Mas Seno? Aku tak menyangka suamiku berada di sana duduk berdampingan
dengan Winda, romantis sekali, seperti layaknya sepasang kekasih yang lagi kasmaran. Tak terkecuali ibu mertuaku serta keluarga inti Mas Seno juga ikut hadir di sana menikmati semangkuk bakso. Gelak tawa terukir di bibir masing-masing. Mereka sama sekali tidak mengingat aku dan anakku. Belum sempat aku memanggil Bagas untuk mengajak pulang, tanpa disadari ia terlebih dahulu melangkah kecil ke arah warung makan itu. “Ayah! Aku juga pengen makan bakso sama, seperti mereka!” Bagas berteriak dengan lantang memanggil Mas Seno lalu melangkah mendekati pelayan, jarinya menunjuk beraneka ragam bakso yang terhidang lengkap dengan mie tiau dan kuning di etalase. “Heh! Tolong, ya, Dinda anakmu itu diajari sopan santun, tidak punya tata krama sama sekali. Pantas anaknya bodoh nggak pernah di sekolahin sih!” Cantika adik iparku mulai bersuara sembari menyeruput es teh manis diselingi gelak tawa. Mendengarnya hatiku terasa disayat- sayat, napasku memburu, ingin rasanya aku jambak rambut dan menampar pipinya, tak ingin tersulut emosi bergegas aku melangkah menarik kasar tangan Bagas. Para sepasang mata menatap sinis ke arah kami serta berbisik-bisik ria. Hatiku terasa perih melihat Mas Seno sama sekali tidak peduli. Dia, tetap fokus dengan benda pipih di tangannya, dasar suami bangsat! “Ayo! Kita pulang, Nak, nanti kalo Ibu punya uang pasti bakal dibelikan kok, kita makan nasi saja di rumah, ya.” Aku terus membujuk Bagas dengan tegas, rasa tak tega hinggap di diriku, bibirku bergetar menahan tangis. Bagas memasang wajah cemberut sekilas ia melirik ayahnya lalu ke wajahku. Aku pun melotot tajam agar dirinya mengerti tidak bicara lagi. “Loh, kok nggak diajak makan bareng kita di sini menantunya, Mar?” tanya salah satu ibu-ibu memakai jilbab maron lengkap dengan baju lebarnya. Tampak wajah ibu mertuaku merah salah tingkah, gelagapan mungkin. Dia bingung mau jawab apa? Tenang Ibu aku akan menjawabnya dengan lugas. “Kalo, aku diajak mereka, pasti dunia akan runtuh, Bu!” Aku menjawab, omongan Ibu tadi, tamu yang glamor dan penuh perhiasan di jari-jemarinya. Seketika itu aku menyunggingkan senyum, mereka pikir aku sama, seperti dulu yang dijahati selalu diam, entah mendapatkan uji nyali dari mana hingga aku berani menyindir, biarlah setelah ini aku dapat masalah lagi. Mata keluarga suamiku semuanya terbelalak bak ingin keluar dari tempatnya, satu persatu aku balas dengan sama. Aku mencari keberadaan ayah mertua yang tidak ada di antara mereka. “Ya Allah. Kok begitu sih dengan menantu, tega amat Bu Marni.” Teman ibu mertuaku tadi menggeleng kepala, mengelus dada lalu bangkit menemui pelayan yang berada dekat panci kuah bakso. Entah apa yang beliau kerjakan aku tidak tahu. “Bu–bukan gitu besanku, itu cuma kesalahan kecil kok, kami lupa tadi bawa dia kemari ‘kan buru-buru.” Ibu mertuaku bergegas bangkit menemui wanita paru baya yang perhatian kepadaku. Ibu Mas Seno itu tampak menarik-narik lengan besannya. Perempuan yang aku tak tahu namanya itu diam tak mengggubris ucapan ibu mertuaku. Aku baru sadar ternyata acara ini acara pertemuan kedua mempelai tampak calon menantu laki-laki dekat dengan adik iparku. Ibu mertua tampak berbalik badan tergopoh-gopoh berjalan ke arahku. “Senang, kamu. Kami diperlakukan, seperti tadi? Kau ingat?! Kau itu numpang di rumahku jadi jangan ikut campur urusanku. Jangan sok cari muka kau,” bisik ibu mertuaku sembari mencubit kuat daging pinggangku. Seketika itu aku menjerit menepis tangannya dengan kasar bersamaan dengan si bungsu menggeliat di gendongan, semua beralih terkesiap termasuk calon besan ibu. “Astaghfirullah! Marni. Kamu apakan menantumu? Sampai meringis gitu?!” Calon besan ibu tergopoh-gopoh menghampiriku seraya membolak-balikan lingkar pinggangku. Semua orang yang semulanya duduk ricuh berdiri, diantara banyaknya mereka hanya dua pria yang menghampiri ibu-ibu yang tampak cemas tadi itupun anak dan suaminya. “Ratih, yang kamu lihat tadi bukan apa-apa, itu cuma karangan perempuan ini saja, perempuan ini pandai bermuka dua, percaya sama aku. Tih.” Ibu mertuaku mulai keluar wajah palsunya seolah-olah aku ini bohong dasar munafik! Aku sudah hafal betul tabiat ibu mertuaku. Dia yang provokator, tetapi aku pemain utamanya, aku yang selalu dibikin jahat semua orang, menantu kurang ajar itu yang selalu keluar dari lidahnya. “Apa, benar yang dikatakan ibu mertuamu, Nak?” tanya perempuan yang bernama Ratih itu kepadaku dengan suara lemah lembut, aku terasa nyaman berada di sisinya, andai saja aku mempunyai keluarga pasti nasibku tidak, seperti ini. Semua orang menatapku dengan serius, tatapan mereka seolah-olah mengintimidasiku, termasuk dua pria yang memakai jas di samping ibu Ratih. Aku menghela napas seraya merangkul erat bahu Bagas dan Mona, ini waktunya aku berbicara secara terang-terangan kepada semua orang bahwa aku menikah dengan Mas Seno tidak pernah diberi nafkah serta tidak pernah dianggap menantu dibagian keluarga ibu mertuaku. “Iya, Bu. Bukan satu kali ini saja mereka, seperti itu, bahkan sudah ratusan kali! Hanya gara-gara aku anak yatim piatu seenaknya jidat mereka memperlakukanku.” Aku menceritakan dengan suara tangis yang pecah, bibirku bergetar menahan derita yang aku alami. “Astaghfirullah! Marni! Kenapa kalian, seperti itu. Dia itu sebatang kara, seharusnya kalian beri kasih sayang, dan perhatian bukan perundungan, dasar toxic kalian,” tunjuk Ratih kepada ibu mertuaku termasuk adik ipar, Mas Seno serta Winda. “Tunggu dulu, Tan. itu semuanya tidak benar, perempuan ini berbohong. Dia itu selalu cari muka pada semua orang agar dikasihani, ya ,’kan, Win?” ujar Cantika bergegas menghampiri Ibu Ratih, lalu menoleh ke arah Winda. “Betul! Jangan menuduh mertua yang bukan-bukan, Din,” sahut Winda lalu melemparkan pandangan sinis ke arahku. “Aku tidak menuduh, Win, apa yang aku ucapkan itu benar nyata, semua orang di kampung ini mengira, aku menantu yang kurang ajar, tetapi malah kalian semua yang jahat padaku, keluarga toxic!” Aku berteriak sekerasnya sampai Winda terkejut. Mas Seno pun tak kalah samanya. Dia berdiri ikut andil di sini. “Maaf, Mbak kami membuat kekacauan di sini, berharap Anda mengerti, ya,” ujar Ibu Ratih minta maaf dengan pelayan warung seraya menangkupkan kedua tangan. Untungnya, Mbak itu paham lalu mengangguk. “Saya sudah curiga dari dulu dengan kamu, Mar. Jangan berbohong lagi, saya sudah tahu semuanya. Bobi masih mau kamu melanjutkan hubungan kamu sama, Cantika. Ibu tidak mau, ya, punya keluarga jahat, seperti mereka toxic! Takutnya nanti ketularan jahat.” Sindir Ibu Ratih memperlihatkan gaya jijiknya Ibu mertuaku tampak tertunduk malu. Apa aku salah telah mengacaukan semuanya? Tidak aku tidak salah, hanya saja mereka yang tak menghargai aku sebagai menantu. Tak berselang lama Ibu Ratih menerima dua kantong plastik pada pelayan warung, bau harum menyeruak tajam di indera penciuman, sudah lama aku tidak merasakan makanan harum itu, seingat aku waktu terakhir di panti asuhan saja aku bisa mencicipinya. “Ini terima, jangan sungkan, ya. Nak, saya ikhlas. Nanti kalau mereka jahat sama kamu lagi beritahu saya saja, setiap hari minggu saya selalu di sini.” Ibu Ratih menyodorkan dua kantong plastik hitam yang berisi bakso yang lengkap. Sembari berbisik di telingaku. Aku terpaku tergugu, beberapa kali aku menolak tetap saja kalah. Dia selalu memaksa aku menerima bakso itu akhirnya, aku mau mengambil walaupun sepasang mata menatap aku penuh kebencian. “Ayo, Pa. Bobi kita pulang!” Teriak Ibu Ratih kepada keluarganya sambil berlenggang ke arah mobil lalu menutupya dengan keras. Aku yang sadar Ibu Ratih telah pergi, bergegas membawa anak-anakku pulang ke rumah, berbagai umpatan dan cacian terdengar dari mulut keluargaku, aku tak menggubris ucapan mereka.Sesampainya di rumah aku membersihkan tubuh ketiga anakku terlebih dahulu barulah diriku. Setelah itu menidurkan si bungsu lalu memasak nasi serta merebus talas yang Bagas ambil tadi.Dua telor ceplok terhidang di papan dapur yang sudah lapuk. Bagas, Mona dengan lahapnya menyantap bakso sembari terkekeh kecil, aku mencoba memberi mereka nasi supaya kenyang, tetapi mereka menolak, menyuruhku menyimpan nasi untuk makan malam nanti. Aku hanya tersenyum simpul menanggapi kedua anakku, besok aku akan mengajak mereka pergi bekerja lagi supaya apa yang mereka ingin makan tercapai walaupun dibilang tidak cukup untuk ke depannya.Pintu di depan diketuk dengan keras aku terkejut, jantungku terasa dipompa dengan cepat, aku sudah menduga akan mendapatkan masalah baru, pasti itu ibu mertuaku serta anak tututnya yang akan melabrak. “Bu, itu pintu depan diketuk, Bagas coba buka, ya Bu,” ujar Bagas bangkit ingin menuju pintu utama. “Jangan, Nak. Biar Ibu saja, bawa Mona ke kamar, jaga Doni sekali
Mas Seno menampar pipiku dengan keras, panas, sakit dan perih bercampur menjadi satu, mataku terbelalak, sedangkan Winda dan Cantika tersenyum sumringah menertawakanku. "Kau, sudah salah masih saja mengelak!" teriak Mas Seno berapi-api, jari telunjuknya menunjuk ke arah wajahku. "Memang salah apa, aku hah!" Aku tak kalahnya berteriak, tidak ada takut pada diriku menghadapi keluarga toxic, seperti mereka. "Kau, menggagalkan rencana pertunangan adikku, kenapa kau datang ke sana hah?!" Mas Seno tetap membentakku dengan kasar, tampak urat-urat lehernya menegang. Aku hanya meneguk saliva melihat kemarahan Mas Seno. Bagas dan Mona memelukku dengan erat tubuh mereka terasa begetar menahan takut. "Orang salah mana mau ngaku," celetuk Cantika melirikku dengan bola mata malas, kedua tangannya bersedekap di dada. "Aku bukan menggagalkan, tapi itu memang ulah kalian! Kenapa kalian menyalahkanku?!" Mendengar penuturanku wajah mereka bertambah bengis, terlihat hidung mereka kembang ke
"Kamu, naik nggak?! Kalau tidak tanganmu, aku patahkan!" Mas Seno terus memaksaku secara kasar, bahkan dengan tega meninggalkan cakaran pada lenganku.Aku, hanya bisa meringis menahan sakit, tetapi dia sama sekali tidak peduli. Tenaganya yang kuat membuat aku mengikuti Mas Seno naik kembali ke rumah lalu aku letakkan kembali pakaianku di tepi pintu."Heh! Jangan belagak sok kamu, ya, sudah mending aku mau mungut kamu untuk tinggal di rumah ini!" bentak ibu mertuaku dengan wajah bengisnya.Lalu mereka semuanya pergi kecuali Mas Seno, sedangkan aku masih berdiri terpaku di depan pintu melihat punggung mereka menghilang dibalik perumahan."Dengarkan aku, lusa ada acara di rumah ibuku, kamu tolong pergi ke sana untuk membantu, dan ingat kamu tidak boleh bekerja pada Pak Rt lagi memungut brondol sawit itu, buat aku malu saja," celetuk Mas Seno dengan posisi masih berdiri di depan pintu, tidak ada berbicara lembut dan baik di mulutnya."Maaf, Mas. Jangan larang aku untuk bekerja di kebun Pa
"Dinda! Kamu tidak apa-apa?! Ada yang terluka lagi?" tanya Rini dengan panik sembari membolak balik tubuhku.Melihat sikap perhatiannya membuat aku terasa nyaman bila ada dia di sini, aku memang butuh pendampingan agar otak tidak ngebleng dan plong."Ada, cuma sedikit, tapi tidak apa-apa," jawabku lemah dengan suara serak."Memang bangsat mereka! Keluarga toxic mau menang sendiri, untung saja aku tidak punya keluarga, seperti mereka." Rini memasang wajah monyong sembari ikut duduk di depan pintu, memijit tubuhku pelan."Mereka, ada mengusirmu,?" tanya Dimas, suami Rini dengan dahi bertaut, bola mata yang tetap fokus ke tas kecil yang aku bawa."Hmm, setelah aku benar-benar turun, mereka kembali menyuruh naik kembali, memang aneh mereka." Aku berdehem mataku tetap fokus ke depan."Ya, mereka memang keluarga aneh, ibu mertua kamu itu ya, aku kemarin tak sengaja dengar, ngomongin perihal rumah tangga orang itu nomor satu, dia berbicara seolah-olah jadi pahlawan, tapi tidak sadar, menant
Sosok wanita itu yang baru saja kami perbincangkan, sudah hadir di depan kami."Dasar mulut julid taunya ghibah!" cerca Winda pada kami yang entah apa maksudnya datang kemari membawa Chea."Suka-suka, aku dong! Kenapa kau yang sewot!" sindir Rini, tubuhnya dia lenggak-lenggokkan."Dasar wanita ular! Aku nggak ada keperluan sama kamu, ya," tunjuk Winda pada wajah Rini.Namun, tiba-tiba Rini menjambak dan mendorong Winda hingga terjengkang ke belakang, Winda mengaduh kesakitan dan bangkit sendiri."Sekali kau bilang aku ular, kucekik kau!" bentak Rini dengan tegas, entah apa dipikiran Rini sangat membenci Winda."Aduh! Sakit! Awas kau, ya, Rini, kalau aku sampai kenapa-kenapa, bisa ku tuntut, kau ya, bangsat!" pekik Winda tangannya sibuk mengelus perutnya."Hubungan hasil gelap, kok bangga sih, nggak takut dosa?! sindir Rini lagi mendelik dengan bola mata malas, lalu duduk di sampingku."Heh! Jangan fitnah kau, ya Rini. Aku mengandung jelas-jelas anak Rahmat." Winda tak terima wajahnya
Doni, si bungsu, sejak tadi sore sehabis mandi terus rewel dan menangis tiada henti, tubuhnya panas serta bibir memerah.Badanku ke sana kemari menggendong untuk menghiburnya. Mas Seno dari tadi belum datang ke rumah, membuat pikiranku kalut tak menentu."Ya, Allah, Nak, apa yang kamu sakitkan," batinku panik dalam hati, menatap dirinya yang terus menggeliat."Bu, biar Bagas ke rumah Nenek cari Ayah," celetuk anak sulungku menawarkan diri untuk ke rumah ibu mertuaku.Mengingat di luar sana, hujan lebat tiada henti serta petir kilat menyambar-nyambar membuat aku mengurungkan niat untuk menyuruh Bagas mencari ayahnya di sana."Jangan, Nak hujan masih deras, nanti kau sakit," jawabku cepat walaupun hatiku terus tak tenang.Tiba-tiba, tubuh Doni mengejang kaku, mata mendelik ke atas membuat aku panik seketika. Dengan cepat tanpa sadar aku turun dari rumah tanpa menggunakan payung sekali pun, badanku berbalik sebentar lalu berteriak nyaring pada Bagas."Diam di rumah jaga, Mona. Ibu mau ba
"Rin, aku tak nyaman, biar kamu saja yang mengantarkanku," ujarku terasa enggan untuk naik."Baik lah, tunggu sebentar." Dengan cepat Rini menyambar switer rajut di kursi lalu mengenakannya, tak lupa dia membawa payung."Kamu di tengah biar aku di belakang Pegang payung, ayo Bang cepat!" pekiknya lalu aku dengan cepat duduk di tengah sambil menggendong Doni.Kami bonceng tiga dalam satu motor. Deru mesin motor menyala lalu membelah jalan gang menuju jalan besar aspal, di tengah-tengah hujan aku terus merasakan tubuh Doni semakin kaku. Air mata terus membanjiri walaupun tidak ada suara dalam tangisku."Cepat, Bang kok lelet amat jalannya!" sentak Rini walaupun suaranya kalah dengan desiran air hujan masih dapat di dengar, seraya terus mencubit perut suaminya."Ini, udah ngebut sayang! Ngebut macam mana lagi pula!" Dimas tak kalah paniknya sembari terus membawa motor dalam kecepatan tinggi.Setelah cukup lama akhrinya, motor telah sampai di gang perumahan yang elit, motor terparkir tep
Tepat pukul enam pagi, para tetangga termasuk para laki-laki sudah berkumpul di rumah, yang membuat hatiku terasasesak, bapak-bapak yang bersiap untuk menggali makam meminta bayaran terlebih dahulu."Sebelum menggali makam, uangnya dulu dulu, dong," celetuk salah satu bapak-bapak bertubuh cungkring.Aku mendadak panik mengingat diriku tidak ada simpanan uang, meminta pada Mas Seno dari semalam belum menampakkan batang hidungnya."Biar, kami saja yang bayar, nih ambil, gali makam secepatnya," kelakar Rini seraya memberi Bapak itu beberapa lembaran uang.Aku terasa tak nyaman pada Rini, sudah menolongku sekian kalinya."Kalau aku ada uang nanti aku bayar, ya, Rin," timpalku menunduk wajah malu karena dilihat banyak para tetangga."Tidak, apa-apa, aku sudah mengganggap kau sebagai saudaraku sendiri."Hatiku terenyuh mendengar penuturan sahabatku Rini, yang dengan tulus menolongku. Lamunan kami terbuyar tarkala ibu mertuaku, beserta antek-anteknya yang aku benci termasuk si bangsat suami
Aku mengetuk pintu yang tertutup, terdengar bunyi tangisan seseorang membuat aku memfokuskan indera pendengaranku."Kau dengar ngggak, Rik?" tanyaku seraya tangan ini menempelkan daun telinga."Iya, dengar kayaknya dari dalam deh suaranya." Riko lalu mendorong pintu perlahan ternyata pintu tidak dikunci.Terlihat Winda meringkuk, menenggelamkan kepala diantara kedua kaki, tubuhnya bergetar menangis.Suara berisik dari arah dapur terdengar sangat jelas membuat jantung terasa copot, aku dan Riko bergegas berlari ke dapur tanpa mempedulikan Winda terlebih dahulu.Pecahan piring dan tumpahan air di mana-mana, Seno, Pak Satono, Bu Marni, sedang beradu mulut satu sama lain terlihat baju mereka terkoyak serta rambut awut-awutan.Mereka semua berhenti lalu menatapku. Sudah aku duga pasti karena masalah Chea bukan anak Rahmat sudah pasti itu."Jangan lagi diributkan, nasi sudah jadi bubur, kalian harus menerima kosekuensinya, tak ada gunanya lagi dipermasalahkan, aku datang kemari lagi ada yan
"Ini pasti dianiaya ini," tutur Riko terus membolak balikan tubuh Chea."Dasar! Ibu nggak guna itu si Winda dan bibinya," kelakar Ririn memghentakkan tangan ."Ini harus lapor ke polisi ini agar bibinya di tangkap," usul Riko lalu kembali ke setir mobil."Nggak usah Rik, itu anak juga nggak apa-apa, sini Rin kasih ini dan beri minum," tolakku karena tak mau jadi masalah lagi seraya memberikan cemilan snack dan air putih.Setelah memakan beberapa roti dan meminum air Chea kembali enteng tak menangis, seperti tadi."Itu anak kelaparan, sudah berapa lama anak itu tak makan, lihat! Makan begitu lahap," tunjukku ke arah Chea yang masih di pangku Ririn.Jelas sekali aku melihat anak ini teringat dengan almarhum anakkku, terlintas dibenakku hatiku tersayat-sayat mengingat perlakuan si bangsat Seno, tunggu pembalasanku Seno."Kamu kenapa, menatap anak ini begitu, Din?" tanya Ririn kepadaku saat mobil mulai berjalan lagi."Tidak ada, cuma aku hanya teringat dengan almarhum, Mona," sahutku lema
"Winda! Ini anakmu, kamu saja yang urus, kami tak sanggup!" teriak Ibu bertubuh gempal itu berlari memberikan Chea yang sedang menangis sesenggukan kepada Winda. "Nggak! Ah! Bibi aja yang urus, aku sih ogah ngurus dia lagi kenapa juga bawa ke sini, sudah bawa pulang sana," usir Winda mendorong tubuh Chea dengan kasar. Tubuh anak kecil itu tampak kurus, dekil tak terurus, kasihan sekali anak itu. Plak! Satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Winda, Ibu yang bertubuh gempal memakai daster bunga menatap bengis, matanya melotot hampir keluar dari tempatnya. "Apa kau tak sadar ini anak hasil hubunganmu sama, suami Nita hah?! Kau lah yang urus bukan aku!" teriak Ibu itu kepada Winda lalu meletakkan Chea ke depan teras rumah lalu berlenggang melangkah. "Bibi! Tak kau lihat kah?! Dengan keadaanku sekarang, aku tak punya banyak uang untuk beri makan itu anak," kelakar Winda dengan lantang tak mempedulikan Chea menangis terduduk, Ririn yang tak tega segera mengambil anak itu.
Status yang dibuat Cantika di media sosial, terpampang di layar ponsel Ririn, seketika itu membuat emosiku, terpancing, hidungku kembang kempis menahan gejolak amarah yang meningkat, bagaimana tidak kutipan status itu, dirinya mengaku bahwa dialah pemilik sawit yang berjumlah 20 hektar itu. "Riko! Belok kiri antar mereka semua kembali ke rumah asal mereka," titahku dengan mata tetap fokus ke depan menahan emosi. Pak Satono dan Mas Seno tiada henti meminta maaf sedangkan Winda, ibu mertuaku, Cantika terdiam membisu. "Barang-barang kami masih di sana, Din," celetuk Mas Seno sembari meringis. "Besok! Biar Riko yang antar ke tempat kalian." Aku tanpa menoleh menatap mereka jijik. "Halah! Hanya buat status macam itu aja marahnya selangit! Kayak nggak boleh aja bikin orang seneng!" Cantika merengut, aku mendelik dari kaca spion di dalam mobil menatap bengis wajahnya. "Kok begitu sih, Din. Mau makan apa kalau kami pulang ke rumah yang lama," tutur Bu Marni tak terima, terlihat waj
"Wih! Enak, banget jadi mereka." Lagi-lagi Cantika merepet yang membuat diriku terbakar api amarah."Loh! Bisa diam nggak?! Sekarang kerja, ambil itu parang, jangan ada yang istirahat sebelum jam sepuluh!" bentakku kepada mereka yang hanya berdiri mematung saja."Aku, di sini saja, ya, Din. Hamil besar nih nggak bisa kerja berat," rengek Winda sembari memegang perutnya yang tampak sudah sangat besar."Nggak ada, kamu bisa nebas sedikit-sedikit pakai parang panjang itu, ibu hamil tua itu harus banyak bergerak agar persalinan nanti lancar," sahutku menolak lalu menunjuk parang yang tergeletak di tanah dilipat di dalam karung, "biaya persalinan itu mahal, Win, siapa yang mau menanggung jikalau tak kerja." Aku memberi penekanan supaya dia sadar diri."Halah! Mas Seno, 'kan ada, Din. Ini darah dagingnya seharusnya dia lah yang membiayai nanti." Winda berkelakar congkak, wajahnya mendongak ke arah Mas Seno yang sedang bersiap memanen sawit."Jangan banyak berkhayal, Win orang susah itu kerj
"Nak, Ibu selalu ada untukmu walaupun kau tak pernah diberi kasih sayang ayahmu, tapi Ibu 'kan ada. Apa Bagas tak ingat dengan perlakuan ayahmu dahulu," aku mencoba agar Bagas mengingat kisah masa lalunya yang begitu pahit."Ingat, Bu, tetap Bagas ingat, tapi kenapa dia datang ke rumah ini, Bu?" tanya Bagas berbalik padaku."Biarkan saja mereka di sini, Nak mereka katanya tak mempunyai tempat tinggal," sahutku merangkul kedua bahunya.Terlihat wajah Bagas terlihat ketus tak menjawab ucapanku lagi, ayahku merangkul Bagas hendak membawanya ke depan."Besok, Bagas pergi ke luar negeri lagi, bersamaku, Din." Ayah menoleh ke arahku sebentar.Biarkan saja Bagas pergi ke sana lagi, toh di rumah ini tidak akan membuatnya betah ada setan dalam rumah ini.***"Rin, Dimas, hari ini kita survey ke kebun sawit ku, ya sambil healing buang kotoran," sindirku sembari menoleh ke arah keluarga Mas Seno."Ciah! Ke kebun sawit healing, mending ke mall, ke tempat wisata, percuma banyak duit liburannya di
"Din, ambil napas, lalu hembuskan, 'kan aku sudah bilang jangan kau bawa mereka ke sini, jadi runyam, bukan? Mereka itu dasarnya memang tak tahu malu," celetuk Ririn duduk di tepi ranjang di sampingku."Aku membawa, mereka ke sini, memberi mereka pelajaran, Rin agar tak semena-mena denganku lagi, jujur Rin, aku dendam pada mereka,"jawabku berapi-api sembari mencengkram kuat alas kasurku."Dendam, tetapi kau bawa ke sini, tidak ada cara lain, membalaskan sakit hatimu, itu?" tanya Ririn.Baru ingin aku menjawab bunyi suara gaduh dari arah dapur terdengar nyaring, aku dan Ririn bergegas bangkit berlari tergopoh-gopoh.Mataku membulat dengan sempurna, melihat makanan di atas meja makan habis berserakan, piring dan gelas pecah berhamburan ke lantai.Terlihat Bik Nur, memungut pecahan beling di lantai ubin, ayahku menghela napas menyaksikan ini semua.Dimas dan Riko yang baru datang cepat membantu Bik Nur, memungut pecahan gelas dan piring itu."Hati-hati, kacanya, Nur," ujar Riko hati-hati
"Ada apa Bik Nur?" tanyaku juga, ikut panik apa yang sedang terjadi. "Itu, Non, keluarga yang baru itu, tadi teriak-teriak mau makan katanya, sudah aku bilang tunggu, Pak Gibran dan Nyonya Dinda dulu, mereka masih tak peduli." Bik Nur berbicara sembari napasnya terengah-engah. Aku yang mendengar mereka tak sabaran, seperti itu membuatku diriku naik pitam, bergegas aku melangkah sedikit berlari kecil. Telingaku mendengar Bik Nur memanggil ayahku serta Bagas. Benar saja yang dikatakan Bik Nur, mereka antusias menyusun makanan di atas meja, mata mereka berbinar melihat lau-pauk yang terpampang di atas meja, ayahku, Bagas, Riko, Ririn serta Dimas tergopoh-gopoh berlari dari belakang. "Eh! Dinda, kami sudah lapar, Din mau makan," celetuk ibu mertuaku tanpa ada rasa malu sedikit pun. "Maaf, di rumah ini makan malam sehabis shalat maghrib, bukan jam tiga sore, seperti ini," sahutku cepat dengan sorot mata tak suka memandang mereka. "Din! Biarkan saja mereka makan jam segini, mun
Aku ingin menguji berapa besar kesabaran mereka tinggal di rumah ini."Cantika! Cantika!" Suaraku menggelegar memanggil adik Mas Seno yang masih berada di dalam kamar.Lama daun pintu tak terbuka, terlihat Rahmat mengesot ke lantai ubin keluar dari kamar yang berbeda."Ada apa, Din? Ada yang bisa dibantu?" tanya Rahmat memperlihatkan wajah belas kasihnya kepadaku.Aku yang menatap dirinya merasa ada belas kasihan dengan keadaannya sekarang, tetapi lintasan pikiranku teringat dengan sikap jahat mulutnya membuat belas kasihku pudar."Aku bukan memanggil dirimu, yang aku panggil Cantika," ujarku seraya melipat kedua tangan."Biar aku saja, Din. Mungkin Cantika beristirahat," kilah Rahmat lagi yang membuat diriku semakin jengah."Cantika! Keluar mggak kamu sekarang!!!" Aku tak mempedulikan rengekan Rahmat, suaraku menggelegar pecah memanggil Cantika berulang kali.Knop pintu tampak diputar terlihat Cantika menyembul dari balik pintu, rambutnya acak-acakan, mata terlihat merem melek."Ada