Anindya Prameswari, 25 tahun seorang penulis novel. Dia meninggalkan keluarga aslinya yaitu keluarga Danendra karena perjodohan bisnis. Dia memilih menikah dengan Lingga Aditama, seorang sutradara yang terkenal di kota Pandora. Namun, selama 3 tahun mereka menikah, Lingga tidak pernah memperlakukan Anindya seperti seorang istri. Lingga berselingkuh di belakang Anindya, sampai dia bertemu dengan Ivander Alessandro yang menyelamatkannya dari Lingga yang hampir melecehkannya. "Maaf, aku berjanji akan bertanggung jawab nanti!" Ivander mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh sambil menatap wajah Anindya dengan rasa bersalah.
Lihat lebih banyak"Dengar, ya, Lingga. Saya akan lepasin kamu malam ini juga, tapi jangan pernah katakan apa yang telah terjadi padamu selama hampir satu minggu ini." Ivander melipatkan kedua tangan di depan dada. Di samping pria itu, Bima berdiri dengan jaket kulit berwarna hitam menggunakan topi hitam, kaca mata hitam, dan juga masker berwarna hitam. Bima selalu menggunakan pakaian serba hitam selama hampir seminggu menyiksa Lingga dan juga Rizhar, dia rela menginap di gudang eksekusi milik Ivander.Saat menyiksa Lingga, Bima tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Mulutnya diam, tapi tangan dan kakinya tidak. Rasanya begitu puas setiap kali mendengar teriakan penuh kesakitan dari Lingga, tubuh kekar pria itu dipenuhi oleh luka-luka dan juga memar bekas pukulan besi yang dilayangkan oleh dirinya. "Nggak bisa kaya gini! Apa yang kamu dan anak buahmu lakukan itu udsh keterlaluan. Kamu nyulik dan nyiksa saya sama Rizhar, saya nggak mungkin diem aja." Lingga dengan suara lemah melayan
"Bajingan kaya kamu nggak layak untuk hidup." Ivander dengan tak berperasaan menendang Lingga yang tengah memejamkan kedua matanya di sisi Rizhar. Lingga dan juga Rizhar lagi dan lagi mendapatkan pukulan dari anak buah Ivander, serangan yang diberikan oleh anak buah Ivander membuat Lingga pingsan. Sedangkan Rizhar masih menahan kesadarannya sambil menahan sakit. Lingga yang terkejut dengan tendangan keras Ivander, reflek membuka matanya. Dinding yang catnya sudah pudar dilapisi oleh jamur menjadi hal pertama kali yang Lingga lihat selama beberapa hari terakhir berada di tempat ini. Ivander mendorong dada bidang Ivander, kaki Ivander yang terbalut sneakers itu menekan dada Lingga sampai pria itu terdorong ke belakang. Punggungnya menempel pada tiang besi yang terpasang rantai yang melingkar di kedua tangan Lingga. Napas Lingga terasa sesak, dia mencoba meraup udara segar untuk mengurangi rasa sesak pada rongga dadanya yang penuh. Tangan Lingga mencengkeram kaki Ivander yang
"Pak Ivander, gawat. Marisa mau lapor ke polisi atas kehilangan Lingga!" Suara Bima terdengar panik di sebrang sana. Membuat pergerakan Ivander yang tengah mengeringkan rambut menggunakan handuk. Ponselnya dia letakan di atas nakas dengan mengeraskan suaranya. Ivander meletakan handuknya di atas kasur, lalu dia mengambil ponselnya mendekatkan pada telinganya. "Bagaimana ini, Pak?" Suara Bima kembali terdengar panik. "Tunggu dua puluh menit, saya ke sana sekarang." Tanpa menunggu respon dari Bima di sebrang sana. Ivander segera memutuskan panggilan telepon secara sepihak. Dia melempar asal ponselnya di atas kasur, Ivander segera mengenakan kaos polo untuk menutupi tubuh atletisnya. Ivander terpaksa harus pergi meninggalkan Anindya di villa seorang diri. Padahal ini hari pernikahan dirinya dengan Anindya, Ivander sangat ingin makan malam bersama Anindya dengan status mereka yang sudah menjadi sepasang suami istri. Ivander menyambar ponselnya kembali dan memasukkannya k
"Aku nggak tau harus bersikap kaya gimana di depan Ivander!" Anindya menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan gusar. Dia termakan omongan wanita semalam yang mengatakan Ivander hanya ingin membalas dendam padanya saja. Itu yang membuat Anindya terus meragukan perasaan Ivander, di sisi lain dia dapat melihat ketulusan hati dan sikap Ivander padanya. Namun, bisa saja apa yang dilakukan Ivander padanya hanyalah akting. Namun, jika benar itu akting kenapa terlihat sangat natural? Ah, sial rasanya Anindya ingin berteriak untuk melampiaskan rasa stressnya. Kepalanya terasa penuh, dia tidak pernah bisa merasakan tenang sedikitpun. Ada saja hal yang harus dia pikirkan. "Sebenarnya motif kamu buat nikahin aku itu apa?" Anindya menatap penuh keseriusan pada cermin di depannya. Seolah sosok Ivander berada tepat di depannya. "Bukannya niat kamu cuma tanggung jawab aja, kan?" Anindya menggeleng miris dengan tatapan sendu. "Seminggu yang lalu aku baru aja keguguran, bayi dalam kandung
"Yang kamu maksud sampah itu Melani?" Anindya menutup mulutnya menahan tawa. Ternyata suaminya yang kaku ini bisa membuat dirinya tertawa juga, karena merasa lucu dengan ucapannya. Sekedar menyebut Melani dengan sebutan sampah, Anindya ingin tertawa detik ini juga. Ivander mengangguk membenarkan tebakan Anindya. "Ketawa aja, Sayang. Nggak usah ditahan!" Akhirnya Anindya melepaskan tawanya dengan tangan yang menutupi mulutnya dengan anggun. Membuat Ivander ikut terkekeh pelan melihat Anindya yang sempat murung kembali ceria lagi. Mudah sekali Anindya merubah ekspresinya. "Ivan, maaf ya aku mau ngomong sesuatu. Kamu jangan marah sama aku, ya?" Anindya menghentikan tawanya. Kini tatapannya terlihat begitu serius berhasil mengundang kerutan pada dahi Ivander yang kini merasa bingung. "Mau ngomong apa? Aku janji nggak bakal marah!" Ivander tidak bisa marah pada Anindya, bahkan saat Anindya menolak dirinya tiga tahun yang lalu dan lebih memilih menikah dengan Lingga. Dia hanya b
"Pemandangannya sangat indah. Aku jadi terinspirasi buat bikin novel baru dengan latar tempat di dekat pantai. Mungkin, kedua pemeran utama nanti selalu menikmati keindahan senja di sore hari dengan nuansa romantis." Binar penuh kekaguman terlihat jelas pada tatapan Anindya saat menatap langit sore. Langit yang semula biru tenang kini berubah warna menjadi perpaduan antara warna merah, oranye dan juga ungu yang mulai menyatu dalam sebuah keindahan yang tak bisa diabaikan. Mentari yang perlahan tenggelam di ufuk barat, setelah menyelesaikan tugasnya hari ini. Seolah memberi salam perpisahan yang menyinari laut dengan cahaya keemasan yang berkilau. "Setelah project film Dalam Jejak Cinta selesai. Apa rencana kamu nantinya, Anindya?" Ivander sejak tadi tak melepaskan pandang sedetikpun dari wajah cantik Anindya. Melihat senyum indah pada wajah Anindya, tanpa sadar menular pada Ivander yang kini ikut mengukir sebuah senyuman tipis. Kebahagiaan Anindya sangat sederhana, hanya meli
"Nindy, aku pulang dulu, ya." Daren menutup pintu bagasi mobilnya setelah memasukkan semua barang-barang miliknuya ke dalam sana. Dia berjalan mendekati Anindya yang berada di sisi Ivander. Sejak tadi Kakaknya itu tak berhenti menatap dirinya dengan tajam. Pasalnya, Daren selalu mengajak Anindya mengobrol. Pria itu cemburu saat atensi Anindya beralih padanya. "Hati-hati, ya, Daren! Sampai jumpa di lokasi syuting nanti!" Anindya menatap Daren dengan senyuman manis yang terpatri pada wajah cantiknya. Tangan wanita itu sejak tadi mencoba melepaskan tangan kekar Ivander yang bertengger manis di pinggangnya. Posesif. Pria kaku yang berdiri begitu dekat di sampingnya ini tidak berbicara sejak tadi, hanya diam bak patung yang diberi nyawa. "Aku tunggu akting kamu yang luar biasa itu!" Anindya tersenyum malu mendapatkan pujian dari sutradara yang merupakan adik iparnya sekarang. Dia tidak sehebat itu dalam akting, semuanya masih tahap pembelajaran. Anindya masih banyak yang salah dal
"Kamu itu sengaja, ya buat aku malu di depan Papa kamu?" Ivander mengerutkan dahinya bingung, menatap Anindya yang kini mengambil duduk di sampingnya. Kemudian, Ivander tergelak pelan melihat wajah cantik Anindya yang tertekuk seperti ini. Anindya menoleh pada Ivander saat mendengar tawa pria itu yang begitu menyebalkan. Anindya yang kesal mengambil bantal sofa dan melempar pelan pada Ivander membuat pria itu menghentikan tawanya karena terkejut dengan serangan tiba-tiba Anindya. "Oh, jadi bener kamu sengaja buat aku malu, ya? Maksud kamu apa, Ivan?"Ivander meletakan bantal sofa yang dilempar oleh Anindya mengenai perutnya di sisi tubuhnya. Tidak sakit, Ivander hanya terkejut saja. "Kok, nuduh aku kaya gitu?" Ivander menjawab dengan santai. Dari raut wajahnya sedikitpun rasa bersalah tidak ada. "Kamu keterlaluan banget, Ivan. Kenapa kamu harus ngomong langsung di depan Papa kamu, sih?" Anindya masih terasa kesal saja rasanya. Meskipun kejadian di meja makan pagi tadi sudah lew
"Ivander, setelah sarapan Papa langsung pulang ke kota Luton."Sudah dua tahun lebih William menetap di kota Luton, karena pekerjaannya di sana yang tak bisa ditinggalkan. William pulang ke kota Pandora hanya sesekali saja lamanya satu minggu, singkatnya tiga hari saja. Namun, menjelang pernikahan putranya dengan Anindya. William tinggal di kota Pandora cukup lama, selain karena dia harus menghadiri rapat penting bersama komisaris satu minggu yang lalu juga dia ingin menyaksikan pernikahan putranya secara langsung. William ingin menemani Ivander di hari yang sangat bahagia ini. Dia ingin mendampingi Ivander yang akan memulai perjaanan hidup baru yaitu pernikahan. Hal yang sangat sakral di mana kedua pasangan itu akan menjalani kehidupan sehidup semati. Dua minggu ini juga William mengetahui hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Ivander yang terlihat sangat keras tak tersentuh itu bisa mencintai sosok wanita yang pernah menolaknya tiga tahun yang lalu dengan begitu tulus. I
"Nindy, kamu mandul?" Suara tegas Arjuna Aditama menghentikan kegiatan makan malam semua orang. Dia adalah ayah mertua Anindya. Suasana di ruang makan langsung berubah canggung. Bibir Anindya gemetar. "Aku ... aku nggak—"Anindya gugup. Dia baru selesai memasak dan mengatur semua menu di meja makan. Dia bahkan masih memakai celemek dan belum sempat duduk. Anindya Prameswari, 25 tahun. Saat usia 22 tahun, dia kabur dari rumahnya karena perjodohan. Sebelum menikah dengan Lingga Aditama, dia adalah seorang nona muda satu-satunya keluarga Darendra. Keluarga Darendra adalah salah satu dari empat keluarga kaya di Kota Pandora. Tiga keluarga lainnya yaitu keluarga Alessandro, Malik dan Triharjo. Namun setelah menjadi menantu keluarga Aditama, Anindya justru diperlakukan seperti babu. Ibu mertua Anindya menyela, "Mau alesan apa lagi kamu? Keluarga Aditama butuh penerus secepatnya." Sebagai ibu mertua, Marisa Ayudewi tidak pernah mengakui Anindya sebagai menantu keluarga Aditama. Alasann...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen