Home / Rumah Tangga / Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic / Bab, 33. Mencoba Untuk Merayu Ayahku.

Share

Bab, 33. Mencoba Untuk Merayu Ayahku.

last update Last Updated: 2025-03-02 18:18:46

Aku ingin menguji berapa besar kesabaran mereka tinggal di rumah ini.

"Cantika! Cantika!" Suaraku menggelegar memanggil adik Mas Seno yang masih berada di dalam kamar.

Lama daun pintu tak terbuka, terlihat Rahmat mengesot ke lantai ubin keluar dari kamar yang berbeda.

"Ada apa, Din? Ada yang bisa dibantu?" tanya Rahmat memperlihatkan wajah belas kasihnya kepadaku.

Aku yang menatap dirinya merasa ada belas kasihan dengan keadaannya sekarang, tetapi lintasan pikiranku teringat dengan sikap jahat mulutnya membuat belas kasihku pudar.

"Aku bukan memanggil dirimu, yang aku panggil Cantika," ujarku seraya melipat kedua tangan.

"Biar aku saja, Din. Mungkin Cantika beristirahat," kilah Rahmat lagi yang membuat diriku semakin jengah.

"Cantika! Keluar mggak kamu sekarang!!!" Aku tak mempedulikan rengekan Rahmat, suaraku menggelegar pecah memanggil Cantika berulang kali.

Knop pintu tampak diputar terlihat Cantika menyembul dari balik pintu, rambutnya acak-acakan, mata terlihat merem melek.

"Ada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 34. Mereka Tak Tahu Malu.

    "Ada apa Bik Nur?" tanyaku juga, ikut panik apa yang sedang terjadi. "Itu, Non, keluarga yang baru itu, tadi teriak-teriak mau makan katanya, sudah aku bilang tunggu, Pak Gibran dan Nyonya Dinda dulu, mereka masih tak peduli." Bik Nur berbicara sembari napasnya terengah-engah. Aku yang mendengar mereka tak sabaran, seperti itu membuatku diriku naik pitam, bergegas aku melangkah sedikit berlari kecil. Telingaku mendengar Bik Nur memanggil ayahku serta Bagas. Benar saja yang dikatakan Bik Nur, mereka antusias menyusun makanan di atas meja, mata mereka berbinar melihat lau-pauk yang terpampang di atas meja, ayahku, Bagas, Riko, Ririn serta Dimas tergopoh-gopoh berlari dari belakang. "Eh! Dinda, kami sudah lapar, Din mau makan," celetuk ibu mertuaku tanpa ada rasa malu sedikit pun. "Maaf, di rumah ini makan malam sehabis shalat maghrib, bukan jam tiga sore, seperti ini," sahutku cepat dengan sorot mata tak suka memandang mereka. "Din! Biarkan saja mereka makan jam segini, mun

    Last Updated : 2025-03-03
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 35, Meja Makan Dibuat Berserakan.

    "Din, ambil napas, lalu hembuskan, 'kan aku sudah bilang jangan kau bawa mereka ke sini, jadi runyam, bukan? Mereka itu dasarnya memang tak tahu malu," celetuk Ririn duduk di tepi ranjang di sampingku."Aku membawa, mereka ke sini, memberi mereka pelajaran, Rin agar tak semena-mena denganku lagi, jujur Rin, aku dendam pada mereka,"jawabku berapi-api sembari mencengkram kuat alas kasurku."Dendam, tetapi kau bawa ke sini, tidak ada cara lain, membalaskan sakit hatimu, itu?" tanya Ririn.Baru ingin aku menjawab bunyi suara gaduh dari arah dapur terdengar nyaring, aku dan Ririn bergegas bangkit berlari tergopoh-gopoh.Mataku membulat dengan sempurna, melihat makanan di atas meja makan habis berserakan, piring dan gelas pecah berhamburan ke lantai.Terlihat Bik Nur, memungut pecahan beling di lantai ubin, ayahku menghela napas menyaksikan ini semua.Dimas dan Riko yang baru datang cepat membantu Bik Nur, memungut pecahan gelas dan piring itu."Hati-hati, kacanya, Nur," ujar Riko hati-hati

    Last Updated : 2025-03-04
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 36. Gaji Karyawan Pemanen sawit Yang Fantastis.

    "Nak, Ibu selalu ada untukmu walaupun kau tak pernah diberi kasih sayang ayahmu, tapi Ibu 'kan ada. Apa Bagas tak ingat dengan perlakuan ayahmu dahulu," aku mencoba agar Bagas mengingat kisah masa lalunya yang begitu pahit."Ingat, Bu, tetap Bagas ingat, tapi kenapa dia datang ke rumah ini, Bu?" tanya Bagas berbalik padaku."Biarkan saja mereka di sini, Nak mereka katanya tak mempunyai tempat tinggal," sahutku merangkul kedua bahunya.Terlihat wajah Bagas terlihat ketus tak menjawab ucapanku lagi, ayahku merangkul Bagas hendak membawanya ke depan."Besok, Bagas pergi ke luar negeri lagi, bersamaku, Din." Ayah menoleh ke arahku sebentar.Biarkan saja Bagas pergi ke sana lagi, toh di rumah ini tidak akan membuatnya betah ada setan dalam rumah ini.***"Rin, Dimas, hari ini kita survey ke kebun sawit ku, ya sambil healing buang kotoran," sindirku sembari menoleh ke arah keluarga Mas Seno."Ciah! Ke kebun sawit healing, mending ke mall, ke tempat wisata, percuma banyak duit liburannya di

    Last Updated : 2025-03-05
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 37. Baru Satu Hari Bekerja Sudah Mengeluh

    "Wih! Enak, banget jadi mereka." Lagi-lagi Cantika merepet yang membuat diriku terbakar api amarah."Loh! Bisa diam nggak?! Sekarang kerja, ambil itu parang, jangan ada yang istirahat sebelum jam sepuluh!" bentakku kepada mereka yang hanya berdiri mematung saja."Aku, di sini saja, ya, Din. Hamil besar nih nggak bisa kerja berat," rengek Winda sembari memegang perutnya yang tampak sudah sangat besar."Nggak ada, kamu bisa nebas sedikit-sedikit pakai parang panjang itu, ibu hamil tua itu harus banyak bergerak agar persalinan nanti lancar," sahutku menolak lalu menunjuk parang yang tergeletak di tanah dilipat di dalam karung, "biaya persalinan itu mahal, Win, siapa yang mau menanggung jikalau tak kerja." Aku memberi penekanan supaya dia sadar diri."Halah! Mas Seno, 'kan ada, Din. Ini darah dagingnya seharusnya dia lah yang membiayai nanti." Winda berkelakar congkak, wajahnya mendongak ke arah Mas Seno yang sedang bersiap memanen sawit."Jangan banyak berkhayal, Win orang susah itu kerj

    Last Updated : 2025-03-06
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 38, Kuputuskan Membawa Mereka Pulang.

    Status yang dibuat Cantika di media sosial, terpampang di layar ponsel Ririn, seketika itu membuat emosiku, terpancing, hidungku kembang kempis menahan gejolak amarah yang meningkat, bagaimana tidak kutipan status itu, dirinya mengaku bahwa dialah pemilik sawit yang berjumlah 20 hektar itu. "Riko! Belok kiri antar mereka semua kembali ke rumah asal mereka," titahku dengan mata tetap fokus ke depan menahan emosi. Pak Satono dan Mas Seno tiada henti meminta maaf sedangkan Winda, ibu mertuaku, Cantika terdiam membisu. "Barang-barang kami masih di sana, Din," celetuk Mas Seno sembari meringis. "Besok! Biar Riko yang antar ke tempat kalian." Aku tanpa menoleh menatap mereka jijik. "Halah! Hanya buat status macam itu aja marahnya selangit! Kayak nggak boleh aja bikin orang seneng!" Cantika merengut, aku mendelik dari kaca spion di dalam mobil menatap bengis wajahnya. "Kok begitu sih, Din. Mau makan apa kalau kami pulang ke rumah yang lama," tutur Bu Marni tak terima, terlihat waj

    Last Updated : 2025-03-07
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 39. Semua Kelakuan Winda Terbongkar

    "Winda! Ini anakmu, kamu saja yang urus, kami tak sanggup!" teriak Ibu bertubuh gempal itu berlari memberikan Chea yang sedang menangis sesenggukan kepada Winda. "Nggak! Ah! Bibi aja yang urus, aku sih ogah ngurus dia lagi kenapa juga bawa ke sini, sudah bawa pulang sana," usir Winda mendorong tubuh Chea dengan kasar. Tubuh anak kecil itu tampak kurus, dekil tak terurus, kasihan sekali anak itu. Plak! Satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Winda, Ibu yang bertubuh gempal memakai daster bunga menatap bengis, matanya melotot hampir keluar dari tempatnya. "Apa kau tak sadar ini anak hasil hubunganmu sama, suami Nita hah?! Kau lah yang urus bukan aku!" teriak Ibu itu kepada Winda lalu meletakkan Chea ke depan teras rumah lalu berlenggang melangkah. "Bibi! Tak kau lihat kah?! Dengan keadaanku sekarang, aku tak punya banyak uang untuk beri makan itu anak," kelakar Winda dengan lantang tak mempedulikan Chea menangis terduduk, Ririn yang tak tega segera mengambil anak itu.

    Last Updated : 2025-03-08
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 40 Kehilangan Barang Bukti

    "Ini pasti dianiaya ini," tutur Riko terus membolak balikan tubuh Chea."Dasar! Ibu nggak guna itu si Winda dan bibinya," kelakar Ririn memghentakkan tangan ."Ini harus lapor ke polisi ini agar bibinya di tangkap," usul Riko lalu kembali ke setir mobil."Nggak usah Rik, itu anak juga nggak apa-apa, sini Rin kasih ini dan beri minum," tolakku karena tak mau jadi masalah lagi seraya memberikan cemilan snack dan air putih.Setelah memakan beberapa roti dan meminum air Chea kembali enteng tak menangis, seperti tadi."Itu anak kelaparan, sudah berapa lama anak itu tak makan, lihat! Makan begitu lahap," tunjukku ke arah Chea yang masih di pangku Ririn.Jelas sekali aku melihat anak ini teringat dengan almarhum anakkku, terlintas dibenakku hatiku tersayat-sayat mengingat perlakuan si bangsat Seno, tunggu pembalasanku Seno."Kamu kenapa, menatap anak ini begitu, Din?" tanya Ririn kepadaku saat mobil mulai berjalan lagi."Tidak ada, cuma aku hanya teringat dengan almarhum, Mona," sahutku lema

    Last Updated : 2025-03-09
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 41. Winda Terjengkang.

    Aku mengetuk pintu yang tertutup, terdengar bunyi tangisan seseorang membuat aku memfokuskan indera pendengaranku."Kau dengar ngggak, Rik?" tanyaku seraya tangan ini menempelkan daun telinga."Iya, dengar kayaknya dari dalam deh suaranya." Riko lalu mendorong pintu perlahan ternyata pintu tidak dikunci.Terlihat Winda meringkuk, menenggelamkan kepala diantara kedua kaki, tubuhnya bergetar menangis.Suara berisik dari arah dapur terdengar sangat jelas membuat jantung terasa copot, aku dan Riko bergegas berlari ke dapur tanpa mempedulikan Winda terlebih dahulu.Pecahan piring dan tumpahan air di mana-mana, Seno, Pak Satono, Bu Marni, sedang beradu mulut satu sama lain terlihat baju mereka terkoyak serta rambut awut-awutan.Mereka semua berhenti lalu menatapku. Sudah aku duga pasti karena masalah Chea bukan anak Rahmat sudah pasti itu."Jangan lagi diributkan, nasi sudah jadi bubur, kalian harus menerima kosekuensinya, tak ada gunanya lagi dipermasalahkan, aku datang kemari lagi ada yan

    Last Updated : 2025-03-10

Latest chapter

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 41. Winda Terjengkang.

    Aku mengetuk pintu yang tertutup, terdengar bunyi tangisan seseorang membuat aku memfokuskan indera pendengaranku."Kau dengar ngggak, Rik?" tanyaku seraya tangan ini menempelkan daun telinga."Iya, dengar kayaknya dari dalam deh suaranya." Riko lalu mendorong pintu perlahan ternyata pintu tidak dikunci.Terlihat Winda meringkuk, menenggelamkan kepala diantara kedua kaki, tubuhnya bergetar menangis.Suara berisik dari arah dapur terdengar sangat jelas membuat jantung terasa copot, aku dan Riko bergegas berlari ke dapur tanpa mempedulikan Winda terlebih dahulu.Pecahan piring dan tumpahan air di mana-mana, Seno, Pak Satono, Bu Marni, sedang beradu mulut satu sama lain terlihat baju mereka terkoyak serta rambut awut-awutan.Mereka semua berhenti lalu menatapku. Sudah aku duga pasti karena masalah Chea bukan anak Rahmat sudah pasti itu."Jangan lagi diributkan, nasi sudah jadi bubur, kalian harus menerima kosekuensinya, tak ada gunanya lagi dipermasalahkan, aku datang kemari lagi ada yan

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 40 Kehilangan Barang Bukti

    "Ini pasti dianiaya ini," tutur Riko terus membolak balikan tubuh Chea."Dasar! Ibu nggak guna itu si Winda dan bibinya," kelakar Ririn memghentakkan tangan ."Ini harus lapor ke polisi ini agar bibinya di tangkap," usul Riko lalu kembali ke setir mobil."Nggak usah Rik, itu anak juga nggak apa-apa, sini Rin kasih ini dan beri minum," tolakku karena tak mau jadi masalah lagi seraya memberikan cemilan snack dan air putih.Setelah memakan beberapa roti dan meminum air Chea kembali enteng tak menangis, seperti tadi."Itu anak kelaparan, sudah berapa lama anak itu tak makan, lihat! Makan begitu lahap," tunjukku ke arah Chea yang masih di pangku Ririn.Jelas sekali aku melihat anak ini teringat dengan almarhum anakkku, terlintas dibenakku hatiku tersayat-sayat mengingat perlakuan si bangsat Seno, tunggu pembalasanku Seno."Kamu kenapa, menatap anak ini begitu, Din?" tanya Ririn kepadaku saat mobil mulai berjalan lagi."Tidak ada, cuma aku hanya teringat dengan almarhum, Mona," sahutku lema

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 39. Semua Kelakuan Winda Terbongkar

    "Winda! Ini anakmu, kamu saja yang urus, kami tak sanggup!" teriak Ibu bertubuh gempal itu berlari memberikan Chea yang sedang menangis sesenggukan kepada Winda. "Nggak! Ah! Bibi aja yang urus, aku sih ogah ngurus dia lagi kenapa juga bawa ke sini, sudah bawa pulang sana," usir Winda mendorong tubuh Chea dengan kasar. Tubuh anak kecil itu tampak kurus, dekil tak terurus, kasihan sekali anak itu. Plak! Satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Winda, Ibu yang bertubuh gempal memakai daster bunga menatap bengis, matanya melotot hampir keluar dari tempatnya. "Apa kau tak sadar ini anak hasil hubunganmu sama, suami Nita hah?! Kau lah yang urus bukan aku!" teriak Ibu itu kepada Winda lalu meletakkan Chea ke depan teras rumah lalu berlenggang melangkah. "Bibi! Tak kau lihat kah?! Dengan keadaanku sekarang, aku tak punya banyak uang untuk beri makan itu anak," kelakar Winda dengan lantang tak mempedulikan Chea menangis terduduk, Ririn yang tak tega segera mengambil anak itu.

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 38, Kuputuskan Membawa Mereka Pulang.

    Status yang dibuat Cantika di media sosial, terpampang di layar ponsel Ririn, seketika itu membuat emosiku, terpancing, hidungku kembang kempis menahan gejolak amarah yang meningkat, bagaimana tidak kutipan status itu, dirinya mengaku bahwa dialah pemilik sawit yang berjumlah 20 hektar itu. "Riko! Belok kiri antar mereka semua kembali ke rumah asal mereka," titahku dengan mata tetap fokus ke depan menahan emosi. Pak Satono dan Mas Seno tiada henti meminta maaf sedangkan Winda, ibu mertuaku, Cantika terdiam membisu. "Barang-barang kami masih di sana, Din," celetuk Mas Seno sembari meringis. "Besok! Biar Riko yang antar ke tempat kalian." Aku tanpa menoleh menatap mereka jijik. "Halah! Hanya buat status macam itu aja marahnya selangit! Kayak nggak boleh aja bikin orang seneng!" Cantika merengut, aku mendelik dari kaca spion di dalam mobil menatap bengis wajahnya. "Kok begitu sih, Din. Mau makan apa kalau kami pulang ke rumah yang lama," tutur Bu Marni tak terima, terlihat waj

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 37. Baru Satu Hari Bekerja Sudah Mengeluh

    "Wih! Enak, banget jadi mereka." Lagi-lagi Cantika merepet yang membuat diriku terbakar api amarah."Loh! Bisa diam nggak?! Sekarang kerja, ambil itu parang, jangan ada yang istirahat sebelum jam sepuluh!" bentakku kepada mereka yang hanya berdiri mematung saja."Aku, di sini saja, ya, Din. Hamil besar nih nggak bisa kerja berat," rengek Winda sembari memegang perutnya yang tampak sudah sangat besar."Nggak ada, kamu bisa nebas sedikit-sedikit pakai parang panjang itu, ibu hamil tua itu harus banyak bergerak agar persalinan nanti lancar," sahutku menolak lalu menunjuk parang yang tergeletak di tanah dilipat di dalam karung, "biaya persalinan itu mahal, Win, siapa yang mau menanggung jikalau tak kerja." Aku memberi penekanan supaya dia sadar diri."Halah! Mas Seno, 'kan ada, Din. Ini darah dagingnya seharusnya dia lah yang membiayai nanti." Winda berkelakar congkak, wajahnya mendongak ke arah Mas Seno yang sedang bersiap memanen sawit."Jangan banyak berkhayal, Win orang susah itu kerj

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 36. Gaji Karyawan Pemanen sawit Yang Fantastis.

    "Nak, Ibu selalu ada untukmu walaupun kau tak pernah diberi kasih sayang ayahmu, tapi Ibu 'kan ada. Apa Bagas tak ingat dengan perlakuan ayahmu dahulu," aku mencoba agar Bagas mengingat kisah masa lalunya yang begitu pahit."Ingat, Bu, tetap Bagas ingat, tapi kenapa dia datang ke rumah ini, Bu?" tanya Bagas berbalik padaku."Biarkan saja mereka di sini, Nak mereka katanya tak mempunyai tempat tinggal," sahutku merangkul kedua bahunya.Terlihat wajah Bagas terlihat ketus tak menjawab ucapanku lagi, ayahku merangkul Bagas hendak membawanya ke depan."Besok, Bagas pergi ke luar negeri lagi, bersamaku, Din." Ayah menoleh ke arahku sebentar.Biarkan saja Bagas pergi ke sana lagi, toh di rumah ini tidak akan membuatnya betah ada setan dalam rumah ini.***"Rin, Dimas, hari ini kita survey ke kebun sawit ku, ya sambil healing buang kotoran," sindirku sembari menoleh ke arah keluarga Mas Seno."Ciah! Ke kebun sawit healing, mending ke mall, ke tempat wisata, percuma banyak duit liburannya di

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 35, Meja Makan Dibuat Berserakan.

    "Din, ambil napas, lalu hembuskan, 'kan aku sudah bilang jangan kau bawa mereka ke sini, jadi runyam, bukan? Mereka itu dasarnya memang tak tahu malu," celetuk Ririn duduk di tepi ranjang di sampingku."Aku membawa, mereka ke sini, memberi mereka pelajaran, Rin agar tak semena-mena denganku lagi, jujur Rin, aku dendam pada mereka,"jawabku berapi-api sembari mencengkram kuat alas kasurku."Dendam, tetapi kau bawa ke sini, tidak ada cara lain, membalaskan sakit hatimu, itu?" tanya Ririn.Baru ingin aku menjawab bunyi suara gaduh dari arah dapur terdengar nyaring, aku dan Ririn bergegas bangkit berlari tergopoh-gopoh.Mataku membulat dengan sempurna, melihat makanan di atas meja makan habis berserakan, piring dan gelas pecah berhamburan ke lantai.Terlihat Bik Nur, memungut pecahan beling di lantai ubin, ayahku menghela napas menyaksikan ini semua.Dimas dan Riko yang baru datang cepat membantu Bik Nur, memungut pecahan gelas dan piring itu."Hati-hati, kacanya, Nur," ujar Riko hati-hati

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 34. Mereka Tak Tahu Malu.

    "Ada apa Bik Nur?" tanyaku juga, ikut panik apa yang sedang terjadi. "Itu, Non, keluarga yang baru itu, tadi teriak-teriak mau makan katanya, sudah aku bilang tunggu, Pak Gibran dan Nyonya Dinda dulu, mereka masih tak peduli." Bik Nur berbicara sembari napasnya terengah-engah. Aku yang mendengar mereka tak sabaran, seperti itu membuatku diriku naik pitam, bergegas aku melangkah sedikit berlari kecil. Telingaku mendengar Bik Nur memanggil ayahku serta Bagas. Benar saja yang dikatakan Bik Nur, mereka antusias menyusun makanan di atas meja, mata mereka berbinar melihat lau-pauk yang terpampang di atas meja, ayahku, Bagas, Riko, Ririn serta Dimas tergopoh-gopoh berlari dari belakang. "Eh! Dinda, kami sudah lapar, Din mau makan," celetuk ibu mertuaku tanpa ada rasa malu sedikit pun. "Maaf, di rumah ini makan malam sehabis shalat maghrib, bukan jam tiga sore, seperti ini," sahutku cepat dengan sorot mata tak suka memandang mereka. "Din! Biarkan saja mereka makan jam segini, mun

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 33. Mencoba Untuk Merayu Ayahku.

    Aku ingin menguji berapa besar kesabaran mereka tinggal di rumah ini."Cantika! Cantika!" Suaraku menggelegar memanggil adik Mas Seno yang masih berada di dalam kamar.Lama daun pintu tak terbuka, terlihat Rahmat mengesot ke lantai ubin keluar dari kamar yang berbeda."Ada apa, Din? Ada yang bisa dibantu?" tanya Rahmat memperlihatkan wajah belas kasihnya kepadaku.Aku yang menatap dirinya merasa ada belas kasihan dengan keadaannya sekarang, tetapi lintasan pikiranku teringat dengan sikap jahat mulutnya membuat belas kasihku pudar."Aku bukan memanggil dirimu, yang aku panggil Cantika," ujarku seraya melipat kedua tangan."Biar aku saja, Din. Mungkin Cantika beristirahat," kilah Rahmat lagi yang membuat diriku semakin jengah."Cantika! Keluar mggak kamu sekarang!!!" Aku tak mempedulikan rengekan Rahmat, suaraku menggelegar pecah memanggil Cantika berulang kali.Knop pintu tampak diputar terlihat Cantika menyembul dari balik pintu, rambutnya acak-acakan, mata terlihat merem melek."Ada

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status