Share

Bab 4

Penulis: Vodka
Baru setelah suara deru mobil tersebut benar-benar menghilang, mereka bertiga akhirnya kembali ke akal sehatnya.

Ambar menelan ludah dengan marah. “Karina, menurutmu manusia nggak berguna … Bagaimana Yoga bisa menyalakan mobil mewah itu? Dia nggak mungkin pemilik LaFellalio, Raja Agoy yang Perkasa itu, ‘kan?”

Pada saat ini, yang terpikir di benak Ambar hanya satu hal saja.

Jika Yoga benar-benar Raja Agoy yang Perkasa, tanpa keraguan sedikit pun, dia pasti akan menyuruh putrinya untuk rujuk kembali dengan Yoga.

Sekalipun Ambar harus bersujud dan meminta maaf kepada Yoga, semua itu tidak masalah baginya.

Apa kalian bercanda? Yoga adalah Dewa Kekayaan. Bagaimana mungkin melepaskannya begitu saja?

Perasaan Karina campur aduk tidak karuan. “Aku … aku nggak tahu.”

Jika Yoga benar-benar Raja Agoy yang Perkasa, takdir betul-betul sudah mempermainkannya.

Karina begitu mengagumi Raja Agoy yang Perkasa sepanjang waktu. Dia memimpikan bisa bertemu dengan Raja Agoy yang Perkasa.

Namun, Raja Agoy yang Perkasa ternyata adalah orang yang dekat dengan Karina. Bahkan, mereka juga tinggal di bawah satu atap.

Benar-benar lelucon yang paling konyol di dunia.

Reza tidak bisa menerimanya. Dia mencoba membela diri dengan berkata, “Bibi, Karina, jangan sampai kalian tertipu sama Yoga. Yoga itu orang yang nggak berguna. Dia bahkan nggak pantas untuk menjilat sepatu Raja Agoy yang Perkasa. Pasti ada kesalahpahaman di sini. Kalian tenang saja. Aku pasti akan menyelidiki masalah ini sampai tuntas.”

Karina dan ibunya mengangguk. Mereka pura-pura setuju. Namun, dalam hati mereka berpikiran lain.

Di sisi lain, Yoga mengemudikan mobilnya dengan begitu cepat. Dalam sekejap saja, dia sudah sampai di Grup Magani.

Gedung perkantoran Grup Magani sangat megah. Bangunannya memadukan elemen timur dan barat. Gedung tersebut menjadi tenggara di kota ini.

“Permisi, Anda ingin mencari siapa?” tanya resepsionis.

“Aku mencari Nadya Wibowo. Bu Nadya,” jawab Yoga.

“Silakan Anda belok kanan, lalu naik ke lantai paling atas menuju kantor presdir,” ujar resepsionis.

“Terima kasih.”

Yoga masuk ke dalam lift.

Resepsionis tersebut bergumam dengan suara pelan, “Bu Nadya benar-benar aneh. Hanya masalah merekrut sopir saja, perlukah mewawancarainya sendiri?”

Resepsionis tersebut mengira jika Yoga adalah orang yang sedang melamar pekerjaan sebagai sopir.

Petugas keamanan di sampingnya menjelaskan, “Aku dengar Bu Nadya sedang merekrut sopir untuk Raja Agoy yang Perkasa. Tentu saja, dia harus mewawancarainya sendiri.”

Resepsionis itu pun memahaminya.

Dalam sekejap, Yoga sudah sampai di lantai paling atas, di kantor presdir.

Dia mengetuk pintu. Dari balik pintu terdengar suara wanita yang lembut dan merdu, “Masuklah.”

Yoga mendorong pintu dan masuk ke dalam. Sesosok wanita yang begitu cantik memesona langsung muncul di depan matanya.

Tinggi wanita itu kira-kira 178 cm. Tubuhnya ramping dan proporsional. Sepatu hak tinggi berwarna hitam, dipadukan dengan rok ketat yang panjangnya hanya menutupi pantatnya saja, membuat kakinya yang ramping dan indah itu terlihat sepenuhnya.

Di bagian atas, wanita tersebut mengenakan setelan jas kecil yang pas di badan, yang tidak bisa menyembunyikan payudaranya yang membusung. Lengan bajunya sedikit tersingkap dan memperlihatkan jam tangan Charlotte yang dikenakannya. Dia benar-benar seorang wanita dewasa yang anggun.

Wanita itu hampir sesuai dengan fantasi para pria mengenai sosok wanita idaman.

Sekuat-kuatnya pertahanan diri Yoga, tetap saja dia tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa sedikit berdebar.

“Halo,” sapa Yoga.

Baru pada saat itulah Nadya mengalihkan pandangannya dari komputer ke Yoga.

Dia hanya melirik Yoga dengan acuh tak acuh dan berkata, “Kamu bisa pergi sekarang.”

Hmm?

Yoga merasa agak bingung. “Kenapa?”

Aku ini bosmu. Kamu ingin mengusir bosmu sendiri?

“Menurutmu, apa aku akan mempekerjakan orang yang nggak terawat sebagai sopir pribadi?” tanya Nadya.

Sopir? Sopir apa?

Baru kemudian Yoga menyadari jika Nadya sudah salah paham.

Namun, baru saja ingin menjelaskan, seorang sekretaris yang masih muda bergegas masuk ke dalam dengan napas tersengal-sengal. “Bu Nadya, ada masalah penting.”

Nadya tetap bersikap tenang. “Apa yang terjadi?”

“Terjadi kecelakaan dalam uji klinis Pil Penawar Kukila Emas. Subjek uji coba tiba-tiba menjadi syok dan mengalami koma. Nyawanya berada dalam bahaya,” jawab sekretaris tersebut.

“Apa?” Nadya langsung berdiri dengan gugup. “Ayo cepat kita ke sana!”

Mereka berdua buru-buru pergi dan mengabaikan Yoga.

Yoga juga tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening.

Pil Penawar Kukila Emas adalah obat baru yang dikembangkan Yoga di perusahaan farmasi Kota Hansa, di luar negeri. Saat ini, pil tersebut sedang dalam tahap uji klinis.

Grup Magani juga merupakan salah satu tempat dilakukannya uji klinis pada Pil Penawar Kukila Emas.

Hasil uji coba Pil Penawar Kukila Emas di luar negeri hampir mendekati sempurna. Kenapa bisa terjadi masalah di Daruna?

Yoga buru-buru mengikuti mereka. Dia ingin mengetahui situasi masalah tersebut secara mendetail.

Laboratorium klinis dalam keadaan kacau balau.

Subjek uji coba, yang merupakan seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun, sudah sejak tadi mengalami syok dan tidak sadarkan diri. Sudut mulutnya tampak berbusa.

Ibu bocah laki-laki itu memeluk anaknya dan menangis sejadi-jadinya. Dia begitu berduka.

Ayah dari bocah laki-laki itu mengenakan setelan jas dan sepatu kulit. Penampilannya elegan. Dia tampak seperti orang yang terhormat.

Pria itu terlihat seperti seekor macan tutul yang sedang marah. Wajahnya pucat pasi. “Profesor Hendra, apa yang terjadi pada anakku? Jelaskan padaku. Kalau terjadi sesuatu pada anakku, aku akan membunuh kalian semua!”

Profesor Hendra yang berkacamata itu menarik napas dalam-dalam dan berpura-pura bersikap tenang. “Jangan khawatir, Pak Danu. Saya sudah meminta asisten saya untuk menyiapkan penawarnya. Saya yakin, penawar itu bisa menyembuhkannya.”

Pada saat yang bersamaan, Nadya tiba di tempat dan bertanya dengan cemas, “Apa yang terjadi, Profesor Hendra?”

Profesor Hendra adalah tokoh terkemuka di bidang obat-obatan di Negara Daruna. Dia dikenal dengan julukan, ‘Profesor Hendra di Selatan dan Profesor Adnan di Utara’. Nadya menghabiskan banyak uang untuk mempekerjakan Profesor Hendra. Dia bertanggung jawab atas uji klinis Pil Penawar Kukila Emas.

“Pada awal uji klinis, semuanya berjalan normal. Semua indikator di tubuh subjek menunjukkan peningkatan. Tapi, selang setengah jam kemudian, kondisi subjek tiba-tiba memburuk. Sekujur tubuhnya kejang-kejang dan keluar buih dari mulutnya. Dalam sekejap, dia mengalami syok dan kehilangan kesadaran,” jelas Profesor Hendra.

“Apa penyebabnya sudah diketahui?” tanya Nadya.

“Untuk sementara, penyebabnya masih belum jelas. Tapi, jelas terlihat kalau subjek mengalami gejala keracunan pada hati. Aku sudah menyuruh asistenku untuk menyiapkan penawarnya,” kata Profesor Hendra.

“Bagus!” Nadya berjalan menghampiri ibu dari bocah laki-laki tersebut. Dia menepuk pundak wanita itu untuk menenangkannya. “Jangan khawatir, Bu Danu. Kami pasti nggak akan …”

“Pergi dari sini!” Bu Danu memaki dengan keras dan menepis lengan Nadya, “Dengarkan aku, Nadya. Kalau terjadi sesuatu pada anakku, aku akan membunuh kalian semua!”

Nadya ketakutan mendengarnya.

Kata-kata tersebut bukan hanya sekadar ancaman belaka.

Ayah dari bocah laki-laki tersebut adalah Kepala Biro Kesehatan Kota Pawana. Kakek dan kakek buyut bocah itu bahkan memiliki jabatan di Departemen Kesehatan provinsi. Mereka memiliki pengaruh yang besar.

Satu kalimat saja dari mereka, benar-benar bisa membuat Nadya dan yang lainnya berada dalam kesulitan dan tidak ada jalan keluar.

“Obat penawarnya sudah siap.” Asisten Profesor Hendra menghampiri mereka sambil berlari-lari kecil. “Profesor Hendra, saya sudah menyiapkan obat penawarnya sesuai resep Anda.”

Nadya buru-buru berkata, “Cepat, cepat berikan obatnya pada pasien!”

Profesor Hendra menerima obat penawar tersebut dan bersiap memberikannya sendiri kepada pasien.

Pada saat itulah, terdengar suara yang asing. “Caramu mengobati penyakit ini salah. Aku sarankan padamu agar nggak memberikan obat itu pada pasien.”

Semuanya tercengang dan melihat ke arah suara tersebut.

Setelah menyadari jika wajah itu tidak mereka kenal, semua orang langsung menjadi bingung. Siapa dia? Kenapa dia ada di sini?

“Siapa kamu? Apa maksud ucapanmu tadi?” tanya Profesor Hendra dengan acuh tak acuh.

Wajah Nadya juga menjadi muram.

Dia tidak menyangka jika Yoga akan mengikutinya ke tempat ini. Nadya bahkan tidak menyangka jika Yoga berani membuat masalah.

Namun, sekarang jelas bukan waktu yang tepat untuk membuat perhitungan dengan Yoga.

“Nggak usah memedulikannya, Profesor Hendra. Berikan saja obat itu pada pasien,” kata Nadya. “Dia hanya datang kemari untuk melamar kerja sebagai sopir. Tapi, wawancaranya gagal. Nak, keluar sekarang juga! Atau aku akan menuntutmu secara hukum!”

Semua orang tercengang. Seorang sopir muda yang tidak diterima, tanpa diduga memberi arahan pada Profesor Hendra, yang merupakan ahli medis dan obat-obatan terkenal. Berani sekali dia melakukannya.

Profesor Hendra menatap tajam pada Yoga dan memakinya, “Dasar psikopat!”. Kemudian, dia memberikan obat itu kepada pasien.

Melihat si pasien meminum obat tersebut, Yoga menggelengkan kepalanya dan menghela napas.

Ayah dari bocah laki-laki itu, Danu Wirawan, khawatir jika Yoga kembali membuat masalah. Itu sebabnya, dia memperingatkan Yoga dengan tegas, “Anak muda, aku sarankan agar kamu pergi sekarang juga! Kalau kamu mengganggu pengobatan anakku, aku nggak akan pernah mengampunimu …”

Yoga tidak menghiraukannya dan malah menghitung mundur, “Sepuluh, sembilan, delapan …”

Semua orang bingung melihat perbuatannya yang aneh tersebut.

Bab terkait

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 5

    Nadya akhirnya tidak tahan lagi. Dia berteriak dengan suara pelan, “Petugas keamanan, usir orang gila ini keluar!”“Baik.” Dua petugas keamanan berjalan mendekat dan ingin mengusir Yoga keluar.Sebelum mereka bisa melakukannya, Yoga sudah menghitung sampai angka ‘satu’.Begitu kata ‘satu’ terucap, tiba-tiba saja terjadi perubahan yang aneh.Bocah laki-laki itu membuka mulutnya dan memuntahkan darah kotor. Pada saat yang bersamaan, tubuhnya juga kejang-kejang dan mulutnya berbusa. Napasnya tersengal-sengal dan wajahnya menjadi pucat pasi.Adegan yang terjadi secara tiba-tiba itu, langsung membuat ibu si bocah laki-laki menangis. “Kamu kenapa, Nak? Jangan menakuti Ibu?”Danu sendiri juga takut dan bingung. “Profesor Hendra, apa yang terjadi? Ini … ini gejala normal, ‘kan? Tolong jelaskan padaku.”Profesor Hendra buru-buru memeriksa bocah tersebut. “Jangan khawatir, Pak Danu …”Setelah selesai memeriksa, Profesor Hendra menjadi pucat pasi. “Bagaimana ini bisa terjadi? Seharusnya ini nggak

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 6

    Setelah sepuluh detik yang menyiksa. Baru saja Yoga mengucapkan kata ‘satu’, pasien yang awalnya kehilangan vitalitas, tiba-tiba saja bangun dalam posisi setengah duduk. Kemudian, dia membuka mulutnya dan mengeluarkan banyak dahak kental.“Huaaaaa …” Tangisan anak itu bergema di laboratorium untuk waktu yang lama. Suaranya jelas, nyaring, dan bertenaga.Hidup!Benar-benar hidup!Terjadi keajaiban.Momen ini membuat semua orang bersemangat dan menjadi gembira.Ibu bocah laki-laki itu langsung menerjang dan memeluk anaknya sambil menangis, “Kamu sudah membuat Ibu takut setengah mati, Nak …”Danu juga merasa begitu emosional, hingga tidak bisa menahan diri. Dia menggenggam tangan Yoga dan berkata dengan suara tercekat, “Tuan Penolong, kamu adalah penyelamat keluarga Wirawan. Keluarga Wirawan berutang nyawa padamu. Aku … aku … bagaimana aku harus berterima kasih padamu?”Yoga menarik kembali tangannya. “Hanya masalah kecil.”Danu cepat-cepat mengeluarkan kartu namanya dan menyerahkannya ke

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 7

    Gatot menatap Yoga dengan tajam. “Hmph, anggap saja kamu sedang beruntung, Nak.”Pada saat yang bersamaan, ponsel Gatot berdering. Dia menjawab telepon tersebut. “Halo, Kak Bondan. Aku sudah sampai di perusahaan dan akan segera melakukan wawancara. Apa? Ada yang lebih dulu melamar sebagai sopir dan berhasil? Siapa? Yoga Kusuma? Si*lan, jangan-jangan Yoga si manusia tidak berguna itu?”Setelah menutup teleponnya, Bondan berlari beberapa langkah dan menghentikan Yoga. “Yoga, apa kamu datang kemari untuk ikut wawancara sebagai sopir?”Yoga menganggukkan kepalanya.Amarah Gatot langsung meledak. “Si*lan, berani-beraninya kamu merebut pekerjaanku. Nyalimu besar sekali! Undurkan diri sekarang juga. Serahkan pekerjaannya padaku. Kalau nggak, kamu akan menyesal.”Tika juga marah besar. “Dasar ber*ngsek! Apa kamu tahu, berapa banyak yang sudah kami lakukan untuk mendapatkan kesempatan kerja ini? Kamu sudah merusak rencana kami. Aku perintahkan padamu untuk segera berhenti kerja. Sekarang juga!”

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 8

    Nguunngg!Otak Karina langsung meledak.Ternyata Grup Magani benar-benar memasukkannya ke dalam daftar hitam.Entah berapa banyak usaha yang sudah dilakukannya, berapa banyak orang yang dihubunginya, dan berapa banyak koneksi yang dijalinnya untuk membangun hubungan kerja sama dengan Grup Magani.Sekarang, semua usaha dan pengorbanan yang dilakukan Karina tersebut sia-sia, hanya karena kata-kata yang diucapkan oleh Yoga.Yang paling penting, besok akan diadakan acara makan malam untuk menyambut Raja Agoy yang Perkasa. Grup Magani akan memilih tamu di antara para mitranya untuk menghadiri acara makan malam tersebut.Sekarang, Karina juga kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Raja Agoy yang Perkasa.Praktis, Yoga sudah menghancurkan hidup Karina.Karina tidak bisa menerima pukulan seperti itu. Dia langsung jatuh lemas.Setelah itu, dari pagi hingga matahari terbenam, Karina berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosong. Dia tidak mau makan, minum, dan bicara.Karina benar-benar ti

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 9

    Orang yang kalian sanjung dan puji itu, tidak lebih dari sekadar cecunguk di mataku.Selain itu, ‘orang penting lainnya’ yang kamu maksud adalah aku.“Terima kasih atas niat baikmu. Tapi, aku nggak pantas menerimanya. Seseorang mengundangku makan malam. Aku pergi dulu.” Yoga melangkah pergi.“Kamu …” Karina berkata dengan kesal. “Apa kamu akan terus menjadi sopir seumur hidup? Kamu nggak bisa jadi sukses, karena kamu nggak punya kemampuan!”Karina merasa sangat kecewa pada Yoga. Yoga, Yoga … kalau saja kamu sedikit saja seperti Reza, punya sedikit ambisi. Aku pasti nggak akan pernah menceraikanmu.Melihat Yoga pergi, Gatot merasa tidak tahan lagi. “Yoga, berhenti di situ! Apa aku mengizinkanmu untuk pergi?”Reza buru-buru menghalangi Gatot, “Biarkan saja dia pergi, Gatot. Nanti, kita adukan dia depan tiga orang penting itu. Aku jamin dia nggak akan punya tempat lagi di Kota Pawana ini.”Gatot langsung mengangguk setuju. “Kak Reza memang benar. Hmph, bukankah Yoga hanya mengandalkan sta

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 10

    Mereka bertiga tercengang. Pak Iwan mengira jika dirinya sudah salah mengerti. “Yoga, maksudmu kamu menyuruhku untuk minum?”Yoga menganggukkan kepalanya. “Harus minum tiga kali sehari. Nggak boleh kurang satu gelas pun.”Mitha langsung menjadi cemas. “Yoga, aku rasa kamu jelas-jelas nggak bermaksud baik. Dengan kondisi fisik kakekku, segelas alkohol saja mungkin bisa … apa yang sebenarnya kamu inginkan?”“Resep yang kuberikan seperti ini. Kalau nggak percaya, nggak perlu meminumnya,” kata Yoga.“Aku percaya!” Pak Iwan mengambil gelas anggurnya dan langsung meminumnya sekaligus. Mitha tidak kuasa untuk menghentikannya, meski dia sebenarnya ingin melakukannya.Mitha tercengang dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia berkata, “Kek, Kakek … Kakek sedang kacau. Begitu banyak dokter terkenal yang menyuruh Kakek untuk nggak minum alkohol, tapi Kakek malah melupakannya. Cepat, cepat telepon ambulans! Pergi ke rumah sakit dan pompa perutnya.”Mitha mengeluarkan ponselnya dengan gugup dan ingin m

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 11

    “Baik, Baik.”Reza menguatkan diri untuk berjalan menghampiri Yoga dan menuangkan segelas penuh anggur untuknya. “Pak … Yoga, aku … aku akan bersulang tiga gelas anggur untuk menghormatimu.”Yoga bahkan sama sekali tidak melihat ke arah Reza. “Aku nggak minum.”Reza merasa malu dan tidak enak hati. “Kalau … kalau begitu, aku akan minum tiga gelas ini sendiri. Anggap saja aku melakukannya untuk menghormati Pak Yoga.”Reza menenggak tiga gelas berturut-turut. Kemudian, dia kembali bersulang untuk Danu dan Pak Iwan.Selanjutnya giliran Karina.Karina merasa otaknya kacau. Dia berjalan menghampiri Yoga. Beberapa kali dia mencoba mengatakan sesuatu, tetapi merasa ragu.Karina bahkan tidak berani menatap Yoga.Setelah beberapa saat, akhirnya Karina berkata dengan suara pelan, “Pak … Yoga, aku … aku bersulang tiga gelas anggur untukmu.”Oh!Yoga menghela napas.Dia selalu merasa tidak tega melihat Karina berada dalam kesulitan.Siapa yang sudah membuat Karina menemani dirinya melalui masa-mas

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 12

    “Nggak mau menyerah? Ayo pukul aku!” kata Bondan dengan sombong. “Kita lihat siapa yang pukulannya lebih keras.”“Oke.” Yoga melepas jaketnya. “Aku akan memenuhi keinginanmu.”Mereka berdua siap untuk berkelahi.“Berhenti!” Pada saat yang kritis seperti itu, terdengar suara Nadya. Dia buru-buru datang mendekat. Melihat keadaan Yoga yang berantakan, Nadya pun mengerutkan kening. “Apa yang terjadi?”“Nggak ada apa-apa.” Bondan tersenyum dan berkata. “Adik pegawai baru ini nggak sengaja menumpahkan sendiri sarapannya. Aku hanya membantunya bersih-bersih.”“Oh.” Nadya menganggukkan kepalanya sambil berpikir. “Lain kali hati-hati.”Yoga menghela napas. Nadya jelas-jelas melihat jika Bondan sengaja mencari gara-gara. Namun, dia masih pura-pura tidak tahu.Bagaimana bisa seorang presdir yang terhormat takut pada karyawannya sendiri seperti ini?Sudahlah, siapa suruh aku menerima gaji darimu? Hari ini, aku akan membantumu memberi pelajaran pada karyawanmu ini.Yoga pun menampar wajah Bondan de

Bab terbaru

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1243

    Yogi berbicara sambil menghela napas dengan tak berdaya, sepertinya teringat dengan semua hal yang penuh dengan air mata kesedihan yang pernah terjadi. Itu adalah masa lalu yang tidak ingin diingatnya lagi."Bagus sekali, tapi aku nggak akan membiarkanmu hidup dengan tenang," kata Jordi yang tiba-tiba merobek pakaiannya, lalu memukul dadanya dengan keras.Boom!Darah menyembur dan terlihat banyak serangga hitam kecil yang keluar dari tubuhnya. Seperti kawanan nyamuk, serangga itu terbang naik turun dan bergerak menuju satu arah."Gawat!" teriak Yogi yang tiba-tiba terkejut, lalu segera maju dan terus menyerang satu per satu serangga itu sampai jatuh ke lantai.Agnes dan Markus juga berlarik keluar dan membunuh serangga-serangga hitam itu secara bersamaan.Namun, mereka tetap tidak bisa menangani semuanya dan beberapa serangga hitam itu berhasil lolos. Ukuran serangga itu sangat kecil, bahkan sulit untuk terlihat mata."Aduh!" kata Yogi sambil menghela napas dan menatap ke kejauhan. Pad

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1242

    "Kenapa kamu lagi? Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Jordi dengan ekspresi terkejut dan menatap orang di depannya dengan ketakutan.Jordi berpikir jelas-jelas Yoga masih berada di dalam formasi, tidak mungkin bisa muncul di sana dengan begitu cepat. Meskipun formasinya hancur, Yoga juga membutuhkan waktu untuk tiba di sana. Namun, orang di depannya ini sepertinya sudah menunggunya cukup lama. Ini benar-benar hal yang mustahil."Sepertinya sudah berlalu cukup lama, jadi kamu sudah melupakan siapa aku," kata Yogi sambil tersenyum dan memancarkan hawa dingin. Tatapannya itu penuh dengan niat membunuh."Kamu? Bukankah kamu ini Yoga?" tanya Jordi dengan tercengang dan merasa aneh. Saat ini, dia benar-benar merasa bingung.Yogi berkata, "Saat itu kamu yang membocorkan keberadaanku dan istriku, jadi istriku dikurung selama bertahun-tahun. Sekarang kamu sudah tahu siapa aku sebenarnya, 'kan?"Jordi bertanya sambil mengernyitkan alisnya, "Istrimu? Dikurung?"Setelah mengingat kembali deng

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1241

    Awalnya, Jordi mengira formasi ini pasti bisa membunuh Bimo, tetapi tetap tidak ada kemajuan sedikit pun. Bimo ini masih tetap sulit untuk dibunuh, bahkan hampir berhasil menghancurkan formasinya. Jika formasi ini gagal, apa lagi yang bisa digunakannya untuk melawan Bimo?Dalam sekejap, Jordi berdiri diam di tempat dan tidak bergerak sedikit pun. Dia benar-benar sangat ketakutan dan merasa putus asa.Yoga tetap melawan boneka-boneka mayat itu sampai tidak bisa bergerak lagi dan tubuh mereka berserakan ke mana-mana."Kamu sudah siap untuk mati?" tanya Yoga sambil tersenyum sinis dan menatap Jordi dengan dingin."Kamu ...," teriak Jordi yang benar-benar kehilangan semangat bertarungnya, lalu mengendalikan semua benang merah dan menyuntikkannya ke dalam tubuh 15 boneka mayat itu. Boneka-boneka mayat yang langsung terlilit benang merah itu pun terlihat seperti mumi. Setelah itu, dia langsung berbalik dan melarikan diri.Yoga berniat untuk mengejar Jordi, tetapi dia langsung dihentikan oleh

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1240

    "Apa ... yang telah kamu lakukan?" tanya Jordi yang tercengang saat melihat fenomena aneh di langit. Dia sama sekali tidak menyangka akan melihat pemandangan yang begitu mengerikan. Formasinya ini sepertinya benar-benar sudah tidak akan bertahan lagi."Aku sudah bilang formasimu ini nggak akan bisa melindungimu lagi," kata Yoga dengan dingin."Nggak, ini nggak mungkin," kata Jordi sambil menatap langit dengan bengong. Melihat satu per satu celah yang muncul di langit, hatinya merasa gelisah.Krak!Pada saat itu, muncul satu celah lagi dan seluruh formasinya pun mulai berguncang sampai ruangan di sekitar bergetar hebat.Jordi seolah-olah mulai menyadari kemampuan Bimo benar-benar luar biasa."Bagaimana kamu bisa melakukan ini?" tanya Jordi."Kamu pernah melihat kekuatan sebenarnya dari seorang kultivator raja?" kata Yoga dengan ambigu."Apa? Kultivator raja?" seru Jordi yang merasa terkejut serta panik dan ekspresinya juga makin muram.Kultivator raja adalah sosok yang sangat kuat, sehi

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1239

    Setelah itu, mata semua orang membelalak dan tiba-tiba hidup kembali. Saat ini, mereka semua sudah menjadi boneka mayat. Jordi pun tertawa terbahak-bahak karena merasa sangat puas saat melihat hasil karyanya ini."Mana mungkin orang-orang yang pengecut ini pantas untuk mengikutiku. Kalau nggak ingin mati, aku sendiri yang akan membunuh kalian dan akhirnya kalian menjadi boneka mayatku. Mulai sekarang, tugas kalian adalah membunuh Bimo," kata Jordi sambil tertawa terbahak-bahak dan menunjuk ke arah Yoga.Dalam sekejap, 15 orang itu langsung berbaris dengan rapi. Mata mereka yang merah terlihat kosong dan menatap tajam ke arah Yoga. Satu per satu dari mereka penuh dengan aura membunuh dan siap untuk menghabisi target mereka di depan."Benar-benar ... sangat kejam," kata Yoga sambil menghela napas. Dia mengira mereka akan bersatu dan menyerangnya bersama-sama. Pada akhirnya, mereka memang bersatu, tetapi karena mereka semua dibunuh oleh Jordi."Serang!" perintah Jordi.Setelah itu, 15 bon

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1238

    Jordi muncul di atas menara lonceng dan mengamati ke arah bawah dengan tenang. Tatapannya terlihat datar dan ekspresi tenang, seolah-olah meremehkan segalanya.Dalam sekejap, mata semua orang yang berada di sana membelalak dan melihat ke atas dengan ekspresi tidak percaya."Tuan Jordi, kenapa kamu keluar?""Bimo ini benar-benar luar biasa, kamu harus hati-hati.""Sebagai pusat informasi, kamu adalah sosok yang sangat penting dan nggak boleh terjadi apa-apa padamu."Semua orang segera membujuk Jordi dengan sangat cemas."Singkirkan wajah kalian itu, membuatku merasa jijik," marah Jordi dengan dingin. Dia sudah melihat segalanya tadi, termasuk dengan sekelompok orang ini yang bertindak dengan sangat memalukan demi bertahan hidup. Hal ini sama sekali tidak mencerminkan semangat seorang Pelindung Kebenaran.Mendengar perkataan itu, para tetua dan jenderal besar yang berada di sana semuanya menundukkan kepala. Mereka semua merasa gugup, tetapi mereka juga tidak berdaya. Bagaimanapun juga, m

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1237

    "Apa?" Setelah mendengar kata-kata itu, wajah semua orang di tempat langsung berubah menjadi pucat pasi. Mereka sangat ketakutan dan gelisah. Bisa-bisanya ketahuan? Bagaimana mungkin rahasia ini bisa bocor? Dalam sekejap, semua orang menjadi panik. Mereka tanpa sadar melirik ke arah menara lonceng."Oh?" Yoga pun tertawa. Nada suaranya terdengar terkejut sekaligus puas.Yoga sebenarnya hanya meminta Winola dan Sutrisno untuk menjauh darinya, tetapi tak disangka mereka malah menemukan sesuatu yang sangat penting. Yoga perlahan mendongak dan menatap ke arah atas, tepat ke lokasi menara lonceng."Kalian jangan bicara sembarangan! Nggak mungkin ada apa-apa di menara lonceng itu!""Benar, tindakan kalian ini adalah pengkhianatan terhadap Bimo! Nggak mungkin pusat formasi ada di sana!""Kalian sungguh keji! Kalian mau mengalihkan perhatian Bimo ya? Pusat formasi yang sebenarnya jelas bukan di sana!"Para tetua dan jenderal mulai berteriak panik. Mereka coba meyakinkan Yoga dengan berbagai

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1236

    "Kalian semua mau mati ya?" Yoga melontarkan pertanyaan dengan nada tenang. Matanya menyapu seluruh orang di tempat itu satu per satu. Wajahnya tetap datar tanpa emosi.Semua orang langsung menutup mulut. Tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Mereka tahu jika Bimo murka, konsekuensinya bukan hanya kematian, melainkan siksaan yang lebih buruk dari mati.Di saat itulah, Yoga memandang pria di hadapannya dengan tenang. Tanpa berkata sepatah kata pun, dia melayangkan tendangan. Tindakannya membuat pria tersebut terpental.Namun, Yoga sama sekali tidak berniat membunuhnya. Baginya, membunuh pria itu hanya akan menjadikannya salah satu dari boneka dalam formasi ini. Itu hanya akan menambah bebannya. Hal terpenting saat ini adalah menemukan pusat formasi."Hahaha! Aku hidup! Aku benar-benar masih hidup!" seru jenderal itu sambil tertawa terbahak-bahak penuh kegirangan. Wajahnya berseri-seri. Dia tidak mampu menyembunyikan rasa lega yang luar biasa.Mampu bertahan hidup di bawah

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1235

    Hukum alam semesta akan memberikan tekanan jika itu terjadi. Yoga harus tetap waspada. Retakan-retakan di langit adalah hasil dari kekuatan hukum tersebut.Hukum alam semesta telah merasakan keberadaan Yoga sehingga langsung mencarinya tanpa ragu. Bahkan, formasi besar yang mengurung tempat ini pun tak mampu menghentikannya."Sepertinya aku harus sedikit menahan diri," gumam Yoga perlahan.Bimo menambahkan, "Cuma sedikit lagi doang. Meski kekuatanmu mampu menembus level kultivator raja, mana boleh kamu bertindak serampangan begini?""Aku tahu," jawab Yoga singkat, tanpa banyak bicara lagi. Kemudian, dia menoleh ke arah jenderal yang gemetar ketakutan dalam genggamannya. Kakinya bahkan hampir tak mampu menopang tubuhnya."Cepat katakan! Kalau nggak, aku akan menjadikanmu seperti mayat boneka itu, lalu menghancurkanmu hingga menjadi serpihan!" ancam Yoga dengan suara dingin."Aku akan kasih tahu semuanya!" balas jenderal itu sambil buru-buru mengangguk. Ketakutan dan emosinya sudah tak t

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status