Abizar kembali ke hotel, setelah mengambil bingkisan pakaian Celine dari pengawalnya. Kunci kartu kamar diselipkan, pintu ditutupnya rapat. Dia melihat Celine terbaring di kasur dengan tubuh polosnya. Abizar terpaku sesaat, dengan wajah yang datar dan dingin.
Celine merintih, tubuhnya bergerak gelisah, “Abizar… tubuhku panas… aku tak tahan…” Abizar melangkahkan kakinya ke dekat kasur lalu meletakkan tas belanjaan dengan pelan di atas meja, bersiap untuk pergi. Namun, sebelum ia melangkah, Celine memeluknya dari belakang. Celine menangis. “Please, Abizar… aku bisa gila…” Abizar merasakan tubuh Celine yang hangat dan lembut. “Apa yang terjadi? Tadi Anda sudah membaik.” “I don’t know. Mungkin… pengaruh obat itu…” “Kalau begitu saya akan panggilkan dokter.” Celine memeluk Abizar lebih erat, “Jangan… jangan tinggalkan aku…” Abizar terdiam. Dia tidak nyaman dengan situasi ini. Celine masih memeluknya erat, tubuhnya yang telanjang menyentuh kulit Abizar. “Nona Celine, lepaskan. Saya tidak minat dengan tubuh Anda.” “Kalau begitu… aku saja yang minat…” Sebelum Abizar dapat bereaksi, Celine mencium bibirnya dengan penuh nafsu. Ciuman itu begitu mendadak, membuat Abizar tersentak. Ia merasakan tubuhnya menegang, terkejut oleh tindakan Celine. Untuk sesaat, ia terpaku, otaknya berusaha memahami situasi yang tidak terduga ini. Rasanya seperti ada sengatan listrik yang mengalir di tubuhnya. Namun, rasa terkejut itu segera digantikan oleh sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih kuat. Hangatnya tubuh Celine, desahannya yang tertahan, perlahan-lahan mencairkan pendirian Abizar. Ia masih merasa ragu dan tidak nyaman, namun tubuhnya mulai bereaksi. Ia membalas ciuman Celine, yang awalnya ragu-ragu, namun kemudian semakin liar. Tangannya yang semula kaku mulai bergerak, membalas sentuhan Celine yang melepaskan kancing kemeja dan celananya. Ia terbawa arus, terhanyut dalam pusaran emosi dan hasrat yang tak terduga. Ia tahu ini salah, namun ia tak mampu menolak lagi. Ketika Abizar akhirnya menyerah, Celine mendesah lega, tubuhnya melemas di pelukan Abizar. Tangannya bergerak dengan liar, menjelajahi tubuh Abizar dengan penuh gairah. Ia meremas rambut Abizar, menariknya lebih dekat, bibirnya mengecup leher Abizar dengan penuh nafsu. "Abizar," bisiknya, suaranya serak karena hasrat, "aku… aku sangat membutuhkan ini…" Ia memeluk tubuh Abizar dengan erat, tubuhnya bergetar hebat, menunjukkan betapa kuatnya hasrat yang menguasainya. Gerakannya semakin agresif, menunjukkan betapa ia haus akan sentuhan Abizar. Ia mendesah dan merintih, suaranya bercampur antara kesenangan dan ketakutan. "Aku… aku tak tahan lagi…" Celine menciumnya dengan liar, penuh gairah yang membakar. Abizar, yang selama ini berjuang melawan godaan, akhirnya menyerah. Pertahanannya runtuh seperti benteng pasir dihantam gelombang. Dia membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, bahkan lebih liar. Satu tangannya mencengkeram pinggang ramping Celine, jari-jarinya menelusuri lekuk tubuhnya. Tangan lainnya meremas payudara Celine dengan penuh hasrat, merasakan kehangatan dan kelembutan kulitnya. "Celine..." Abizar menggeram, suaranya serak, di antara ciuman yang dalam dan penuh gairah. Namun, di tengah-tengah hasrat yang membara, Abizar merasakan sesuatu yang dingin dan menusuk di dalam dirinya. Ia merasakan rasa jijik dan penyesalan yang mendalam. Dia menyadari bahwa Celine tidak berada dalam keadaan sadar, dia berada di bawah pengaruh obat. Ia merasa dirinya telah diperdaya, terjebak dalam situasi yang tidak adil. Rasa bersalah dan amarah bercampur aduk dalam dirinya. Ia ingin menghentikan semuanya, melepaskan diri dari pelukan Celine, namun tubuhnya masih terikat oleh hasrat yang membara. Esok pagi. Celine Luis melangkah dengan percaya diri, menghampiri Abizar Yazid yang berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan kota yang gemerlap. Pria itu selalu terlihat tenang, terlalu dingin, seolah tak ada yang bisa mendekatinya. Tanpa ragu, Celine berjalan mendekat dan sebelum Abizar sempat menghindar, dia sudah melompat ke pangkuannya, melingkarkan lengannya di leher pria itu. "Kau selalu menghindar, tapi aku tahu kau tak akan menjatuhkanku," godanya dengan suara lembut. Abizar menegang, tapi tetap tidak bergerak. "Nona Celine, turunlah," katanya dengan nada datar, meski ada sedikit helaan napas berat di ujung kalimatnya. Celine tersenyum nakal. "Kenapa? Aku nyaman di sini. Lagipula, kau masih berutang sesuatu padaku." Abizar menatapnya dalam, matanya tajam namun tetap tenang. "Saya tidak berutang apa pun, Nona." Celine mendekatkan wajahnya, bibirnya hanya beberapa inci dari bibir Abizar. "Oh, jangan pura-pura lupa. Malam tadi... kau tidak sepenuhnya menolak, kan?" "Itu adalah kesalahan. Dan saya tidak ingin mengulanginya." Bibir Celine mengerucut kecil, tangannya terangkat untuk menyusuri garis rahang pria itu. "Kesalahan? Aku tidak merasa begitu." "Karena anda selalu bertindak tanpa berpikir," balas Abizar, suaranya lebih dalam. "Bagaimana bisa aku berpikir kalau semalam kau begitu bergairah," bisik Celine. Lalu menempelkan dahinya ke dahi Abizar. Dia bisa merasakan detak jantung pria itu yang stabil, nyaris tak terganggu. "Aku penasaran, kapan kau akan berhenti berpura-pura, Abizar?" Abizar menutup matanya sejenak, seolah menahan sesuatu dalam dirinya. Kemudian, dengan gerakan lembut tapi tegas, dia meraih pinggang Celine dan membantunya turun dari pangkuannya. "Saya tidak berpura-pura. Yang saya lakukan hanyalah membantu anda." "Kau selalu mengelak yang ku rasakan tidak seperti itu, tapi tak apa yang jelas sekarang kau milikku?" Abizar menatapnya lama, lalu berbalik mengambil jasnya yang terlipat rapi di sofa. "Saya akan mengantar anda pulang. Ini sudah siang." Celine menyilangkan tangan, menggeleng pelan. "Aku tidak mau pulang kalau kau tetap bersikap seperti ini." Abizar menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Celine tajam. "Nona Celine, jangan membuat keadaan ini lebih sulit." Celine tersenyum miring. "Aku tidak membuat ini sulit. Kau saja yang membuatnya rumit." Mereka saling bertatapan dalam keheningan. Abizar adalah pria yang tak mudah goyah, tapi Celine bukan tipe wanita yang menyerah begitu saja. "Baiklah," akhirnya Abizar berkata, suaranya terdengar lembut. "Jika anda ingin bermain-main denganku, jangan salahkan saya jika anda terluka." "Aku tidak takut terluka, Abizar. Justru aku ingin tahu, kapan sikap dingin di hatimu akan mulai mencair." Abizar hanya menatapnya datar, lalu tanpa kata, berjalan ke pintu. "Saya tunggu di mobil," ujarnya sebelum pergi. Celine menatap punggung pria itu, senyum di wajahnya tak luntur sedikit pun. "Kita lihat saja, Abizar. Kau tidak akan bisa terus menghindar dariku.""Selama ini, aku selalu bisa mendapatkan apa yang ku inginkan, kecuali satu hal—hati Abizar Yazid. Tapi apa katanya barusan, jangan bermain hati kalau tak ingin terluka? Jangan-jangan dia diam-diam sudah punya kekasih... Akh, Aku tak peduli selama janur kuning belum melengkung aku lah pemenangnya!" jelas Celine. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas mengejar pria itu. "Abizar! Tunggu!" serunya, berlari kecil di koridor hotel. Namun, Abizar tetap berjalan tanpa memperlambat langkahnya. Pria itu seakan tak peduli. Setelah beberapa langkah lagi, akhirnya Celine berhasil meraih lengan Abizar, menghentikannya tepat di depan lift. Napasnya terengah-engah, bukan hanya karena berlari, tetapi juga karena kesal dicueki Abizar."Ada apalagi Nona?" ucapnya dingin tanpa melihat Celine. "Aku pulang. Jangan tinggalkan aku," ucapnya dengan nada yang dibuat semanja mungkin. Ia bahkan berani menarik lengan Abizar agar pria itu menatapnya. Abizar terdiam sejenak, lalu dengan lembut melepaskan tanga
Celin melirik sekilas ke arah Abizar yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu tetap dengan wajah dinginnya, seperti biasa. Mata tajamnya mengawasi sekeliling, seakan siap menghadapi ancaman kapan saja. Celine mendengus pelan. Bagaimana mungkin pria itu tidak pernah sekalipun menunjukkan ketertarikan padanya setelan apa yang pernah mereka berdua lakukan. "Kamu tidak capek jadi patung manusia terus?" Celine menyandarkan tubuhnya ke sofa, tangan memutar gelas jus jeruk yang hampir tandas. Abizar menoleh singkat, lalu kembali fokus ke layar ponselnya. "Tugas saya bukan untuk menghibur Anda, Nona Celin." Celin menegakkan tubuhnya, menyeringai jahil. "Oh? Jadi kalau aku yang menghiburmu, kau tak keberatan?" Nada suaranya sedikit menggoda. Abizar menghela napas pelan, tetap tidak terpancing. "Tergantung, Tapi saya pastikan tak ada yang menarik dari Nona." Celin tertawa kecil, lalu bangkit dan berjalan ke arah pria itu, berdiri cukup dekat hingga bisa merasakan hembusan nafas Abizar.
"Celine, kamu di sini?" Suara Darwin yang tegas terdengar. Kakaknya berjalan mendekat dengan tatapan menyelidik. Celine buru-buru melepaskan genggamannya dari lengan Abizar dan tersenyum santai. "Tentu saja, Kak. Aku hanya mengobrol dengan Abizar." Darwin menatap mereka berdua, lalu menghela napas. "Ayo pulang. Ayana sudah menunggu." Celine menatap Abizar sekilas sebelum akhirnya mengangguk dan melangkah pergi. Namun, saat ia melewati Abizar, ia berbisik pelan, cukup untuk pria itu dengar. "Aku akan membuatmu mengakui perasaanmu, Abizar. Tunggu saja." Abizar tetap diam, tetapi tatapan matanya mengikuti langkah Celine yang semakin menjauh. Will, yang melihat semua kejadian itu dari jauh, hanya bisa mengusap wajahnya dengan pasrah. "Dua orang keras kepala dalam satu cerita, ini pasti akan panjang." *** Malam itu, di dalam mobil yang melaju menuju rumah, Celine menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap bayangan dirinya sendiri. Darwin yang duduk di sampingnya melirik a
Abizar menghela napas panjang ketika Celin duduk di kursi penumpang dengan ekspresi penuh kemenangan. Mobil melaju meninggalkan kawasan gudang, dan Celin bersandar santai dengan satu kaki terlipat, menatap Abizar dengan tatapan jahil. “Jadi,” Celin membuka percakapan, “kau akan terus pura-pura dingin padaku, atau kita bisa bicara seperti dua orang dewasa?” “Nona, tidak ada yang perlu dibicarakan.” “Kau tahu, Abizar… sikapmu ini membuatku semakin penasaran.” Dengan gerakan santai, Celin melepas sabuk pengamannya dan beringsut mendekat, membuat Abizar menoleh dengan tatapan tajam. “Pakai kembali sabukmu!” “Tapi aku ingin lebih dekat denganmu,” bisiknya, mencondongkan tubuh hingga jarak wajah mereka hanya beberapa inci. Abizar menegang, tapi tetap berusaha fokus mengemudi. “Nona Celin, jangan mulai!"“Tapi aku suka memulainya,” sahut Celin dengan suara manja. Tangannya dengan berani merayap ke lengan Abizar, jari-jarinya menyentuh otot yang tegang di balik kemeja. “Kau se
Abizar menginjak pedal gas lebih dalam, melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Luis. Ia tidak tahu apa yang lebih buruk—fakta bahwa Celin selalu tahu cara memancingnya, atau fakta bahwa ia terus-menerus terpancing. "Sial!" umpatnya. Ketika ia tiba di halaman mansion, ia melihat Celin sudah berdiri di depan pintu dengan senyum penuh kemenangan. Dibalut gaun tidur satin berwarna merah anggur yang jatuh di paha, rambutnya masih sedikit basah, dan kulitnya terlihat berkilau dalam cahaya lampu halaman. Celin benar-benar terlihat… berbahaya. Abizar mengeratkan rahangnya. Ia harus tetap waras. Celin berjalan mendekat, langkahnya santai tapi penuh perhitungan, seolah setiap gerakannya memang ditujukan untuk membuatnya kehilangan kendali. Tanpa malu-malu, Celin membuka pintu mobil dan masuk, duduk di kursi penumpang dengan anggun. “Kau datang,” ucapnya pelan, suaranya terdengar seperti bisikan. Abizar menatapnya tajam. “Nona Celin, masuk kembali ke dalam.” Celin tersenyum j
Suasana berubah tegang seketika. Celin masih duduk di pangkuan Abizar, jantungnya berdetak cepat. Sementara itu, Abizar menatap Darwin dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara waspada dan pasrah. Darwin mengetuk jendela sekali lagi, kali ini lebih keras. “Turun.” Celin menoleh ke Abizar dengan senyum kecil. “Apa kita lari saja?” bisiknya. “Celin.” Suara Abizar berat dan tajam. “Turun.” Dengan enggan, Celin akhirnya turun dari pangkuan Abizar dan keluar dari mobil, tapi bukannya merasa bersalah, ia malah berdiri dengan santai di samping mobil. Darwin melipat tangan di dada, menatap adiknya dari kepala hingga kaki. “Kau benar-benar tidak punya rasa malu, ya?” Celin mengangkat alis. “Memangnya kenapa? Aku sedang menghabiskan waktu dengan calon suamiku.” Abizar yang baru saja keluar dari mobil hampir tersedak mendengar pernyataan Celin. Darwin menoleh tajam. “Calon suami?” Celin tersenyum penuh percaya diri. “Ya. Kalau dia terus menolak, aku tinggal minta Kakak menikahk
Abizar tidak bisa tidur. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia teringat Celin yang tidur di kamar tamunya, hanya beberapa meter dari tempatnya berbaring. Ia menarik napas panjang. Ini Celin, adik dari Bos Darwin. Gadis yang seharusnya ia jaga, bukan ia sentuh. Tapi Celin semakin berani. Ia tidak hanya menggoda dengan kata-kata, tapi juga dengan kehadirannya, dengan caranya menatap, dengan caranya menantang Abizar untuk jatuh dalam perangkapnya. Dan yang lebih buruk lagi, Abizar merasa dirinya mulai kalah. Suara langkah kaki pelan terdengar di luar kamarnya. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka sedikit. Abizar tetap diam, pura-pura tidur. Tapi ia bisa mendengar Celin masuk, berjalan pelan menuju ranjangnya. Lalu, tanpa ragu sedikit pun, gadis itu naik ke ranjang dan merangkak mendekatinya. Abizar menahan napas ketika ia merasakan kehangatan tubuh Celin begitu dekat. Celin berbisik pelan, tepat di telinganya. “Abizar… kau belum tidur, kan?” Abizar tetap diam, b
Sementara itu, Celine sudah bersiap dengan rencananya sendiri. Setelah Abizar pergi menemui kakaknya, Celin menelepon seseorang. "Kamu di mana? Aku butuh bantuan." Beberapa menit kemudian, seorang wanita dengan rambut panjang bergelombang memasuki apartemen Abizar dengan santai. "Raya, aku butuh bantuanmu," ujar Celine dengan senyum penuh trik. Raya—sahabat Celine—menaikkan alis. "Kau ingin aku menutupi sesuatu?" Celine mengangguk. "Aku ingin tinggal di sini lebih lama. Kalau Kak Darwin menanyakan sesuatu, bilang aku bersamamu." Raya tertawa kecil. "Celine, kau benar-benar berani." Celine tersenyum lebar. "Abizar harus sadar, aku tidak akan mundur begitu saja." Raya menghela napas. "Baiklah, tapi aku ingin tahu, seberapa jauh kau akan bertahan pada pria itu?" Celin berpikir sejenak. "Sampai dia tidak bisa lagi menolak aku." Raya menatapnya dengan geli. "Kalau begitu, aku ingin melihat bagaimana kau melakukannya." Celine hanya tersenyum penuh misteri. Permainan bar
Celine duduk gelisah di ruang tamu, menunggu kedatangan Darwin. Jantungnya berdegup kencang, tak tahu apa yang akan dibicarakan kakaknya. Beberapa menit kemudian, suara mobil berhenti di depan rumah, membuatnya spontan berdiri. Pintu terbuka, dan Darwin masuk dengan langkah tegap. Tatapannya tajam, ekspresinya sulit ditebak. "Duduk," perintahnya singkat. Celine menurut, menunggu dengan napas tertahan. Darwin menatapnya lekat. "Apa hubunganmu dengan Abizar?" Celine terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "H-Hubungan apa?" Darwin mendengus. "Jangan bohong, Celine. Aku tahu ada sesuatu di antara kalian." Celine mengerutkan kening, merasa heran dengan pertanyaan kakaknya. "Kan Kakak yang menyuruhku mengambil proyek kerja sama dengan
Celine mengusap wajahnya dengan frustasi. Berurusan dengan Abizar Yazed? Itu sama saja dengan melemparkan dirinya ke dalam mulut harimau. Pria itu terlalu licik, terlalu penuh tipu daya, dan yang lebih buruk—terlalu menggoda. "Baiklah, cukup bicara soal itu. Aku harus pergi sebelum Darwin benar-benar pulang dan mengira aku ikut campur terlalu jauh dalam urusan kalian," ujar Ayana yang pergi meninggalkan mereka kembali ke kamarnya, ekspresinya serius. "Dan Abizar, jangan berbuat macam-macam. Aku serius." Abizar hanya mengangkat alis, senyum jahilnya tak berkurang sedikit pun. "Aku? Berbuat macam-macam? Oh, Nyonya Darwin, kau benar-benar salah menil—" "Ya, ya, simpan akting tak berdosamu itu untuk orang lain!" potong Ayana sebelum pergi ke kamarnya. "Celine, jangan biarkan dia menggodamu lagi!" Celine menghempaskan diri ke sofa dengan napas panjang. Percakapan barusan dengan Ayana masih t
Celine menghela napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum stabil setelah kejadian barusan. Abizar benar-benar membuatnya kehilangan kendali, dan sekarang, dengan Ayana duduk di depannya sambil bertanya dengan nada serius, ia harus kembali ke realita. "Celine? Kau mendengar pertanyaanku, kan?" Ayana menyipitkan mata, memandangnya penuh selidik. "Kau baik-baik saja?" Celine buru-buru mengangguk. "Tentu saja. Aku hanya... sedikit kaget. Maksudku, Kak Darwin baru pulang besok, kan? Jadi kenapa kau panik begitu?" Ayana melipat tangan di dada. "Karena aku tahu kau dan Abizar tidak bisa dibiarkan berduaan terlalu lama. Buktinya tadi, aku hampir kebobolan!" Abizar yang duduk di seberang meja hanya terkekeh santai, menyilangkan kaki dengan ekspresi tak berdosa. "Kau terlalu khawatir, Nyonya. Aku hanya ingin memastikan Celin baik-baik saja. Tidak lebih, tidak kurang." "Tentu saja Celin pasti baik-baik saja," gumam Ayana, me
"Kalau kau belum ingat juga, aku akan menunjukkan sesuatu yang pasti akan membantumu mengingatnya," bisik Abizar, jari-jarinya usil mengelus paha Celine. Celine menepis tangan Abizar, tapi hanya sedikit. "Jangan macam-macam! Aku curiga kau menyimpan sesuatu... sesuatu yang sangat pribadi milikku?" Suaranya sedikit gemetar, campuran rasa malu dan gairah. Abizar terkekeh rendah, suaranya berat dan sensual. "Ada di mobilku. Dan aku yakin, melihatnya akan membuatmu mengingat semuanya dengan sangat jelas." Ia sengaja menggeser tubuhnya, membuat tubuhnya bersentuhan dengan Celine. Celine mendesah pelan, tubuhnya menegang. "Yaaak! Kau ini! Bicaramu... mesum sekali!" Ia mencoba mendorong Abizar, tapi gerakannya justru membuat tubuh mereka semakin erat bersentuhan. "Menyingkirlah! Sangat sesak... dan panas..." Gerakannya tak terkendali, membuat Abizar semakin tegang. Abizar menahan napas, suaranya serak menahan gairah. "Jangan banyak bergerak, Celine... kau membuatku... sangat tegang..
Satu jam lebih Abizar menunggu Celine yang belum juga turun. Matanya, tajam dan tak berkedip, menatap lantai atas. Tanpa basa-basi, ia berjalan menaiki tangga dengan langkah tegap dan pasti. Bob dan Will, yang berdiri tak jauh darinya, ingin melarang, namun sebelum mereka sempat bersuara, Abizar berkata dengan suara berat dan lantang, menghentikan mereka seketika. "Satu langkah, nyawa kalian akan melayang." Abizar melangkah dengan santai, namun elegan, menuju kamar Celine. Namun langkahnya terhenti ketika Ayana berdiri di ujung tangga, menghalangi jalannya. "Abizar Yazed! Kamu tidak boleh masuk ke kamar Celine! Nanti aku adukan ke Darwin!" Ayana berkata dengan mata melotot dan tangan di pinggang, sebuah pose yang bagi Abizar terlihat lucu. Tanpa ragu, Abizar mengeluarkan kotak perhiasan—sebuah kotak beludru merah tua berisi sebentuk berlian The Constellation, s
Celine mengepalkan tangannya, jantungnya berdebar—bukan karena takut, tapi karena excited yang tercampur sedikit panik. "Cih! Mana berani dia kesini menjemputku," gumamnya, suaranya terdengar seperti tawa halus yang diredam. Celine keluar kamar, aura keanggunannya tak terbantahkan, meski dipadu dengan ekspresi slight sassy. Ia mencari Will, bodyguard-nya yang lebih mirip model iklan parfum. "Will, cepatlah kesini. Aku membutuhkanmu," teriak Celine. Will, yang tengah bergosip—mendapatkan gosip terbaru tentang hubungan asmara kepala koki dan tukang kebun—langsung berlari kecil, kemeja putihnya sedikit kusut. "Nona Celine! Ada apa, Nona?" tanyanya, napasnya sedikit tersengal. "Hey, kau. Siapkan jas termahalmu—yang aku belikan, ingat?—temani aku bertemu Abizar malam ini."
Celine memasuki mansion dengan langkah cepat dan tergesa-gesa, membuat para pelayan dan pengawal yang bertugas terkejut. Mereka saling bertukar pandang dengan penuh tanda tanya, tak biasanya nona mudanya seperti itu. Sementara itu, Will mengikuti Celine dari belakang dengan langkah lesu, tampak kelelahan. Ia baru saja menemani Celine berbelanja di butik dan harus menunggu berjam-jam hanya untuk satu gaun. Will sulit membayangkan bagaimana Celine dapat menghabiskan waktu begitu lama untuk memilih satu buah gaun saja. Ayana terperanjat ketika Celine membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu dan langsung naik ke atas tempat tidur. Ayana sedang menggunakan masker wajah dan terlihat sangat santai, namun kedatangan Celine langsung menghancurkan ketenangannya. "Kakakku iparku tersayang, coba tebak siapa yang baru saja kutemui?" tanya Celine dengan wajah yang berseri-seri, matanya berbinar penuh semangat. Ayana melepaskan maskernya dan memandang Celine dengan ekspresi bingung.
Abizar melanjutkan penjelasannya tentang proposal kerja sama, sementara Celine berusaha untuk memperhatikan dan mencatat poin-poin penting. Namun, dia tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang muncul setiap kali dia melihat Abizar. Sekretaris Darwin, yang duduk di samping Celine, memberikan dia sebuah catatan kecil dengan tulisan "Tetap tenang dan fokus." Celine mengangguk pelan dan mencoba untuk memperhatikan kembali penjelasan Abizar. Setelah beberapa menit, Abizar selesai menjelaskan proposalnya dan meminta Celine untuk memberikan tanggapan. Celine mengambil napas dalam-dalam dan berusaha untuk memberikan jawaban yang profesional dan objektif. "Terima kasih, Mr. Malik, atas penjelasan Anda tentang proposal kerja sama ini," kata Celine dengan nada yang profesional. "Saya akan mempertimbangkan proposal ini dan berdiskusi dengan tim kami untuk menentukan langkah selanjutnya." Abizar Yazed tersenyum dan mengangguk. "Saya berharap kita dapat bekerja sama dan mencapai kesep
Meeting yang seharusnya diadakan jam sembilan pagi kini molor sampai jam satu siang. Semua itu karena Celine yang telat bangun dan merajuk ke kakaknya, Darwin. Celine bangun jam sebelas pagi, setelah tidur nyenyak selama berjam-jam. Dia merasa tidak ingin bangun dan merajuk ke Darwin, yang sudah menunggunya di ruang makan. "Aku tidak mau pergi ke meeting itu, Kak," kata Celine dengan nada yang manja. "Aku capek dan tidak ingin berhadapan dengan orang-orang itu." Darwin memandang Celine dengan mata yang kesal. "Celine, kamu harus pergi ke meeting itu. Ini sangat penting untuk perusahaan kita. Jangan membuat aku menunggu lagi, atau aku akan marah."*** Semua karyawan dari staf biasa sampai yang mempunyai jabatan menunduk hormat melihat kedatangan Celine, adik dari bosnya. Wanita cantik yang mempunyai wajah hampir mirip dengan Darwin itu memasuki perusahaan dengan langkah yang percaya diri. Sekretaris Darwin, yang juga merupakan orang kepercayaannya, menyambut Celine dengan sen