Home / Horor / Pesugihan Kandang Bubrah / 29. Hujan Pertanda

Share

29. Hujan Pertanda

Author: Ndraa Archer
last update Last Updated: 2024-11-25 16:03:52

Ibu Gibran menatap ragu. "Tapi... kalau benar ada sesuatu—" ujarnya terputus.

“Tidak ada yang boleh takut pada darah dagingnya sendiri,” potong Arif, mencoba menenangkan suasana.

Wanita itu masih ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk dengan berat hati. Bersama-sama, mereka masuk ke ruangan itu, meninggalkan Gibran yang masih berdiri kaku. Dengan langkah berat, mereka berdua memasuki ruangan tempat Amira dimandikan.

Di dalam  suasana dingin menyelimuti. Bau bunga kemboja bercampur aroma kemenyan memenuhi udara. Tubuh Amira terbaring di atas balok kayu yang di lapisi tikar, tubuhnya masih berselimutkan kain. Namun, mata terbuka lebar, kosong, menatap langit-langit. Arif menarik napas panjang berusaha menenangkan dirinya.

"Ya Allah..." desah ibu Gibran. Tubuhnya gemetar, namun dia tetap berdiri di sisi Arif.

Arif mendekati jenazah Amira, lututnya hampir goyah

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pesugihan Kandang Bubrah   30. Kantil Kuncup di Balik Kain kafan

    Bu Saminah menatap ke sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar. "Waktu saya mandikan jenazah tadi, ada sesuatu yang aneh."Lila merasakan bulu kuduknya berdiri. "Apa maksud Ibu?" tanya Lila memastikan.Bu Saminah mendekatkan suaranya lebih pelan lagi. "Setelah Mas Arif menutup mata Amira dan kain kafan hampir selesai dipasang... saya menemukan bunga kantil kuncup di bawah tubuhnya."Lila terdiam, matanya melebar. "Apa? Bunga kantil?""Ya," Bu Saminah mengangguk dengan wajah penuh ketakutan. "Padahal waktu itu air belum disiramkan ke tubuhnya. Tidak mungkin ada bunga di situ sebelumnya."Lila memandang jenazah Amira yang di pikul di depan rombongan, pikirannya berputar. Bunga kantil dikenal sebagai bunga mistis yang sering diasosiasikan dengan kehadiran makhluk halus. Apalagi bunga itu kuncup, seperti menyimpan sesuatu yang belum terungkap."Kau yakin?"

    Last Updated : 2024-11-25
  • Pesugihan Kandang Bubrah    31. Bisikan Malam Ketiga

    Setelah pemakaman Amira, desa menjadi riuh dengan gosip. Hujan deras, desisan aneh, hingga perubahan tanah liang lahat yang tiba-tiba membuat warga berbisik-bisik penuh kecurigaan. Nama Arif dan Gibran sering disebut dalam percakapan mereka.Di warung kopi yang menjadi tempat berkumpul warga, suasana panas."Sudah lama aku curiga," ujar seorang bapak tua sambil menyeruput kopinya. "Gibran itu sombongnya bukan main. Tapi lihat sekarang, malah dia yang kena sial.""Benar sekali," sahut yang lain. "Kau dengar kan? Dia dulu ingin menikah dengan Lila, tapi Lila malah memilih Arif. Aku dengar-dengar, dia sampai menghina Arif habis-habisan di keluarga Mahoni.""Kalau benar begitu, pantas saja Arif marah. Tapi kok jadi Amira yang meninggal?" seorang perempuan menambahkan, matanya menyipit curiga.Gosip itu terus berkembang, menempatkan Gibran sebagai sasaran utama. Warga mulai percaya bahwa Gibran adalah penyebab rentetan kejadian buruk yang menimpa keluarga Mahoni. Bahkan beberapa mengatakan

    Last Updated : 2024-11-26
  • Pesugihan Kandang Bubrah   32. Jejak Karma di Desa Misahan

    Sejak malam ketiga kematian Amira, kehidupan di Desa Misahan berubah menjadi penuh kecurigaan dan ketakutan. Peristiwa kesurupan Lastri menjadi topik hangat yang tidak kunjung reda. Tidak ada yang berani berbicara langsung pada Gibran, namun bisik-bisik tentang "Kutukan keluarga Mahoni" terdengar di mana-mana.Di rumah keluarga Mahoni, suasana semakin tegang. Gibran terus mengurung diri di kamarnya, sementara Ibunya berusaha mati-matian menjaga wibawa keluarga. Namun, gosip yang berkembang membuat keluarga Mahoni kehilangan martabat di mata warga.Ibunya Gibran memandang rumahnya yang sepi. Kehilangan Amira masih terasa begitu pahit. Dia tidak tahu harus memercayai apa gosip warga atau firasatnya sendiri. Namun, satu hal yang dia tahu pasti: keluarganya semakin terpuruk.“Aku harus bicara dengan Arif,” gumam Ibunya Gibran suatu pagi, setelah mendengar tetangga menyebut-nyebut nama keponakkan almarhum Bintan Mahoni suaminya.Dia mendatangi rumah Arif, yang kini menjadi salah satu rumah

    Last Updated : 2024-11-26
  • Pesugihan Kandang Bubrah   33. Pertarungan Batin di Desa Misahan

    Setelah kejadian kesurupan Bu Saminah dan gosip yang semakin menyebar, suasana di Desa Misahan benar-benar mencekam. Ustadz Harman mulai bergerak untuk menenangkan warga dan mencari solusi atas kegaduhan ini. Dia mengumpulkan para tokoh masyarakat di surau, termasuk Pak Suryanto, ayah Lila. Dalam pertemuan itu, Ustadz Harman berusaha mengingatkan mereka untuk menjaga suasana tetap kondusif dan tidak memperburuk keadaan dengan gosip yang tidak berdasar.“Saudara-saudaraku, jangan kita lupakan akhlak kita sebagai orang beriman. Apa pun yang terjadi di keluarga Mahoni, itu adalah urusan mereka. Jangan kita menambah dosa dengan menebar fitnah,” ujar Ustadz Harman dengan nada tenang namun tegas.Pak Suryanto, yang selama ini dikenal sebagai orang yang bijak, angkat bicara. “Saya setuju dengan Ustadz. Tapi izinkan saya menambahkan sesuatu. Belakangan ini, nama menantu saya, Arif, sering disebut-sebut dalam gosip yang tidak enak. Saya ingin semua warga tahu, apa pun yang terjadi di keluarga

    Last Updated : 2024-11-26
  • Pesugihan Kandang Bubrah    34. Aku Tidak Balas Dendam  

    Lila menggenggam tangan suaminya. “Arif, balas dendam tidak akan menyelesaikan apa pun. Kalau kau terus seperti ini, kau hanya akan merusak dirimu sendiri. Dan aku tidak mau anak kita lahir di tengah situasi seperti ini.”Kata-kata Lila membuat Arif terdiam. Dia menyadari bahwa apa yang dia lakukan mungkin sudah melampaui batas, dan keluarganya bisa menjadi korban berikutnya.“Aku tidak balas dendam, aku hanya melihat apa yang aku rasakan dahulu Lila. Semua itu bukan kehendakku.” Arif mengelak tuduhan Lila.Keesokan harinya, Ustadz Harman memutuskan untuk melakukan pendekatan yang lebih tegas. Dia mengundang Gibran dan Ibunya ke surau untuk berbicara secara langsung. Dia ingin tahu semua detail tentang apa yang terjadi di keluarga mereka.“Ceritakan semuanya tanpa ada yang disembunyikan,” kata Ustadz Harman. “Kalau kita ingin menyelesaikan masalah ini, saya perlu tahu akar permasalahannya.”Gibran, meskipun awalnya ragu-ragu, akhirnya menceritakan semuanya. Dia mengaku pernah menghina

    Last Updated : 2024-11-27
  • Pesugihan Kandang Bubrah   35. Rencana Baru Arif

    Beberapa bulan setelah keguguran kedua yang dialami Lila, suasana di rumah Arif terasa semakin penuh dengan tekanan. Lila, yang masih sangat terpukul, terus mengeluh tentang keputusannya yang mengorbankan masa depan mereka demi reputasi Arif. Arif juga mulai merasa terjepit, kutukan yang terus beredar di desa, desas-desus mengenai masa lalu keluarganya, serta ancaman yang belum sepenuhnya reda.Arif memandang Lila dengan wajah yang tegang, memikirkan solusi yang mungkin bisa menyelesaikan masalah mereka. Lila menangis di sudut ruangan, tubuhnya membungkuk dan matanya bengkak.“Lila, kita harus bicara.” Arif memulai, nadanya tenang namun penuh tekanan.Lila menatap Arif, terkejut, lalu menghapus air matanya. “Tentang apa, Arif? Kau tahu aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku merasa aku yang menyebabkan semua ini.”Arif menghela napas panjang. “Lila, kita tidak bisa terus begini. Mungkin, jika kita mengambil langkah yang berbeda, semua ini akan berubah.”Lila menatap Arif dengan tat

    Last Updated : 2024-11-27
  • Pesugihan Kandang Bubrah    36. Melepaskan Satu Nyawa Untuk Satu Kehidupan

    Suara ketukan jam dinding bergema di ruangan sunyi itu. Lila duduk di sofa dengan perut yang semakin membesar, tangannya mengelus perutnya perlahan. Arif, di seberang meja, terlihat gelisah, matanya bolak-balik memandang jendela dan lantai.“Arif,” suara Lila memecah keheningan, lemah tapi penuh tekanan. “Kau sudah janji, kan? Tidak ada lagi yang aneh-aneh. Fokus kita cuma anak ini.”Arif mendongak, berusaha tersenyum tapi wajahnya pucat. “Tentu saja, Lila. Aku akan memastikan semuanya baik-baik saja.”Lila memandangnya tajam. “Kau bilang begitu sejak dulu, tapi lihat apa yang terjadi? Dua anak kita… mereka—” suara Lila serak, tenggorokannya tercekat.“Aku tahu.” Arif memotong, suaranya tiba-tiba lebih tegas. “Tapi kali ini berbeda. Kita sudah melakukan segalanya dengan benar. Ini akan berhasil.”

    Last Updated : 2024-11-28
  • Pesugihan Kandang Bubrah   37. Rumah yang Tak Pernah Usai

    Rumah mereka kini lebih besar dari sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang ganjil, pagar depan belum selesai, satu ruangan di lantai atas tak pernah diberi pintu dan dapur baru hanya setengah jadi. Lila memperhatikan setiap detail itu dengan rasa gelisah yang kian hari kian membesar.“Arif, kenapa dapur itu belum selesai lagi?” tanya Lila saat mereka duduk di ruang makan, menatap secangkir teh yang dingin.Arif, yang sibuk memeriksa catatan renovasi, hanya mendongak sekilas. “Nanti, Lila. Tukangnya sibuk. Lagipula, kita bisa tunggu sebentar.”Lila menyipitkan mata, meletakkan cangkirnya dengan suara berdenting. “Sebentar? Ini sudah berbulan-bulan, Arif. Kamu terus mulai proyek baru tapi tak pernah menyelesaikannya.”Arif menghela napas, mencoba tersenyum. “Semua akan selesai pada waktunya. Jangan terlalu dipikirkan.”“Tapi aku pikirkan, Arif,” suara Lila mulai meninggi, mencerminkan kecemasannya. “A

    Last Updated : 2024-11-28

Latest chapter

  • Pesugihan Kandang Bubrah   210. Jejak yang Terkubur  

    Pagi itu, Lila duduk diam di kursi kayu di teras rumah Ustadz Harman.Kopi di tangannya sudah dingin. Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali menyesapnya.Pikirannya masih dipenuhi dengan kata-kata Jatinegara semalam."Ayah bilang… aku akan bertemu mereka semua… sebentar lagi."Siapa yang dia maksud?Lila mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan kegelisahan. Dia tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut.Jika pesugihan ini belum sepenuhnya hilang, maka mereka harus menghancurkannya sampai ke akar.Tak lama kemudian, Dimas dan Ustadz Harman keluar dari dalam rumah, wajah mereka sama seriusnya."Kita harus mulai menelusuri asal mula perjanjian ini," kata Ustadz Harman. "Tapi ini bukan sesuatu yang mudah."Dimas menyandarkan tubuhnya di dinding. "Apa kita sudah punya petunjuk?"Ustadz Harman mengangguk. "Aku ingat sesuatu. Dulu, Arif pernah bercerita bahwa keluarganya berasal dari sebuah des

  • Pesugihan Kandang Bubrah   209. Bayangan yang Masih Mengintai

    Sudah tiga hari sejak mereka meninggalkan Kandang Bubrah.Lila mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah berakhir. Bahwa Arif telah pergi dan pesugihan itu sudah hancur.Tapi setiap kali malam tiba, perasaan aneh menyusup ke dalam dirinya.Seolah ada sesuatu yang masih mengawasi.Seolah ada mata yang terus menatap dari dalam kegelapan.***Malam itu, Lila berdiri di depan cermin di kamar tamunya di rumah Ustadz Harman.Matanya menatap pantulan dirinya sendiri, mencari sesuatu yang tidak beres.Entah sejak kapan, ia merasa… berbeda.Ada sesuatu di dalam dirinya yang mengatakan bahwa ini belum benar-benar selesai.Di atas ranjang, Jatinegara sudah tertidur pulas, wajahnya terlihat damai.Tetapi Lila tahu.Anaknya telah berubah. Bukan perubahan yang bisa dilihat orang biasa.

  • Pesugihan Kandang Bubrah   208. Luka yang Tak Terlihat

    Lila masih berlutut di tanah, tangannya erat menggenggam Jatinegara. Air matanya mengalir deras, tetapi tidak ada suara tangisan yang keluar dari bibirnya.Di depannya, tempat yang dulunya adalah Kandang Bubrah kini hanya tanah kosong, seolah-olah tidak pernah ada apa pun di sana sebelumnya.Tidak ada rumah.Tidak ada gerbang.Tidak ada jejak keberadaan makhluk-makhluk yang pernah menguasai tempat itu.Dan tidak ada Arif.Dimas berdiri di sampingnya, napasnya masih tersengal akibat berlari. Ia menoleh ke Ustadz Harman yang berdiri diam, matanya tertuju pada tempat yang baru saja mereka tinggalkan."Sudah berakhir, kan?" tanya Dimas pelan.Ustadz Harman tidak langsung menjawab. Ia menatap tanah kosong itu lama, lalu mengangguk perlahan."Ya… tapi ada harga yang harus dibayar."

  • Pesugihan Kandang Bubrah   207. Pilihan Terakhir

    Tanah di bawah kaki mereka terus bergetar, semakin keras, seolah-olah ada sesuatu yang akan muncul dari dalam kegelapan.Sosok-sosok tak bernyawa yang mengelilingi mereka mulai bergerak lebih cepat, langkah-langkah mereka tidak menimbulkan suara, tetapi udara di sekitarnya bergetar oleh keberadaan mereka.Dimas mencengkeram bahu Lila. "Kita harus keluar dari sini, sekarang!"Tapi ke mana?Di mana jalan keluar?Arif masih berdiri di tengah kegelapan, tersenyum, seolah menikmati penderitaan mereka."Kalian tidak bisa lari," katanya, suaranya terdengar tenang, tetapi menusuk seperti pisau tajam. "Tempat ini akan tetap ada… selama dia masih hidup."Mata Arif beralih ke Jatinegara.Jatinegara menggigil dalam pelukan Lila. "Ibu… aku takut…"Lila merasakan jantungnya seperti diremas.

  • Pesugihan Kandang Bubrah   206.  Kandang Jiwa yang Terkurung

    Gerbang kayu besar itu menutup dengan suara menggelegar, seolah ada sesuatu yang mengunci mereka di dalam.Lila menahan napas. Udara di dalam Kandang Bubrah lebih berat dibandingkan dengan di luar. Ada bau tanah basah bercampur anyir yang menusuk hidung, membuatnya hampir muntah.Jatinegara menggenggam tangan Lila lebih erat. Anak itu berbisik pelan, "Ibu… kita tidak sendiri di sini."Lila menoleh ke arah Jatinegara. Matanya.Mata Jatinegara berubah lagi, hitam pekat. Lila hampir menjerit. Tapi sebelum ia bisa bergerak, suara Arif kembali terdengar."Lila…" Mereka semua menoleh.Arif masih berdiri di depan mereka. Tapi kini, senyumnya lebih lebar, terlalu lebar untuk ukuran manusia."Akhirnya kau datang," bisiknya. "Aku sudah menunggumu begitu lama."Lila merasakan kakinya melemas.

  • Pesugihan Kandang Bubrah   205. Pintu ke Neraka  

    Angin dingin berembus pelan saat Lila, Dimas, Ustadz Harman, dan Jatinegara meninggalkan rumah Mbah Niah. Udara di Desa Srengege terasa semakin berat, seolah mereka baru saja membuat kesepakatan dengan sesuatu yang tidak terlihat.Di genggaman Lila, kain hitam pemberian Mbah Niah terasa dingin, seolah menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar perlindungan."Kandang Bubrah ada di mana?" tanya Dimas, suaranya terdengar serak.Mbah Niah berdiri di ambang pintu rumahnya, tatapannya tajam ke arah jalanan berkabut. "Kalian hanya perlu mengikuti jalan ini."Lila menatap jalanan setapak yang terbentang di depan mereka. Jalur itu gelap, diselimuti kabut pekat yang menggantung rendah di atas tanah."Begitu kalian melewati batas Desa Srengege," lanjut Mbah Niah, "kalian tidak akan berada di dunia ini lagi."Lila menelan ludah. "Maksudmu?"Mbah Niah

  • Pesugihan Kandang Bubrah   204. Perjanjian dengan Mbah Niah

    Wanita berkebaya hitam itu berdiri diam di tengah jalan. Rambutnya panjang, menutupi sebagian wajahnya.Namun, saat ia perlahan mengangkat kepala, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya—bukan senyum ramah, melainkan senyum yang menyimpan sesuatu yang lebih dalam.Lila merasakan udara di sekitarnya menjadi berat. Jantungnya berdegup kencang hingga ia hampir merasa sesak.Dimas menyalakan senter dan mengarahkannya ke wanita itu, tetapi anehnya… cahaya tidak mampu menyentuh sosoknya. Seolah wanita itu berdiri di dimensi yang berbeda dari mereka."Dia siapa?" bisik Lila.Ustadz Harman tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang, matanya tajam menatap wanita itu."Mbah Niah," sapanya dengan suara datar.Wanita itu menyeringai, sedikit lebih lebar. "Sudah lama aku menunggu kalian."Su

  • Pesugihan Kandang Bubrah   203. Jembatan yang Tak Terlihat

    Lila berdiri di tepian jurang, jantungnya berdetak begitu kencang hingga hampir terasa menyakitkan.Di hadapannya, Ustadz Harman berdiri tegak di atas sesuatu yang tak kasat mata. Seolah-olah ada lantai yang menyangga tubuhnya, meskipun yang terlihat hanyalah kegelapan yang menganga lebar."Jangan ragu," kata Ustadz Harman dengan suara tenang. "Jika kau ragu, kau akan jatuh."Lila menelan ludah. Tangannya berkeringat saat menggenggam erat Jatinegara, yang berdiri diam di sampingnya.Dimas menyalakan senter dan mengarahkannya ke depan. Cahaya terang itu melayang… tanpa menyentuh apa pun. Seolah-olah tidak ada yang bisa dipijak."Ini gila," gumamnya. "Tidak ada jembatan di sini."Ustadz Harman menoleh padanya. "Tidak terlihat, bukan berarti tidak ada."Lila menarik napas dalam. Tidak ada pilihan lain.Ia menatap wajah Jatinegara yang pucat dalam cahaya remang. "Jati, kamu percaya sama Ibu?"Jatinegara mengangguk pelan.Lila menggenggam tangannya lebih erat. Lalu…Ia mengangkat kakinya d

  • Pesugihan Kandang Bubrah   202. Gerbang Menuju Kegelapan

    Langit telah sepenuhnya gelap ketika Lila, Dimas, Ustadz Harman, dan Jatinegara tiba di jalan setapak yang menuju hutan tempat Desa Srengege konon berada.Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang membusuk. Lila mengeratkan genggamannya pada tangan Jatinegara, sementara Dimas menyalakan senter untuk menerangi jalan.Ustadz Harman berjalan paling depan. Suaranya tenang, tapi tegas. "Sekali kita masuk, kita tidak bisa berbalik sebelum waktunya tiba."Lila menelan ludah. "Berarti… kita hanya bisa keluar setelah ritual selesai?"Ustadz Harman mengangguk. "Benar. Desa Srengege hanya muncul di malam Jumat Kliwon, dan akan menghilang sebelum fajar. Jika kita masih ada di dalam saat matahari terbit… kita tidak akan pernah kembali."Lila merasakan jantungnya mencelos.Dimas menoleh ke arah mereka. "Kalau begitu, kita harus cepat."Ustadz Harman melangkah ke depan, dan mereka mengikuti.Langkah pertama memasuki hutan terasa

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status