Beranda / Rumah Tangga / Penjara Dendam Suami Konglomerat / Meminta Pertolongan Pada Nicholas

Share

Meminta Pertolongan Pada Nicholas

Penulis: SweetWater
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-01 13:10:00

Nicholas menghentikan mobil tepat saat mobil yang ada di depannya berhenti. Hari ini ia ada janji dengan salah satu rekan bisnis dari perusahaannya. Rekan bisnisnya tersebut mengundang Nicholas datang ke sebuah klub untuk merayakan kerja sama yang sedang di jalani perusahaan mereka. Kali ini Nicholas datang bersama Julian—sepupunya, karena Lukas sedang tidak bisa menemaninya.

Saat Nicholas melangkah keluar mobil, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

“Ma ....”

“Kamu sudah pulang ke apartemen?”

“Belum, Ma. Aku sedang menghadiri acara yang di buat oleh salah satu rekan bisnisku di perusahaan.”

“Ya sudah. Jangan pulang terlalu malam. Dan ingat, jangan sampai pulang dalam keadaan mabuk, Nicholas.”

“Iya, Ma.”

Nicholas tersenyum tipis saat panggilan dengan Ibunya—Karina terputus. Perlu di akui, sejak kematian Sesilia, hidup Nicholas memang mengalami banyak sekali perubahan.

Ia jadi lebih sering pergi ke sebuah klub malam, mabuk-mabukan dan menghabiskan sisa malamnya di tempat itu sampai ia tak sadarkan diri. Ia seperti kembali lagi menjadi Nicholas yang dulu.

Beruntung sekali Nicholas masih memiliki Karina. Ibunya itu yang selama ini selalu ada di sampingnya, memberinya dukungan, dan menyemangatinya untuk kembali menjalani hari dengan normal.

Dan hal itu berhasil. Hampir dua bulan ini Nicholas sudah tidak pernah lagi pergi ke klub, maupun mabuk hingga ia tak sadarkan diri. Ia hanya akan pergi ke klub sesekali bersama dengan Lukas. Atau saat di undang oleh rekan bisnisnya seperti yang ia lakukan hari ini.

Nicholas lalu melangkah masuk ke dalam klub bersama Julian.

“Aku dengar mereka sengaja menyewa para gadis untuk perayaan kali ini, Nich,” ujar Julian. Pria itu merupakan sepupu Nicholas dari keluarga Ibunya. Julian yang bertugas menggantikan Lukas, jika Lukas sedang tidak bisa menghadiri acara bersama Nicholas.

“Bukankah biasanya juga seperti itu?” Ucap Nicholas acuh.

“Kali ini berbeda, Nich. Ayolah, kamu pasti tahu apa yang aku maksud.”

“Terserah apapun itu, yang jelas aku nggak akan tertarik sama sekali. Dimana ruangannya?”

“Belok ke kanan.” Julian menarik tangan Nicholas. “Ayolah, Nich. Sudah cukup kamu tenggelam dalam keterpurukkan yang kamu alami beberapa bulan belakangan ini. Sekarang saatnya untuk bersenang-senang. Aku akan memesankan satu yang spesial, khusus untuk dirimu.”

Nicholas terkekeh.

Meski bayang-bayang kecelakaan yang menewaskan calon istrinya masih begitu jelas. Tapi Nicholas akui, apa yang di katakan Julian itu memang benar. Sudah cukup Nicholas tenggelam dalam keterpurukan. Mungkin ini saatnya Nicholas untuk bersenang-senang.

“Aku percayakan semuanya padamu,” balas Nicholas kemudian.

“Baiklah kalau begitu. Kita bersenang-senang malam ini!” Julian berseru semangat.

Nicholas hanya bisa terkekeh sembari mengikuti langkah Julian.

“Sial ....” Nicholas terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang menabrak dirinya.

Apa orang itu tidak punya mata sampai harus menabraknya segala?

“Kamu baik-baik saja?” Tanya Julian.

Nicholas mengangguk sembari menatap orang yang saat ini sedang terjatuh di hadapannya.

Rupanya dia adalah seorang wanita. Ck! Apa wanita itu sengaja menabraknya tadi? Tapi setelah Nicholas mengamati sekilas tubuh wanita yang sedang menunduk sembari menepuk-nepuk tangannya itu, Nicholas jadi berpikiran kalau sepertinya wanita itu cukup lumayan. Apa harus ia meminta Julian agar membawakan wanita itu saja sebagai teman bersenang-senangnya malam ini?

Perlahan wanita itu mendongak dan bersiap untuk berdiri. Dan betapa terkejutnya Nicholas saat mengetahui bahwa wanita yang ada di hadapannya itu adalah wanita yang selama ini sangat ia benci. Wanita pembunuh Sesilia dan juga calon anaknya.

“Nicholas.”

Kebencian itu kembali mencuat ketika wanita itu menyebut nama Nicholas. Berani sekali mulut pembunuh itu menyebut namanya. Kedua tangan Nicholas terkepal erat. Sebisa mungkin Nicholas mengendalikan diri untuk tidak mencekik leher wanita yang ada di hadapannya.

“Heh, mau kemana kamu?! Kembali!”

Sementara itu Aleeta kembali panik saat suara wanita dan kedua pria yang mengejarnya tadi terdengar kian mendekat. Ia harus segera pergi.

“Mau pergi kemana kamu anak sialan!” Wanita glamor tadi berhasil menangkap tangan Aleeta.

“Lepaskan aku!” Teriak Aleeta.

“Tidak semudah itu, anak manis. Cepat bawa dia kembali.” Wanita glamor itu menyuruh dua bodyguardnya untuk kembali menyeret Aleeta.

Tidak.

Aleeta tidak boleh kembali ke ruangan itu. Wanita licik itu pasti benar-benar akan menjualnya ke pria tua yang buncit tadi.

“Jangan sentuh aku! Lepas!” Aleeta berhasil memberontak dan tanpa berpikir panjang langsung berlari mendekati Nicholas. “Tolong aku,” pintanya pada Nicholas.

Nicholas hanya bisa berdecih saat mendengar permintaan tolong dari Aleeta. Memangnya dia siapa? Apa pembunuh sepertinya pantas untuk ia beri pertolongan?

“Kembali ke sini!” Wanita glamor itu berusaha menarik Aleeta, tapi Aleeta berhasil menghindarinya.

“Aku mohon tolong aku. Selamatkan aku dari mereka.” Aleeta kembali memohon kepada Nicholas, yang sampai saat ini masih belum memberikan respon apa-apa.

“Nicholas, sepertinya kita harus menolong—“

“Nggak perlu. Itu bukan urusan kita,” sahut Nicholas. Ia berniat untuk kembali melangkah dan mengabaikan permintaan tolong dari Aleeta.

“Aku mohon. Tolong aku.” Aleeta kembali memohon kali ini sembari menggenggam tangan Nicholas.

“Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku!” Desis Nicholas tajam.

Aleeta menggeleng. “Kamu harus menolongku. Aku nggak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa lagi. Kamu, maksudku kalian, aku mohon tolong aku.”

“Cepat bawa anak sialan itu ke sini!”

“Siap, Bos.”

Kedua bodyguard itu hendak mendekati Aleeta, tapi Aleeta segera menghindar. Ia berlindung ke belakang tubuh tegap Nicholas.

“Menyingkir sekarang juga atau aku akan berbuat kasar padamu,” desis Nicholas.

“Tolong ....” Aleeta berujar lirih dan penuh pasrah.

Nicholas menggeram kesal. Mana mungkin ia sudi menolong wanita pembunuh itu? Rasa bencinya sudah terlanjur mendarah daging. Nicholas terlanjur dendam dengan wanita yang telah membuat Sesilia dan calon anaknya itu meninggal. Sampai kapanpun Nicholas tidak akan pernah bisa melupakannya. Tidak dengan kenangan itu.

“Nicholas, kita harus menolongnya. Sepertinya wanita tua itu berniat jahat pada wanita ini,” ujar Julian.

“Itu bukan urusan kita,” sahut Nicholas, lalu beralih menatap Aleeta. “Sekarang juga menjauhlah dari tubuhku, sialan!” Bentaknya pada Aleeta.

Aleeta hanya bisa diam. Kilat kebencian itu masih tercetak begitu jelas di kedua mata Nicholas. Meski kejadian itu sudah berlalu tiga bulan lamanya, tapi tatapan penuh kebencian dari Nicholas itu nyatanya masih tetap sama. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Bahkan Aleeta rasa kebencian itu justru semakin bertambah dari sebelumnya.

“Ayo ikut kami!” Salah satu bodyguard itu berhasil menarik tangan Aleeta.

“Nggak sudi! Lepaskan aku!” Teriak Aleeta, berusaha untuk memberontak.

“Heh, diam jangan berteriak kalau tidak ingin aku melukaimu!”

“Aku nggak peduli! Lepaskan aku!” Aleeta masih berusaha untuk memberontak.

Aleeta tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dalam keadaan seperti ini apakah Sonya masih bisa memikirkannya? Semua ini adalah kesalahan Ibunya. Tapi kenapa Aleeta yang harus menanggung ini semua?

“Nicholas, apa kamu nggak merasa kasihan pada wanita itu?” Julian menatap Nicholas dengan heran.

“Untuk apa aku merasa kasihan dengan seorang pembunuh.”

“Pembunuh? Maksudmu?”

“Wanita itu yang menyebabkan Sesilia meninggal dalam kecelakaan tiga bulan yang lalu. Seharusnya dia yang mati. Tapi lihat, dia masih hidup. Dan aku nggak akan peduli apapun yang terjadi dengan wanita pembunuh itu,” jelas Nicholas.

“Astaga, Nicholas.” Julian mengusap wajahnya kasar. “Itu kecelakaan. Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?”

Julian menatap Aleeta yang sampai saat ini masih berusaha melawan, ketika kedua pria tadi hendak menyeretnya. Terlihat sangat menyedihkan. Itu yang ada di pikiran Julian.

“Ayo kita pergi,” ujar Nicholas kemudian.

Julian melongo. “Nich? Kamu benar-benar nggak ingin menolong wanita itu? Kalau kamu nggak ingin menolongnya maka aku sendiri yang akan menolong wanita itu.”

“Apa yang ingin kamu lakukan?” Nicholas menahan bahu Julian.

“Aku ingin menolongnya!” Teriak Julian. “Lihat dia, Nich. Dia benar-benar membutuhkan pertolongan.”

Nicholas hanya diam sembari mengamati Aleeta. Wanita itu memang terlihat membutuhkan pertolongan. Wanita itu pasti sangat ketakutan tapi Nicholas tak melihat satupun air mata yang keluar dari kedua mata wanita itu. Bukankah seharusnya dia menangis jika dia benar-benar ketakutan dan membutuhkan pertolongan sekarang?

“Kalau kamu nggak ingin menolong wanita itu. Maka lepaskan tanganmu dari bakuku, Nich. Aku yang akan menolongnya.” Julian kembali membuka suaranya.

Sial.

Apa yang harus di lakukan Nicholas? Jujur, ia benar-benar tidak peduli dengan apa yang di alami Aleeta. Nicholas tidak peduli meski wanita tua dan kedua pria itu akan menyakiti Aleeta sekalipun. Sampai matipun Nicholas tidak akan pernah sudi peduli dengan wanita itu. Nicholas membencinya. Sangat amat membencinya.

“Aku mohon, tolong aku,” lirih Aleeta sembari menatap Nicholas.

Nicholas mengerjap saat menyadari setetes air mata itu jatuh membasahi wajah Aleeta. Tidak. Nicholas menggeleng. Apa yang baru saja ia rasakan? Kenapa perasaannya tiba-tiba berubah begitu saja saat melihat air mata wanita itu. Bukankah wanita itu tadinya baik-baik saja? Kenapa dia tiba-tiba mengeluarkan air mata seperti itu?

“Aku mohon ....” Aleeta menatap penuh belas kasihan ke arah Nicholas dan juga Julian.

Sial! Nicholas mengumpat dalam hati saat perasaan itu tiba-tiba datang lagi.

“Lepaskan tanganmu, Nich! Aku ingin menolongnya!” Teriak Julian.

Nicholas tidak bergeming. Cengkeraman pada bahu Julian terasa semakin kuat. Dan napasnya tiba-tiba saja berubah kian memburu.

“Berengsek!” Nicholas berteriak sembari memukul dinding yang ada di sampingnya.

Entah apa yang ada di pikirannya, setelah melampiaskan amarahnya dengan dinding tersebut, Nicholas langsung melangkah mengejar pria yang tengah menyeret Aleeta masuk ke sebuah ruangan.

“Lepaskan wanita itu.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Pertolongan Itu Tidak Gratis

    “Lepaskan wanita itu.”Baik kedua pria yang sedang menyeret Aleeta maupun wanita glamor tadi seketika langsung berhenti melangkah. Mereka menatap Nicholas yang saat ini sudah berdiri di belakang mereka. Tatapannya dingin dan siap untuk membunuh. “Ada apa, tampan? Kenapa tiba-tiba kamu ingin aku melepaskan anak manis ini? Bukankah tadi kamu bilang tidak ingin menolongnya?” Cibir wanita glamor tersebut.“Aku bilang lepaskan!” Nicholas menarik lengan Aleeta secara kasar hingga berhasil terlepas dari genggaman salah satu bodyguard tersebut.“Heh, apa-apaan kamu?! Anak itu milikku. Kembalikan dia padaku!” Teriak wanita glamor itu.Nicholas bisa melihat Aleeta menggeleng dengan tangan yang gemetar. Dan lagi-lagi perasaan itu kembali mengacaukan pikiran Nicholas. Terlebih saat melihat Aleeta meneteskan air matanya lagi. Sial.Selama ini Nicholas memang tidak suka melihat seorang wanita menangis. Nicholas hanya m

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-02
  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Harus Melayani Nicholas

    “Temani aku tidur malam ini. Dan berikan servis yang sesuai dengan uang yang sudah aku keluarkan untukmu.”Jantung Aleeta nyaris berhenti berdetak ketika mendengar hal itu. Persyaratan macam apa itu? Ini sama halnya Aleeta keluar dari kandang buaya, lalu kembali terjebak ke dalam kandang harimau.“Maksudmu, aku harus tidur denganmu sebagai syarat dari pertolonganmu tadi, begitu?!” Aleeta menatap Nicholas dengan tatapan marah.“Ya. Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau kamu bersedia melakukan apapun jika aku mau menolongmu? Seharusnya kamu berterima kasih padaku sekarang.”Aleeta menggeleng. Ia memang mengatakan hal itu tadi, tapi itu bukan berarti ia harus tidur bersama dengan Nicholas. “Ini nggak benar,” ujar Aleeta pelan. “Aku memang bersedia melakukan apapun jika kamu mau menolongku. Tapi bukan seperti ini. Aku akan keluar dari sini sekarang.”Aleeta membalikkan tubuh. Ia berniat membuka pintu tapi pintu itu ti

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-03
  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Kehilangan Seluruh Harga Diri

    “Buka pakaianmu.” Aleeta memandang Nicholas dengan tatapan kosong. Jujur ia merasa begitu takut. Tatapan Nicholas sangat tidak bersahabat, dan Aleeta cukup sadar diri bahwa ia tak perlu mengharapkan perlakuan baik dari pria itu. Aleeta tahu, Nicholas sangat ingin menyiksanya. Pria itu pasti ingin meluapkan semua kebencian itu pada dirinya malam ini. “Aku bilang buka pakaianmu!” Nicholas mulai membentak marah. Aleeta terkesiap. Dengan tangan gemetar, ia mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja navy yang ia kenakan. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan saat ia harus merendahkan dirinya sendiri seperti saat ini. Tidak hanya kemejanya saja, setelah Aleeta berhasil melepas kemeja itu dari tubuhnya, ia masih harus membuka celana jeans-nya sendiri. Kini Aleeta hanya berdiri dengan mengenakan bra dan celana dalam di hadapan Nicholas yang menatapnya intens, menilai dan sinis. Sebisa mungkin Aleeta menahan diri untuk tidak

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-04
  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Balas Dendam Baru Akan Di Mulai

    Aleeta melipat kedua tangannya, guna menepis udara dingin yang mengenai kulit tangannya. Ia berjalan menyusuri jalanan. Setiap langkahnya terasa begitu menyakitkan. Sungguh sangat menyakitkan. Penampilannya juga terlihat begitu mengenaskan. Rambut acak-acakannya ia biarkan begitu saja menutupi wajahnya. Setelah Nicholas puas memperkosanya sepanjang malam dengan cara yang tidak mampu Aleeta bayangkan, pria itu melempar uang ke wajahnya, lalu mengusir layaknya ia adalah seekor binatang.Apa Aleeta menangis? Tidak. Ia tidak menangis. Sudah tidak ada lagi air mata yang tersisa untuk ia keluarkan. Semuanya telah habis bersama dengan penyiksaan menyakitkan yang ia rasakan sepanjang malam. Aleeta tidak peduli dengan tatapan orang-orang, ia terus berjalan semakin cepat menuju gang kontrakannya berada. Sudah pukul empat pagi, dengan rasa dingin yang terus menusuk tubuhnya dan harga diri yang telah hancur, Aleeta melangkah menahan sakit di antara pahanya.

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-06
  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Berusaha Terlihat Baik-baik Saja

    Aleeta mengerang ketika merasakan sakit yang menyerang kepalanya. Selesai membersihkan diri tadi Aleeta langsung berbaring di tempat tidur. Ia berharap bisa memejamkan mata barang sebentar saja. Ia merasa begitu lelah. Tapi kenyataannya Aleeta tidak bisa memejamkan kedua matanya. Ia tetap terjaga di keheningan dalam kamarnya.Aleeta memutuskan untuk bangun ketika melihat jam menunjuk di angka tujuh pagi. Setiap langkah yang ia lakukan, rasa nyeri kembali menghujam di antara kedua pahanya. Ketika ia hendak melangkah keluar kamar tiba-tiba saja sakit kepala itu kembali menghantamnya. Aleeta berpegangan di ganggang pintu kamarnya. Seluruh tubuhnya terasa begitu panas, seperti orang yang sedang mengalami demam.Jika boleh memilih, tentu saja dengan senang hati Aleeta akan lebih memilih untuk kembali berbaring di atas ranjang agar sakit yang ia rasakan bisa segera mereda. Tapi kenyataan hidup kembali membuatnya tersadar. Ia tidak boleh manja. Ia harus pergi bekerja,

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-07
  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Obat Perangsang

    “Aleeta, hari ini kamu bertugas melayani tamu di ruang VIP.”Eric bersedekap menatap Aleeta yang baru saja keluar dari ruang ganti.“Apakah itu perintah dari Miko? Kenapa Miko nggak menyuruhku secara langsung saja?” Aleeta menatap Eric dengan kening berkerut.“Miko sedang tidak ada di tempat ini. Di sedang keluar. Sudahlah, lakukan saja. Hari ini kita sedang kekurangan pelayan di ruang VIP,” ujar Eric selaku orang kepercayaan Miko. Jujur saja selama bekerja di Orion, Aleeta tidak begitu akrab dengan yang namanya Eric. Selama ini Aleeta hanya melakukan tugas yang di perintahkan Miko saja, dan baru kali ini Aleeta mendapat tugas dari Eric.“Baiklah,” jawab Aleeta. Demi menghormati posisi Eric yang jelas lebih tinggi dari pada posisi Aleeta di tempat kerjanya tersebut, ia pun melakukannya.Ia lalu berjalan menaiki rangkaian anak tangga dan menuju meja bar yang ada di lantai VIP. “Aleeta, antar ini ke meja ya

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-08
  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Membutuhkan Sentuhan

    “Aku nggak pernah merasa, kalau aku pernah berubah menjadi malaikat.” Lukas memicing ke arah Nicholas. Tidak percaya dengan apa yang di ucapkan saudaranya tersebut. Lukas menatapnya tajam, sedangkan Nicholas langsung membalas tatapannya dengan tak kalah tajam. Lagipula, untuk apa Nicholas peduli kepada Aleeta? Meski ke empat pria yang ada di sana memperkosa wanita itu, Nicholas tidak akan peduli. Mungkin hal itu akan membuat Aleeta menderita dan Nicholas menyukainya. Apapun yang bisa membuat Aleeta menderita, Nicholas akan menyukainya. “Kamu punya saudara perempuan. Adikmu, Nich. Apa kamu hanya akan diam saja saat melihat adikmu di perlakukan seperti itu?!” Berengsek! Ucapan Lukas berhasil mengingatkannya pada adik perempuannya. Nicholas beranjak dari tempat duduk dan berjalan dengan langkah marah. Memangnya kenapa ia harus peduli? Bahkan, kalau Aleeta di bunuh di hadapannya pun, Nicholas

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-09
  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Terbuai Dalam Hasrat Kenikmatan

    “Aku membutuhkanmu sekarang. Aku mohon.” Nicholas segera menindih tubuh Aleeta lalu mengecup bibirnya. Aleeta yang sudah berada di bawah pengaruh obat pun membalasnya. Bahkan lebih menuntut di banding Nicholas yang hanya memancing saja. Lenguhan Aleeta terdengar saat Nicholas meremas dadanya yang begitu padat. Nicholas segera menyentak kemeja putih Aleeta hingga semua kancingnya terbuka. Pria itu menurunkan bra Aleeta ke bawah, lalu segera melahap puncak yang telah mengeras tersebut. Aleeta memejamkan mata, merintih. Kedua tangannya terkulai lemah di atas kepalanya dan Nicholas menyadari itu. Ia lalu melepas cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Aleeta. Kemudian melepaskan seluruh pakaian Aleeta. Dan juga pakaiannya. Nicholas tidak menyangka kalau dirinya akan sebuas ini. Tetapi hasratnya terasa menggebu melihat Aleeta yang kini terbaring dengan tubuh merona tanpa penghalang apapun. Nicholas terus merutuk dan me

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-10

Bab terbaru

  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Hari Buruk Aleeta

    Aleeta mengumpat, ketika hawa dingin langsung terasa menusuk kulitnya begitu ia keluar dari rumah. “Sial. Dingin sekali,” gerutunya seraya merapatkan jaket. Wanita itu lalu berjalan keluar gerbang mansion milik Nicholas. Begitu sampai di luar gerbang, Aleeta terdiam. Ia mencoba mengamati sekitar, rasanya asing dan tampak berbeda. Bahkan suasana, jalan dan gang-gang yang ada di sana pun juga tampak berbeda. Tiba-tiba Aleeta menjadi ragu. Apa ia harus tetap pergi atau tidak? Tapi, berhubung ia sudah berada di luar jadi tidak ada alasan baginya untuk kembali masuk ke dalam rumah lagi. Akhirnya, dengan segenap keberaniannya, Aleeta memutuskan untuk melangkah. Wanita itu berusaha mencari halte atau jalan yang biasa di lewati oleh taksi. Aleeta terus melangkah melewati kerumunan orang-orang asing yang mungkin penduduk asli, atau pun turis. Aleeta tidak tahu. Di matanya mereka semua tampak sama hingga Aleeta tidak bisa membedakannya. Orang-orang itu tampak begitu acuh dan sibuk denga

  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Ingin Pergi Sendiri

    Selesai makan, Aleeta sibuk membereskan dapur, mencuci piring dan peralatan lain yang ia gunakan untuk memasak tadi. Sementara Nicholas, pria itu langsung beranjak pergi begitu saja. Entah kemana Aleeta juga tidak mengetahuinya.Setengah jam kemudian barulah Aleeta selesai dengan pekerjaannya. Wanita itu menguap, seraya meregangkan otot punggungnya. Rasanya lelah dan mengantuk. Padahal tadi Aleeta sudah sempat tertidur sebentar, tapi sekarang ia sudah mengantuk lagi. Aleeta segera membersihkan tangannya, lalu keluar dapur setelah mematikan lampu yang ada di sana. Ia berjalan menaiki tangga seraya menguap. Mengantuk benar-benar membuat kepalanya terasa begitu pusing. Rasanya Aleeta ingin langsung merebahkan diri di ranjang tempat tidur begitu ia sampai di kamar nanti. Namun, begitu Aleeta membuka pintu kamar. Ternyata Nicholas sudah lebih dulu tertidur di sana.Aleeta menghela napas. Rupanya selesai makan tadi Nicholas langsung pergi untuk tidur. Enak sekali hidup pria itu. Aleeta mem

  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Bahagia Sesederhana Itu

    “Aku ingin keluar sebentar.” Kata Nicholas seraya memakai coat-nya.“Kemana?” Tanya Aleeta.Nicholas langsung menoleh ke arah wanita itu. “Kamu kenapa selalu saja cerewet? Apa kamu lupa, apa yang aku lakukan itu bukanlah urusanmu? Jadi kamu diam saja, dan nggak usah terlalu banyak bertanya.”Aleeta menunduk sambil menautkan kedua tangannya. “Maaf ...,” Ujarnya pelan.Nicholas mendesah. Kenapa Aleeta suka sekali mengatakan maaf? Apa wanita itu tidak punya kata-kata lain selain kata maaf? Membuatnya jengkel saja.Mengabaikan rasa jengkelnya. Nicholas memilih untuk meraih ponsel yang ia letakkan di atas tempat tidur, lalu berjalan ke arah pintu kamar. Namun, sebelum langkahnya benar-benar mencapai pintu kamar, pria itu masih menyempatkan diri untuk menoleh.“Jangan kemana-mana selagi aku keluar. Di mansion ini nggak ada siapapun selain kita berdua. Jadi jangan merepotkanku,” peringat Nicholas dengan nada bersungguh-sungguh.Aleeta tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mengangguk, dan m

  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Bienvenue à Paris, Nicholas

    Paris, sebuah kota di benua Eropa yang biasa disebut sebagai kota cinta. Soal keindahan, seharusnya tidak perlu di ragukan lagi.Nicholas dan Aleeta baru saja tiba di Paris Charles de Gaulle Airport. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bahagianya Aleeta saat ini.Untuk pertama kalinya, Aleeta pergi ke Paris. Sebelumnya wanita itu tidak pernah tahu yang namanya dunia luar. Bagaimana rasanya pergi ke luar negeri? Seperti apa keindahannya? Namun, sekarang Aleeta benar-benar merasakannya.Aleeta menghirup napas sejenak sebelum keluar Jet. “Paris aku datang,” gumamnya dengan bibir tersenyum.Sementara itu, seperti biasa Nicholas sudah lebih dulu berjalan di depan Aleeta. Pria itu terlihat merapatkan longcoat-nya sebelum keluar jet.“Pakai jaketmu. Jika kamu nggak ingin kaget dengan udara dingin yang ada di sini.” Nicholas berujar tanpa menoleh pada Aleeta.Aleeta hanya mendengus tapi tetap menuruti perintah Nicho

  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Perjalanan Ke Paris

    Liburan ke Paris. Seumur-umur Aleeta tidak pernah membayangkan akan pergi berlibur ke luar negeri. Jangankan ke luar negeri, ke luar kota saja Aleeta juga tidak mampu untuk membayangkannya. Bagi Aleeta liburan terbaik dalam hidupnya yaitu bisa beristirahat di kamar, tanpa ada gangguan dari siapa pun. Tapi itu dulu, tepatnya beberapa bulan yang lalu sebelum ia mengenal pria bernama Nicholas. Secara tidak langsung, Nicholas memang benar-benar berhasil mengubah kehidupan Aleeta, dari yang biasa menjadi luar biasa. Dan Aleeta benar-benar bersyukur dengan hal tersebut. Menjadi bagian dari keluarga paling kaya dan paling di kagumi oleh semua orang adalah hal yang tidak pernah Aleeta bayangkan. Namun, hal itu terjadi pada hidupnya.Tapi meskipun begitu, Aleeta tidak pernah sekali pun berani menyamakan kehidupannya seperti yang ada di cerita dongeng. Karena baginya, cerita dongeng dan kehidupannya adalah dua cerita yang sangat berbeda. Dalam cerita dongeng semua tokoh

  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Kalau Begitu Jangan Keluar

    “Aku menginginkan yang lebih ...,”Nicholas kembali mencecap bibir Aleeta. Aleeta memejamkan mata membalas cecapan itu. Ia kembali memeluk leher Nicholas dan membawa pria itu lebih dekat padanya. Sementara bibirnya membalas Nicholas dengan sama bernafsunya.Kini bibir Nicholas beralih ke leher Aleeta. Mengecupnya di sana. Sebelah tangannya memegangi leher wanita itu. Membelainya, lalu turun menyusuri dadanya.Aleeta memejamkan mata. Membiarkan tangan Nicholas bergerak menyentuh tubuhnya.“Nicho.” Wanita itu mengerang ketika jari Nicholas menekan puncak dadanya. Aleeta terus memejamkan mata. Dan baru membuka mata ketika merasakan tubuhnya melayang, matanya menatap mata Nicholas yang kini menggendongnya menuju ranjang.Nicholas membaringkan Aleeta di atas ranjang. Ini pertama kalinya Aleeta merasakan berbaring di ranjang tempat tidur Nicholas. Pria itu lalu melingkupi tubuh Aleeta dengan tubuhnya sendiri. Nicholas menc

  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Sentuh Aku

    Aleeta memegangi dadanya yang berdebar ketika kakinya berdiri di depan pintu kamar Nicholas. Padahal selama ini ia sudah sering keluar masuk melalui pintu yang ada di hadapannya. Tapi entah kenapa malam ini tiba-tiba saja Aleeta merasa ketakutan.Ia mencoba menarik napas sebelum memutuskan untuk memutar knop pintu yang ada di hadapannya. Bunyi pintu yang terbuka itu semakin membuat degup jantung Aleeta berdetak begitu keras. Ia memberanikan diri melangkah masuk, lalu kembali menutup pintunya dari dalam.Sunyi.Suasana itulah yang pertama kali Aleeta rasakan ketika masuk ke dalam kamar Nicholas. Ia mencoba melangkah mendekat, tapi ia tak menemukan keberadaan Nicholas di sana. Bahkan di ranjang tempat tidur pria itu juga tidak ada.Aleeta menatap sekeliling. Kemana Nicholas? Apa pria itu sedang mandi? Pandangannya lalu jatuh ke pintu kamar mandi yang tertutup. Aleeta mencoba mendekat, menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Tapi ia tida

  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Semur Daging

    Ketika hendak memasuki jam makan malam, Nicholas menghampiri Mary yang sedang memasak di dapur. Beruntung, ketika Nicholas ke dapur, Aleeta tidak berada di sana. “Mary, apa kamu bisa membuatkanku semur ayam yang seperti waktu itu?” Nicholas menatap Mary yang terlihat langsung menghentikan aktivitas memasaknya.“Maaf, Tuan. Semur ayam yang mana?” Mary balik bertanya.“Semur ayam yang pernah kamu masak pagi-pagi itu. Yang membuatku sampai menambah nasi,” terang Nicholas.Mary terdiam. Mungkin Nicholas berpikir semur ayam itu adalah buatannya. Padahal selama ini yang selalu memasak untuk Nicholas adalah Aleeta. Kalau seperti ini Mary harus menjawab apa?“Mary, kenapa kamu diam saja?” Mary mengerjap ketika mendengar suara Nicholas. “M-maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud—““Nggak usah banyak bicara. Cepat kamu buatkan saja semur ayamnya. Aku ingin makan malam dengan menu itu,” sahut Nicholas.Mary meng

  • Penjara Dendam Suami Konglomerat   Memberitahu Aleeta Soal Liburan

    Pagi harinya, Aleeta bangun kesiangan.Baru saja Aleeta membuka mata, ia langsung lompat dari ranjang tempat tidurnya. Padahal beberapa waktu belakangan ini ia sudah terbiasa bangun pukul lima atau enam pagi untuk membantu Mary di dapur. Tapi kali ini, ia bangun pukul delapan. Apa mungkin karena tidurnya yang terlalu nyenyak semalam?Seketika Aleeta langsung menatap ke ranjang tempat tidurnya. Nicholas sudah tidak ada di sana. Kemungkinan pria itu sudah bangun sejak tadi, dan sekarang menghilang entah kemana. “Kenapa sih Nicho nggak membangunkanku?” Gumam Aleeta pelan.Wanita itu lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Setelah menyikat gigi dan mencuci muka, Aleeta segera keluar dari kamar menuju dapur. Di sana ada Karina yang sedang memasak sarapan dengan di bantu oleh ART-nya.“Pagi, Ma,” sapa Aleeta. “Maaf, aku bangunnya kesiangan.”Karina tersenyum. “Tidak apa-apa, Sayang. Mama maklum, kok,” ujarnya kembali tersenyu

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status