Share

Bab 4

Author: Vodka
Baru setelah suara deru mobil tersebut benar-benar menghilang, mereka bertiga akhirnya kembali ke akal sehatnya.

Ambar menelan ludah dengan marah. “Karina, menurutmu manusia nggak berguna … Bagaimana Yoga bisa menyalakan mobil mewah itu? Dia nggak mungkin pemilik LaFellalio, Raja Agoy yang Perkasa itu, ‘kan?”

Pada saat ini, yang terpikir di benak Ambar hanya satu hal saja.

Jika Yoga benar-benar Raja Agoy yang Perkasa, tanpa keraguan sedikit pun, dia pasti akan menyuruh putrinya untuk rujuk kembali dengan Yoga.

Sekalipun Ambar harus bersujud dan meminta maaf kepada Yoga, semua itu tidak masalah baginya.

Apa kalian bercanda? Yoga adalah Dewa Kekayaan. Bagaimana mungkin melepaskannya begitu saja?

Perasaan Karina campur aduk tidak karuan. “Aku … aku nggak tahu.”

Jika Yoga benar-benar Raja Agoy yang Perkasa, takdir betul-betul sudah mempermainkannya.

Karina begitu mengagumi Raja Agoy yang Perkasa sepanjang waktu. Dia memimpikan bisa bertemu dengan Raja Agoy yang Perkasa.

Namun, Raja Agoy yang Perkasa ternyata adalah orang yang dekat dengan Karina. Bahkan, mereka juga tinggal di bawah satu atap.

Benar-benar lelucon yang paling konyol di dunia.

Reza tidak bisa menerimanya. Dia mencoba membela diri dengan berkata, “Bibi, Karina, jangan sampai kalian tertipu sama Yoga. Yoga itu orang yang nggak berguna. Dia bahkan nggak pantas untuk menjilat sepatu Raja Agoy yang Perkasa. Pasti ada kesalahpahaman di sini. Kalian tenang saja. Aku pasti akan menyelidiki masalah ini sampai tuntas.”

Karina dan ibunya mengangguk. Mereka pura-pura setuju. Namun, dalam hati mereka berpikiran lain.

Di sisi lain, Yoga mengemudikan mobilnya dengan begitu cepat. Dalam sekejap saja, dia sudah sampai di Grup Magani.

Gedung perkantoran Grup Magani sangat megah. Bangunannya memadukan elemen timur dan barat. Gedung tersebut menjadi tenggara di kota ini.

“Permisi, Anda ingin mencari siapa?” tanya resepsionis.

“Aku mencari Nadya Wibowo. Bu Nadya,” jawab Yoga.

“Silakan Anda belok kanan, lalu naik ke lantai paling atas menuju kantor presdir,” ujar resepsionis.

“Terima kasih.”

Yoga masuk ke dalam lift.

Resepsionis tersebut bergumam dengan suara pelan, “Bu Nadya benar-benar aneh. Hanya masalah merekrut sopir saja, perlukah mewawancarainya sendiri?”

Resepsionis tersebut mengira jika Yoga adalah orang yang sedang melamar pekerjaan sebagai sopir.

Petugas keamanan di sampingnya menjelaskan, “Aku dengar Bu Nadya sedang merekrut sopir untuk Raja Agoy yang Perkasa. Tentu saja, dia harus mewawancarainya sendiri.”

Resepsionis itu pun memahaminya.

Dalam sekejap, Yoga sudah sampai di lantai paling atas, di kantor presdir.

Dia mengetuk pintu. Dari balik pintu terdengar suara wanita yang lembut dan merdu, “Masuklah.”

Yoga mendorong pintu dan masuk ke dalam. Sesosok wanita yang begitu cantik memesona langsung muncul di depan matanya.

Tinggi wanita itu kira-kira 178 cm. Tubuhnya ramping dan proporsional. Sepatu hak tinggi berwarna hitam, dipadukan dengan rok ketat yang panjangnya hanya menutupi pantatnya saja, membuat kakinya yang ramping dan indah itu terlihat sepenuhnya.

Di bagian atas, wanita tersebut mengenakan setelan jas kecil yang pas di badan, yang tidak bisa menyembunyikan payudaranya yang membusung. Lengan bajunya sedikit tersingkap dan memperlihatkan jam tangan Charlotte yang dikenakannya. Dia benar-benar seorang wanita dewasa yang anggun.

Wanita itu hampir sesuai dengan fantasi para pria mengenai sosok wanita idaman.

Sekuat-kuatnya pertahanan diri Yoga, tetap saja dia tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa sedikit berdebar.

“Halo,” sapa Yoga.

Baru pada saat itulah Nadya mengalihkan pandangannya dari komputer ke Yoga.

Dia hanya melirik Yoga dengan acuh tak acuh dan berkata, “Kamu bisa pergi sekarang.”

Hmm?

Yoga merasa agak bingung. “Kenapa?”

Aku ini bosmu. Kamu ingin mengusir bosmu sendiri?

“Menurutmu, apa aku akan mempekerjakan orang yang nggak terawat sebagai sopir pribadi?” tanya Nadya.

Sopir? Sopir apa?

Baru kemudian Yoga menyadari jika Nadya sudah salah paham.

Namun, baru saja ingin menjelaskan, seorang sekretaris yang masih muda bergegas masuk ke dalam dengan napas tersengal-sengal. “Bu Nadya, ada masalah penting.”

Nadya tetap bersikap tenang. “Apa yang terjadi?”

“Terjadi kecelakaan dalam uji klinis Pil Penawar Kukila Emas. Subjek uji coba tiba-tiba menjadi syok dan mengalami koma. Nyawanya berada dalam bahaya,” jawab sekretaris tersebut.

“Apa?” Nadya langsung berdiri dengan gugup. “Ayo cepat kita ke sana!”

Mereka berdua buru-buru pergi dan mengabaikan Yoga.

Yoga juga tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening.

Pil Penawar Kukila Emas adalah obat baru yang dikembangkan Yoga di perusahaan farmasi Kota Hansa, di luar negeri. Saat ini, pil tersebut sedang dalam tahap uji klinis.

Grup Magani juga merupakan salah satu tempat dilakukannya uji klinis pada Pil Penawar Kukila Emas.

Hasil uji coba Pil Penawar Kukila Emas di luar negeri hampir mendekati sempurna. Kenapa bisa terjadi masalah di Daruna?

Yoga buru-buru mengikuti mereka. Dia ingin mengetahui situasi masalah tersebut secara mendetail.

Laboratorium klinis dalam keadaan kacau balau.

Subjek uji coba, yang merupakan seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun, sudah sejak tadi mengalami syok dan tidak sadarkan diri. Sudut mulutnya tampak berbusa.

Ibu bocah laki-laki itu memeluk anaknya dan menangis sejadi-jadinya. Dia begitu berduka.

Ayah dari bocah laki-laki itu mengenakan setelan jas dan sepatu kulit. Penampilannya elegan. Dia tampak seperti orang yang terhormat.

Pria itu terlihat seperti seekor macan tutul yang sedang marah. Wajahnya pucat pasi. “Profesor Hendra, apa yang terjadi pada anakku? Jelaskan padaku. Kalau terjadi sesuatu pada anakku, aku akan membunuh kalian semua!”

Profesor Hendra yang berkacamata itu menarik napas dalam-dalam dan berpura-pura bersikap tenang. “Jangan khawatir, Pak Danu. Saya sudah meminta asisten saya untuk menyiapkan penawarnya. Saya yakin, penawar itu bisa menyembuhkannya.”

Pada saat yang bersamaan, Nadya tiba di tempat dan bertanya dengan cemas, “Apa yang terjadi, Profesor Hendra?”

Profesor Hendra adalah tokoh terkemuka di bidang obat-obatan di Negara Daruna. Dia dikenal dengan julukan, ‘Profesor Hendra di Selatan dan Profesor Adnan di Utara’. Nadya menghabiskan banyak uang untuk mempekerjakan Profesor Hendra. Dia bertanggung jawab atas uji klinis Pil Penawar Kukila Emas.

“Pada awal uji klinis, semuanya berjalan normal. Semua indikator di tubuh subjek menunjukkan peningkatan. Tapi, selang setengah jam kemudian, kondisi subjek tiba-tiba memburuk. Sekujur tubuhnya kejang-kejang dan keluar buih dari mulutnya. Dalam sekejap, dia mengalami syok dan kehilangan kesadaran,” jelas Profesor Hendra.

“Apa penyebabnya sudah diketahui?” tanya Nadya.

“Untuk sementara, penyebabnya masih belum jelas. Tapi, jelas terlihat kalau subjek mengalami gejala keracunan pada hati. Aku sudah menyuruh asistenku untuk menyiapkan penawarnya,” kata Profesor Hendra.

“Bagus!” Nadya berjalan menghampiri ibu dari bocah laki-laki tersebut. Dia menepuk pundak wanita itu untuk menenangkannya. “Jangan khawatir, Bu Danu. Kami pasti nggak akan …”

“Pergi dari sini!” Bu Danu memaki dengan keras dan menepis lengan Nadya, “Dengarkan aku, Nadya. Kalau terjadi sesuatu pada anakku, aku akan membunuh kalian semua!”

Nadya ketakutan mendengarnya.

Kata-kata tersebut bukan hanya sekadar ancaman belaka.

Ayah dari bocah laki-laki tersebut adalah Kepala Biro Kesehatan Kota Pawana. Kakek dan kakek buyut bocah itu bahkan memiliki jabatan di Departemen Kesehatan provinsi. Mereka memiliki pengaruh yang besar.

Satu kalimat saja dari mereka, benar-benar bisa membuat Nadya dan yang lainnya berada dalam kesulitan dan tidak ada jalan keluar.

“Obat penawarnya sudah siap.” Asisten Profesor Hendra menghampiri mereka sambil berlari-lari kecil. “Profesor Hendra, saya sudah menyiapkan obat penawarnya sesuai resep Anda.”

Nadya buru-buru berkata, “Cepat, cepat berikan obatnya pada pasien!”

Profesor Hendra menerima obat penawar tersebut dan bersiap memberikannya sendiri kepada pasien.

Pada saat itulah, terdengar suara yang asing. “Caramu mengobati penyakit ini salah. Aku sarankan padamu agar nggak memberikan obat itu pada pasien.”

Semuanya tercengang dan melihat ke arah suara tersebut.

Setelah menyadari jika wajah itu tidak mereka kenal, semua orang langsung menjadi bingung. Siapa dia? Kenapa dia ada di sini?

“Siapa kamu? Apa maksud ucapanmu tadi?” tanya Profesor Hendra dengan acuh tak acuh.

Wajah Nadya juga menjadi muram.

Dia tidak menyangka jika Yoga akan mengikutinya ke tempat ini. Nadya bahkan tidak menyangka jika Yoga berani membuat masalah.

Namun, sekarang jelas bukan waktu yang tepat untuk membuat perhitungan dengan Yoga.

“Nggak usah memedulikannya, Profesor Hendra. Berikan saja obat itu pada pasien,” kata Nadya. “Dia hanya datang kemari untuk melamar kerja sebagai sopir. Tapi, wawancaranya gagal. Nak, keluar sekarang juga! Atau aku akan menuntutmu secara hukum!”

Semua orang tercengang. Seorang sopir muda yang tidak diterima, tanpa diduga memberi arahan pada Profesor Hendra, yang merupakan ahli medis dan obat-obatan terkenal. Berani sekali dia melakukannya.

Profesor Hendra menatap tajam pada Yoga dan memakinya, “Dasar psikopat!”. Kemudian, dia memberikan obat itu kepada pasien.

Melihat si pasien meminum obat tersebut, Yoga menggelengkan kepalanya dan menghela napas.

Ayah dari bocah laki-laki itu, Danu Wirawan, khawatir jika Yoga kembali membuat masalah. Itu sebabnya, dia memperingatkan Yoga dengan tegas, “Anak muda, aku sarankan agar kamu pergi sekarang juga! Kalau kamu mengganggu pengobatan anakku, aku nggak akan pernah mengampunimu …”

Yoga tidak menghiraukannya dan malah menghitung mundur, “Sepuluh, sembilan, delapan …”

Semua orang bingung melihat perbuatannya yang aneh tersebut.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 5

    Nadya akhirnya tidak tahan lagi. Dia berteriak dengan suara pelan, “Petugas keamanan, usir orang gila ini keluar!”“Baik.” Dua petugas keamanan berjalan mendekat dan ingin mengusir Yoga keluar.Sebelum mereka bisa melakukannya, Yoga sudah menghitung sampai angka ‘satu’.Begitu kata ‘satu’ terucap, tiba-tiba saja terjadi perubahan yang aneh.Bocah laki-laki itu membuka mulutnya dan memuntahkan darah kotor. Pada saat yang bersamaan, tubuhnya juga kejang-kejang dan mulutnya berbusa. Napasnya tersengal-sengal dan wajahnya menjadi pucat pasi.Adegan yang terjadi secara tiba-tiba itu, langsung membuat ibu si bocah laki-laki menangis. “Kamu kenapa, Nak? Jangan menakuti Ibu?”Danu sendiri juga takut dan bingung. “Profesor Hendra, apa yang terjadi? Ini … ini gejala normal, ‘kan? Tolong jelaskan padaku.”Profesor Hendra buru-buru memeriksa bocah tersebut. “Jangan khawatir, Pak Danu …”Setelah selesai memeriksa, Profesor Hendra menjadi pucat pasi. “Bagaimana ini bisa terjadi? Seharusnya ini nggak

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 6

    Setelah sepuluh detik yang menyiksa. Baru saja Yoga mengucapkan kata ‘satu’, pasien yang awalnya kehilangan vitalitas, tiba-tiba saja bangun dalam posisi setengah duduk. Kemudian, dia membuka mulutnya dan mengeluarkan banyak dahak kental.“Huaaaaa …” Tangisan anak itu bergema di laboratorium untuk waktu yang lama. Suaranya jelas, nyaring, dan bertenaga.Hidup!Benar-benar hidup!Terjadi keajaiban.Momen ini membuat semua orang bersemangat dan menjadi gembira.Ibu bocah laki-laki itu langsung menerjang dan memeluk anaknya sambil menangis, “Kamu sudah membuat Ibu takut setengah mati, Nak …”Danu juga merasa begitu emosional, hingga tidak bisa menahan diri. Dia menggenggam tangan Yoga dan berkata dengan suara tercekat, “Tuan Penolong, kamu adalah penyelamat keluarga Wirawan. Keluarga Wirawan berutang nyawa padamu. Aku … aku … bagaimana aku harus berterima kasih padamu?”Yoga menarik kembali tangannya. “Hanya masalah kecil.”Danu cepat-cepat mengeluarkan kartu namanya dan menyerahkannya ke

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 7

    Gatot menatap Yoga dengan tajam. “Hmph, anggap saja kamu sedang beruntung, Nak.”Pada saat yang bersamaan, ponsel Gatot berdering. Dia menjawab telepon tersebut. “Halo, Kak Bondan. Aku sudah sampai di perusahaan dan akan segera melakukan wawancara. Apa? Ada yang lebih dulu melamar sebagai sopir dan berhasil? Siapa? Yoga Kusuma? Si*lan, jangan-jangan Yoga si manusia tidak berguna itu?”Setelah menutup teleponnya, Bondan berlari beberapa langkah dan menghentikan Yoga. “Yoga, apa kamu datang kemari untuk ikut wawancara sebagai sopir?”Yoga menganggukkan kepalanya.Amarah Gatot langsung meledak. “Si*lan, berani-beraninya kamu merebut pekerjaanku. Nyalimu besar sekali! Undurkan diri sekarang juga. Serahkan pekerjaannya padaku. Kalau nggak, kamu akan menyesal.”Tika juga marah besar. “Dasar ber*ngsek! Apa kamu tahu, berapa banyak yang sudah kami lakukan untuk mendapatkan kesempatan kerja ini? Kamu sudah merusak rencana kami. Aku perintahkan padamu untuk segera berhenti kerja. Sekarang juga!”

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 8

    Nguunngg!Otak Karina langsung meledak.Ternyata Grup Magani benar-benar memasukkannya ke dalam daftar hitam.Entah berapa banyak usaha yang sudah dilakukannya, berapa banyak orang yang dihubunginya, dan berapa banyak koneksi yang dijalinnya untuk membangun hubungan kerja sama dengan Grup Magani.Sekarang, semua usaha dan pengorbanan yang dilakukan Karina tersebut sia-sia, hanya karena kata-kata yang diucapkan oleh Yoga.Yang paling penting, besok akan diadakan acara makan malam untuk menyambut Raja Agoy yang Perkasa. Grup Magani akan memilih tamu di antara para mitranya untuk menghadiri acara makan malam tersebut.Sekarang, Karina juga kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Raja Agoy yang Perkasa.Praktis, Yoga sudah menghancurkan hidup Karina.Karina tidak bisa menerima pukulan seperti itu. Dia langsung jatuh lemas.Setelah itu, dari pagi hingga matahari terbenam, Karina berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosong. Dia tidak mau makan, minum, dan bicara.Karina benar-benar ti

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 9

    Orang yang kalian sanjung dan puji itu, tidak lebih dari sekadar cecunguk di mataku.Selain itu, ‘orang penting lainnya’ yang kamu maksud adalah aku.“Terima kasih atas niat baikmu. Tapi, aku nggak pantas menerimanya. Seseorang mengundangku makan malam. Aku pergi dulu.” Yoga melangkah pergi.“Kamu …” Karina berkata dengan kesal. “Apa kamu akan terus menjadi sopir seumur hidup? Kamu nggak bisa jadi sukses, karena kamu nggak punya kemampuan!”Karina merasa sangat kecewa pada Yoga. Yoga, Yoga … kalau saja kamu sedikit saja seperti Reza, punya sedikit ambisi. Aku pasti nggak akan pernah menceraikanmu.Melihat Yoga pergi, Gatot merasa tidak tahan lagi. “Yoga, berhenti di situ! Apa aku mengizinkanmu untuk pergi?”Reza buru-buru menghalangi Gatot, “Biarkan saja dia pergi, Gatot. Nanti, kita adukan dia depan tiga orang penting itu. Aku jamin dia nggak akan punya tempat lagi di Kota Pawana ini.”Gatot langsung mengangguk setuju. “Kak Reza memang benar. Hmph, bukankah Yoga hanya mengandalkan sta

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 10

    Mereka bertiga tercengang. Pak Iwan mengira jika dirinya sudah salah mengerti. “Yoga, maksudmu kamu menyuruhku untuk minum?”Yoga menganggukkan kepalanya. “Harus minum tiga kali sehari. Nggak boleh kurang satu gelas pun.”Mitha langsung menjadi cemas. “Yoga, aku rasa kamu jelas-jelas nggak bermaksud baik. Dengan kondisi fisik kakekku, segelas alkohol saja mungkin bisa … apa yang sebenarnya kamu inginkan?”“Resep yang kuberikan seperti ini. Kalau nggak percaya, nggak perlu meminumnya,” kata Yoga.“Aku percaya!” Pak Iwan mengambil gelas anggurnya dan langsung meminumnya sekaligus. Mitha tidak kuasa untuk menghentikannya, meski dia sebenarnya ingin melakukannya.Mitha tercengang dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia berkata, “Kek, Kakek … Kakek sedang kacau. Begitu banyak dokter terkenal yang menyuruh Kakek untuk nggak minum alkohol, tapi Kakek malah melupakannya. Cepat, cepat telepon ambulans! Pergi ke rumah sakit dan pompa perutnya.”Mitha mengeluarkan ponselnya dengan gugup dan ingin m

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 11

    “Baik, Baik.”Reza menguatkan diri untuk berjalan menghampiri Yoga dan menuangkan segelas penuh anggur untuknya. “Pak … Yoga, aku … aku akan bersulang tiga gelas anggur untuk menghormatimu.”Yoga bahkan sama sekali tidak melihat ke arah Reza. “Aku nggak minum.”Reza merasa malu dan tidak enak hati. “Kalau … kalau begitu, aku akan minum tiga gelas ini sendiri. Anggap saja aku melakukannya untuk menghormati Pak Yoga.”Reza menenggak tiga gelas berturut-turut. Kemudian, dia kembali bersulang untuk Danu dan Pak Iwan.Selanjutnya giliran Karina.Karina merasa otaknya kacau. Dia berjalan menghampiri Yoga. Beberapa kali dia mencoba mengatakan sesuatu, tetapi merasa ragu.Karina bahkan tidak berani menatap Yoga.Setelah beberapa saat, akhirnya Karina berkata dengan suara pelan, “Pak … Yoga, aku … aku bersulang tiga gelas anggur untukmu.”Oh!Yoga menghela napas.Dia selalu merasa tidak tega melihat Karina berada dalam kesulitan.Siapa yang sudah membuat Karina menemani dirinya melalui masa-mas

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 12

    “Nggak mau menyerah? Ayo pukul aku!” kata Bondan dengan sombong. “Kita lihat siapa yang pukulannya lebih keras.”“Oke.” Yoga melepas jaketnya. “Aku akan memenuhi keinginanmu.”Mereka berdua siap untuk berkelahi.“Berhenti!” Pada saat yang kritis seperti itu, terdengar suara Nadya. Dia buru-buru datang mendekat. Melihat keadaan Yoga yang berantakan, Nadya pun mengerutkan kening. “Apa yang terjadi?”“Nggak ada apa-apa.” Bondan tersenyum dan berkata. “Adik pegawai baru ini nggak sengaja menumpahkan sendiri sarapannya. Aku hanya membantunya bersih-bersih.”“Oh.” Nadya menganggukkan kepalanya sambil berpikir. “Lain kali hati-hati.”Yoga menghela napas. Nadya jelas-jelas melihat jika Bondan sengaja mencari gara-gara. Namun, dia masih pura-pura tidak tahu.Bagaimana bisa seorang presdir yang terhormat takut pada karyawannya sendiri seperti ini?Sudahlah, siapa suruh aku menerima gaji darimu? Hari ini, aku akan membantumu memberi pelajaran pada karyawanmu ini.Yoga pun menampar wajah Bondan de

Latest chapter

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1305

    Yoga merasa sangat puas. Setelah itu, dia berbalik dan meninggalkan tempat tersebut. Tak lama kemudian, dia menemui Sutrisno dan memintanya untuk mengatur penjemputan Ayu serta yang lainnya.Sebagai salah satu dari empat keluarga besar, Keluarga Salim seharusnya tidak kesulitan untuk menjemput orang dari dunia bela diri kuno. Apalagi, para penjaga gerbang yang sebelumnya menghalangi jalan telah dibunuh oleh Yoga. Kini, tak ada lagi yang berani menghalangi jalannya.Yang lebih penting adalah pertempuran hari ini telah mengguncang seluruh dunia kultivator kuno. Nama Yoga langsung menyebar luas. Semua orang tak henti-hentinya membicarakan betapa kuatnya dia.Keluarga Husin dan Keluarga Kusuma benar-benar tercengang saat mendengar hasil pertempuran. Entah bagaimana memikirkannya, tidak ada yang menyangka bahwa Yoga mampu menekan empat kultivator raja sekaligus seorang diri.Dalam sekejap, banyak orang gelisah dan ketakutan. Mereka mulai berpikir, apakah mereka pernah menyinggung Yoga sebel

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1304

    "Dia ... berhasil menahannya?" Leluhur dari Keluarga Kusuma dan Keluarga Husin luar biasa terkejut. Jantung mereka berdebar kencang, bahkan sulit untuk menyembunyikan rasa gugup.Mereka sama-sama berada di tingkat kultivator raja, tetapi kenapa pemuda ini bisa sekuat itu? Ini sungguh di luar nalar"Barang bagus." Tepat pada saat itu, Yoga mengerahkan energi sejatinya dan menyelimuti dua harta pusaka yang sebelumnya digunakan lawan.Pada saat yang sama, petir dari langit tiba-tiba menyambar turun. Dalam sekejap, sambaran petir itu langsung memutuskan hubungan antara dua harta pusaka itu dengan pemiliknya."Pfft!" Dua kultivator raja itu muntah darah di tempat. Energi mereka terguncang hebat. Mereka bahkan nyaris kehilangan keseimbangan. Serangan balik dari harta pusaka itu menghantam mereka keras. Sungguh mengerikan."Mana mungkin begini? Bahkan, Jam Penciptaan pun nggak bisa menghadapinya? Dia ini ... sebenarnya berada di tingkat apa?""Seorang kultivator raja sekuat ini? Ini nggak mas

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1303

    "Matilah!" Empat kultivator raja mengerahkan senjata ajaib mereka dan langsung melancarkan serangan.Dalam sekejap, langit seakan-akan runtuh. Bumi bergetar dan suasana menjadi mengerikan. Udara di sekitar dipenuhi dengan tekanan yang menyesakkan.Meskipun orang-orang di sekitar berdiri cukup jauh, mereka tetap bisa merasakan perubahan ini dengan jelas. Tatapan mereka penuh keterkejutan. Mereka hanya bisa terpaku menyaksikan pertempuran yang belum pernah mereka lihat seumur hidup."Meskipun Yoga berbakat luar biasa, dia pasti nggak punya harapan untuk bertahan hidup kali ini!" Begitulah yang ada di benak semua orang. Mereka hanya bisa menghela napas dalam hati.Hanya saja pada saat ini, terdengar suara keras. Tiba-tiba, kilatan petir muncul dan menyelimuti tubuh Yoga. Cahaya petir itu berkilauan luar biasa dan terlihat seperti zirah yang menyala dengan sinar terang."Ini ... apa sebenarnya yang terjadi?""Petir bisa digunakan seperti ini? Mustahil!""Apa yang dia latih? Kenapa kekuatan

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1302

    "Ternyata kamu seorang kultivator raja juga?" tanya keempat kultivator raja itu dengan ekspresi yang berubah dan tatapan yang aneh. Dengan kekuatan yang begitu luar biasa, Yoga sudah bisa berjalan dengan bebas di dunia kultivator kuno. Apalagi orang ini memiliki hubungan darah dengan mereka, ini adalah sebuah kesempatan yang langka bagi keluarga mereka."Bukankah kalian ingin membunuhku? Ayo maju," teriak Yoga dengan petir yang menyambar-nyambar dan aura yang kuat memenuhi ruangan itu."Yoga, kamu adalah keturunan dai Keluarga Kusuma. Kalau sekarang kamu berlutut untuk minta maaf dan menyerah, aku akan menerimamu kembali ke Keluarga Kusuma," kata salah satu kultivator raja Keluarga Kusuma dengan dingin."Ibumu adalah anggota Keluarga Husin. Asalkan kamu bersedia mengabdi pada Keluarga Husin, aku akan menerimamu dan ibumu kembali ke Keluarga Husin," teriak salah satu kultivator raja Keluarga Husin dengan lantang.Saat ini, kedua keluarga itu sudah bisa melihat kekuatan Yoga, mereka tent

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1301

    Yoga memegang kepala Samsul dan Timothy dengan kedua tangannya, lalu menghantamkannya ke lantai dengan keras.Bang!Samsul dan Timothy tergeletak di lantai dengan tubuh yang berlumuran darah dan tulang patah. Mereka memang masih hidup, tetapi hanya bisa bernapas saja. Mereka menatap Yoga dengan tatapan yang terkejut dan tidak percaya karena mereka benar-benar tidak menyangka Yoga akan begitu kuat. Hanya dalam beberapa saat saja, Yoga sudah berhasil mengalahkan mereka."Kalian masih belum cukup layak melawanku," kata Yoga dengan nada dan tatapan yang dingin. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan-lahan berbalik dan pergi.Saat sudah berada di luar pintu, Yoga melihat ke sekeliling yang sudah dipenuhi dengan orang-orang. Sebagian orang itu berasal dari Keluarga Kusuma dan Keluarga Husin, sedangkan sisanya adalah orang yang datang ke sana untuk menyaksikan pertempuran itu."Karena kalian sudah datang, keluarlah," teriak Yoga dengan lantang.Kerumunan orang itu langsung tertegun seje

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1300

    "Omong kosong. Sejak kapan kami bersekongkol dengan manusia hantu? Selain itu, kamu bilang dia ini Yoga?" tanya Samsul dengan ekspresi terkejut dan menatap Yoga dengan bengong.Suasana hati orang-orang dari Keluarga Kusuma menjadi rumit dan tatapan mereka menjadi makin tajam. Bagaimanapun juga, Yoga adalah sosok yang sudah membuat Keluarga Kusuma di dunia bela diri kuno rugi besar. Namun, sekarang orang ini ternyata berdiri di depan mereka dalam keadaan hidup."Huh! Nggak perlu banyak omong kosong. Serahkan Yoga atau kalian akan menjadi musuh Keluarga Husin," teriak Timothy dengan dingin."Kamu berani mengancamku? Keluarga Husin ternyata makin berani," kata Samsul dengan ekspresi dingin dan menggertakkan giginya. Sebagai sesama salah satu dari empat keluarga besar, dia tidak menerima Keluarga Husin berani mengancam Keluarga Kusuma.Saat ini, ekspresi semua orang yang berada di sana terlihat tegang dan suasana itu terasa makin panas.Tepat pada saat itu, Yoga kembali berulah dan berkata

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1299

    "Apa?" Semua orang yang berada di tempat itu terkejut dan ekspresi mereka terlihat sangat muram."Siapa mereka?" tanya Samsul dengan nada dingin."Mereka ... adalah orang-orang dari Keluarga Husin," jawab bawahan itu.Dalam sekejap, ekspresi semua orang menjadi muram. Mereka saling memandang dengan mengernyitkan alis karena merasa gelisah."Ini .... Kamu orang dari Keluarga Husin ya?" tanya Samsul yang tiba-tiba menoleh dan menatap Yoga dengan mata yang bersinar.Pada saat itu, Yoga baru perlahan-lahan berdiri dengan ekspresi bangga, lalu tersenyum dingin dan berkata dengan tenang, "Aku rasa aku nggak perlu menyembunyikan identitasku lagi, aku adalah Olga Husin.""Dasar bajingan! Jadi kamu ini orang dari Keluarga Husin, ternyata semua ini adalah konspirasi dari Keluarga Husin," teriak Samsul dengan marah."Benar. Sekarang kalian sudah tahu pun nggak ada gunanya lagi, nggak ada yang bisa menyelamatkan kalian. Bersiaplah untuk mati," teriak Yoga dengan lantang dan aura yang menekan.Kata

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1298

    Di bawah arahan pemimpin pengawal itu, Yoga dibawa ke sebuah tempat yang terbuka. Sudah ada tiga puluhan ahli yang berdiri tegak di sana dan menatap Yoga dengan ekspresi serius. Sementara itu, seorang paruh baya sedang duduk di kursi dan menunggu dengan tenang."Aku Samsul dari Keluarga Kusuma. Kamu orang dari Rumah Lelang Diseto yang menjual besi hitam?" tanya Samsul sambil mengamati Yoga dari atas ke bawah dengan tatapan yang tajam karena dia merasa ada yang tidak beres dengan pria yang seluruh tubuhnya tertutup ini. Aura di tubuh pria ini tidak terasa seperti orang tua, melainkan seorang pemuda.Sementara itu, tatapan Samsul yang tajam membuat Yoga merasa tidak nyaman.Yoga menjawab, "Benar, aku orangnya."Samsul berkata, "Barang yang kamu inginkan sudah siap. Kalau sudah setuju, kita bisa mulai bertransaksi sekarang."Yoga berkata, "Baiklah, tapi aku harus memeriksa barangnya dulu."Samsul pun menganggukkan kepala sebagai isyarat pada bawahannya.Tak lama kemudian, anggota Keluarga

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1297

    Yoga berdiri tegak dengan aura penuh wibawa. Ekspresinya serius saat berbicara demikian. Kata-katanya langsung membuat Sutrisno tertegun.Ini ... ini pasti hanya bercanda, 'kan? Sutrisno bahkan merasa seperti sedang berkhayal. Seandainya orang lain yang mengatakan hal itu, dia pasti sudah marah. Namun sayangnya, orang yang mengatakannya adalah Yoga.Dalam suasana tegang ini, sebuah suara jernih tiba-tiba terdengar. "Kalau begitu, aku besok bisa melakukan apa?" Suara itu berasal dari seorang wanita yang melangkah masuk dari pintu. Sosoknya anggun dan menawan. Itu adalah Winola.Sutrisno langsung tersentak. Matanya membelalak tak percaya ketika bertanya, "Kamu ... sudah dengar semuanya?""Ya." Winola tidak berniat menyangkalnya. Dia pun mengangguk ringan. Dia telah mendengar cukup banyak, bahkan bisa menebak bahwa Yoga pasti sedang merencanakan sesuatu untuk besok.Terutama saat mendengar rencana Yoga untuk mengguncang dunia kultivator kuno. Di dalam hatinya, semangatnya menggebu-gebu. D

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status