Martis sungguh tidak menyangka, ketika ia membuka kabar berita di media sosial ternyata namanya sedang viral. Banyak sekali orang yang memuji keberanian dan kehebatan Martis yang telah berhasil mengalahkan dua Cyborg sekaligus.Martis sebenarnya penasaran dengan orang yang telah menyebar luaskan video rekamannya ketika bertarung melawan kedua Cyborg waktu itu. Dan anehnya lagi, orang yang sengaja menyebarkan videonya itu seperti sengaja hanya menonjolkan dirinya saja. Sedangkan bagian video yang terdapat gambar Reka sudah dipotong. Jadi sepengetahuan semua orang, Martis lah yang melawan kedua Cyborg itu seorang diri.'Hem..., aneh. Kenapa cuplikan videonya hanya menampilkan diriku saja? Ke mana cuplikan ketika Reka yang mengeksekusi kedua Cyborg itu kemarin? Sebenarnya, apa tujuan orang ini menyebarkan video pertarungan kami kemarin ya?' Di dalam kamarnya, Martis yang sedang menatap layar ponsel sedang berpikir dan ingin mencari tahu siapa orang yang sengaja menyebarkan video pertarun
"Tidak masalah kok Kak. Justru aku malah ingin melihat Kak Martis bertarung melawan Ayah." Sangat kebetulan sekali bagi Reka yang memang penasaran dengan kemampuan Ayahnya. Apakah Ayahnya bisa mengalahkan Martis, atau tidak? Reka memang sempat memikirkan hal ini."Baiklah, aku akan mencarinya sebentar. Kau tunggu saja di sini dulu, ya?" Tanpa menunggu lama, Martis langsung pergi mencari ayah Reka.Hanya butuh waktu lima menit bagi Martis untuk menemukan keberadaan Roki. Setelah bertemu dengan Roki, Martis juga tidak mau berbasa-basi dan langsung mengutarakan maksud dan tujuannya mencari Roki. Roki juga tidak menolak saat Martis mengajaknya untuk berlatih tanding."Kalau begitu ayo, kita berlatih tanding di tempat biasa aku dengan Reka berlatih saja, Paman." Martis mengajak Roki kembali ke aula di mana tempat ia biasa berlatih bersama Reka.Kali ini mereka sepakat, Reka lah yang akan menjadi wasit dalam pertarungan latih tanding antara Martis dan Roki hari ini."Apakah kalian berdua su
Karena mendengar adanya suara ledakan dari arah tempat Martis yang biasa berlatih, semua anggota Herupa langsung penasaran. Awalnya mereka semua mengira kalau markas Herupa kembali diserang oleh musuh, ternyata setelah mereka berkumpul melihat adanya Martis yang sedang bertarung melawan Roki."Wah..., ternyata Ketua kita sedang berlatih tanding melawan Bos Roki. Lihatlah, mereka berdua sangat kuat!" Dengan perasaan takjub, salah satu anggota Herupa memuji kehebatan Martis dan juga Roki."Aku akan mengabadikan momen seru ini," sahut satu orang lagi. Orang itu mengeluarkan ponselnya kemudian merekam pertarungan latih tanding ini.Boom!Satu ledakan yang sangat keras kembali terdengar.Brak...!Kepalan tinju Martis masih mampu ditahan oleh Roki.Namun ketika tinju Martis belum sempat ia tarik kembali, Roki berhasil melayangkan satu pukulannya ke arah perut Martis. Dan pukulan itu terasa sangat berat.Bam!Tubuh Martis mundur beberapa langkah ketika menerima pukulan dari Roki.'Sial! Pama
Ternyata mereka semua yang ada di sana melihat tubuh Roki yang ternyata terbuat dari besi baja!Cyborg! Roki ternyata adalah seorang Cyborg!Namun ada perbedaan antara Roki dan kedua Cyborg yang Martis kalahkan kemarin itu. Kalau Roki, walaupun ia adalah seorang Cyborg namun Roki masih terlihat seperti orang normal. Pikiran dan akal sehatnya juga masih ada. Tidak seperti kedua Cyborg yang kemarin itu."Hah?! Paman...?! Apakah Paman Roki juga seorang Cyborg?!" Ekspresi terkejut tercetak sangat jelas di wajah Martis.Bruk!Tubuh Reka langsung terduduk di lantai. Kedua kakinya terasa lemas ketika ia mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang Cyborg."Tidak!" Kedua tangan Reka memegangi kepalanya. Reka juga nampak sangat terpukul.Roki melihat ke arah Reka yang sedang terduduk dan terlihat frustasi langsung berjalan untuk mendekatinya. Awalnya Roki ingin kembali bertarung melawan Martis, namun sepertinya perhatian Roki malah tertuju kepada anaknya."Reka, Aya-" Belum juga selesai berbicara,
Martis mengerti kenapa Reka bisa mengatakan benci terhadap Cyborg. Padahal, ayahnya sendiri adalah seorang Cyborg.Martis juga memperhatikan wajah Reka lekat-lekat ketika ia mengatakan benci kepada Cyborg. Mulut Reka memang mengatakan ia benci kepada ayahnya karena ayahnya adalah Cyborg, namun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam Reka tidak benar-benar membenci ayahnya."Reka, aku yakin Ayahmu pasti memiliki sesuatu untuk menjelaskan ini semua. Aku melihat ekspresi di wajah Ayahmu tadi, justru Ayahmu terlihat seperti merasa sangat sakit hati. Jujur saja, aku sangat penasaran kenapa Ayahmu bisa menjadi seorang Cyborg." Sebenarnya Martis memang sangat penasaran dengan Roki.Reka tidak lagi mengatakan apa-apa sampai beberapa jam kemudian. Yang Reka lakukan hanyalah menangis pelan di dalam pelukan Martis. Bahkan Reka sampai tertidur dalam kondisi masih sambil menangis.Martis menggendong tubuh Reka dan membawanya masuk ke dalam kamar. Setelah itu Martis menghubungi nomor ponsel R
Martis masih berpura-pura bersikap biasa saja. Karena kalau ia memperlihatkan kalau ternyata sudah tahu akan kehadiran pengintai itu, bisa dipastikan pengintai itu pasti akan pergi. Sebab, baru kali ini juga Martis merasakan bahwa keahlian pengintai ini adalah yang paling hebat dibanding pengintai-pengintai lain yang dulu pernah Martis temui.Martis memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana, kemudian ia menyiapkan alat penyadap yang ia keluarkan dari tas penyimpanan sistem melalui saku celananya."La, lalala..., lala.., lalala." Martis sengaja bersenandung agar pengintai itu tetap mengira bahwa Martis tidak menyadari keberadaannya.Kemudian Martis mengeluarkan kedua telapak tangannya dari dalam saku celana. Lalu dengan pergerakan yang sangat cepat, Martis menjentikkan alat penyadap itu tepat ke arah si pengintai tersebut. Untuk mengalihkan perhatian pengintai itu, Martis sengaja meletakkan kedua tangannya ke kepala bagian belakangnya seraya kembali bersenandung ria.Trin
Martis mulai merasa khawatir. Tapi ia masih mencoba untuk tenang, kalau memang masih tidak ada jawaban juga dari Reka barulah ia terpaksa akan mendobrak pintu kamar Reka ini."Reka...? Apa kau ada di dalam? Ayo kita sarapan dulu. Ini sudah siang loh. Sudah pukul sepuluh." Dengan posisi tangan yang memegang gagang pintu, Martis memanggil Reka yang ada di dalam kamar.'Ada apa dengan Reka? Apa terjadi sesuatu dengannya di dalam ya? Ah, aku dobrak saja!' gumam Martis dalam hati.Martis Mundur beberapa langkah guna bersiap berlari dan akan mendobrak pintu kamar Reka.Ceklek!Gagang pintu kamar itu bergerak kemudian barulah pintunya terbuka."Argh...!" Karena tadi sudah bersiap berlari untuk mendobrak pintu kamar Reka, akhirnya Martis menghentikan larinya secara mendadak seraya berteriak.Brak!Keseimbangan Martis hilang sehingga membuat tubuhnya jatuh ke lantai. Sebab jika ia tidak berhenti mendadak seperti ini, maka Reka yang pasti akan tertabrak olehnya."Hoam...! Kak Martis? Kenapa kau
'Aktifkan teknik Sensorik.' Setelah itu Martis langsung memberikan perintah pada sistem untuk mengaktifkan teknik Sensorik miliknya. Sebab, Martis juga belum tahu pasti posisi pengintai itu ada di sebelah mana.Tring!"Perintah diterima, teknik Sensorik berhasil diaktifkan." Seperti biasa, begitulah jawaban dari sistem.Martis mengangkat telapak tangan dan mengarahkannya ke arah Reka guna memberi isyarat agar Reka diam sejenak. Untungnya Reka mengerti dan ia pun menuruti apa yang Martis maksud. Reka juga melihat ekspresi pada wajah Martis yang tiba-tiba berubah menjadi serius, itu tandanya sedang ada sesuatu.Kali ini, Martis agak kesulitan mendeteksi hawa keberadaan pengintai itu. Padahal ia sudah mengaktifkan teknik Sensorik miliknya.'Eh? Kenapa orang ini sangat ahli dalam menyembunyikan hawa keberadaannya? Teknik macam apa ini? Aku baru tahu kalau ada teknik semacam ini. Wah..., aku harus lebih waspada lagi.' Begitulah yang Martis pikirkan. Hari ini, pengintai itu jauh lebih sulit
Tiba-tiba, Martis terpikirkan suatu hal di masa lalu. 'Oh, iya, Sistem, eh, tidak! Ririn..., apakah kau ingat dengan nama itu?' Tring! "Sistem tidak akan pernah lupa dengan apapun yang telah dilakukan oleh User setiap detik pun. Benar, aku adalah Ririn." Martis senang mendengar jawaban dari Ririn. "Apakah Martis masih memiliki pertanyaan dan keluh kesah lainnya? Ririn akan siap membantu mencari solusi terbaik untuk Martis. Karena itu adalah tugas dan kewajiban Ririn sebagai Sistem." Entah kenapa, Martis merasa terharu setelah membaca jawaban balasan dari Ririn. Sepertinya Martis merasa bahwa Ririn adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya. Tanpa Sistem, Martis tidak akan bisa jadi sepertinya orang yang sampai saat ini terbilang kehidupannya sangat didambakan oleh banyak orang."Em..., Ririn, bisakah kau membuat visualisasi tubuh? Aku akan merasa lebih senang jika kau dapat melakukannya."Permintaan Martis ada-ada saja, ya? Dia sudah dapat berkomunikasi
Kemudian Martis berpikir sejenak. "Aku...? Aku bisa menggunakan gelar Raja Kegelapan karena telah mengalahkan Raja Kegelapan yang sebelumnya? Jadi..., itu artinya..., em...?" Martis termenung, ia sedang berpikir apa yang akan ia lakukan dengan gelar itu. Ia pun bergumam, 'Apakah berati aku setara dengan Raja Iblis? Tapi..., bukankah Raja Kegelapan jauh lebih tinggi dibanding Raja Iblis? Benar, tidak, sih? Ah..., aku jadi penasaran. Bagaimana jika aku masuk dalam dimensi dunia kegelapan? Apakah di sana aku akan dapat pencerahan? Sebab di masa lalu, aku ingat betul, bahwa aku pernah mengalahkan Lord dan blablabla...,' ungkap Martis dalam hatinya yang saat ini sedang berkecamuk. 'Tapi..., jika dipikir lebih jeli lagi, sebenarnya gelar-gelar itu tidaklah sesuai dengan keadaannya.' Martis memuntahkan secangkir teh hangat dan lanjut bertarung dengan pikirannya. 'Kalau begitu..., inilah arti dari pribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Kelurahan Raja Kegelapan, aku kira sangatlah kuat
Nampak ada lingkaran cahaya yang makin lama semakin membesar. Lingkaran cahaya itu sangat bulat, dan ada pancaran kehangatan bagi orang di sekitar yang dapat merasakannya. 'Kehangatan itu terasa sangat nyaman,' Bahkan, Martis sekalipun merasakan kenyamanan saat ia akan melakukan Teknik Legendaris ini. Kemudian, Martis yang tengah mengangkat kedua tangannya seperti menadah ke udara, ia lalu menggerakkan kedua tangannya. Lantas, lingkaran cahaya yang berbentuk bulat dan mengambang di atas kepala Martis tadi itu bergerak, dan gerakannya sesuai dengan apa yang Martis pikirkan. "Hiyat...!" teriak Martis, dengan tubuhnya yang saat ini langsung dibanjiri oleh keringat. "Denki Gama...!" Sekali lagi Martis berteriak dengan keras. Teriakan itu adalah kode, sebagaimana kuatnya usaha Martis dalam melakukan teknik sekuat ini. Lingkaran cahaya bulat yang berwarna kuning keputihan itu kemudian melesat ke arah Raja Kegelapan. "Jurus apa ini?! Selama ratusan tahun ku hidup di dunia ini
Pertarungan Martis melawan Raja Kegelapan masih berlanjut. Tapi kali ini, Martis nampak biasa saja. Karena sekarang sistem miliknya sudah pulih seperti semula. Jadi, semua terasa mudah bagi Martis. "Martis...! Kenapa kekuatanmu jauh berbeda dibanding saat terakhir kali kita bertemu?!" Raja Kegelapan akhirnya sadar, ternyata Martis jauh lebih kuat darinya. "Kenapa? Apakah sekarang kau mulai merasa takut? Hem?" Martis bertingkah santai. Ia sengaja menahan semua serangan dari Raja Kegelapan. "Jangan sembarangan, kau! Aku...? Takut padamu?! Mimpi...!" Raja Kegelapan kali ini benar-benar melupakan seluruh kekuatan dan kemampuan miliknya demi menghadapi Martis. Sudah ratusan tahun Raja Kegelapan hidup, namun baru hari ini ia menghadapi seorang manusia yang seperti Martis. Namun, walaupun ia tahu Martis adalah manusia yang kuat, rasa gengsi yang sangat besar dalam dirinya tak membuatnya takut. Ia berpikir ini mempertaruhkan harga dirinya. Apa kata orang nantinya, jika tahu Raja Kegelapan
Saat Emily dan Phynoglip berbicara, mereka tidak menyadari bahwa Martis sedang melakukan sesuatu yang sangat penting. Martis berjalan ke arah sebuah ruangan yang tersembunyi di balik sebuah pintu rahasia. Di dalam ruangan tersebut, Martis menemukan sebuah perangkat yang sangat canggih. Perangkat tersebut adalah sebuah alat yang dapat mendeteksi keberadaan Raja Kegelapan. Martis telah mencari alat tersebut selama bertahun-tahun, dan akhirnya ia menemukannya. Martis mengaktifkan alat tersebut dan menunggu beberapa saat hingga alat tersebut menunjukkan hasilnya. Saat hasilnya muncul, Martis terkejut. Raja Kegelapan ternyata berada di sebuah tempat yang sangat dekat dengan mereka. Martis tidak menyangka bahwa Raja Kegelapan akan berada di tempat yang begitu dekat. Martis segera mematikan alat tersebut dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Ia harus segera memberitahu Emily dan Phynoglip tentang hasilnya. Saat Martis kembali ke tempat Emily dan Phynoglip, ia melihat bahwa mer
Dalam benaknya, Martis terus berpikir. Dengan konsentrasinya yang sangat baik, Martis mencoba menelaah tentang kejadian hari ini. Dan pada saat ini, Mia sedang berjalan ke arah pintu yang tersembunyi di belakang tirai, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis juga mengikuti mereka, dengan rasa penasaran yang semakin besar. Saat mereka mencapai pintu tersebut, Mia berhenti dan menatap Martis dengan senyumannya yang lembut. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Dan tiba-tiba saja, ada kejadian aneh. Mia menghilang begitu saja di hadapan mereka. Phynoglip serta Emily terkejut dan menatap bayangan tersebut dengan rasa penasaran. "Apa yang terjadi?" tanya Phynoglip heran. "Aku tidak tahu," ucap Emily yang sama herannya. "Tapi aku rasa Mia yang kita lihat sebelumnya bukanlah Mia yang sebenarnya." Dan selang beberapa menit kemudian, Mia muncul kembali. Ternyata..., sosok yang mengaku sebagai Mia ini hanyalah bayang
Mia berjalan ke arah Martis, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis menatap Mia dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang kamu ingin lakukan, Mia?" tanya Martis dengan suara yang keras. Mia tetap tersenyum lembut, kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Aku ingin menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Martis menatap Mia dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang kamu maksud?!" tanya Martis dengan suara yang keras. Dengan senyum lembutnya, Mia kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita hanya memiliki puisi yang tidak berharga," ucap Mia dengan suara yang masih sama pelannya. Mia kemudian mengambil kertas yang memiliki puisi yang tertulis di dalamnya dari Emily, kemudian memberikannya kepada Martis. Martis menatap kertas tersebut dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang
Mia memimpin mereka ke arah mesin tersebut, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Saat mereka mendekati mesin tersebut, mereka melihat bahwa mesin tersebut memiliki sebuah layar yang besar dan beberapa tombol yang berkilauan. Mia menekan salah satu tombol tersebut, dan layar mesin tersebut langsung menyala. Phynoglip dan Emily terkejut melihat bahwa layar tersebut menampilkan sebuah gambar yang aneh, seperti sebuah peta yang kompleks. "Apa ini?" tanya Phynoglip dengan suara yang penasaran. Mia menjawab, "Ini adalah peta sistem yang kita gunakan untuk mengontrol dunia ini," ucap Mia dengan suara yang pelan. "Dengan peta ini, kita dapat melihat bagaimana sistem tersebut bekerja dan bagaimana kita dapat mengubahnya." Emily kemudian menatap peta tersebut dengan rasa penasaran. "Bagaimana kita dapat mengubahnya?" tanya Emily dengan suara yang pelan. Mia memandang Emily dengan mata yang berbinar. "Kita dapat mengubahnya dengan menggunakan kode yang tepat," ucap Mia
Phynoglip mengangguk, kemudian menatap sekeliling tempat mereka berada. "Tempat ini aneh," ucap Phynoglip dengan suara yang pelan. "Aku merasa seperti berada di dalam komputer atau sesuatu." "Aku juga merasa seperti itu. Sepertinya kita berada di dalam sistem atau dimensi lain." jawab Emily dengan nada yang sama dengan Phynoglip. Keduanya terdiam sejenak, kemudian Phynoglip bertanya lagi. "Kamu pikir apa yang disembunyikan oleh Martis?" Emily memandang Phynoglip dengan serius. "Aku pikir Tuan Martis menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting." Phynoglip mengangguk, kemudian keduanya terdiam lagi. Akan tetapi, kali ini tiba-tiba, Phynoglip berbicara dengan nada yang berbeda. "Emily, aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini. Sepertinya kita tidak sendirian." Emily menatap Phynoglip dengan heran, kemudian menoleh ke sekeliling. Tiba-tiba, dia melihat bayangan yang bergerak di kejauhan. "Apa itu?" bisik Emily dengan suara yang pelan. Kemudian Phynoglip berjalan menuju bayangan te