Ziandra merutuki dirinya sendiri sepanjang perjalanan pulang. Ia masih tidak percaya bahwa dirinya kabur begitu saja setelah ditegur atasannya tadi. pikirannya kalut, bahkan ia hampir melupakan rencananya untuk pergi ke bank setelah pulang kerja guna mengajukan pinjaman.
Dengan berat hati, Ziandra memutar langkah, berjalan kaki menuju bank meski kosnya sudah hampir terlihat di ujung jalan. Langkahnya terasa lambat, seolah-olah seluruh tenaganya terkuras habis oleh rasa malu dan putus asa.
Sesampainya di bank, semuanya berjalan lebih cepat dari dugaannya. Tak butuh waktu lama, ia sudah keluar dengan wajah tertunduk lesu. Hatinya seperti dihantam batu besar. Pengajuan pinjamannya ditolah mentah-mentah oleh pihak bank.
“Kenapa sulit sekali untuk meminjam uang, sih? Padahal aku sudah janji akan membayar tepat waktu. Aku juga nggak mungkin kabur,” keluhnya sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.
Alasan penolakan bank masih terngiang di telinganya. Ziandra yang tidak memiliki jaminan selain kartu pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan, membuat bank enggan memberikannya pinjaman. Realita pahit hidupnya sebagai perantau melarat seperti menampar keras kesadarannya.
“Setelah ini, aku harus bagaimana? Apa aku nekat pinjam ke rentenir ilegal? Tapi ... kalau nanti ke depannya ada masalah saat penagihan, aku bisa makin terpuruk,” gumamnya sambil menggigit bibir bawah. Pikirannya semakin kacau.
Ia masih berdiri di halaman bank, tatapannya kosong menembus aspal parkiran. Suara deru mobil yang masuk pelataran parkir sama sekali tidak menarik perhatiannya. Bahkan saat pintu belakang mobil itu terbuka dan seseorang keluar, ia tetap tak sadar.
“Sedang apa kau melamun dan hanya berdiri saja di sini?” panggilnya diikuti tepukan lembut di pundaknya.
Ziandra menoleh dan tersentak kaget, matanya langsung melebar. Rasanya udara di sekitarnya berhenti bergerak.
“Pak Angga?” gumamnya dengan nada tak percaya.
Angga tersenyum tipis. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa melamun di sini?” ujarnya dengan suara tenang tapi menusuk.
Ziandra menelan ludah susah payah. Ia menundukkan kepala sambil berusaha mencari alasan. “Saya ... sedang mengurus sesuatu, Pak,” jawabnya tergagap. “Tapi ini tidak penting. Anda abaikan saja keberadaan saya dan bisa fokus dengan kegiatan Anda sendiri. Kalau begitu, saya permisi.”
Ziandra buru-buru membungkukkan badan, berbalik, dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu. Lebih tepatnya ingin menghindari Angga dengan segera. Namun, baru beberapa langkah, suara Angga kembali terdengar untuk menginterupsinya.
Ziandra berusaha mengabaikan panggilannya dan mempercepat langkahnya. Tetapi, langkah kaki Angga yang mengejarnya di belakang membuat napasnya tertahan.
“Kalau kau terus kabur seperti ini, aku tidak akan segan memanggilmu ke ruanganku besok,” ancamnya dengan suara dingin.
Terpaksa, Ziandra akhirnya berhenti dan berbalik dengan wajah penuh keraguan. Di depannya berdiri Angga, CEO baru di perusahaannya dengan senyuman miring yang membuat Ziandra semakin terpojok.
“Apa maksud Anda, Pak?” tanyanya dengan suara bergetar.
Angga melipat tangan di dada, menatapnya lekat-lekat. “Ada yang ingin kubicarakan berdua denganmu,” ujar Angga sambil melirik sebuah restoran kecil di seberang jalan.
“Maaf, tapi saya harus segera pulang,” tolak Ziandra seraya menggeleng cepat.
Angga membungkukkan badannya sedikit dan berbicara dekat telinga Ziandra dengan suara pelan. “Kau pikir aku tidak mengenalimu? Wanita yang tidur denganku di hotel tempo hari ... itu kau.”
Ziandra membelalak, tubuhnya seketika tegang. Dengan wajah memucat dan hati berdebar kencang, Ziandra akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah, Pak. Tapi, hanya sebentar.”
Angga tersenyum puas. “Bagus. Ayo, kita pergi.”
*****
Di restoran, suasana terasa canggung untuk Ziandra, tetapi tidak untuk Angga yang terlihat begitu santai. Ia memesan minuman untuk mereka berdua sebelum memulai pembicaraan.
“Kau tahu, kejadian malam itu cukup mengejutkan,” katanya sambil menatap Ziandra lekat-lekat.
Ziandra hampir tersedak mendengar ucapannya. “I—itu hanya sebuah kesalahan. Saya benar-benar tidak tahu siapa Anda saat itu. Saya minta maaf. Tapi tolong, lupakan saja kejadian itu seolah tak pernah terjadi, Pak!”
Namun, Angga malah tersenyum tipis. “Kenapa aku harus melupakannya? Itu adalah malam berkesan yang tentu saja takkan mudah kuabaikan.”
“Tapi ... ini salah. Tak seharusnya kita terjebak dalam situasi seperti ini,” desis Ziandra putus asa.
“Mungkin bagimu ini hanyalah sebuah kesalahan. Tapi bagiku, itu cukup untuk membuatku tertarik padamu, Ziandra. Kau mungkin akan menganggapku hanya bicara omong kosong, tapi aku bersungguh-sungguh.”
Ziandra membeku mendengar apa yang baru saja atasannya itu ungkapnya. Setelah keterdiamannya beberapa detik, ia langsung bangkit dari kursinya dan membungkukkan badan dengan sopan.
“Maaf, jika sudah tak ada lagi yang dibicarakan, saya pamit.”
Tanpa menunggu izin dari Angga, ia langsung bergegas pergi. Ziandra terlalu syok mendengar pernyataan mengejutkan atasannya itu. Mereka bahkan baru sekali bertemu karena kesalahan bodohnya yang mabuk malam itu, tapi Angga bilang sudah bisa membuatnya tertarik? Sungguh tak masuk akal.
*****
“Kenapa hidupku jadi serumit ini?” gumamnya sambil membuka pintu kos kecilnya. Ruangan itu sempit yang hanya berisi tempat tidur single, lemari pakaian kecil, dan meja sederhana.
Ziandra yang sudah lelah seharian ini dengan serentetan masalah, langsung menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Saat hampir terlelap, suara ketukan pintu membuatnya telonjak kaget. Ia melirik jam dinding—sudah hampir pukul sepuluh malam.
“Siapa yang datang malam-malam begini?” gumamnya dengan malas berjalan ke pintu.
Ketika pintu terbuka, tubuh Ziandra membeku. Di hadapannya, berdiri Angga dengan wajah santai dan tangan yang dimasukkan ke saku celananya.
“Mau apa Anda ke sini? Dan tahu dari mana tempat tinggal saya?” ucapnya dengan suara nyaris berbisik.
“Kau butuh uang, ‘kan? Untuk sesuatu yang penting. Kau ke bank tadi untuk meminjam uang, tapi mereka menolakmu. Aku tahu semua itu,” jawab Angga dengan santai. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya—selembar cek kosong.
“Apa maksudnya ini, Pak?” ujar Ziandra menatap waspada pada tangan Angga yang bermaksud menyodorkan cek ke arahnya.
“Isi nominal yang kau butuhkan. Dan sebagai gantinya, aku ingin satu hal darimu.”
Ziandra merasa seluruh tubuhnya menegang. Ia tahu, ini bukan tawaran biasa. Dengan gemetar ia memberanikan diri mendongakkan kepala untuk menatap wajah Angga. Sambil kedua tangan terkepal di kedua sisi tubuhnya, ia berusaha bicara meski dengan suara bergetar.
“Apa Anda pikir saya wanita murahan? Maaf, tindakan Anda sekarang sangat melukai perasaan saya. Bisakah Anda tinggalkan tempat ini dan berhenti mengganggu!?” tekannya membuat Angga sempat terhenyak sebentar.
Angga dengan mudah menetralkan keterkejutannya dan kembali bersikap biasa. Wajahnya mencerminkan ketenangan yang mampu dia kuasai, berbanding terbalik dengan Ziandra yang terlihat ketakutan.
“Sepertinya kau sedikit salah paham dengan niat baikku untuk menolongmu. Biar kujelaskan sedikit, bahwa tawaranku ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Kau takkan rugi apapun, begitupun sebaliknya. Aku butuh kau ... dan kau butuh uangku.”
Angga menatapnya dengan senyum misterius. “Bisa dibilang, aku menawarkan pekerjaan tambahan padamu. Secara pribadi.”Ziandra menelan ludah dengan susah payah, merasa ada yang tidak beres dari kalimat itu. “Memangnya pekerjaan apa yang Anda maksudkan?”“Jadilah kekasih sewaanku selama 3 bulan. Sebagai gantinya, aku akan memberikan berapa pun yang kau butuhkan,” ungkap Angga seraya menyodorkan cek kosong ke tangan Ziandra.Ziandra menatap Angga dengan campuran rasa takut dan bingung. Cek kosong yang sudah berpindah ke tangannya terasa berat seperti batu.“Kutunggu jawabanmu besok,” kata Angga sebelum berbalik pergi, meninggalkan Ziandra yang terpaku di tempat.Saat langkah Angga menjauh, Ziandra segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Tubuhnya langsung merosot di lantai. Ia menatap cek kosong di tangannya dengan napas yang terasa sesak.Namun, pikirannya segera teralihkan saat ponselnya yang ada di saku celana berbunyi. Pesan dari sepupunya di desa masuk.[Kondisi nenek semakin lem
“Apa kamu serius dengan nominal segitu?” lanjutnya membuat Ziandra menundukkan kepala dengan gugup.Sambil memilin ujung kemejanya, Ziandra mencoba untuk membalas ucapan Angga dengan suara lirih. “Ya. Itu cukup untuk semua biaya yang kubutuhkan. Kalau terlalu besar, saya bisa menguranginya...,”“Mengurangi? Astaga, Ziandra. Tiga puluh juta itu bahkan tak cukup untuk biaya makan malam keluargaku sekali duduk.”Angga memotong ucapan Ziandra dengan menyindir halus. Ia meraih pena di meja, menambahkan angka nol di akhir nominal itu, lalu mengembalikan cek itu ke tangan Ziandra.Ziandra menatap cek itu dengan mata melebar, tak menyangka bahwa uang sebesar 300 juta ada di genggamannya. Seumur-umur ia belum pernah memegang uang sebanyak itu, apalagi itu akan jadi miliknya.Ziandra mengenyahkan pikiran buruknya dengan menggelengkan kepalanya pelan. “Pak Angga, ini terlalu banyak! Saya tidak bisa menerimanya.”Ziandra bermaksud mengembalikan cek itu dan akan menulis nominal yang wajar untuknya
Ziandra merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal setelah duduk lama. Layar monitor di hadapannya sudah ia matikan dan bersiap untuk pulang. Namun, baru saja ia hendak merapikan mejanya, suara berat yang tak asing menyapanya dari belakang.“Kau belum pulang?” Ziandra hampir melompat saking kagetnya. Ia menoleh cepat dan menemukan Angga berdiri tak jauh di belakangnya, kedua tangannya terselip di saku celana, ekspresinya tetap datar seperti biasa.Ziandra menelan ludah. “Saya menyelesaikan tugas sebelum—,”“—sebelum kau resmi menjadi sekretarisku,” potong Angga sambil menatapnya. “Bagus. Tapi jangan terlalu membebani dirimu sendiri. Mulai besok, kau akan jauh lebih sibuk.”Ziandra mendesah pelan. “Saya tahu....”Ziandra kembali membereskan dokumen-dokumennya, berharap Angga segera pergi. Tapi bukannya beranjak, pria itu justru mengambil salah satu dokumen yang baru saja ia rapikan dan membolak-baliknya dengan santai.“Jadi, bagaimana rasanya mendapatkan promosi mendadak?” tanya Angga,
Keesokan harinya, seperti yang sudah Ziandra duga, kantor langsung dipenuhi bisik-bisik saat ia datang. Semua mata tertuju padanya seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang salah.“Hei, kau sudah dengar? Ziandra jadi sekretaris pribadi Pak Angga sekarang.”“Serius? Gimana caranya? Dia pasti pakai jalan pintas.”“Gila, aku iri setengah mati. Padahal dia cuma pegawai biasa kemarin.” Ziandra menundukkan kepala, berusaha mengabaikan tatapan menusuk dan komentar-komentar pedas soal dirinya. Langkahnya ia percepat berusaha untuk menjauh secepat mungkin.Di sudut ruangan lain, Elden bersandar santai di dinding dekat pantry dengan segelas kopi di tangannya. Ia mendengarkan gosip yang berseliweran dengan ekspresi tenang, lalu tersenyum miring.Semalam, Elden berniat mengejek Ziandra karena melihatnya lembur sendirian, terlihat begitu menyedihkan setelah putus darinya. Namun, siapa sangka justru ada moment menarik yang dilihatnya.Elden melihat kebersamaan antara Ziandra dan Angga—atasannya ya
Ziandra menatap pesan itu dengan dahi mengernyit bingung. Tak butuh waktu lama untuknya segera membalas pesan.[Siapa kamu? Apa maksud dari pesanmu ini?]Namun hingga belasan menit Ziandra menunggu, tak ada balasan apapun dari pengirim pesan padahal sudah ada tanda dibaca.Ziandra pun memutuskan menghubungi nomor itu untuk mencari tahu. Tepat saat dirinya menekan tombol panggil, suara ponsel berdering di belakangnya membuat ia cepat menoleh.“Elden, jadi kau orangnya? Kenapa mengirimiku pesan seperti itu? Menyebalkan sekali,” kecam Ziandra ketika Elden berjalan mendekatinya.Elden menaikkan sebelah alisnya. Sebelah tangannya ia gunakan mengambil ponsel yang terselip di saku celana dan mengangkat telepon itu dengan tenang sambil memperhatikan tatapan terkejut Ziandra padanya.“Iya, sebentar lagi aku akan datang. Kau bisa mulai dulu mempersiapkan rapatnya.”Usai menjawab teleponnya, Elden menatap sepenuhnya pada Ziandra yang masih bengong.“Kau itu kenapa? Tiba-tiba marah padaku dan men
Ziandra menangis di depan Angga. Ia tak peduli tanggapan bosnya itu akan seperti apa melihatnya berantakan dengan tangis pecah begini. Ia terlalu kalut memikirkan kalau peneror itu sungguh akan melaporkannya pada keluarganya di desa.“Ada apa denganmu? Hey, berhentilah menangis dan katakan padaku apa yang terjadi!” ucap Angga sambil menuntun Ziandra agar masuk ke ruangannya.Meski Angga yakin semua karyawan sudah pulang, ia tak mau ambil risiko bahwa terpergok berduaan dengan Ziandra di depan pintu ruang kerjanya.Dengan lembut Angga mendudukkan Ziandra di sofa yang ada di ruangannya. Ia juga menyodorkan botol air mineral pada Ziandra.“Tenang dan jelaskan padaku dengan perlahan-lahan! Aku janji akan membantumu sebisanya,” ujar Angga kembali menginterupsi Ziandra yang tampak masih terpukul dengan masalahnya.Ziandra mengangguk patuh. Ia menenggak hampir separuh isi botol dan menatap ke arah Angga dengan ragu.Setelah meyakinkan dirinya bahwa ini keputusan yang tepat, ia memberanikan u
Ziandra menggeleng cepat. “Aku tidak bisa. Itu akan semakin membuat gosip berkembang—,”“Peduli setan dengan gosip!” suara Angga meninggi, membuat Ziandra tersentak. Angga menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya sebelum kembali berbicara lebih lembut. “Aku lebih peduli pada keselamatanmu. Gosip bisa dengan mudah menghilang, tapi kalau terjadi sesuatu padamu, aku tidak bisa menerimanya. Ayolah, menurut padaku!”Ziandra meremas ujung bajunya. Rasa ragu dan takut bercampur jadi satu. Tetapi, melihat tatapan serius Angga yang terlihat sangat khawatir padanya, ia tahu bahwa pria itu tidak main-main.Ziandra pun memberi anggukan kecil pertanda memberi persetujuan. Bukan karena dipaksa, tapi karena di dalam hatinya ia takut tinggal sendirian di sini.Angga tersenyum lega mendapat persetujuan dari Ziandra. “Cepat kemas barang-barang yang kau butuhkan. Aku akan menunggu di luar sini sambil memantau keadaan sekitar.”Ziandra masuk ke dalam kamar dengan perasaan campur aduk. Sementara di l
“Kenapa mempertanyakan hal itu? Apa kau sudah tahu siapa orang yang menerorku? Jika iya, cepat katakan siapa, Angga!” tuntut Ziandra yang berfirasat bahwa Angga mengetahui sesuatu, mungkin saja dia sudah tahu pelakunya.“Aku belum memastikan dia orangnya. Tapi, aku menunggu jawabanmu. Apa yang kau lakukan jika tahu pelakunya?” tegas Angga dengan suara otoriternya.Ziandra tampak berpikir dengan menggembungkan sebelah pipinya. “Entahlah, aku hanya akan bilang padanya bahwa jangan sampai memberitahukan rumor itu pada keluargaku. Akan kuberi penjelasan bahwa itu hanyalah gosip palsu yang tidak benar.”“Lalu, kau akan melepaskannya begitu saja? Setelah teror yang dia lakukan, kau hanya akan memberinya sebuah penjelasan dan setelah itu melupakan kesalahannya. Aku tak habis pikir, apa kau tak marah dan dendam padanya karena perbuatannya itu?” gerutu Angga kurang setuju dengan apa yang disampaikan Ziandra.Bahkan meski bukan Angga yang diteror, ia sudah kesal dan marah. Tapi, malah Ziandra t
Ziandra menyandarkan kepalanya di jendela mobil, matanya menatap lampu-lampu jalan yang berpendar di tengah kota. Devan menyetir dengan satu tangan di kemudi, sementara tangan satunya menopang dagu.“Turunkan aku di tikungan sebelum apartemen,” ujar Ziandra tiba-tiba.Devan meliriknya sekilas, tapi tak langsung menjawab. “Kenapa? Apartemen Angga ‘kan tidak jauh lagi?”Ziandra menghela napas. “Aku tidak ingin Angga salah paham kalau melihatku turun dari mobilmu.”Devan terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia tahu ini bukan tentang malu atau takut. Ziandra hanya ingin menjaga hubungan rumah tangganya tetap baik. Sementara itu, ia sendiri sadar bahwa setelah ini, kebersamaan mereka mungkin akan berakhir. Ziandra takkan lagi duduk di sebelahnya, tertawa kecil mendengar leluconnya, atau menatapnya tanpa rasa curiga seperti tadi.Dan entah kenapa, itu terasa menyebalkan.Namun, Devan bukan seseorang yang
Satu jam berlalu tanpa terasa. Ziandra mengira makan malam ini akan terasa canggung, tapi nyatanya, ia malah menikmati waktu bersama Devan. Pria itu jauh lebih menyenangkan dari yang ia bayangkan—humoris, santai, dan bahkan bisa membuatnya tertawa di sela-sela makan.Devan menyuapkan potongan steak ke mulutnya, lalu menatap Ziandra dengan seringai menggoda. “Jadi, bagaimana sebenarnya kau dan Angga bisa bertemu?”Ziandra yang sedang mengunyah, nyaris tersedak mendengar pertanyaan itu. Ia buru-buru meneguk air putihnya, berusaha menjaga ekspresi agar tetap tenang.“Oh, itu ...,” Ziandra menunduk sedikit, menyusun kebohongan yang terdengar masuk akal. “Kami bertemu secara kebetulan. Layaknya pasangan lain, kau tahu? Awalnya tidak menyangka, lalu saling tertarik dan jatuh cinta begitu saja.”Devan mengangkat alis, seolah tidak percaya begitu saja. “Kebetulan, ya?”Ziandra mengangguk gugup, tersenyu
Ziandra duduk sendirian di halte bus, pandangannya kosong menatap jalanan yang mulai gelap. Lampu-lampu kota berpendar, kendaraan berlalu-lalang, tapi ia hanya diam, larut dalam pikirannya sendiri.Sikap dingin Pak Yuda dan bentakan Angga tadi membuat hatinya terasa berat. Ia tahu suaminya sedang tertekan, tapi tetap saja, menerima perlakuan seperti itu dari orang yang ia cintai membuatnya terluka.Ziandra menarik napas panjang. Ia ingin pulang ke apartemen Angga, tapi di sana ia hanya akan sendirian. Itu akan terasa jauh lebih menyakitkan daripada duduk di halte ini. Setidaknya di sini, ia bisa menenangkan pikirannya meski hanya sementara.Tiba-tiba suara klakson mobil membuatnya tersentak. Ziandra menoleh dan melihat sebuah mobil mewah berhenti tak jauh darinya. Kaca jendela perlahan turun, memperlihatkan sosok yang duduk di balik kemudi.“Devan?” gumam Ziandra terkejut, tak menyangka bertemu adik iparnya.Pria itu menyunggingkan seny
Saat Angga tiba di depan ruangannya, ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu dengan cepat.Di dalam, Pak Yuda sudah duduk di kursinya dengan ekspresi datar. Wajahnya tidak menunjukkan emosi, tapi sorot matanya tajam, menusuk ke arah Angga yang baru masuk. Seakan sedang menghakimi setiap gerak-geriknya.“Duduk,” perintahnya singkat.Angga menelan ludah. Ia tahu, setiap kali ayahnya bersikap seperti ini, itu berarti ada sesuatu yang serius. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di kursi yang ada di hadapan sang ayah.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan. Pak Yuda tidak langsung berbicara, hanya menatapnya seolah sedang menimbang sesuatu.“Aku mendengar kabar bahwa kau dan Devan sedang berselisih soal jabatan,” ujar Pak Yuda akhirnya, suaranya tenang namun berisi tekanan. “Benarkah?”Angga mengangguk kecil, lalu bersandar di kursinya. “Itu benar,” jawabnya lugas.Pak
Ziandra menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik. Matanya menatap Elden dengan jengah. “Apa?”Keduanya sedang ada di koridor yang cukup sepi. Elden sengaja terus mengekori Ziandra di belakang hingga membuat wanita itu risih sendiri dan akhirnya mau menyapanya seperti sekarang.Elden menyandarkan tubuhnya ke dinding, menatapnya dengan ekspresi santai, tapi nada suaranya penuh rasa ingin tahu. “Sepertinya ada perang dingin yang cukup besar antara suamimu dan saudara tirinya itu. Gosip menyebar dengan cepat mengatakan kalau mereka sedang berselisih karena perebutan kekuasaan. Apa itu benar? Kau pasti tahu lebih banyak, kan?”Ziandra menghela napas, jelas tak ingin terlibat dalam pembicaraan ini. “Jangan penasaran dan cari tahu! Ini urusan keluarga,” jawabnya singkat.Elden terkekeh, sama sekali tak mengacuhkan peringatan Ziandra padanya. Sebaliknya, ia malah makin tertantang untuk mencari tahu. “Oh, ayolah, Zia
Langkah-langkah Angga menggema di sepanjang koridor kantor, tergesa dan penuh amarah. Wajahnya mengeras, rahangnya mengatup kuat, sementara jemarinya mengepal di sisi tubuh. Kabar yang baru saja ia terima benar-benar tak masuk akal—Devan saat ini sedang memimpin rapat besar terkait proyek yang seharusnya ada di bawah kendalinya.Sialan! Anak itu benar-benar berani melewati batas, amuknya membatin.Begitu sampai di depan ruang rapat, Angga mendorong pintu tanpa ragu, mengabaikan tatapan terkejut dari para eksekutif yang tengah berkumpul. Matanya langsung mengunci pada sosok yang berdiri di depan layar presentasi—Devan, dengan ekspresi santai dan percaya diri. Seolah-olah ia memang berhak berada di sana.“Siapa yang mengizinkanmu mengambil alih proyek ini?” suara Angga terdengar tajam, nyaris seperti ancaman.Devan menyeringai kecil, tangan di sakunya. Ia menunjukkan bahwa sama sekali tidak gentar dengan kemarahan kakaknya. “Ah
Setibanya di apartemen, Angga menarik napas dalam. Meski hanya sebuah unit modern yang diisi hanya dirinya dan sang istri, tempat ini terasa jauh lebih nyaman dibandingkan rumah keluarganya. Tidak ada tatapan dingin ibu tirinya, tidak ada rasa tersudut karena sikap ayahnya, bahkan tak perlu bersitegang dengan Devan. Yang paling penting, hanya ada dirinya dan Ziandra, berdua dan tenang.Ziandra pun merasakan hal yang sama. Ia menyadari bahwa sikap Angga lebih santai begitu mereka tiba di sini. Suaminya itu melepas jasnya, mengendurkan dasi, lalu duduk di sofa dengan ekspresi yang jauh lebih rileks.“Kau mau teh atau kopi?” tanya Ziandra sambil melangkah ke dapur.“Kopi,” jawab Angga singkat, matanya mengawasi Ziandra yang mulai sibuk di dapur.Ziandra tidak hanya menyiapkan kopi, tetapi juga membuat sarapan sederhana dengan bahan yang ada di kulkas. Tadi pagi, mereka hampir tidak menyentuh makanan di rumah Angga karena suaminya buru
Pagi harinya, Ziandra bangun dengan perasaan lebih ringan. Ia menoleh ke sisi tempat tidur dan melihat Angga masih tertidur dengan napas yang teratur. Ia tersenyum kecil, merasa aneh melihat pria setegas Angga tampak begitu tenang dalam tidurnya.Sebelah tangan Ziandra terulur untuk mengelus pipi Angga. Karena pergerakannya itu, membuat tidur Angga sedikit terganggu.“Ada apa?” tanya Angga dengan suara serak khas bangun tidur. Sesaat kemudian ia menguap lebar dan menarik Ziandra untuk dipeluknya. Ia masih ingin melanjutkan tidur, rasanya nyaman ketika Ziandra ada di sampingnya begini.Ziandra memukul kecil lengan Angga sambil terkekeh. “Kita sudah terlambat bangun. Ayo, cepat bersiap!” ujarnya berusaha melepaskan diri dari pelukan erat suaminya.Angga mengeluh, “Tapi aku masih ingin bermanja denganmu. Nanti siang saja kita keluar kamarnya.”Angga tahu alasan kenapa Ziandra menyuruhnya untuk segera bangun. Pagi in
Selesai acara, Ziandra dan Angga masuk ke dalam kamar. Kamar pengantin mereka begitu mewah, dengan pencahayaan lembut dan lampu-lampu di sudut ruangan. Sengaja Angga sedikit merubah desain kamar yang sebelumnya memiliki nuansa gelap, kini sedikit jauh lebih hangat dan nyaman.Ziandra duduk di kursi meja rias, melepas perlahan perhiasan yang tadi menghiasi tubuhnya. Sementara itu, Angga berdiri di dekat jendela yang terbuka, mengendorkan dasi dan menggulung lengan kemejanya, menghirup udara malam dengan santai.Angga melirik ke arah Ziandra yang tampak kesulitan melepaskan kalung yang melingkar di lehernya. Tanpa basa-basi, ia bergerak tenang untuk membantu melepas kaitan kalung itu dengan berdiri di belakang Ziandra.“Capek?” tanya Angga sembari melirik ke arah Ziandra lewat cermin.Mata keduanya bertatapan di cermin. Anggukan kecil dan senyum tipis Ziandra terlihat oleh mata Angga yang seketika membuatnya ikut tersenyum.Angga memutar