Share

Bab 3. Apa Salahku?

Penulis: AshZe
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-16 11:01:32

"Yes! Akhirnya aku bebas dari rumah neraka itu!" teriak Rizal kencang. Ia bahkan melompat ke udara dengan kegirangan tanpa memikirkan perasaanku yang terluka karena perbuatannya.

Aku menghentikan langkahku seraya menatapnya dengan marah. "Kamu sengaja melakukan ini agar bebas dari rumah?"

"Iya.” Pemuda itu mengangguk tanpa merasa bersalah. “Aku sudah muak berada di rumah itu!"

"Tapi kamu menjadikanku korban, Zal!"

"Itu urusanmu sendiri, Mbak! Yang penting, rencanaku berhasil!"

Aku terduduk dengan lemas. Air mataku luruh begitu saja membanjiri kedua pipiku. Tega sekali Rizal menjadikanku korban hanya untuk kepentingannya sendiri.

“Harusnya, kamu berterimakasih padaku, Mbak.” Ia menepuk dadanya sendiri. “Berkat aku, kamu nggak dicap sebagai perawan tua lagi.”

“Tapi gara-gara kamu, aku diusir oleh ibuku sendiri dan diusir dari kampung, Zal!” teriakku frustrasi.

“Kamu justru bebas, Mbak!” Rizal ikutan berteriak. “Kamu nggak perlu menanggung hidup ibumu dan adik-adikmu yang gak tahu diuntung itu!”

Aku menyeka air mataku dengan kasar. Perkataan Rizal memang benar, aku tak perlu menanggung hidup Ibuku dan Adik-adikku lagi karena aku telah diusir secara tak terhormat. Namun, tetap saja aku belum bisa menerima kenyataan menyakitkan ini.

“Apa salahku?”

Rizal yang sudah berjalan di depanku segera menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya dan menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. “Salah?”

“Iya, apa salahku? Perempuan di luar sana banyak! Tapi, kenapa harus aku?”

Rizal mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berjalan mendekat ke arahku dan berjongkok tepat di hadapanku. “Kamu mau tau alasannya, Mbak?”

Tangan kanannya tiba-tiba terulur menyentuh sudut mataku yang basah. “Karena kamu adalah perawan tua. Itu alasanku, Mbak!”

Aku terkejut mendengar alasan yang baru saja dilontarkan oleh Rizal. Alasan yang menurutku tidak masuk akal tapi sukses membuat ulu hatiku berdenyut nyeri.

Aku menepis tangan Rizal. “Kalau begitu, ceraikan aku sekarang juga!”

Rizal menatapku dengan tajam. “Tentu saja gak bisa!”

“Kenapa gak bisa?”

“Kamu gak perlu tahu alasannya, Mbak! Yang jelas, sampai kapanpun, aku gak akan menceraikanmu!”

***

“Kamu tinggal di kontrakan sempit ini, Mbak?” tanya Rizal, begitu aku mempersilakannya masuk ke dalam kontrakanku.

Aku hanya diam dan tak berniat menjawab pertanyaannya sama sekali.

Malam itu, dengan terpaksa, aku membawa Rizal ke kontrakanku yang berada di ibu kota.

Rizal ke luar rumah benar-benar dengan tangan kosong. Yang ia bawa hanyalah pakaian yang melekat di badannya. Walau aku marah padanya, aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja.

Mungkin, aku memang bodoh. Tapi untuk saat ini, siapa lagi yang mau menjadi temanku kecuali Rizal?

Ayah sudah tiada. Ibu mengusirku, begitupun dengan adik-adikku yang kian membenciku. Keluarga sudah tidak peduli, apalagi para tetangga di kampung. Siapa lagi yang aku harapkan saat ini kalau bukan Rizal?

Aku adalah tulang punggung keluarga yang telah menghidupi keluargaku. Tapi kenapa, aku dibuang begitu saja? Apa tidak ada sebersit rasa iba pada diriku yang mati-matian mencari pundi-pundi rupiah di kota orang hanya untuk menghidupi mereka?

Apa tak berharganya diri ini hingga dengan mudahnya, aku dibuang begitu saja oleh mereka?

Aku memukul dadaku berulang kali. Kenapa rasanya sesakit ini, ya Allah?

“Mbak, aku laper.”

Aku yang hendak menangis jadi urung gara-gara mendengar Rizal yang mengeluh lapar. Aku menoleh ke arahnya dengan kesal, tapi melihat wajahnya yang memelas dan sedikit pucat aku tidak jadi memarahinya.

Aku meletakkan tas jinjing yang kubawa dan mengambil minuman dari dispenser untuk membasahi kerongkonganku sekaligus menjernihkan pikiranku.

Tanpa berkata apapun, aku segera menuju dapur kecilku untuk membuatkannya makanan.

“Makanlah!” kataku padanya, ketika makanan telah selesai kumasak. Hanya semangkuk mie instan saja, tak ada makanan lain di kontrakanku ini.

Rizal menerima dengan senang hati. Ia bahkan langsung memakannya dengan sangat lahap bagai orang yang sudah tak makan berhari-hari.

Sebenarnya, aku ingin merasa kasihan padanya. Tapi ternyata, yang harusnya aku kasihani adalah diriku sendiri.

“Kamu di sini hidup susah, sementara ibu dan adik-adikmu hidup di kampung dengan gaya hedon, Mbak!” ujar Rizal disela makannya.

“Bulan lalu, ibumu baru saja membeli kalung sepuluh gram. Sementara kamu, di sini hidup pas-pasan, Mbak.” Lanjut Rizal lagi sambil terbatuk-batuk karena kuah mie yang cukup pedas.

Aku mengambilkannya minum dan ku letakkan di lantai dengan kasar. “Bicara sekali lagi aku tutup mulutmu pakai lem!”

Aku sengaja berkata demikian agar Rizal berhenti tak mengatakan hal itu lagi. Karena itu akan membuat hatiku semakin sakit lagi.

“Ish, sadis sekali.”

“Kalau begitu diam!”

“Iya-iya.” Rizal langsung mengatupkan mulutnya dan melanjutkan makannya.

Setelah selesai makan, Rizal terlihat hidup lagi. Energi yang sempat hilang kini kembali lagi. Bahkan, bocah menyebalkan itu sibuk mengelilingi kontrakan sempitku ini. 

Kadang, ia berhenti di depan aquarium kecilku hanya untuk melihat ikan yang berenang ke sana-sini.

Lalu, ia akan berhenti di depan dispenser air hanya untuk mengamatinya. Bahkan, setrika yang kugeletakkan di lantai tak luput dari amatannya.

Sebenarnya bocah itu Intel atau apa? Kepalaku sampai berdenyut karena terus melihatnya mondar-mandir tak jelas seperti itu.

“Daripada mondar-mandir seperti itu, sebaiknya kamu tidur, Zal!” kataku pada akhirnya karena sudah tak tahan melihatnya yang mondar-mandir seperti itu.

“Tidur? Memangnya kita nggak malam pertama dulu seperti pengantin pada umumnya?”

Aku langsung menatap Rizal dengan nyalang. “Bicara apa kamu?”

“Bercanda, Mbak.” Bocah menyebalkan itu malah tertawa. “Ngomong-ngomong, aku tidur di mana, Mbak?”

“Di depan!”

“Depan mana?”

“Depan kontrakan!”

“Haish, tega sekali.”

Aku melemparkan sebuah bantal padanya dengan kesal. Terserah dia mau tidur di mana saja, aku tak perduli!

“Mbak?” Dia memanggilku lagi. 

“Mbak?” Namun, aku memilih menutup seluruh tubuhku dengan selimut.

“Kalau dipanggil diam saja, kamu aku hamili lho, Mbak!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
fatmawati
mungkin rizal sebenarnya ada rasa sama si rara
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 4. Merasa Tertindas

    Aku membuka selimut yang membungkus tubuhku dengan kasar lalu menatap Rizal dengan geram. “Apalagi, sih, Zal? Bisa jangan ganggu aku terus? Aku capek, aku mau tidur! Besok aku kerja!”Rizal kemudian memperlihatkan bantal yang dipegangnya padaku. “Bantalnya bisa tukar nggak, Mbak? Masa aku tidur pakai bantal gambar helo kiti, yang benar saja kamu, Mbak!”Aku menghela napas panjang. Perkara bantal saja jadi masalah. Memangnya, kalau dia memakai bantal bergambar helo kiti, jenis kelaminnya bakalan berubah? Tidak, ‘kan?Segera kuambil sebuah bantal polos di sampingku lalu aku lemparkan padanya.“Nah, gini, dong!” Dia segera berlalu dari hadapanku ke ruang depan.Segera kubaringkan diriku di tempat tidur lagi. Aku sudah sangat lelah dan butuh istirahat. Kejadian hari ini benar-benar menguras semua tenagaku. Barangkali, ketika aku tidur, beban hidupku sedikit berkurang.“Mbak?” tiba-tiba bocah menyebalkan itu memanggilku lagi. Buru-buru kutarik selimutku dan pura-pura tertidur dengan harapa

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 5. Kesucianku Direnggut Suamiku Sendiri

    “Selamat datang kembali, Mbak Rara,” sambut Rizal ceria ketika aku sudah sampai di kontrakan.“Ya, terimakasih.” Aku melepaskan sepatuku dan segera masuk ke dalam kontrakan.Seketika aku terkejut melihat penampakan kontrakanku saat ini. Kenapa semuanya tampak berubah semua?Cat tembok kontrakan yang biasanya terlihat kusam dan mengelupas, kini berubah menjadi tembok cantik dengan wallpaper bunga.Ruangan utama ada karpet bulu-bulu berwarna merah muda dan di depan karpet ada sebuah televisi layar lebar di letakkan di atas meja yang aesthetic.Tak sampai di situ, ruangan tengah yang biasa aku pakai untuk tidur kini ada bad cover minimalis disertai dengan dipannya.Lalu ada sebuah kulkas, lemari pakaian, dispenser baru, dan berbagai pernak-pernik yang memperlengkap isi kontrakanku.Ketika aku berjalan ke dapur. Di sana sudah ada lemari piring baru disertai dengan peralatan memasak yang lengkap pula.Aku sampai mencubit kedua tanganku, barangkali aku hanya mimpi, kontrakan kumuhku berubah

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 6. Mimpi?

    Seharian ini, aku bekerja dengan pikiran yang kacau balau. Gara-gara hal itu, aku banyak melakukan kesalahan sehingga mendapatkan omelan dari Bu Sinta. “Kamu masih niat kerja nggak sih, Ra?” bentak Bu Sinta sambil berkacak pinggang ketika aku lagi-lagi memecahkan sebuah gelas. “Ma-maaf, Bu. Saya tidak sengaja.” “Gak sengaja gimana! Sudah lima gelas yang kamu pecahkan, lho! Kamu pikir itu gelasmu!” “Ma-maaf, Bu.” “Ck, bulan ini gajimu dipotong karena sudah memecahkan gelas!” Aku hanya menunduk dan tak berniat membantah perkataan Bu Sinta. Mau bagaimanapun, ini memang salahku. Tidak apa-apa jika gajiku dipotong. “Rara, sudah enggak usah diambil hati. Sini aku bantuin beresin pecahan gelasnya,” kata Mila ketika Bu Sinta sudah pergi. “Sepertinya masalahmu cukup berat. Ceritakan padaku setelah pulang kerja nanti.” Setelah pulang kerja, aku dan Mila berhenti di sebuah cafe langganan kami. Kami sengaja memilih duduk di rooftop yang cukup sepi. Mila menatapku serius, tapi dar

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 7. Menutup Mata?

    Aku mengerjap-ngerjapkan mataku menatap Rizal. "Ap-apa katamu tadi, Zal?"Rizal bangkit dari atas tubuhku seraya menggeleng pelan. "Bukan apa-apa, Mbak!" Dia langsung pergi begitu saja meninggalkanku.Kuseka embun di sudut mataku sembari melihat punggungnya yang berlalu. "Mimpi hidup denganku di rumah mewah bersama anak-anak yang cantik mirip aku?"Aku salah dengar atau apa, ya?***Seharian ini, aku hanya mendiamkan Rizal. Namun, bocah itu tetap tidak merasa bersalah sama sekali.Dia malah sibuk memberi makan ikan, menonton televisi sambil tertawa-tawa, bahkan kini ia terdengar asyik mengobrol dengan para tetangga.Sungguh, dia manusia yang tidak mempunyai peri kemanusiaan!Aku mengintip dari balik jendela. Saat ini, Rizal duduk dikerubungi oleh para Ibu-ibu. Mereka mengatakan, kalau Rizal sangatlah tampan.Aku menyipitkan mataku memperhatikan Rizal dari kejauhan. Tampan?Sebenarnya, aku akui ia cukup tampan. Alisnya tebal, matanya tajam dan agak-agak kebiruan, lalu hidungnya mancung

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 8. Rizal Kenapa?

    Tiba-tiba, malam ini aku sudah berada di kedai pinggir jalan bersama Rizal.Aku sudah bersikukuh tidak mau makan malam dengannya, tapi bocah menyebalkan itu terus-terusan merengek padaku.Daripada aku menjadi gila dan berakhir masuk rumah sakit jiwa, pada akhirnya dengan terpaksa aku menuruti kemauannya.Sikap yang aku benci pada diriku sendiri adalah tidak tegaan pada orang meskipun orang itu musuhku sekalipun."Kamu makan apa, Mbak?" "Makan angin!"Rizal malah tertawa. "Ish, Mbak Rara sukanya ngelawak!" Ia kemudian melambaikan tangannya pada salah satu pelayan kedai tersebut."Mas, pesan bebek goreng sambal matah dua porsi sama es jeruk dua gelas, ya.""Baik, Mas. Mohon ditunggu."Setelah kepergian pelayan itu, aku menyipitkan mataku menatap Rizal."Kenapa, Mbak?" tanya Rizal keheranan."Kamu, kok, tahu kalau aku suka bebek goreng sambal matah?""Daripada Mbak Rara makan angin, mendingan aku pesankan menu kesukaanku juga."Aku mengeryitkan dahiku. Entah mengapa, jawaban Rizal barus

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 9. Kamu Rara, kan?

    Aku bekerja dalam keadaan mengantuk luar biasa. Semalaman aku menunggu kepulangan Rizal, akan tetapi bocah itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya dan membuatku lagi-lagi tak bisa tidur dengan nyenyak.Sebenarnya, dia pergi ke mana? Ke tempat kerjanya? Ke rumah temannya? Mengingat ekspresi kesakitannya tadi malam, apa jangan-jangan ... dia pergi ke rumah sakit dan berakhir di rawat di sana?Mila yang berdiri di sampingku tiba-tiba menyenggol lenganku. "Masih pagi. Jangan melamun terus," bisiknya padaku."Aku enggak melamun, hanya saja ... sedang memikirkan sesuatu.""Memikirkan apa? Suami brondongmu?""Sssttt ...," aku langsung menempelkan jari telunjukku pada bibir Mila. "Untuk apa aku memikirkan makhluk menyebalkan itu," sambungku kemudian yang membuat Mila memincingkan matanya."Aku tahu kamu membencinya, tapi benci dan cinta itu beda tipis!""Heleeeh, preeet!"Mila langsung tertawa dengan ucapanku barusan. "Tapi, dia nggak melakukan yang aneh-aneh lagi padamu, 'kan?""Engga

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 10. Mantanku Jadi CEO

    Kedua mataku membola. Bagaimana dia bisa tahu kalau namaku adalah Rara?“Iya, ‘kan, Rara Prahesti?” tanyanya lagi dengan penuh penekanan.“Be-benar, saya Rara, Pak.”Laki-laki yang berada di dalam mobil itu tiba-tiba tersenyum simpul. “Kamu masih ingat aku nggak?”Aku mengamati wajah pria itu lalu menggeleng pelan.“Masa nggak ingat?” Laki-laki itu kemudian membuka kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya. “Kalau sekarang ingat, nggak?”Aku menyipitkan mataku menatap pria itu lagi. Wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya.Ah, kenapa semuanya terasa sangat familiar?Aku berpikir sejenak. Hingga tiba-tiba, sekelebat ingatanku pada pria itu berputar di otakku.“Bagaimana, apa sudah ingat?”“Ka-kamu … Mas Feri?”Laki-laki itu terkekeh pelan sembari mengangguk. “Syukurlah kalau kamu masih mengingatku.”Aku terkejut luar biasa. Bahkan, mulutku langsung menganga dengan lebar.“Bagaimana kabarmu?”Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu dan memilih menunduk. Kakiku kugeser secara perlah

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 11. Jadi Pengen Cium

    Aku memang lelah setelah seharian bekerja. Namun, rasa lelah itu berkali-kali lipat bertambah ketika mengatahui fakta, bahwa Mas Feri kini menjadi CEO di tempat kerjaku."Lesu sekali pulang kerja, Mbak! Capek, ya?" seru Rizal menghampiriku yang sedang berjalan lunglai bagai tak punya tulang.Aku mendongakkan kepalaku yang tertunduk. Rasa lelahku menguap begitu saja ketika melihat orang yang aku khawatirkan semalaman akhirnya pulang."Rizal? Kamu sudah pulang? Semalam kamu ke mana? Kamu kenapa?" Aku langsung membekap mulutku yang melemparkan banyak pertanyaan pada bocah tengil itu. Bisa-bisa, dia ke-PDan karena merasa aku khawatirkan."Tenang, Mbak! Santui." Dia tersenyum senang. "Kamu tidak perlu khawatir pada suami tampanmu ini."Nah, 'kan, apa aku bilang. Dia langsung PD bin narsis."Ayo, Mbak, masuk." Rizal tiba-tiba menarik kedua tanganku agar segera masuk ke dalam kontrakan."Aku perhatikan, kamu lelah sekali, Mbak. Kerjaanmu berat, ya?" Rizal tak menjawab rentetan pertanyaanku

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04

Bab terbaru

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 80. Cerita Rizal

    “Wanita lain?” Rizal terkekeh menatapku. “Mana mungkin aku punya wanita lain, Mbak!”“Lha itu Mawar.”Rizal lagi-lagi terkekeh. “Dia hanyalah mantan tunangannya Samuel.”“Mantan, tapi masih cium-ciuman.”“Oooh … yang waktu itu? Yang kamu kabur dari mansion itu, Mbak?”Aku terdiam. Aku tak mungkin berkata pada Rizal, jika hatiku saat itu benar-benar panas.“Kamu harus tahu yang sebenarnya, Mbak. Perempuan itulah yang terlebih dahulu mencium Samuel—dia memaksa Samuel untuk balikan. Namun, Samuel menolaknya. Samuel benci penghianatan.”Lagi-lagi, aku hanya bisa terdiam. Berarti … aku salah menilai Samuel? Rasa bersalah tiba-tiba menelusup jiwaku. Andai aku tidak kabur saat itu, bukankah semuanya akan baik-baik saja?Aku mengusap perutku yang kempes. Bulir-bulir bening tiba-tiba membasahi kedua pipiku. “Lho, kenapa malah menangis, Mbak?”Aku menggelengkan kepalaku seraya menyeka air mataku yang sudah mengucur dengan deras.“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Mbak.” Rizal kemudian menarikku

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 79. Jatuhnya Tuan William

    Sudah berminggu-minggu aku terkurung di dalam rumah sakit ini. Sesekali aku keluar hanya untuk berjemur. Itu pun harus dengan penjagaan yang super ketat. Bibi Pram tiba-tiba memasuki ruangan yang kuhuni dengan tergopoh-gopoh. Kalau sudah seperti itu, ia pasti akan menyampaikan sesuatu yang penting.“Nyonya, Anda harus melihat berita hari ini di televisi!” katanya yang kini sedang sibuk mencari remote tv.“Ada apa, Bi?”Tanpa menjawab pertanyaanku, Bibi Pram yang sudah menemukan remote tiba-tiba segera menyalakan televisi dan mencari channel yang diinginkannya.Begitu mendapatkan channel tersebut, Bibi Pram langsung menyuruhku untuk melihatnya.“Pimpinan William Group telah diambil alih oleh anak semata wayangnya yang bernama Afrizal Samuelim Exel.”Aku terbelalak membaca line berita dalam channel televisi tersebut.Jadi, Samuel sudah berhasil mengambil alih pimpinan William Group?Aku segera menyimak isi berita tersebut, tampak sang pembawa acara menyampaikan isi beritanya dengan lug

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 78. Permintaan Rara

    Kehilangan buah hati ternyata menimbulkan luka yang dalam bagiku. Aku sudah seperti orang kehilangan arah dan tidak tahu harus melakukan apa.Aku merasa hidupku seperti tidak ada artinya lagi. Duniaku runtuh, benar-benar runtuh dan tak berbentuk lagi.Andai aku tidak dikurung, andai Samuel mau menyelesaikan setiap masalah tanpa amarah yang meledak. Aku rasa, kejadian buruk ini tidak akan terjadi.Bolehkah aku membencinya yang telah membuatku seperti ini?Pintu kamar rawat yang kuhuni tiba-tiba terbuka.Kukira yang datang adalah Bibi Pram. Namun, ternyata yang datang adalah laki-laki yang membuatku menjadi hampir gila seperti ini.Aku membuang muka. Aku benar-benar muak melihatnya.“Bagaimana keadaanmu?”“Puas kamu membuatku seperti ini?” tanyaku dengan intonasi meninggi. “Kalau perlu bunuh saja aku sekalian!”Ia hanya diam. Namun, suara langkah kakinya seperti sedang menuju ke arahku. Dan secara mengejutkan, ia tiba-tiba memelukku dengan erat.Aku meronta-ronta. Untuk apa memelukku? D

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 77. Keguguran

    Aku merasakan tubuhku diangkat seseorang yang berlari entah menuju ke mana.Dari nada teriakannya, ia terdengar panik dengan keadaanku saat ini.“Tolong selamatkan istri saya, dok!”Istri? Apa yang dimaksud adalah aku?Seseorang yang menggendong tubuhku ini terus berlari.Hingga beberapa saat kemudian, aku merasa diletakkan di sebuah tempat tidur lalu ditarik dengan tergesa-gesa oleh suara riuh orang yang tidak aku ketahui mereka itu siapa.Mataku benar-benar tidak bisa terbuka seakan ada beban berat yang menimpanya.“Bapak tunggu di luar ruangan. Kami akan berusaha menyelamatkan istri dan anak Anda!”“Lakukan yang terbaik, dok! Saya tidak mau kehilangan mereka!”Tubuhku terasa dibawa menuju ke sebuah ruangan. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, yang jelas … perutku rasanya seperti sedang diremas-remas.***“Mama … Mama … bangunlah ….” kata seorang anak kecil membangunkanku yang sedang terlelap.Aku mengedarkan pandanganku. Di mana aku berada? Kenapa tempat ini semuanya berwarn

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 76. Dikurung Lagi

    Keinginan tinggal di rumah Nenek Nur selamanya dan juga keinginan membangun tempat ini nyatanya hanyalah menjadi angan-angan semata.Pagi-pagi sekali—lebih tepatnya sehabis subuh, rumah Nenek Nur di gedor-gedor pintunya hingga mau roboh.Ketika aku membuka pintu, tampak orang-orang berpakaian serba hitam yang aku ketahui mereka itu siapa langsung menyeretku agar pergi dari rumah Nenek Nur. Tidak ada yang bisa menolongku meskipun para warga yang berada di sana ingin melakukannya. Orang-orang yang membawaku ini membawa senjata tajam dan sengaja digunakan untuk menakut-nakuti mereka.Begitu hampir tiba di mobil, aku melihat sesosok laki-laki yang aku hindari tengah bersandar pada pintu mobil dengan sepuntung rokok yang berada di jemarinya.Dia menatapku tajam bak perisai yang siap menembus lawannya.Dia pikir, aku akan takut ditatap seperti itu? Tidak akan! Aku bukan Rara yang lemah seperti dulu kala! Bahkan, jika aku mati hari ini, aku siap!“Kenapa kabur?” tanyanya dingin melebihi din

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 75. Tinggal di Rumah Nenek Nur

    Dengan langkah tergesa-gesa, aku menyetop sebuah angkot ketika sudah sampai di luar.Sesekali aku menoleh ke belakang untuk memastikan ada yang mengikutiku tidak.Lagi-lagi aku bernapas lega, syukurlah tidak ada yang mengikutiku sama sekali.Sekarang, tinggal memikirkan aku harus pergi ke mana.Tiba-tiba, nama Mila melintas di pikiranku. Sepertinya, untuk sementara waktu aku akan ke rumahnya dulu.Aku segera mengeluarkan ponselku lalu menghubungi Mila.“Assalamualaikum, Rara? Ya ampuuun … ke mana saja kamu selama ini? Kenapa pesanku nggak pernah kamu balas?” cerocos Mila begitu panggilanku telah diangkatnya.“Waalaykumussallam, Mil. Nanti aku ceritakan semuanya. Kamu ada di rumah?”“Iya, aku ada di rumah. Kan, ini hari liburku!”“Oke, aku akan datang ke rumahmu.”Begitu panggilan terputus, aku segera minta turun dari angkot guna memesan taxi online menuju rumah Mila yang jaraknya sangat jauh.*Setibanya di rumah Mila, dia langsung menyambutku dengan heboh. Apalagi ketika mengetahui p

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 74. Kabur

    Aku terlonjak kaget ketika terbangun sudah tidak berada di bawah tiang mansion dekat taman.Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru arah. Kamar? Kenapa aku bisa berada di dalam kamar? Siapa yang memindahkanku?Aku beranjak dari atas ranjang ketika menyadari tidak ada Samuel di kamar ini. Sepertinya, aku harus segera pergi sebelum dia kembali.“Mau ke mana lagi?”Deg!Baru beberapa langkah kakiku melangkah, sebuah suara berhasil membuatku tak berkutik sama sekali.Aku menoleh ke arah belakang, tampak ada Samuel yang baru saja muncul dari balik pintu kamar mandi menatapku dengan tajam.“Eh, kamu sudah mendingan?” tanyaku berbasa-basi dan berusaha bersikap tenang seakan tak terjadi apa-apa.“Lumayan.”“Alhamdulillah, aku merasa senang. Kalau begitu aku—”“Ini semua berkat obat manis yang kau berikan.”Aku seketika meringis ke arahnya. Sudah dipastikan wajahku saat ini semerah tomat menahan malu. “Ma-maaf, aku tidak bermak—”“Aku suka.”Kedua mataku langsung melebar melebar sempurna mena

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 73. Malu Setengah Mati

    “Nyonya Muda, apa yang sedang Anda lakukan pagi-pagi begini di dapur?” tanya Bibi Pram menghampiriku yang sedang berkutat di dapur mansion seorang diri. Dapur mansion ada dua bagian. Dapur kotor untuk memasak sehari-hari yang dipakai oleh pelayan. Sementara dapur bersih biasanya dipakai oleh tuan rumah ketika ingin memasak sendiri. “Suamiku sedang sakit, Bi. Aku ingin membuatkannya bubur.” Bibi Pram melihat panci yang berada di atas kompor. Sedetik kemudian, perempuan paruh baya itu tersenyum ke arahku. “Apa boleh saya membantu Anda?” tanyanya kemudian. “Aku bisa sendiri, Bi.” “Apa Anda serius?” Aku menoleh ke arah panci sambil garuk-garuk kepala. Jujur saja, aku belum pernah membuat bubur. “Sebenarnya, saya belum pernah membuat bubur sendiri, Bi. Ini saya cuma cari tutorial di sosial media.” Lagi-lagi Bibi Pram tersenyum. “Berarti, saya boleh membantu, kan?” Aku langsung nyengir ke arah Bibi Pram. “Ya sudah, tolong bantuin ya, Bi.” “Baik, Nyonya Muda.” Bibi Pr

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 72. Samuel Sakit

    Aku meringkuk di sudut ruangan dengan pikiran yang kacau balau. Jiwa Rizal dan Samuel benar-benar hanya dimanfaatkan oleh Tuan dan Nyonya William untuk kepentingan mereka sendiri. Hari nurani mereka sebagai orang tua sepertinya sudah rusak. Bukan rusak lagi, tapi sudah hancur dan tak berbentuk. Anak mempunyai penyakit kepribadian ganda bukannya disembuhkan, tapi malah semakin dimanfaatkan. Bukankah itu sesuatu yang sangat aneh dan tidak manusiawi? Aku mengepalkan kedua tanganku. Tekad dalam hatiku semakin membara untuk menjatuhkan mereka. Hatiku benar-benar sakit raga suamiku diperlakukan seperti itu! Di saat sedang kalut seperti ini, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Dari balik pintu muncullah sosok seorang laki-laki yang aku khawatirkan sedari tadi. Dengan wajah yang babak belur dan baju yang bersimbah darah ia berjalan perlahan memasuki kamar. “Astagfirullah, Samuel!” Aku segera berlari menghampirinya. Melihat kondisi Samuel saat ini membuat air mataku langsung mengucur den

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status