Home / Rumah Tangga / Pengantin Kedua Janardana / A 04 - Jangan Diungkit

Share

A 04 - Jangan Diungkit

Author: Olivia Yoyet
last update Last Updated: 2024-04-29 00:41:41

Lembayung senja kian menggelap. Arudra mengajak Zivara untuk jalan-jalan seputar resor. Keduanya melangkah berdampingan sambil berbincang tentang tempat itu yang cukup indah.

Konsep resor yang mengusung tema alam, menjadikan banyaknya area terbuka yang menjadikan kawasan itu sangat lega. Zivara menyukai arsitektur bangunan utama hotel dan beberapa bungalo. Dia juga menyukai taman bermain yang berdekatan dengan kolam renang.

"Mas, anak-anak itu apa nggak kedinginan, ya?" tanya Zivara sambil menunjuk sekelompok anak kecil yang tengah berenang dengan ditemani orang tua masing-masing.

"Airnya hangat, Zi," terang Arudra.

"Beneran?"

"Hu um. Pengelolanya sengaja memasang penghangat air, supaya pengunjung senang." Arudra memindai sekitar, lalu dia menunjuk satu bangunan di ujung kiri taman. "Di situ pusat pengendalinya, sekaligus mengatur aliran yang ke semua kamar,' jelasnya.

"Aku baru nyadar ada bangunan itu. Kalau Mas nggak nunjukin, aku nggak tahu."

"Tempatnya memang tersembunyi."

"Cat-nya juga menipu. Kukira itu dedaunan merambat."

"Separuh daun, separuh cat."

Zivara mengangguk paham. "Ehm, Mas, kita pulangnya kapan?"

"Habis salat magrib. Turun ke kotanya bareng rombongan. Mereka mau mampir buat beli oleh-oleh. Besok mereka langsung pulang ke Jakarta dan nggak turun lagi ke kota."

"Kita ikut belanja juga?"

"Boleh."

"Aku mau beliin buat Ibu dan teman-teman di gym." Zivara terdiam sejenak, kemudian dia berkata, "Sekalian buat keluarga Mas. Mama Indriati suka bolen keju cokelat."

Arudra tidak menyahut, melainkan hanya memandangi gadis berbaju salem yang sedang merapikan anak rambutnya yang tertiup angin.

Arudra tidak menduga bila Zivara mengetahui makanan kesukaan mamanya. Hal yang tidak pernah diketahui Lanika, dan sang kekasih juga tidak pernah menanyakan hal itu.

Seusai menunaikan salat magrib, semua anggota rombongan berduyun-duyun menuju mobil-mpbil. Zivara diajak para istri untuk bergabung di kendaraan yang mereka tumpangi.

Sepanjang perjalanan menuju Kota Bandung, Zivara mendengarkan informasi tentang kegiatan para istri PC yang memiliki bisnis tersendiri. Bahkan, mereka mempunyai beberapa one stop shopping di banyak kota besar di Pulau Jawa dan Sumatera.

Konvoi itu berhenti di depan sebuah restoran di kawasan Setiabudi. Semua orang turun dan jalan memasuki ruangan luas, yang telah dipesan sepenuhnya oleh Zafran.

"Calon istrimu, ternyata supel dan ramah," tutur Zafran, sesaat setelah duduk di sebelah kiri Arudra.

"Ehm, ya. Agak cerewet memang," sahut Arudra sambil memandangi perempuan yang dimaksud, yang menempati meja di sisi kanan bersama rekan-rekannya.

"Perempuan memang begitu, karena mereka perlu mengeluarkan minimal 20 ribu kata per hari. Jadinya terkesan bawel."

Arudra mengulum senyuman. "Apa istrimu juga begitu?"

"Ya. Cyra sangat cerewet. Tapi, aku justru senang dia banyak ngoceh. Kalau dia diam, berarti ada sesuatu. Misalnya lagi sakit, lagi ngambek atau sariawan..Apalagi kalau sedang kedatangan tamu. Beuh! Makin menekuk itu muka, plus judes."

Senyuman Arudra makin melebar. "Kamu sangat memahaminya."

"Harus, Ra. Karena itu janjiku saat menikahinya dulu. Meskipun kami dijodohkan orang tua, tapi waktu pertama kali ketemu, aku sudah suka."

"Kalian dijodohkan?"

"Hu um. Dia sempat nolak, karena punya pacar. Tapi aku kadung suka, jadinya maju terus buat menggapai hatinya. Saat awal menikah, aku benar-benar berusaha untuk memikatnya, dan alhamdulillah, berhasil."

"Gimana caranya?"

"Kapan pun ada waktu berdua, aku fokus ke dia. No hape, no kongkow. Pokoknya lebih banyak di rumah buat pacaran halal."

***

Malam kian larut, mobil yang dikemudikan Arudra berhenti di depan rumah milik Thamrin. Zivara membuka pintu dan keluar sambil membawa tas selempangnya, serta kantung belanja berisi aneka kudapan.

Arudra mematikan mesin, lalu beranjak keluar. Dia menutup pintu, kemudian mengikuti langkah Zivara menuju rumah, tanpa mengunci pintu mobilnya.

Kedatangan mereka disambut Ruslita dengan senyuman. Perempuan tua berjilbab cokelat menahan diri untuk tidak mencecar putri dan calon menantunya. Ruslita akan menunggu Zivara menceritakan tentang peristiwa sepanjang hari.

Thamrin turut bergabung di ruang tamu. Pria tua bersarung hitam motif kotak-kotak merah, berbincang dengan Arudra mengenai resor BPAGK, dan berbagai hal tentang PC.

Hampir tiga puluh menit kemudian, Arudra berpamitan. Dia berdiri dan jalan keluar dengan ditemani Thamrin. Sementara Ruslita menarik tangan putrinya menuju ruang tengah.

"Neng, gimana acara tadi?" tanya Ruslita.

"Alhamdulillah, lancar, Bu. Teman-teman Mas Arudra ternyata ramah. Begitu pula dengan semua istri mereka."

"Oh, pada bawa keluarga?"

"Iya. Ada juga beberapa pengasuh yang ikut. Pokoknya rame."

Ruslita mengusap dadanya. "Ibu akhirnya bisa tenang. Tadi rada was-was."

"Kenapa? Ibu nggak percaya ke kami?"

"Bukan gitu. Masalahnya, Neng, kan, jarang banget jalan-jalan lama luar rumah. Mana sama pacar lagi. Ibu takut kalian gimana-gimana."

Zivara mengangkat alis. "Ibu, nih. Aku sudah dewasa. Bisa jaga diri."

"Namanya orang tua, pasti tetap memikirkan anaknya. Apalagi kamu, kan, perempuan."

Zivara mengulaskan senyuman. "Ya, Bu, aku paham. Tapi, bentar lagi aku akan menikah dan pindah dari sini. Anggap saja kemarin itu latihan saat aku nggak tinggal lagi di sini."

Raut wajah Ruslita seketika berubah. "Kenapa harus pindah? Neng tetap di sini saja."

"Kan, Ibu yang minta aku buat nikah dan ikut sama suami ke mana pun. Padahal aku tadinya pengen punya suami yang mau tetap di sini."

Ruslita mengerucutkan bibir. Dia kesal karena Zivara membalikkan kata-katanya tempo hari, saat membujuk putri bungsunya agar mau dijodohkan dengan Arudra.

Ruslita menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sekali waktu. Dia tidak bisa mengubah ucapan dan terpaksa harus menerima kenyataan, jika sang putri sebentar lagi akan hidup terpisah dengannya.

Puluhan menit terlewati. Arudra tiba di kediaman orang tuanya. Suasana hening menyelimuti rumah besar tersebut, karena semua penghuninya telah terlelap di kamar masing-masing.

Tubuh yang lelah dan mata yang memberat, menjadikan Arudra ingin segera beristirahat. Dia memasuki ruangan pribadinya di lantai dua sembari menguap.

Niat Arudra untuk langsung tidur, ternyata harus ditunda. Dia yang baru mengaktifkan ponsel, tertegun menyaksikan puluhan telepon masuk dari Lanika.

Arudra mengecek jam dinding, kemudian dia menggeleng pelan karena menduga jika sang kekasih pasti telah tertidur. Arudra memasang alarm, karena esok pagi dia hendak mendatangi Lanika.

Seusai berganti pakaian, Arudra berbaring di kasurnya. Kedipan notifikasi ponsel membuatnya mengambil benda itu dari meja samping kasur.

Satu pesan masuk dari Zivara menjadikan Arudra tersenyum. Dia memutuskan untuk menelepon gadis itu supaya bisa berbincang langsung.

"Aku belum tidur, Zi. Baru rebahan," terang Arudra, sesaat setelah menjawab salam sang gadis.

"Aku lupa, belum ngucapin makasih ke Mas," ungkap Zivara.

"Kembali kasih."

"Hari ini aku senang banget. Dapat teman baru dan nambah keponakan juga."

"Aku juga senang. Berkat kamu, akhirnya kita kalah lomba."

"Mas, jangan diungkit terus. Aku malu."

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mispri Yani
hemmm awas loh Arudra kamu bisa" nanti malahan susah buat melepas Zivara
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Pengantin Kedua Janardana    A 05- 365 Hari

    Jalinan waktu terus bergulir. Arudra telah menikahi Lanika dalam pesta tertutup di salah satu resor di Bogor. Hal itu terpaksa dilakukan agar pernikahan rahasia tersebut tidak diketahui publik. Rahmadi dan Indriati telah mengajukan syarat itu pada Arudra. Sebab mereka tidak mau posisi Lanika sebagai istri pertama Arudra diketahui banyak orang. Terutama keluarga besar Janardana. Tibalah hari yang ditunggu-tunggu keluarga Arudra dan Zivara. Sabtu pagi, acara akad nikah dilaksanakan di kediaman Thamrin. Seusai ijab kabul dan pembacaan doa, dilanjutkan dengan pemasangan cincin. Arudra berdiri berhadapan dengan Zivara. Keduanya saling memandang selama beberapa saat, sebelum Arudra mengambil cincin dari meja dan menyematkannya ke jemari manis sang istri. Zivara melakukan hal serupa. Kemudian dia menciumi punggung tangan Arudra dengan takzim. Setelahnya, mereka berpose memegangi buku nikah untuk diabadikan para fotografer. Runutan acara pernikahan khas Sunda dijalani Arudra dengan se

    Last Updated : 2024-04-29
  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 06 - Menjaga Hati

    Pesta pernikahan berlangsung dengan meriah di ruang pertemuan hotel bintang lima di kawasan Gatot Subroto. Para tamu memenuhi area sambil menikmati hidangan. Demikian pula dengan keluarga besar kedua mempelai, yang menempati ruang VIP satu. Zivara memerhatikan sekeliling dengan antusias. Dia melupakan rasa kecewanya pada Arudra, dan memutuskan untuk menikmati pesta. Sang mempelai wanita terlihat semringah. Sudut bibirnya nyaris tidak berhenti mengukir senyuman. Terutama karena dia sangat menyukai dekorasi dan berbagai lagu romantis yang ditampilkan band. Arudra yang telah menyadari kesalahannya, berusaha memperbaiki sikap. Dia berulang kali mengajak Zivara berbincang, tetapi hanya ditanggapi sekilas. Arudra tahu jika Zivara masih marah karena kejadian saat akad tadi pagi. Pria bersetelan tuksedo biru mengilat, berjanji untuk lebih fokus pada Zivara agar gadis itu tidak melanjutkan aksi merajuknya. Kala musik berhenti, perhatian pengunjung teralihkan pada panggung di sisi kanan. K

    Last Updated : 2024-05-20
  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 07 - Penyesalan

    Pagi itu, seusai sarapan, Arudra mengajak Zivara berpindah ke dekat meja kasir restoran hotel. Seorang petugas memberikan dua microfon pada pasangan tersebut. Arudra berdiskusi sesaat dengan istrinya, kemudian dia memerhatikan hadirin yang balas menatapnya saksama. Arudra mengucapkan salam, lalu memulai pidato. "Saya dan istri, ingin mengucapkan terima kasih tak tertinggi pada semua teman-teman yang telah bersedia datang untuk menghadiri acara pernikahan kami kemarin," tutur Arudra. "Mohon maaf, jika kami telah merepotkan kalian, terutama semua panitia," tambah Zivara. "Khusus buat tim PBK, hatur nuhun pisan karena mau membantu kami menyukseskan acara. Love se-Bandung buat kalian!" serunya yang disambut tepuk tangan hadirin. "Kami tidak bisa membalas kebaikan kalian. Hanya Tuhan yang sanggup melakukan itu," terang Arudra. "Sebagai bentuk terima kasih, kami telah menyiapkan sedikit oleh-oleh yang akan segera dibagikan," lanjutnya. Fazwan dan rekan-rekannya dari pasukan pengawal ke

    Last Updated : 2024-05-21
  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 8 - Menggoreskan Kenangan

    Sepanjang malam itu, Zivara mendekam di kamar. Dia tidak memedulikan panggilan Arudra yang berulang kali mengajaknya bicara di luar. Zivara benar-benar kesal, terutama pada dirinya sendiri yang begitu bodohnya mau menikah dengan Arudra.Gadis berambut panjang sudah kehabisan air mata. Zivara lelah terus-menerus menangis hingga matanya bengkak dan hidung memerah. Dia akhirnya memutuskan untuk tidur, sambil menutup telinganya dengan earphone. Alunan musik instrumental menemani Zivara hingga benar-benar terlelap. Dia sama sekali tidak mendengar ketukan yang disertai panggilan sang suami. Arudra berdiri di depan pintu kamar sang istri. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sekali waktu. Kemudian berbalik dan jalan menuju kamarnya. Arudra berbaring telentang. Tatapannya mengarah ke langit-langit yang terlihat samar-samar, karena lampu utama telah dipadamkan. Arudra merunut peristiwa dari semenjak dirinya dan Zivara menandatangani surat perjanjian tempo hari. Pria berbibir

    Last Updated : 2024-05-22
  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 9 - Bukan Pasangan

    Zivara berulang kali mengecek jam dinding untuk memastikan waktu. Namun, hingga pukul 9, Arudra tak jua datang Zivara sudah mengirimkan beberapa pesan, tetapi tidak satu pun yang dibalas Arudra. Perempuan bersetelan piama biru menimbang-nimbang sesaat dalam hati, sebelum akhirnya memaksakan diri untuk menelepon Arudra. Detik demi detik menunggu panggilannya tersambung, menyebabkan Zivara deg-degan. Saat terdengar bunyi panggilan diangkat, dia menunggu orang di seberang telepon menyapa terlebih dahulu. "Maaf, mengganggu. Apa Mas Arudra ada?" tanya Zivara sambil menebak-nebak suara perempuan yang menerima panggilannya. "Dia lagi tidur!" ketus Lanika. "Ehm, maaf. Aku hanya penasaran, karena sejak tadi pesanku tidak dibalas." "Orangnya lagi tidur, gimana mau balas?" Lanika menggertakkan gigi. "Aku peringatkan padamu. Bila dia ada di sini, jangan nelepon! Kamu sudah menghabiskan waktu bersama dia selama 4 hari, apa belum cukup?" tanyanya dengan nada suara tinggi. Zivara terkesiap,

    Last Updated : 2024-05-23
  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 10 - Akting

    "Mas, bangun. Sudah subuh," tukas Zivara sambil menepuk-nepuk lengan Arudra. "Hmm?" Lelaki berkaus biru berusaha mengangkat matanya yang masih berat. "Sudah lewat jam 5. Nanti nggak keburu salat." "Hmm." "Jangan hmm terus. Ayo, bangun!" Arudra manggut-manggut. Dia membuka mata lebih lebar untuk menunjukkan dirinya telah sepenuhnya sadar. Zivara memandangi lelakinya sesaat, kemudian berbalik dan jalan ke balkon. Arudra menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia mengambil arloji di meja untuk mengecek waktu, lalu meletakkan benda itu ke tempat semula. Pria tersebut mengusap wajahnya, kemudian bangkit duduk. Belasan menit terlewati, Arudra menyambangi Zivara yang sedang duduk di kursi sambil memvideokan momen matahari terbit. "Zi, kamu udah salat?" tanya Arudra sembari duduk di kursi sebelah kanan. "Udah. Aku bangun dari jam setengah 5," terang Zivara."Ehm, di pantry, ada kopi, nggak?""Ada." Zivara menoleh. "Mau dibuatin?" tanyanya. "Hu um. Kalau ada kue, aku ma

    Last Updated : 2024-05-23
  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 11 - Ini, Siapa?

    Lanika jalan mondar-mandir sepanjang rumah. Dia kesal karena sejak tadi tidak bisa menghubungi Arudra. Lanika juga telah mengirimkan banyak pesan, tetapi semuanya hanya centang satu abu-abu. Lanika mengerutkan dahi. Dia tiba-tiba teringat sang madu. Dia bergegas ke kamar untuk mencari nomor telepon Zivara, yang sempat disalinnya dari ponsel Arudra. Lanika menyambar ponselnya dari meja, lalu duduk di kursi dekat jendela. Dia mengetikkan sederet angka dari catatannya ke ponsel. Kemudian Lanika menekan tanda hijau untuk menelepon rivalnya. "Aku mau tanya, apa kamu ada dihubungi Mas?" tanya Lanika, sesaat setelah mendengar sapaan orang di seberang telepon. Zivara terdiam. Dia mengalihkan pandangan pada lelaki berkaus putih yang sedang berbaring di kasur. "Kenapa memangnya?" balasnya. "Aku dari tadi nge-chat dan nelepon, tapi nggak masuk." "Aku nggak ada ngubungin dia. Jadi aku nggak tahu." "Masa kamu nggak ada chat dia sama sekali?" "Aku kapok nge-chat duluan. Nunggu dia ngubungi

    Last Updated : 2024-05-24
  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 12 - Pemegang Rekor

    Sepanjang perjalanan menuju Nusa Tenggara Timur, Arudra berulang kali memikirkan laki-laki dalam foto, yang diakui Zivara sebagai mantan kekasih. Arudra penasaran tentang hubungan Zivara dengan pria bernama Evan Pramadana. Namun, sang istri tetap tutup mulut dan tidak mau menjelaskan apa pun. Kelompok pimpinan Hendri akhirnya tiba di hotel di pusat kota. Mereka hendak beristirahat sehari, sebelum esoknya berangkat menuju Labuan Bajo. Seusai memasuki kamar, Zivara segera menuju toilet, karena mengeluh sakit perut. Arudra menempatkan kedua koper ke dekat lemari, lalu dia memindai sekitar. Arudra mengulaskan senyuman menyaksikan kasur yang dihiasi bunga mawar. Dia menggeleng pelan, karena meyakini jika pihak hotel sengaja menghiasi kasur, sebagai bentuk penyambutan pada pengantin baru. Belasan menit terlewati, Zivara keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya. Arudra yang hendak bersemedi, menunda keinginannya untuk bertanya, dan segera memasuki bilik basah. Zivara berbaring

    Last Updated : 2024-05-24

Latest chapter

  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 143 - Pasukan Janardana

    Awal malam itu, Lanika tiba di bandara Cengkareng, bersama Sebastian, Rylee dan Cornelia. Mereka dijemput Uday yang kemudian mengantarkan keempatnya ke hotel tempat tim PG dan PC menginap. Setibanya di tempat tujuan, Bilal dan Yolla telah menunggu di lobi. Seusai berbincang sesaat, mereka bergegas menuju ruang pertemuan di lantai tiga, untuk menghadiri jamuan makan malam yang diadakan oleh Tio. Ruangan luas itu seketika heboh. Semua orang menyambut kedua anggota PC yang baru tiba, dengan rangkulan. Hal nyaris serupa juga dilakukan tim para istri pada Cornelia dan Lanika. Kendatipun tidak terlalu mengenal Lanika, tetapi Mayuree dan rekan-rekannya tetap bersikap ramah pada perempuan tersebut. Seusai melepas rindu pada keluarganya, Lanika mendatangi Zivara dan langsung memeluk sahabatnya tersebut dengan erat. Kemudian dia mengurai dekapan dan beralih menciumi Keef yang sedang dipangku maminya. "Masyaallah, asa tambah kasep, pangeran Ate," puji Lanika sembari menggosok-gosokkan hidun

  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 142 - Wǒ jiào dùmùzhāng

    Ruang rapat di gedung kantor PG, siang menjelang sore itu terlihat ramai. Lebih dari 100 pria bersetelan jas biru mengilat, berkumpul untuk mendengarkan pidato Tio. Setelahnya, komisaris PG memanggil orang-orang yang hendak berangkat ke Kanada. Mereka berdiri di kiri Tio, sambil memandang ke depan. Arudra, Drew, Ghael, dan Myron bergantian mengucapkan kalimat perpisahan. Benigno yang akan mengantarkan rekan-rekannya ke Kanada, juga turut memberikan pidato singkat. Sementara Alvaro yang menjadi pemimpin rombongan tersebut, hanya diam sambil memandangi semua orang di ruangan. "Teman-teman, mari kita bersalaman dengan para pejuang ini. Berikan dukungan terbaik buat mereka, yang akan bekerja keras menyelesaikan berbagai proyek kita di Kanada," ungkap Tio sembari turun dari podium. "Mid, tolong atur barisan," pinta Tio yang segera dikerjakan direktur operasional PG. Tio menyalami Arudra dan mendekapnya sesaat. Kemudian Tio memundurkan tubuh dan berbincang singkat dengan rekannya terse

  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 141 - Genk Pengejar Nona Muda

    Jalinan waktu terus bergulir. Minggu terakhir berada di Bandung, digunakan Arudra dan Zivara untuk lebih dekat dengan keluarga. Setiap hari mereka bergantian mengunjungi kediaman Rahmadi atau Thamrin, agar bisa bercengkerama dengan keluarga inti dan sanak saudara. Kamis sore, Arudra dan Zivara mendatangi kediaman ketua RT tempat mereka tinggal dan tetangga terdekat, untuk berpamitan. Pasangan tersebut tidak lupa untuk berpamitan pada para pedagang di sekitar kompleks, yang menjadi langganan mereka selama menetap di sana.Jumat pagi, Nirwan melajukan mobil sang bos menuju kediaman Rahmadi. Fazwan dan Disti menyusul menggunakan mobil SUV putih milik Zivara. Tidak berselang lama, Bilal datang bersama Yolla dan keluarganya. Demikian pula dengan Thamrin dan Ruslita. Mereka hendak ikut mengantarkan Arudra dan kelompoknya ke Jakarta. Seusai membaca doa bersama, semua orang menaiki kendaraan. Kemudian Bhadra yang berada di mobil terdepan, menekan klakson sebagai tanda perjalanan akan seg

  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 140 - Until Jannah

    Senin pagi menjelang siang, Arudra dan Zivara beserta yang lainnya bertolak menuju Lombok. Fazwan dan Disti juga ikut dalam rombongan tersebut untuk menikmati bulan madu, sebagai hadiah dari para petinggi Janardana Grup dan Mahendra Grup. Pada awalnya para pria ingin kembali mengunjungi Pulau Komodo. Namun, karena banyak anak-anak yang ikut, akhirnya tempat tujuan diubah supaya cocok dengan anak kecil.Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya tiba di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (Bizam) menjelang pukul 4 sore. Perjalanan itu ditempuh dalam waktu yang cukup lama, karena pesawat harus transit di bandara Bali. Dari bandara menuju hotel milik BPAGK, rombongan tersebut menaiki bus berukuran besar yang disediakan pihak hotel. Agung, ketua pengawal Bali dan Nusa Tenggara, kembali menjadi pemandu wisata dadakan.Seperti biasa, para pengawal muda mengadakan kuis berhadiah kudapan dan minuman ringan. Sebab jumlah bos yang ikut cukup banyak, akhirnya semuanya ikut dan terbagi menj

  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 139 - Menang Banyak

    Sabtu pagi di minggu kedua bulan Agustus, pernikahan Fazwan dan Disti dilangsungkan di gedung pertemuan kawasan Buah Batu. Rombongan keluarga calon pengantin pria tiba belasan menit sebelum acara dimulai. Yudha yang menjadi pemimpin, mengatur barisan bersama teman-teman pasukan pengawal area Bandung. Setelah diberi kode oleh tim panitia pihak perempuan, rombongan berseragam serba krem jalan perlahan menuju pintu utama gedung. Mereka berhenti di bawah tenda untuk menyaksikan sambutan dari kedua orang tua Disti. Susunan acara khas Sunda dilaksanakan dengan khidmat, sebelum akhirnya rombongan dipersilakan masuk. Keluarga inti, para petinggi PBK dan keluarga Janardana, serta Mahendra dan Pangestu, menempati kursi dua deretan terdepan sisi kanan. Di belakang mereka dipenuhi keluarga besar Fazwan, dan semua pengawal lapis satu hingga 12 yang hadir bersama keluarga masing-masing. Tidak berselang lama acara dimulai. Fazwan mendengarkan khotbah nikah dengan serius sambil merekamnya dalam

  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 138 - Kamu Nyindir Aku?

    Minggu berganti menjadi bulan. Menjelang keberangkatan ke Kanada, Zivara justru disibukkan dengan persiapan pernikahan Fazwan. Sebab calon pengantin pria sedang sibuk mengikuti Arudra tugas ke luar kota, mau tidak mau Zivara yang menggantikan posisi akangnya untuk membantu Disti. Sore itu sepulang dari kantor, Zivara memacu mobil SUV putih menuju pusat perbelanjaan. Kala berhenti di perempatan lalu lintas, Zivara menyempatkan diri untuk menelepon Nini, yang tengah dijemput Isfani untuk menyusul Zivara, bersama Keef. Setibanya di tempat tujuan, Zivara memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dia merapikan penampilan terlebih dahulu, kemudian menyemprotkan sedikit parfum ke baju. Sekian menit berikutnya, Zivara telah berada di dekat pintu utama. Dia menunggu kedatangan taksi yang ditumpangi Nini dan Isfani tiba, kemudian mereka bergegas menuju lantai tiga, di mana Disti dan kakaknya telah menunggu. Keempat perempuan bersalaman sambil beradu pipi. Sementara Nini hanya menyalami calon istri

  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 137 - Benar-benar Biadap!

    "Siapa kamu!" bentak Eyang Min, saat seorang pria tua muncul di dekat teras depan rumahnya. "Tidak perlu tahu aku siapa. Yang penting, setelah ini usahamu menyesatkan orang akan berhenti," jawab Mulyadi dengan sangat tenang. Eyang Min maju beberapa langkah sambil mengacungkan tongkatnya yang berbentuk unik. "Oh, ternyata kamu. Orang yang sudah melindungi Lanika." "Betul." "Tapi, percuma saja. Sebentar lagi dia akan mati." "Nyawa manusia adalah milik Allah. Sehebat apa pun ilmumu, jika Allah berkehendak, maka Lanika akan aman." Eyang Min tertawa melengking. Mulyadi tetap diam sambil mengamati beberapa orang yang muncul di belakang perempuan berbaju merah. Zein dan ketiga sahabatnya telah selesai bertempur. Mereka berdiri beberapa meter di belakang Mulyadi sambil memerhatikan sekeliling. Masih ada titik-titik merah yang beterbangan, dan harus terus diawasi. Eyang Min melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi ular hitam berukuran besar. Mulyadi spontan mundur sembari memukuli u

  • Pengantin Kedua Janardana    Bab 136 - Apa Dia Lihat Kita?

    Embusan angin kencang menerpa apa pun yang berada di bumi. Dedaunan di dahan bergoyang ke sana kemari mengikuti arah sang bayu. Sekali-sekali akan terdengar suara binatang malam. Selebihnya hanya keheningan yang tercipta di sekitar rumah besar, yang berada di tengah-tengah kebun di pinggir Kota Bogor. Jalan depan rumah itu terlihat lengang. Meskipun waktu baru menunjukkan pukul 10, tetapi tidak ada seorang pun yang melintas di sana. Letak bangunan yang berada di perbukitan, ditambah lagi area belakangnya lebih banyak kebun dibandingkan rumah, menjadikan tempat itu seolah-olah terisolir dari dunia luar. Sekelompok orang terlihat jalan cepat di kebun sisi kiri. Sebab sekitarnya gelap, mereka terpaksa menyalakan senter kecil yang tersambung dengan ikat kepala. Sekali-sekali mereka akan berhenti dan berjongkok untuk memindai sekitar. Kemudian mereka melanjutkan langkah hingga tiba di dekat rerimbunan semak di dekat rumah target. Pria terdepan memberi kode dengan tangan. Lima orang be

  • Pengantin Kedua Janardana    135 - Bunga dan Anyir

    Arudra termangu, sesaat setelah Nirwan menceritakan tentang kejadian kemarin malam di mobil Lanika. Bhadra, Casugraha, Fazwan dan Bilal yang juga berada di ruang kerja sang presdir, saling melirik, sebelum sama-sama mengulum senyuman. Sementara Zein menggeleng pelan seraya tersenyum lebar. Sedangkan Hendti justru bertepuk tangan, kemudian dia menepuk-nepuk pundak Nirwan yang terlihat cengengesan. "Hebat, euy! Bisa ninju kunti," tukas Hendri. "Ini berkat ajaran Akang," balas Nirwan. "Dan Bang Zein, serta teman-teman tim pengejar hantu," lanjutnya sambil memandangi pria berkulit kecokelatan yang balas menatapnya saksama. "Kami cuma melatih sedikit. Hatimu memang kuat, itu yang membuatmu sanggup melawan kuntilanak kiriman Nenek tua itu," jelas Zein. "Kamu ikut latihan olah napas, Wan?" tanya Bilal. "Ya, Bang," jawab Nirwan. "Sudah lama?" "Baru dua bulanan. Itu pun karena diajakin Kang Izra. Dia bilang, auraku kuat. Lebih bagus lagi diarahkan ke ilmu kebatinan." "Aku ingat Izra

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status