Share

Bab 3. Di Rumah Sakit

Penulis: naranaluna
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-27 15:01:42

Satria melajukan mobil dengan penuh amarah. Ia menginjak pedal gas sampai ia tak sadar, jika mobil tengah melaju dengan kecepatan penuh.

Nayra sudah ketakutan karena tak menyangka jika Satria akan senekat ini. Hatinya terus bergemuruh, ia takut kalau Satria akan menghukumnya lebih parah daripada sebelumnya.

Entah apa yang membuat Satria marah. Nayra tak merasa melakukan kesalahan apa pun. Namun, jika ini karena Arvin, berbincang dengan Arvin juga bukan hal yang ia sengaja.

Padahal, jika Satria bertanya pun, Nayra akan menjelaskan siapa Arvin padanya. Bukan malah emosi dan marah seperti ini. Mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, tentu saja akan membahayakan nyawa mereka berdua.

“Mas, berhenti, jangan terlalu cepat seperti ini! Aku takut, Mas. Kita bisa bicarakan baik-baik, tanpa harus emosi seperti ini.”

“Wanita gatal! Dasar tak tahu diri! Lihat saja pembalasanku nanti!” pekik Satria.

Satria semakin marah, ia menginjak pedal gas lebih kencang dari semula. Hampir saja ia menabrak mobil yang ada di depannya, namun beruntung, Satria bisa membelokkan setir dengan secepat kilat. Kalau tidak, mungkin nyawa Nayra dan Satria akan jadi taruhannya.

Sesampainya di rumah, asisten rumah tangga mereka pun kaget. Satria menjambak rambut Nayra. Baru kali ini mereka melihat secara terang-terangan, Satria melakukan hal yang tidak wajar pada Nayra.

Nayra meringis kesakitan, ia memberi kode meminta tolong, namun mereka pun tak kuasa menolongnya. Asisten Satria takut sekali, kalau Satria sedang marah besar saat ini.

Nayra diseret masuk ke dalam kamar. Satria langsung mengunci pintu, Satria mendorong Nayra hingga Nayra terbentur ujung meja. Kening Nayra pun berdarah, ia sudah mengaduh kesakitan, namun Satria enggan menghentikan perbuatannya.

Satria berjalan mendekati Nayra lagi, tanpa basa-basi Satria memegang paksa lengan Nayra, dan memintanya untuk berdiri. Tanpa aba-aba, Satria langsung menampar Nayra bolak-balik, hingga Nayra tersungkur.

Tidak selesai sampai di situ, Satria menendang Nayra dengan sepatu pantofel yang outsolenya tentu saja keras. Hal ini membuat Nayra menjerit kesakitan. Tendangan Satria sangat keras, hingga melukai bagian paha dan betis Nayra.

“Mas, Mas, tolong, cukup! Hentikan ini! Aku benar-benar tak tahan lagi. Hentikan, Mas. Maafkan aku …” Nayra menangis sesegukan, sembari bersimpuh di kaki Satria.

“Dasar brengsek! Sudah mempermalukan aku sebagai suami, berani sekali kau berkata ‘hentikan’! Ini tak sebanding dengan perlakuan gatalmu pada pria itu!” Lagi-lagi, Satria menendang Nayra.

“Argh, sakit Mas. Dia hanya seniorku di kampus! Kenapa kau harus seperti ini padaku? Sungguh, aku tak melakukan apa pun. Kita tak sengaja bertemu.” Nayra berusaha membela diri, meskipun darah dan luka sudah memenuhi tubuhnya.

“’Hanya’ kau bilang? Dasar wanita tak tahu diri! Dengar, teman-temanku melihat kau kecentilan pada pria itu! Mereka memaki-maki aku, berkata jika istriku tak sopan! Tak menghargaiku sebagai suami! Di mana aku simpan wajahku, ha? Di mana letak harga diri dan jabatanku jika mereka mengatakan seperti itu padaku, ha?” wajah Satria memerah penuh emosi.

“Mas, sejak awal aku sudah bilang kan ingin ikut? Aku tak ingin kau tinggalkan sedikitpun. Aku ingin ikut denganmu, aku ingin bersamamu, tapi kau malah melarangku. Maafkan aku, jika hal itu membuatmu marah. Aku tak bermaksud untuk membuatmu terhina seperti itu. Tapi jika saja aku ikut denganmu, mungkin kejadian itu tak akan terjadi. Aku tak akan bertemu dengan seniorku …” Nayra berusaha untuk meyakinkan Satria.

“Oh, jadi kau menyalahkan aku? Banyak bicara kau!” sebuah tonjokan keras pun akhirnya mendarat di wajah Nayra.

Nayra terjatuh lagi, kali ini ia pingsan karena tonjokan itu amat keras mengenai pelipis matanya. Satria sedikit kaget, ia tak menyangka jika Nayra akan pingsan dan matanya akan penyok karena tonjokannya barusan.

“Gawat! Dia pingsan? Dasar wanita lemah! Bahaya jika aku terus ada di sini. Aku harus segera pergi, agar orang lain tak curiga padaku.” Satria mengambil kunci mobilnya, dan pergi meninggalkan Nayra seorang diri.

.

Nayra dilarikan ke rumah sakit oleh Mbok Ayu dan penjaga kebun rumahnya. Mbok Ayu sengaja mengintip Nayra, karena sejak awal Satria dan Nayra pulang pun, Mbok Ayu sudah tahu, jika Satria tengah melakukan kekerasan pada Nayra.

Keesokan harinya, Nayra telah sadarkan diri dan ia sungguh kaget, mendapati selang infusan di tangannya, dengan beberapa perban di salah satu bagian tubuhnya. Nayra kesulitan bergerak, karena tubuhnya terasa remuk, setelah dianiaya oleh Satria.

“Non, akhirnya Non sadar. Maafkan Mbok yang terlambat menyelamatkan Non Nayra, ya …”

“Mbok, kenapa Mbok bawa aku ke rumah sakit? Kenapa gak panggil Dokter untuk aku dirawat di rumah saja?” Nayra merasa keberatan.

“Mbok sudah khawatir, karena Non Nayra tak sadarkan diri. Apalagi, malam-malam seperti itu, dokter pribadi juga belum tentu mau jawab telepon. Sudah, jangan dipikirkan. Yang penting Non sehat lagi, ya.” tutur Mbok Ayu.

“Mbok?”

“Iya, Non?”

“Mbok tahu apa yang terjadi padaku?” tanya Nayra pelan.

Mbok Ayu mengangguk.

“Mbok, jangan beritahu siapapun. Kalau ada yang tanya, katakan saja jika aku kecopetan, dan pencopet itu melukaiku, katakan saja aku sedang tak bersama Mas Satria. Aku mohon ya, Mbok? Jangan biarkan citra suamiku tercoreng karena perbuatan ini.”

“Non, kenapa harus begitu? Ini itu merupakan penganiayaan, dan kekerasan, Non. Jangan disembunyikan, kasihan Non Nayra kalau begitu.” Mbok Ayu merasa tak terima.

“Mbok, biarkan aku dengan rumah tanggaku. Aku tak mau Mas Satria terlibat masalah. Semoga setelah ini, Mas Satria akan berubah. Apa Mbok tahu di mana dia? Apa suamiku ada di rumah?” tanya Nayra masih lemas.

“Tuan Satria pergi keluar kota. Katanya ada proyek mendadak, dan harus segera ditinjau, Non.”

“Oh, syukurlah dia tak ada di rumah. Mbok, jangan bilang pada keluargaku, atau keluarga Mas Satria ya? Kumohon …” pinta Nayra.

“Baiklah, Non. Yang penting Non Nayra cepat sembuh ya, Non. Mbok doakan yang terbaik.” jawab Mbok Ayu.

“Terima kasih, Mbok.” Nayra berusaha tersenyum, meskipun itu menyakitkan.

Nayra merasa lega, karena Satria pergi ke luar kota. Nayra sebenarnya trauma, namun mau bagaimana lagi, ikatan hutang budi itu tak bisa dilepaskan begitu saja. Nayra hanya terus berdoa, agar Satria bisa berubah.

Sudah dua hari ini, Nayra berbaring di rumah sakit. Akhirnya, Dokter memberi lampu hijau, jika besok Nayra diperbolehkan untuk pulang. Hari ini, Nayra diminta untuk berjalan-jalan, melatih kakinya kembali.

Ditemani Mbok Ayu, Nayra pun berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit ini. Tiba-tiba saja, Nayra ingin sebuah jus mangga, karena ada seorang anak yang tengah meminum jus tersebut.

“Mbok, aku ingin jus mangga seperti anak itu. Tolong belikan ya? Aku akan menunggu di sekitar sini” pinta Nayra.

“Oh, jus mangga itu? Baiklah, Mbok akan membelikannya. Non tunggu di sini, ya? Jangan ke mana-mana,”

“Iya, Mbok …”

.

Di saat yang sama, Arvin baru menginjakkan kaki di lobby rumah sakit bersama dengan Hadi, sekretarisnya. Dari kejauhan Arvin melihat sosok yang familiar. Tiba-tiba Arvin menghentikan langkahnya.

Arvin tidak menyangka akan melihat Nayra lagi.

“Tuan, ada apa?” Hadi bertanya di samping Arvin dan mengamati pandangan atasannya itu.

“Cari informasi tentang wanita itu,” kata Arvin. Tatapannya dalam melihat wanita itu yang duduk memandang langit rumah sakit di sudut lobby, namun wajahnya tanpa ekspresi hingga tidak ada yang bisa menebak pikiran pria itu.

Bab terkait

  • Presdir yang Kembali untuk Menyelamatkanku   Bab 4. Bertemu Lagi

    Sepulang dari rumah sakit, Satria terlihat biasa saja, tak merasa bersalah sedikitpun. Luka yang dirasakan Nayra, seolah tak ada arti apapun baginya. Melihat kepulangannya, Satria tak bergeming, tetap fokus pada laptop dan beberapa berkas di meja.Satria pura-pura sibuk. Nayra berusaha mendekatinya, namun tak diindahkan sama sekali. Nayra menghela napas panjangnya, dan berusaha untuk senantiasa melayani Satria dengan baik.“Mas, sepertinya kau sedang sibuk. Ini, aku buatkan teh hijau untukmu.” Nayra menaruh secangkir teh di depan meja Satria.“Aku tak haus!” ujar Satria.“Ya, nanti saja jika kau haus. Mas, ke mana saja beberapa hari ini? Kenapa Mas tak mengabari aku?” tanya Nayra penuh pengharapan.“Aku sibuk! Aku tak ada waktu untuk memberi kabar. Toh, tak kuberi kabar pun kau masih tetap hidup kan?” Satria menatap Nayra penuh amarah.Pria itu sama sekali tak sadar, jika wanita dihadapannya ini baru saja pulang dari rumah sakit akibat perbuatannya. Tak ada rasa khawatir, tak ada rasa

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Presdir yang Kembali untuk Menyelamatkanku   Bab 5. Proyek Pemerintah

    Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nayra. Nayra mengaduh, refleks memegangi pipi tirusnya yang ditampar Satria dengan begitu keras. Baru saja dia pulang dari kantor, namun sudah menghabisi Nayra dengan kedua tangannya.Rupanya, kabar Nayra diantar oleh seorang pria terdengar di telinganya. Satria langsung naik darah, dan melakukan kekerasan itu lagi pada Nayra. Kali ini Nayra memohon dengan bersimpuh di kaki Satria, berharap jika Satria akan menghentikan perbuatan gilanya ini.Satria kesulitan untuk melangkah, kakinya dipegang kuat-kuat oleh Nayra. Wanita itu terus berusaha memohon maaf dan meminta ampun, berharap suaminya akan berbelas kasihan padanya.“Mas, aku tahu aku salah. Tapi, apakah aku harus dipukul terus seperti ini? Apakah tak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah kita? Kumohon hentikan, jangan pukuli aku lagi. Maafkan aku, Mas,” Nayra masih bersimpuh dan memohon.Satria terdiam sejenak. Ia menendang tubuh Nayra, dan pergi ke ruang ganti. Nayra bisa menghela napas

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Presdir yang Kembali untuk Menyelamatkanku   Bab 1. Awal Kisah

    Di rumah besar nan megah inilah Nayra tinggal saat ini. Nayra menikah dengan seorang pejabat kaya raya yang bernama Satria Hadi Utama. Nayra menjadi gadis pelunas hutang, karena ia telah dijual oleh bibinya sendiri pada Satria.Paras cantik dan anggunnya Nayra, membuat Satria tertarik, dan tentu saja berniat membelinya. Awal mula hal ini terjadi, karena Nayra diminta untuk membayar semua utang-utang bibi angkatnya.Satria adalah seorang pejabat ternama, dengan kekayaan yang bergelimang. Mau tak mau, Nayra harus merelakan diri, menjadi istrinya, dan melayaninya.“Pakailah isi dalam handbag itu! Aku ingin kau memakainya malam ini!” pinta Satria.“Apalagi ini, Mas?” Nayra memegang handbag itu.“Pakai saja, aku ingin sensasi baru malam ini.”“B-baik, Mas,” Nayra nampak kaget, ketika melihat isi di dalam handbag itu.Lagi-Lagi Satria melakukan hal-hal aneh yang Nayra tak suka. Satria memberikan pakaian seksi dan ketat, yang harus Nayra turuti. Jika tidak, Nayra akan habis disiksa dan dicac

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Presdir yang Kembali untuk Menyelamatkanku   Bab 2. Royal Wedding

    Satria baru sampai di rumah sekitar pukul sepuluh malam, Nayra sudah khawatir sejak tadi, karena beberapa kali di telepon pun, Satria enggan menanggapi panggilan dari Nayra.“Mas, dari mana saja? Kenapa kau baru pulang? Aku khawatir …” ucap Nayra ketika Satria baru saja masuk ke dalam kamar.“Bukan urusanmu!” Satria mendorong Nayra, hingga Nayra sedikit tersungkur. Nayra menatap Satria dengan nanar. Ia kembali mendekati suaminya, lalu membuka dasi dan jas Satria. Nayra tetap bersikap baik, dan melayani Satria sebagaimana mestinya.“Dasar wanita lemah! Baru bermain seperti itu, sudah memar-memar dan luka! Bagaimana jika nanti aku meminta yang lebih gila dari malam itu?”“Maaf, Mas, aku tak biasa melakukannya.”Nayra menghela napas panjangnya, berusaha untuk tetap tenang dan menanggapi ucapan Satria dengan penuh kesabaran. Satria mengambil sebuah kotak undangan dari tasnya, dan melemparkan kotak itu pada Nayra.Lagi-lagi, Satria memerlakukan Nayra dengan kasar. Sifat aslinya begitu men

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27

Bab terbaru

  • Presdir yang Kembali untuk Menyelamatkanku   Bab 5. Proyek Pemerintah

    Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nayra. Nayra mengaduh, refleks memegangi pipi tirusnya yang ditampar Satria dengan begitu keras. Baru saja dia pulang dari kantor, namun sudah menghabisi Nayra dengan kedua tangannya.Rupanya, kabar Nayra diantar oleh seorang pria terdengar di telinganya. Satria langsung naik darah, dan melakukan kekerasan itu lagi pada Nayra. Kali ini Nayra memohon dengan bersimpuh di kaki Satria, berharap jika Satria akan menghentikan perbuatan gilanya ini.Satria kesulitan untuk melangkah, kakinya dipegang kuat-kuat oleh Nayra. Wanita itu terus berusaha memohon maaf dan meminta ampun, berharap suaminya akan berbelas kasihan padanya.“Mas, aku tahu aku salah. Tapi, apakah aku harus dipukul terus seperti ini? Apakah tak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah kita? Kumohon hentikan, jangan pukuli aku lagi. Maafkan aku, Mas,” Nayra masih bersimpuh dan memohon.Satria terdiam sejenak. Ia menendang tubuh Nayra, dan pergi ke ruang ganti. Nayra bisa menghela napas

  • Presdir yang Kembali untuk Menyelamatkanku   Bab 4. Bertemu Lagi

    Sepulang dari rumah sakit, Satria terlihat biasa saja, tak merasa bersalah sedikitpun. Luka yang dirasakan Nayra, seolah tak ada arti apapun baginya. Melihat kepulangannya, Satria tak bergeming, tetap fokus pada laptop dan beberapa berkas di meja.Satria pura-pura sibuk. Nayra berusaha mendekatinya, namun tak diindahkan sama sekali. Nayra menghela napas panjangnya, dan berusaha untuk senantiasa melayani Satria dengan baik.“Mas, sepertinya kau sedang sibuk. Ini, aku buatkan teh hijau untukmu.” Nayra menaruh secangkir teh di depan meja Satria.“Aku tak haus!” ujar Satria.“Ya, nanti saja jika kau haus. Mas, ke mana saja beberapa hari ini? Kenapa Mas tak mengabari aku?” tanya Nayra penuh pengharapan.“Aku sibuk! Aku tak ada waktu untuk memberi kabar. Toh, tak kuberi kabar pun kau masih tetap hidup kan?” Satria menatap Nayra penuh amarah.Pria itu sama sekali tak sadar, jika wanita dihadapannya ini baru saja pulang dari rumah sakit akibat perbuatannya. Tak ada rasa khawatir, tak ada rasa

  • Presdir yang Kembali untuk Menyelamatkanku   Bab 3. Di Rumah Sakit

    Satria melajukan mobil dengan penuh amarah. Ia menginjak pedal gas sampai ia tak sadar, jika mobil tengah melaju dengan kecepatan penuh. Nayra sudah ketakutan karena tak menyangka jika Satria akan senekat ini. Hatinya terus bergemuruh, ia takut kalau Satria akan menghukumnya lebih parah daripada sebelumnya.Entah apa yang membuat Satria marah. Nayra tak merasa melakukan kesalahan apa pun. Namun, jika ini karena Arvin, berbincang dengan Arvin juga bukan hal yang ia sengaja.Padahal, jika Satria bertanya pun, Nayra akan menjelaskan siapa Arvin padanya. Bukan malah emosi dan marah seperti ini. Mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, tentu saja akan membahayakan nyawa mereka berdua.“Mas, berhenti, jangan terlalu cepat seperti ini! Aku takut, Mas. Kita bisa bicarakan baik-baik, tanpa harus emosi seperti ini.”“Wanita gatal! Dasar tak tahu diri! Lihat saja pembalasanku nanti!” pekik Satria.Satria semakin marah, ia menginjak pedal gas lebih kencang dari semula. Hampir saja ia menabrak mo

  • Presdir yang Kembali untuk Menyelamatkanku   Bab 2. Royal Wedding

    Satria baru sampai di rumah sekitar pukul sepuluh malam, Nayra sudah khawatir sejak tadi, karena beberapa kali di telepon pun, Satria enggan menanggapi panggilan dari Nayra.“Mas, dari mana saja? Kenapa kau baru pulang? Aku khawatir …” ucap Nayra ketika Satria baru saja masuk ke dalam kamar.“Bukan urusanmu!” Satria mendorong Nayra, hingga Nayra sedikit tersungkur. Nayra menatap Satria dengan nanar. Ia kembali mendekati suaminya, lalu membuka dasi dan jas Satria. Nayra tetap bersikap baik, dan melayani Satria sebagaimana mestinya.“Dasar wanita lemah! Baru bermain seperti itu, sudah memar-memar dan luka! Bagaimana jika nanti aku meminta yang lebih gila dari malam itu?”“Maaf, Mas, aku tak biasa melakukannya.”Nayra menghela napas panjangnya, berusaha untuk tetap tenang dan menanggapi ucapan Satria dengan penuh kesabaran. Satria mengambil sebuah kotak undangan dari tasnya, dan melemparkan kotak itu pada Nayra.Lagi-lagi, Satria memerlakukan Nayra dengan kasar. Sifat aslinya begitu men

  • Presdir yang Kembali untuk Menyelamatkanku   Bab 1. Awal Kisah

    Di rumah besar nan megah inilah Nayra tinggal saat ini. Nayra menikah dengan seorang pejabat kaya raya yang bernama Satria Hadi Utama. Nayra menjadi gadis pelunas hutang, karena ia telah dijual oleh bibinya sendiri pada Satria.Paras cantik dan anggunnya Nayra, membuat Satria tertarik, dan tentu saja berniat membelinya. Awal mula hal ini terjadi, karena Nayra diminta untuk membayar semua utang-utang bibi angkatnya.Satria adalah seorang pejabat ternama, dengan kekayaan yang bergelimang. Mau tak mau, Nayra harus merelakan diri, menjadi istrinya, dan melayaninya.“Pakailah isi dalam handbag itu! Aku ingin kau memakainya malam ini!” pinta Satria.“Apalagi ini, Mas?” Nayra memegang handbag itu.“Pakai saja, aku ingin sensasi baru malam ini.”“B-baik, Mas,” Nayra nampak kaget, ketika melihat isi di dalam handbag itu.Lagi-Lagi Satria melakukan hal-hal aneh yang Nayra tak suka. Satria memberikan pakaian seksi dan ketat, yang harus Nayra turuti. Jika tidak, Nayra akan habis disiksa dan dicac

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status