Bab 2.
Suara derap langkah kaki di depan terdengar di telingaku. Bergegas aku keluar kamar. Aku merasa sangat lega akhirnya, Mas Seno pulang juga ke rumah.
Walaupun Mas Seno suami yang kasar, dia tetap suami yang harus aku hormati. Mataku tertuju pada kantong plastik yang di tenteng Mas Seno menuju dapur. Aroma wangi menusuk di indra penciumanku.
Begitu juga dengan Bagas dan Mona. Mereka mengendus-ngendus sambil berjalan. Membuntuti bau aroma harum yang menggugah selera sampai ke dapur menemui ayahnya.
“Wah! Kayaknya Ayah beli bakso. Untuk kami ya, Yah …?” tanya Bagas dengan sumringah bola mata yang terlihat berbinar sambil mengecap melihat ayahnya membuka kantong plastik berisi satu porsi bakso.
“Bukan! Ini untuk Ayah. Kalau mau beli, pergi sendiri sana ….” Mas Seno mengusir Bagas tanpa mengerti anak kandungnya sendiri.
“Bagaimana, aku mau beli bakso, Yah sedangkan Ibu nggak punya uang,” sahut Bagas polos tanpa takut menghadapi ayahnya.
“Kalau nggak punya duit ya kerja!” bentak Mas Seno kembali sambil melototkan mata.
Seketika itu Bagas terdiam sambil mengerucutkan bibirnya. Rasanya tak tega melihat anakku, seperti itu.
“Mas, apa salahnya sih, kasih anakmu bakso, dia, ‘kan pengen juga merasakan makanan itu.” Aku membujuk Mas Seno, supaya ia tak teredam emosi.
“Diam, kau! Mau aku tampar kayak semalam lagi. Satu bungkus bakso ini mana cukup!” hardiknya.
“Denger ya, Mas!! Kami dari semalam belum makan! Beras dan semua bahan keperluan dapur sudah habis. Sudah tau kamu punya anak dan istri, kenapa beli baksonya satu porsi!” teriakku dengan lantang tanpa takut sambil terisak serak menahan tangis.
Bagas yang melihat aku menangis hanya bisa mengusap lengan kananku.
“Sudah tahu beras habis, ya beli lah.” Mas Seno masih Menjawab tanpa berdosa dan tak acuh sambil menuang bakso ke dalam mangkuk lalu memakannya tanpa memperdulikan Bagas.
“Kau, pikir beli beras pakai daun nangka, Mas?!” raungku sembari menyeka air mata.
Mas Seno malah tak acuh, tetapi dengan santainya menghidupkan sebatang rokok lalu menyelipkannya di antara kedua bibirnya.
Aku terasa muak dengan tingkah lakunya. Bukan hanya hatiku menjerit sakit, tetapi batin dan pikiran yang sakit. Entah harus bagaimana lagi biar suamiku peduli terhadap istri dan anak.
Sebuah ide mulai terbesit di pikiranku. Daripada berdiam diri di rumah dengan keadaan perut yang lapar, bergegas aku menuang air masak ke dalam botol besar lalu mengajak Bagas serta kedua adiknya keluar.
“Kita, mau kemana Bu?” tanya putra sulungku sembari menerima botol yang aku berikan.
“Bagas, mau bakso ‘kan?” Kalau menginginkan sesuatu itu kita harus kerja dulu supaya dapat duit,” sindirku sembari melingkarkan kain jarik ke bahu. Sekilas aku melirik Seno tetap makan dengan santainya.
Karena aku sadar diri karena selama ini tidak bekerja dan tidak menghasilkan pundi-pundi uang. Makanya aku selalu diremehkan.
“Emang, mau kerja apa, Bu?” tanyanya lagi dengan mengerutkan dahi.
“Sudah, jangan banyak bicara, ikuti saja Ibu ….” Aku berjalan keluar tanpa pamit pada suamiku terlebih dahulu.
Bagas hanya mengangguk lalu berjalan mengikutiku sembari menggandeng tangan Mona.
Jujur saja dalam keadaan fisikku yang belum stabil habis melahirkan, harus tetap kuat demi anakku.
***
Sesampainya di rumah Pak RT, aku mulai mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
“Assalamualaikum,” tuturku dengan harap beliau ada di rumah.
“Walaikumsalam,” sahut seseorang dari dalam.
Tanpa berselang lama keluar lah perempuan gempal berusia kurang lebih 45 tahun dengan makeup yang menor yang sering di sebut Bu RT.
Terpampang dengan jelas aneka kue kering teronggok di atas meja tamu, aku yang melirik sekilas hanya bisa meneguk saliva.
“Ada perlu apa ya, Nak Dinda datang kemari?” tanya Bu RT yang bernama Sumi membuyarkan lamunanku.
“Itu … anu, apa boleh berondol sawit punya Ibu saya yang petik? Kebetulan saya butuh pekerjaan,” tuturku seraya menundukkan wajah.
Hening tak ada jawaban yang keluar dari mulut Bu RT, terlihat dari bola matanya melirik diriku dengan tatapan jijik.
Matanya tetap fokus melihat buah dadaku yang basah karena air Asi. Jangankan untuk membeli bra, untuk membeli makanan yang anakku inginkan saja aku tak mampu.
Lelah menunggu jawaban Bu RT, aku membalikkan tubuhku untuk kembali. Namun, langkahku tercekat kala Bu RT berteriak memanggil namaku.
“Karung untuk memasukan sawitnya, tuh di meja ambil saja ….” Dia menunjuk ke arah meja di samping kami.
Segera aku meraih beberapa karung besar yang tergulung rapi di atas meja.
“Apa, kamu sudah lepas empat puluh hari Dinda. Apa kamu kuat untuk bekerja?” Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut Bu RT.
Tampaknya dia sangat khawatir dengan diriku. Ternyata dugaanku tadi salah.
“Insya Allah kuat, Bu,” sahutku lalu beranjak pergi menuju jalan setapak kecil.
Untuk menuju perkebunan sawit milik Pak RT, agak jauh kalau berjalan kaki lagi pula harus melewati hamparan perkebunan sawit milik PT Abadi.
Kami tidak memiliki motor ataupun sepeda. Mas Seno saja kalau berangkat ke tempat bekerja menggunakan motor adiknya.
Gaji yang dimiliki Mas Seno entah raib ke mana, untuk membeli motor butut saja tak mampu apalagi membuat rumah ataupun membeli tanah.
Setelah sampai di tempat, aku membentangkan kain jarik supaya ketiga anakku tidak terkena paparan sinar matahari.
Tak lupa juga berpesan pada Bagas untuk tidak menyuruh Mona bermain di sekitar pohon sawit, Doni kubaringkan menggunakan alas karung yang bersih supaya dia nyenyak tidur.
Untung saja kali ini Mona tidak merengek dia malah asyik memainkan boneka barbie pemberian tetangga yang sudah lusuh.
Sebelum bekerja tak lupa, aku mengikat perutku menggunakan korset. Mengingat belum lepas empat puluh hari.
Aku mengusap wajahku dengan kasar lalu berjalan dengan gontai ke arah biji sawit yang berhamburan di tanah, setelah panen selesai mengambil buahnya di tandan.
Aku meringis kesakitan tatkala duri sawit menancap di ujung jariku, wajar saja tanganku tak menggunakan alas apapun, tetapi aku tetap semangat demi buah hatiku bisa makan.
Sudah dua jam aku mengais biji sawit di tanah, lumayan cukup banyak dapat sembilan karung. Gerimis datang melanda tetap saja aku melanjutkan pekerjaanku untuk memenuhi satu karung lagi.
Tampaknya di dekat ujung sana, ada pemanen yang baru saja selesai, memanen tandan buah sawit dengan segera aku menghampiri biji sawit yang banyak berhamburan di tanah, tetapi langkahku tercekat tatkala diriku di panggil pria pembawa buah sawit.
“Mbak, biji sawit yang dalam karung itu bawa saja dulu ke sini!” teriaknya dengan posisi masih di atas mobil besar beroda empat.
Dengan langkah tergesa-gesa aku membawa satu-persatu karung itu ke pria pembawa buah sawit.
“Sisa satu karung lagi, Dek. Tunggu dulu ya,” ucapku dengan napas tersengal.
Pria itu pun mengangguk, sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya yang sedang duduk di atas tumpukkan karung sawit.
Dengan cekatan dan penuh semangat, tangan yang sakit terkena duri sudah terlupakan olehku yang telah digantikan dengan ribuan biji sawit.
Setelah karung itu penuh oleh biji sawit, dan ingin mengangkatnya ke bahu tanpa aku sadari aku terperosok masuk ke dalam lubang yang sudah dipenuhi semak belukar.
Aku berteriak sekencang mungkin. Namun, tidak ada yang mendengar suaraku. Mungkin aku sudah masuk terlalu dalam dari jalan raya makanya tidak ada yang mendengar. Aku tidak mau mati membusuk dalam lubang ini.
Aku hanya bisa berucap dalam hati. masih ada buah hati yang aku rawat. Mereka masih membutuhkanku.
Bab 3.Dengan sekuat tenaga berusaha naik ke atas. Lubangnya cukupdalam aku khawatir ada ular atau sejenis binatang yang lain. Sudah beberapakali terjatuh kembali, tubuh yang lemah dan tak berdaya hanya bisa diam.Celanaku sampai basah karena lubang ini digenangi air.Tiba-tiba … telingaku mendengar suara bariton seorang priasetengah berlari ke arah lubang ini.“Apa ada seseorang di dalam sana!” teriaknya bersamaandengan bunyi ranting-ranting yang dipangkas.“Iya ada! Tolong aku … siapapun yang ada di atas tolongsaya!” Aku membalas teriakannya dengan lantang dan menggema.Akhirnya aku bisa bernapas lega. Allah masih memberi akuumur yang panjang dan bisa bertemu kembali dengan anak-anakku, tanpa sadarbulir bening menetes di pelupuk mata.Pria yang terbilang masih muda usianya menarik aku dengantali tambang yang ia dapatkan entah dari mana. Akhirnya aku bisa juga keluarwalaupun bersusah payah ditarik dengan tali.“Minum dulu …,” ucapnya seraya menyodorkan botol itu setelahmemb
Mas Seno? Aku tak menyangka suamiku berada di sana duduk berdampingandengan Winda, romantis sekali, seperti layaknya sepasang kekasih yang lagi kasmaran. Tak terkecuali ibu mertuaku serta keluarga inti Mas Seno juga ikut hadir di sana menikmati semangkuk bakso.Gelak tawa terukir di bibir masing-masing. Mereka sama sekali tidak mengingat aku dan anakku. Belum sempat aku memanggil Bagas untuk mengajak pulang, tanpa disadari ia terlebih dahulu melangkah kecil ke arah warung makan itu. “Ayah! Aku juga pengen makan bakso sama, seperti mereka!” Bagas berteriak dengan lantang memanggil Mas Seno lalu melangkah mendekati pelayan, jarinya menunjuk beraneka ragam bakso yang terhidang lengkap dengan mie tiau dan kuning di etalase.“Heh! Tolong, ya, Dinda anakmu itu diajari sopan santun, tidak punya tata krama sama sekali. Pantas anaknya bodoh nggak pernah di sekolahin sih!” Cantika adik iparku mulai bersuara sembari menyeruput es teh manis diselingi gelak tawa. Mendengarnya hatiku terasa dis
Sesampainya di rumah aku membersihkan tubuh ketiga anakku terlebih dahulu barulah diriku. Setelah itu menidurkan si bungsu lalu memasak nasi serta merebus talas yang Bagas ambil tadi.Dua telor ceplok terhidang di papan dapur yang sudah lapuk. Bagas, Mona dengan lahapnya menyantap bakso sembari terkekeh kecil, aku mencoba memberi mereka nasi supaya kenyang, tetapi mereka menolak, menyuruhku menyimpan nasi untuk makan malam nanti. Aku hanya tersenyum simpul menanggapi kedua anakku, besok aku akan mengajak mereka pergi bekerja lagi supaya apa yang mereka ingin makan tercapai walaupun dibilang tidak cukup untuk ke depannya.Pintu di depan diketuk dengan keras aku terkejut, jantungku terasa dipompa dengan cepat, aku sudah menduga akan mendapatkan masalah baru, pasti itu ibu mertuaku serta anak tututnya yang akan melabrak. “Bu, itu pintu depan diketuk, Bagas coba buka, ya Bu,” ujar Bagas bangkit ingin menuju pintu utama. “Jangan, Nak. Biar Ibu saja, bawa Mona ke kamar, jaga Doni sekali
Mas Seno menampar pipiku dengan keras, panas, sakit dan perih bercampur menjadi satu, mataku terbelalak, sedangkan Winda dan Cantika tersenyum sumringah menertawakanku. "Kau, sudah salah masih saja mengelak!" teriak Mas Seno berapi-api, jari telunjuknya menunjuk ke arah wajahku. "Memang salah apa, aku hah!" Aku tak kalahnya berteriak, tidak ada takut pada diriku menghadapi keluarga toxic, seperti mereka. "Kau, menggagalkan rencana pertunangan adikku, kenapa kau datang ke sana hah?!" Mas Seno tetap membentakku dengan kasar, tampak urat-urat lehernya menegang. Aku hanya meneguk saliva melihat kemarahan Mas Seno. Bagas dan Mona memelukku dengan erat tubuh mereka terasa begetar menahan takut. "Orang salah mana mau ngaku," celetuk Cantika melirikku dengan bola mata malas, kedua tangannya bersedekap di dada. "Aku bukan menggagalkan, tapi itu memang ulah kalian! Kenapa kalian menyalahkanku?!" Mendengar penuturanku wajah mereka bertambah bengis, terlihat hidung mereka kembang ke
"Kamu, naik nggak?! Kalau tidak tanganmu, aku patahkan!" Mas Seno terus memaksaku secara kasar, bahkan dengan tega meninggalkan cakaran pada lenganku.Aku, hanya bisa meringis menahan sakit, tetapi dia sama sekali tidak peduli. Tenaganya yang kuat membuat aku mengikuti Mas Seno naik kembali ke rumah lalu aku letakkan kembali pakaianku di tepi pintu."Heh! Jangan belagak sok kamu, ya, sudah mending aku mau mungut kamu untuk tinggal di rumah ini!" bentak ibu mertuaku dengan wajah bengisnya.Lalu mereka semuanya pergi kecuali Mas Seno, sedangkan aku masih berdiri terpaku di depan pintu melihat punggung mereka menghilang dibalik perumahan."Dengarkan aku, lusa ada acara di rumah ibuku, kamu tolong pergi ke sana untuk membantu, dan ingat kamu tidak boleh bekerja pada Pak Rt lagi memungut brondol sawit itu, buat aku malu saja," celetuk Mas Seno dengan posisi masih berdiri di depan pintu, tidak ada berbicara lembut dan baik di mulutnya."Maaf, Mas. Jangan larang aku untuk bekerja di kebun Pa
"Dinda! Kamu tidak apa-apa?! Ada yang terluka lagi?" tanya Rini dengan panik sembari membolak balik tubuhku.Melihat sikap perhatiannya membuat aku terasa nyaman bila ada dia di sini, aku memang butuh pendampingan agar otak tidak ngebleng dan plong."Ada, cuma sedikit, tapi tidak apa-apa," jawabku lemah dengan suara serak."Memang bangsat mereka! Keluarga toxic mau menang sendiri, untung saja aku tidak punya keluarga, seperti mereka." Rini memasang wajah monyong sembari ikut duduk di depan pintu, memijit tubuhku pelan."Mereka, ada mengusirmu,?" tanya Dimas, suami Rini dengan dahi bertaut, bola mata yang tetap fokus ke tas kecil yang aku bawa."Hmm, setelah aku benar-benar turun, mereka kembali menyuruh naik kembali, memang aneh mereka." Aku berdehem mataku tetap fokus ke depan."Ya, mereka memang keluarga aneh, ibu mertua kamu itu ya, aku kemarin tak sengaja dengar, ngomongin perihal rumah tangga orang itu nomor satu, dia berbicara seolah-olah jadi pahlawan, tapi tidak sadar, menant
Sosok wanita itu yang baru saja kami perbincangkan, sudah hadir di depan kami."Dasar mulut julid taunya ghibah!" cerca Winda pada kami yang entah apa maksudnya datang kemari membawa Chea."Suka-suka, aku dong! Kenapa kau yang sewot!" sindir Rini, tubuhnya dia lenggak-lenggokkan."Dasar wanita ular! Aku nggak ada keperluan sama kamu, ya," tunjuk Winda pada wajah Rini.Namun, tiba-tiba Rini menjambak dan mendorong Winda hingga terjengkang ke belakang, Winda mengaduh kesakitan dan bangkit sendiri."Sekali kau bilang aku ular, kucekik kau!" bentak Rini dengan tegas, entah apa dipikiran Rini sangat membenci Winda."Aduh! Sakit! Awas kau, ya, Rini, kalau aku sampai kenapa-kenapa, bisa ku tuntut, kau ya, bangsat!" pekik Winda tangannya sibuk mengelus perutnya."Hubungan hasil gelap, kok bangga sih, nggak takut dosa?! sindir Rini lagi mendelik dengan bola mata malas, lalu duduk di sampingku."Heh! Jangan fitnah kau, ya Rini. Aku mengandung jelas-jelas anak Rahmat." Winda tak terima wajahnya
Doni, si bungsu, sejak tadi sore sehabis mandi terus rewel dan menangis tiada henti, tubuhnya panas serta bibir memerah.Badanku ke sana kemari menggendong untuk menghiburnya. Mas Seno dari tadi belum datang ke rumah, membuat pikiranku kalut tak menentu."Ya, Allah, Nak, apa yang kamu sakitkan," batinku panik dalam hati, menatap dirinya yang terus menggeliat."Bu, biar Bagas ke rumah Nenek cari Ayah," celetuk anak sulungku menawarkan diri untuk ke rumah ibu mertuaku.Mengingat di luar sana, hujan lebat tiada henti serta petir kilat menyambar-nyambar membuat aku mengurungkan niat untuk menyuruh Bagas mencari ayahnya di sana."Jangan, Nak hujan masih deras, nanti kau sakit," jawabku cepat walaupun hatiku terus tak tenang.Tiba-tiba, tubuh Doni mengejang kaku, mata mendelik ke atas membuat aku panik seketika. Dengan cepat tanpa sadar aku turun dari rumah tanpa menggunakan payung sekali pun, badanku berbalik sebentar lalu berteriak nyaring pada Bagas."Diam di rumah jaga, Mona. Ibu mau ba
Aku mengetuk pintu yang tertutup, terdengar bunyi tangisan seseorang membuat aku memfokuskan indera pendengaranku."Kau dengar ngggak, Rik?" tanyaku seraya tangan ini menempelkan daun telinga."Iya, dengar kayaknya dari dalam deh suaranya." Riko lalu mendorong pintu perlahan ternyata pintu tidak dikunci.Terlihat Winda meringkuk, menenggelamkan kepala diantara kedua kaki, tubuhnya bergetar menangis.Suara berisik dari arah dapur terdengar sangat jelas membuat jantung terasa copot, aku dan Riko bergegas berlari ke dapur tanpa mempedulikan Winda terlebih dahulu.Pecahan piring dan tumpahan air di mana-mana, Seno, Pak Satono, Bu Marni, sedang beradu mulut satu sama lain terlihat baju mereka terkoyak serta rambut awut-awutan.Mereka semua berhenti lalu menatapku. Sudah aku duga pasti karena masalah Chea bukan anak Rahmat sudah pasti itu."Jangan lagi diributkan, nasi sudah jadi bubur, kalian harus menerima kosekuensinya, tak ada gunanya lagi dipermasalahkan, aku datang kemari lagi ada yan
"Ini pasti dianiaya ini," tutur Riko terus membolak balikan tubuh Chea."Dasar! Ibu nggak guna itu si Winda dan bibinya," kelakar Ririn memghentakkan tangan ."Ini harus lapor ke polisi ini agar bibinya di tangkap," usul Riko lalu kembali ke setir mobil."Nggak usah Rik, itu anak juga nggak apa-apa, sini Rin kasih ini dan beri minum," tolakku karena tak mau jadi masalah lagi seraya memberikan cemilan snack dan air putih.Setelah memakan beberapa roti dan meminum air Chea kembali enteng tak menangis, seperti tadi."Itu anak kelaparan, sudah berapa lama anak itu tak makan, lihat! Makan begitu lahap," tunjukku ke arah Chea yang masih di pangku Ririn.Jelas sekali aku melihat anak ini teringat dengan almarhum anakkku, terlintas dibenakku hatiku tersayat-sayat mengingat perlakuan si bangsat Seno, tunggu pembalasanku Seno."Kamu kenapa, menatap anak ini begitu, Din?" tanya Ririn kepadaku saat mobil mulai berjalan lagi."Tidak ada, cuma aku hanya teringat dengan almarhum, Mona," sahutku lema
"Winda! Ini anakmu, kamu saja yang urus, kami tak sanggup!" teriak Ibu bertubuh gempal itu berlari memberikan Chea yang sedang menangis sesenggukan kepada Winda. "Nggak! Ah! Bibi aja yang urus, aku sih ogah ngurus dia lagi kenapa juga bawa ke sini, sudah bawa pulang sana," usir Winda mendorong tubuh Chea dengan kasar. Tubuh anak kecil itu tampak kurus, dekil tak terurus, kasihan sekali anak itu. Plak! Satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Winda, Ibu yang bertubuh gempal memakai daster bunga menatap bengis, matanya melotot hampir keluar dari tempatnya. "Apa kau tak sadar ini anak hasil hubunganmu sama, suami Nita hah?! Kau lah yang urus bukan aku!" teriak Ibu itu kepada Winda lalu meletakkan Chea ke depan teras rumah lalu berlenggang melangkah. "Bibi! Tak kau lihat kah?! Dengan keadaanku sekarang, aku tak punya banyak uang untuk beri makan itu anak," kelakar Winda dengan lantang tak mempedulikan Chea menangis terduduk, Ririn yang tak tega segera mengambil anak itu.
Status yang dibuat Cantika di media sosial, terpampang di layar ponsel Ririn, seketika itu membuat emosiku, terpancing, hidungku kembang kempis menahan gejolak amarah yang meningkat, bagaimana tidak kutipan status itu, dirinya mengaku bahwa dialah pemilik sawit yang berjumlah 20 hektar itu. "Riko! Belok kiri antar mereka semua kembali ke rumah asal mereka," titahku dengan mata tetap fokus ke depan menahan emosi. Pak Satono dan Mas Seno tiada henti meminta maaf sedangkan Winda, ibu mertuaku, Cantika terdiam membisu. "Barang-barang kami masih di sana, Din," celetuk Mas Seno sembari meringis. "Besok! Biar Riko yang antar ke tempat kalian." Aku tanpa menoleh menatap mereka jijik. "Halah! Hanya buat status macam itu aja marahnya selangit! Kayak nggak boleh aja bikin orang seneng!" Cantika merengut, aku mendelik dari kaca spion di dalam mobil menatap bengis wajahnya. "Kok begitu sih, Din. Mau makan apa kalau kami pulang ke rumah yang lama," tutur Bu Marni tak terima, terlihat waj
"Wih! Enak, banget jadi mereka." Lagi-lagi Cantika merepet yang membuat diriku terbakar api amarah."Loh! Bisa diam nggak?! Sekarang kerja, ambil itu parang, jangan ada yang istirahat sebelum jam sepuluh!" bentakku kepada mereka yang hanya berdiri mematung saja."Aku, di sini saja, ya, Din. Hamil besar nih nggak bisa kerja berat," rengek Winda sembari memegang perutnya yang tampak sudah sangat besar."Nggak ada, kamu bisa nebas sedikit-sedikit pakai parang panjang itu, ibu hamil tua itu harus banyak bergerak agar persalinan nanti lancar," sahutku menolak lalu menunjuk parang yang tergeletak di tanah dilipat di dalam karung, "biaya persalinan itu mahal, Win, siapa yang mau menanggung jikalau tak kerja." Aku memberi penekanan supaya dia sadar diri."Halah! Mas Seno, 'kan ada, Din. Ini darah dagingnya seharusnya dia lah yang membiayai nanti." Winda berkelakar congkak, wajahnya mendongak ke arah Mas Seno yang sedang bersiap memanen sawit."Jangan banyak berkhayal, Win orang susah itu kerj
"Nak, Ibu selalu ada untukmu walaupun kau tak pernah diberi kasih sayang ayahmu, tapi Ibu 'kan ada. Apa Bagas tak ingat dengan perlakuan ayahmu dahulu," aku mencoba agar Bagas mengingat kisah masa lalunya yang begitu pahit."Ingat, Bu, tetap Bagas ingat, tapi kenapa dia datang ke rumah ini, Bu?" tanya Bagas berbalik padaku."Biarkan saja mereka di sini, Nak mereka katanya tak mempunyai tempat tinggal," sahutku merangkul kedua bahunya.Terlihat wajah Bagas terlihat ketus tak menjawab ucapanku lagi, ayahku merangkul Bagas hendak membawanya ke depan."Besok, Bagas pergi ke luar negeri lagi, bersamaku, Din." Ayah menoleh ke arahku sebentar.Biarkan saja Bagas pergi ke sana lagi, toh di rumah ini tidak akan membuatnya betah ada setan dalam rumah ini.***"Rin, Dimas, hari ini kita survey ke kebun sawit ku, ya sambil healing buang kotoran," sindirku sembari menoleh ke arah keluarga Mas Seno."Ciah! Ke kebun sawit healing, mending ke mall, ke tempat wisata, percuma banyak duit liburannya di
"Din, ambil napas, lalu hembuskan, 'kan aku sudah bilang jangan kau bawa mereka ke sini, jadi runyam, bukan? Mereka itu dasarnya memang tak tahu malu," celetuk Ririn duduk di tepi ranjang di sampingku."Aku membawa, mereka ke sini, memberi mereka pelajaran, Rin agar tak semena-mena denganku lagi, jujur Rin, aku dendam pada mereka,"jawabku berapi-api sembari mencengkram kuat alas kasurku."Dendam, tetapi kau bawa ke sini, tidak ada cara lain, membalaskan sakit hatimu, itu?" tanya Ririn.Baru ingin aku menjawab bunyi suara gaduh dari arah dapur terdengar nyaring, aku dan Ririn bergegas bangkit berlari tergopoh-gopoh.Mataku membulat dengan sempurna, melihat makanan di atas meja makan habis berserakan, piring dan gelas pecah berhamburan ke lantai.Terlihat Bik Nur, memungut pecahan beling di lantai ubin, ayahku menghela napas menyaksikan ini semua.Dimas dan Riko yang baru datang cepat membantu Bik Nur, memungut pecahan gelas dan piring itu."Hati-hati, kacanya, Nur," ujar Riko hati-hati
"Ada apa Bik Nur?" tanyaku juga, ikut panik apa yang sedang terjadi. "Itu, Non, keluarga yang baru itu, tadi teriak-teriak mau makan katanya, sudah aku bilang tunggu, Pak Gibran dan Nyonya Dinda dulu, mereka masih tak peduli." Bik Nur berbicara sembari napasnya terengah-engah. Aku yang mendengar mereka tak sabaran, seperti itu membuatku diriku naik pitam, bergegas aku melangkah sedikit berlari kecil. Telingaku mendengar Bik Nur memanggil ayahku serta Bagas. Benar saja yang dikatakan Bik Nur, mereka antusias menyusun makanan di atas meja, mata mereka berbinar melihat lau-pauk yang terpampang di atas meja, ayahku, Bagas, Riko, Ririn serta Dimas tergopoh-gopoh berlari dari belakang. "Eh! Dinda, kami sudah lapar, Din mau makan," celetuk ibu mertuaku tanpa ada rasa malu sedikit pun. "Maaf, di rumah ini makan malam sehabis shalat maghrib, bukan jam tiga sore, seperti ini," sahutku cepat dengan sorot mata tak suka memandang mereka. "Din! Biarkan saja mereka makan jam segini, mun
Aku ingin menguji berapa besar kesabaran mereka tinggal di rumah ini."Cantika! Cantika!" Suaraku menggelegar memanggil adik Mas Seno yang masih berada di dalam kamar.Lama daun pintu tak terbuka, terlihat Rahmat mengesot ke lantai ubin keluar dari kamar yang berbeda."Ada apa, Din? Ada yang bisa dibantu?" tanya Rahmat memperlihatkan wajah belas kasihnya kepadaku.Aku yang menatap dirinya merasa ada belas kasihan dengan keadaannya sekarang, tetapi lintasan pikiranku teringat dengan sikap jahat mulutnya membuat belas kasihku pudar."Aku bukan memanggil dirimu, yang aku panggil Cantika," ujarku seraya melipat kedua tangan."Biar aku saja, Din. Mungkin Cantika beristirahat," kilah Rahmat lagi yang membuat diriku semakin jengah."Cantika! Keluar mggak kamu sekarang!!!" Aku tak mempedulikan rengekan Rahmat, suaraku menggelegar pecah memanggil Cantika berulang kali.Knop pintu tampak diputar terlihat Cantika menyembul dari balik pintu, rambutnya acak-acakan, mata terlihat merem melek."Ada