikan titik GPS handphonenya Jojo dan dia melihat handphonenya Jojo berada di rumah mereka dan itu berarti Jojo tidak akan kemana-mana dan itu berarti Rahul akan bertemu dengan wanitanya yang lain. Saat Rangga sedang duduk di teras depan sambil memperhatikan aplikasinya untuk melihat kalau Jojo tetap berada di rumah atau tidak, tiba-tiba Ratna mendekati Rangga dan duduk di samping Rangga. Rangga langsung menyimpan handphonenya dan mengangguk hormat ke arah Ratna. "Selamat malam, nyonya." "Kelakuan suamiku semakin menjadi-jadi padahal aku sudah memberikan dia kesempatan untuk memiliki istri kedua." Ratna menunjuk ke arah rumahnya Tineke di sebelah. "Tapi dia tidak puas juga. Dia masih saja mencari wanita-wanita yang lain. Huh!" "Mungkin sifatnya bapak sudah seperti itu, Bu," tandas Rangga padahal hatinya juga panas karena salah satu wanita yang menjadi korbannya Rahul adalah istrinya sendiri. Saat ini Ratna sedang berada dalam keadaan kesal kepada Rahul. Dia juga merasa kesepian karena walaupun berada satu rumah dengan Rahul, tapi sudah berbulan-bulan Rahul tidak pernah menyentuhnya. Karena itulah dia mulai memperhatikan wajah dan tubuh Rangga yang berada di sampingnya.Ratna menelan salivanya beberapa kali. Rasanya dia ingin menyerang Rangga, tapi, status dirinya sebagai seorang wanita bersuami, membuat dia menahan diri.Ratna duduk di sisi Rangga, wajahnya mencerminkan kesedihan dan kelelahan. Dengan suara gemetar, dia mulai berbicara tentang beban yang dia tanggung selama puluhan tahun menjadi istri Rahul.Air mata tak terbendung mengalir saat dia menceritakan bagaimana hatinya sangat terluka karena sifat Rahul yang suka bermain dengan perempuan lain.Setiap kali dia mencoba melupakan dan memaafkan dan Rahul berjanji tidak akan selingkuh lagi, Rahul kembali ketahuan selingkuh.Itu membuat luka di hati Ratna itu terasa semakin dalam. Dia merasa tertekan, kesepian, dan merasa bahwa cintanya dianggap enteng oleh Rahul.Rangga mendengarkan dengan penuh pengertian. Dia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Ratna erat-erat, memberikan dukungan dan ketenangan yang sangat Ratna butuhkan.Ratna berkata sambil menahan tangis, "Rangga, aku sudah beberap
Walaupun hasrat Rangga mulai naik, tapi dia belum ingin mengumbar hasratnya, karena itu, dia mendekati Ratna dan berbisik, "kamu bisa teruskan curhatanmu tadi."Ratna mengangguk. Ratna menelan salivanya. Dia juga semakin terbawa hasrat, tapi, dia masih malu untuk meminta. Karena itu, dia berkata, "peluk aku seperti tadi."Ratna bergeser ke tengah pembaringan, seakan memberi isyarat dan kesempatan bagi Rangga untuk naik ke atas pembaringannya.Rangga mengangguk. Dia terus menatap Ratna, seolah ingin memastikan pesonanya di dada Ratna, sambil dia berjalan mendekati pembaringan dan naik di atas pembaringan di samping kiri Rangga dan mulai memeluk Ratna.Di dalam pelukan Rangga, Ratna merasa hangat dan aman, sehingga dia merasa nyaman untuk mulai kembali membuka hatinya tentang masalah yang sedang dia hadapi dengan Rahul.Air matanya berlinang saat dia menceritakan bagaimana Rahul terus-menerus selingkuh darinya, mengkhianati kepercayaan dan cinta yang telah dia berikan.Dalam pelukan yan
"Aku di atas ya?" pinta Ratna sambil melirik rudal milik Rangga yang sudah tegak mempesona itu.Dia mulai membayangkan enaknya memainkan tongkol segede itu di dalam miliknya."Iya, Ratna. Kamu boleh di atas," jawab Rangga.Dengan tongkol segede milik Rangga itu, maka Ratna pikir dia bisa mengarahkan tongkol itu menuju ke titik-titik sensitif di kedalaman bagian kemaluannya yang pada akhirnya akan membuat dia merasa keenakan dan dengan cepat akan meraih surga yang dia impikan.Rangga yang sudah tampil polos itu, mulai merebahkan tubuhnya di tengah-tengah pembaringan milik Ratna ini.Sementara Ratna sudah menaruh kedua lututnya di ranjang, menunggu hingga Rangga sudah berada di posisi yang dia kehendaki.Setelah Rangga berada di posisi yang dikehendaki Ratna, maka Ratna mulai mendekati Rangga.Keduanya saling berciuman beberapa saat. Setelah itu, Ratna mulai mengarahkan bagian kewanitaannya untuk mendekati tongkol gede milik Rangga.Sesaat kemudian, Ratna menggigit bibirnya. Dia merasak
Benda besar itu terus masuk menyeruak membuat Ratna menjadi semakin tidak karuan.Kata-kata tidak karuan meluncur keluar dari mulut Ratna yang semuanya adalah kata-kata yang tidak berarti.Pada dasarnya, dia ingin memuji-muji benda besar milik Rangga yang saat ini sangat memanjakan dirinya dan sangat membuat sensasi dalam dirinya ini tapi karena terperangkap dalam gairah yang membara, maka dia mengatakan kata-kata yang tidak ada artinya, selain leguhan dan desahan yang tidak berarti."Punya kamu sungguh hebat. Punya kamu enak banget, Ratna." Rangga memuji-muji Ratna.Walaupun sebenarnya bagi Rangga permainan ini masih kalah mengasyikkan dibandingkan saat dia menggarap istrinya, tapi dia berusaha memuji-muji Ratna agar supaya nanti akan terbuka jalan bagi dia untuk menghancurkan rumah tangga musuh besarnya, Rahul, yang sangat dia benci ini.Karena itu, Rangga terus memuji-muji Ratna sambil terus menggenjot tubuh Ratna."Kamu juga sangat enak, Rangga. Kamu sangat enakkk. Kamu sangat lua
"Tentu saja berbahaya. Ah, sudahlah. Ayo. Kita kan akan menggerebek rumah kost." Rangga berusaha mengalihkan pembicaraan."Iya. Kita ke Jalan Kamboja. Dari jalan besar di depan sana, kamu ambil jalan ke kiri, nanti aku kasih tahu sisanya." Setelah itu, Tiara dengan cueknya mulai menelpon seseorang.Rangga mulai sibuk mengemudikan mobil, dia biarkan Tiara menelpon.Terdengar suara Tiara yang berkata, "jadi mereka masih di situ kan? Apa kalian sempat mendekati kamar itu dan mendengar suara orang bercinta di dalam sana?"Wajah Tiara berubah. Dia nampak marah. "Ini betul-betul keterlaluan!" Tiara memukul dashboard di depannya. Nampaknya dia betul-betul terganggu dengan apa yang sedang terjadi.Beberapa saat kemudian, dengan arahan dari Tiara, mobil sudah berhenti di halaman parkir sebuah kost-kostan."Aku akan hancurkan kaca jendela kamar itu!" kata Tiara sambil keluar dari mobil.Rangga terkejut. "Maaf, Tiara, tapi menghancurkan jendela rumah kos-an itu, bukanlah solusi yang tepat. Lebih
"Aku sedang stres. Aku tidak ingin sendirian dalam kamarku," kata Tiara sambil menatap Rangga penuh arti.Rangga menganggap itu sebagai isyarat. Karena itu, dia semakin memberanikan dirinya. "Kalau begitu, aku bisa menemanimu.Tiara mengangguk. Kemudian dia mundur ke belakang untuk memberikan kesempatan bagi Rangga untuk masuk ke dalam kamarnya.Selama ini, Tiara adalah gadis penggoda tapi sebenarnya dia cuma pernah tidur dengan satu lelaki yaitu dengan Agus.Karena kecantikannya dan tubuhnya dan dengan buah dada yang memancing hasrat para lelaki, maka Tiara disukai banyak lelaki.Tiara sangat menikmati saat dirinya ditatap oleh banyak lelaki. Mereka dianggap fans olehnya. Dia sangat bangga karena mendapatkan perhatian banyak laki-laki.Agus juga ikut-ikutan bangga karena dia bisa memiliki Tiara yang jadi incaran banyak lelaki. Karena itu, Agus juga yang mempunyai ide supaya Tiara bisa menggoda banyak lelaki.Tapi tentu saja, Tiara hanya menggoda, dan tidak sampai tidur dengan laki-l
Orang itu terus memperhatikan keadaan di dalam dia bahkan mulai memegang buah dadanya. Nampaknya dia mulai terangsang dengan apa yang terjadi di dalam sanaSebelumnya pintu di kamar ini ternyata tidak tertutup rapi. Orang ini masuk kemudian perlahan-lahan dia menutup pintu kamar Tiara ini dengan hanya menimbulkan bunyi sedikit, sehingga tidak didengar oleh Tiara dan Rangga yang sedang asyik di atas pembaringan.Sementara itu, di atas ranjang, Tiara baru saja menjerit kencang. Dia menjadi kencang bersamaan dengan tertutupnya pintu sehingga tertutupnya pintu itu bisa disamarkan suaranya oleh teriakan kencang Tiara.Sekarang ini, Rangga mengambil posisi dengan tidur terlentang di atas pembaringan.Tiara tahu akan maksud Rangga mengambil posisi ini. Karena itu, dia segera naik di atas tubuh Rangga.Tiara memegang rudal milik Rangga. Dia berdecak kagum saat melihat ukuran benda ini. "Ih, ini besar banget. Jauh banget kalau dibandingkan dengan punyanya Agus.""Benarkah? Aku pikir punyaku in
Mulut Rangga ternganga. Dia sangat kaget dengan kata-kata Bu Rum ini.Bu Rum tertawa. "Beberapa saat yang lalu aku sempat mendengar kehebohan di kamarnya Tiara, dan pintu yang tidak tertutup membuat aku bisa dengan leluasa masuk ke dalam kamar. Dan saat itulah aku melihat pergumulan kalian berdua." Bu Rum menatap Rangga penuh artiRangga langsung terdiam. Ancaman dari Bu Rum ini tidak bisa dia abaikan begitu saja, karena kalau benar-benar Bu Rum akan melaporkan akan perbuatan dia bersama Tiara kepada Rahul atau Ratna, maka akibatnya akan sangat buruk bagi rencananya.Padahal rencana yang disusun Rangga itu, sudah mulai berjalan dengan mulus, di mana dia sudah berhasil meniduri Tineke, Ratna, dan juga Tiara.Tapi kalau sampai apa yang dia lakukan dengan Tiara tadi dilaporkan oleh Bu Rum ini kepada Ratna ataupun Rahul, maka dia harus mengubur dalam-dalam niatnya untuk menghancurkan hidup Rahul.Rangga menjadi sangat bingung dengan perkembangan yang terjadi ini. Ini adalah perkembangan y
Dengan posisi Leon dari belakang seperti ini, pada awalnya Wulan merasakan sakit di bagian inti tubuhnya tapi lama kelamaan, rasa sakit itu menjadi samar bahkan menghilang bahkan mulai terasa enak apalagi karena jari-jari Leon masih terus bermain di butir merah muda milik Wulan.Sehingga lama-kelamaan Wulan mulai merasa enak dengan posisi ini. Wulan tahu kalau ini adalah posisi favorit Leon, ini terlihat dari erangan Leon. Maka Wulan mulai menikmati posisi ini.Dengan melakukan gaya seperti ini, Leon bisa terus memainkan jarinya di butir merah muda milik Wulan dan itu membuat Wulan mulai terhanyut dan dia mulai mendaki sebuah titian tangga surga dunia.Dengan posisi seperti ini, Leon bisa terus memainkan juniornya tanpa henti, tanpa merasakan akan menuju puncak karena dengan posisi ini, walaupun Leon bergerak dengan sangat kencang tapi dia bisa mengontrol dirinya hingga permainannya tidak berjalan singkat tapi berjalan lama dan nikmat.Leon terus bergerak cepat di belakang tubuh Wulan
Leon terus menatap wajah cantik Wulan untuk mengetahui reaksi di wajah Wulan.Setelah Leon merasa kalau pengaruh yang sebelumnya dirasakan Wulan setelah Wulan berhasil meraih puncak sudah lewat, Leon kembali naik di atas tubuh Wulan.Untuk kembali merangsang Wulan, lebih dulu Leon memainkan lidahnya di tonjolan bukit kembar milik Wulan.Pada awalnya, belum ada reaksi dari Wulan tapi Leon tidak putus asa. Dia terus memainkan lidahnya untuk mengulas tonjolan Wulan yang sudah tegang itu.Belakangan reaksi yang ditunggu Leon itu mulai terlihat. Itu terlihat dari ekspresi wajah Wulan dan gerakan tangannya.Setelah melihat hal itu, maka Leon mulai mengarahkan juniornya yang sudah tegak itu untuk masuk lagi ke dalam daerah kewanitaannya Wulan.Setelah pusakanya masuk ke dalam bagian kewanitaannya Wulan, Leon mulai melakukan penekanan lagi sambil mengecup bibir tipis Wulan.Keduanya saling kecup, saling hisap, saling kecap bibir masing-masing. Lidah mereka mulai saling taut, menciptakan bunyi
Leon mulai mempercepat gerakan-gerakannya, naik turun di atas tubuh indah milik Wulan yang padat berisi walau sudah berumur itu.Tubuh keduanya tenggelam di balik hasrat yang sama-sama telah bergelora hingga menyelimuti tubuh keduanya.Sambil terus bergerak cepat, kadang Leon membuka matanya untuk melihat wajah cantik milik Wulan ini, wajah yang saat ini, tidak jemu-jemu untuk dia tatap ini. Leon terus menikmati tubuh indah ini.Wulan juga mempercepat goyangannya untuk membuat kenikmatan di antara mereka berdua semakin maksimal.Keduanya terus berpacu dengan mata terpejam, merasakan getaran-getaran kenikmatan yang menjalar di tubuh mereka, meresapi gesekan-gesekan yang terjadi di bagian inti tubuh mereka, gesekan yang membawa kenikmatan.Pergerakan yang dilakukan Leon ini semakin lama semakin membuat Wulan mendesah dengan semakin kencang, menjerit dengan semakin nyaring dan bergerak dengan semakin cepat.Keduanya sama-sama bersuara semakin kencang dan terdengar jelas hingga suara mere
Wulan langsung mengecup bibir Leon, memegang kedua pipi Leon dan mencurahkan semua perasaannya di bibir Leon.Perasaanya meluap semua seiring dengan gairah dan apa yang dia rasakan di dalam dirinya saat ini.Dikecup seperti ini oleh Wulan, membuat hasrat Leon mulai naik tinggi. Dia mulai menggenggam buah dada ranum milik Wulan sambil terus mengecup Wulan.Keduanya hanyut dalam rasa, keduanya hanyut dalam gairah yang bergelora di hati keduanya yang tidak pernah padam sejak pertama kali mereka bertemu ini.Leon mengecup bibir bawah Wulan yang langsung dibalas Wulan dengan mengecup bibir atas Leon.Wulan merapatkan tubuhnya ke tubuh Leon sehingga tangan Leon yang sedang meremas buah dadanya Wulan, terjepit di antara tubuh Wulan dan tubuh Leon.Desahan Leon terdengar sangat seksi bagi Wulan sehingga hasratnya menaik tinggi. Dia ingin mengikuti hasratnya yang mulai melambung tinggi ini.Leon dan Wulan sama-sama mencurahkan rasa dalam hati mereka berdua. Kecupan di antara mereka berdua yang
"Baiklah. Aku akan kerja lagi. Aku harus cari uang untuk membiayai perawatan di rumah sakit ini. Sementara untuk operasi, tetap akan dilakukan di rumah sakit sebelumnya dan itu sudah dibayar lunas," tandas Leon."Iya, Leon. Maafkan aku yang tidak bisa membantumu. Maafkan ayahku yang juga sudah tidak bisa membantumu karena perusahaannya sudah kembang kempis setelah dikuras Mama Wina." Saras menatap sedih ke arah Leon."Gak apa-apa. Gak apa-apa, sayang. Aku telpon dulu ya?""Iya, sayang."Leon keluar dari kamar tempat Saras dirawat untuk menelpon Tuti."Woy, Leon! Tante Lisa marah-marah tuh karena beberapa malam ini, dia harus mengembalikan uang pelanggan yang sudah booking kamu," sewot Tuti di ujung telepon."Aku kena masalah beberapa hari ini. Tapi, sekarang aku siap kerja." Leon menjawab dingin. Dia merasa tidak perlu minta maaf karena dia tahu pihak club' malam membutuhkan kemampuannya.Tuti terdengar seperti bicara dengan seseorang. Kemudian dia berkata, "malam ini kamu dibooking d
Leon teringat pada malam saat Alicia mengganas. Saat itu dari kejauhan, Leon sudah melihat bentuk tubuh yang mirip dengan Alicia yang sedang bergerak mendekati pintu kamarnya Saras.Tapi pada saat itu, Leon mengabaikan hal itu begitu saja dan meneruskan langkah untuk memenuhi panggilan seorang dokter yang ternyata merupakan tipuan dari Alicia yang kerjasama dengan seorang perawat yang tidak dikenal Leon.Karena itu, kali ini Leon tidak mau kecolongan lagi. Saat ini, saat dia melihat seorang dokter wanita yang dari belakang, perawakannya mirip sekali dengan Alicia, walaupun belum melihat wajahnya, tapi, Leon segera mengejar ke arah wanita itu.Leon jadi sangat khawatir karena dia melihat wanita yang berbaju dokter itu, bergerak cepat menuju ke arah kamar barunya Saras dan ini membuat Leon semakin cemas.Leon mempercepat langkahnya. Dia bahkan berlari hingga akhirnya Leon menabrak seorang pegawai rumah sakit yang sedang membawa alat-alat kesehatan."KENAPA KAMU MENABRAKKU? MATAMU DI TAR
“Aku ingin kamu menjauhi Leticia untuk selama-lamanya!” tegas Bram“Leticia hampir mati untuk menolong istrimu dan menurut Justin dia melakukan itu karena dia mencintai kamu. Leticia tidak boleh mencintaimu, dia seorang gadis yang belum pernah menikah sementara kamu adalah suami orang. Leticia berasal dari keluarga baik-baik. Saya rasa kamu paham.” timpal Hutri.“Aku tahu akan keadaanku karena itu aku selalu menolak setiap pendekatan darinya. Anda berdua boleh bertanya kepada Justin. Justru aku meminta Leticia untuk kembali kepada Justin, karena aku sama sekali tidak pantas untuk Leticia, seorang pria beristri,” kandas Leon.“Iya kamu memang tidak pantas untuk anak kami. Anak kami itu sangat cantik, masih muda dan memiliki karir yang bagus. Jelas memiliki masa depan cerah. Harusnya dia bersama Justin yang juga sama-sama memiliki masa depan cerah,” Hutri mulai meradang, nada suaranya mulai meninggi dengan mata yang melotot tapi perkataannya tetap di sampaikan dengan anggun dan santun.
“Sebelum ini aku selalu mengiyakan keputusanmu… Keputusanmu untuk tidak menerima siapapun menjadi istri keduamu, tapi kali ini aku harus bertindak,” tegas Saras.“Apa maksudmu Saras?” Leon mengeringitkan keningnya.“Kamu harus menerima Leticia menjadi istri keduamu, kalau tidak aku akan segera menceraikan kamu,” pinta Saras.Leon sangat kaget mendengar kata-kata Saras ini.“Apa maksudmu? Mengapa kamu ingin bercerai?”“Hal ini seharusnya aku lakukan sejak lama. Lihat aku, Leon, lihat aku… Aku tidak berguna lagi menjadi istrimu… Aku sudah lumpuh dan ada Leticia yang mencintaimu dengan sungguh, dia bahkan rela hampir mengorbankan nyawanya untuk istrimu jadi kamu harus menerima dia menjadi istri keduamu,” Saras membujuk Leon dengan pelukan hangatnya.Leon masih menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia masih teringat akan janjinya saat menikah kalau dia hanya ingin menjadikan Saras sebagai satu-satunya istri dalam hidupnya, sebagai teman pendamping hidup dalam suka dan duka.“Kalau kamu masih b
Saat melihat wajah inspektur Budi ketika menerima panggilan handphonenya, Leon berfirasat jikalau berita yang baru didapat inspektur Budi ini menyangkut Alicia.Karena itu Leon segera bertanya, “Ada apa Pak? Apakah menyangkut Alicia?”“Iya, ini menyangkut Alicia.”“Apakah dia sudah ditemukan? Apa yang dilakukannya?”“Ternyata dia baru saja membunuh seorang temannya yang juga merupakan dokter di rumah sakit ini.”“Dokter di rumah sakit ini?”“Iya. Ternyata setelah meloloskan diri dari rumah sakit ini Alicia menemui temannya yang seorang dokter yang rumahnya hanya 200 meter dari rumah sakit ini.”“Lalu?”Alicia bertamu dan ditemui oleh istri dari dokter itu. Dan karena istri dari dokter itu tidak tahu dengan kasus yang sedang dihadapi oleh Alicia kasus pembunuhan ibu Wina dan juga penyerangan di rumah sakit maka istri dari dokter itu membawa Alicia untuk bertemu dengan suaminya“Lalu?”“Sebelum istri dari dokter itu meninggalkan suaminya bersama Alicia dia masih sempat mendengar kalau A