Sesampainya di rumah aku membersihkan tubuh ketiga anakku terlebih dahulu barulah diriku. Setelah itu menidurkan si bungsu lalu memasak nasi serta merebus talas yang Bagas ambil tadi.
Dua telor ceplok terhidang di papan dapur yang sudah lapuk. Bagas, Mona dengan lahapnya menyantap bakso sembari terkekeh kecil, aku mencoba memberi mereka nasi supaya kenyang, tetapi mereka menolak, menyuruhku menyimpan nasi untuk makan malam nanti. Aku hanya tersenyum simpul menanggapi kedua anakku, besok aku akan mengajak mereka pergi bekerja lagi supaya apa yang mereka ingin makan tercapai walaupun dibilang tidak cukup untuk ke depannya. Pintu di depan diketuk dengan keras aku terkejut, jantungku terasa dipompa dengan cepat, aku sudah menduga akan mendapatkan masalah baru, pasti itu ibu mertuaku serta anak tututnya yang akan melabrak. “Bu, itu pintu depan diketuk, Bagas coba buka, ya Bu,” ujar Bagas bangkit ingin menuju pintu utama. “Jangan, Nak. Biar Ibu saja, bawa Mona ke kamar, jaga Doni sekalian ya.” Pintaku pada Bagas lalu beranjak ke depan. Sebelum membuka pintu, aku menghembuskan napas kasar, aku harus siap menghadapi mereka lagi. Namun, aku terkejut jikalau tamuku itu bukan ibu mertua melainkan Rini tetanggaku sekaligus teman karibku. “Assalamualaikum, Din, apa kabar kamu?” tanya Rini, terlihat kanan kirinya menenteng banyak bingkisan. “Kabar baik, Rin. Ayo silakan masuk.” Sebelum mempersilahkan Rini duduk. Kami berpelukan cukup lama untuk melepas rindu, sudah 2 bulan aku tidak bertemu Rini karena beliau ada urusan di kota. “Anakmu, mana. Din? Ini ada sedikit oleh-oleh untuk mereka,” ujar Rini dengan senyum sumringah sembari memperlihatkan beberapa kantong kresek yang berisi cemilan dan sembako. Rini setiap kali datang dari kota tidak pernah ketinggalan membelikan oleh-oleh untuk kedua anakku. Layaknya, seperti kerabat sendiri padahal dia bukan siapa-siapa aku. Rini dan Mas Dimas adalah tetangga yang tak jauh dari rumahku. Mereka berdua memang suka dengan anak kecil, sayangnya belum dikaruniai anak. Tanpa dipanggil Bagas dan Mona keluar dari kamar dan ikut duduk di samping Rini sembari mengobrak-abrik kantong plastik hitam. “Kantong yang satunya bawa ke dapur, ya, Nak,” ucapku dengan lembut pada Bagas menyuruh membawa sembako itu ke belakang. “Eh, Din. Ayo duduk di depan ada yang aku ingin omongin sama kamu. Mumpung si bungsu tidur,” ajaknya lalu bangkit menuju depan lalu duduk di amben teras lesehan. Aku pun ikut duduk santai melepas penat sembari menikmati semilir angin sore, segar. Aku mengerjapkan mata tersenyum, seperti tidak ada beban hidup, padahal cukup rumit. “Kamu, tau nggak Din, istri Rahmat sedang hamil loh, tiga bulan lagi ….”Rini berbisik ria di telingaku dengan khas julidnya yang tinggi. “Emang kenapa. Dia hamil, Rin, ‘kan sudah bersuami?” tanyaku dengan dahi berkerut. “Apa, kamu nggak curiga, Din? Rahmat jarang sekali pulang dari kota, kadang satu minggu sekali.” Aku terdiam apa yang dikatakan Rini ada betulnya, tetapi semalam Rahmat ada di rumahku, itupun cuma sebentar lalu pergi ke kota lagi. “Hus, jangan bicara yang tidak-tidak, Rin. Fitnah nanti.” Aku menyuruh Rini jangan membicarakan Winda lagi, jengah rasanya. “Yang membuat aku heran itu, Din. Winda selalu nempel sama Seno kayak perangko. Emang ada, ya kakak ipar dekat gitu dengan istri adiknya sendiri?” tanya Rini dengan heran. Penuturannya membuat jantungku berdegup dengan kencang, rasa waspada menyelimuti hatiku bukan Rini saja yang heran aku juga merasa heran kenapa mereka sedekat itu. Semoga kedekatan mereka hanya sebatas adik ipar saja. “Biasa itu, Rin, ‘kan. Winda selalu minta tolong sama suamiku, wajar saja mereka dekat.” Aku mencairkan suasana supaya Rini tidak beprasangka buruk tentang keluargaku. Rini hanya melirik diriku lalu terdiam. “Hati-hati kamu, Din. Waspada! Jangan sampai suamimu main belakang,” ujar Rini lagi. Aku terdiam mendengar Rini memberi wejangan. Dari kejauhan mataku menangkap bayangan orang yang aku sangat kenal. Mereka tampak tergesa-gesa menuju kemari, apa yang aku takutkan akan terjadi, tubuhku terasa bergetar, mengamit jari-jemari agar tidak canggung. Aku mulai bangkit berdiri pasang badan, sewaktu-waktu mereka main tangan aku terlebih dahulu waspada agar terhindar. Rini yang melihat mereka datang berdiri mematung. “Mereka datang mau apa lagi, Din? Kamu ada buat salah lagi sama mereka?”tanya Rini takut-takut. Biasanya siapa saja yang adu duel, seperti ini, Rini akan terlebih dahulu pasang kuda-kuda melawan geng musuh yang suka julid atau membicarakan keburukan dirinya, tidak halnya dengan menghadapi keluarga Mas Seno, nyali Rini mulai menciut. Bukan hanya tubuh saja yang babak belur melainkan hati juga ikut terluka, bahkan sakit hati. Bagaimana tidak, ibu mertuaku tak segan-segan melontarkan kata-kata tajam menohok, dari ujung sampai akar-akarnya sekali pun. “Itu, Dinda! Kasih pelajaran dia, Bu!” pekik Cantika dan Winda berjalan beriringan dengan ibu mertuaku. Jalan mereka mengangkang seraya mengangkat daster masing-masing sampai lutut. Dari arah belakang menyembul tubuh Mas Seno dengan ayah mertuaku. Sampai satu keluarga datang ke sini, aku harus tenang menghadapi mereka, jangan takut Dinda, aku mencoba menenangkan diriku sendiri. “Eh ada temannya juga rupanya? Teman si mandul Dinda,” cibir Winda menyinggung Rini seraya melipat kedua tangan di dada. “Heh!! Tolong jaga ucapanmu ya, Win. Mandul-mandul gini aku masih punya harga diri untuk mendekati suami orang! Camkan itu!” Rini melawan menunjuk wajah Winda, tubuh mereka sangat dekat. “Sudah-sudah! Diam! Kami tidak ada urusan sama kamu sama sekali, silakan pergi dari rumahku!” usir ibu mertuaku pada Rini. “Baik aku akan pergi! Dasar perempuan pamer! baru punya rumah, seperti ini saja sombongnya minta ampun. Dinda kamu jangan diam, lawan mereka apa perlu pergi saja kau dari sini,” tutur Rini mencebik lalu melemparkan pembicaraan lembut padaku. Aku hanya mengangguk tersenyum tipis menanggapi ucapan sahabat karibku. “Dasar perempuan sinting! Emang kamu kaya?! Emang kamu banyak rumah buat nampung Dinda?! Dasar sok kaya!” pekik ibu mertua lalu diiringi seruan Cantika dan Winda. Rini masa bodoh. Dia berlalu pergi begitu saja, tanpa menoleh ke belakang atau menyahuti ucapan keluarga suamiku. Berbalik dengan diriku sekarang sudah siap menerima apa yang akan mereka lontarkan sekarang. Mas Seno menatap wajahku dengan bengis, tersirat kebencian penuh pada dirinya. Wajah Winda dan Cantika melirik sinis ke arahku, mataku menatap pada perut Winda yang ternyata benar kata Rini. Winda saat ini sedang mengandung terlihat perutnya sedikit buncit yang diperkirakan sekitar 4 bulan. “Mau apa kalian datang ke sini?” tanyaku tegas sembari mendongakkan kepala. “Ih, sombongnya minta ampun kaya tuan rumah saja,” cibir Winda menatap aku dengan bola mata dengan malas. Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiriku, terasa panas, sakit perih menjadi satu.Mas Seno menampar pipiku dengan keras, panas, sakit dan perih bercampur menjadi satu, mataku terbelalak, sedangkan Winda dan Cantika tersenyum sumringah menertawakanku. "Kau, sudah salah masih saja mengelak!" teriak Mas Seno berapi-api, jari telunjuknya menunjuk ke arah wajahku. "Memang salah apa, aku hah!" Aku tak kalahnya berteriak, tidak ada takut pada diriku menghadapi keluarga toxic, seperti mereka. "Kau, menggagalkan rencana pertunangan adikku, kenapa kau datang ke sana hah?!" Mas Seno tetap membentakku dengan kasar, tampak urat-urat lehernya menegang. Aku hanya meneguk saliva melihat kemarahan Mas Seno. Bagas dan Mona memelukku dengan erat tubuh mereka terasa begetar menahan takut. "Orang salah mana mau ngaku," celetuk Cantika melirikku dengan bola mata malas, kedua tangannya bersedekap di dada. "Aku bukan menggagalkan, tapi itu memang ulah kalian! Kenapa kalian menyalahkanku?!" Mendengar penuturanku wajah mereka bertambah bengis, terlihat hidung mereka kembang ke
"Kamu, naik nggak?! Kalau tidak tanganmu, aku patahkan!" Mas Seno terus memaksaku secara kasar, bahkan dengan tega meninggalkan cakaran pada lenganku.Aku, hanya bisa meringis menahan sakit, tetapi dia sama sekali tidak peduli. Tenaganya yang kuat membuat aku mengikuti Mas Seno naik kembali ke rumah lalu aku letakkan kembali pakaianku di tepi pintu."Heh! Jangan belagak sok kamu, ya, sudah mending aku mau mungut kamu untuk tinggal di rumah ini!" bentak ibu mertuaku dengan wajah bengisnya.Lalu mereka semuanya pergi kecuali Mas Seno, sedangkan aku masih berdiri terpaku di depan pintu melihat punggung mereka menghilang dibalik perumahan."Dengarkan aku, lusa ada acara di rumah ibuku, kamu tolong pergi ke sana untuk membantu, dan ingat kamu tidak boleh bekerja pada Pak Rt lagi memungut brondol sawit itu, buat aku malu saja," celetuk Mas Seno dengan posisi masih berdiri di depan pintu, tidak ada berbicara lembut dan baik di mulutnya."Maaf, Mas. Jangan larang aku untuk bekerja di kebun Pa
"Dinda! Kamu tidak apa-apa?! Ada yang terluka lagi?" tanya Rini dengan panik sembari membolak balik tubuhku.Melihat sikap perhatiannya membuat aku terasa nyaman bila ada dia di sini, aku memang butuh pendampingan agar otak tidak ngebleng dan plong."Ada, cuma sedikit, tapi tidak apa-apa," jawabku lemah dengan suara serak."Memang bangsat mereka! Keluarga toxic mau menang sendiri, untung saja aku tidak punya keluarga, seperti mereka." Rini memasang wajah monyong sembari ikut duduk di depan pintu, memijit tubuhku pelan."Mereka, ada mengusirmu,?" tanya Dimas, suami Rini dengan dahi bertaut, bola mata yang tetap fokus ke tas kecil yang aku bawa."Hmm, setelah aku benar-benar turun, mereka kembali menyuruh naik kembali, memang aneh mereka." Aku berdehem mataku tetap fokus ke depan."Ya, mereka memang keluarga aneh, ibu mertua kamu itu ya, aku kemarin tak sengaja dengar, ngomongin perihal rumah tangga orang itu nomor satu, dia berbicara seolah-olah jadi pahlawan, tapi tidak sadar, menant
Sosok wanita itu yang baru saja kami perbincangkan, sudah hadir di depan kami."Dasar mulut julid taunya ghibah!" cerca Winda pada kami yang entah apa maksudnya datang kemari membawa Chea."Suka-suka, aku dong! Kenapa kau yang sewot!" sindir Rini, tubuhnya dia lenggak-lenggokkan."Dasar wanita ular! Aku nggak ada keperluan sama kamu, ya," tunjuk Winda pada wajah Rini.Namun, tiba-tiba Rini menjambak dan mendorong Winda hingga terjengkang ke belakang, Winda mengaduh kesakitan dan bangkit sendiri."Sekali kau bilang aku ular, kucekik kau!" bentak Rini dengan tegas, entah apa dipikiran Rini sangat membenci Winda."Aduh! Sakit! Awas kau, ya, Rini, kalau aku sampai kenapa-kenapa, bisa ku tuntut, kau ya, bangsat!" pekik Winda tangannya sibuk mengelus perutnya."Hubungan hasil gelap, kok bangga sih, nggak takut dosa?! sindir Rini lagi mendelik dengan bola mata malas, lalu duduk di sampingku."Heh! Jangan fitnah kau, ya Rini. Aku mengandung jelas-jelas anak Rahmat." Winda tak terima wajahnya
Doni, si bungsu, sejak tadi sore sehabis mandi terus rewel dan menangis tiada henti, tubuhnya panas serta bibir memerah.Badanku ke sana kemari menggendong untuk menghiburnya. Mas Seno dari tadi belum datang ke rumah, membuat pikiranku kalut tak menentu."Ya, Allah, Nak, apa yang kamu sakitkan," batinku panik dalam hati, menatap dirinya yang terus menggeliat."Bu, biar Bagas ke rumah Nenek cari Ayah," celetuk anak sulungku menawarkan diri untuk ke rumah ibu mertuaku.Mengingat di luar sana, hujan lebat tiada henti serta petir kilat menyambar-nyambar membuat aku mengurungkan niat untuk menyuruh Bagas mencari ayahnya di sana."Jangan, Nak hujan masih deras, nanti kau sakit," jawabku cepat walaupun hatiku terus tak tenang.Tiba-tiba, tubuh Doni mengejang kaku, mata mendelik ke atas membuat aku panik seketika. Dengan cepat tanpa sadar aku turun dari rumah tanpa menggunakan payung sekali pun, badanku berbalik sebentar lalu berteriak nyaring pada Bagas."Diam di rumah jaga, Mona. Ibu mau ba
"Rin, aku tak nyaman, biar kamu saja yang mengantarkanku," ujarku terasa enggan untuk naik."Baik lah, tunggu sebentar." Dengan cepat Rini menyambar switer rajut di kursi lalu mengenakannya, tak lupa dia membawa payung."Kamu di tengah biar aku di belakang Pegang payung, ayo Bang cepat!" pekiknya lalu aku dengan cepat duduk di tengah sambil menggendong Doni.Kami bonceng tiga dalam satu motor. Deru mesin motor menyala lalu membelah jalan gang menuju jalan besar aspal, di tengah-tengah hujan aku terus merasakan tubuh Doni semakin kaku. Air mata terus membanjiri walaupun tidak ada suara dalam tangisku."Cepat, Bang kok lelet amat jalannya!" sentak Rini walaupun suaranya kalah dengan desiran air hujan masih dapat di dengar, seraya terus mencubit perut suaminya."Ini, udah ngebut sayang! Ngebut macam mana lagi pula!" Dimas tak kalah paniknya sembari terus membawa motor dalam kecepatan tinggi.Setelah cukup lama akhrinya, motor telah sampai di gang perumahan yang elit, motor terparkir tep
Tepat pukul enam pagi, para tetangga termasuk para laki-laki sudah berkumpul di rumah, yang membuat hatiku terasasesak, bapak-bapak yang bersiap untuk menggali makam meminta bayaran terlebih dahulu."Sebelum menggali makam, uangnya dulu dulu, dong," celetuk salah satu bapak-bapak bertubuh cungkring.Aku mendadak panik mengingat diriku tidak ada simpanan uang, meminta pada Mas Seno dari semalam belum menampakkan batang hidungnya."Biar, kami saja yang bayar, nih ambil, gali makam secepatnya," kelakar Rini seraya memberi Bapak itu beberapa lembaran uang.Aku terasa tak nyaman pada Rini, sudah menolongku sekian kalinya."Kalau aku ada uang nanti aku bayar, ya, Rin," timpalku menunduk wajah malu karena dilihat banyak para tetangga."Tidak, apa-apa, aku sudah mengganggap kau sebagai saudaraku sendiri."Hatiku terenyuh mendengar penuturan sahabatku Rini, yang dengan tulus menolongku. Lamunan kami terbuyar tarkala ibu mertuaku, beserta antek-anteknya yang aku benci termasuk si bangsat suami
"Pergi, ke rumah ibuku, sekarang, hari ini lagi ada acara rewang, untuk menyambut calon mempelai, Cantika," ujar Mas Seno datang ke rumah, langsung pada intinya, yang pastinya menyuruhku membantu memasak"Apa, kau buta, aku ini lagi masih berduka, baru kemarin anakkmu meninggal," sahutku dengan suara serak, wajahku masam, tak menoleh ke arahnya."Alah! Gitu aja kamu berlebihan, awas kalau kamu nggak datang!" Suara Mas Seno meninggi mengancamku sambil jari telunjuknya menunjuk ke arahku lalu pergi kembali.Aku hanya menghela napas kasar lalu beranjak ke kamar untuk berganti baju. Kutelisik di dalam kotak kardus untuk tempat pakaianku tidak ada baju gamis untuk aku kenakan, baju lengan panjang serta rok mini lusuh, jilbab berwarna putih yang tampak sudah menguning dan ada bintik-bintik hitam melekat, sedangkan untuk Bagas dan Mona tidak ada yang layak aku kenakan.Dengan berat hati kulangkahkan kaki menuju rumah ibu mertuaku, Mona sejak tadi tantrum tidak mau ikut. Dia tetap ingin berad
Aku mengetuk pintu yang tertutup, terdengar bunyi tangisan seseorang membuat aku memfokuskan indera pendengaranku."Kau dengar ngggak, Rik?" tanyaku seraya tangan ini menempelkan daun telinga."Iya, dengar kayaknya dari dalam deh suaranya." Riko lalu mendorong pintu perlahan ternyata pintu tidak dikunci.Terlihat Winda meringkuk, menenggelamkan kepala diantara kedua kaki, tubuhnya bergetar menangis.Suara berisik dari arah dapur terdengar sangat jelas membuat jantung terasa copot, aku dan Riko bergegas berlari ke dapur tanpa mempedulikan Winda terlebih dahulu.Pecahan piring dan tumpahan air di mana-mana, Seno, Pak Satono, Bu Marni, sedang beradu mulut satu sama lain terlihat baju mereka terkoyak serta rambut awut-awutan.Mereka semua berhenti lalu menatapku. Sudah aku duga pasti karena masalah Chea bukan anak Rahmat sudah pasti itu."Jangan lagi diributkan, nasi sudah jadi bubur, kalian harus menerima kosekuensinya, tak ada gunanya lagi dipermasalahkan, aku datang kemari lagi ada yan
"Ini pasti dianiaya ini," tutur Riko terus membolak balikan tubuh Chea."Dasar! Ibu nggak guna itu si Winda dan bibinya," kelakar Ririn memghentakkan tangan ."Ini harus lapor ke polisi ini agar bibinya di tangkap," usul Riko lalu kembali ke setir mobil."Nggak usah Rik, itu anak juga nggak apa-apa, sini Rin kasih ini dan beri minum," tolakku karena tak mau jadi masalah lagi seraya memberikan cemilan snack dan air putih.Setelah memakan beberapa roti dan meminum air Chea kembali enteng tak menangis, seperti tadi."Itu anak kelaparan, sudah berapa lama anak itu tak makan, lihat! Makan begitu lahap," tunjukku ke arah Chea yang masih di pangku Ririn.Jelas sekali aku melihat anak ini teringat dengan almarhum anakkku, terlintas dibenakku hatiku tersayat-sayat mengingat perlakuan si bangsat Seno, tunggu pembalasanku Seno."Kamu kenapa, menatap anak ini begitu, Din?" tanya Ririn kepadaku saat mobil mulai berjalan lagi."Tidak ada, cuma aku hanya teringat dengan almarhum, Mona," sahutku lema
"Winda! Ini anakmu, kamu saja yang urus, kami tak sanggup!" teriak Ibu bertubuh gempal itu berlari memberikan Chea yang sedang menangis sesenggukan kepada Winda. "Nggak! Ah! Bibi aja yang urus, aku sih ogah ngurus dia lagi kenapa juga bawa ke sini, sudah bawa pulang sana," usir Winda mendorong tubuh Chea dengan kasar. Tubuh anak kecil itu tampak kurus, dekil tak terurus, kasihan sekali anak itu. Plak! Satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Winda, Ibu yang bertubuh gempal memakai daster bunga menatap bengis, matanya melotot hampir keluar dari tempatnya. "Apa kau tak sadar ini anak hasil hubunganmu sama, suami Nita hah?! Kau lah yang urus bukan aku!" teriak Ibu itu kepada Winda lalu meletakkan Chea ke depan teras rumah lalu berlenggang melangkah. "Bibi! Tak kau lihat kah?! Dengan keadaanku sekarang, aku tak punya banyak uang untuk beri makan itu anak," kelakar Winda dengan lantang tak mempedulikan Chea menangis terduduk, Ririn yang tak tega segera mengambil anak itu.
Status yang dibuat Cantika di media sosial, terpampang di layar ponsel Ririn, seketika itu membuat emosiku, terpancing, hidungku kembang kempis menahan gejolak amarah yang meningkat, bagaimana tidak kutipan status itu, dirinya mengaku bahwa dialah pemilik sawit yang berjumlah 20 hektar itu. "Riko! Belok kiri antar mereka semua kembali ke rumah asal mereka," titahku dengan mata tetap fokus ke depan menahan emosi. Pak Satono dan Mas Seno tiada henti meminta maaf sedangkan Winda, ibu mertuaku, Cantika terdiam membisu. "Barang-barang kami masih di sana, Din," celetuk Mas Seno sembari meringis. "Besok! Biar Riko yang antar ke tempat kalian." Aku tanpa menoleh menatap mereka jijik. "Halah! Hanya buat status macam itu aja marahnya selangit! Kayak nggak boleh aja bikin orang seneng!" Cantika merengut, aku mendelik dari kaca spion di dalam mobil menatap bengis wajahnya. "Kok begitu sih, Din. Mau makan apa kalau kami pulang ke rumah yang lama," tutur Bu Marni tak terima, terlihat waj
"Wih! Enak, banget jadi mereka." Lagi-lagi Cantika merepet yang membuat diriku terbakar api amarah."Loh! Bisa diam nggak?! Sekarang kerja, ambil itu parang, jangan ada yang istirahat sebelum jam sepuluh!" bentakku kepada mereka yang hanya berdiri mematung saja."Aku, di sini saja, ya, Din. Hamil besar nih nggak bisa kerja berat," rengek Winda sembari memegang perutnya yang tampak sudah sangat besar."Nggak ada, kamu bisa nebas sedikit-sedikit pakai parang panjang itu, ibu hamil tua itu harus banyak bergerak agar persalinan nanti lancar," sahutku menolak lalu menunjuk parang yang tergeletak di tanah dilipat di dalam karung, "biaya persalinan itu mahal, Win, siapa yang mau menanggung jikalau tak kerja." Aku memberi penekanan supaya dia sadar diri."Halah! Mas Seno, 'kan ada, Din. Ini darah dagingnya seharusnya dia lah yang membiayai nanti." Winda berkelakar congkak, wajahnya mendongak ke arah Mas Seno yang sedang bersiap memanen sawit."Jangan banyak berkhayal, Win orang susah itu kerj
"Nak, Ibu selalu ada untukmu walaupun kau tak pernah diberi kasih sayang ayahmu, tapi Ibu 'kan ada. Apa Bagas tak ingat dengan perlakuan ayahmu dahulu," aku mencoba agar Bagas mengingat kisah masa lalunya yang begitu pahit."Ingat, Bu, tetap Bagas ingat, tapi kenapa dia datang ke rumah ini, Bu?" tanya Bagas berbalik padaku."Biarkan saja mereka di sini, Nak mereka katanya tak mempunyai tempat tinggal," sahutku merangkul kedua bahunya.Terlihat wajah Bagas terlihat ketus tak menjawab ucapanku lagi, ayahku merangkul Bagas hendak membawanya ke depan."Besok, Bagas pergi ke luar negeri lagi, bersamaku, Din." Ayah menoleh ke arahku sebentar.Biarkan saja Bagas pergi ke sana lagi, toh di rumah ini tidak akan membuatnya betah ada setan dalam rumah ini.***"Rin, Dimas, hari ini kita survey ke kebun sawit ku, ya sambil healing buang kotoran," sindirku sembari menoleh ke arah keluarga Mas Seno."Ciah! Ke kebun sawit healing, mending ke mall, ke tempat wisata, percuma banyak duit liburannya di
"Din, ambil napas, lalu hembuskan, 'kan aku sudah bilang jangan kau bawa mereka ke sini, jadi runyam, bukan? Mereka itu dasarnya memang tak tahu malu," celetuk Ririn duduk di tepi ranjang di sampingku."Aku membawa, mereka ke sini, memberi mereka pelajaran, Rin agar tak semena-mena denganku lagi, jujur Rin, aku dendam pada mereka,"jawabku berapi-api sembari mencengkram kuat alas kasurku."Dendam, tetapi kau bawa ke sini, tidak ada cara lain, membalaskan sakit hatimu, itu?" tanya Ririn.Baru ingin aku menjawab bunyi suara gaduh dari arah dapur terdengar nyaring, aku dan Ririn bergegas bangkit berlari tergopoh-gopoh.Mataku membulat dengan sempurna, melihat makanan di atas meja makan habis berserakan, piring dan gelas pecah berhamburan ke lantai.Terlihat Bik Nur, memungut pecahan beling di lantai ubin, ayahku menghela napas menyaksikan ini semua.Dimas dan Riko yang baru datang cepat membantu Bik Nur, memungut pecahan gelas dan piring itu."Hati-hati, kacanya, Nur," ujar Riko hati-hati
"Ada apa Bik Nur?" tanyaku juga, ikut panik apa yang sedang terjadi. "Itu, Non, keluarga yang baru itu, tadi teriak-teriak mau makan katanya, sudah aku bilang tunggu, Pak Gibran dan Nyonya Dinda dulu, mereka masih tak peduli." Bik Nur berbicara sembari napasnya terengah-engah. Aku yang mendengar mereka tak sabaran, seperti itu membuatku diriku naik pitam, bergegas aku melangkah sedikit berlari kecil. Telingaku mendengar Bik Nur memanggil ayahku serta Bagas. Benar saja yang dikatakan Bik Nur, mereka antusias menyusun makanan di atas meja, mata mereka berbinar melihat lau-pauk yang terpampang di atas meja, ayahku, Bagas, Riko, Ririn serta Dimas tergopoh-gopoh berlari dari belakang. "Eh! Dinda, kami sudah lapar, Din mau makan," celetuk ibu mertuaku tanpa ada rasa malu sedikit pun. "Maaf, di rumah ini makan malam sehabis shalat maghrib, bukan jam tiga sore, seperti ini," sahutku cepat dengan sorot mata tak suka memandang mereka. "Din! Biarkan saja mereka makan jam segini, mun
Aku ingin menguji berapa besar kesabaran mereka tinggal di rumah ini."Cantika! Cantika!" Suaraku menggelegar memanggil adik Mas Seno yang masih berada di dalam kamar.Lama daun pintu tak terbuka, terlihat Rahmat mengesot ke lantai ubin keluar dari kamar yang berbeda."Ada apa, Din? Ada yang bisa dibantu?" tanya Rahmat memperlihatkan wajah belas kasihnya kepadaku.Aku yang menatap dirinya merasa ada belas kasihan dengan keadaannya sekarang, tetapi lintasan pikiranku teringat dengan sikap jahat mulutnya membuat belas kasihku pudar."Aku bukan memanggil dirimu, yang aku panggil Cantika," ujarku seraya melipat kedua tangan."Biar aku saja, Din. Mungkin Cantika beristirahat," kilah Rahmat lagi yang membuat diriku semakin jengah."Cantika! Keluar mggak kamu sekarang!!!" Aku tak mempedulikan rengekan Rahmat, suaraku menggelegar pecah memanggil Cantika berulang kali.Knop pintu tampak diputar terlihat Cantika menyembul dari balik pintu, rambutnya acak-acakan, mata terlihat merem melek."Ada