“Huh, dasar Ibu.” Gerutuku.
Aku berjalan cepat sambil menghentakkan kaki di setiap langkah. Tanganku menyingkirkan dahan, ranting dan daun yang sesekali menutupi jalanku dengan kesal. Kususuri jalan setapak di hutan kecil di belakang rumah Nenek dan berjalan menuju danau yang ada di sisi lain hutan.
Ibu menyembunyikan komikku. Lagi. Kata ibu aku harus melakukan kegiatan di luar rumah daripada membaca komik. Padahal aku baru saja membeli komik edisi terbaru. Apa ibu tidak tahu hari ini panas sekali? Kenapa aku harus bermain di luar sih.Aku terus menggerutu sambil berjalan tak tentu arah. Langkahku terhenti saat tiba-tiba aku mencapai ujung tanah yang kupijak. Di bawah sana, terhampar danau Emrys yang airnya terlihat biru, tenang dan berkilaun.Kesal, kutendang keras-keras batu di dekat kakiku sampai terlontar jauh. Batu-batu kerikil di sekitarnya ikut bergulir jatuh. Kuhentakkan kakiku dan berbalik hendak pergi saat terdengar teriakan.“Hei!”Aku menoleh kesana kemari tapi tidak menemukan asal suara.“Disini!” Tambah suara itu lagi. Kali ini terdengar lebih jelas. Dari arah bawah.Aku melongok ke bawah mencari arah datangnya suara. Di bawahku, seorang anak lelaki sebayaku menatapku dengan kesal sambil berkacak pinggang.
“Salah apa batunya sampai kamu tendang?”Tanpa menunggu aku menjawab pertanyaannya ia menunduk sambil mengacak-acak rambutnya dengan tangan. Aku menyadari apa yang baru saja ku perbuat.“Maaf, kamu kena ya? ““Kamu tidak bisa melihat sekitarmu dulu sebelum melakukan sesuatu?”Dia balik bertanya dengan nada memarahi.“Maaf, maaf. Aku tidak sengaja. “Aku memperhatikan tempat anak lelaki itu berada. Dia berdiri di sebuah tempat semacam ceruk yang tidak terlihat dari tempatku berdiri.
“Aku tidak mengira akan ada orang di bawah sana.”
“Lalu apakah kamu mengira dengan tidak ada orang kamu bisa bertindak seenaknya? “Anak itu masih memarahiku. Aku mulai sedikit kesal. Kenapa di rumah diomeli ibu disini aku diomeli anak ini?“Iya, iya. Aku kan sudah minta maaf. ““Oke. “ Jawab anak itu sambil lalu seakan tidak terjadi apa-apa. Mau tidak mau aku sedikit terkejut dengan mudahnya suasana hatinya berubah. Ia lalu kembali menghilang di dalam ceruk.“Hei, kamu kok bisa sampai disitu? “ teriak ku. Anak laki-laki itu keluar lagi dari ceruk.“Ada jalan di sebelah sana. “ ia menunjuk arah sebelah kananku. Aku menatapnya tidak percaya.“Disana tanah milik orang kan? ““Iya. ““Apa tidak apa-apa? ““Aku tidak apa-apa tuh.” Jawabnya enteng. Aku kembali sedikit kesal dengan cara bicaranya yang agak sedikit cuek.“Kamu mau turun atau tidak?” Tanyanya lagi. Aku memandang berkeliling dengan sedikit sangsi.“Sudah turun saja. Ada tanah yang cukup aman tidak jauh dari sini. Kamu bisa lewat situ “
Kali ini ia menunjuk arah sebelah kiriku. Aku mengangguk dan mengikuti arah yang tadi ia tunjukkan. Tidak jauh dari tempat tadi, aku menemukan jalan yang dimaksud.
“Oke, ini aman.”Aku berbicara sendiri dengan sinis. Tanah yang dia maksud mungkin memang cukup aman. Tapi masih cukup terjal sehingga aku harus turun dengan cara merambat perlahan dengan pantat menempel di tanah. Untunglah turun ke bawah tidak terlalu tinggi jadi aku tidak perlu waktu lama untuk sampai ke bawah. Kutepuk-tepuk belakang celanaku.
“Wah, ibu bisa marah kalau aku sekotor ini. “Tapi lalu kuhilangkan pikiran itu. Kan ibu sendiri yang memintaku menghabiskan waktu di alam.“Akhirnya sampai juga.” Kata anak laki-laki itu padaku tanpa menoleh sedikitpun. Ia sibuk menggali tanah di hadapannya.“Kamu sedang apa? ““Namamu siapa? “Ia balik bertanya tanpa perlu repot menoleh ke arahku dan tetap melakukan kegiatannya. Aku memutar bola mataku menghadapi keunikannya.
“Aku Axel. ““Noah. “ jawabnya singkat tanpa perlu kutanya namanya.Kudekati Noah dan mengintip apa yang sedang ia kerjakan dari balik bahunya.
“Kamu sedang apa? ““Aku mencari barangku yang aku kubur disini. Tapi aku lupa letak pastinya. ““Mau aku bantu? ““Itu sekopnya. “ Aku meringis. Noah menunjuk satu buah sekop lain yang tergeletak di dekatku seakan sekop itu memang disiapkan untukku. “Apa yang kita cari?”“Kalung dengan liontin berbentuk matahari. “Aku menatapnya. “Kenapa kamu mengubur kalungnya? ““Karena aku tidak punya gelang untuk dikubur.”Aku menghela nafas sambil menahan diri untuk tidak membanting sekop di tanganku. Tapi rasa penasaranku mengalahkan rasa kesalku.Entah berapa lama kami menggali tanpa berbicara. Aku hampir saja ingin beristirahat saat aku memindahkan sebuah batu yang terkubur di tanah dan melihat benda berkilau kemerahan diterpa sinar matahari. Rasa ingin tahu dan penasaranku membuat aku menggali lebih cepat.“Ketemu!” Seruku saat kulihat sebuah kalung seperti yang digambarkan Noah. Noah menghentikan kesibukannya dan menatapku. Aku meraih kalung yang berhasil kugali dan kuacungkan ke hadapan Noah. Noah tersenyum lebar.“Tuan Noah!”Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kejauhan. Aku tersentak kaget dan menatap Noah.
“Tuan Noah!” Panggil suara itu lagi semakin mendekat. Mata Noah mencari asal suara dengan tatapan gelisah.
“Sembunyikan kalungnya.’ Desis Noah. Ada sedikit kepanikan dalam suaranya. Aku memandang dia bingung.“Cepat.” Desaknya.
Aku buru-buru meraba kantongku tapi sialnya aku sedang memakai celana pantai favoritku yang biasanya kupakai berenang dan tidak memiliki kantong satupun.
“Tuan Noah.”Aku melonjak kaget dan secara refleks menggenggam erat-erat kalung tadi dan menyembunyikannya di belakang punggungku. Liontinnya yang berujung runcing menusuk tanganku. Aku memekik tertahan. Noah mendesis menyuruhku diam.Seorang laki-laki setengah baya berbadan tinggi besar dan memakai pakaian rapi muncul dari balik semak-semak. Kutatap laki-laki yang kini berbicara dengan Noah itu.
“Anda kemana saja menghilang sejak pagi. Sekarang saatnya makan siang. Anda seharusnya sudah kembali.”“Aku di sekitar sini saja dari tadi. “ jawab Noah dengan nada sedikit kesal.“Anda harus berhati-hati. Tanah di daerah sini rawan longsor karena gempa minggu lalu. “Kata-katanya membuatku memandang sekitarku dengan gelisah. Kugenggam erat kalung di tanganku sambil berusaha menenangkan diri tapi kalung ditanganku manusukku sehingga aku memekik tertahan.Laki-laki itu mengalihkan pandangannya padaku. Noah melotot sambil menggelengkan kepalanya.“ini siapa?”Tanya laki-laki itu ke Noah setelah memperhatikan aku sekilas.
“Temanku. Axel. “Laki-laki itu kembali memandangku tidak percaya. Tapi kali ini dengan mata berbinar.“Anda punya teman? Wah bagus sekali.” Ia menoleh ke Noah,“Bagaimana kalau teman anda kita ajak makan siang sekalian? “
Noah memandangku sebentar. Belum sempat aku memberikan tanggapan dia sudah menganggukkan kepalanya.“Ayo, Axe.” Kata Noah lalu berbalik pergi. Bimbang sesaat aku lalu menyusulnya. Di belakangku lelaki tadi mengikuti kami tanpa berkata apa-apa.Kami berjalan mengikuti sebuah setapak di balik semak tempat lelaki td pertama muncul.Sepanjang jalan kami hanya diam. Walaupun aku ingin bertanya beberapa hal, mengingat kami tidak hanya berdua, aku mengurungkan niatku. Aku hanya bisa bertanya dalam hati ke arah mana jalan ini dan dimanakah letak rumah Noah.Tidak butuh waktu terlalu lama saat kami akhirnya tiba. Noah tiba-tiba menghilang dibalik segerombolan pohon. Saat aku mempercepat langkahku menyusulnya dan ikut berbelok di tempat yang sama, sebuah rumah besar berdinding bata merah dengan halaman indah menjulang di hadapanku. Aku berhenti di tempat dengan rasa terkejut.Noah yang sepertinya menyadari aku tidak lagi mengikutinya berbalik dan menatapku dengan pandangan bertanya.“Ayo.”Aku mengangguk dan mengejarnya walau masih dengan ragu-ragu.Rumah ini adalah sebuah rumah tua namun sangat terawat, luas dan indah dengan dihiasi jendela-jendela besar di hampir semua sisinya. Aku menatap berkeliling melihat berbagai hiasan yang menurut ku adalah barang tua tapi pasti kalau nenek melihat ini semua akan berkata kalau ini adalah barang antik. Untuk sesaat aku merasa seperti sedang memasuki sebuah kastil atau istana kecil.“Kami mau makan di luar. “ Kata Noah tanpa menoleh dan terus berjalan lurus ke arah belakang rumah. Aku mengangguk ke arah lelaki itu lalu setengah berlari mengikuti Noah.Aku sampai di teras belakang rumah Noah. Di belakang teras terdapat sebuah kebun yang cukup luas dengan sebuah meja piknik dari kayu berada di tengah-tengahnya. Di samping kiri dan kanan kebun dihiasi pepohonan kecil dan bebungaan. Ujung kebun ditutup dengan pagar putih yang tertutup semak mawar yang bunganya sedang bermekaran.
Tapi yang membuatku ternganga adalah dibalik pagar yang setinggi bahuku, aku bisa melihat Danau Emrys yang berkilau ditimpa cahaya matahari siang.
“Axel. “Aku menoleh ke arah datangnya suara, Noah sedang duduk di salah satu kursi yang ada di teras yang menghadap ke arah kebun dan Danau Emrys. Aku segera mendekatinya.“Ini rumahmu?”Axel mengangguk.“jadi tanah disekitar sini milikmu?”Axel mengangguk lagi.Aku duduk sambil menghela nafas. Pantas saja dia tidak bermasalah saat harus melewati tanah milik pribadi. Ternyata memang tanah yang dilewati miliknya sendiri.
Aku memandang sekitarku. Cerobong asap berwarna merah dengan ujung berwarna coklat membuatku mengenali rumah ini. Ini adalah rumah yang biasanya kulihat dari loteng rumah nenek.
Seorang wanita bertubuh kecil datang sambil membawa satu teko jus jeruk yang terdapat irisan tipis jeruk dan daun mint di dalamnya. Titik-titik air yang menempel di luar teko kaca membuat jus terlihat lebih segar dan mau tak mau membuatku menelan ludah. Aku baru sadar bahwa aku sangat haus.Setelah menuangkan jus ke gelas kami, wanita itu pergi. Kuulurkan tanganku dan aku baru sadar kalau aku masih menggenggam kalung Noah.“Kalungmu.”“Bawa saja dulu.” Kata Noah lirih.“Tapi aku tidak punya kantong.”“Pakai saja. “Aku menurut apa katanya. Kupakai kalung itu di leherku dan kusembunyikan dibalik kaos yang aku pakai.Aku melihat tanganku yang terasa sedikit sakit dan panas. Karena tadi aku sempat menggenggam kalung itu kuat-kuat, bentuknya liontinnya yang seperti matahari membekas di telapak tanganku. Kugosok-gosok tanganku dengan harapan aku bisa merasa lebih baik.Setelah semua makanan terhidang di meja kami mulai makan.* * *
Sepanjang siang aku menghabiskan waktuku di rumah Noah, baru saat menjelang sore aku pulang. Setengah berlari aku memasuki kebun depan rumah nenek, takut kalau ibu menegurku karena pulang terlalu sore. Dari kejauhan terlihat nenek yang duduk di kursi teras. Kunaiki tangga teras yang rendah dengan satu kali lompat.
“Nenek. “ sapaku riang.Tapi tidak ada jawaban. Kudekati nenek yang memejamkan matanya dan kusentuh tangannya.
“Nek, Nenek. “
“Ah, ada Axel. Aku pura-pura tidur saja. “Aku tertawa.
“Nenek kalau pura-pura tidur jangan mengatakannya padaku. Aku jadi tahu, kan. “
Mata nenek tiba-tiba terbuka. Ia menatapku terkejut.“Kamu mendengar kata-kata nenek? “ tanya nenek kepadaku.Aku mengangguk. “Tentu saja. Nenek bicaranya keras. “Nenek menatapku lagi lalu menundukkan kepalanya.“Apa kamu masih mendengar suara nenek? “
Aku mengerutkan alisku dan memandang nenek dengan kesal.“Tentu saja masih, nek. Kan nenek tidak diam.”
Nenek mengangkat kepalanya lalu memandangku dari atas ke bawah.
“Haze!”Tiba-tiba Nenek memanggil Ibu. Aku panik karena takut ditegur ibu lagi karena pulang terlalu sore dan buru-buru melepas tangan nenek hendak kabur. Tapi Nenek memegang lenganku dan berdiri dari kursinya.
“ikut Nenek.” Nenek setengah menyeretku memasuki rumah.
“Haze. “ panggil Nenek lebih keras. Ibu buru-buru turun dari lantai atas.
“Ada apa, Bu?” Matanya bergantian melihatku dan nenek.Untuk sesaat Nenek terdiam. Aku berdiri di tempatku dengan gelisah sementara ibu memandang kami penasaran.“Dia bisa mendengar lagi. “Mata ibu melebar mendengar kata-kata Nenek. Aku menundukkan kepalaku. Meskipun aku tidak paham apa maksud kata-kata Nenek tapi reaksi Ibu mau tidak mau membuatku gelisah.
Ibu orang yang biasanya tidak terlalu banyak bicara. Saat dimana ibu mengeluarkan kalimat panjang dengan ekspresi terusik, seperti saat menegurku atau saat seperti ini, selalu membuatku gelisah dan khawatir.
Ada masalah apa dengan pendengaranku yang membuat Ibu dan Nenek terlihat begitu terkejut? Bukankah selama ini pendengaranku baik-baik saja. Kenapa kali ini Ibu dan Nenek begitu mempermasalahkannya.* * *
Kami makan dengan tenang. Setelah makan malam selesai aku dan Ashlyn adik perempuanku biasanya naik ke kamar kami di atas atau menonton televisi. Tapi kali ini aku tidak ke kamar atau ke ruang tengah. Aku duduk di tangga memperhatikan kesibukan di ruang makan.
Ayah berbicara sebentar dengan nenek di ruang makan lalu duduk di ruang tengah. Kuperhatikan ayah yang tampak biasa, tidak seperti Ibu dan nenek yang sedikit gelisah.Ayah memang orang yang selalu tenang. Dibalik badannya yang tinggi besar dan kesannya menakutkan, ayah adalah orang yang sangat humoris dan ramah. Seperti Nenek. Dan sama seperti nenek, ayah juga memiliki kulit agak gelap. Karena nenek memiliki keturunan suku asli daerah ini.Dengan badan yang tinggi besar, ia selalu membuat aku merasa aman dan terlindungi. Adik perempuanku yang dua tahun lebih muda dariku, Ashlyn, lebih suka memanggilnya papa beruang.
Ibuku adalah orang yang agak penyendiri dan tidak terlalu banyak bicara. Ia orang yang sangat berhati-hati dalam bersikap dan berbicara dan sedikit pencemas. Tapi ia sebenarnya adalah ibu yang asyik.
Ibu tidak banyak aturan, ibu tidak cerewet. Yah, kadang-kadang sih. Tapi kecerewetan ibu tidak seperti ibu teman-temanku yang mengomel panjang lebar dan lama.
Ibu hanya akan mengatakan beberapa kalimat yang pasti sangat mengesalkan tapi mau tidak mau kami pasti menurutinya. Tapi hal itu sangat jarang terjadi karena ibu tidak banyak menuntut kami. Kami bebas melakukan apapun yang kami mau. Ibu sangat mempercayai kami.
Sedangkan Nenek, mungkin Nenek adalah nenek yang sangat gaul. Nenek tau hal-hal terbaru yang sedang tren.Kadang-kadang Nenek ikut membaca komikku. Dia juga mengikuti pertandingan olahraga di televisi. Tapi seperti orang tua yang lain, nenek juga suka hal-hal yang memang disukai orang tua. Seperti barang antik. Di rumah nenek ada banyak sekali barang antik.
Oh ya, kata Nenek, keluarga Nenek adalah keturunan Shaman. Jadi Nenek bisa mengetahui hal-hal yang tidak diketahui orang lain. Aku sih tidak terlalu percaya. Tapi yang pasti, kami tidak pernah bisa berbohong ke nenek. Ia selalu tahu kapan kami berkata jujur atau tidak.
Aku mendengar suara langkah kaki dari tangga atasku. Lalu Ashlyn, adikku yang berambut hitam panjang duduk di sampingku.“Kenapa kamu duduk disini?”Tanyanya setengah berbisik. Entah kenapa dia berbisik. Mungkin dia merasakan ada yang tidak beres dengan kami. Karena tidak biasanya aku duduk diam di tangga seperti ini.
Aku mengangkat bahuku sebagai jawaban pertanyaannya. Aku sendiri bingung harus menjawab apa.A shlyn ikut memperhatikan dalam diam disampingku.
Tidak seperti adik perempuan teman-temanku yang kata mereka cerewet, mengganggu dan selalu ingin tahu urusan mereka, Ashlyn adalah adik perempuan yang tenang dan sangat tidak merepotkan. Ia seperti Ibu. Cantik dan pendiam. Saking tenang dan tidak merepotkannya dia, kadang aku lupa kalau aku punya adik perempuan.
“Axel. “
Akhirnya suara ayah terdengar.
“Ya? “ jawabku segera.Aku tidak mungkin tidak segera menjawab karena ayah tahu kalau aku sepanjang waktu duduk disini memperhatikan mereka.
“Kemarilah. “Aku berpandangan dengan Ashlyn. Saat ayah memanggil kami dengan cara seperti itu, biasanya ada hal besar yang akan terjadi.“Ya.”Aku buru-buru turun.“Turunlah juga, Ash.”Kata ayah lagi. Aku menoleh ke Ashlyn yang menatapku dengan pandangan bertanya.
Kami berlima duduk di ruang keluarga. Ayah duduk berdampingan dengan ibu. Sedang nenek duduk di kursi besar favoritnya.“Coba pegang tangan Ayah. “Ayah mengulurkan tangannya tiba-tiba. Ini bukan kata-kata yang aku kira akan keluar dari mulut ayah.
“Ayo. “
Aku ragu ragu tapi akhirnya melakukan apa yang disuruh Ayah.“Apa kamu mendengar suara Ayah? “Aku mengangguk mekipun bingung.
“Tutup matamu. “
aku melakukan apa yang dikatakan ayah.
Aku mendengar dengung samar.
“Apa kamu masih bisa mendengar suara Ayah?”Aku mengangguk. “Ya. ““Seberapa jelas kamu mendengar suara ayah? ““Jelas sekali. ““Tunggu sebentar. Jangan buka matamu.”Aku menuruti perkataan Ayah. Ia melepas tanganku. Lalu tak lama kemudian aku merasakan Ayah memegang tanganku lagi dan memindahkan tanganku ke tangan yang lebih kecil. Tangan Ashlyn. Tak lama dia berbicara padaku.“Semoga nanti Axel tidak marah kalau tahu aku tidak sengaja menumpahkan air minum ke komiknya yang disimpan Ibu“Aku terkejut dan langsung membuka mata dan menatap Ashlyn,“Apa komikku rusak? “
Ashlyn balik menatapku dengan mata terbelalak dan buru-buru ingin melepas tanganku. Tapi aku tidak ingin meloloskannya begitu saja setelah ia berkata kalau dia telah menumpahkan air minum ke komikku yang baru.“Jangan kabur setelah bilang kalau kamu telah merusak komikku.”“Tapi aku tadi tidak bilang apa-apa. ““Tapi kamu tadi bilang kamu menumpahkan air ke komikku. ““Tapi aku tidak bicara apa-apa. Tadi ayah hanya menyuruhku untuk,”Ashlyn menutup mulutnya dengan satu tangan dengan ekspresi terkejut
“Memikirkan apa saja saat memegang tanganmu. “
“Memangnya tadi apa yang kamu pikirkan? “Aku masih tidak memahaminya walaupun aku agak terkejut Ashlyn bisa bicara walaupun bibirnya tertutup. Keren sekali. Dia pasti sedang belajar ventriloquist untuk pentas akhir tahun.
“aku memikirkan komikmu. ““Nah, kamu bicara soal komikku. “Ashlyn menatapku sedikit kesal dan menyingkirkan tangannya dari mulutnya. Dia menutup mulutmya rapat-rapat.“Harus berapa kali sih aku bilang padanya kalau aku tadi tidak bicara apa-apa! Aku tadi cuma memikirkannya.”Suaranya menggema dengan jelas dalam kepalaku meskipun Ashlyn tidak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya.
Dengan terkejut kusentakkan tangan Ashlyn lalu kupandang kedua orang tua dan Nenekku dengan bingung.“Apakah kamu masih bisa mendengar suara Ashlyn sekarang? “Tanya Ayah.Aku menatap Ashlyn sesaat lalu menggeleng.
Sekarang Ibu yang memegang tanganku.“Kalau sekarang, apa kamu mendengar suara Ibu?”Aku masih dapat mendengar suara Ibu walau Ibu menutup bibirnya rapat-rapat.“Ya.” Jawabku.Ibu melepaskan tanganku. Dia memandangku seakan sedang berbicara denganku. Lalu dia bertanya“Sekarang tidak? “
Aku mengangguk. Ibu kembali meraih tanganku.“Jadi Kamu bisa mendengarkan pikiran ibu dengan jelas hanya jika memegang tangan Ibu, Axel? “Aku tersentak dan memandang sekelilingku. Suara ibu terdengar jelas di kepalaku. Bukan di telingaku.“Tadi ayah dan Ashlyn juga melakukan hal yang sama seperti Ibu? “Ayah mengangguk. Nenek tersenyum.
“Jadi?”Perasaanku bercampur antara terkejut, senang dan khawatir.
“Ya, kamu bisa mendengarkan pikiran kami, Axel. “ kata ibu singkat.Suaranya menggaung di kepala dan di telingaku.
Aku menatap Ashlyn yang balik menatapku dengan mata membelalak kagum.* * *
Aku baru saja merapatkan selimutku sampai ke dagu ketika terdengar ketukan di pintu kamar. Kemudian menyusul suara Nenek.
“Boleh nenek masuk?”Aku bangkit dari tidurku dan menyalakan lampu di samping tempat tidur.“Masuklah, Nek. “
Nenek masuk dengan senyum di bibir. Ia lalu duduk di pinggir tempat tidurku.“Hari ini kamu menemukan kemampuan yang keren, ya?”Mau tidak mau aku tertawa mendengar cara nenek bicara.“Bagaimana perasaanmu, Axel? “Aku diam sebentar lalu menatap nenek,“Aku tidak tahu. “ jawabku terus terang.
Nenek mengangguk.“Itu wajar. Ini hari pertamamu mengalaminya. Kamu masih belum tahu apa dan bagaimana kemampuan ini akan mempengaruhimu kedepannya.”Nenek memegang punggung tanganku lalu terdiam sesaat.
“Apakah kamu tidak bisa mendengar pikiran nenek jika nenek memegangmu seperti ini? “
Aku terdiam sebentar mendengarkan. Aku tidak mendengar apapun.“Tidak. “
Kali ini nenek membalik tanganku dan menggenggam telapak tanganku.“Apa sekarang terdengar?”
Aku langsung mengangguk. Suara nenek terdengar lebih jelas. Karena tidak hanya telingaku yang mendengar, tapi juga benakku. Nenek melepaskan genggamannya.“Sekarang kamu tahu bukan bagaimana kamu bisa mendengar pikiran seseorang?”Aku memikirkan kembali saat dimana aku bisa mendengar suara Nenek dan tidak. Aku mengangguk.“Karena kamu mengetahui saat kamu bisa mendengar dan tidak, berarti kamu bisa berusaha untuk mengontrol kemampuanmu dan menggunakannya hanya disaat yang tepat. Ini adalah pemberian Tuhan. Dan kamu harus menyikapinya dengan bijak. “Nenek menatap mataku.
“Semakin besar pemberian Tuhan, semakin besar pula tanggung jawab kita.”
Nenek berhenti. Matanya menatapku lekat-lekat. Ia memberiku waktu agar kata-katanya dapat kuserap.
“Kita tidak tahu sampai seperti apakah kemampuanmu nantinya. Tapi Nenek hanya berharap, kemampuan ini tidak akan terlalu mempengaruhimu dan akan membantumu menjadi lebih baik. Kamu mengerti? “
Aku mengangguk.“Sekarang tidurlah. “Nenek menepuk kepalaku. Aku membetulkan posisi tubuhku dan bersiap berbaring ketika sebuah pikiran terlintas dalam pikiranku.
“Kenapa aku bisa memiliki kemampuan seperti ini, Nek? “ aku bertanya padanya. Nenek memandangku dengan mata bersinar.“Bukankah nenek sudah sering bercerita, keluarga kita adalah keluarga yang istimewa? “Aku tersenyum. Kali ini aku benar-benar mempercayainya.Aku meletakkan beberapa buku terakhir di rak paling atas. Kupandangi deretan-deretan buku yang baru saja kutata dengan rasa puas. Kusapu satu persatu punggung buku yang berwarna warni dengan jari-jariku. Kutelusuri huruf-hurufnya yang membentuk kata dan kalimat. Buku selalu memberiku kedamaian. Dengan buku aku tidak perlu khawatir tahu terlalu banyak saat menyentuhnya. Dengan buku aku tidak perlu takut mengetahui hal yang tidak perlu aku ketahui. Buku tidak akan membisikkan satu katapun kedalam benakku tanpa seizinku. Itulah kenapa, saat aku lulus kuliah, aku memilih bekerja di perpustakaan terbesar di kota ini. Bekerja di perpustakaan membuatku bertemu lebih sedikit orang daripada jika harus bekerja di tempat lain. Lagipula, kalau aku tidak sengaja mendengar pikiran orang lain di tempat ini, apa yang ada di pikiran mereka tidak pernah jauh dari buku yang mereka baca. Jadi hal itu membuatku merasa sedikit lebih nyaman dan mengurangi rasa bersalahku. S
Ren menuruni tangga dengan cepat saat di tiga anak tangga terakhir tiba-tiba tangga sedikit oleng. Tangan Ren serabutan mencari pegangan. Aku berlari di saat yang tepat saat dia hampir jatuh dan menyambar tanganku."Oh, no, no."Aku mengerang saat kepalaku tiba-tiba berdengung setelah memegang tangan Ren. Sebelum dengung itu berubah menjadi sebuah suara yang jelas buru-buru kutarik tanganku. Namun tetap saja potongan-potongan pikiran Ren berhasil merembes ke dalam kepalaku."Hampir.... Asuransi.... Axel"Kugoyang keras-keras kepalaku untuk mengusir potongan-potongan suara dalam benak Ren.Ren menjejakkan kakinya lalu melotot kepadaku."Hei! Apa tanganku ini ada pakunya sampai kamu begitu buru-buru menarik tanganmu? Aku hampir mati, tahu!""Maaf, aku hanya tidak ingin kamu memiliki rasa yang lebih setelah aku sentuh."“Sialan. Kamu bukan tipeku!"Ren tertawa sambil meninju lenganku. Aku meringis."Te
"Axel, mana umpannya? “ Noah berseru padaku.Aku buru-buru berlari mendekatinya sambil membawa ember kecil berisi cacing yang tadi diserahkan Simon, pelayan Noah, sebelum kami berangkat. Noah menengadahkan tangannya, aku meletakkan cacing di tangannya. Tapi cacing yang masih hidup itu menggeliut di tangan Noah. Panik, kutangkupkan tanganku di tangan Noah mencegah si cacing kabur.Dengungan yang familiar seketika memenuhi kepalaku. Tapi tidak ada satu patah katapun menyusul setelah dengungan itu. Aku menatap Noah heran.“Ada apa? “Menyadari aku yang sedang memperhatikannya Noah menghentikan kesibukannya. Kali ini suaranya terdengar jelas baik di kepala maupun di telingaku. Aku menggeleng. Tapi tidak kulepas tanganku yang sedang memegang tangan Noah. Terdengar dengung lagi kali ini. Tapi tetap tidak ada satu katapun yang berhasil aku tangkap.“Sampai kapan kamu mau memegang tanganku?” Tanya Noah sambil menatap tajam pad
Aku menelusuri jalan kecil di samping perpustakaan menuju area pertokoan dan restaurant yang berada beberapa blok di belakangnya. Jalan Maple di belakang perpustakaan adalah kawasan yang terkenal dengan restaurant dan café berdesain interior unik dan makanannya yang enak. Karena Ren sedang pergi mengurus asuransinya, untuk siang ini aku harus mencari makan siang sendirian.Ada sebuah café mungil bercat mint yang baru buka. Kubaca papan tulis berisi menu yang ada di luar café saat kulihat sosok yang aku kenal berjalan keluar dari dalam café.“Noah.”Noah mengangkat kepalanya dari handphone yang diutak atiknya sambil berjalan.“Axel. Sedang apa kamu disini? ““Aku mencari makan siang. “Noah menatap papan menu yang ada di hadapanku.“Cream soup dan garlic bread-nya enak.”“Burgernya? ““Mau coba? &ldq
“Wah, deras sekali.” Gumamku.Belum separuh jalan aku menuju perpustakaan dan Noah menuju tempat ia memarkir mobilnya saat hujan tiba-tiba turun dengan deras dan memaksa kami harus berteduh di teras sebuah toko. Kukibaskan rambutku dan kutepuk-tepuk bajuku yang basah. Noah disampingku melakukan hal yang sama dengan wajah masam. Kami lumayan basah walau hanya kehujanan sebentar.“Sepertinya langit punya dendam dengan kita. Setelah beberapa hari tidak hujan, air hujannya seperti ditumpahkan semuanya siang ini. “Aku mengangguk setuju. Setelah beberapa hari terakhir kami dibuat terlena dengan sinar matahari yang memancar cerah dan hangat, hari ini langit sepertinya memang sedang melakukan aksi balas dendam. Kupandangi jalanan di depanku yang terlihat seperti lukisan surealis karena hampir tidak nampak bentuknya tertutup air hujan yang turun dengan deras.“Meskipun pakai payung, kita tetap akan basah kuyup denga
"Selamat malam.”Simon menyapaku begitu pintu terbuka. Mau tidak mau aku sedikit terkejut. Tidak menyangka Simon akan ada di apartemen Noah. Sejak pindah di apartemen dan hidup sendiri, Simon tidak pernah datang berkunjung kecuali ada hal penting.“Noah ada?”“Sedang istirahat.” Simon berjalan mendahuluiku ke arah mini bar. “Anda mau minum?”Aku duduk di salah satu kursi tinggi dan memperhatikan Simon.“Air putih saja.”“Dingin?”Aku mengangguk.Simon membuka pintu lemari es mengambil sebotol air mineral dan meletakkannya bersama dengan sebuah gelas di hadapanku.“Bagaimana keadaannya?”Aku bertanya setelah meneguk airku langsung dari botol tanpa mengindahkan gelas yang disiapkan Simon. Kemarin aku akhirnya harus mengantarkan Noah pulang karena sepertinya keadaannya memburuk.“Sudah lebih baik.”&
Aku mengerang. Telepon genggamku berbunyi nyaring. Padahal aku baru saja bisa tidur. Kenapa telepon genggam yang biasanya hanya mode getar malam ini memilih untuk berubah jadi mode dering?Kuraba di bawah bantal tanpa hasil. Aku mengerang lagi. Akhirnya menyerah dan bangkit. Kunyalakan lampu di meja lalu melongok ke bawah tempat tidur. Telepon gengamku tergeletak di bawah tempat tidur. Bunyinya terdengar lebih nyaring di tengah kegelapan malam dengan layar yang berkedip-kedip terang. Setengah tiarap aku meraih sumber bunyi yang berhasil menggagalkan tidurku. Aku berkedip cepat melihat nama penelpon di layar. Segera kutekan tombol terima.“Ya Nek? “ tidak ada sahutan.Tapi aku bisa mendengar bunyi beberapa orang yang sedang bercakap-cakap di seberang sana. aku mengerutkan kening.“Halo, Nek? Nenek dimana? Ada apa?““Halo, Tuan Axel. “ Suara lelaki menjawab pertanyaanku. Aku mengerutkan kening lagi. Terkejut.
“Nek, sudah sore. Nenek tidak masuk?”Aku membelai bahu Nenek. Nenek menoleh padaku dan tersenyum.“Nanti saja.” Nenek menepuk tanganku.Aku duduk di samping nenek sambil tetap memeluk bahunya.“Belum ada kabar dari polisi?”Aku menggeleng. Nenek mendesah. Kugenggam tangannya dan kubelai keriput di kulitnya. Bisa kudengar banyak suara berkecamuk bercampur baur jadi satu dalam pikirannya. Bahkan untukku, apa yang ada dalam pikiran nenek terlalu banyak sehingga sulit didengar dengan jelas. Nenek tersenyum padaku.“Nenek terlalu lelah bahkan untuk bicara. Maaf kamu harus mendengar pikiran nenek yang tidak karuan.”Aku menggeleng.“Bukankah ada hal-hal yang kadang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata? Aku bisa lebih mengerti nenek dengan cara ini.”Nenek tersenyum. Ia memejamkan mata lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Kutepuk-tepuk bahunya ingin sedikit memberi
Deruta adalah sebuah hamparan tanah yang diliputi tanaman perdu menghijau. Di sela-selanya mengalir puluhan sungai yang berkelok-kelok dan menjalar kesana kemari bagai akar sebuah pohon atau jaringan saraf manusia. Sungai-sungai itu ada yang cukup lebar sehingga kami perlu memasukinya untuk menyebrang dan ada pula yang sempit dan lebih mirip aliran air dan hanya perlu satu langkah untuk lewat. Namun kesemuanya jernih dengan aliran air yang tenang. Rasanya menyejukkan. Apalagi dengan angin yang terus berhembus sepoi melenakan.Aku menudungi mataku untuk melihat kemana sungai-sungai ini mengalir.“Semakin ke utara, sungai-sungai ini akan semakin lebar sehingga membuat kita membutuhkan perahu untuk melewatinya.” Ucap Lynx memahami keingin tahuanku. Seperti biasa ia berada di barisan paling belakang bertugas mengawasi kami sementara Flaresh yang memimpin perjalanan. Di depanku ada Ashlyn, lalu Era dan Esen. kami berjalan beriringan membentuk satu baraisan dengan jarak dua sampai tiga mete
“Apa yang kau lakukan disini?” kami berlarian ke arahnya. Ini seperti de javu saat melihat Lynx beberapa waktu lalu.“Disini jalan umum. Aku bisa melakukan apa saja. Kenapa kau ingin tahu?”Belum satu menit bertemu dan dia sudah menguji kesabaran kami.“Bagaimana?” tanya Lynx.“Mungkin kemarin atau semalam. Dua hari lalu semua aman.”“Apa tidak akan ada yang memperbaiki?” Aku akhirnya memutuskan bergabung dalam diskusi mereka.“Prajurit patroli tidak memeriksa sampai dalam karena tidak banyak peri yang memilih lewat jalan ini kecuali daunas. Jadi kuragukan mereka tahu kecuali ada laporan dari peri yang akan keluar lewat sini.”“Lagipula, kalaupun ketahuan, perbaikan juga akan membutuhkan waktu beberapa hari.”“Tapi harusnya bangsa Erde bisa memperbaiki dengan cepat kan?” aku teringat prosesi pemakaman Bedhama dimana para idare Erde dengan mudahnya memanipulasi dan mengendalikan tanah sesuai keinginan mereka.“Tidak semudah itu. Celah Sunji bukan tempat biasa. Butuh Idare yang benar-be
Perjalanan kami berlangsung dengan lancar tanpa kendala yang berarti sampai akhirnya kami sampai di bawah kaki Bukit Sunji. Aku menengadahkan kepala memandang jalur curam berkelok-kelok yang akan membawa kami ke pintu masuk Kerajaan Dharana.“Pintu masuk Dharana ada di atas sana.” Kataku pada Esen yang berkuda di sampingku.“Jadi disana yang namanya Celah Sunji?” Tanyanya. Aku mengangguk.“Kita langsung saja. Istirahatnya nanti saat kita sudah melewati celah Sunji.” Kata Lynx yang berada di barisan paling depan.“Baik.” Kami menjawab serempak. Lynx mempercepat langkah kudanya. Kami mengikutinya dan melakukan hal yang sama.Aku masih ingat betapa terjalnya jalan setapak Bukit Sunji dan betapa kerasnya angin yang berhembus di samping kami saat kami berjalan. Dulu kami sampai tidak bisa berjalan dengan tegak. Selain karena terjalnya jalan, angin yang keras seakan memanggil kami untuk terjun bebas. Ditambah lagi kami harus menuntun Misu dan Tashi. Sungguh bukan perjalanan mudah.Tapi kali
Aku hanya mengantar kalian sampai sini.” Kata Ghadanfar saat kami sampai di sisi hutan yang sudah jarang ditumbuhi pohon. Langit sudah semakin terang dengan cahaya matahari yang memucat. “Selanjutnya kau tahu bukan?”Aku mengangguk. Ini adalah sisi hutan yang dulu pernah kami lalui saat pertama kali akan ke Erde.“Berhati-hatilah. Dan tetap waspada.” Ujarnya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk.“Terima kasih banyak.” Kata Esen.“Bukan masalah.” Ghadanfar mengangkat bahu. Ia melompat lalu hilang di antara pepohonan.Aku menghela nafas. Kepergiannya meninggalkan setitik rasa waswas di hatiku.“Jadi, kita berangkat sekarang?” Kataku akhirnya memandangi teman-teman seperjalanku. Esen, Era dan Ashlyn mengangguk. Firroke yang duduk di bahu Ashlyn pun melakukan yang sama. Aku mengangguk dan melangkahkan kakiku yang agak berat meninggalkan hutan Seda yang terasa seperti rumah bagiku. Misu yang seakan mengerti perasaanku menggosokkan hidungnya ke tanganku yang menggenggam tali kekangnya. Aku terse
“Kau sehat?”“Kalian baik-baik saja?”“Ah, Sanja. Lama tidak bertemu. Terima kasih telah mengantar mereka kemari. Aku tidak menyangka kalau kau yang akan mengantar mereka.”“Aku sedang ingin berjalan-jalan.”“Kalian hanya bertiga saja?”“Tidak. Kami ditemani Jalen.”Kami mengikuti arah pandangan Sanja dan mendapati kedua puma tadi telah berdiri di hadapan Raja Narawana dan berubah menjadi dua sosok peri. Yang satu adalah Ghadanfar, yang satu lagi sesosok peri yang tak pernah kami lihat. Ia berperawakan gempal, sedikit lebih pendek dari Ghadanfar namun saat ia berjalan ke samping Raja Narawana bersama Ghadanfar, kami bisa melihat bahwa ia tak lebih lambat darinya. Rambutnya yang berwarna hitam diikat kebelakang. Wajahnya tirus dengan mata berwarna kuning emas yang berkilat siaga. Dan di samping kedua matanya tampak lukisan atau tato simbol yang rumit berwarna putih keperakan yang membuatku seakan terbius dan tidak ingin mengalihkan pandanganku darinya.“Aku kira Tyh yang akan datang.”
“Bisakah kau berhenti mondar-mandir?”Aku menghentikan langkahku dan mencari sumber suara yang telah mengomeliku. Esen berjalan mendekat dengan Firroke sedang berdiri di atas kepalanya. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukannya padaku. Biasanya ia hanya akan berdiri atau duduk di pundakku.“Firroke!”Firroke hanya mendengus tapi matanya berkilat senang.“Apa yang kau lakukan di sini?”“Aku akan menemani perjalanan kalian.”“Menemani kami?”“Ya. Aku dengar kalian akan bepergian.”“Kami tidak sedang piknik.”“Kau pikir aku tidak tahu?”Ia lalu melompat ke tanah dan berjalan ke arah Raja Narawana untuk memberinya salam.Aku mengalihkan pandanganku ke Esen. Kemunculan Firroke benar-benar diluar dugaan.“Kenapa kau baru datang?”“Ada yang harus kupersiapkan dengan Ghadanfar.”Aku mengangguk. Pantas saja Ghadanfar tidak terlihat sedari tadi.“Lalu, bagaimana bisa kau dan Firroke datang bersama?”“Aku bertemu dengannya di tengah jalan lalu dia bersikeras ingin ikut.”Aku memandang Raja Narawan
Setelah hampir dua jam perjalanan kami sampai di pohon Zurine. Tampak Ghadanfar berdiri di bawah pohon menunggu kami dengan sikap siaga.Ia hanya mengangguk saat kami berada tepat di hadapannya, lalu berbalik dan menyentuh pohon Zurine. Batang pohon yang berkerut itu bergerak-gerak lalu mengembang dan menciptakan sebuah lubang yang cukup besar untuk kami masuki. Terdengar siulan pelan dari mulut Esen.Tanpa berkata apa-apa Ghadanfar memasuki pohon Zurine. Aku mengikutinya dengan Esen mengekor di belakangku. Kegelapan total menyambut kami begitu lubang di belakang kami tertutup. Hal ini mengingatkanku pada saat pertama kali aku sampai di Sena dan jatuh di dalam pohon ini.Ghadanfar meraih sesuatu lalu memberikannya kepada kami. Sebatang dahan pohon yang dipenuhi bunga yang sepintas mirip bluebell dan berpendar dengan cahaya putih. Kalau aku tidak salah ingat dari penjelasan Lynx bunga ini bernama Ruun. Dengan diterangi bunga Ruun aku bisa melihat keadaan sekelilingku yang seperti sebua
“Kau tidak apa-apa?” Esen menatapku penuh kekhawatiran saat akhirnya aku menarik tanganku dari wajah. “Seharusnya.” Aku menjawab dengan ragu. Kami berdua terdiam lagi hingga cukup lama. “Jadi kau bisa mendengarkan pikiranku tadi?” “Sepertinya.” “Tapi bagaiimana caranya? Kan kita tidak saling bersentuhan.” “Aku juga tidak tahu. Ini tidak seperti biasanya.” Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku harus berusaha berpikir jernih. “Apa yang kau lakukan tadi saat aku mendengar pikiranmu?” “Aku memeriksa bekas cakaran di dahan pohon.” “Bagaimana tepatnya kau memeriksanya?” “Aku menyentuhnya.” Dan dengan kompak kami saling pandang. “Tidak mungkin.” Aku masih tidak percaya. “Sepertinya begitu.” Kata Esen sambil mengangguk meyakinkan. “Tapi,” “Bagaimana kalau kita coba lagi?” “Ha?” Esen meletakkan tangannya di batang pohon tadi. “Coba tebak apa yang aku pikirkan.” Aku memandangnya memastikan ke kesungguhannya. Ia mengangguk menyemangatiku. “Tidak ada salahnya mencoba bukan?” Ben
Aku mengulurkan tangan menyentuh batang pohon yang berkulit kasar dan berbenjol di sana sini. Ada getah setengah kering yang merembes dari tiga buah sayatan agak dalam yang posisinya tidak lebih tinggi sedikit dari mataku. Mungkin cakaran hewan. Dengan posisi setinggi ini artinya hewannya besar. Semoga aku tidak perlu bertemu dengannya hari ini.Aku kembali meraba dan merasakan permukaan kasar dibawah jemariku. Dengan tangan masih menempel di batang pohon, aku menutup mata mencoba mendengarkan sekitarku.Telinga dan benakku menangkap bunyi yang sama. Desau angin, bunyi gesekan dedaunan yang menenangkan serta bunyi serangga dan bermacam kicau burung yang berbeda-beda. Bebunyian khas musim panas.Aku berusaha berkonsentrasi lebih dalam dan berusaha mengacuhkan bebunyian yang kudengar di telingaku. Namun tidak ada perubahan. Yang kudengar masih sama. Tidak ada suara lain.Aku mendesah dan berjalan ke pohon yang lain. Lalu mengulangi usahaku sebelumnya. Aku bisa merasakan matahari yang s