Beberapa jam kemudian, ketika sinar mentari mulai merangkak naik dari ufuk timur Martis masih berusaha mencari cara untuk mengalahkan musuh terkuat yang pernah ia hadapi kali ini.Martis sudah mencoba berbagai serangan namun hasilnya masih tetap sama saja. Sepertinya tubuh Jendral Sabo memang sangatlah keras dan juga kuat.Martis baru menyadari kalau ada Roki yang tengah berada di samping Reka. Martis juga memperhatikan keadaan Reka yang terlihat aneh. Pasalnya, tubuh Reka diselimuti oleh cahaya kuning keemasan.'Apa yang terjadi dengan Reka? Tapi sepertinya keadaannya baik-baik saja. Em..., tapi kok terlihat aneh ya?' Martis penasaran dengan apa yang sedang Reka lakukan. Sebab, sejak tadi Reka terlihat hanya berdiam diri."Hahahaha...! Ayo lanjutkan permainan ini!" Tawa Jendral Sabo terus terdengar. Nampaknya Jendral Sabo sangat menikmati pertarungannya melawan Martis ini.Tentu saja Jendral Sabo merasa senang, sebab ia yang sedang unggul dari Martis. Coba kalau ia yang kalah? Entah
Reka terus mengarahkan kedua matanya pada orang yang ia anggap sebagai musuhnya. Dan setiap beberapa detik sekali, dari tatapan kedua mata Reka itu mampu menembakkan sinar laser.Roki dan Martis sempat saling pandang ketika menyadari bahwa Reka tetap baik-baik saja setelah menembakkan puluhan kali sinar laser dari kedua matanya. Biasanya, Reka akan kelelahan setelah menembakkan lebih dari dua atau tiga kali sinar laser. Dan terlebih lagi, daya serang sinar laser yang kali ini jauh lebih kuat beberapa kali lipat dari sinar laser Reka yang sebelumnya."Paman, apakah Reka akan baik-baik saja?" tanya Martis."Entahlah, itu juga yang aku pikirkan sejak tadi, Martis. Sebaiknya kau dan aku harus terus bersiap siaga. Jika saja tubuh Reka mulai kelelahan dan pingsan, salah satu dari kita lah yang harus menyelamatkannya." jawab Roki."Paman benar." ujar Martis menimpali.Weng, weng, weng...!Sinar yang menyelimuti tubuh Reka kembali berpendar. Namun kali ini sinar itu terlihat berpendar sedikit
Martis sebisa mungkin ingin menarik perhatian Jendral Sabo karena ia tahu bahwa Reka tidak lama lagi pasti kelelahan. Kalau dibiarkan, tentu saja akan sangat berbahaya bagi keselamatan Reka."Hah?! Aku, takut padamu?! Jangan bermimpi di pagi hari! Baiklah, akan aku ladeni! Sejak awal memang kau lah target utamaku!" ujar Jendral Sabo.Cekit, cekit, cekit...!Sebelum melancarkan serangannya, tubuh Jendral Sabo terlihat kembali berubah bentuk.Yang kali ini, tubuh Jendral Sabo berubah ke bentuk yang lebih ramping.'Hal apa lagi yang bisa dilakukan oleh Cyborg Super ini?' Kedua mata Martis memicing seraya berpikir sesuatu.Siuw...!Bam!Setelah perubahan bentuknya selesai, dengan sekejap Jendral Sabo langsung berada di hadapan Martis dan memukulnya.Boom!Untungnya Martis sudah siap. Walaupun tubuhnya masih terpental karena ledakan pukulan dari Jendral Sabo, tapi ia tidak terluka parah.'Cepat sekali! Dan apa-apaan kekuatan pukulannya ini?!' gumam Martis.Bam!Bugh!Bugh!Bugh!Belum juga
Mia yang tadi di peringatkan oleh Roki agar tidak mendekati area sekitar markas Herupa diam-diam menyelinap pergi.'Aku tidak akan bisa hanya berdiam diri saja di sini. Martis, aku harap kau baik-baik saja. Aku hanya berniat melihat keadaanmu barang sebentar saja. Setelah aku tahu kau baik-baik saja, aku berjanji akan pergi kembali ke sini.' Begitulah yang ada dalam benak pikir Mia.Setelah ia berhasil luput dari pengawasan orang-orang di pengungsian, Mia berlari sekencang-kencangnya.Sedangkan Martis yang masih terus bertarung melawan Jendral Sabo, keadaannya semakin tersudut.Bam!Boom!Ledakan hebat kembali terdengar setelah satu pukulan Jendral Sabo berhasil mendarat pada bagian bahu kanan Martis.Brak, brak, brak...!Tubuh Martis terpental puluhan meter dan membentur sisa puing-puing bangunan yang masih tersisa sedikit.***Jendral Tigreal akhirnya tiba di dekat markas Herupa."Gila! Pertarungan macam apa ini?! Padahal hanya ada satu musuh saja, tapi kenapa keadaannya sangat kaca
Rupanya ada salah satu rincian yang tertuliskan tentang kelemahan-kelemahan para Cyborg. Mata Martis yang berbinar, dalam sekejap kembali berputar. Rasanya tulisan ini sudah seperti Kamus atau Kitab. Awalnya Martis pikir tulisan yang berisikan rincian kelemahan Cyborg ini tidaklah sebanyak ini.Terdapat berbagai macam jenis Cyborg yang ada pada tulisan yang Martis baca. Martis membandingkan rincian Cyborg mana yang paling cocok dengan Jendral Sabo.Tapi Martis malah dibuat pusing. Sebab sudah beberapa kali ia membaca secara singkat belum menemukan rincian yang cocok dengan Jendral Sabo.Tring!"Kekuatan dan keadaan tubuh Martis telah kembali pulih seratus persen. Peringatan! Martis hanya bisa melakukan pemulihan seratus persen satu kali lagi saja. Setelah itu, Batas ketahananan tubuh Martis akan terganggu jika memaksa melakukan pemulihan seratus persen!" Pemberitahuan dari sistem di layar utama membuat Martis bedecak, sebab ia sedang fokus membaca tentang rincian kelemahan Cyborg.'R
Brak!Bam!Bugh, bugh, bugh!Brak!Pukulan demi pukulan terus Martis berikan pada tubuh Jendral Sabo yang nampak tak berdaya setelah kelemahannya berhasil Martis temukan.Martis benar-benar melampiaskan amarahnya pada Jendral Sabo. Dan dari kejauhan, ada jendral Valdo yang sedang membantu Jendral Tigreal memulihkan tubuhnya."Jendral Valdo, aku sangat penasaran dengan orang itu. Siapa dia sebenarnya? Tolong kau katakan kepada Cucu Saudaramu itu agar tidak membunuhnya. Ada beberapa hal yang ingin aku ketahui secara langsung dari Cyborg yang sangat kuat ini." Karena melihat Martis yang terus memukuli tubuh Jendral Sabo, Jendral Tigreal pun merasa khawatir kalau Martis bisa saja membunuhnya."Hem..., sepertinya Martis terlihat sangat marah. Yah..., tentu saja. Aku pun pasti akan merasakan dan melakukan hal yang sama sepertinya jika kejadian ini menimpa diriku. Lihatlah, Herupa yang Martis bangun dengan susah payah kini hancur hanya dalam satu malam saja. Pengacau ini memang layak mati, i
Beberapa hari kemudian, Martis teringat akan janjinya pada pak tua. Ia pun mengajak Reka kembali pergi bersamanya ke puncak gunung.Namun, bukan hanya Reka saja yang ternyata ingin ikut pergi bersama Martis. Ada Layla dan Selena yang bersikeras untuk ikut pergi bersama Martis dan Reka.Dengan terpaksa, akhirnya Martis menyetujuinya. Namun ketika tengah bersiap-siap, tiba-tiba saja hadir seorang gadis lagi. Dan gadis itu ternyata adalah Mia. Kepala Martis semakin merasa pusing ketika Mia juga bersikeras ingin ikut pergi bersamanya."Pokoknya aku juga ikut! Titik!" Dengan wajah yang terlihat kesal, Mia terus merengek dan mengatakan kepada Martis bahwa ia harus ikut ke puncak gunung. Tentu saja ia juga merasa cemburu."Huft..., yah..., baiklah, baiklah. Kalau begitu kalian semua persiapkanlah masing-masing barang bawaan kalian. Dan ingat, aku tunggu siang ini sehabis makan siang di sini, oke? Jika ada yang telat, maka akan aku tinggal," ujar Martis.***Setelah semua persiapan selesai, M
Setelah Martis mengetahui identitas semua keluarganya, ia merasa sangat bahagia. Ditambah lagi, kakeknya pun kini kembali tinggal bersama kedua orang tua Martis.Sejak kehadiran kakeknya, Martis meminta bimbingannya untuk mempelajari semua cara kerja sistem yang ia miliki. Martis sangat juga merasa sangat senang ketika ternyata mengetahui ada banyak sekali fitur-fitur rahasia.***Waktu pun berjalan terasa sangat cepat. Selama tiga tahun ini, keadaan di Negara Purple Gold sangatlah damai. Namun tidak dengan Negara lain. Banyak Negara-negara kecil yang ternyata menjadi incaran Negara-negara besar untuk dijajah. Seperti Negara Pilastain contohnya.Negara Pilastain sudah puluhan tahun dijajah oleh Negara Isralial. Dan kebetulan, ada salah satu utusan dari Negara Pilastain yang mendatangi Negara Purple Gold."Martis, bagaimana menurutmu tentang hal ini? Apakah Negara kita akan membantu Negara Pilastain?" tanya Mia."Sebaiknya kita harus mengadakan rapat terlebih dahulu. Aku juga ingin m
Tiba-tiba, Martis terpikirkan suatu hal di masa lalu. 'Oh, iya, Sistem, eh, tidak! Ririn..., apakah kau ingat dengan nama itu?' Tring! "Sistem tidak akan pernah lupa dengan apapun yang telah dilakukan oleh User setiap detik pun. Benar, aku adalah Ririn." Martis senang mendengar jawaban dari Ririn. "Apakah Martis masih memiliki pertanyaan dan keluh kesah lainnya? Ririn akan siap membantu mencari solusi terbaik untuk Martis. Karena itu adalah tugas dan kewajiban Ririn sebagai Sistem." Entah kenapa, Martis merasa terharu setelah membaca jawaban balasan dari Ririn. Sepertinya Martis merasa bahwa Ririn adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya. Tanpa Sistem, Martis tidak akan bisa jadi sepertinya orang yang sampai saat ini terbilang kehidupannya sangat didambakan oleh banyak orang."Em..., Ririn, bisakah kau membuat visualisasi tubuh? Aku akan merasa lebih senang jika kau dapat melakukannya."Permintaan Martis ada-ada saja, ya? Dia sudah dapat berkomunikasi
Kemudian Martis berpikir sejenak. "Aku...? Aku bisa menggunakan gelar Raja Kegelapan karena telah mengalahkan Raja Kegelapan yang sebelumnya? Jadi..., itu artinya..., em...?" Martis termenung, ia sedang berpikir apa yang akan ia lakukan dengan gelar itu. Ia pun bergumam, 'Apakah berati aku setara dengan Raja Iblis? Tapi..., bukankah Raja Kegelapan jauh lebih tinggi dibanding Raja Iblis? Benar, tidak, sih? Ah..., aku jadi penasaran. Bagaimana jika aku masuk dalam dimensi dunia kegelapan? Apakah di sana aku akan dapat pencerahan? Sebab di masa lalu, aku ingat betul, bahwa aku pernah mengalahkan Lord dan blablabla...,' ungkap Martis dalam hatinya yang saat ini sedang berkecamuk. 'Tapi..., jika dipikir lebih jeli lagi, sebenarnya gelar-gelar itu tidaklah sesuai dengan keadaannya.' Martis memuntahkan secangkir teh hangat dan lanjut bertarung dengan pikirannya. 'Kalau begitu..., inilah arti dari pribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Kelurahan Raja Kegelapan, aku kira sangatlah kuat
Nampak ada lingkaran cahaya yang makin lama semakin membesar. Lingkaran cahaya itu sangat bulat, dan ada pancaran kehangatan bagi orang di sekitar yang dapat merasakannya. 'Kehangatan itu terasa sangat nyaman,' Bahkan, Martis sekalipun merasakan kenyamanan saat ia akan melakukan Teknik Legendaris ini. Kemudian, Martis yang tengah mengangkat kedua tangannya seperti menadah ke udara, ia lalu menggerakkan kedua tangannya. Lantas, lingkaran cahaya yang berbentuk bulat dan mengambang di atas kepala Martis tadi itu bergerak, dan gerakannya sesuai dengan apa yang Martis pikirkan. "Hiyat...!" teriak Martis, dengan tubuhnya yang saat ini langsung dibanjiri oleh keringat. "Denki Gama...!" Sekali lagi Martis berteriak dengan keras. Teriakan itu adalah kode, sebagaimana kuatnya usaha Martis dalam melakukan teknik sekuat ini. Lingkaran cahaya bulat yang berwarna kuning keputihan itu kemudian melesat ke arah Raja Kegelapan. "Jurus apa ini?! Selama ratusan tahun ku hidup di dunia ini
Pertarungan Martis melawan Raja Kegelapan masih berlanjut. Tapi kali ini, Martis nampak biasa saja. Karena sekarang sistem miliknya sudah pulih seperti semula. Jadi, semua terasa mudah bagi Martis. "Martis...! Kenapa kekuatanmu jauh berbeda dibanding saat terakhir kali kita bertemu?!" Raja Kegelapan akhirnya sadar, ternyata Martis jauh lebih kuat darinya. "Kenapa? Apakah sekarang kau mulai merasa takut? Hem?" Martis bertingkah santai. Ia sengaja menahan semua serangan dari Raja Kegelapan. "Jangan sembarangan, kau! Aku...? Takut padamu?! Mimpi...!" Raja Kegelapan kali ini benar-benar melupakan seluruh kekuatan dan kemampuan miliknya demi menghadapi Martis. Sudah ratusan tahun Raja Kegelapan hidup, namun baru hari ini ia menghadapi seorang manusia yang seperti Martis. Namun, walaupun ia tahu Martis adalah manusia yang kuat, rasa gengsi yang sangat besar dalam dirinya tak membuatnya takut. Ia berpikir ini mempertaruhkan harga dirinya. Apa kata orang nantinya, jika tahu Raja Kegelapan
Saat Emily dan Phynoglip berbicara, mereka tidak menyadari bahwa Martis sedang melakukan sesuatu yang sangat penting. Martis berjalan ke arah sebuah ruangan yang tersembunyi di balik sebuah pintu rahasia. Di dalam ruangan tersebut, Martis menemukan sebuah perangkat yang sangat canggih. Perangkat tersebut adalah sebuah alat yang dapat mendeteksi keberadaan Raja Kegelapan. Martis telah mencari alat tersebut selama bertahun-tahun, dan akhirnya ia menemukannya. Martis mengaktifkan alat tersebut dan menunggu beberapa saat hingga alat tersebut menunjukkan hasilnya. Saat hasilnya muncul, Martis terkejut. Raja Kegelapan ternyata berada di sebuah tempat yang sangat dekat dengan mereka. Martis tidak menyangka bahwa Raja Kegelapan akan berada di tempat yang begitu dekat. Martis segera mematikan alat tersebut dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Ia harus segera memberitahu Emily dan Phynoglip tentang hasilnya. Saat Martis kembali ke tempat Emily dan Phynoglip, ia melihat bahwa mer
Dalam benaknya, Martis terus berpikir. Dengan konsentrasinya yang sangat baik, Martis mencoba menelaah tentang kejadian hari ini. Dan pada saat ini, Mia sedang berjalan ke arah pintu yang tersembunyi di belakang tirai, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis juga mengikuti mereka, dengan rasa penasaran yang semakin besar. Saat mereka mencapai pintu tersebut, Mia berhenti dan menatap Martis dengan senyumannya yang lembut. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Dan tiba-tiba saja, ada kejadian aneh. Mia menghilang begitu saja di hadapan mereka. Phynoglip serta Emily terkejut dan menatap bayangan tersebut dengan rasa penasaran. "Apa yang terjadi?" tanya Phynoglip heran. "Aku tidak tahu," ucap Emily yang sama herannya. "Tapi aku rasa Mia yang kita lihat sebelumnya bukanlah Mia yang sebenarnya." Dan selang beberapa menit kemudian, Mia muncul kembali. Ternyata..., sosok yang mengaku sebagai Mia ini hanyalah bayang
Mia berjalan ke arah Martis, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis menatap Mia dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang kamu ingin lakukan, Mia?" tanya Martis dengan suara yang keras. Mia tetap tersenyum lembut, kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Aku ingin menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Martis menatap Mia dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang kamu maksud?!" tanya Martis dengan suara yang keras. Dengan senyum lembutnya, Mia kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita hanya memiliki puisi yang tidak berharga," ucap Mia dengan suara yang masih sama pelannya. Mia kemudian mengambil kertas yang memiliki puisi yang tertulis di dalamnya dari Emily, kemudian memberikannya kepada Martis. Martis menatap kertas tersebut dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang
Mia memimpin mereka ke arah mesin tersebut, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Saat mereka mendekati mesin tersebut, mereka melihat bahwa mesin tersebut memiliki sebuah layar yang besar dan beberapa tombol yang berkilauan. Mia menekan salah satu tombol tersebut, dan layar mesin tersebut langsung menyala. Phynoglip dan Emily terkejut melihat bahwa layar tersebut menampilkan sebuah gambar yang aneh, seperti sebuah peta yang kompleks. "Apa ini?" tanya Phynoglip dengan suara yang penasaran. Mia menjawab, "Ini adalah peta sistem yang kita gunakan untuk mengontrol dunia ini," ucap Mia dengan suara yang pelan. "Dengan peta ini, kita dapat melihat bagaimana sistem tersebut bekerja dan bagaimana kita dapat mengubahnya." Emily kemudian menatap peta tersebut dengan rasa penasaran. "Bagaimana kita dapat mengubahnya?" tanya Emily dengan suara yang pelan. Mia memandang Emily dengan mata yang berbinar. "Kita dapat mengubahnya dengan menggunakan kode yang tepat," ucap Mia
Phynoglip mengangguk, kemudian menatap sekeliling tempat mereka berada. "Tempat ini aneh," ucap Phynoglip dengan suara yang pelan. "Aku merasa seperti berada di dalam komputer atau sesuatu." "Aku juga merasa seperti itu. Sepertinya kita berada di dalam sistem atau dimensi lain." jawab Emily dengan nada yang sama dengan Phynoglip. Keduanya terdiam sejenak, kemudian Phynoglip bertanya lagi. "Kamu pikir apa yang disembunyikan oleh Martis?" Emily memandang Phynoglip dengan serius. "Aku pikir Tuan Martis menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting." Phynoglip mengangguk, kemudian keduanya terdiam lagi. Akan tetapi, kali ini tiba-tiba, Phynoglip berbicara dengan nada yang berbeda. "Emily, aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini. Sepertinya kita tidak sendirian." Emily menatap Phynoglip dengan heran, kemudian menoleh ke sekeliling. Tiba-tiba, dia melihat bayangan yang bergerak di kejauhan. "Apa itu?" bisik Emily dengan suara yang pelan. Kemudian Phynoglip berjalan menuju bayangan te