“Kami tidak saling kenal.”
Claudia menghela napas, bersyukur Ryuga masih memiliki kebaikan hati. Bisa gawat nasibnya kalau masalah kemarin malam terbongkar!
Namun, detik berikutnya, Claudia mendengar pria itu menambahkan, “Hanya saja, dia tampak amatir.”
Ucapan itu membuat Claudia menatap Ryuga dengan pelipis berkedut. Pria ini … sedang menyindirnya seperti saat kejadian di malam yang lalu!
Tidak terima disindir seperti itu, Claudia membalas, “Saya rasa, Bapak tidak berhak menilai saya seperti itu. Bukankah Bapak tidak mengenal saya? Atas dasar dan bukti apa Bapak bisa menyimpulkan bahwa saya amatir?”
“Apakah ucapan saya menyinggung perasaan Bu Claudia?”
‘YA MENURUT BAPAK!?’ Claudia merengut dalam hatinya sebagai respons ucapan Ryuga.
Bu Yuli sadar bahwa tampaknya terjadi kesalahpahaman. Dia menatap Ryuga lalu Claudia, dan akhirnya memutuskan untuk mengambil alih menjelaskan, “Claudia, maksud Pak Ryuga bukan seperti itu. Pak Ryuga taunya kamu dosen baru di sini, jadi mungkin Pak Ryuga khawatir kamu akan cukup kesulitan memegang program acara gelar seni ini.”
“Terima kasih, Bu Yuli. Anda bisa menangkap kekhawatiran yang saya maksud.” Manik hitam Ryuga tak lepas dari Claudia. “Saya tahu program acara ini sukses besar sebelumnya. Jadi, saya menginginkan hal yang sama di masa mendatang. Itu artinya, butuh seseorang yang profesional agar program ini bisa sukses lebih besar lagi. Seseorang yang tidak akan ‘lari’ dari masalah.”
Mendengar itu Claudia tertawa dalam hati. Dia tidak sebodoh itu sampai tidak menyadari kalau Ryuga sedang mengejeknya, orang yang ‘lari’ dari hotel di malam yang lalu.
Masih enggan mengalah, Claudia membalas, “Seandainya Pak Ryuga ingin mengetahui kemampuan saya sudah sehandal apa, saya dengan senang hati bersedia mengirimkan portofolio milik saya pada Pak Ryuga.”
Tunggu sebentar, Claudia merasa ada yang salah. Kenapa dia terdengar seperti sangat ingin terlibat dalam proyek ini? Bukankah tadi dia ingin menolaknya!?
Ketika Claudia sadar dirinya salah langkah, Ryuga sendiri tampak menyunggingkan senyuman. Layaknya seorang pemburu yang berhasil menangkap mangsa.
Di sisi lain, melihat Ryuga tersenyum, Bu Yuli terkejut, sebab Ryuga biasanya selalu memasang wajah datar dan bersikap dingin. Harus Bu Yuli akui, senyum Ryuga terlihat mahal.
“Saya tidak perlu portofolio Anda, Bu Claudia.” Ryuga kemudian bangkit dari sofa. “Saya perlu bukti hasil program acara ini akan seperti apa nantinya,” imbuhnya seraya berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
Bu Yuli cepat-cepat berdiri. “Pak Ryuga, ucapan Anda bermaksud untuk mengatakan … bahwa Anda menerima rekomendasi saya, begitu?”
Ryuga menghentikan langkah, lalu berbalik untuk menatap Bu Yuli. “Bu Claudia Mada tampak sangat percaya diri dengan kemampuannya.” Dia pun melirik ke arah Claudia. “Dengan begitu, mari kita lihat bagaimana dia bisa menangani program besar ini.”
Lalu setelah mengatakan itu, Ryuga benar-benar pergi, menghilang ke balik pintu yang tertutup.
Untuk sesaat, tidak ada yang bersuara, sampai akhirnya Bu Yuli cepat-cepat melompat ke arah Claudia. “Claudiaaaaa, congratulations sayang!” ucap wanita yang sudah memeluk Claudia dengan erat itu. “Hebatnya kamu dapat proyek besar di hari pertama kerja!”
Seharusnya ucapan selamat dari Bu Yuli itu membuat Claudia bahagia. Namun, entah kenapa ucapan itu malah membuat Claudia merasa putus asa.
Dia merasa seperti kelinci yang sudah masuk jebakan singa!
Dan lagi, ini hari pertama Claudia bekerja. Kenapa bebannya sudah seberat ini?
Menyadari Claudia melamun, Bu Yuli pun melepaskan pelukannya dan menatap Claudia dengan bertanya-tanya, “Claudia? Kok bengong sih?!” Dia melanjutkan, “Oh, Tante tahu. Kamu pasti kelewat seneng sampai bingung ‘kan?! Nggak masalah, Tante akan pandu kamu perihal program ini agar kamu bisa buktiin sama Pak Ryuga kalau–”
“Tan,” potong Claudia selagi menggigit bagian bibir dalamnya tanpa sadar. Dia menatap sang tante yang terdiam dan menatapnya bingung. “Aku … aku harus keluar dulu!”
“Loh, kok!?”
Claudia melepaskan pegangan Bu Yuli dan berkata seraya berlari keluar ruangan, “Nanti Claudia ke sini lagi!”
“Clau!”
Belum sempat Bu Yuli mengatakan apa pun, Claudia sudah lebih dulu pergi meninggalkan ruangan Dekan dengan tergesa.
Pokoknya, bagaimanapun, Claudia harus memastikan untuk menyelesaikan salah paham dan memastikan Ryuga tidak akan buka mulut tentang apa yang terjadi di antara mereka kepada siapa pun!
‘Di mana Ryuga!?’ batin Claudia bertanya-tanya. Sampai akhirnya di ujung pandangannya, sosok Ryuga berjalan di kejauhan. “Itu dia!”
Claudia gegas berusaha mengejar Ryuga. Namun, entah kenapa langkah pria itu begitu cepat!
'Astaga, apakah selain Presdir, diam-diam dia juga berprofesi sebagai atlet lari?! Jalannya cepet banget!’
Claudia melihat pria itu berbelok ke satu arah, dan hal itu membuat gadis tersebut mempercepat langkahnya. Namun, begitu sampai di tempat, dia bingung lantaran hanya ada tangga darurat dan jalan lurus ke depan.
‘Masa iya dia masuk tangga darurat?’ pikir Claudia. ‘Buat apa?!’
Baru saja bertanya begitu, tiba-tiba sebuah tangan langsung terjulur untuk meraih pinggang Claudia dan menariknya masuk ke dalam pintu tangga darurat.
“Ah! Mmph!”
Sempat memekik lantaran kaget, suara Claudia dengan cepat dibungkam oleh tangan besar yang menutup mulutnya. Punggungnya yang membentur dinding akibat himpitan tubuh tinggi menjulang di depan membuat Claudia sedikit takut, sampai akhirnya dia mengangkat pandangan dan melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
Wajah dengan sepasang manik hitam tajam, hidung mancung, bibir tipis menggoda, dan rahang tegas itu sangatlah familier. Sama persis dengan wajah pria yang kemarin malam hampir tidur dengannya dan juga pria yang dia temui di ruang dekan tadi.
'Pak Ryuga ….’
**
Melihat Claudia mematung karena terlewat kaget, Ryuga berujar dengan suara dalam yang menggelitik telinga, “Bernapas, Claudia.” Sadar dengan dirinya yang tidak bernapas sedari tadi, detik itu Claudia langsung menarik napas sebanyak mungkin. Usai membenarkan napasnya, Claudia yang telah kembali tenang pun langsung menjauhkan tangan Ryuga dari mulutnya. Dia pun bertanya, “Kenapa Anda menarik saya ke sini? Apa yang Anda ingin lakukan?!” Claudia sedikit waspada. Ryuga menatap Claudia dengan mata memicing, tampak sangat mengintimidasi. “Kamu tidak sadar apa kesalahanmu pada saya?” Pertanyaan itu membuat Claudia bingung. “Saya tidak paham maksud Bapak,” balasnya. Ryuga menautkan alis. “Tidak paham?” Tangan Ryuga memukul tembok di sisi kepala Claudia, dan dia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. “Haruskah aku mengucapkan setiap hal yang salah dari ulahmu yang melarikan diri dari hotel?!” Ah, tentu saja. Claudia pergi meninggalkan Ryuga tanpa berpamitan, dan hal itu pasti membuat Ryu
Claire menampakkan senyum yang sangat manis. “Benar, ‘kan? Dosen baru di sini ‘kan ada gue sama lo, jadi akan lebih baik kalau lo sekalian ikut bantu ngerjain juga. Anggap kita sama-sama cari pengalaman.” Claudia terdiam, tak langsung menjawab permintaan Claire. Sejujurnya, Claudia sudah sangat sering melakukan tugas seperti ini jauh sebelum dirinya menjadi dosen. Lagi pula, dulu dia juga pernah menjabat sebagai seorang asisten dosen, jadi tugas seperti ini sangat biasa, itu alasan Bu Desi sepertinya tidak memberikan tugas serupa kepadanya dan hanya kepada Claire saja. Namun, sekarang Claire mengatakan seperti ini …. “Kok muka lo begitu, Clau? Lo keberatan?” tanya Claire, membuat Claudia tersentak. “Oh, eh … enggak, Claire.” Claudia berpikir sejenak. Agaknya memang tidak adil kalau Claire mengerjakan tugas seperti ini sendirian, jadi dia pun mengalah. “Oke … kita kerjain bareng aja,” jawab Claudia pada akhirnya, membuat Claire tersenyum lebar. “Yes! Claudia memang yang terba
Melihat betapa garangnya sosok Ryuga, Claudia tanpa sadar mengambil langkah mundur ke belakang. Satu langkah maju dari Ryuga, maka Claudia akan melangkah mundur, begitu terus sampai akhirnya punggung wanita itu menabrak tembok. “P-P-Pak Ryuga …,” panggil Claudia dengan suara mencicit, takut. “M-maaf, Pak.” “Untuk?” Suara Ryuga benar-benar tidak ramah. Dia jelas marah besar. “Saya nggak bermaksud ingkar janji atau kabur, Pak. Tapi saya ….” Claudia menggigit bibirnya, agak malu mengakui, tapi tidak ada pilihan. “Saya lupa ….” “Lupa?” Suara Ryuga seakan merendah satu oktaf, membuat seluruh tubuh Claudia bergidik. Claudia menutup mata erat dan berceloteh, “Saya mendadak harus membantu rekan saya menyelesaikan tugas hingga lembur sendirian, Pak! Bukan sengaja atau pun kabur, tolong Pak Ryuga maafkan saya!” Usai mengatakan semua itu, Claudia baru tersadar betapa cepat jantungnya berdetak. Dia tidak tahu apakah Ryuga menerima permintaan maafnya, tapi dia pasrah. Lagi pula, memang itu k
*Siang tadi* Setelah pergi meninggalkan kampus dan kembali ke kantor, Ryuga masih terus terngiang-ngiang ucapan Claudia sebelumnya yang mengira bahwa dirinya seorang gigolo. Untuk kesekian kali, alis Ryuga menukik dengan tajam. Menandakan jika pria itu tengah kesal. Tepat sebelum langkahnya sampai di lobby, Ryuga mendadak berhenti, lalu menoleh ke Riel, sang asisten pribadi, yang berada di sebelahnya. “Pak, Anda baik-baik saja?” tanya Riel yang merasa kebingungan dengan sikap Ryuga. Setelah terdiam beberapa saat, Ryuga bertanya, “Dari penampilan saya, menurutmu saya orang yang seperti apa?” Riel agak terkejut dengan pertanyaan itu, tapi kemudian dia menatap Ryuga saksama sebelum menjawab, “Pak Ryuga adalah orang hebat dan berwibawa yang pantas memimpin perusahaan. Sebagai Presdir Daksa Company, Bapak–” “Oke, cukup,” potong Ryuga dengan alis menekuk tajam, merasa jawaban bawahannya agak dilebih-lebihkan. “Katakan pada saya, apa wajar bila ada orang yang mengira saya seorang … p
Diancam seperti itu, Mila pun ketakutan. Matanya berkaca-kaca dan dia pun menghentakkan kaki kesal sebelum buru-buru keluar dari ruangan.Setelah memastikan Mila ke luar, Ryuga menghela napas. Dia tidak pernah nyaman bersikap kasar pada wanita, tapi untuk wanita seperti Mila, dia terpaksa. Sudah sering wanita-wanita seperti itu mengambil kesempatan atas kebaikannya untuk menciptakan rumor palsu!Usai mendudukkan diri di kursi kebesarannya, Ryuga merogoh ponsel di saku kemejanya. Dia menghubungi seseorang, dan tak lama panggilan itu pun diangkat.“Halo, Ryuga! Tumben telepon? Kenapa? Senang ya, dikunjungi Mila??”Mendengar suara tantenya, Ratih, Ryuga memasang wajah buruk. Jadi, benar dugaannya. Semua adalah ulah Ratih. Ratih adalah adik dari ayah Ryuga. Setelah bertahun-tahun ibu dan ayah Ryuga gagal menjodohkannya dengan wanita pilihan mereka, Ratih pun dimintai tolong untuk mempertemukan Ryuga dengan sejumlah wanita kalangan atas, seperti Mila tadi.“Tante sebaiknya berhenti,” ucap
Masih terkaget-kaget di tempatnya, Claudia menganga. Ryuga bilang apa tadi? Menikah? Apa pria ini sudah kehilangan kewarasannya?! Dengan usaha untuk tetap tersenyum tenang, Claudia bertanya dengan sedikit bergetar, “P-Pak Ryuga bercanda ….” Pandangan Ryuga berubah dingin. “Kamu keberatan?” Nada bicaranya kembali rendah, sangat rendah … seperti ingin menenggelamkan nyali Claudia. Tenggorokan Claudia terasa kering. “B-bukan keberatan, Pak. Tapi … tapi ….” Claudia memutar otak, sebelum kemudian mendapat sebuah balasan. “Tapi saya berasal dari keluarga biasa! Tidak pantas untuk Bapak!” Itu benar. Keluarga Claudia tidak kaya maupun ternama, jelas tidak pantas untuk sosok Ryuga yang berasal dari keluarga Daksa yang terkenal itu. Ditambah lagi dengan latar belakang Claudia yang baru lulus dan bekerja menjadi seorang dosen, tidak ada pencapaian apa pun yang menonjol yang membuatnya setara dengan seorang Ryuga. Demikian, apa yang membuat Ryuga ingin menikah dengannya!? Di saat ini, Ryug
“Bapak nggak mau nunggu di mobil aja?” Claudia menjawab pertanyaan Ryuga dengan pertanyaan. Karena bagi Claudia rasanya aneh apabila Ryuga ikut dengannya ke apartemen Claire. Apa kata Claire nanti? “Nggak, saya ikut. Saya bilang sandiwaranya bisa dimulai sekarang,” tegas Ryuga. Maka, Claudia tidak ada pilihan lain selain mengiakan ucapan Ryuga. Keduanya berjalan melewati meja resepsionis untuk menuju lift. Lantas Claudia merogoh ponsel di dalam tasnya untuk menghubungi Claire. “Aku udah sampe di apart, Claire. Tapi, lupa apart kamu ada di lantai berapa,” keluh Claudia. “Sering ke sini tetep aja lo lupa. Clau … Clau. Apart gue lantai 31,” ucap Claire ketus. Melalui ekor matanya, Ryuga melirik Claudia yang sedang meringis menanggapi ucapan Claire. Entah apa maksud tatapannya itu. Claudia berucap, “Maaf, aku beneran lupa. Ya udah aku ke situ sekarang ya, Claire.” Masuk ke dalam lift bersama Ryuga
Claire tampak kaget dengan balasan ketus pria tersebut, begitu pula dengan Claudia. Wanita tersebut menyikut lengan pria itu, mengisyaratkan agar dia diam. Namun, Ryuga malah semakin menjadi. “Apa? Apa aku salah?” tanya pria tersebut sembari menatap Claire. “Sudah minta tolong, tapi tidak bisa menyambut dengan lebih baik. Tidak tahu diri.” Dia melipat tangan dan membuang wajah kesal. Claudia menggigit bibirnya, tidak tahu lagi harus bicara apa. Akhirnya, dia menatap Claire dengan wajah tak berdaya. “T-tolong abaikan dia, Claire. Aku baru tiba, kok.” Dia mengeluarkan dokumen yang telah dicetak kepada Claire. “Ini dokumennya.” “O-oh, ya ….” Claire tampak masih terkejut dengan sosok pria tampan yang datang bersama Claudia. Dia sama sekali tidak menyangka temannya itu akan tiba dengan orang lain. Seorang pria tampan pula! Penasaran, Claire pun bertanya, “Ini … siapa, Clau?” Mata Claire menggerayangi sosok Ryuga, m
“Halo halo.” Suara berat itu menyapa dari sambungan telepon. Si penerima telepon belum memberikan respons dan untuk itulah suara berat milik seorang pemuda itu kembali mengudara, “Disini dengan Aland Mada, saya ingin melapor kehilangan pacar cantik bernama Anjani Ruby.”Mendengar namanya disebut, sudut bibir Anjani tersenyum. Dia memutuskan untuk berpindah tempat dari kursi belajar menuju ke ranjang tidurnya. Anjani menimpali kekonyolan yang dimulai oleh kekasihnya tersebut, “Sudah berapa lama memangnya pacarmu itu menghilang?”“Hmmm,” gumam Aland di seberang sana yang ikut berbaring. Sesaat, Aland berpikir dengan kedua alis yang menukik tajam. “Hampir seharian ini. Dan itu cukup membuatku tidak bersemangat!” beritahunya.Berhubungan jarak jauh cukup membuat Aland merasa dilanda frustasi. Dia sedang ada di dalam fase jatuh cinta. Rasanya ingin menemui Anjani setiap hari, makan siang bersama, lalu melakukan hal banyak lainnya setelahnya. Namun, Aland tidak bisa melakukan keinginannya i
Aruna tidak paham bagaimana cara bekerja hukum alam semesta. Itu bukan sesuatu yang bisa dikendalikan olehnya. Dia baru saja membuat Riel pergi setelah mengomelinya panjang lebar dan memutuskan membuat batasan dengan pria yang sudah dikenalinya sejak lama itu.“Pizza-nya sudah datang, Aruna?”Pintu kamar mandi yang dibuka disertai pertanyaan Diana lekas membuat Aruna menoleh cepat. Mata besar Aruna menemukan air wajah Diana yang tampak lebih baik dibandingkan beberapa jam sebelumnya.Kepala Aruna mengangguk-angguk samar. “Aku udah makan tiga, Tante,” akui gadis itu sambil menunjuk potongan pizza di hadapannya yang tidak lagi utuh. Aruna bersyukur, layanan pengantar makanan itu datang di waktu yang tepat sehingga Aruna bisa mengusir kepergian Riel.Meskipun jika boleh jujur, Aruna tampak berat hati melakukannya. Namun, jika Aruna tidak bisa bertindak tegas, sikap Riel ke depannya akan jauh lebih menyakiti perasaan banyak orang, termasuk Lilia.Tanpa menaruh perasaan curiga apapun, Dia
Melihat sorot mata Lilia padanya yang tampak memohon, Riel seketika merasa tidak tega untuk meninggalkan wanita yang kini resmi menjadi istrinya itu. Akan tetapi, Riel memilih melepaskan tangan Lilia dari tangannya dengan lembut.“Aku akan kembali dalam dua jam lagi.” Ucapan Riel secara tidak langsung mengatakan bahwa pria itu tetap harus pergi.Kedua tangan Lilia mengepal di sisi tubuh. Dia menundukkan wajah. Jujur saja, rasanya sedikit sakit mendapatkan penolakan itu. Perasaan Lilia mendadak emosional.Apalagi mendengar langkah kaki Riel yang terdengar mulai menjauh tanpa menunggu respons darinya. Lilia menaikkan pandangan, menatap lurus ke arah punggung lebar milik Riel.“Jika dalam dua jam lagi kamu tidak kembali, kamu tidak akan pernah bisa melihat anak ini lahir, Riel.”Benar, ucapan itu adalah sebuah ancaman. Entah darimana Lilia mendapatkan ide untuk mengatakan hal demikian pada Riel. Dan sebelum sempat Riel menolehkan wajah, Lilia lebih dulu membalikkan tubuhnya dan berjalan
Claudia tidak pernah tidak mempercayai Ryuga. Hubungan yang Ryuga bangun pada rumah tangga keduanya memberinya perasaan aman, termasuk dalam urusan ranjang.“Aku ingin melakukannya di sini, Claudia.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan Ryuga diiringi bunyi sabuk yang dibuka dengan gerakan seksi.Claudia mengangguk singkat. Dia meneguk ludahnya dalam-dalam, memandangi Ryuga yang kini hanya berbalut kaos putih. Kedua tangannya merambat turun dari bahu kokoh suaminya menuju ujung kaos yang dikenakan, Claudia berinisiatif untuk membukanya.Sudut bibir Ryuga menyeringai. Dia mendaratkan lumatan singkat di bibir cherry Claudia sebelum mengangkat kedua tangan, membantu pergerakan Claudia yang ingin membuka kaos miliknya.Lalu setelah itu terjadi, Claudia menundukkan pandangan. Dia membatin, ‘Kenapa aku kelihatan bersemangat sekali, sih?!’Rasanya sedikit malu, tapi Claudia cukup tidak sabaran dengan kegiatan intim yang akan dilakukan. Claudia tidak pernah mabuk. Namun, sentuhan Ryuga
“Bisakah kamu memasang wajah yang lebih ramah sedikit, Ryu?” Setelah langkahnya agak jauh dari Riel dan Lilia, barulah detik itu Claudia melayangkan protesan. Jujur saja, dia agak kesal dengan sikap Ryuga. Cukup mengangkat dua sudut bibirnya untuk tersenyum tipis bukan hal yang sulit ‘kan? Tangan Claudia langsung meraba perutnya sambil menundukkan pandangan lantas mengatakan, “Besok-besok saat kamu sudah tumbuh dewasa, kamu harus lebih banyak tersenyum. Oke?” Dalam hatinya, Claudia menambahkan, ‘Sifat Daddy yang satu itu jangan ditiru ya, Nak!’ Ryuga terdiam. Manik hitamnya terpaku menatap Claudia yang sedang mengajak janin di perutnya berbicara. Itu bukan pemandangan aneh bagi Ryuga. Beberapa kali dia memergoki Claudia melakukan itu. “Kapan-kapan saja,” sahut Ryuga enteng. Dia menarik lengan Claudia agar kembali melanjutkan langkah. “Sekarang, lupakan itu dan ikut aku, Claudia,” perintah Ryuga dengan suaranya yang dalam. Langkah Claudia mengikuti Ryuga yang tampak tidak tergesa
Diana menyadari jika ucapan dan perasaannya sangat bertolak belakang. Meskipun dari bibirnya terucap jika dia sudah melupakan Riel, akan tetapi hatinya belum bisa sepenuhnya menghapus bayang-bayang pria itu. Lagipula, bekas penghapus pada selembar kertas pun akan meninggalkan jejaknya ‘kan? Jika diibaratkan, Diana sedang ada dalam posisi itu. Demikian, dia ada di sini sekarang. Hampir saja wanita itu masuk tanpa undangan karena jelas Riel masih waras untuk tidak mengirimkan undangan pernikahan padanya. Mendadak Diana tidak ingin memberitahukan perasaannya mengingat hubungan baik Ryuga dan Riel sedikit memburuk. Dian berdeham, “Mohon maaf, Pak Ryuga.” Alih-alih menjawab pertanyaan Ryuga sebelumnya, Diana malah mengatakan permintaan maaf. Setengah takut, dia pun mengatakan, “Di luar jam kerja, mari untuk saling menghormati privasi masing-masing.” Usai mengatakan itu, tanpa perlu menunggu balasan Ryuga, Diana sudah melarikan diri secepat mungkin dengan jantung yang berdetak cepat. B
“Loh, Daddy katanya nggak akan datang ke pernikahan Om Yel sama Bu Lilia?” Mata besar Aruna memindai penampilan Ryuga dari atas hingga ke bawah yang sudah rapi dan casual dalam balutan jas yang dibelikan Claudia kemarin. Dahi Aruna mengerut samar. “Kok setelannya kayak mau kondangan gini?” tunjuknya heran. Pasalnya sebelum Claudia pergi, Aruna sudah tahu jika Daddy–nya tidak akan ikut. Ryuga mendengus halus. Siapa sangka gara-gara satu foto salah kirim itu membuatnya akhirnya tergerak untuk datang ke pernikahan Riel?! Diam-diam Ryuga menduga jika Claudia sengaja mengirimkan foto itu agar memancingnya untuk datang. Jika benar demikian, Claudia memang benar-benar wanita konyol. Manik hitam Ryuga memperhatikan aktivitas Aruna yang sedang sibuk dengan cat lukisnya di meja. Jari-jari Aruna terkena cat di beberapa titik. Pandangannya naik untuk menatap putrinya itu. “Daddy tinggal sendirian di rumah, nggak apa-apa, Na?” tanya Ryuga mengabaikan pertanyaan Aruna sebelumnya. Dia tidak lup
Alih-alih langsung menemui Claudia, Riel menitipkan pesan pada salah satu pelayannya agar Claudia bisa tinggal dan menemani Lilia sebentar. Claudia jelas tidak keberatan. Wanita itu justru senang bisa melihat Lilia yang kini sudah mulai dirias untuk pernikahan yang akan berlangsung beberapa jam lagi.Sekelebat memori tentang pernikahannya dengan Ryuga beberapa bulan lalu terlintas di kepala Claudia. Hal itu mengundang bibir cherry-nya untuk tersenyum. Dia membatin, ‘Ish, kenapa aku jadi merindukan Ryuga?’Kira-kira apa yang tengah dilakukan Ryuga sekarang? Tidakkah suaminya itu juga merasakan rindu?‘Atau jangan-jangan hanya aku saja?!’ pikir Claudia sambil menaikkan satu alisnya. Dia menggelengkan kepala.Sejujurnya akhir-akhir ini Claudia merasa sikapnya lebih manja, terutama pada Ryuga. Jadi, terkadang Claudia berusaha menahannya. Seperti sekarang, dia menahan diri agar tidak menghubungi Ryuga.“Kamu membutuhkan sesuatu, Claudia?”Pertanyaan itu membuat Claudia tersadar dari lamuna
Keesokan harinya, sesuai dugaan Claudia, Aruna enggan datang ke pernikahan Riel dan Lilia. Gadis itu mengatakan, “Aruna ngantuk, kayaknya mau tidur aja, Mommy.”Claudia tidak tega melihat kantung mata Aruna yang tampak menghitam. Jadi, dia menyuruh Aruna untuk beristirahat. Beralih dari Aruna, Claudia tetap gagal membujuk Ryuga.Akan tetapi, Claudia meninggalkan pesan pada suaminya itu. “Acaranya dimulai pukul sepuluh. Kalau kamu berubah pikiran, aku sudah menyiapkan jas untukmu di lemari, Ryuga.”Sementara teman-teman dekat kampusnya juga memutuskan tidak datang. Satu pun. Demi yang sudah terjadi, Claudia tidak berhak menyalahkan pihak mana pun. Dia percaya jika takdir seseorang tidak akan tertukar.Sesaat, Claudia sempat dibuat gamang. “Argh, tapi aku ingin pergi dan melihat kondisi Lilia.”Nomor ponsel Lilia tidak bisa dihubungi. Akun media sosialnya juga tidak ditemukan. Claudia mencoba menghubungi Lilia melalui surel, tidak ada balasan.Saat Claudia mendatangi flat tempat Lilia,