Share

Bab 8

Penulis: Vodka
Nguunngg!

Otak Karina langsung meledak.

Ternyata Grup Magani benar-benar memasukkannya ke dalam daftar hitam.

Entah berapa banyak usaha yang sudah dilakukannya, berapa banyak orang yang dihubunginya, dan berapa banyak koneksi yang dijalinnya untuk membangun hubungan kerja sama dengan Grup Magani.

Sekarang, semua usaha dan pengorbanan yang dilakukan Karina tersebut sia-sia, hanya karena kata-kata yang diucapkan oleh Yoga.

Yang paling penting, besok akan diadakan acara makan malam untuk menyambut Raja Agoy yang Perkasa. Grup Magani akan memilih tamu di antara para mitranya untuk menghadiri acara makan malam tersebut.

Sekarang, Karina juga kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Raja Agoy yang Perkasa.

Praktis, Yoga sudah menghancurkan hidup Karina.

Karina tidak bisa menerima pukulan seperti itu. Dia langsung jatuh lemas.

Setelah itu, dari pagi hingga matahari terbenam, Karina berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosong. Dia tidak mau makan, minum, dan bicara.

Karina benar-benar tidak habis pikir. Mengapa Yoga menjadi begitu kejam setelah bercerai dan melakukan hal yang tidak berperasaan seperti ini?

Apa pun yang dilakukan keluarganya untuk membujuk Karina, semua itu tidak ada hasilnya.

Saat matahari terbenam, barulah Karina membuka mulutnya, “Ambilkan ponselku, Bu.”

“Oke.” Ambar buru-buru memberikan ponsel Karina.

Karina menghubungi nomor telepon Yoga. “Kenapa kamu melakukan semua ini, Yoga?”

Yoga merasa agak bingung. “Memangnya aku melakukan apa?”

“Jangan pura-pura bodoh. Apa aku harus menjelaskannya padamu?” balas Karina. “Grup Magani memasukkanku ke dalam daftar hitam karena ‘ulahmu’, ‘kan?”

Mendengar Karina berkata seperti itu, hati Yoga yang awalnya sudah terluka, sekarang menjadi bertambah sakit karenanya.

Yoga benar-benar tidak menyangka, Karina akan menimpakan kesalahan kepada dirinya.

Apa kamu ingin, aku menuruti semua permintaan Gatot dan menyerahkan pekerjaanku kepadanya? Apa kamu ingin, aku hanya diam saja dan bahkan tersenyum saat Gatot dan istrinya memarahiku? Dulu mungkin aku bisa melakukannya. Tapi sekarang, maaf-maaf saja.

Yoga juga terlalu malas untuk membela diri. “Kalau kamu memang berpikir seperti itu, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa. Omong-omong, KTP milikku ketinggalan di mobilmu …”

Sebelum Yoga selesai berbicara, Karina sudah terlebih dahulu menutup teleponnya.

Setelah itu, Karina terus berdiam diri.

Ambar tidak tahan lagi. “Jangan menyerah dulu, Karina. Aku akan menelepon Reza sekarang. Siapa tahu dia bisa membantu.”

Gatot juga ikut menimpali, “Benar, hubungi saja Kak Reza. Dia pasti punya solusi.”

Begitu Ambar menelepon, Reza langsung bergegas datang.

Setelah mengetahui duduk perkaranya, Reza terlebih dahulu menghujat Yoga habis-habisan. Baru setelahnya, dia menghibur Karina, “Jangan khawatir, Karina. Kamu hanya ingin menghadiri acara makan malam penyambutan Raja Agoy yang Perkasa, ‘kan? Aku punya solusinya.”

“Benarkah?” Wajah Karina tampak penuh harap.

“Tentu saja. Kamu pasti tahu kalau kali ini Pak Iwan dari Komando Militer Provinsi akan mewakili Daruna untuk menyambut Raja Agoy yang Perkasa secara langsung,” kata Reza. “Keluargaku adalah mitra dari pabrik senjata Komando Militer Provinsi. Ayahku berteman dengan Pak Iwan. Aku akan menelepon ayahku sekarang. Aku akan minta Ayah untuk meminta beberapa undangan makan malam kepada Pak Iwan. Bukan masalah yang sulit.”

Mata Karina langsung berbinar. “Tuan Muda Reza, aku benar-benar nggak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu.”

Reza langsung menelepon ayahnya. Setelah menutup teleponnya, Reza berkata, “Kabar baik, Karina. Ayahku memberitahuku. Malam ini, Kepala Biro Kesehatan, Danu Wirawan, akan mengadakan acara makan malam untuk menjamu Pak Iwan dan tamu penting lainnya di Hotel Grand Vikrama milik keluargaku. Nanti, aku akan membawa kalian ke sana untuk bertemu dengan Pak Iwan. Kalau kamu bisa memberikan kesan yang baik kepada Pak Iwan, jangankan undangan makan malam, bahkan kamu juga punya kesempatan untuk bekerja sama dengan pabrik senjata.”

Mendengar hal tersebut, keluarga Karina menjadi begitu antusias. Jika mereka benar-benar bisa bekerja sama dengan pabrik senjata, semua itu sama saja dengan menemukan pelindung bagi keluarga mereka. Status keluarga mereka di Kota Pawana, bahkan di seluruh Provinsi Sadali akan meningkat di masa mendatang.

“Tuan Muda Reza, kali ini kamu lagi-lagi membantuku. Aku benar-benar nggak tahu, bagaimana harus berterima kasih selayaknya kepadamu,” kata Karina dengan tulus.

Reza tersenyum penuh arti pada Karina. “Nggak perlu bersikap sopan seperti itu. Kita ini bukan orang lain.”

Melihat Reza tersenyum penuh arti kepadanya, Karina merasa sedikit gelisah di dalam hati.

Sampai sekarang, Karina tidak memiliki perasaan apa pun kepada Reza. Dia hanya menganggap Reza sebagai teman.

Karina benar-benar tidak tahu. Jika suatu hari nanti Reza mengungkapkan perasaannya, bagaimana dia akan menghadapinya?

Ambar, Gatot, dan Tika terus saja memuji Reza, “Reza, kamu masih begitu muda, tapi bisa menjalin koneksi dengan orang-orang penting seperti Pak Iwan, juga Pak Danu yang merupakan Kepala Biro Kesehatan. Prestasimu benar-benar luar biasa.”

“Kak Reza, kamu idolaku. Aku ingin belajar lebih banyak darimu nanti …”

Tanpa membuang-buang waktu lagi, dalam sekejap saja, sekelompok orang sudah tiba di hotel milik keluarga Reza, Hotel Grand Vikrama.

Tanpa diduga, begitu memasuki lobi, mereka melihat sosok Yoga di sana.

Tentu saja, Yoga datang untuk menghadiri acara makan malam tersebut.

Baru saja Danu mengatakan pada Yoga, bahwa dia juga sudah mengundang Pak Iwan dari Komando Militer Provinsi untuk diperkenalkan pada Yoga.

Yoga ingin menolaknya. Dia tidak terbiasa makan bersama orang asing. Namun, Nadya menghujaninya dengan panggilan telepon, memaksanya untuk datang. Nadya mengatakan, sebagai karyawan perusahaan, Yoga punya tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga hubungan dengan masyarakat.

Yoga tidak punya pilihan selain memaksakan diri untuk datang.

Gatot merasa sangat marah begitu melihat Yoga.

Dia berjalan dengan cepat dan mengadang Yoga. “Yoga, berhenti!”

Yoga menghela napas. Tanpa diduga, dia bertemu dengan orang yang tidak ingin ditemuinya dan tidak bisa menghindar darinya. “Apa yang kamu inginkan dariku?”

“Omong kosong. Kamu memukuliku juga istriku, dan ingin kabur begitu saja? Jangan mimpi!” kata Gatot. “Cepat minta maaf padaku dan Tika!”

“Kalau aku nggak mau?” tanya Yoga.

“Percaya atau nggak, aku akan meledakkan kepalamu …” kata Gatot

Setelah berkata demikian, Gatot bersiap untuk mengambil tindakan.

“Berhenti!” Karina menghentikan Gatot. “Jangan sembrono. Biar aku saja yang bicara dengannya.”

Karina berjalan menghampiri Yoga dan berkata, “Ikut aku, Yoga. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Awalnya, Yoga tidak ingin bicara dengannya, saat memikirkan tindakan kejam Karina sebelumnya. Namun, dia tidak tega dan mengikuti Karina melangkah ke sudut yang sepi. “Ada apa?”

“Yoga, masalah aku masuk daftar hitam, aku nggak akan mempermasalahkannya,” kata Karina. “Tapi, kamu sudah memukul orang. Kamu harus minta maaf.”

Karina membenci Yoga. Namun, mengingat Yoga sebelumnya sudah menyumbangkan darah untuknya sampai jatuh pingsan, Karina tidak tega menyalahkannya.

Yoga langsung mencibir begitu mendengar hal tersebut.

Benar saja. Karina masih mengutamakan keluarganya, tanpa memikirkan apakah keluarganya itu benar atau salah.

Karina tidak pernah menganggap dia sebagai keluarga, ‘kan? Tidak. Bahkan, mungkin Yoga dianggap sebagai orang lain.

Jika seperti itu masalahnya, Yoga juga tidak akan sungkan-sungkan lagi. “Kalau aku nggak mau?”

“Bisakah kamu berhenti berbuat onar dan bersikap lebih dewasa, Yoga?” tegur Karina. “Sejujurnya, kami datang kemari hari ini untuk bertemu dengan Pak Danu dari Biro Kesehatan dan Pak Iwan dari Komando Militer Provinsi. Aku nggak berani jamin apakah Gatot nggak akan menjelek-jelekkan dirimu di depan mereka. Kalau Gatot menjelek-jelekkan dirimu, kamu akan berada dalam kesulitan. Minimal, kamu akan kehilangan pekerjaanmu sebagai sopir.”

Berbuat onar? Nggak dewasa? Lima tahun menikah, inikah penilaianmu kepadaku? Sepertinya, kamu nggak pernah sungguh-sungguh untuk mencoba memahamiku.

“Kamu mengancamku?” Yoga balik bertanya.

“Aku sedang mencoba membantumu, apa kamu mengerti?” tanya Karina. “Sekarang, tumpuan terbesarmu adalah statusmu sebagai sopir Nadya. Kalau statusmu ini hilang, kamu bukan lagi siapa-siapa. Begini saja. Kalau kamu meminta maaf pada Gatot dengan tulus, aku bisa membawamu menemui Pak Danu dan Pak Iwan. Omong-omong, aku dengar ada orang penting lainnya yang datang ke tempat ini. Aku nggak tahu siapa dia. Kalau kamu bisa memberikan kesan yang baik kepada mereka, hal itu akan sangat menguntungkan bagi masa depanmu.”

Yoga menahan tawa saat mendengar Karina bicara seperti itu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 9

    Orang yang kalian sanjung dan puji itu, tidak lebih dari sekadar cecunguk di mataku.Selain itu, ‘orang penting lainnya’ yang kamu maksud adalah aku.“Terima kasih atas niat baikmu. Tapi, aku nggak pantas menerimanya. Seseorang mengundangku makan malam. Aku pergi dulu.” Yoga melangkah pergi.“Kamu …” Karina berkata dengan kesal. “Apa kamu akan terus menjadi sopir seumur hidup? Kamu nggak bisa jadi sukses, karena kamu nggak punya kemampuan!”Karina merasa sangat kecewa pada Yoga. Yoga, Yoga … kalau saja kamu sedikit saja seperti Reza, punya sedikit ambisi. Aku pasti nggak akan pernah menceraikanmu.Melihat Yoga pergi, Gatot merasa tidak tahan lagi. “Yoga, berhenti di situ! Apa aku mengizinkanmu untuk pergi?”Reza buru-buru menghalangi Gatot, “Biarkan saja dia pergi, Gatot. Nanti, kita adukan dia depan tiga orang penting itu. Aku jamin dia nggak akan punya tempat lagi di Kota Pawana ini.”Gatot langsung mengangguk setuju. “Kak Reza memang benar. Hmph, bukankah Yoga hanya mengandalkan sta

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 10

    Mereka bertiga tercengang. Pak Iwan mengira jika dirinya sudah salah mengerti. “Yoga, maksudmu kamu menyuruhku untuk minum?”Yoga menganggukkan kepalanya. “Harus minum tiga kali sehari. Nggak boleh kurang satu gelas pun.”Mitha langsung menjadi cemas. “Yoga, aku rasa kamu jelas-jelas nggak bermaksud baik. Dengan kondisi fisik kakekku, segelas alkohol saja mungkin bisa … apa yang sebenarnya kamu inginkan?”“Resep yang kuberikan seperti ini. Kalau nggak percaya, nggak perlu meminumnya,” kata Yoga.“Aku percaya!” Pak Iwan mengambil gelas anggurnya dan langsung meminumnya sekaligus. Mitha tidak kuasa untuk menghentikannya, meski dia sebenarnya ingin melakukannya.Mitha tercengang dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia berkata, “Kek, Kakek … Kakek sedang kacau. Begitu banyak dokter terkenal yang menyuruh Kakek untuk nggak minum alkohol, tapi Kakek malah melupakannya. Cepat, cepat telepon ambulans! Pergi ke rumah sakit dan pompa perutnya.”Mitha mengeluarkan ponselnya dengan gugup dan ingin m

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 11

    “Baik, Baik.”Reza menguatkan diri untuk berjalan menghampiri Yoga dan menuangkan segelas penuh anggur untuknya. “Pak … Yoga, aku … aku akan bersulang tiga gelas anggur untuk menghormatimu.”Yoga bahkan sama sekali tidak melihat ke arah Reza. “Aku nggak minum.”Reza merasa malu dan tidak enak hati. “Kalau … kalau begitu, aku akan minum tiga gelas ini sendiri. Anggap saja aku melakukannya untuk menghormati Pak Yoga.”Reza menenggak tiga gelas berturut-turut. Kemudian, dia kembali bersulang untuk Danu dan Pak Iwan.Selanjutnya giliran Karina.Karina merasa otaknya kacau. Dia berjalan menghampiri Yoga. Beberapa kali dia mencoba mengatakan sesuatu, tetapi merasa ragu.Karina bahkan tidak berani menatap Yoga.Setelah beberapa saat, akhirnya Karina berkata dengan suara pelan, “Pak … Yoga, aku … aku bersulang tiga gelas anggur untukmu.”Oh!Yoga menghela napas.Dia selalu merasa tidak tega melihat Karina berada dalam kesulitan.Siapa yang sudah membuat Karina menemani dirinya melalui masa-mas

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 12

    “Nggak mau menyerah? Ayo pukul aku!” kata Bondan dengan sombong. “Kita lihat siapa yang pukulannya lebih keras.”“Oke.” Yoga melepas jaketnya. “Aku akan memenuhi keinginanmu.”Mereka berdua siap untuk berkelahi.“Berhenti!” Pada saat yang kritis seperti itu, terdengar suara Nadya. Dia buru-buru datang mendekat. Melihat keadaan Yoga yang berantakan, Nadya pun mengerutkan kening. “Apa yang terjadi?”“Nggak ada apa-apa.” Bondan tersenyum dan berkata. “Adik pegawai baru ini nggak sengaja menumpahkan sendiri sarapannya. Aku hanya membantunya bersih-bersih.”“Oh.” Nadya menganggukkan kepalanya sambil berpikir. “Lain kali hati-hati.”Yoga menghela napas. Nadya jelas-jelas melihat jika Bondan sengaja mencari gara-gara. Namun, dia masih pura-pura tidak tahu.Bagaimana bisa seorang presdir yang terhormat takut pada karyawannya sendiri seperti ini?Sudahlah, siapa suruh aku menerima gaji darimu? Hari ini, aku akan membantumu memberi pelajaran pada karyawanmu ini.Yoga pun menampar wajah Bondan de

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 13

    Dengan sangat terpaksa, Nadya berjalan menghampiri Bondan dan berkata, “Kak Bondan, kali ini aku hanya bisa mengandalkanmu. Kalau kamu bisa memenangkan pertarungan ini, aku akan memberimu hadiah yang sangat besar.”Tanpa diduga, Bondan malah menolaknya. “Maafkan aku, Bu Nadya. Barusan aku dihajar oleh pegawai baru itu dan mengalami gegar otak. Aku harus ke rumah sakit. Aku takut, aku nggak bisa bertarung untukmu.”Tentu saja Nadya tahu apa yang dipikirkan oleh Bondan. Dia pun berkata, “Bondan, asalkan kamu mau bertarung, kamu boleh melakukan apa pun pada Yoga. Aku bahkan juga bisa mengeluarkannya dari perusahaan.”Demi Grup Magani, Nadya hanya bisa mengorbankan Yoga sekarang.Paling-paling yang terjadi, dia hanya perlu memberikan ganti rugi yang besar kepada Yoga nanti.Setelah itu, barulah Bondan merasa puas. “Oke. Mendengar kata-kata Bu Nadya ini, aku jadi merasa lega.” Kemudian, Bondan berjalan perlahan-lahan menghampiri Legam dan berkata, “Legam, Legam … Benar-benar seperti namanya

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 14

    Ternyata, bukannya aku yang nggak tertarik pada pria. Hanya saja, nggak ada satu pun dari mereka yang cukup kuat.Nadya merasa seperti sudah menemukan harta karun.Dia berkata kepada Pak Jarot dengan wajah menyesal, “Maafkan aku, Pak Jarot. Anak baru ini nggak tahu aturan. Dia bertindak terlalu berlebihan. Tolong maafkan dia.”Ucapan ‘permintaan maaf’ itu sebenarnya mengandung sindiran. Wajah Pak Jarot langsung tampak muram. “Di tempatmu ini benar-benar terdapat orang hebat yang menyembunyikan kemampuannya. Aku merasa sangat kagum. Selamat tinggal.”Pak Jarot membawa orang-orangnya untuk pergi.Sebelum pergi, Pak Jarot menatap Yoga dengan penuh arti. “Dik, kurasa kita akan segera bertemu lagi.”“Sampai ketemu lagi,” Yoga tersenyum.Setelah orang-orang dari Asosiasi Perdagangan Kota Pergi, Nadya memberikan tepuk tangan untuk Yoga, diikuti oleh semua orang yang ada di aula.Yoga mengenakan sepatunya, seolah tidak tidak terjadi apa-apa.Namun, sepatunya sudah robek total hingga tidak bisa

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 15

    Keluarga Karina juga sampai lebih awal di alun-alun, di depan pintu masuk Grup Magani. Mereka sedang menunggu Reza.Di tengah penantian mereka yang penuh harap, Reza pun akhirnya datang terlambat.“Tuan Muda Reza, apa kamu sudah mendapatkan undangan makan malamnya?” tanya Karina dengan tidak sabar.“Jangan khawatir. Tentu saja aku sudah mendapatkannya. Ayahku sudah menyuruh orang untuk mengantarkannya. Seharusnya sebentar lagi dia sampai,” kata Reza.“Bagus.” Keluarga Karina merasa tidak sabar dan antusias.“Coba kalian tebak,” lanjut Reza. “Dini hari tadi, tiba-tiba saja Pak Iwan muntah darah. Nyawanya terancam. Tidak diragukan lagi kalau semua ini karena perbuatan Yoga. Aku dengar sekarang Nona Mitha membawa banyak orang untuk mencari Yoga di seluruh kota. Pada saat kritis, ayahku mengirimkan ginseng gunung berusia 500 tahun milik keluargaku, sehingga nyawa Pak Iwan bisa diselamatkan. Sebagai rasa terima kasih, Pak Iwan bukan hanya memberikan undangan acara makan malam ini. Dia juga

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 16

    Tatapan mereka seperti menatap orang yang idiot.“Apa aku nggak salah dengar? Dia berani menyebut dirinya sebagai Raja Agoy yang Perkasa?”“Apa dia nggak takut mati dengan mengaku-ngaku sebagai Raja Agoy yang Perkasa pada situasi dan waktu saat ini?”“Diam, bodoh! Kalau kamu berani menghina idolaku, aku nggak akan lagi segan-segan padamu!”Keluarga Karina menatap Yoga dengan penuh penghinaan dan berkata, “Baj*ngan yang hina ini sedang cari perhatian!”Sekarang, Karina benar-benar kecewa pada Yoga. Ternyata, kecemburuan memang bisa membuat orang berubah total dan mau melakukan apa saja.Demi memfitnah Tuan Muda Reza, Yoga bahkan berani mengaku-ngaku sebagai Raja Agoy yang Perkasa.Karina berseru dengan suara pelan, “Cukup, Yoga! Aku sudah memberimu 10 miliar dan semua itu masih belum cukup untuk dihabiskan? Apakah menyenangkan bagimu untuk menipu orang dengan mengaku-ngaku sebagai orang yang hebat?”Yoga tertegun. “Kapan aku pernah menipu orang?”“Jangan pikir kami nggak tahu. Sebelumny

Bab terbaru

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1305

    Yoga merasa sangat puas. Setelah itu, dia berbalik dan meninggalkan tempat tersebut. Tak lama kemudian, dia menemui Sutrisno dan memintanya untuk mengatur penjemputan Ayu serta yang lainnya.Sebagai salah satu dari empat keluarga besar, Keluarga Salim seharusnya tidak kesulitan untuk menjemput orang dari dunia bela diri kuno. Apalagi, para penjaga gerbang yang sebelumnya menghalangi jalan telah dibunuh oleh Yoga. Kini, tak ada lagi yang berani menghalangi jalannya.Yang lebih penting adalah pertempuran hari ini telah mengguncang seluruh dunia kultivator kuno. Nama Yoga langsung menyebar luas. Semua orang tak henti-hentinya membicarakan betapa kuatnya dia.Keluarga Husin dan Keluarga Kusuma benar-benar tercengang saat mendengar hasil pertempuran. Entah bagaimana memikirkannya, tidak ada yang menyangka bahwa Yoga mampu menekan empat kultivator raja sekaligus seorang diri.Dalam sekejap, banyak orang gelisah dan ketakutan. Mereka mulai berpikir, apakah mereka pernah menyinggung Yoga sebel

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1304

    "Dia ... berhasil menahannya?" Leluhur dari Keluarga Kusuma dan Keluarga Husin luar biasa terkejut. Jantung mereka berdebar kencang, bahkan sulit untuk menyembunyikan rasa gugup.Mereka sama-sama berada di tingkat kultivator raja, tetapi kenapa pemuda ini bisa sekuat itu? Ini sungguh di luar nalar"Barang bagus." Tepat pada saat itu, Yoga mengerahkan energi sejatinya dan menyelimuti dua harta pusaka yang sebelumnya digunakan lawan.Pada saat yang sama, petir dari langit tiba-tiba menyambar turun. Dalam sekejap, sambaran petir itu langsung memutuskan hubungan antara dua harta pusaka itu dengan pemiliknya."Pfft!" Dua kultivator raja itu muntah darah di tempat. Energi mereka terguncang hebat. Mereka bahkan nyaris kehilangan keseimbangan. Serangan balik dari harta pusaka itu menghantam mereka keras. Sungguh mengerikan."Mana mungkin begini? Bahkan, Jam Penciptaan pun nggak bisa menghadapinya? Dia ini ... sebenarnya berada di tingkat apa?""Seorang kultivator raja sekuat ini? Ini nggak mas

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1303

    "Matilah!" Empat kultivator raja mengerahkan senjata ajaib mereka dan langsung melancarkan serangan.Dalam sekejap, langit seakan-akan runtuh. Bumi bergetar dan suasana menjadi mengerikan. Udara di sekitar dipenuhi dengan tekanan yang menyesakkan.Meskipun orang-orang di sekitar berdiri cukup jauh, mereka tetap bisa merasakan perubahan ini dengan jelas. Tatapan mereka penuh keterkejutan. Mereka hanya bisa terpaku menyaksikan pertempuran yang belum pernah mereka lihat seumur hidup."Meskipun Yoga berbakat luar biasa, dia pasti nggak punya harapan untuk bertahan hidup kali ini!" Begitulah yang ada di benak semua orang. Mereka hanya bisa menghela napas dalam hati.Hanya saja pada saat ini, terdengar suara keras. Tiba-tiba, kilatan petir muncul dan menyelimuti tubuh Yoga. Cahaya petir itu berkilauan luar biasa dan terlihat seperti zirah yang menyala dengan sinar terang."Ini ... apa sebenarnya yang terjadi?""Petir bisa digunakan seperti ini? Mustahil!""Apa yang dia latih? Kenapa kekuatan

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1302

    "Ternyata kamu seorang kultivator raja juga?" tanya keempat kultivator raja itu dengan ekspresi yang berubah dan tatapan yang aneh. Dengan kekuatan yang begitu luar biasa, Yoga sudah bisa berjalan dengan bebas di dunia kultivator kuno. Apalagi orang ini memiliki hubungan darah dengan mereka, ini adalah sebuah kesempatan yang langka bagi keluarga mereka."Bukankah kalian ingin membunuhku? Ayo maju," teriak Yoga dengan petir yang menyambar-nyambar dan aura yang kuat memenuhi ruangan itu."Yoga, kamu adalah keturunan dai Keluarga Kusuma. Kalau sekarang kamu berlutut untuk minta maaf dan menyerah, aku akan menerimamu kembali ke Keluarga Kusuma," kata salah satu kultivator raja Keluarga Kusuma dengan dingin."Ibumu adalah anggota Keluarga Husin. Asalkan kamu bersedia mengabdi pada Keluarga Husin, aku akan menerimamu dan ibumu kembali ke Keluarga Husin," teriak salah satu kultivator raja Keluarga Husin dengan lantang.Saat ini, kedua keluarga itu sudah bisa melihat kekuatan Yoga, mereka tent

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1301

    Yoga memegang kepala Samsul dan Timothy dengan kedua tangannya, lalu menghantamkannya ke lantai dengan keras.Bang!Samsul dan Timothy tergeletak di lantai dengan tubuh yang berlumuran darah dan tulang patah. Mereka memang masih hidup, tetapi hanya bisa bernapas saja. Mereka menatap Yoga dengan tatapan yang terkejut dan tidak percaya karena mereka benar-benar tidak menyangka Yoga akan begitu kuat. Hanya dalam beberapa saat saja, Yoga sudah berhasil mengalahkan mereka."Kalian masih belum cukup layak melawanku," kata Yoga dengan nada dan tatapan yang dingin. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan-lahan berbalik dan pergi.Saat sudah berada di luar pintu, Yoga melihat ke sekeliling yang sudah dipenuhi dengan orang-orang. Sebagian orang itu berasal dari Keluarga Kusuma dan Keluarga Husin, sedangkan sisanya adalah orang yang datang ke sana untuk menyaksikan pertempuran itu."Karena kalian sudah datang, keluarlah," teriak Yoga dengan lantang.Kerumunan orang itu langsung tertegun seje

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1300

    "Omong kosong. Sejak kapan kami bersekongkol dengan manusia hantu? Selain itu, kamu bilang dia ini Yoga?" tanya Samsul dengan ekspresi terkejut dan menatap Yoga dengan bengong.Suasana hati orang-orang dari Keluarga Kusuma menjadi rumit dan tatapan mereka menjadi makin tajam. Bagaimanapun juga, Yoga adalah sosok yang sudah membuat Keluarga Kusuma di dunia bela diri kuno rugi besar. Namun, sekarang orang ini ternyata berdiri di depan mereka dalam keadaan hidup."Huh! Nggak perlu banyak omong kosong. Serahkan Yoga atau kalian akan menjadi musuh Keluarga Husin," teriak Timothy dengan dingin."Kamu berani mengancamku? Keluarga Husin ternyata makin berani," kata Samsul dengan ekspresi dingin dan menggertakkan giginya. Sebagai sesama salah satu dari empat keluarga besar, dia tidak menerima Keluarga Husin berani mengancam Keluarga Kusuma.Saat ini, ekspresi semua orang yang berada di sana terlihat tegang dan suasana itu terasa makin panas.Tepat pada saat itu, Yoga kembali berulah dan berkata

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1299

    "Apa?" Semua orang yang berada di tempat itu terkejut dan ekspresi mereka terlihat sangat muram."Siapa mereka?" tanya Samsul dengan nada dingin."Mereka ... adalah orang-orang dari Keluarga Husin," jawab bawahan itu.Dalam sekejap, ekspresi semua orang menjadi muram. Mereka saling memandang dengan mengernyitkan alis karena merasa gelisah."Ini .... Kamu orang dari Keluarga Husin ya?" tanya Samsul yang tiba-tiba menoleh dan menatap Yoga dengan mata yang bersinar.Pada saat itu, Yoga baru perlahan-lahan berdiri dengan ekspresi bangga, lalu tersenyum dingin dan berkata dengan tenang, "Aku rasa aku nggak perlu menyembunyikan identitasku lagi, aku adalah Olga Husin.""Dasar bajingan! Jadi kamu ini orang dari Keluarga Husin, ternyata semua ini adalah konspirasi dari Keluarga Husin," teriak Samsul dengan marah."Benar. Sekarang kalian sudah tahu pun nggak ada gunanya lagi, nggak ada yang bisa menyelamatkan kalian. Bersiaplah untuk mati," teriak Yoga dengan lantang dan aura yang menekan.Kata

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1298

    Di bawah arahan pemimpin pengawal itu, Yoga dibawa ke sebuah tempat yang terbuka. Sudah ada tiga puluhan ahli yang berdiri tegak di sana dan menatap Yoga dengan ekspresi serius. Sementara itu, seorang paruh baya sedang duduk di kursi dan menunggu dengan tenang."Aku Samsul dari Keluarga Kusuma. Kamu orang dari Rumah Lelang Diseto yang menjual besi hitam?" tanya Samsul sambil mengamati Yoga dari atas ke bawah dengan tatapan yang tajam karena dia merasa ada yang tidak beres dengan pria yang seluruh tubuhnya tertutup ini. Aura di tubuh pria ini tidak terasa seperti orang tua, melainkan seorang pemuda.Sementara itu, tatapan Samsul yang tajam membuat Yoga merasa tidak nyaman.Yoga menjawab, "Benar, aku orangnya."Samsul berkata, "Barang yang kamu inginkan sudah siap. Kalau sudah setuju, kita bisa mulai bertransaksi sekarang."Yoga berkata, "Baiklah, tapi aku harus memeriksa barangnya dulu."Samsul pun menganggukkan kepala sebagai isyarat pada bawahannya.Tak lama kemudian, anggota Keluarga

  • Pembalasan sang Menantu Tertindas   Bab 1297

    Yoga berdiri tegak dengan aura penuh wibawa. Ekspresinya serius saat berbicara demikian. Kata-katanya langsung membuat Sutrisno tertegun.Ini ... ini pasti hanya bercanda, 'kan? Sutrisno bahkan merasa seperti sedang berkhayal. Seandainya orang lain yang mengatakan hal itu, dia pasti sudah marah. Namun sayangnya, orang yang mengatakannya adalah Yoga.Dalam suasana tegang ini, sebuah suara jernih tiba-tiba terdengar. "Kalau begitu, aku besok bisa melakukan apa?" Suara itu berasal dari seorang wanita yang melangkah masuk dari pintu. Sosoknya anggun dan menawan. Itu adalah Winola.Sutrisno langsung tersentak. Matanya membelalak tak percaya ketika bertanya, "Kamu ... sudah dengar semuanya?""Ya." Winola tidak berniat menyangkalnya. Dia pun mengangguk ringan. Dia telah mendengar cukup banyak, bahkan bisa menebak bahwa Yoga pasti sedang merencanakan sesuatu untuk besok.Terutama saat mendengar rencana Yoga untuk mengguncang dunia kultivator kuno. Di dalam hatinya, semangatnya menggebu-gebu. D

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status