Flashback, akhir tahun kemarin.
Langit begitu cerah berawan, sebuah kapal besar menampung ribuan orang berlayar di tengah lautan. Deburan ombak tak tampak di kejauhan, hanya gelombang sunyi dan deru mesin yang merdu. Beberapa kali terdengar burung menggagak, lumba-lumba menampilkan kemahirannya dan ... oh! Betapa indahnya dunia laut di bawah sana.
Gadis itu, dengan rambut ikal di ujung lurusnya, membuka kacamata. Mengagumi bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta. Menikmati bagaimana Tuhan menciptakan semilir angin yang menggoda. Bajunya tipis, bercorak bunga, mengantung dari bahu hingga batas lututnya. Lengan putih langsat itu mempesona, tampak cantik senada rupa. Lentik bulu mata, makin menggoda dengan bibir penuh yang merona.
Dia tersenyum, menggetarkan mata khalayak umum. Bahkan anak kecil yang polos saja iri dengan kemegahan itu. Matahari bersinar, terangnya menyorot penuh padanya. Seakan semesta memberi tahu, hanya dia yang pantas menjadi sorotan.
“Kanyaah!” panggil seorang di belakang gadis itu, dia tersenyum lebar saat si gadis menoleh.
Kaki jenjangnya bergerak, ia membalikan badan molek ke arah pemanggilnya. “Ya?”
“Anginya kencang,” ujarnya sambil tersenyum. Jas hitam yang dia tenteng dibuka lebar, disampirkan ke bahu. Bau parfumenya merebak, membuat hidung mungil Kanyaah sedikit bergerak.
“Badanmu bau!”
“Wangi!”
Hanya kekehan sebagai balasan. “Sana pergi! Aku sudah lama sekali belum pulang. Tidak mau menutup mata barang sebentar saja. Lagian ... sebentar lagi sampai di dermaga!”
“Akan aku biarkan!” Dia memandang lurus di kejauhan. Beberapa gunung nampak begitu kecil. “Ini kali terakhir kamu pulang. Mungkin ... suatu hari kamu pulang tanpa nama.”
Kening Kanyaah mengerut. Tidak suka setiap kata yang diucapkan pria itu. Dia menggeleng tegas. “Aku tidak sekeren itu tampil di lapangan.” Kanyaah mengedikan bahu. “Aku akan meminta surat penempatan di Pulau Javadwipa. Bekerja di balik layar lebih mengesankan.”
Senyum getir nampak di bibir pria tampan itu, kacamata hitamnya ia buka. Memandangi Kanyaah sebagai gadis lugu tidaklah patut, tetapi, dia memang memandanya seperti itu. “Kamu belum tahu kalau pimpinan memasukanmu ke Tim Lapangan Sayap Barat.” Hanya gumaman lirih, tetapi siapa Kanyaah? Ia paham dan mendengar lirihan itu.
Kanyaah hanya pura-pura tidak tahu. Sejak empat tahun lalu memutuskan untuk menerima surat panggilan dari Akademi Nusantara di sekolahnya, ia sudah siap hilang nama. Segala konsekuensi dan study kasus dijelaskan gamlang. Kanyaah bahkan tak berani mengatakan itu pada ayahnya. Izin yang diberikan ibu sudah cukup dan menguatkan tekad. Kanyaah ingin menjadi bagian dari setiap elit integen negara.
Namun, rasanya menyakitkan saat sudah di penghujung sekolahnya. Ia masuk saat kelas dua SMA. Menjadi tahun pertama akademi dan sekarang di umurnya yang hampir ke dua puluh satu, Kanyaah akan terjun langsung ke lapangan. Meski sudah sering dalam misi percobaan, instruktur dan pemimpin tim selalu ada di belakang. Menjadi sandaran jika Kanyaah melakukan kesalahan.
Menggaruk dahinya, Kanyaah menampilkan cengiranya. Begitu lucu dan mempesona. Jika tidak ingat bahwa gadis ini tak selugu itu, Si Pria akan yakin dengan senyuman saja Kanyaah mampu menggulingkan sebuah kota.
*
Beberapa jam berselang, Kanyaah masuk ke dalam kapal. Lantai pertama terisi penuh untuk mereka kalangan menengah ke bawah. Lantai kedua untuk jamuan makan disertai lantai ketiga yang memiliki fungsi menerima kalangan atas. Ada beberapa tempat khusus. Namun, bukan tempat Kanyaah. Kanyaah tak peduli.
Malam ini kapal memiliki jadwal untuk berpesta. Itu umum untuk kapal besar yang sering berlayar di Nusantara--Negara tempat mereka tinggal. Dari pulau Indira sampai ke Javadwipa memakan waktu yang lama. Pesta menjadi sarana para kalangan bawah untuk menemukan pasangannya. Perempuan berdandan suka cita, berusaha menggoda banyaknya milyader di kapal itu, terkecuali Amitha Kanyaah.
Sedari tadi matanya menangkap gerak gerik aneh. Entah siapa, insting liar yang sudah mengakar membuat Amitha Kanyaah yakin sepenuhnya.
Di ujung ruang, balik meja dengan kopi panas di depanya. Dia seorang pengamat yang cocok untuk melihat ke seluruh ruangan.
Di balik meja prasmanan, permepuan pelayan itu adalah temannya. Amitha paham, ada dua kemungkinan. Pertama, mereka memiliki target, kedua mereka memiliki Tuan.
Siapa?
Sungguh Amitha tak sadar. Gerak geriknya itu juga diamati oleh seseorang di lantai atas. Dia tersenyum kaku dan memutuskan mendekati Amitha, berusaha mengorek informasi yang nyata.
Di situlah Amitha pertama kali bertemu dengan Cakralawa. Dia tak tahu lelaki itu yang sebenarnya. Mata biru Shafirnya dusta. Kulit putihnya juga dusta. Topeng menutupi sebagian wajah, membuatnya lupa.
"Ini Pesta topeng!" sahutnya berkilah.
Amitha hanya mengangguk, aktingnya luar biasa. Kanyaah bahkan tak waspada, dia menari dan menari hingga mabuk.
"Kamu baru berlibur? Atau ingin Ke Javadwipa?"
Kapal ini memang berlayar dari ujung negeri Nusantara, Champa dan sampai ke ujung lainnya Jayabaya. Menampung manusia yang suka berkelana mengelilingi negerinya sendiri.
"Yah! Aku ingin berkunjung ke Javadwipa!" jawab Amitha. Tidak bohong. Dia tersenyum. Keluar dari akademi haruslah pandai menutupi basis dan informasi apa pun terkait Akademi Nusantara.
"Michaell!" seru lelaki itu.
Amitha hampir ambruk dan langsung di dekap Michael, karena pertaruhan mereka dalam adu minuman keras. Dia tersenyum lucu sebelum menjawab, "Amitha, Amitha Kanyaah. Kamu bisa memanggilku Kanyaah!"
"Kamu mabuk!"
Kanyaah mengangguk. "Tapi aku cukup waras untuk mengucapkan dengan benar namaku!" kilahnya.
Meski mabuk, dia terbiasa mengontrol diri. Dia bahkan makin waspada dengan lelaki di ujung ruang yang sedari tadi beralih mengamatinya.
Amitha memejamkan mata, ketika lelaki itu menggerayanginya. Dia tak memiliki tenaga untuk mendorong. Dia masih lemah dan belum fokus. Dia berusaha mengunpulkan energi agar lebih kuat dan tegas. Dalam keheningannya.
Si lelaki sempat menahan punggungnya, mendekapnya lebih dekat dan Amitha melotot. Dia langsung sadar ketika orang mesum yang tak tahu malu mengajaknya menari ini menyentuh tanpa kaget pistolnya. Amitha mendorong kuat, ada teman prianya di belakang yang menangkap Amitha.
"Ada apa?" tanyanya kaget melihat kegugupan Amitha Kanyaah.
"Bawa aku pergi!" ucapnya dengan lirih.
"Ya!"
Cakrawala yang menyebut dirinya Michael tersenyum bersembunyi dan berpura-pura kecewa dengan berteriak, "Tunggu!"
Kanyaah menggeleng, temannya menatap tajam Cakra dan dia mundur beberapa langkah membiarkan Amitha Kanyaah pergi.
Selain yang di ujung ruang, pelayan pengantar makanan ke prasmanan. Ada ibu-ibu sosialita yang merupakan bawahannya. Ada dua penjelajah yang sedang makan roti tak tahu malu pula. Lantas beberapa pekerja kapal yang menyelinap di bagian navigasi, mengawasi navigator tetap aman di tangan mereka.
Cakrawala memberi kode, berusaha untuk mengikuti Amitha. Sayangnya, hal itu membuat Amitha tahu bahwa hidupnya sudah tidak aman lagi.
"Ada apa Kanyaah?"
"Mereka, aku hanya belajar menyelidiki di pesta dansa. Aku menemukan beberapa orang yang sedang 'berburu' mungkin mereka mengetahui dan berusaha menangkapku."
Keningnya mengkerut. "Benarkah?"
Kanyaah mengangguk dan mendorong temannya untuk mundur. "Aku akan kembali ke kamarku, pergilah. Mendekatiku hanya akan membahayakanmu.""Mereka sudah melihatku!"
"Tak akan dipertimbangkan jika kamu meninggalkanku, jelas mereka akan berpikir aku tak penting bagimu."
Lama terdiam saling menatap. Lalu memutuskan "Oke, aku mengawasimu dari tempatku."
Kanyaah mengangguk dan sempoyongan menuju lantai terbawah. Ia menyamar sebagai kalangan menengah yang tidak dilirik pihak mana pun. Tapi sialnya, dia masuk kandang singa!
Sesungguhnya, Amitha Kanyaah tidak peduli dengan perlakuan mereka terhadapnya. Bagaimana orang di depannya ini akan terus menyiksa dan menyakitinya. Apa boleh buat? Amira hanya penasaran, akankah prediksinya benar? Untuk apa mereka menculiknya?Ruangan sunyi, si lelaki yang kerap dipanggil Boss itu memainkan topi bundar dan tongkatnya. Rambut hitam kelam dengan rupa paling sempurna di mata Amitha membuat hatinya bergetar.Amitha Kanyaah menekan dirinya sendiri, rupa yang mempu menyihir itu musuhnya. Dia yang telah menculiknya. Dia pula yang membuat keluarganya menderita. Menggigit pipi bagian dalam, ini kali pertama mata sayu dan tidak berdaya ditunjukan kepada mereka."Kenapa kamu menculikku? Kenapa mereka tahu tentang keluargaku. Kamu membunuh mereka!" tuduh Amitha Kanyaah penuh emosi. Bibirnya bergetar, dia tidak mengerti, mengapa kelemahannya ditunj
Cakrawala Dirgantara Amangku Buana, sosok dingin dengan wajah datar yang tampan penyempurna. Pahatan tubuhnya luar biasa, siapa yang tak ingin merabanya?Dia, kembali dari sosok paling sempurna menjadi buruk rupa, mirip jodohnya princess Bella!Pada masa remajanya, Cakra mengalami kecelakaan. Kakinya lumpuh, wajahnya hancur berantakan. Sebelum kakeknya meninggal, dia mengatakan beberapa rahasia di Pulau Warnadwipa dikenal juga Pulau Borneo, memindahtangankan aset rahasia miliknya yang ratusan kali lipat daripada aset yang diketahui seluruh anggota keluarga.Bukan karena keluarganya gila harta, bukan pula perselisihan antarsaudara. Kakeknya memberi tahu, ada banyak musuh yang lebih besar dan lebih kejam daripada monster yang sering ia lihat di televisi.Oleh karena itu, remaja yang baru saja meninggalkan usia anak-anaknya itu tumbuh lebi
Bug bug bug Dak "Sttt!" "Huh!" Suara bising terdengar dalam ruangan penuh dengan matras. Dua orang sedang saling tinju, mereka memukul dan menghindar. Sesekali meringis jika terpukul pada tempat yang fatal. Keringat menetes, memenuhi tubuh keduanya. Sesekali masuk ke mata, sesekali pula masuk ke mulut, asin! Setelah berlari mengelilingi ruang dengan alokasi jarak lebih dari dua puluh kilometer dengan beban ratusan kilogram, mereka harus berjalan membawa beban dua ratus kilogram. Semuanya cukup melelahkan, tetapi emosi yang tersisa harus disalurkan memalui pertandingan. Begitulah jadinya, Awan dan Shaoyun benar-benar babak belur tidak ada alat pengaman apa pun saat keduanya bertanding. Tidak ada pula was
Empat bulan sudah berlalu sejak Cakra kembali ke rumahnya. Semua orang sibuk bekerja dan dia memiliki sedikit waktu untuk mengatur beberapa presiden perusahaanya yang ia tunjuk untuk bekerja di bawahnya. Dia juga mengatur beberapa menejemen pergerakan Pasak Suram. Akhir-akhir ini, banyak sekali orang pergi ke Warnadwipa, tiket pesawat habis bahkan antrian memanjang. Meski Cakrawala tidak bisa memastikan tujuan mereka, dominan orang-orang ini pasti dikirim untuk menyelidiki tentang Bos Besar Pasak Suram.Menghela napasnya pelan, Cakrawala berjalan mendekati kursi roda. Dia membuka pintu dan menatap ruangan di bawah yang benar-benar lengang. Beberapa pelayan bahkan tidak bisa dan tidak akan pernah berani berjalan di depannya. Menunjukan jati diri mereka saja takut.Cakrawala meminta Domanic untuk datang, dia akan meminta izin kepada keluarga untuk membawa Cakra pergi. Setidaknya dengan begitu dia
Langit buatan berwarna biru, awan putih tebal yang menyenangkan seperti kapas. Tumbuhan-tunbuhan subur yang menyegarkan. Beberapa daun dipenuhi titik-titik embun. Ini taman dalam ruangan yang menyenagkan. Beberapa kursi terlihat anggun dengan bahan dasar kayu. Ada beberapa alat dari bambu. Ukiran-ukirannya semakin menggugah selera.Harinya dipenuhi dengan kenyamanan. Refleknya mulai kembali normal. Beberapa kali ia berbicara dengan pengawas dan orang-orang yang tinggal di sini. Kebanyakan laki-laki, meski begitu Kanyaah tak curiga pada apa pun. Seminggu dua sampai tiga kali ia akan diperiksa kesehatannya. Itu terjadi selama sebulan.Sekarang ia bebas dan tidak memiliki pekerjaan. Jelita benar-benar bisa diakses meski bersyarat, beberapa hal tidak bisa ia tanyakan atau Jelita yang tak mau menjawabnya.Kadang Kanyaah keluar dari lantai taman, pergi ke pus
Gadis itu masih terdiam kaku menatap marmer kotor penuh dengan noda darah dan beberapa cairan hitam juga cokelat. Beberapa lebih jauh ada butiran nasi yang berantakan.Kedua tangannya terikat, dia berdiri dengan kaki berjinjit. Menunduk lusuh dengan rambut panjang lepek yang tergerai. Lepek bau anyir. Sudut bibirnya lebam diikuti bekas darah yang mengering. Matanya sayu, juga dipenuhi memar. Kedua pipinya merona bukan karena malu, tetapi karena tamparan seseorang. Pakaian putih selututnya kotor, penuh dengan noda pula darahnya.Dia, Amitha Kanyaah, masih menampilkan seringaian. Meski dingin menembus kulit, tidak ada angin. Ruangan ini tertutup rapat, hanya saja tubuhnya berubah ringkih. Dia hanya mengenakan gaun terusan selutut tanpa lengan yang begitu tipis, mempertontonkan keindahan tubuhnya. Hanya ada tali yang mengantung di kedua bahunya.Amitha Kanyaah masih sempat tertawa, beberapa hinaan yang dite
Ruangan pekat dengan keremangan lampu yang memusingkan terlihat mencekam. Seorang lelaki dengan kemeja polister hitam tengah duduk di dampingi 3 wanita penghibur yang sibuk membelainya. Dua kancing teratas dibuka. Jenis kemejanya memberi kemudahan, tidak membuatnya berantakan. Namun, tidak dengan rambut hitamnya yang acak-acakan.Dia menyeringai, tatapannya cukup tajam. Akan tetapi, seisi ruang masih dapat mengendalikan kehadiran mereka. Sama sekali tak takut akan terjadi hal yang buruk.Sofa di sebelahnya, tergeletak tegak lurus dengan sofa yang diduduki pria pertama, terisi dua pemuda dengan jubah putih khas dokter yang sedang saling memandang. Tidak ingin kalah satu sama lain. Mereka mungkin sedang bersaing dalam suatu hal(?)Suasana mencekam datang dari orang di single sofa paling berbeda. Jubah hampir selutut warna hijau lumut yang lebih tua ia kenakan. Tatapannya sedikit ramah, tetapi siapa p
Gelagar Awan, satu dari beberapa pemimpin kelompok kecil yang sering merusuh di wilayah Nusantara. Sepanjang pulau Jayabaya, pulau tertimur Nusantara, menuju Javadwipa, sampai ke barat Daha lalu bagian paling utara yaitu Champa. Masing-masing kelompok tidak saling dikaitkan sebab kerusuhan mereka berbeda.Jika Gelegar Awan sering disebut raja Brutal, berbeda dengan beberapa pemimpin lainnya. Lebih banyak dari mereka sering bergerilya. Awan itu masokis. Hobinya dibikin sakit. Gaya bertarungnya cenderung menyerang daripada bertahan. Pertanahannya ya dengan serangan. Dia akan terus menyerang dengan jarak dekat hingga musuh kewalahan. Jika menemui orang yang kuat, maka pilihannya hanya bertahan dengan serangan. Siapa yang lebih sabar dan bugarlah yang menang.Tidak banyak para berandal dan preman yang berani dengannya. Sebab sikapnya yang tak tahu malu dan cukup gila itulah, mereka takut mati hanya dengan sekali bertarung. A
Langit buatan berwarna biru, awan putih tebal yang menyenangkan seperti kapas. Tumbuhan-tunbuhan subur yang menyegarkan. Beberapa daun dipenuhi titik-titik embun. Ini taman dalam ruangan yang menyenagkan. Beberapa kursi terlihat anggun dengan bahan dasar kayu. Ada beberapa alat dari bambu. Ukiran-ukirannya semakin menggugah selera.Harinya dipenuhi dengan kenyamanan. Refleknya mulai kembali normal. Beberapa kali ia berbicara dengan pengawas dan orang-orang yang tinggal di sini. Kebanyakan laki-laki, meski begitu Kanyaah tak curiga pada apa pun. Seminggu dua sampai tiga kali ia akan diperiksa kesehatannya. Itu terjadi selama sebulan.Sekarang ia bebas dan tidak memiliki pekerjaan. Jelita benar-benar bisa diakses meski bersyarat, beberapa hal tidak bisa ia tanyakan atau Jelita yang tak mau menjawabnya.Kadang Kanyaah keluar dari lantai taman, pergi ke pus
Empat bulan sudah berlalu sejak Cakra kembali ke rumahnya. Semua orang sibuk bekerja dan dia memiliki sedikit waktu untuk mengatur beberapa presiden perusahaanya yang ia tunjuk untuk bekerja di bawahnya. Dia juga mengatur beberapa menejemen pergerakan Pasak Suram. Akhir-akhir ini, banyak sekali orang pergi ke Warnadwipa, tiket pesawat habis bahkan antrian memanjang. Meski Cakrawala tidak bisa memastikan tujuan mereka, dominan orang-orang ini pasti dikirim untuk menyelidiki tentang Bos Besar Pasak Suram.Menghela napasnya pelan, Cakrawala berjalan mendekati kursi roda. Dia membuka pintu dan menatap ruangan di bawah yang benar-benar lengang. Beberapa pelayan bahkan tidak bisa dan tidak akan pernah berani berjalan di depannya. Menunjukan jati diri mereka saja takut.Cakrawala meminta Domanic untuk datang, dia akan meminta izin kepada keluarga untuk membawa Cakra pergi. Setidaknya dengan begitu dia
Bug bug bug Dak "Sttt!" "Huh!" Suara bising terdengar dalam ruangan penuh dengan matras. Dua orang sedang saling tinju, mereka memukul dan menghindar. Sesekali meringis jika terpukul pada tempat yang fatal. Keringat menetes, memenuhi tubuh keduanya. Sesekali masuk ke mata, sesekali pula masuk ke mulut, asin! Setelah berlari mengelilingi ruang dengan alokasi jarak lebih dari dua puluh kilometer dengan beban ratusan kilogram, mereka harus berjalan membawa beban dua ratus kilogram. Semuanya cukup melelahkan, tetapi emosi yang tersisa harus disalurkan memalui pertandingan. Begitulah jadinya, Awan dan Shaoyun benar-benar babak belur tidak ada alat pengaman apa pun saat keduanya bertanding. Tidak ada pula was
Cakrawala Dirgantara Amangku Buana, sosok dingin dengan wajah datar yang tampan penyempurna. Pahatan tubuhnya luar biasa, siapa yang tak ingin merabanya?Dia, kembali dari sosok paling sempurna menjadi buruk rupa, mirip jodohnya princess Bella!Pada masa remajanya, Cakra mengalami kecelakaan. Kakinya lumpuh, wajahnya hancur berantakan. Sebelum kakeknya meninggal, dia mengatakan beberapa rahasia di Pulau Warnadwipa dikenal juga Pulau Borneo, memindahtangankan aset rahasia miliknya yang ratusan kali lipat daripada aset yang diketahui seluruh anggota keluarga.Bukan karena keluarganya gila harta, bukan pula perselisihan antarsaudara. Kakeknya memberi tahu, ada banyak musuh yang lebih besar dan lebih kejam daripada monster yang sering ia lihat di televisi.Oleh karena itu, remaja yang baru saja meninggalkan usia anak-anaknya itu tumbuh lebi
Sesungguhnya, Amitha Kanyaah tidak peduli dengan perlakuan mereka terhadapnya. Bagaimana orang di depannya ini akan terus menyiksa dan menyakitinya. Apa boleh buat? Amira hanya penasaran, akankah prediksinya benar? Untuk apa mereka menculiknya?Ruangan sunyi, si lelaki yang kerap dipanggil Boss itu memainkan topi bundar dan tongkatnya. Rambut hitam kelam dengan rupa paling sempurna di mata Amitha membuat hatinya bergetar.Amitha Kanyaah menekan dirinya sendiri, rupa yang mempu menyihir itu musuhnya. Dia yang telah menculiknya. Dia pula yang membuat keluarganya menderita. Menggigit pipi bagian dalam, ini kali pertama mata sayu dan tidak berdaya ditunjukan kepada mereka."Kenapa kamu menculikku? Kenapa mereka tahu tentang keluargaku. Kamu membunuh mereka!" tuduh Amitha Kanyaah penuh emosi. Bibirnya bergetar, dia tidak mengerti, mengapa kelemahannya ditunj
Flashback, akhir tahun kemarin.Langit begitu cerah berawan, sebuah kapal besar menampung ribuan orang berlayar di tengah lautan. Deburan ombak tak tampak di kejauhan, hanya gelombang sunyi dan deru mesin yang merdu. Beberapa kali terdengar burung menggagak, lumba-lumba menampilkan kemahirannya dan ... oh! Betapa indahnya dunia laut di bawah sana.Gadis itu, dengan rambut ikal di ujung lurusnya, membuka kacamata. Mengagumi bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta. Menikmati bagaimana Tuhan menciptakan semilir angin yang menggoda. Bajunya tipis, bercorak bunga, mengantung dari bahu hingga batas lututnya. Lengan putih langsat itu mempesona, tampak cantik senada rupa. Lentik bulu mata, makin menggoda dengan bibir penuh yang merona.Dia tersenyum, menggetarkan mata khalayak umum. Bahkan anak kecil yang polos saja iri dengan kemegahan itu. Matahari bersinar, terangnya menyorot penuh padanya. Seakan semesta memberi tahu, hanya dia yang pantas menjadi sorotan.&
Cakrawala Dirgantara Amangku Buana sedang duduk di sofa. Secara otomatis, sistem membuka tembok di depannya. Kaca tembus pandang satu arah terlihat. Dari sudut Cakra, dia bisa melihat semua hal di dalam ruangan. Dalam sudut ruangan di depannya, mereka jelas hanya melihat tembok tanpa ada perubahan."Mulai!"*Tiga penyidik di bawah Qi Shaoyun menatap gelang perak mereka. Kemudian ketiganya saling menatap dan menoleh sedetik ke arah kanan. Mereka tahu Bos Besar yang mereka hormati ada di sana mengawasi secara langsung kelakuan mereka.Salah satu dari mereka berdehem. Dia mendekati Amitha dan menatapnya geram. Bos ada di sini, ambisinya membuat gadis ini cepat buka mulut menjadi lebih besar.Dia menampar keras pipi Kanyaah. Gadis itu hanya menyipitkan mata, lalu menyeringai. Wajah lebamnya tak menutupi segala kecantikan gadis mungil itu. Amitha Kanyaah memang mungil dan ke
Gelagar Awan, satu dari beberapa pemimpin kelompok kecil yang sering merusuh di wilayah Nusantara. Sepanjang pulau Jayabaya, pulau tertimur Nusantara, menuju Javadwipa, sampai ke barat Daha lalu bagian paling utara yaitu Champa. Masing-masing kelompok tidak saling dikaitkan sebab kerusuhan mereka berbeda.Jika Gelegar Awan sering disebut raja Brutal, berbeda dengan beberapa pemimpin lainnya. Lebih banyak dari mereka sering bergerilya. Awan itu masokis. Hobinya dibikin sakit. Gaya bertarungnya cenderung menyerang daripada bertahan. Pertanahannya ya dengan serangan. Dia akan terus menyerang dengan jarak dekat hingga musuh kewalahan. Jika menemui orang yang kuat, maka pilihannya hanya bertahan dengan serangan. Siapa yang lebih sabar dan bugarlah yang menang.Tidak banyak para berandal dan preman yang berani dengannya. Sebab sikapnya yang tak tahu malu dan cukup gila itulah, mereka takut mati hanya dengan sekali bertarung. A
Ruangan pekat dengan keremangan lampu yang memusingkan terlihat mencekam. Seorang lelaki dengan kemeja polister hitam tengah duduk di dampingi 3 wanita penghibur yang sibuk membelainya. Dua kancing teratas dibuka. Jenis kemejanya memberi kemudahan, tidak membuatnya berantakan. Namun, tidak dengan rambut hitamnya yang acak-acakan.Dia menyeringai, tatapannya cukup tajam. Akan tetapi, seisi ruang masih dapat mengendalikan kehadiran mereka. Sama sekali tak takut akan terjadi hal yang buruk.Sofa di sebelahnya, tergeletak tegak lurus dengan sofa yang diduduki pria pertama, terisi dua pemuda dengan jubah putih khas dokter yang sedang saling memandang. Tidak ingin kalah satu sama lain. Mereka mungkin sedang bersaing dalam suatu hal(?)Suasana mencekam datang dari orang di single sofa paling berbeda. Jubah hampir selutut warna hijau lumut yang lebih tua ia kenakan. Tatapannya sedikit ramah, tetapi siapa p