Share

Bab 7. Menutup Mata?

Penulis: AshZe
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-03 22:33:18

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku menatap Rizal. "Ap-apa katamu tadi, Zal?"

Rizal bangkit dari atas tubuhku seraya menggeleng pelan. "Bukan apa-apa, Mbak!" Dia langsung pergi begitu saja meninggalkanku.

Kuseka embun di sudut mataku sembari melihat punggungnya yang berlalu. "Mimpi hidup denganku di rumah mewah bersama anak-anak yang cantik mirip aku?"

Aku salah dengar atau apa, ya?

***

Seharian ini, aku hanya mendiamkan Rizal. Namun, bocah itu tetap tidak merasa bersalah sama sekali.

Dia malah sibuk memberi makan ikan, menonton televisi sambil tertawa-tawa, bahkan kini ia terdengar asyik mengobrol dengan para tetangga.

Sungguh, dia manusia yang tidak mempunyai peri kemanusiaan!

Aku mengintip dari balik jendela. Saat ini, Rizal duduk dikerubungi oleh para Ibu-ibu. Mereka mengatakan, kalau Rizal sangatlah tampan.

Aku menyipitkan mataku memperhatikan Rizal dari kejauhan. 

Tampan?

Sebenarnya, aku akui ia cukup tampan. Alisnya tebal, matanya tajam dan agak-agak kebiruan, lalu hidungnya mancung disertai dengan tahi lalat di ujung hidungnya.

Rambutnya hitam legam dengan potongan rambut ala anak muda zaman sekarang, lalu postur tubuhnya juga tinggi menjulang.

Sempurna.

Nyaris tak ada cacatnya sama sekali. Kecuali ... kelakuannya padaku yang minus.

Dia orang yang membuatku berhasil di usir dari kampung, dan orang yang berhasil merenggut kesucianku.

Benar-benar astagfirullah bocah itu!

Aku cukup lama berdiam diri di depan jendela. Sesaat, aku menyadari akan suatu hal. Kalau dipikir-pikir ... kenapa Rizal tidak ada mirip-miripnya dengan Bu Ika dan Pak Nardi?

Wajah Bu Ika dan Pak Nardi khas wajah oriental orang Indonesia. Sementara wajah Rizal seperti blesteran orang Indonesia dan orang luar negeri. 

Apa jangan-jangan ....

"Oii, Mbak! Daripada ngintip di jendela, mendingan sini gabung!" 

Aku tersentak dari pikiranku ketika Rizal tiba-tiba berteriak dari arah luar sembari menatapku dari seberang sana.

Buru-buru kututup tirai jendela itu. Aduh, kenapa dia tahu kalau aku sedang mengintip dari balik jendela, sih?

Aku segera membalikkan badanku. Namun, baru satu langkah berlalu, tiba-tiba sebuah tangan menarik ujung kerudungku dari balik pintu.

"Astagfirullah, Rizal!" pekikku terkejut. "Kamu kenapa hobi bikin orang jantungan, sih!" 

Bocah menyebalkan itu hanya tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. "Salah siapa ngintip. Bintitan baru tahu rasa kamu, Mbak!"

Aku langsung merutuki kebodohanku. Ah, iya. Kenapa pula aku harus mengintip?

Rizal melebarkan daun pintu lalu beralih menarik kedua tanganku agar aku mengikutinya ke luar dan bergabung dengan para ibu-ibu yang lainnya.

"Eh ... Mbak, Rara ...," pekik Ibu-ibu itu begitu aku ke luar.

"Sebenarnya Mas Rizal ini siapa? Masa dia tadi ngaku kalau suaminya Mbak Rara."

Mulutku langsung ternganga. Kulirik sekilas ke arah Rizal yang hanya tertawa.

Tidak! Aku tak mungkin mengatakan kalau bocah menyebalkan itu adalah suamiku.

"Anu, Ibu-ibu. Sebenarnya Rizal ini adik kandung saya."

Rizal langsung menolehku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia yang sedang tertawa mendadak diam seribu bahasa.

"Saya pernah cerita kalau saya memiliki dua adik di kampung, 'kan? Nah, yang laki-laki ya ini si Rizal."

"Owalah ...," Ibu-ibu itu langsung berteriak dengan lega. Mereka percaya begitu saja dengan ucapanku.

"Lagian, saya tadi juga nggak percaya kalau Mas Rizal ini suaminya Mbak Rara," celetuk salah satu dari mereka.

"Iya, betul. Terlihat sekali perbedaan umur Mbak Rara dan Mas Rizal sangatlah jauh. Dan itu tidaklah cocok jika mereka menjadi suami dan istri!"

Aku memaksakan senyumku. Perkataan Ibu-ibu itu memang benar, hanya saja ... berhasil sedikit menusuk relung hatiku.

***

"Kamu tadi, kok, bilang ke ibu-ibu itu kalau aku adalah adikmu, Mbak?" tanya Rizal dengan nada protes ketika kami sudah kembali ke dalam kontrakan. "Masa punya suami ganteng begini gak dianggap? Parah banget kamu, Mbak!"

Aku menoleh ke arah Rizal sembari menghela napas panjang. "Kamu nggak dengar ibu-ibu tadi bilang apa?"

Rizal nampak berpikir sejenak. "Yang bilang kalau kita enggak cocok?"

Aku mengangguk.

"Cocok aja, sih, menurutku. Aku ganteng, Mbak Rara cantik, dari mana enggak cocoknya?"

Aku menajamkan indra pendengaranku. "Cantik?"

"Mbak Rara memang cantik, 'kan? Masa iya ganteng!"

Aku menarik napas panjang lagi. Apa yang aku harapkan lagi dari bocah menyebalkan itu.

"Mbak!" Ia tiba-tiba mendekat ke arahku yang otomatis membuatku memasang sikap waspada.

"Apalagi!"

"Dinner, yuk, nanti malam!"

"Dinner?"

"Hu'um. Dinner di tempat yang murah-murah aja. Mau, gak?"

Aku langsung menggelengkan kepalaku tidak mau. Kejadian semalam saja ia tak ada iktikad baik untuk meminta maaf, eh sekarang malah pakai acara mengajakku dinner. 

Menyebalkan sekali, bukan?

"Sebenarnya ... aku mau minta maaf atas kejadian semalam, Mbak." Rizal menatapku dengan perasaan bersalah. "Semalam, aku dalam pengaruh alkohol, Mbak. Maafkan aku gara-gara itu aku ...."

"STOP!" Aku langsung berteriak sebelum Rizal melanjutkan kata-katanya. "Kamu sadar kalau kesalahanmu padaku itu banyak, 'kan, Zal?"

Rizal menundukkan kepalanya.

"Pertama, kamu membuatku diusir dari kampung. Kedua, kamu mengambil harta satu-satunya yang aku miliki, Zal!"

"Makanya aku minta maaf, Mbak." Ia meraih tanganku. "Lagipula, aku akan bertanggung jawab atas kesalahan yang aku lakukan padamu, Mbak! Aku sudah menjelaskan alasannya kenapa aku melakukan itu, kenapa kamu seakan menutup mata, sih, Mbak?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
fatmawati
sepertinya rizal beneran suka sama si rara
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 8. Rizal Kenapa?

    Tiba-tiba, malam ini aku sudah berada di kedai pinggir jalan bersama Rizal.Aku sudah bersikukuh tidak mau makan malam dengannya, tapi bocah menyebalkan itu terus-terusan merengek padaku.Daripada aku menjadi gila dan berakhir masuk rumah sakit jiwa, pada akhirnya dengan terpaksa aku menuruti kemauannya.Sikap yang aku benci pada diriku sendiri adalah tidak tegaan pada orang meskipun orang itu musuhku sekalipun."Kamu makan apa, Mbak?" "Makan angin!"Rizal malah tertawa. "Ish, Mbak Rara sukanya ngelawak!" Ia kemudian melambaikan tangannya pada salah satu pelayan kedai tersebut."Mas, pesan bebek goreng sambal matah dua porsi sama es jeruk dua gelas, ya.""Baik, Mas. Mohon ditunggu."Setelah kepergian pelayan itu, aku menyipitkan mataku menatap Rizal."Kenapa, Mbak?" tanya Rizal keheranan."Kamu, kok, tahu kalau aku suka bebek goreng sambal matah?""Daripada Mbak Rara makan angin, mendingan aku pesankan menu kesukaanku juga."Aku mengeryitkan dahiku. Entah mengapa, jawaban Rizal barus

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 9. Kamu Rara, kan?

    Aku bekerja dalam keadaan mengantuk luar biasa. Semalaman aku menunggu kepulangan Rizal, akan tetapi bocah itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya dan membuatku lagi-lagi tak bisa tidur dengan nyenyak.Sebenarnya, dia pergi ke mana? Ke tempat kerjanya? Ke rumah temannya? Mengingat ekspresi kesakitannya tadi malam, apa jangan-jangan ... dia pergi ke rumah sakit dan berakhir di rawat di sana?Mila yang berdiri di sampingku tiba-tiba menyenggol lenganku. "Masih pagi. Jangan melamun terus," bisiknya padaku."Aku enggak melamun, hanya saja ... sedang memikirkan sesuatu.""Memikirkan apa? Suami brondongmu?""Sssttt ...," aku langsung menempelkan jari telunjukku pada bibir Mila. "Untuk apa aku memikirkan makhluk menyebalkan itu," sambungku kemudian yang membuat Mila memincingkan matanya."Aku tahu kamu membencinya, tapi benci dan cinta itu beda tipis!""Heleeeh, preeet!"Mila langsung tertawa dengan ucapanku barusan. "Tapi, dia nggak melakukan yang aneh-aneh lagi padamu, 'kan?""Engga

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 10. Mantanku Jadi CEO

    Kedua mataku membola. Bagaimana dia bisa tahu kalau namaku adalah Rara?“Iya, ‘kan, Rara Prahesti?” tanyanya lagi dengan penuh penekanan.“Be-benar, saya Rara, Pak.”Laki-laki yang berada di dalam mobil itu tiba-tiba tersenyum simpul. “Kamu masih ingat aku nggak?”Aku mengamati wajah pria itu lalu menggeleng pelan.“Masa nggak ingat?” Laki-laki itu kemudian membuka kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya. “Kalau sekarang ingat, nggak?”Aku menyipitkan mataku menatap pria itu lagi. Wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya.Ah, kenapa semuanya terasa sangat familiar?Aku berpikir sejenak. Hingga tiba-tiba, sekelebat ingatanku pada pria itu berputar di otakku.“Bagaimana, apa sudah ingat?”“Ka-kamu … Mas Feri?”Laki-laki itu terkekeh pelan sembari mengangguk. “Syukurlah kalau kamu masih mengingatku.”Aku terkejut luar biasa. Bahkan, mulutku langsung menganga dengan lebar.“Bagaimana kabarmu?”Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu dan memilih menunduk. Kakiku kugeser secara perlah

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 11. Jadi Pengen Cium

    Aku memang lelah setelah seharian bekerja. Namun, rasa lelah itu berkali-kali lipat bertambah ketika mengatahui fakta, bahwa Mas Feri kini menjadi CEO di tempat kerjaku."Lesu sekali pulang kerja, Mbak! Capek, ya?" seru Rizal menghampiriku yang sedang berjalan lunglai bagai tak punya tulang.Aku mendongakkan kepalaku yang tertunduk. Rasa lelahku menguap begitu saja ketika melihat orang yang aku khawatirkan semalaman akhirnya pulang."Rizal? Kamu sudah pulang? Semalam kamu ke mana? Kamu kenapa?" Aku langsung membekap mulutku yang melemparkan banyak pertanyaan pada bocah tengil itu. Bisa-bisa, dia ke-PDan karena merasa aku khawatirkan."Tenang, Mbak! Santui." Dia tersenyum senang. "Kamu tidak perlu khawatir pada suami tampanmu ini."Nah, 'kan, apa aku bilang. Dia langsung PD bin narsis."Ayo, Mbak, masuk." Rizal tiba-tiba menarik kedua tanganku agar segera masuk ke dalam kontrakan."Aku perhatikan, kamu lelah sekali, Mbak. Kerjaanmu berat, ya?" Rizal tak menjawab rentetan pertanyaanku

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 12. Omong Kosong

    Aku berlari tergesa-gesa menuruni sebuah angkot. Hari ini aku bangun kesiangan. Jangankan mandi, salat subuh saja aku lupakan.Ya ampun, bagaimana hidupku tidak kacau balau jika urusan dengan Tuhan saja aku ke sampingkan.Tunggu! Kenapa semalam aku jadi tidak bisa tidur lagi, ya? Apa karena Rizal memujiku cantik?Tidak-tidak, aku menggelengkan kepalaku berulangkali. Masa hanya itu penyebab tidak bisa tidurku!Aku pasti insomnia. "Baiklah, pulang kerja nanti aku akan beli obat di apotek."Bruuuk!Tiba-tiba, kesialan menimpaku lagi. Secara tak sengaja, aku menabrak Robi–rekan kerjaku yang sedang membawa ember berisi air bekas pel.Ember tersebut jatuh, hingga air kotor itu mengenai celanaku dan tumpah di mana-mana. Robi menatapku dengan geram, sejak dulu, ia memang tidak suka dengan diriku.“Sial! Kalau jalan pakai mata!” bentaknya kesal.“Ma-maaf, aku gak sengaja.” Aku segera berlari mengambil pel dan membersihkannya.“Lihat, sepatuku jadi basah kena air kotor itu!”“Maaf, Robi. Aku be

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-05
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 13. Mau Aku Hajar Mantanmu?

    “Rara, kamu nunggu angkot? Aku antar saja bagaimana?” Mas Feri menghentikan laju mobilnya ketika melihatku tengah berdiri di pinggir jalan.Aku menarik napas panjang. Rasanya aku benar-benar tidak betah bekerja di tempat ini lagi. Selain Bu Sinta dan Robi, kini malah ketambahan Mas Feri.“Tidak, Pak. Terimakasih,” tolakku kemudian.“Ayolah, masuk aja. Gak apa-apa.” Mas Feri turun dari mobil menghampiriku.Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Aku takut ada yang memergoki kami lalu membuat fitnah.“Maaf, Pak. Tidak.” Aku segera memundurkan langkahku.“Kenapa? Aku hanya menawarkan bantuan saja. Kita bisa berteman, ‘kan?”Aku menggelengkan kepalaku. “Bahkan, status sosial kita berbeda. Maaf saya tidak bisa.”“Rara ayolah, aku ingin berbicara banyak padamu. Aku—” "Maaf, saya tidak bisa," tukasku sebelum dia melanjutkan kata-katanya."Kenapa kamu berubah? Apa kamu sudah tidak ada rasa lagi denganku?"Rasanya aku ingin tertawa mendengar pertanyaannya. Pertanyaan itu sungguh terdengar

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-05
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 14. Kali Keduanya

    “Pegangan!”“Aku gak mau!”Rizal menepikan motornya di pinggir jalan lalu menarik kedua tanganku dengan paksa agar melingkar di pinggangnya.“Aku bilang gak mau pegangan!”“Berani lepas, aku pastikan kamu terkapar di aspal!”Aku yang semula tengah memberontak langsung terdiam mendengar ancamannya. Perangai Rizal kali ini sama seperti malam itu. Tiba-tiba, aku merasakan rasa ketakutan yang luar biasa. Apalagi, jalanan yang kami lalui bukanlah jalan menuju ke kontrakan.Jangan-jangan, aku akan dibuang Rizal ke lautan, atau yang lebih parah, dimutilasi dan—Aku memejamkan mataku. Aku benar-benar tak bisa membayangkan nasib diriku sendiri. Apabila aku meninggal hari ini, semoga saja Allah mengampuni segala dosa-dosaku.“Turun!” perintah Rizal ketika kami tiba di depan sebuah gedung megah nan elit.“Pak, parkirin motornya!” ia berteriak pada salah satu Sekuriti di sana begitu aku sudah turun dari motor.“Baik, Den!” Sekuriti itu berlari tergopoh-gopoh membawa motor sport Rizal ke tempat pa

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-06
  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 15. Dasar Brengsek!

    Aku terbangun dalam ruangan yang tak begitu asing ketika sorot sebuah lampu menyilaukan mataku.“Kontrakan?” Aku menautkan alisku melihat sekeliling. Kenapa aku bisa berada di kontrakan? Bukankah aku tadi berada di sebuah kamar apartemen, lalu Rizal ....Aku langsung mengacak-acak rambutku dengan kasar manakala mengingat kejadian yang membuat hatiku remuk redam itu.Aku segera mengubah posisiku menjadi duduk sambil sesekali memegangi kepalaku yang terasa berat.Entah mengapa, aku seperti orang yang sudah tidur dalam waktu yang sangat lama sekali. Aku bahkan seperti orang linglung yang seperti habis meminum sesuatu yang memabukkan hingga otakku tidak bisa berpikir dengan sempurna.Sebenarnya, apa yang terjadi denganku?“Mbak, kamu sudah bangun? Kamu gak apa-apa?” tiba-tiba dari arah depan, Rizal datang menghampiriku dengan raut wajah khawatirnya.Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan takut. “Jangan! Jangan mendekat!”Rizal menghentikan langkahnya, ia menatapku dengan ekspresi yang

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-06

Bab terbaru

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 80. Cerita Rizal

    “Wanita lain?” Rizal terkekeh menatapku. “Mana mungkin aku punya wanita lain, Mbak!”“Lha itu Mawar.”Rizal lagi-lagi terkekeh. “Dia hanyalah mantan tunangannya Samuel.”“Mantan, tapi masih cium-ciuman.”“Oooh … yang waktu itu? Yang kamu kabur dari mansion itu, Mbak?”Aku terdiam. Aku tak mungkin berkata pada Rizal, jika hatiku saat itu benar-benar panas.“Kamu harus tahu yang sebenarnya, Mbak. Perempuan itulah yang terlebih dahulu mencium Samuel—dia memaksa Samuel untuk balikan. Namun, Samuel menolaknya. Samuel benci penghianatan.”Lagi-lagi, aku hanya bisa terdiam. Berarti … aku salah menilai Samuel? Rasa bersalah tiba-tiba menelusup jiwaku. Andai aku tidak kabur saat itu, bukankah semuanya akan baik-baik saja?Aku mengusap perutku yang kempes. Bulir-bulir bening tiba-tiba membasahi kedua pipiku. “Lho, kenapa malah menangis, Mbak?”Aku menggelengkan kepalaku seraya menyeka air mataku yang sudah mengucur dengan deras.“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Mbak.” Rizal kemudian menarikku

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 79. Jatuhnya Tuan William

    Sudah berminggu-minggu aku terkurung di dalam rumah sakit ini. Sesekali aku keluar hanya untuk berjemur. Itu pun harus dengan penjagaan yang super ketat. Bibi Pram tiba-tiba memasuki ruangan yang kuhuni dengan tergopoh-gopoh. Kalau sudah seperti itu, ia pasti akan menyampaikan sesuatu yang penting.“Nyonya, Anda harus melihat berita hari ini di televisi!” katanya yang kini sedang sibuk mencari remote tv.“Ada apa, Bi?”Tanpa menjawab pertanyaanku, Bibi Pram yang sudah menemukan remote tiba-tiba segera menyalakan televisi dan mencari channel yang diinginkannya.Begitu mendapatkan channel tersebut, Bibi Pram langsung menyuruhku untuk melihatnya.“Pimpinan William Group telah diambil alih oleh anak semata wayangnya yang bernama Afrizal Samuelim Exel.”Aku terbelalak membaca line berita dalam channel televisi tersebut.Jadi, Samuel sudah berhasil mengambil alih pimpinan William Group?Aku segera menyimak isi berita tersebut, tampak sang pembawa acara menyampaikan isi beritanya dengan lug

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 78. Permintaan Rara

    Kehilangan buah hati ternyata menimbulkan luka yang dalam bagiku. Aku sudah seperti orang kehilangan arah dan tidak tahu harus melakukan apa.Aku merasa hidupku seperti tidak ada artinya lagi. Duniaku runtuh, benar-benar runtuh dan tak berbentuk lagi.Andai aku tidak dikurung, andai Samuel mau menyelesaikan setiap masalah tanpa amarah yang meledak. Aku rasa, kejadian buruk ini tidak akan terjadi.Bolehkah aku membencinya yang telah membuatku seperti ini?Pintu kamar rawat yang kuhuni tiba-tiba terbuka.Kukira yang datang adalah Bibi Pram. Namun, ternyata yang datang adalah laki-laki yang membuatku menjadi hampir gila seperti ini.Aku membuang muka. Aku benar-benar muak melihatnya.“Bagaimana keadaanmu?”“Puas kamu membuatku seperti ini?” tanyaku dengan intonasi meninggi. “Kalau perlu bunuh saja aku sekalian!”Ia hanya diam. Namun, suara langkah kakinya seperti sedang menuju ke arahku. Dan secara mengejutkan, ia tiba-tiba memelukku dengan erat.Aku meronta-ronta. Untuk apa memelukku? D

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 77. Keguguran

    Aku merasakan tubuhku diangkat seseorang yang berlari entah menuju ke mana.Dari nada teriakannya, ia terdengar panik dengan keadaanku saat ini.“Tolong selamatkan istri saya, dok!”Istri? Apa yang dimaksud adalah aku?Seseorang yang menggendong tubuhku ini terus berlari.Hingga beberapa saat kemudian, aku merasa diletakkan di sebuah tempat tidur lalu ditarik dengan tergesa-gesa oleh suara riuh orang yang tidak aku ketahui mereka itu siapa.Mataku benar-benar tidak bisa terbuka seakan ada beban berat yang menimpanya.“Bapak tunggu di luar ruangan. Kami akan berusaha menyelamatkan istri dan anak Anda!”“Lakukan yang terbaik, dok! Saya tidak mau kehilangan mereka!”Tubuhku terasa dibawa menuju ke sebuah ruangan. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, yang jelas … perutku rasanya seperti sedang diremas-remas.***“Mama … Mama … bangunlah ….” kata seorang anak kecil membangunkanku yang sedang terlelap.Aku mengedarkan pandanganku. Di mana aku berada? Kenapa tempat ini semuanya berwarn

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 76. Dikurung Lagi

    Keinginan tinggal di rumah Nenek Nur selamanya dan juga keinginan membangun tempat ini nyatanya hanyalah menjadi angan-angan semata.Pagi-pagi sekali—lebih tepatnya sehabis subuh, rumah Nenek Nur di gedor-gedor pintunya hingga mau roboh.Ketika aku membuka pintu, tampak orang-orang berpakaian serba hitam yang aku ketahui mereka itu siapa langsung menyeretku agar pergi dari rumah Nenek Nur. Tidak ada yang bisa menolongku meskipun para warga yang berada di sana ingin melakukannya. Orang-orang yang membawaku ini membawa senjata tajam dan sengaja digunakan untuk menakut-nakuti mereka.Begitu hampir tiba di mobil, aku melihat sesosok laki-laki yang aku hindari tengah bersandar pada pintu mobil dengan sepuntung rokok yang berada di jemarinya.Dia menatapku tajam bak perisai yang siap menembus lawannya.Dia pikir, aku akan takut ditatap seperti itu? Tidak akan! Aku bukan Rara yang lemah seperti dulu kala! Bahkan, jika aku mati hari ini, aku siap!“Kenapa kabur?” tanyanya dingin melebihi din

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 75. Tinggal di Rumah Nenek Nur

    Dengan langkah tergesa-gesa, aku menyetop sebuah angkot ketika sudah sampai di luar.Sesekali aku menoleh ke belakang untuk memastikan ada yang mengikutiku tidak.Lagi-lagi aku bernapas lega, syukurlah tidak ada yang mengikutiku sama sekali.Sekarang, tinggal memikirkan aku harus pergi ke mana.Tiba-tiba, nama Mila melintas di pikiranku. Sepertinya, untuk sementara waktu aku akan ke rumahnya dulu.Aku segera mengeluarkan ponselku lalu menghubungi Mila.“Assalamualaikum, Rara? Ya ampuuun … ke mana saja kamu selama ini? Kenapa pesanku nggak pernah kamu balas?” cerocos Mila begitu panggilanku telah diangkatnya.“Waalaykumussallam, Mil. Nanti aku ceritakan semuanya. Kamu ada di rumah?”“Iya, aku ada di rumah. Kan, ini hari liburku!”“Oke, aku akan datang ke rumahmu.”Begitu panggilan terputus, aku segera minta turun dari angkot guna memesan taxi online menuju rumah Mila yang jaraknya sangat jauh.*Setibanya di rumah Mila, dia langsung menyambutku dengan heboh. Apalagi ketika mengetahui p

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 74. Kabur

    Aku terlonjak kaget ketika terbangun sudah tidak berada di bawah tiang mansion dekat taman.Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru arah. Kamar? Kenapa aku bisa berada di dalam kamar? Siapa yang memindahkanku?Aku beranjak dari atas ranjang ketika menyadari tidak ada Samuel di kamar ini. Sepertinya, aku harus segera pergi sebelum dia kembali.“Mau ke mana lagi?”Deg!Baru beberapa langkah kakiku melangkah, sebuah suara berhasil membuatku tak berkutik sama sekali.Aku menoleh ke arah belakang, tampak ada Samuel yang baru saja muncul dari balik pintu kamar mandi menatapku dengan tajam.“Eh, kamu sudah mendingan?” tanyaku berbasa-basi dan berusaha bersikap tenang seakan tak terjadi apa-apa.“Lumayan.”“Alhamdulillah, aku merasa senang. Kalau begitu aku—”“Ini semua berkat obat manis yang kau berikan.”Aku seketika meringis ke arahnya. Sudah dipastikan wajahku saat ini semerah tomat menahan malu. “Ma-maaf, aku tidak bermak—”“Aku suka.”Kedua mataku langsung melebar melebar sempurna mena

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 73. Malu Setengah Mati

    “Nyonya Muda, apa yang sedang Anda lakukan pagi-pagi begini di dapur?” tanya Bibi Pram menghampiriku yang sedang berkutat di dapur mansion seorang diri. Dapur mansion ada dua bagian. Dapur kotor untuk memasak sehari-hari yang dipakai oleh pelayan. Sementara dapur bersih biasanya dipakai oleh tuan rumah ketika ingin memasak sendiri. “Suamiku sedang sakit, Bi. Aku ingin membuatkannya bubur.” Bibi Pram melihat panci yang berada di atas kompor. Sedetik kemudian, perempuan paruh baya itu tersenyum ke arahku. “Apa boleh saya membantu Anda?” tanyanya kemudian. “Aku bisa sendiri, Bi.” “Apa Anda serius?” Aku menoleh ke arah panci sambil garuk-garuk kepala. Jujur saja, aku belum pernah membuat bubur. “Sebenarnya, saya belum pernah membuat bubur sendiri, Bi. Ini saya cuma cari tutorial di sosial media.” Lagi-lagi Bibi Pram tersenyum. “Berarti, saya boleh membantu, kan?” Aku langsung nyengir ke arah Bibi Pram. “Ya sudah, tolong bantuin ya, Bi.” “Baik, Nyonya Muda.” Bibi Pr

  • Pernikahan Dadakan dengan Suami Menyebalkan   Bab 72. Samuel Sakit

    Aku meringkuk di sudut ruangan dengan pikiran yang kacau balau. Jiwa Rizal dan Samuel benar-benar hanya dimanfaatkan oleh Tuan dan Nyonya William untuk kepentingan mereka sendiri. Hari nurani mereka sebagai orang tua sepertinya sudah rusak. Bukan rusak lagi, tapi sudah hancur dan tak berbentuk. Anak mempunyai penyakit kepribadian ganda bukannya disembuhkan, tapi malah semakin dimanfaatkan. Bukankah itu sesuatu yang sangat aneh dan tidak manusiawi? Aku mengepalkan kedua tanganku. Tekad dalam hatiku semakin membara untuk menjatuhkan mereka. Hatiku benar-benar sakit raga suamiku diperlakukan seperti itu! Di saat sedang kalut seperti ini, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Dari balik pintu muncullah sosok seorang laki-laki yang aku khawatirkan sedari tadi. Dengan wajah yang babak belur dan baju yang bersimbah darah ia berjalan perlahan memasuki kamar. “Astagfirullah, Samuel!” Aku segera berlari menghampirinya. Melihat kondisi Samuel saat ini membuat air mataku langsung mengucur den

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status