Di rumah besar nan megah inilah Nayra tinggal saat ini. Nayra menikah dengan seorang pejabat kaya raya yang bernama Satria Hadi Utama. Nayra menjadi gadis pelunas hutang, karena ia telah dijual oleh bibinya sendiri pada Satria.
Paras cantik dan anggunnya Nayra, membuat Satria tertarik, dan tentu saja berniat membelinya. Awal mula hal ini terjadi, karena Nayra diminta untuk membayar semua utang-utang bibi angkatnya. Satria adalah seorang pejabat ternama, dengan kekayaan yang bergelimang. Mau tak mau, Nayra harus merelakan diri, menjadi istrinya, dan melayaninya. “Pakailah isi dalam handbag itu! Aku ingin kau memakainya malam ini!” pinta Satria. “Apalagi ini, Mas?” Nayra memegang handbag itu. “Pakai saja, aku ingin sensasi baru malam ini.” “B-baik, Mas,” Nayra nampak kaget, ketika melihat isi di dalam handbag itu. Lagi-Lagi Satria melakukan hal-hal aneh yang Nayra tak suka. Satria memberikan pakaian seksi dan ketat, yang harus Nayra turuti. Jika tidak, Nayra akan habis disiksa dan dicaci maki oleh Satria. Sebenarnya Nayra trauma pada suaminya itu, Satria hanya manis di awal pernikahan saja. Setelah menjalani biduk rumah tangga ini, barulah Nayra tahu sifat asli Satria. Satria kerap kali melakukan KDRT pada Nayra. Jika Nayra tak menuruti keinginannya, Satria tak segan-segan memukul atau menendang Nayra. Jika Nayra membantah sedikit pun ucapan Satria, tanpa basa-basi Satria langsung menendang, dan menampar Nayra tanpa ampun. “Istriku, kemarilah … sudahkah kau pakai itu?” tanya Satria yang sudah berbaring di tempat tidur. “M-mas, a-aku tak nyaman memakai ini …” Nayra berjalan perlahan menuju tempat tidur. Nayra tengah memakai pakaian yang sangat ketat, dengan bagian dada yang terbuka lebar. Hal ini sungguh membuatnya tak nyaman. Entah apalagi yang akan Satria lakukan padanya. “Kau cantik sekali, Sayang … apalagi memakai kostum ini!” Satria mengusap lembut rambut Nayra. “Mas, itu apa? Untuk apa?” Nayra melihat sebuah rantai besi dan sabuk di tangan kiri Satria. “Untuk mengikatmu, karena aku ingin malam ini kita melakukannya dengan sangat panas, dan terlihat seperti di video-video yang sering aku tonton! Berbaringlah, aku akan mengikatmu dengan rantai besi ini!” perintah Satria. “M-Mas, t-tapi, j-jangan seperti ini. Aku tak mau, ini sangat mengerikan.” Nayra terlihat sangat ketakutan. Mata Satria mulai melotot tajam. Nayra lupa, jika dirinya tak boleh membantah sedikitpun. Akhirnya Satria mulai naik darah. Tanpa tedeng aling-aling, sebuah tamparan pun mendarat di pipi Nayra. “Auwh, Mas, cukup. Ini sakit.,” Nayra memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan keras Satria. “Kau membantah? Siapa kau berani membantahku, ha? Rasakan ini!” Satria mencekik leher Nayra, hingga Nayra tersedak dan kesulitan bernapas. Satria tak mengindahkan upaya Nayra untuk melepaskan cekikan itu. Satria terus mencekik Nayra, dan melakukan apa yang ia inginkan. Nayra tak ada upaya apa pun, selain berusaha memohon Satria untuk menghentikannya. “Aaa …, aaa, M-Mas … t-tolong, l-lepaskan aku,” Satria tak bergeming. Ia terus melakukan aksinya. Setelah Nayra diikat, Nayra dicambuk oleh sabuk milik Satria. Satria bahagia melakukannya, dan terus menggila dengan sensasi meniduri Nayra dengan cara yang sangat mengerikan. Permainan itu terus Satria lakukan dengan kasar. Kerap kali Nayra mendapat perlakuan yang kurang ajar dari Satria. Nayra lelah, Nayra takut, Nayra sebenarnya sudah tak sanggup lagi, namun apalah dayanya, ia tak bisa keluar dari penjara ini. Setelah permainan panjang itu mulai mencapai puncaknya, Satria pun mengeluarkan cairan miliknya di dalam rahim Nayra hingga beberapa kali Satria menghentakkan tubuhnya dengan hebat. Nayra sudah tak bergeming, bukannya menikmati, tetapi Nayra malah trauma ditiduri oleh Satria. Selepas hubungan badan, Satria meninggalkan Nayra begitu saja. Satria mengenakan jas, lalu pergi tanpa pamit sedikitpun pada Nayra. Bukan pria seperti ini yang Nayra inginkan untuk menjadi sosok suaminya. Bukan pria yang jahat dan ringan tangan seperti Satria. Mungkinkah suatu hari nanti Satria akan berubah? Nayra berharap seperti itu. . Sejak kecil, Nayra tak memiliki saudara kandung, ia hanya tinggal bersama Bibi angkatnya. Bibinya terpaksa mengurus Nayra, karena tak ada pilihan lain. Nayra berusaha untuk tak pernah merepotkan bibinya, ia selalu bekerja keras sendiri untuk membiayai sekolahnya. Mulai dari berjualan, mencuci baju, menyetrika, bahkan bekerja paruh waktu pun kerap kali ia lakukan. Hasilnya, tentu saja akhirnya Nayra mampu mendapat predikat sarjana berkat semua jerih payahnya itu. Kisahnya bermula saat paman Nayra meninggal dunia. Bibinya kelimpungan untuk membayar utang-utang mendiang suaminya. Paman Nayra meninggalkan utang yang jumlahnya tidak sedikit. Hal ini membuat keluarga mereka tengah diguncang masalah besar. Bibi Nayra, Yulia Anita, memaksa Nayra untuk menikah dengan pria yang sama sekali tak dicintainya. Pria itu mampu membayar semua utang-utang Bibi Nayra, asalkan Nayra mau menikah dengannya. “Kau harus menikah dengan Pak Satria! Hanya dia yang bisa menolong keluarga kita! Dengar ya, Nayra, sejak kecil kau tinggal di sini! Aku dan pamanmu yang mengurus dan membiayaimu! Kau harus tahu hutang budi! Kau harus membalas jasa kebaikan kami padamu!” “Bibi …, tapi aku takut. Aku belum siap untuk menikah.” jawab Nayra. “Masa bodoh! Itu bukan urusanku! Siap tak siap, kau harus siap! Dia akan memberikan uang satu milyar padamu, karena dia tertarik melihat fotomu! Ayolah, Nayra! Kau cantik, tubuhmu molek, dia tentu saja akan mencintaimu! Menurutlah! Kau berhutang budi padaku! Kau harus tahu diri, Nayra!” Yulia terus memaksa. “Bibi, t-tapi …” “Tak ada tapi-tapian! Kau harus segera menikah dengan Pak Satria! Jangan sia-siakan kesempatan ini, Nay!” Yulia memaksa. “Bibi … kenapa kau menjualku?” Air mata Nayra sudah tak dapat terbendung lagi. . Meskipun berat hati, Nayra tetap menerimanya. Nayra berusaha untuk menjadi istri yang baik, senantiasa melayani suaminya sebagai ucapan terima kasih, karena telah menolong keluarganya. Awalnya, menikah dengan Satria tak semengerikan ini. Satria nampak hangat, dan membuat Nayra nyaman. Sifat buruknya ini baru ketahuan setelah beberapa bulan pernikahan mereka. Seperti hari ini, Nayra tengah membantu asisten rumah tangganya di dapur. Mbok Ayu namanya, dia tampak kaget melihat wajah dan dengan Nayra yang memar dan membiru. Mbok Ayu refleks memegang pipi Nayra yang memar, seketika itu pula Nayra melepaskan tangan Mbok Ayu yang memegangnya. “Non, ini kenapa? Kenapa Non memar-memar seperti ini? Ya ampun, biar Mbok kompresin air hangat, ya?” “Mm, e-enggak, Mbok, gak kenapa-napa, itu Nayra keseleo, jatuh kena ujung lemari, jadi memar seperti ini,” Nayra berbohong. “Kok kayak kena pukul ya lukanya? Apa Tuan Satria tahu, Non?” tanya Mbok Ayu polos. “E-enggak, Mbok, Mas Satria gak tahu. Jangan bilang sama dia tentang luka ini, ya? Aku tak mau Mas Satria semakin khawatir kalau dia tahu.” “Iya, Non. Lain kali hati-hati, ya. Tuan Satria pasti marah kalau tahu Non terluka. Yaudah, Non Nayra duduk saja, gak usah bantuin Mbok. Mbok ambilkan air hangat dulu, itu pasti sakit sekali.” Mbok Ayu pun mengompres luka Nayra. “I-iya, Mbok, baiklah. Terima kasih banyak sebelumnya, ya,” ujar Nayra gugup.Satria baru sampai di rumah sekitar pukul sepuluh malam, Nayra sudah khawatir sejak tadi, karena beberapa kali di telepon pun, Satria enggan menanggapi panggilan dari Nayra.“Mas, dari mana saja? Kenapa kau baru pulang? Aku khawatir …” ucap Nayra ketika Satria baru saja masuk ke dalam kamar.“Bukan urusanmu!” Satria mendorong Nayra, hingga Nayra sedikit tersungkur. Nayra menatap Satria dengan nanar. Ia kembali mendekati suaminya, lalu membuka dasi dan jas Satria. Nayra tetap bersikap baik, dan melayani Satria sebagaimana mestinya.“Dasar wanita lemah! Baru bermain seperti itu, sudah memar-memar dan luka! Bagaimana jika nanti aku meminta yang lebih gila dari malam itu?”“Maaf, Mas, aku tak biasa melakukannya.”Nayra menghela napas panjangnya, berusaha untuk tetap tenang dan menanggapi ucapan Satria dengan penuh kesabaran. Satria mengambil sebuah kotak undangan dari tasnya, dan melemparkan kotak itu pada Nayra.Lagi-lagi, Satria memerlakukan Nayra dengan kasar. Sifat aslinya begitu men
Satria melajukan mobil dengan penuh amarah. Ia menginjak pedal gas sampai ia tak sadar, jika mobil tengah melaju dengan kecepatan penuh. Nayra sudah ketakutan karena tak menyangka jika Satria akan senekat ini. Hatinya terus bergemuruh, ia takut kalau Satria akan menghukumnya lebih parah daripada sebelumnya.Entah apa yang membuat Satria marah. Nayra tak merasa melakukan kesalahan apa pun. Namun, jika ini karena Arvin, berbincang dengan Arvin juga bukan hal yang ia sengaja.Padahal, jika Satria bertanya pun, Nayra akan menjelaskan siapa Arvin padanya. Bukan malah emosi dan marah seperti ini. Mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, tentu saja akan membahayakan nyawa mereka berdua.“Mas, berhenti, jangan terlalu cepat seperti ini! Aku takut, Mas. Kita bisa bicarakan baik-baik, tanpa harus emosi seperti ini.”“Wanita gatal! Dasar tak tahu diri! Lihat saja pembalasanku nanti!” pekik Satria.Satria semakin marah, ia menginjak pedal gas lebih kencang dari semula. Hampir saja ia menabrak mo
Sepulang dari rumah sakit, Satria terlihat biasa saja, tak merasa bersalah sedikitpun. Luka yang dirasakan Nayra, seolah tak ada arti apapun baginya. Melihat kepulangannya, Satria tak bergeming, tetap fokus pada laptop dan beberapa berkas di meja.Satria pura-pura sibuk. Nayra berusaha mendekatinya, namun tak diindahkan sama sekali. Nayra menghela napas panjangnya, dan berusaha untuk senantiasa melayani Satria dengan baik.“Mas, sepertinya kau sedang sibuk. Ini, aku buatkan teh hijau untukmu.” Nayra menaruh secangkir teh di depan meja Satria.“Aku tak haus!” ujar Satria.“Ya, nanti saja jika kau haus. Mas, ke mana saja beberapa hari ini? Kenapa Mas tak mengabari aku?” tanya Nayra penuh pengharapan.“Aku sibuk! Aku tak ada waktu untuk memberi kabar. Toh, tak kuberi kabar pun kau masih tetap hidup kan?” Satria menatap Nayra penuh amarah.Pria itu sama sekali tak sadar, jika wanita dihadapannya ini baru saja pulang dari rumah sakit akibat perbuatannya. Tak ada rasa khawatir, tak ada rasa
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nayra. Nayra mengaduh, refleks memegangi pipi tirusnya yang ditampar Satria dengan begitu keras. Baru saja dia pulang dari kantor, namun sudah menghabisi Nayra dengan kedua tangannya.Rupanya, kabar Nayra diantar oleh seorang pria terdengar di telinganya. Satria langsung naik darah, dan melakukan kekerasan itu lagi pada Nayra. Kali ini Nayra memohon dengan bersimpuh di kaki Satria, berharap jika Satria akan menghentikan perbuatan gilanya ini.Satria kesulitan untuk melangkah, kakinya dipegang kuat-kuat oleh Nayra. Wanita itu terus berusaha memohon maaf dan meminta ampun, berharap suaminya akan berbelas kasihan padanya.“Mas, aku tahu aku salah. Tapi, apakah aku harus dipukul terus seperti ini? Apakah tak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah kita? Kumohon hentikan, jangan pukuli aku lagi. Maafkan aku, Mas,” Nayra masih bersimpuh dan memohon.Satria terdiam sejenak. Ia menendang tubuh Nayra, dan pergi ke ruang ganti. Nayra bisa menghela napas
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nayra. Nayra mengaduh, refleks memegangi pipi tirusnya yang ditampar Satria dengan begitu keras. Baru saja dia pulang dari kantor, namun sudah menghabisi Nayra dengan kedua tangannya.Rupanya, kabar Nayra diantar oleh seorang pria terdengar di telinganya. Satria langsung naik darah, dan melakukan kekerasan itu lagi pada Nayra. Kali ini Nayra memohon dengan bersimpuh di kaki Satria, berharap jika Satria akan menghentikan perbuatan gilanya ini.Satria kesulitan untuk melangkah, kakinya dipegang kuat-kuat oleh Nayra. Wanita itu terus berusaha memohon maaf dan meminta ampun, berharap suaminya akan berbelas kasihan padanya.“Mas, aku tahu aku salah. Tapi, apakah aku harus dipukul terus seperti ini? Apakah tak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah kita? Kumohon hentikan, jangan pukuli aku lagi. Maafkan aku, Mas,” Nayra masih bersimpuh dan memohon.Satria terdiam sejenak. Ia menendang tubuh Nayra, dan pergi ke ruang ganti. Nayra bisa menghela napas
Sepulang dari rumah sakit, Satria terlihat biasa saja, tak merasa bersalah sedikitpun. Luka yang dirasakan Nayra, seolah tak ada arti apapun baginya. Melihat kepulangannya, Satria tak bergeming, tetap fokus pada laptop dan beberapa berkas di meja.Satria pura-pura sibuk. Nayra berusaha mendekatinya, namun tak diindahkan sama sekali. Nayra menghela napas panjangnya, dan berusaha untuk senantiasa melayani Satria dengan baik.“Mas, sepertinya kau sedang sibuk. Ini, aku buatkan teh hijau untukmu.” Nayra menaruh secangkir teh di depan meja Satria.“Aku tak haus!” ujar Satria.“Ya, nanti saja jika kau haus. Mas, ke mana saja beberapa hari ini? Kenapa Mas tak mengabari aku?” tanya Nayra penuh pengharapan.“Aku sibuk! Aku tak ada waktu untuk memberi kabar. Toh, tak kuberi kabar pun kau masih tetap hidup kan?” Satria menatap Nayra penuh amarah.Pria itu sama sekali tak sadar, jika wanita dihadapannya ini baru saja pulang dari rumah sakit akibat perbuatannya. Tak ada rasa khawatir, tak ada rasa
Satria melajukan mobil dengan penuh amarah. Ia menginjak pedal gas sampai ia tak sadar, jika mobil tengah melaju dengan kecepatan penuh. Nayra sudah ketakutan karena tak menyangka jika Satria akan senekat ini. Hatinya terus bergemuruh, ia takut kalau Satria akan menghukumnya lebih parah daripada sebelumnya.Entah apa yang membuat Satria marah. Nayra tak merasa melakukan kesalahan apa pun. Namun, jika ini karena Arvin, berbincang dengan Arvin juga bukan hal yang ia sengaja.Padahal, jika Satria bertanya pun, Nayra akan menjelaskan siapa Arvin padanya. Bukan malah emosi dan marah seperti ini. Mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, tentu saja akan membahayakan nyawa mereka berdua.“Mas, berhenti, jangan terlalu cepat seperti ini! Aku takut, Mas. Kita bisa bicarakan baik-baik, tanpa harus emosi seperti ini.”“Wanita gatal! Dasar tak tahu diri! Lihat saja pembalasanku nanti!” pekik Satria.Satria semakin marah, ia menginjak pedal gas lebih kencang dari semula. Hampir saja ia menabrak mo
Satria baru sampai di rumah sekitar pukul sepuluh malam, Nayra sudah khawatir sejak tadi, karena beberapa kali di telepon pun, Satria enggan menanggapi panggilan dari Nayra.“Mas, dari mana saja? Kenapa kau baru pulang? Aku khawatir …” ucap Nayra ketika Satria baru saja masuk ke dalam kamar.“Bukan urusanmu!” Satria mendorong Nayra, hingga Nayra sedikit tersungkur. Nayra menatap Satria dengan nanar. Ia kembali mendekati suaminya, lalu membuka dasi dan jas Satria. Nayra tetap bersikap baik, dan melayani Satria sebagaimana mestinya.“Dasar wanita lemah! Baru bermain seperti itu, sudah memar-memar dan luka! Bagaimana jika nanti aku meminta yang lebih gila dari malam itu?”“Maaf, Mas, aku tak biasa melakukannya.”Nayra menghela napas panjangnya, berusaha untuk tetap tenang dan menanggapi ucapan Satria dengan penuh kesabaran. Satria mengambil sebuah kotak undangan dari tasnya, dan melemparkan kotak itu pada Nayra.Lagi-lagi, Satria memerlakukan Nayra dengan kasar. Sifat aslinya begitu men
Di rumah besar nan megah inilah Nayra tinggal saat ini. Nayra menikah dengan seorang pejabat kaya raya yang bernama Satria Hadi Utama. Nayra menjadi gadis pelunas hutang, karena ia telah dijual oleh bibinya sendiri pada Satria.Paras cantik dan anggunnya Nayra, membuat Satria tertarik, dan tentu saja berniat membelinya. Awal mula hal ini terjadi, karena Nayra diminta untuk membayar semua utang-utang bibi angkatnya.Satria adalah seorang pejabat ternama, dengan kekayaan yang bergelimang. Mau tak mau, Nayra harus merelakan diri, menjadi istrinya, dan melayaninya.“Pakailah isi dalam handbag itu! Aku ingin kau memakainya malam ini!” pinta Satria.“Apalagi ini, Mas?” Nayra memegang handbag itu.“Pakai saja, aku ingin sensasi baru malam ini.”“B-baik, Mas,” Nayra nampak kaget, ketika melihat isi di dalam handbag itu.Lagi-Lagi Satria melakukan hal-hal aneh yang Nayra tak suka. Satria memberikan pakaian seksi dan ketat, yang harus Nayra turuti. Jika tidak, Nayra akan habis disiksa dan dicac