“Tenanglah, Nicholas. Semuanya pasti akan baik-baik saja.” Karina—Ibu Nicholas berusaha menenangkan putranya.
Karina tiba di rumah sakit satu jam setelah kecelakaan itu terjadi. “Bagaimana aku bisa tenang, Ma. Di sana ...” Nicholas tak sanggup melanjutkan perkataan. Karina mengangguk, paham dengan apa yang Nicholas rasakan. Ia hanya terus memeluk sembari mengusap lengan putranya sampai tiba-tiba pintu ruang operasi itu terbuka. Nicholas segera berdiri, menghapus air matanya dan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. “Dokter, bagaimana keadaannya, Dok? Bagaimana keadaan calon istri saya?” Tanya Nicholas tak sabaran. Dokter Moses langsung menatap Nicholas dengan tatapan yang tak bisa Nicholas artikan sama sekali. Tidak. Nicholas hanya tidak sanggup menerima jika apa yang akan di katakan oleh Dokter Moses adalah hal yang paling tidak ingin ia dengar sekarang. “Maafkan kami, Tuan Nicholas ...” Nicholas hanya bisa menggeleng saat dokter mengatakan hal tersebut. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi … Nona Sesilia sudah tidak bisa di selamatkan.” “Apa maksud, Dokter?! Sesilia masih hidup kan, Dok?!” Dokter Moses menggeleng pelan. “Maafkan kami, Tuan. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Nona Sesilia dan juga ... Calon bayinya.” “A-apa?” Nicholas mengernyit dalam. “C-calon bayinya? Maksud Anda, Sesilia sedang mengandung?” Tiba-tiba saja kepala Nicholas terasa begitu berdenyut. “Benar, Tuan. Kami benar-benar minta maaf.” Tidak. Nicholas menggeleng kuat. Ia begitu terkejut mendengar kenyataan tersebut. Kenapa ia baru tahu sekarang kalau Sesilia sedang mengandung? Dan bayi itu adalah anaknya, kan? Kenapa ini semua bisa terjadi? “Ya Tuhan ...” Nicholas mengusap wajahnya kasar, lalu berlari masuk ke ruangan operasi. Ia hanya bisa berdiri kaku ketika melihat tubuh Sesilia yang sudah tertutup oleh kain putih itu terbaring di hadapannya. Nicholas menggeleng kuat, sebutir air mata kembali berhasil membasahi pipinya. Ia pasti sedang bermimpi. “Baru beberapa jam yang lalu ...” Nicholas mendekat, membuka kain penutup itu secara perlahan. “Aku bisa melihat senyummu. Tapi kenapa sekarang—“ Nicholas terisak, tak mampu melanjutkan ucapannya. Wajah pucat Sesilia benar-benar mengingatkan Nicholas kalau ini semua bukanlah sebuah mimpi. Ini adalah kenyataan. “Kenapa kamu nggak bilang kalau sedang mengandung? Ini anak kita, kan?” Isaknya sembari mengusap perut Sesilia. “Kenapa kamu tega meninggalkanku, Sil? Kenapa kamu tega pergi dengan anak kita?” Tiba-tiba Nicholas teringat dengan kejadian kecelakaan tadi. Kecelakaan yang berhasil menewaskan Sesilia dan juga calon anaknya. “Seharusnya wanita itu yang mati sekarang. Bukan kalian,” ujar Nicholas sembari membelai perut Sesilia. Setelah memberikan kecupan terakhirnya pada Sesilia. Nicholas langsung beranjak berdiri dan keluar dari ruang operasi. Niatnya, ia ingin menemui wanita yang terlibat kecelakaan dengan Sesilia tadi. Nicholas yakin, wanita itu pasti masih di rawat di rumah sakit ini juga. Tapi rupanya saat Nicholas keluar, wanita tadi sudah ada di sana. Berdiri di antara Karina dan juga Lukas. Rasa benci seketika muncul, memenuhi diri dan juga hati Nicholas saat melihat wanita itu berdiri di hadapannya. Dia terlihat baik-baik saja, hanya ada beberapa luka pada tubuhnya. Berbeda dengan Sesilia yang saat ini harus rela kehilangan nyawa dan juga calon anaknya. Pembunuh. Kata itu yang seketika muncul di dalam benak Nicholas. Ia menganggap wanita yang baru saja mengenalkan diri sebagai Aleeta itulah yang menjadi penyebab kematian Sesilia dan juga calon anaknya. Aleeta. Nicholas bersumpah akan membalas semua kesakitan yang ia alami hari ini. Dan ia juga bersumpah akan membuat wanita itu menderita dengan tangannya sendiri. “Apa yang kamu lakukan di sini?” “S-saya—“ “Pembunuh!” Kedua bola mata Aleeta membelalak lebar. Apa katanya? Pembunuh? Kenapa tiba-tiba pria itu memanggilnya pembunuh? Butuh beberapa detik bagi Aleeta untuk mencerna kata tersebut. “Kamu yang membunuh calon istriku! Harusnya kamu yang mati di sana, bukan calon istriku!” Teriak pria tersebut. “Nicholas, jangan berbicara seperti itu.” “Kenapa, Ma? Bukankah apa yang aku katakan tadi memang benar? Seharusnya wanita ini yang mati. Dia yang seharusnya tertabrak mobil!” “Nicholas!” Wanita paruh baya yang Aleeta yakini sebagai Ibu dari pria bernama Nicholas itu langsung membentak marah. “Ini kecelakaan, Nicholas.” “Nggak, Ma. Aku melihatnya sendiri. Dia yang seharusnya mati!” Nicholas langsung mendorong kasar bahu Aleeta. Aleeta hampir terjungkal ke belakang jika saja Sonya tidak datang dan menahannya. “Bukankah sudah aku peringatkan, Aleeta? Seharusnya kamu cepat pergi dari sini, bodoh!” Ketus Sonya. “Wanita ini pembunuh, Ma.” Nicholas terlihat begitu terpukul. “A-aku bukan—“ “Tutup mulutmu, berengsek! Aku nggak sudi mendengar suara dari seorang pembunuh sepertimu! Pergi!” “Tapi, aku bukan pembunuh—“ “Aku bilang pergi!” Nicholas kembali berteriak marah. Aleeta tidak tahu harus berbuat apa? Ia benar-benar merasa menyesal atas kejadian kecelakaan tadi. Tapi itu murni kecelakaan, bukan Aleeta yang membunuh Sesilia. Aleeta juga tidak mengharapkan wanita bernama Sesilia itu untuk menyelamatkan hidupnya. Apakah pantas jika pria itu menyebutnya sebagai pembunuh? “Sudahlah, ayo kita pergi.” Sonya berusaha menarik Aleeta. “Tapi, Ma. Aku bukan pembunuh, aku harus minta maaf,” ujar Aleeta pelan. “Kamu tuli ya, dia menyuruhmu pergi, bodoh!” Pria bernama Nicholas tadi kembali menatap Aleeta. Tatapan pria itu seolah siap untuk membunuh Aleeta saat itu juga, jika Aleeta tidak segera pergi meninggalkan tempat tersebut. “Aku katakan sekali lagi, cepat pergi dari hadapanku, pembunuh!” Aleeta menggeleng dengan air mata yang menggenang. Dirinya bukanlah pembunuh. “Ayo, Aleeta!” Sonya menarik paksa tangan Aleeta agar bisa segera menyingkir dari hadapan orang-orang tersebut. Aleeta tidak bisa melakukan apa-apa. Ia juga sudah tidak peduli lagi dengan rasa sakit yang ia rasakan. Aleeta hanya bisa pasrah ketika Sonya terus menariknya menjauh, tapi saat langkahnya belum benar-benar menjauh, Aleeta kembali menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Aleeta menatap pria bernama Nicholas yang sampai saat ini masih terus menangis. “Maafkan, aku,” lirihnya pelan sebelum Sonya kembali menyeretnya keluar dari rumah sakit.Hari ini sudah genap tiga bulan sejak kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang membuat seorang wanita yang tidak tahu apa-apa harus rela kehilangan nyawa demi Aleeta. Jujur, jika boleh mengakui sampai detik ini Aleeta juga masih merasa begitu bersalah. Wanita itu begitu baik, seharusnya dia tidak perlu menolongnya. Biarkan saja dirinya yang mati dalam kecelakaan itu. Aleeta mendesah, bagaimanapun juga ia tidak bisa memutar waktu. Memangnya ia siapa? Mungkin saja semua itu memang sudah menjadi takdir dari Tuhan.Tapi keluarga wanita itu ....Aleeta menggeleng. Ia tidak ingin mengingat tentang keluarga wanita itu. Terutama pada pria yang dengan terang-terangan mengatainya seorang pembunuh. Aleeta kembali menggeleng. Aleeta takut. Meski Ibu Nicholas maupun pria satunya yang tidak Aleeta ketahui namanya itu tidak ikut menuduhnya sebagai pembunuh. Tapi tetap saja, Aleeta merasa ketakutan saat mengingat tatapan mematikan yang penuh kebencian dari kedua bola mata Nicholas.Nicholas Axel Fre
“Maafkan aku, Aleeta. Aku tidak bisa membantumu.”Seketika bahu Aleeta merosot lesu saat mendengar jawaban dari Thomas—Bos di Cafe tempat ia bekerja. Di jam makan siangnya ini, Aleeta menyempatkan diri untuk menemui Thomas di ruangan kerja pria itu. Ia sudah mengatakan alasannya kepada Thomas untuk apa ia sampai harus meminjam uang, tapi ternyata Thomas tidak bisa membantu Aleeta.“Kamu pasti berpikir kalau aku ini pelit,” imbuh Thomas.“Nggak, Thom. Sungguh aku nggak berpikiran seperti itu,” sahut Aleeta sembari menggeleng.Thomas hanya bisa terkekeh kecil. “Berpikiran seperti itu juga tidak masalah, Aleeta. Orang-orang pasti berpikir kalau Cafeku ini ramai, dan untung yang aku dapatkan pasti juga lumayan. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.”Aleeta hanya terdiam menatap pria yang selama beberapa tahun ini menjadi Bosnya.“Aku punya banyak sekali tanggungan yang harus aku bayar setiap bulannya. Termasuk tempat ini, tempat tinggalku. Gaji kalian. Dan percayalah, aku rela menghemat ke
Nicholas menghentikan mobil tepat saat mobil yang ada di depannya berhenti. Hari ini ia ada janji dengan salah satu rekan bisnis dari perusahaannya. Rekan bisnisnya tersebut mengundang Nicholas datang ke sebuah klub untuk merayakan kerja sama yang sedang di jalani perusahaan mereka. Kali ini Nicholas datang bersama Julian—sepupunya, karena Lukas sedang tidak bisa menemaninya. Saat Nicholas melangkah keluar mobil, tiba-tiba ponselnya berbunyi.“Ma ....”“Kamu sudah pulang ke apartemen?”“Belum, Ma. Aku sedang menghadiri acara yang di buat oleh salah satu rekan bisnisku di perusahaan.”“Ya sudah. Jangan pulang terlalu malam. Dan ingat, jangan sampai pulang dalam keadaan mabuk, Nicholas.”“Iya, Ma.”Nicholas tersenyum tipis saat panggilan dengan Ibunya—Karina terputus. Perlu di akui, sejak kematian Sesilia, hidup Nicholas memang mengalami banyak sekali perubahan.Ia jadi lebih sering pergi ke sebua
“Lepaskan wanita itu.”Baik kedua pria yang sedang menyeret Aleeta maupun wanita glamor tadi seketika langsung berhenti melangkah. Mereka menatap Nicholas yang saat ini sudah berdiri di belakang mereka. Tatapannya dingin dan siap untuk membunuh. “Ada apa, tampan? Kenapa tiba-tiba kamu ingin aku melepaskan anak manis ini? Bukankah tadi kamu bilang tidak ingin menolongnya?” Cibir wanita glamor tersebut.“Aku bilang lepaskan!” Nicholas menarik lengan Aleeta secara kasar hingga berhasil terlepas dari genggaman salah satu bodyguard tersebut.“Heh, apa-apaan kamu?! Anak itu milikku. Kembalikan dia padaku!” Teriak wanita glamor itu.Nicholas bisa melihat Aleeta menggeleng dengan tangan yang gemetar. Dan lagi-lagi perasaan itu kembali mengacaukan pikiran Nicholas. Terlebih saat melihat Aleeta meneteskan air matanya lagi. Sial.Selama ini Nicholas memang tidak suka melihat seorang wanita menangis. Nicholas hanya m
“Temani aku tidur malam ini. Dan berikan servis yang sesuai dengan uang yang sudah aku keluarkan untukmu.”Jantung Aleeta nyaris berhenti berdetak ketika mendengar hal itu. Persyaratan macam apa itu? Ini sama halnya Aleeta keluar dari kandang buaya, lalu kembali terjebak ke dalam kandang harimau.“Maksudmu, aku harus tidur denganmu sebagai syarat dari pertolonganmu tadi, begitu?!” Aleeta menatap Nicholas dengan tatapan marah.“Ya. Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau kamu bersedia melakukan apapun jika aku mau menolongmu? Seharusnya kamu berterima kasih padaku sekarang.”Aleeta menggeleng. Ia memang mengatakan hal itu tadi, tapi itu bukan berarti ia harus tidur bersama dengan Nicholas. “Ini nggak benar,” ujar Aleeta pelan. “Aku memang bersedia melakukan apapun jika kamu mau menolongku. Tapi bukan seperti ini. Aku akan keluar dari sini sekarang.”Aleeta membalikkan tubuh. Ia berniat membuka pintu tapi pintu itu ti
“Buka pakaianmu.” Aleeta memandang Nicholas dengan tatapan kosong. Jujur ia merasa begitu takut. Tatapan Nicholas sangat tidak bersahabat, dan Aleeta cukup sadar diri bahwa ia tak perlu mengharapkan perlakuan baik dari pria itu. Aleeta tahu, Nicholas sangat ingin menyiksanya. Pria itu pasti ingin meluapkan semua kebencian itu pada dirinya malam ini. “Aku bilang buka pakaianmu!” Nicholas mulai membentak marah. Aleeta terkesiap. Dengan tangan gemetar, ia mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja navy yang ia kenakan. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan saat ia harus merendahkan dirinya sendiri seperti saat ini. Tidak hanya kemejanya saja, setelah Aleeta berhasil melepas kemeja itu dari tubuhnya, ia masih harus membuka celana jeans-nya sendiri. Kini Aleeta hanya berdiri dengan mengenakan bra dan celana dalam di hadapan Nicholas yang menatapnya intens, menilai dan sinis. Sebisa mungkin Aleeta menahan diri untuk tidak
Aleeta melipat kedua tangannya, guna menepis udara dingin yang mengenai kulit tangannya. Ia berjalan menyusuri jalanan. Setiap langkahnya terasa begitu menyakitkan. Sungguh sangat menyakitkan. Penampilannya juga terlihat begitu mengenaskan. Rambut acak-acakannya ia biarkan begitu saja menutupi wajahnya. Setelah Nicholas puas memperkosanya sepanjang malam dengan cara yang tidak mampu Aleeta bayangkan, pria itu melempar uang ke wajahnya, lalu mengusir layaknya ia adalah seekor binatang.Apa Aleeta menangis? Tidak. Ia tidak menangis. Sudah tidak ada lagi air mata yang tersisa untuk ia keluarkan. Semuanya telah habis bersama dengan penyiksaan menyakitkan yang ia rasakan sepanjang malam. Aleeta tidak peduli dengan tatapan orang-orang, ia terus berjalan semakin cepat menuju gang kontrakannya berada. Sudah pukul empat pagi, dengan rasa dingin yang terus menusuk tubuhnya dan harga diri yang telah hancur, Aleeta melangkah menahan sakit di antara pahanya.
Aleeta mengerang ketika merasakan sakit yang menyerang kepalanya. Selesai membersihkan diri tadi Aleeta langsung berbaring di tempat tidur. Ia berharap bisa memejamkan mata barang sebentar saja. Ia merasa begitu lelah. Tapi kenyataannya Aleeta tidak bisa memejamkan kedua matanya. Ia tetap terjaga di keheningan dalam kamarnya.Aleeta memutuskan untuk bangun ketika melihat jam menunjuk di angka tujuh pagi. Setiap langkah yang ia lakukan, rasa nyeri kembali menghujam di antara kedua pahanya. Ketika ia hendak melangkah keluar kamar tiba-tiba saja sakit kepala itu kembali menghantamnya. Aleeta berpegangan di ganggang pintu kamarnya. Seluruh tubuhnya terasa begitu panas, seperti orang yang sedang mengalami demam.Jika boleh memilih, tentu saja dengan senang hati Aleeta akan lebih memilih untuk kembali berbaring di atas ranjang agar sakit yang ia rasakan bisa segera mereda. Tapi kenyataan hidup kembali membuatnya tersadar. Ia tidak boleh manja. Ia harus pergi bekerja,
Aleeta mengumpat, ketika hawa dingin langsung terasa menusuk kulitnya begitu ia keluar dari rumah. “Sial. Dingin sekali,” gerutunya seraya merapatkan jaket. Wanita itu lalu berjalan keluar gerbang mansion milik Nicholas. Begitu sampai di luar gerbang, Aleeta terdiam. Ia mencoba mengamati sekitar, rasanya asing dan tampak berbeda. Bahkan suasana, jalan dan gang-gang yang ada di sana pun juga tampak berbeda. Tiba-tiba Aleeta menjadi ragu. Apa ia harus tetap pergi atau tidak? Tapi, berhubung ia sudah berada di luar jadi tidak ada alasan baginya untuk kembali masuk ke dalam rumah lagi. Akhirnya, dengan segenap keberaniannya, Aleeta memutuskan untuk melangkah. Wanita itu berusaha mencari halte atau jalan yang biasa di lewati oleh taksi. Aleeta terus melangkah melewati kerumunan orang-orang asing yang mungkin penduduk asli, atau pun turis. Aleeta tidak tahu. Di matanya mereka semua tampak sama hingga Aleeta tidak bisa membedakannya. Orang-orang itu tampak begitu acuh dan sibuk denga
Selesai makan, Aleeta sibuk membereskan dapur, mencuci piring dan peralatan lain yang ia gunakan untuk memasak tadi. Sementara Nicholas, pria itu langsung beranjak pergi begitu saja. Entah kemana Aleeta juga tidak mengetahuinya.Setengah jam kemudian barulah Aleeta selesai dengan pekerjaannya. Wanita itu menguap, seraya meregangkan otot punggungnya. Rasanya lelah dan mengantuk. Padahal tadi Aleeta sudah sempat tertidur sebentar, tapi sekarang ia sudah mengantuk lagi. Aleeta segera membersihkan tangannya, lalu keluar dapur setelah mematikan lampu yang ada di sana. Ia berjalan menaiki tangga seraya menguap. Mengantuk benar-benar membuat kepalanya terasa begitu pusing. Rasanya Aleeta ingin langsung merebahkan diri di ranjang tempat tidur begitu ia sampai di kamar nanti. Namun, begitu Aleeta membuka pintu kamar. Ternyata Nicholas sudah lebih dulu tertidur di sana.Aleeta menghela napas. Rupanya selesai makan tadi Nicholas langsung pergi untuk tidur. Enak sekali hidup pria itu. Aleeta mem
“Aku ingin keluar sebentar.” Kata Nicholas seraya memakai coat-nya.“Kemana?” Tanya Aleeta.Nicholas langsung menoleh ke arah wanita itu. “Kamu kenapa selalu saja cerewet? Apa kamu lupa, apa yang aku lakukan itu bukanlah urusanmu? Jadi kamu diam saja, dan nggak usah terlalu banyak bertanya.”Aleeta menunduk sambil menautkan kedua tangannya. “Maaf ...,” Ujarnya pelan.Nicholas mendesah. Kenapa Aleeta suka sekali mengatakan maaf? Apa wanita itu tidak punya kata-kata lain selain kata maaf? Membuatnya jengkel saja.Mengabaikan rasa jengkelnya. Nicholas memilih untuk meraih ponsel yang ia letakkan di atas tempat tidur, lalu berjalan ke arah pintu kamar. Namun, sebelum langkahnya benar-benar mencapai pintu kamar, pria itu masih menyempatkan diri untuk menoleh.“Jangan kemana-mana selagi aku keluar. Di mansion ini nggak ada siapapun selain kita berdua. Jadi jangan merepotkanku,” peringat Nicholas dengan nada bersungguh-sungguh.Aleeta tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mengangguk, dan m
Paris, sebuah kota di benua Eropa yang biasa disebut sebagai kota cinta. Soal keindahan, seharusnya tidak perlu di ragukan lagi.Nicholas dan Aleeta baru saja tiba di Paris Charles de Gaulle Airport. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bahagianya Aleeta saat ini.Untuk pertama kalinya, Aleeta pergi ke Paris. Sebelumnya wanita itu tidak pernah tahu yang namanya dunia luar. Bagaimana rasanya pergi ke luar negeri? Seperti apa keindahannya? Namun, sekarang Aleeta benar-benar merasakannya.Aleeta menghirup napas sejenak sebelum keluar Jet. “Paris aku datang,” gumamnya dengan bibir tersenyum.Sementara itu, seperti biasa Nicholas sudah lebih dulu berjalan di depan Aleeta. Pria itu terlihat merapatkan longcoat-nya sebelum keluar jet.“Pakai jaketmu. Jika kamu nggak ingin kaget dengan udara dingin yang ada di sini.” Nicholas berujar tanpa menoleh pada Aleeta.Aleeta hanya mendengus tapi tetap menuruti perintah Nicho
Liburan ke Paris. Seumur-umur Aleeta tidak pernah membayangkan akan pergi berlibur ke luar negeri. Jangankan ke luar negeri, ke luar kota saja Aleeta juga tidak mampu untuk membayangkannya. Bagi Aleeta liburan terbaik dalam hidupnya yaitu bisa beristirahat di kamar, tanpa ada gangguan dari siapa pun. Tapi itu dulu, tepatnya beberapa bulan yang lalu sebelum ia mengenal pria bernama Nicholas. Secara tidak langsung, Nicholas memang benar-benar berhasil mengubah kehidupan Aleeta, dari yang biasa menjadi luar biasa. Dan Aleeta benar-benar bersyukur dengan hal tersebut. Menjadi bagian dari keluarga paling kaya dan paling di kagumi oleh semua orang adalah hal yang tidak pernah Aleeta bayangkan. Namun, hal itu terjadi pada hidupnya.Tapi meskipun begitu, Aleeta tidak pernah sekali pun berani menyamakan kehidupannya seperti yang ada di cerita dongeng. Karena baginya, cerita dongeng dan kehidupannya adalah dua cerita yang sangat berbeda. Dalam cerita dongeng semua tokoh
“Aku menginginkan yang lebih ...,”Nicholas kembali mencecap bibir Aleeta. Aleeta memejamkan mata membalas cecapan itu. Ia kembali memeluk leher Nicholas dan membawa pria itu lebih dekat padanya. Sementara bibirnya membalas Nicholas dengan sama bernafsunya.Kini bibir Nicholas beralih ke leher Aleeta. Mengecupnya di sana. Sebelah tangannya memegangi leher wanita itu. Membelainya, lalu turun menyusuri dadanya.Aleeta memejamkan mata. Membiarkan tangan Nicholas bergerak menyentuh tubuhnya.“Nicho.” Wanita itu mengerang ketika jari Nicholas menekan puncak dadanya. Aleeta terus memejamkan mata. Dan baru membuka mata ketika merasakan tubuhnya melayang, matanya menatap mata Nicholas yang kini menggendongnya menuju ranjang.Nicholas membaringkan Aleeta di atas ranjang. Ini pertama kalinya Aleeta merasakan berbaring di ranjang tempat tidur Nicholas. Pria itu lalu melingkupi tubuh Aleeta dengan tubuhnya sendiri. Nicholas menc
Aleeta memegangi dadanya yang berdebar ketika kakinya berdiri di depan pintu kamar Nicholas. Padahal selama ini ia sudah sering keluar masuk melalui pintu yang ada di hadapannya. Tapi entah kenapa malam ini tiba-tiba saja Aleeta merasa ketakutan.Ia mencoba menarik napas sebelum memutuskan untuk memutar knop pintu yang ada di hadapannya. Bunyi pintu yang terbuka itu semakin membuat degup jantung Aleeta berdetak begitu keras. Ia memberanikan diri melangkah masuk, lalu kembali menutup pintunya dari dalam.Sunyi.Suasana itulah yang pertama kali Aleeta rasakan ketika masuk ke dalam kamar Nicholas. Ia mencoba melangkah mendekat, tapi ia tak menemukan keberadaan Nicholas di sana. Bahkan di ranjang tempat tidur pria itu juga tidak ada.Aleeta menatap sekeliling. Kemana Nicholas? Apa pria itu sedang mandi? Pandangannya lalu jatuh ke pintu kamar mandi yang tertutup. Aleeta mencoba mendekat, menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Tapi ia tida
Ketika hendak memasuki jam makan malam, Nicholas menghampiri Mary yang sedang memasak di dapur. Beruntung, ketika Nicholas ke dapur, Aleeta tidak berada di sana. “Mary, apa kamu bisa membuatkanku semur ayam yang seperti waktu itu?” Nicholas menatap Mary yang terlihat langsung menghentikan aktivitas memasaknya.“Maaf, Tuan. Semur ayam yang mana?” Mary balik bertanya.“Semur ayam yang pernah kamu masak pagi-pagi itu. Yang membuatku sampai menambah nasi,” terang Nicholas.Mary terdiam. Mungkin Nicholas berpikir semur ayam itu adalah buatannya. Padahal selama ini yang selalu memasak untuk Nicholas adalah Aleeta. Kalau seperti ini Mary harus menjawab apa?“Mary, kenapa kamu diam saja?” Mary mengerjap ketika mendengar suara Nicholas. “M-maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud—““Nggak usah banyak bicara. Cepat kamu buatkan saja semur ayamnya. Aku ingin makan malam dengan menu itu,” sahut Nicholas.Mary meng
Pagi harinya, Aleeta bangun kesiangan.Baru saja Aleeta membuka mata, ia langsung lompat dari ranjang tempat tidurnya. Padahal beberapa waktu belakangan ini ia sudah terbiasa bangun pukul lima atau enam pagi untuk membantu Mary di dapur. Tapi kali ini, ia bangun pukul delapan. Apa mungkin karena tidurnya yang terlalu nyenyak semalam?Seketika Aleeta langsung menatap ke ranjang tempat tidurnya. Nicholas sudah tidak ada di sana. Kemungkinan pria itu sudah bangun sejak tadi, dan sekarang menghilang entah kemana. “Kenapa sih Nicho nggak membangunkanku?” Gumam Aleeta pelan.Wanita itu lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Setelah menyikat gigi dan mencuci muka, Aleeta segera keluar dari kamar menuju dapur. Di sana ada Karina yang sedang memasak sarapan dengan di bantu oleh ART-nya.“Pagi, Ma,” sapa Aleeta. “Maaf, aku bangunnya kesiangan.”Karina tersenyum. “Tidak apa-apa, Sayang. Mama maklum, kok,” ujarnya kembali tersenyu