Beranda / Horor / Pesugihan Genderuwo / 80. Penyakit tidak Wajar

Share

80. Penyakit tidak Wajar

Penulis: Wenchetri
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-07 17:08:48

"Mas Bagas! Kamu kenapa?"

Ratih mengguncang pelan tubuh Bagas yang tertidur di atas meja makan. Wajahnya penuh kekhawatiran.

"Mas, kamu lagi sakit?" tanyanya cemas.

Bagas membuka matanya perlahan, terlihat bingung. "Aku tadi... tertidur?"

"Iya, Mas! Tiba-tiba aja kamu ketiduran," jawab Ratih dengan nada lembut.

Bagas mengerutkan kening, seolah berusaha mengingat sesuatu. "Kyai Ahmad tadi ke sini?" tanyanya tiba-tiba, membuat Ratih terkejut.

"Nggak, Mas. Kyai nggak pernah ke sini," jawab Ratih sambil mengerutkan alis, bingung dengan pertanyaan suaminya.

Bagas memandangi meja di depannya, lalu bergumam pelan, nyaris tak terdengar. "Jadi... aku cuma mimpi? Tapi kenapa mimpinya begitu aneh?"

Ratih menatapnya dengan sorot mata penuh tanya. "Mimpi apa, Mas?"

Namun, Bagas tidak menjawab. Hanya diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Kemudian, Bagas berdiri. Dia berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke ladang. Langkahnya dan pikirannya masih bertolak belakang. Mimpi itu tampak ny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Pesugihan Genderuwo   81. Terbelenggu

    Nada bicaranya bergetar tapi keberanian di matanya terlihat jelas. Semua petani terdiam. Udara terasa berat, seperti badai yang akan meledak. Bagas memandang tajam petani itu. Matanya menyala penuh amarah. "Kamu bilang apa tadi?!" Suaranya rendah, penuh ancaman. "Juragan saya hanya mendengar! Nggak lebih!" Petani itu mundur satu langkah. Tetapi, Bagas menghampirinya dengan langkah cepat. "Kalau begitu, dengar ini baik-baik!" Bagas langsung menampar wajah petani itu dengan keras. Membuatnya tersungkur ke tanah. Tidak puas, Bagas menendang beberapa kali. "Maaf, Juragan! Ampun!" Petani itu memohon sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Bagas membungkuk, mencengkeram kerah baju petani tersebut. Lalu, menariknya hingga wajah mereka sejajar. "Kamu punya istri, kan?" "I—iya, Juragan!" jawabnya terbata-bata. "Punya anak juga?" Bagas bertanya lagi, nadanya dingin. "I—iya, Juragan ...." Bagas mendorong petani itu hingga jatuh lagi ke tanah. "Mulai sekarang, kamu nggak kerja

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-07
  • Pesugihan Genderuwo   82. Keputusan Berat

    "Ki, saya bingung. Kenapa nafsu saya terhadap makanan mentah semakin tak terkendali?" tanya Bagas dengan cemas. Ki Praja menatapnya datar. "Daging?" tanyanya. "Iya, Ki! Setiap kali melihat daging, perut saya langsung lapar! Percuma punya uang banyak, tapi nggak bisa makan yang lain!" keluh Bagas. Ki Praja menarik napas panjang. "Itulah risikonya. Ingat, Le, kamu dan Genderuwo sudah menjadi satu. Nafsu kalian pun kini terikat. Ini akibat perjanjian yang kau buat," jelas Ki Praja dengan tenang. Bagas terdiam mendengar penjelasan Ki Praja. Rasa cemas dan bingung semakin mencekam dirinya. Dia merasa seolah terperangkap dalam keputusan yang pernah ia buat tanpa benar-benar memahami akibatnya. Hatinya bergejolak, tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. "Jadi, ini memang tak bisa dihentikan?" tanya Bagas, suaranya terdengar lemah. Ki Praja mengangguk pelan. "Setiap perjanjian ada harga yang harus dibayar. Hawa nafsu yang menguasai tubuhmu itu adalah bagian dari pengikatan mu den

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-07
  • Pesugihan Genderuwo   83. Gantung Diri

    "Mas Agung! Kenapa Mas tega ninggalin aku?!" Suara tangis istrinya memecah keheningan, menggema di antara bayangan tubuh yang tergantung kaku.Tetangga mulai berdatangan, wajah mereka penuh rasa cemas."Ayo-ayo, cepat bantu turunkan jasadnya!" seru seorang pria sambil menunjuk ke arah tali."Ambil kursi! Potong talinya dulu!" sahut yang lain.Mereka bergotong-royong menurunkan tubuh Agung yang tergantung di balok kayu. Saat tubuhnya akhirnya terbaring di lantai, istrinya langsung memeluk jasad itu dengan tangisan memilukan."Mas Agung! Kenapa tega ninggalin aku?!" jerit istrinya sambil tersedu.Seorang ibu-ibu memberanikan diri mendekat."Mbak, kok bisa nggak tahu kondisi Mas Agung?" tanyanya lirih.Istri Agung hanya menangis, tubuhnya bergetar, tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya. Tetangga mulai berbisik-bisik, suara mereka semakin lantang."Eh, Bu! Ku rasa ini gara-gara istrinya, deh," ujar seorang wanita sambil melirik tajam."Kok bisa begitu?" sahut yang lain penasaran."Iya,

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-08
  • Pesugihan Genderuwo   84. Rumah Duka

    "Juragan! Agung meninggal gantung diri!" seru seorang petani yang baru tiba di ladang dengan wajah panik. Bagas, yang tengah duduk santai di bawah pohon sambil menikmati rokoknya, hanya melirik sekilas. Bukannya menunjukkan rasa kaget atau iba. Dia justru menyunggingkan senyum tipis, senyum yang lebih terasa seperti ejekan. Bagas menghembuskan asap rokok perlahan, lalu berkata dengan nada datar, "Ya sudah, ngapain laporan sama saya?" Petani itu terdiam, bingung harus merespons bagaimana. Sementara Bagas, tanpa sedikit pun terganggu, kembali menikmati rokoknya, seolah kabar itu bukan apa-apa baginya. "Di sana lagi ricuh bicarakan Juragan!" ucap si petani, nadanya seolah sengaja ingin memancing emosi Bagas. Bagas menghentikan gerakannya sejenak, lalu mematikan puntung rokoknya dengan cepat. Wajahnya yang tadi terlihat santai berubah drastis. Tatapan dingin berganti dengan sorot penuh amarah, sementara langkahnya langsung tegap dan tergesa. Tanpa sepatah kata, Bagas bergegas meni

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-08
  • Pesugihan Genderuwo   85. Ratapan

    "Mas, maafkan aku!" Istri Agung menangis tersedu di atas batu nisan suaminya. Tangannya gemetar saat mengusap tulisan nama yang terukir di sana. Air matanya mengalir deras, menyatu dengan tanah merah yang masih basah. Ratih duduk di sampingnya, ragu-ragu, tetapi tetap mencoba memberikan dukungan. "Mbak, ikhlaskan suaminya, ya. Biar lapang jalannya di sana," ujarnya dengan nada lembut. Namun, Istri Agung tiba-tiba menoleh dengan tatapan liar. Matanya yang sembab dan merah penuh amarah. "Apa kamu?! Pergi kamu sana! Ini semua karena kalian!" teriaknya, suaranya pecah seperti lonceng yang retak. Ratih terkejut dan mundur beberapa langkah, tetapi sebelum dia bisa merespons, Istri Agung sudah berdiri. Dia mulai mengacak-acak rambutnya sendiri, berteriak-teriak seperti orang kehilangan akal. "Semua ini salah kalian! Salah kalian semua! Kenapa suamiku? Kenapa bukan kalian yang mati?! Kenapa?!" jeritnya, tangannya meraih gumpalan tanah dan melemparkannya ke arah para pelayat yang menc

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-08
  • Pesugihan Genderuwo   86. Depresi

    "Jangan ambil suamiku!"Istri Agung semakin larut dalam depresinya. Tingkah lakunya kian hari kian menunjukkan tanda-tanda kehilangan akal sehat. Dia sering berbicara sendiri, tertawa di tengah tangis, atau bahkan memeluk foto suaminya dengan erat, seolah-olah Agung masih hidup.Kini, dia benar-benar hidup seorang diri. Anak tirinya menolak tinggal bersamanya dan lebih memilih menetap di kota bersama keluarga dari ibunya—istri pertama Agung yang telah lama meninggal. Rumah itu pun semakin terasa sunyi, hanya diisi oleh suara rintihan dan jeritan malam Istri Agung yang menggema tanpa jawaban."Mas Agung ... Kemana kamu!"Suara Istri Agung melengking, penuh dengan kegelisahan dan emosi yang tak terkendali. Dia berbicara dengan nada bahagia, lalu seketika berubah menjadi tangisan yang memilukan, seakan hatinya diaduk-aduk oleh kenangan dan kesedihan.Ratih yang kebetulan melintas di dekat rumahnya melihat sesuatu yang mengejutkan. Istri Agung sedang jongkok di tanah, mencabut dan memak

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-08
  • Pesugihan Genderuwo   87. Kobaran Api

    "Tolong... tolong!"Suara teriakan warga memecah keheningan malam, membangunkan penduduk desa dari tidur mereka. Dentingan kelontongan dipukul keras, menggema di tengah gelap."Api! Rumah almarhum Agung terbakar!" seru seseorang dengan panik.Langit malam memerah, diterangi kobaran api yang semakin membesar. Asap hitam mengepul ke udara, menyesakkan napas siapa saja yang berada di dekatnya."Air! Cepat ambil air!" teriak beberapa warga sambil berlarian, membawa ember dan alat seadanya untuk memadamkan api.Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah suara memekik dengan nada putus asa. "Istri Agung masih di dalam!" ujar salah seorang warga dengan wajah penuh ketakutan.Semua orang tersentak. Tatapan mereka tertuju pada rumah yang sudah hampir dilalap api. Namun, tak ada yang cukup berani untuk masuk. Hanya jeritan dan kekacauan yang terus terdengar di malam mencekam itu.Teriakan itu sampai ke telinga Bagas dan Ratih yang tengah berada di dalam rumah."Mas, itu kayaknya ada kebakaran!" Rat

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-09
  • Pesugihan Genderuwo   88. Jadi Makanan Genderuwo

    "Astagfirullah, ini jasad istri Agung?!" seru seorang pria dengan wajah pucat.Di hadapan mereka, tubuh itu hangus terbakar. Kulitnya menempel pada tulang, sebagian besar sudah meleleh hingga tak berbentuk. Wajahnya sama sekali tidak bisa dikenali.Namun, beberapa helai rambut yang tersisa di kepala memberi petunjuk siapa dia. Pemandangan itu begitu mengerikan, membuat beberapa orang warga yang melihat langsung berpaling karena tak sanggup menahan rasa mual."Ya Allah, mengenaskan sekali," bisik seorang wanita tua dengan suara gemetar."Ini benar-benar tragis," sahut pria lain sambil menutup hidungnya dengan kain karena bau menyengat dari jasad itu.Warga mulai berbisik-bisik, menyaksikan pemandangan memilukan di depan mereka. Rumah dan mayat itu tampak seakan menjadi satu warna, hitam dan abu-abu, seperti melambangkan akhir hidup yang penuh kesedihan."Aku rasa dia bakar rumahnya sendiri, Bu," bisik seorang wanita berkerudung kepada tetangganya."Iya," sahut wanita lain. "Tadi pagi a

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-10

Bab terbaru

  • Pesugihan Genderuwo   256. Ratih dan Anak Kembarnya

    "Jagat... Kala, hentikan!"Suasana begitu mencekam.Ratih berdiri dengan tubuh gemetar, matanya tak bisa lepas dari pemandangan mengerikan di hadapannya. Jagat dan Kala sedang melahap beberapa kambing hidup. Daging dan darah segar berceceran, memenuhi tanah kandang ternak.Mereka seperti binatang buas yang kelaparan. Tidak—mereka lebih dari itu. Mereka bukan lagi manusia sepenuhnya.Walaupun Kala tampak lebih normal, tetap saja sifat iblis mengalir dalam darahnya, sama seperti Jagat, kakaknya.Kala menoleh dengan mulut berlumuran darah."Ini enak, Bu. Mau coba?"Suara itu tidak keluar dari mulutnya—suara itu menggema di dalam kepala Ratih.Ratih melangkah mundur, tangannya mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Mata kedua anaknya semakin tajam, semakin menyeramkan.Dan yang lebih menakutkan—mereka bahkan tidak ragu untuk menyerangnya."Jagat... Kala! Hentikan perbuatan kalian!"Ratih berteriak, suaranya menggema di kandang ternak milik seorang warga yang baru saja pindah ke desa Sumb

  • Pesugihan Genderuwo   255. Gila?

    "Jangan...!"Napas Ratih memburu, memenuhi ruangan yang kini terasa semakin sempit. Tubuhnya gemetar hebat, peluh membasahi pelipisnya."Tidak mungkin... Ini tidak akan terjadi!"Ratih berdiri dari duduknya dengan tergesa, tangannya meraih teko air di atas meja dan meneguk beberapa gelas sekaligus. Namun, rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda."Mimpi itu datang lagi!"Tangan Ratih semakin gemetar. Keringat dingin mengalir deras di punggungnya. Kenapa dia selalu bermimpi buruk tentang masa depan? Mengapa bayangan Jagat dan Kala yang berubah menjadi sosok mengerikan selalu menghantuinya?Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Namun, pikirannya terus berkecamuk."Tidak mungkin ini akan terjadi, kan? Apa yang harus aku lakukan jika semua itu benar-benar terjadi?"Krek!Ratih terperanjat.Suara itu datang dari belakangnya—suara seperti kuku yang mencakar kayu.Krek!Kali ini suara itu semakin jelas. Seolah-olah sesuatu sedang merayap mendekat.Ratih membeku. Tangannya men

  • Pesugihan Genderuwo   254. Amukan massa

    “Bakar rumahnya!”Teriakan itu menggema di sepanjang gang sempit menuju rumah kontrakan Ratih. Puluhan warga dari Desa Sumberarum dan Karangjati berkumpul dengan wajah penuh amarah. Beberapa membawa obor, yang lainnya menggenggam golok, kayu, atau batu. Mereka datang bukan untuk berdialog, melainkan untuk menghakimi."Keluar, Ratih! Jangan sembunyikan lagi anak-anak setanmu itu!"Suara-suara itu semakin mendekat. Ratih yang berada di dalam rumah segera meraih kedua anak balitanya, Jagat dan Kala, lalu berlari ke dalam kamar.“Diam ya, Nak… jangan bersuara,” bisiknya dengan napas memburu.Tangannya gemetar saat membuka lemari pakaian kayu yang mulai lapuk. Dia memasukkan kedua anaknya ke dalam, lalu menutup pintunya pelan."Jangan keluar sampai Ibu bilang, ya?" suaranya nyaris berbisik.Jagat dan Kala menatapnya dengan mata bulat mereka yang hitam pekat. Mereka tidak menangis, tidak bersuara.Ratih menarik napas dalam, lalu berbalik. Di luar, suara warga semakin memanas.Braak! Braak!

  • Pesugihan Genderuwo   253. Rahasia

    Ratih melangkah perlahan memasuki kediaman Kiai Ahmad. Hatinya diliputi kegelisahan, tetapi dia berusaha menenangkan diri. Dua hari telah berlalu sejak Kiai Ahmad dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian mengerikan di pendopo. Ratih masih belum bisa melupakan peristiwa itu, terutama sosok dua anaknya yang dia lihat di sana.Namun, kali ini dia memilih diam.Di dalam rumah, dia melihat Kiai Ahmad sedang beristirahat di dipan, tubuhnya dipenuhi perban. Luka-luka yang tampak di lengan dan wajahnya membuat dada Ratih semakin sesak."Kiai, bagaimana keadaannya?" tanyanya dengan suara pelan.Seorang perempuan muda yang duduk di dekat Kiai Ahmad menoleh. Dia adalah anak perempuan Kiai Ahmad, seorang wanita yang terlihat kuat namun tetap lembut dalam sikapnya."Ini sudah lebih baik, Mbak Ratih," jawabnya dengan senyum tipis.Ratih mengangguk. "Syukur alhamdulillah," ucapnya lega, meskipun di dalam hati, dia masih menyimpan banyak pertanyaan.Dia duduk di kursi kayu yang berada di samping tem

  • Pesugihan Genderuwo   252. Hal Yang Aneh

    "Ada apa itu?""Sepertinya dari rumah Pak Windra!"Suara teriakan dari arah ladang membuat Ratih tersentak. Warga desa yang masih berkumpul di pendopo pun langsung menoleh.Beberapa warga segera berlari ke arah sumber suara. Ratih berdiri mematung, tubuhnya seakan tidak bisa digerakkan. Jagat dan Kala masih berdiri di tempat yang sama, menatapnya dengan senyum aneh itu."Ayo-ayo kita kesana!""Iya, ada apa di sana?"Ratih tidak mau tahu. Dia harus pergi ke rumah Pak Windra! Dia harus memastikan.Dengan cepat, Ratih berlari menyusul warga yang sudah lebih dulu sampai. Ketika dia tiba di sana, teriakan histeris memenuhi udara."Ya Allah, Pak Windra!"Ratih menyibak kerumunan dan langsung terkejut.Pak Windra tergeletak di tanah dengan mata membelalak ketakutan. Tubuhnya penuh luka, robek di sana-sini, dan yang paling mengerikan—darah menggenang di sekitar lehernya yang hampir putus.

  • Pesugihan Genderuwo   251. Cerita Bagas Kembali mencuat

    "Aku sudah bilang, suami Ratih itu bukan manusia biasa!""Benar! Aku juga pernah melihat sesuatu yang aneh di rumah mereka dulu.""Apa mungkin dia yang membunuh Feri?"Bisikan demi bisikan memenuhi udara malam yang dingin. Warga Desa Karangjati berkumpul di depan pendopo, membicarakan hal yang selama ini tak pernah mereka ungkapkan dengan lantang. Sosok Bagas, yang dulunya hanyalah seorang lelaki pendiam, kini kembali menjadi pusat ketakutan mereka."Genderuwo!" "Wah, itu makhluk terbesar yang pernah aku lihat di ladang Bagas!" Ratih berdiri tak jauh dari kerumunan, tubuhnya lelah dan wajahnya penuh luka cakaran. Darah yang mengering di pipinya terasa perih, namun lebih perih lagi mendengar namanya dan Bagas disebut-sebut sebagai sumber malapetaka."Aku dengar, Bagas dan Ratih dulu sering bertengkar di rumah mereka.""Dia, katanya Ratih ingin pergi, tapi Bagas tak pernah membiarkannya!""Apa jangan-ja

  • Pesugihan Genderuwo   250. Pendopo

    "Astagfirullah, Kiai!"Ratih mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar hebat.Darah.Darah mengalir di lantai kayu, merembes ke sela-sela papan yang mulai lapuk. Tubuh Kiai Ahmad terkulai di atas tikar dengan napas yang tersengal-sengal.Matanya setengah terbuka, tapi pandangannya kosong."Ya Allah, Kiai! Apa yang telah terjadi!" Seluruh tubuhnya dipenuhi luka. Sayatan panjang di dadanya menganga, dan bekas cakaran mencabik kulit di lengannya.Ada sesuatu yang telah menyerangnya.Ratih menutup mulutnya, rasa mual merayap di tenggorokannya.Ini ulah mereka.Jagat dan Kala."Na—Nak Ratih..."Suara Kiai Ahmad bergetar, nyaris tak terdengar.Ratih buru-buru berlutut di sampingnya, berusaha mencari cara untuk menghentikan pendarahan. Namun, darah terus mengalir, membasahi jubah putihnya."Kiai, bertahanlah!" Ratih menahan air matanya. "Saya akan minta bantuan!""A—anak ... anak mu! ha—harus segera—"Dengan tangan gemetar, Ratih berlari ke luar rumah."Tolong! Ada yang bisa membantu?!"Be

  • Pesugihan Genderuwo   249. Cakaran Anaknya

    "Siapa yang telah terbunuh?"Jantung Ratih berdegup kencang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.Tidak... ini tidak mungkin terjadi lagi.Ratih menggigit bibir, mencoba menenangkan napasnya yang tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, pikirannya berkecamuk."Mayat siapa itu? Ke—kenapa...?"Tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat. Tubuhnya terasa kaku, namun ketakutan yang mencekam membuatnya tidak bisa berdiam diri.Dia harus melihatnya.Ratih melangkah maju, lalu berhenti. Ragu.Tangannya gemetar saat dia meraih sebilah pisau di atas meja. Genggamannya erat, seakan itu satu-satunya hal yang bisa melindunginya dari kengerian di balik pintu.Duka dan ketakutan menyelimuti hatinya.Lalu, dengan gerakan perlahan, dia mendorong pintu kamar itu.Kreek...Suara engsel berderit, membuka pemandangan yang membuat Ratih membeku.Darah.Darah ada di mana

  • Pesugihan Genderuwo   248. Hutan Terlarang

    "Ibu... kita di sini!"Suara itu kembali terdengar, menggetarkan udara malam yang dingin. Ratih menoleh ke kanan dan kiri, matanya liar mencari sumber suara. Namun, yang dia temukan hanyalah pepohonan tinggi yang menjulang, menciptakan bayangan gelap yang bergerak seiring tiupan angin."Di sini, Bu... di sini!"Ratih menelan ludah. Suaranya semakin dekat, tapi bayangan kedua anaknya tak juga terlihat.Bagaimana mereka bisa keluar rumah?Jantungnya berdebar kencang. Rasa takut menyusup ke setiap sudut pikirannya."Jagat... Kala!" teriaknya, suaranya bergetar.Namun, hanya sunyi yang menjawabnya.Argh!Sebuah erangan tajam menggema di kegelapan.Ratih terperanjat, tangannya mencengkeram bajunya sendiri. Dia melangkah mundur, matanya liar mencari sumber suara.Tapi tidak ada siapa-siapa.Srek!Sesuatu bergerak di antara dedaunan kering. Ratih menahan napas. Dia tahu dia tidak sendirian di sini."Ibu... kami di sini!"Suara itu kembali terdengar, kali ini dari arah yang berbeda. Ratih mel

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status