Hari ini sudah genap tiga bulan sejak kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang membuat seorang wanita yang tidak tahu apa-apa harus rela kehilangan nyawa demi Aleeta. Jujur, jika boleh mengakui sampai detik ini Aleeta juga masih merasa begitu bersalah. Wanita itu begitu baik, seharusnya dia tidak perlu menolongnya. Biarkan saja dirinya yang mati dalam kecelakaan itu.
Aleeta mendesah, bagaimanapun juga ia tidak bisa memutar waktu. Memangnya ia siapa? Mungkin saja semua itu memang sudah menjadi takdir dari Tuhan. Tapi keluarga wanita itu .... Aleeta menggeleng. Ia tidak ingin mengingat tentang keluarga wanita itu. Terutama pada pria yang dengan terang-terangan mengatainya seorang pembunuh. Aleeta kembali menggeleng. Aleeta takut. Meski Ibu Nicholas maupun pria satunya yang tidak Aleeta ketahui namanya itu tidak ikut menuduhnya sebagai pembunuh. Tapi tetap saja, Aleeta merasa ketakutan saat mengingat tatapan mematikan yang penuh kebencian dari kedua bola mata Nicholas. Nicholas Axel Frederick. Ternyata pria itu adalah CEO dari perusahaan Nordstrom. Putra dari Javier Frederick yang merupakan salah satu orang terkaya di negara tempatnya tinggal. Bahkan gedung-gedung yang berjajar di sekitar Cafe dan klub tempat Aleeta bekerja juga merupakan gedung milik keluarga Frederick. Aleeta baru mengetahui fakta tersebut setelah melihat berita heboh pasca kecelakaan yang menimpa Sesilia—calon istri Nicholas. Aleeta tahu dirinya memang bersalah. Ia yang harusnya mati saat itu. Tapi bagaimanapun juga Aleeta tidak bisa menyalahkan apa yang sudah menjadi takdir Tuhan. Dan Aleeta berharap pria bernama Nicholas itu juga paham dengan hal tersebut. Aleeta baru memejamkan mata satu jam yang lalu ketika ponselnya terus berbunyi. Sial. Siapa yang mengganggu waktu istirahatnya? Tidak tahu apa kalau Aleeta hanya memiliki waktu istirahat yang sedikit, bisa-bisanya mengganggu saja. Aleeta menatap nomor asing yang tidak di kenal. Matanya memicing. Nomor siapa ini? “Halo. Siapa, ya?” “Aleeta!” Aleeta seketika mendesah ketika mendengar suara Sonya dari seberang telepon tersebut. “Kenapa, Ma? Aku baru saja ingin tidur.” “Ke sini sekarang juga. Aku sedang terkena masalah.” “Urus saja masalah Mama sendiri. Aku capek!” Ketus Aleeta. Aleeta ingat, kejadian kecelakaan itu terjadi juga saat ia harus menjemput ibunya. Ck! Lagi-lagi Aleeta harus kembali mengingatnya. “Apa katamu?!” Sonya menjerit di seberang sana. “Kamu tahu semua masalah ini terjadi juga gara-gara kamu!” Bukan hal baru kalau Sonya akan menyalahkannya. Setiap masalah yang di hadapi wanita itu pasti adalah salah Aleeta. Sampai Aleeta sendiri heran kenapa sih Ibunya itu suka sekali menyalahkan dirinya? “Masalah apa lagi yang Mama buat kali ini?” Aleeta bertanya sembari menguap. “Datang ke alamat ini, sekarang!” Sonya menyebutkan alamat yang harus Aleeta tuju. Lagi-lagi alamat sebuah klub malam. Aleeta menghela napas. Ingin sekali ia menjerit dan mengatakan kepada Ibunya, bahwa bukan tanggung jawabnya untuk menyelesaikan semua masalah yang wanita itu perbuat. Sejak dulu kebiasaan buruk Sonya tidak pernah berubah. Hampir setiap minggu, wanita itu membuat masalah dan Aleeta yang harus menyelesaikan semua masalah itu. Aleeta mengerang, bangkit dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di luar kamarnya. Mencuci wajahnya. Lalu menyambar tas dan juga jaket, setelah itu melangkah keluar dari kontrakkan. Hari sudah pukul lima pagi. Sebentar lagi matahari akan segera terbit. *** Aleeta turun dari taksi dengan langkah pelan, ia terpaksa menggunakan taksi karena Sonya terus menghubunginya dengan tidak sabar. Lagi pula Aleeta heran, kenapa Ibunya suka sekali sih pergi ke klub yang jauh dari tempat tinggalnya? Hanya membuatnya repot saja. Aleeta memasuki klub mewah yang di buka dua puluh empat jam, ia mencari-cari keberadaan Sonya. “Kenapa lama sekali, sih?!” Sonya menariknya kesal. Sedangkan Aleeta hanya bisa pasrah mengikuti langkah wanita itu. “Masalah apa lagi kali ini, Ma?” Aleeta bertanya pelan. Sonya menarik Aleeta masuk ke dalam sebuah ruangan. “Dia yang akan mengganti rugi,” ujar Sonya tanpa aba-aba yang membuat Aleeta menoleh bingung. “Kalau begitu, bayar sekarang juga!” Seorang wanita bergaya glamor itu membentak Aleeta. “Tunggu dulu, sebenarnya ada apa ini?” Aleeta menatap Ibunya bingung. “Wanita ini telah merusak tas mahalku.” Wanita glamor itu menatap Aleeta. “Dan dia harus mengganti rugi!” “Sudah aku bilang! Aku tidak sengaja!” Bentak Sonya. “Tetap saja kamu harus mengganti rugi, wanita murahan!” Wanita glamor itu balas membentak. “Siapa yang kamu bilang murahan?!” “Kamu! Kamu wanita murahan!” “Sialan!” Sonya mengumpat kasar. “Hei, tutup mulutmu! Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni wanita murahan sepertimu. Cepat ganti rugi tasku sekarang juga!” Wanita glamor itu lagi-lagi membentak Sonya. “Aku akan mengganti rugi, memangnya kamu pikir aku tidak mampu untuk menggantinya?!” Balas Sonya tak ingin kalah. Ia tidak akan rela di rendahkan oleh wanita sialan itu. “Kalau begitu, berikan uangnya padaku, sekarang!” Aleeta tersentak saat tiba-tiba Sonya mendorong bahunya. “Cepat berikan uang ke wanita itu!” Aleeta menoleh sengit. “Memangnya Mama pikir, aku ini punya uang?!” Bentaknya kesal. “Lalu, kenapa kamu datang kalau kamu tidak punya uang?!” “Memangnya siapa yang sejak tadi memaksaku untuk datang ke sini?! Mama lupa?! Semua uangku sudah Mama ambil!” “Aku tidak mau tahu, kamu harus menggantinya, Aleeta. Kalau tidak, aku akan masuk ke dalam penjara.” Kali ini suara Sonya terdengar melemah. “Aku tidak mau masuk penjara. Kamu harus membantuku. Aku ini Ibumu!” Baru sekarang wanita itu mengaku sebagai ibu? Kemana saja wanita itu selama ini? “Heh, cepat kamu harus menggantinya! Jika tidak, aku akan menghubungi polisi,” ujar wanita glamor tersebut. “Aleeta, bantu aku!” Desak Sonya. Aleeta menjambak rambutnya karena merasa pusing yang luar biasa. Ia lalu menatap tas wanita itu yang terlihat rusak di beberapa bagian. Sial. Sebenarnya dengan apa Sonya merusak tas itu? “Berapa harga tas itu?” Tanya Aleeta. “Delapan ratus juta.” “Delapan ratus—apa?!“ Aleeta terbelalak. Begitu juga dengan Sonya yang ada di sampingnya. “Kamu bilang delapan ratus juta?!” Aleeta menjerit kaget. “Ya,” jawab wanita glamor itu sambil melipat kedua tangannya. “Tidak mungkin tas jelek dan murahan itu seharga delapan ratus juta!” Tampik Sonya. “Kamu tidak percaya? Baiklah kalau begitu ayo kita pergi ke gerainya, dan belikan aku tas yang sama dengan tas yang kamu rusak. Dan kamu yang harus membayarnya!” Desis wanita glamor tersebut. Aleeta ternganga di tempatnya. Delapan ratus juta? Apa semua itu adalah uang? Darimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Selama ini saja ia sudah bekerja dari pagi hingga pagi tapi uang yang terkumpul masih terbilang sangat jauh dari angka seratus juta. Apalagi delapan ratus juta? Kepala Aleeta kembali berdenyut nyeri saat memikirkan jumlah nominal tersebut. “Bagaimana? Kamu mau membayarnya atau tidak?! Kalau tidak aku siap menghubungi polisi dan kamu akan di penjara,” ancam wanita glamor tersebut. “Aleeta, bagaimana ini?!” Sonya menjerit panik. “Mana aku tahu!” Balas Aleeta kasar. “Kenapa sih Mama harus merusak tas itu?” Ia menatap ibunya sengit. “Karena wanita itu merebut pria yang selama ini aku incar,” jawab Sonya santai. Aleeta kembali ternganga. Rasa ingin menjerit, menangis dan tertawa histeris menjadi satu. Aleeta mengepalkan erat kedua tangannya. “Ma ...” Ia kesulitan bicara. Bisa-bisanya Ibunya merusak tas seseorang hanya karena seorang pria?! Lelucon macam apa itu? Rasanya Aleeta ingin menghantamkan kepalanya ke dinding. “Kalian bisa cepat atau tidak?! Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu kalian.” Wanita glamor itu mendesak. “Beri aku sedikit waktu untuk berpikir.” Aleeta hendak berlari keluar dari ruangan itu, tapi wanita glamor itu berhasil mencengkeram tangannya. Sial! Sepertinya Aleeta memang benar-benar tidak bisa lari dari situasi ini. Ia benar-benar terjebak. “Dengarkan aku anak manis, aku tidak pernah main-main, jika kamu tidak menggantinya hari ini. Aku bersumpah akan menjebloskan wanita murahan itu ke dalam penjara,” tudingnya ke arah Sonya. Masukkan saja! Ingin sekali Aleeta berteriak seperti itu. Melihat Sonya masuk penjara dan menyesali semua perbuatannya. Tetapi ketika ia menoleh ke arah Sonya, wanita itu menatapnya dengan mata memelas. Aleeta berpaling. Ck! Wanita itu pandai sekali memanipulasinya. “Aku nggak punya uang sebanyak itu,” jawab Aleeta pelan. “Kalau begitu, kamu memilih opsi yang kedua. Aku akan menghubungi polisi sekarang.” Wanita glamor itu sudah bersiap untuk mengambil ponselnya. “Aleeta! Bantu Mama!” Sonya menjerit, terus mendesak Aleeta sampai Aleeta merasa pusing dengan suara Ibunya. “Harusnya Mama berpikir sebelum bertindak!” Bentak Aleeta nyaris menangis. “Kenapa Mama nggak pernah berubah?! Kenapa Mama selalu menyusahkan aku?!” “Kalau kamu lupa, kamu yang membuatku seperti ini! Kalau bukan karena melahirkanmu, aku tidak akan hidup sesusah ini!” Kenapa selalu Aleeta yang salah? Apakah ia hadir di dunia ini hanya untuk di salahkan? Aleeta berusaha menahan letupan emosi itu kuat-kuat. “Kamu mau membayar ganti ruginya atau tidak?!” Wanita glamor itu sudah tidak sabar. “Kalau kamu tidak mau, kita selesaikan saja sekarang di kantor polisi.” “Beri aku waktu,” pinta Aleeta memohon. Wanita glamor itu tampaknya memang tidak main-main. “Aku berjanji akan membayarnya. Tapi tidak sekarang.” Ya, terpaksa Aleeta harus mengatakan hal itu. Meski sejujurnya Aleeta juga masih bingung dengan cara apa ia akan membayarnya. Seharusnya tadi Aleeta memang tidak usah datang ke tempat ini. Seharusnya Aleeta biarkan saja Ibunya menyelesaikan masalahnya sendiri. Seharusnya ... ya seharusnya .... “Apa yang akan kamu berikan padaku sebagai jaminannya, kamu pikir aku bisa semudah itu percaya dengan ucapanmu?” Wanita glamor itu menatapnya penuh selidik. Aleeta mengernyit. Ia merasa bingung harus memberi jaminan berupa apa? Ia saja tidak punya apa-apa. “Percayalah. Aku berjanji akan melunasinya,” ujar Aleeta. Wanita glamor itu berdecak. “Berikan tanda pengenalmu.” “Ha?” “Berikan tanda pengenalmu. Aku akan memberimu waktu sampai nanti malam. Segera bayar hari ini juga. Kalau kamu ingkar janji, siap-siap saja polisi akan menangkapmu malam ini juga. Cepat, berikan tanda pengenalmu!” Aleeta hanya bisa pasrah. Ia segera membuka dompet dan memberikan tanda pengenalnya ke wanita glamor tersebut. “Malam ini, sebelum pukul sebelas malam, kamu sudah harus memberikan uang itu padaku. Jika tidak, aku akan menyerahkan tanda pengenalmu ini ke kantor polisi. Kamu paham?” Aleeta mengangguk lemah. Wanita itu lalu beranjak pergi dari ruangan itu dengan membawa tanda pengenal Aleeta. Aleeta mendesah lunglai, lalu melangkah keluar dengan tergesa. Rasanya pengap jika ia harus berada lebih lama lagi di dalam ruangan tersebut. “Kamu harus membayarnya hari ini, Aleeta.” Sonya bersuara di belakang Aleeta. Aleeta hanya diam saja, dan terus melangkah. Rasa marah, kesal, benci dan sedih menjadi satu di dadanya. Membuatnya sesak dan ingin berteriak histeris saat ini juga. “Kamu dengar aku—“ “Aku dengar!” Bentak Aleeta kasar. “Aku dengar apa yang Mama katakan. Aku harus membereskan semua masalah yang Mama lakukan. Kenapa aku harus mengalami semua ini?! Apa Mama memang sengaja melahirkanku untuk menyelesaikan semua masalah yang Mama perbuat?!” “Kamu yang lebih dulu membuatku susah—“ “Kenapa dulu Mama nggak membunuhku saja?! Kenapa Mama memilih untuk melahirkanku?!” Teriak Aleeta dengan wajah penuh air mata. Sonya hanya diam, menatap putrinya dengan tajam. “Dan aku menyesal telah memilih untuk melahirkanmu. Seharusnya memang aku bunuh saja kamu sejak dulu. Atau seharusnya memang lebih baik kamu mati saja saat kecelakaan tiga bulan yang lalu.” Aleeta memejamkan mata. Mengusap kasar kedua pipinya yang sudah penuh dengan air mata. Sial. Seharusnya Aleeta tidak perlu menangisi hal yang tidak penting seperti ini. Tapi entahlah air matanya yang memilih untuk menetes dengan sendirinya. Sungguh, Aleeta sudah bosan menangis. Rasanya lelah dan kesal. Hal menyakitkan yang selama ini ia rasakan benar-benar berhasil membuatnya capek. Mungkin sebentar lagi Aleeta benar-benar akan mati rasa. Aleeta memilih untuk membalikkan tubuh, melangkah pergi meninggalkan Sonya yang masih berdiri di tempatnya. “Mau kemana kamu?!” Sonya mengejarnya. “Mencari uang!” Jawab Aleeta ketus, sembari terus melangkah. “Bagaimana bisa kamu mendapatkan uang sebanyak delapan ratus juta dalam sehari?” Aleeta berhenti melangkah, menoleh sengit pada Ibunya. “Dengan menjual diri. Bukankah selama ini Mama selalu menyuruhku untuk melakukan hal itu?” Desis Aleeta tajam. Sementara Sonya hanya diam sambil menatapnya datar. “Hari ini aku akan melakukannya. Aku akan menjual diri. Apa Mama sudah puas?!”“Maafkan aku, Aleeta. Aku tidak bisa membantumu.”Seketika bahu Aleeta merosot lesu saat mendengar jawaban dari Thomas—Bos di Cafe tempat ia bekerja. Di jam makan siangnya ini, Aleeta menyempatkan diri untuk menemui Thomas di ruangan kerja pria itu. Ia sudah mengatakan alasannya kepada Thomas untuk apa ia sampai harus meminjam uang, tapi ternyata Thomas tidak bisa membantu Aleeta.“Kamu pasti berpikir kalau aku ini pelit,” imbuh Thomas.“Nggak, Thom. Sungguh aku nggak berpikiran seperti itu,” sahut Aleeta sembari menggeleng.Thomas hanya bisa terkekeh kecil. “Berpikiran seperti itu juga tidak masalah, Aleeta. Orang-orang pasti berpikir kalau Cafeku ini ramai, dan untung yang aku dapatkan pasti juga lumayan. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.”Aleeta hanya terdiam menatap pria yang selama beberapa tahun ini menjadi Bosnya.“Aku punya banyak sekali tanggungan yang harus aku bayar setiap bulannya. Termasuk tempat ini, tempat tinggalku. Gaji kalian. Dan percayalah, aku rela menghemat ke
Nicholas menghentikan mobil tepat saat mobil yang ada di depannya berhenti. Hari ini ia ada janji dengan salah satu rekan bisnis dari perusahaannya. Rekan bisnisnya tersebut mengundang Nicholas datang ke sebuah klub untuk merayakan kerja sama yang sedang di jalani perusahaan mereka. Kali ini Nicholas datang bersama Julian—sepupunya, karena Lukas sedang tidak bisa menemaninya. Saat Nicholas melangkah keluar mobil, tiba-tiba ponselnya berbunyi.“Ma ....”“Kamu sudah pulang ke apartemen?”“Belum, Ma. Aku sedang menghadiri acara yang di buat oleh salah satu rekan bisnisku di perusahaan.”“Ya sudah. Jangan pulang terlalu malam. Dan ingat, jangan sampai pulang dalam keadaan mabuk, Nicholas.”“Iya, Ma.”Nicholas tersenyum tipis saat panggilan dengan Ibunya—Karina terputus. Perlu di akui, sejak kematian Sesilia, hidup Nicholas memang mengalami banyak sekali perubahan.Ia jadi lebih sering pergi ke sebua
“Lepaskan wanita itu.”Baik kedua pria yang sedang menyeret Aleeta maupun wanita glamor tadi seketika langsung berhenti melangkah. Mereka menatap Nicholas yang saat ini sudah berdiri di belakang mereka. Tatapannya dingin dan siap untuk membunuh. “Ada apa, tampan? Kenapa tiba-tiba kamu ingin aku melepaskan anak manis ini? Bukankah tadi kamu bilang tidak ingin menolongnya?” Cibir wanita glamor tersebut.“Aku bilang lepaskan!” Nicholas menarik lengan Aleeta secara kasar hingga berhasil terlepas dari genggaman salah satu bodyguard tersebut.“Heh, apa-apaan kamu?! Anak itu milikku. Kembalikan dia padaku!” Teriak wanita glamor itu.Nicholas bisa melihat Aleeta menggeleng dengan tangan yang gemetar. Dan lagi-lagi perasaan itu kembali mengacaukan pikiran Nicholas. Terlebih saat melihat Aleeta meneteskan air matanya lagi. Sial.Selama ini Nicholas memang tidak suka melihat seorang wanita menangis. Nicholas hanya m
“Temani aku tidur malam ini. Dan berikan servis yang sesuai dengan uang yang sudah aku keluarkan untukmu.”Jantung Aleeta nyaris berhenti berdetak ketika mendengar hal itu. Persyaratan macam apa itu? Ini sama halnya Aleeta keluar dari kandang buaya, lalu kembali terjebak ke dalam kandang harimau.“Maksudmu, aku harus tidur denganmu sebagai syarat dari pertolonganmu tadi, begitu?!” Aleeta menatap Nicholas dengan tatapan marah.“Ya. Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau kamu bersedia melakukan apapun jika aku mau menolongmu? Seharusnya kamu berterima kasih padaku sekarang.”Aleeta menggeleng. Ia memang mengatakan hal itu tadi, tapi itu bukan berarti ia harus tidur bersama dengan Nicholas. “Ini nggak benar,” ujar Aleeta pelan. “Aku memang bersedia melakukan apapun jika kamu mau menolongku. Tapi bukan seperti ini. Aku akan keluar dari sini sekarang.”Aleeta membalikkan tubuh. Ia berniat membuka pintu tapi pintu itu ti
“Buka pakaianmu.” Aleeta memandang Nicholas dengan tatapan kosong. Jujur ia merasa begitu takut. Tatapan Nicholas sangat tidak bersahabat, dan Aleeta cukup sadar diri bahwa ia tak perlu mengharapkan perlakuan baik dari pria itu. Aleeta tahu, Nicholas sangat ingin menyiksanya. Pria itu pasti ingin meluapkan semua kebencian itu pada dirinya malam ini. “Aku bilang buka pakaianmu!” Nicholas mulai membentak marah. Aleeta terkesiap. Dengan tangan gemetar, ia mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja navy yang ia kenakan. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan saat ia harus merendahkan dirinya sendiri seperti saat ini. Tidak hanya kemejanya saja, setelah Aleeta berhasil melepas kemeja itu dari tubuhnya, ia masih harus membuka celana jeans-nya sendiri. Kini Aleeta hanya berdiri dengan mengenakan bra dan celana dalam di hadapan Nicholas yang menatapnya intens, menilai dan sinis. Sebisa mungkin Aleeta menahan diri untuk tidak
Aleeta melipat kedua tangannya, guna menepis udara dingin yang mengenai kulit tangannya. Ia berjalan menyusuri jalanan. Setiap langkahnya terasa begitu menyakitkan. Sungguh sangat menyakitkan. Penampilannya juga terlihat begitu mengenaskan. Rambut acak-acakannya ia biarkan begitu saja menutupi wajahnya. Setelah Nicholas puas memperkosanya sepanjang malam dengan cara yang tidak mampu Aleeta bayangkan, pria itu melempar uang ke wajahnya, lalu mengusir layaknya ia adalah seekor binatang.Apa Aleeta menangis? Tidak. Ia tidak menangis. Sudah tidak ada lagi air mata yang tersisa untuk ia keluarkan. Semuanya telah habis bersama dengan penyiksaan menyakitkan yang ia rasakan sepanjang malam. Aleeta tidak peduli dengan tatapan orang-orang, ia terus berjalan semakin cepat menuju gang kontrakannya berada. Sudah pukul empat pagi, dengan rasa dingin yang terus menusuk tubuhnya dan harga diri yang telah hancur, Aleeta melangkah menahan sakit di antara pahanya.
Aleeta mengerang ketika merasakan sakit yang menyerang kepalanya. Selesai membersihkan diri tadi Aleeta langsung berbaring di tempat tidur. Ia berharap bisa memejamkan mata barang sebentar saja. Ia merasa begitu lelah. Tapi kenyataannya Aleeta tidak bisa memejamkan kedua matanya. Ia tetap terjaga di keheningan dalam kamarnya.Aleeta memutuskan untuk bangun ketika melihat jam menunjuk di angka tujuh pagi. Setiap langkah yang ia lakukan, rasa nyeri kembali menghujam di antara kedua pahanya. Ketika ia hendak melangkah keluar kamar tiba-tiba saja sakit kepala itu kembali menghantamnya. Aleeta berpegangan di ganggang pintu kamarnya. Seluruh tubuhnya terasa begitu panas, seperti orang yang sedang mengalami demam.Jika boleh memilih, tentu saja dengan senang hati Aleeta akan lebih memilih untuk kembali berbaring di atas ranjang agar sakit yang ia rasakan bisa segera mereda. Tapi kenyataan hidup kembali membuatnya tersadar. Ia tidak boleh manja. Ia harus pergi bekerja,
“Aleeta, hari ini kamu bertugas melayani tamu di ruang VIP.”Eric bersedekap menatap Aleeta yang baru saja keluar dari ruang ganti.“Apakah itu perintah dari Miko? Kenapa Miko nggak menyuruhku secara langsung saja?” Aleeta menatap Eric dengan kening berkerut.“Miko sedang tidak ada di tempat ini. Di sedang keluar. Sudahlah, lakukan saja. Hari ini kita sedang kekurangan pelayan di ruang VIP,” ujar Eric selaku orang kepercayaan Miko. Jujur saja selama bekerja di Orion, Aleeta tidak begitu akrab dengan yang namanya Eric. Selama ini Aleeta hanya melakukan tugas yang di perintahkan Miko saja, dan baru kali ini Aleeta mendapat tugas dari Eric.“Baiklah,” jawab Aleeta. Demi menghormati posisi Eric yang jelas lebih tinggi dari pada posisi Aleeta di tempat kerjanya tersebut, ia pun melakukannya.Ia lalu berjalan menaiki rangkaian anak tangga dan menuju meja bar yang ada di lantai VIP. “Aleeta, antar ini ke meja ya
Aleeta mengumpat, ketika hawa dingin langsung terasa menusuk kulitnya begitu ia keluar dari rumah. “Sial. Dingin sekali,” gerutunya seraya merapatkan jaket. Wanita itu lalu berjalan keluar gerbang mansion milik Nicholas. Begitu sampai di luar gerbang, Aleeta terdiam. Ia mencoba mengamati sekitar, rasanya asing dan tampak berbeda. Bahkan suasana, jalan dan gang-gang yang ada di sana pun juga tampak berbeda. Tiba-tiba Aleeta menjadi ragu. Apa ia harus tetap pergi atau tidak? Tapi, berhubung ia sudah berada di luar jadi tidak ada alasan baginya untuk kembali masuk ke dalam rumah lagi. Akhirnya, dengan segenap keberaniannya, Aleeta memutuskan untuk melangkah. Wanita itu berusaha mencari halte atau jalan yang biasa di lewati oleh taksi. Aleeta terus melangkah melewati kerumunan orang-orang asing yang mungkin penduduk asli, atau pun turis. Aleeta tidak tahu. Di matanya mereka semua tampak sama hingga Aleeta tidak bisa membedakannya. Orang-orang itu tampak begitu acuh dan sibuk denga
Selesai makan, Aleeta sibuk membereskan dapur, mencuci piring dan peralatan lain yang ia gunakan untuk memasak tadi. Sementara Nicholas, pria itu langsung beranjak pergi begitu saja. Entah kemana Aleeta juga tidak mengetahuinya.Setengah jam kemudian barulah Aleeta selesai dengan pekerjaannya. Wanita itu menguap, seraya meregangkan otot punggungnya. Rasanya lelah dan mengantuk. Padahal tadi Aleeta sudah sempat tertidur sebentar, tapi sekarang ia sudah mengantuk lagi. Aleeta segera membersihkan tangannya, lalu keluar dapur setelah mematikan lampu yang ada di sana. Ia berjalan menaiki tangga seraya menguap. Mengantuk benar-benar membuat kepalanya terasa begitu pusing. Rasanya Aleeta ingin langsung merebahkan diri di ranjang tempat tidur begitu ia sampai di kamar nanti. Namun, begitu Aleeta membuka pintu kamar. Ternyata Nicholas sudah lebih dulu tertidur di sana.Aleeta menghela napas. Rupanya selesai makan tadi Nicholas langsung pergi untuk tidur. Enak sekali hidup pria itu. Aleeta mem
“Aku ingin keluar sebentar.” Kata Nicholas seraya memakai coat-nya.“Kemana?” Tanya Aleeta.Nicholas langsung menoleh ke arah wanita itu. “Kamu kenapa selalu saja cerewet? Apa kamu lupa, apa yang aku lakukan itu bukanlah urusanmu? Jadi kamu diam saja, dan nggak usah terlalu banyak bertanya.”Aleeta menunduk sambil menautkan kedua tangannya. “Maaf ...,” Ujarnya pelan.Nicholas mendesah. Kenapa Aleeta suka sekali mengatakan maaf? Apa wanita itu tidak punya kata-kata lain selain kata maaf? Membuatnya jengkel saja.Mengabaikan rasa jengkelnya. Nicholas memilih untuk meraih ponsel yang ia letakkan di atas tempat tidur, lalu berjalan ke arah pintu kamar. Namun, sebelum langkahnya benar-benar mencapai pintu kamar, pria itu masih menyempatkan diri untuk menoleh.“Jangan kemana-mana selagi aku keluar. Di mansion ini nggak ada siapapun selain kita berdua. Jadi jangan merepotkanku,” peringat Nicholas dengan nada bersungguh-sungguh.Aleeta tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mengangguk, dan m
Paris, sebuah kota di benua Eropa yang biasa disebut sebagai kota cinta. Soal keindahan, seharusnya tidak perlu di ragukan lagi.Nicholas dan Aleeta baru saja tiba di Paris Charles de Gaulle Airport. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bahagianya Aleeta saat ini.Untuk pertama kalinya, Aleeta pergi ke Paris. Sebelumnya wanita itu tidak pernah tahu yang namanya dunia luar. Bagaimana rasanya pergi ke luar negeri? Seperti apa keindahannya? Namun, sekarang Aleeta benar-benar merasakannya.Aleeta menghirup napas sejenak sebelum keluar Jet. “Paris aku datang,” gumamnya dengan bibir tersenyum.Sementara itu, seperti biasa Nicholas sudah lebih dulu berjalan di depan Aleeta. Pria itu terlihat merapatkan longcoat-nya sebelum keluar jet.“Pakai jaketmu. Jika kamu nggak ingin kaget dengan udara dingin yang ada di sini.” Nicholas berujar tanpa menoleh pada Aleeta.Aleeta hanya mendengus tapi tetap menuruti perintah Nicho
Liburan ke Paris. Seumur-umur Aleeta tidak pernah membayangkan akan pergi berlibur ke luar negeri. Jangankan ke luar negeri, ke luar kota saja Aleeta juga tidak mampu untuk membayangkannya. Bagi Aleeta liburan terbaik dalam hidupnya yaitu bisa beristirahat di kamar, tanpa ada gangguan dari siapa pun. Tapi itu dulu, tepatnya beberapa bulan yang lalu sebelum ia mengenal pria bernama Nicholas. Secara tidak langsung, Nicholas memang benar-benar berhasil mengubah kehidupan Aleeta, dari yang biasa menjadi luar biasa. Dan Aleeta benar-benar bersyukur dengan hal tersebut. Menjadi bagian dari keluarga paling kaya dan paling di kagumi oleh semua orang adalah hal yang tidak pernah Aleeta bayangkan. Namun, hal itu terjadi pada hidupnya.Tapi meskipun begitu, Aleeta tidak pernah sekali pun berani menyamakan kehidupannya seperti yang ada di cerita dongeng. Karena baginya, cerita dongeng dan kehidupannya adalah dua cerita yang sangat berbeda. Dalam cerita dongeng semua tokoh
“Aku menginginkan yang lebih ...,”Nicholas kembali mencecap bibir Aleeta. Aleeta memejamkan mata membalas cecapan itu. Ia kembali memeluk leher Nicholas dan membawa pria itu lebih dekat padanya. Sementara bibirnya membalas Nicholas dengan sama bernafsunya.Kini bibir Nicholas beralih ke leher Aleeta. Mengecupnya di sana. Sebelah tangannya memegangi leher wanita itu. Membelainya, lalu turun menyusuri dadanya.Aleeta memejamkan mata. Membiarkan tangan Nicholas bergerak menyentuh tubuhnya.“Nicho.” Wanita itu mengerang ketika jari Nicholas menekan puncak dadanya. Aleeta terus memejamkan mata. Dan baru membuka mata ketika merasakan tubuhnya melayang, matanya menatap mata Nicholas yang kini menggendongnya menuju ranjang.Nicholas membaringkan Aleeta di atas ranjang. Ini pertama kalinya Aleeta merasakan berbaring di ranjang tempat tidur Nicholas. Pria itu lalu melingkupi tubuh Aleeta dengan tubuhnya sendiri. Nicholas menc
Aleeta memegangi dadanya yang berdebar ketika kakinya berdiri di depan pintu kamar Nicholas. Padahal selama ini ia sudah sering keluar masuk melalui pintu yang ada di hadapannya. Tapi entah kenapa malam ini tiba-tiba saja Aleeta merasa ketakutan.Ia mencoba menarik napas sebelum memutuskan untuk memutar knop pintu yang ada di hadapannya. Bunyi pintu yang terbuka itu semakin membuat degup jantung Aleeta berdetak begitu keras. Ia memberanikan diri melangkah masuk, lalu kembali menutup pintunya dari dalam.Sunyi.Suasana itulah yang pertama kali Aleeta rasakan ketika masuk ke dalam kamar Nicholas. Ia mencoba melangkah mendekat, tapi ia tak menemukan keberadaan Nicholas di sana. Bahkan di ranjang tempat tidur pria itu juga tidak ada.Aleeta menatap sekeliling. Kemana Nicholas? Apa pria itu sedang mandi? Pandangannya lalu jatuh ke pintu kamar mandi yang tertutup. Aleeta mencoba mendekat, menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Tapi ia tida
Ketika hendak memasuki jam makan malam, Nicholas menghampiri Mary yang sedang memasak di dapur. Beruntung, ketika Nicholas ke dapur, Aleeta tidak berada di sana. “Mary, apa kamu bisa membuatkanku semur ayam yang seperti waktu itu?” Nicholas menatap Mary yang terlihat langsung menghentikan aktivitas memasaknya.“Maaf, Tuan. Semur ayam yang mana?” Mary balik bertanya.“Semur ayam yang pernah kamu masak pagi-pagi itu. Yang membuatku sampai menambah nasi,” terang Nicholas.Mary terdiam. Mungkin Nicholas berpikir semur ayam itu adalah buatannya. Padahal selama ini yang selalu memasak untuk Nicholas adalah Aleeta. Kalau seperti ini Mary harus menjawab apa?“Mary, kenapa kamu diam saja?” Mary mengerjap ketika mendengar suara Nicholas. “M-maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud—““Nggak usah banyak bicara. Cepat kamu buatkan saja semur ayamnya. Aku ingin makan malam dengan menu itu,” sahut Nicholas.Mary meng
Pagi harinya, Aleeta bangun kesiangan.Baru saja Aleeta membuka mata, ia langsung lompat dari ranjang tempat tidurnya. Padahal beberapa waktu belakangan ini ia sudah terbiasa bangun pukul lima atau enam pagi untuk membantu Mary di dapur. Tapi kali ini, ia bangun pukul delapan. Apa mungkin karena tidurnya yang terlalu nyenyak semalam?Seketika Aleeta langsung menatap ke ranjang tempat tidurnya. Nicholas sudah tidak ada di sana. Kemungkinan pria itu sudah bangun sejak tadi, dan sekarang menghilang entah kemana. “Kenapa sih Nicho nggak membangunkanku?” Gumam Aleeta pelan.Wanita itu lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Setelah menyikat gigi dan mencuci muka, Aleeta segera keluar dari kamar menuju dapur. Di sana ada Karina yang sedang memasak sarapan dengan di bantu oleh ART-nya.“Pagi, Ma,” sapa Aleeta. “Maaf, aku bangunnya kesiangan.”Karina tersenyum. “Tidak apa-apa, Sayang. Mama maklum, kok,” ujarnya kembali tersenyu