Share

Bab 5~Menerima atau Menolak~

Penulis: Giana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-31 17:24:41

Angga menatapnya dengan senyum misterius. “Bisa dibilang, aku menawarkan pekerjaan tambahan padamu. Secara pribadi.”

Ziandra menelan ludah dengan susah payah, merasa ada yang tidak beres dari kalimat itu. “Memangnya pekerjaan apa yang Anda maksudkan?”

“Jadilah kekasih sewaanku selama 3 bulan. Sebagai gantinya, aku akan memberikan berapa pun yang kau butuhkan,” ungkap Angga seraya menyodorkan cek kosong ke tangan Ziandra.

Ziandra menatap Angga dengan campuran rasa takut dan bingung. Cek kosong yang sudah berpindah ke tangannya terasa berat seperti batu.

“Kutunggu jawabanmu besok,” kata Angga sebelum berbalik pergi, meninggalkan Ziandra yang terpaku di tempat.

Saat langkah Angga menjauh, Ziandra segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Tubuhnya langsung merosot di lantai. Ia menatap cek kosong di tangannya dengan napas yang terasa sesak.

Namun, pikirannya segera teralihkan saat ponselnya yang ada di saku celana berbunyi. Pesan dari sepupunya di desa masuk.

[Kondisi nenek semakin lemah. Dokter bilang harus segera operasi. Kami nggak tahu harus gimana lagi kalau nggak ada uangnya.]

Ziandra menggigit bibirnya, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tentu tak bisa biarkan nyawa nenek tercintanya terancam hanya karena uang. Sambil menatap lekat cek kosong di tangannya, ia mencoba meyakinkan bahwa ini keputusan yang tepat.

“Tiga bulan saja. Tidak apa-apa. Aku hanya harus bertahan tiga bulan,” gumamnya pelan dengan napas berat.

Ziandra mengangguk yakin. Lalu dia berusaha untuk tidur malam ini, meskipun itu sangat sulit.

*****

Keesokan harinya, Ziandra berangkat ke kantor dengan berat hati. Ia berusaha menenangkan diri, tetapi bayangan pertemuannya dengan Angga membuat perutnya terasa mual. Saat tiba di mejanya, ia langsung menunduk dan sibuk dengan pekerjaannya.

Saat istirahat makan siang, Ziandra tak berniat untuk pergi ke kantin. Rasa malas menjadi bahan gunjingan para rekan kerja soal hubungan dengan Elden masih berembus begitu panas membuatnya enggan menambah masalah.

“Zia, Pak Angga minta kau ke ruangannya sekarang!” ujar salah satu karyawan yang beda divisi dengannya.

Karena rumor buruk itu, semua karyawan jadi mengenali dirinya sebagai wanita matre yang memanfaatkan Elden. Itu membuatnya kesal minta ampun.

“Untuk apa?” tanya Ziandra sambil berdiri untuk membereskan mejanya dari tumpukan berkas yang berserakan.

“Mana kutahu, tanyakan langsung saja pada Pak Angga!” ketusnya membuat Ziandra sedikit terhenyak.

Ziandra diam saja ketika karyawan itu buru-buru pergi menghindarinya. Ia terlihat kesal dan marah karena harus bicara dengan Ziandra, padahal hanya diminta untuk memanggilnya ke ruangan si bos.

Ziandra mengabaikan sikap tak mengenakkan karyawan itu dan memilih menetralkan jantungnya yang berdegup kencang karena harus menghadap Angga sekarang juga. Ia takut untuk mengiyakan tawarannya, bisa saja ini akan jadi masalah lebih besar ke depannya karena berhubungan dengan atasannya.

Saat tiba di depan pintu, ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk.

“Masuk,” suara Angga terdengar tegas dari dalam.

Ziandra membuka pintu dan melangkah masuk. Angga berdiri di dekat jendela, memandangi kota yang sibuk di bawah sana. Ia berbalik, menatap Ziandra dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Sudah memutuskan?” tanyanya tanpa basa-basi.

Ziandra menggenggam erat tangannya, mencoba mencari keberanian dari dalam dirinya. Dengan napas panjang, ia akhirnya berkata. “Saya terima tawaran Anda. Tapi, saya punya satu syarat.”

Angga mengangkat alis, terlihat tertarik. “Syarat apa?”

“Hubungan sandiwara ini jangan sampai diketahui karyawan kantor!” terang Ziandra sambil menunduk tak berani menatap mata atasannya.

Ziandra tidak mau beredar rumor buruk soal dirinya, seperti sengaja menggoda Angga untuk menguras hartanya. Ia akui memang sedang memanfaatkan Angga untuk kepentingan pribadinya, yaitu untuk mendapatkan uangnya. Tapi, ini hanyalah pekerjaan di mana dia akan digaji karena bekerja secara pribadi pada Angga ... tidak lebih. Dan sandiwara ini akan berakhir di bulan ketiga setelah keduanya memutuskan berpisah. Ziandra pikir tak perlu para rekan kerjanya mengetahui hal ini.

Angga menyunggingkan senyum tipis. Dengan santai ia berjalan menuju kursi kerjanya dan duduk sambil menyandarkan punggung. Tatapannya tertuju lurus ke arah Ziandra yang masih tidak berani membalas menatapnya.

“Permintaanmu menarik. Tapi, bukankah gunanya menjadi kekasih sandiwara adalah menunjukkan bahwa aku sudah ada ‘pemiliknya’? Kalau tidak ada yang tahu, apa gunanya?” kecamnya membuat Ziandra menghembuskan napas berat.

“Saya muak jadi bahan gunjingan orang-orang di kantor.”

Kali ini Ziandra berani menatap balik ke arah Angga, mencoba menekan rasa gugupnya. “Saya hanya ingin menghindari gunjingan buruk tentangku. Kalau Anda keberatan, lebih baik saya mundur sekarang.”

Ziandra meletakkan cek kosong itu ke meja Angga. Sambil membungkuk hormat, ia berniat pamit untuk kembali bekerja.

“Baiklah, aku setuju dengan syaratmu. Tapi, kamu tidak bisa mengelak untuk berkenalan dengan keluargaku. Aku juga tak bisa jamin 100% bahwa karyawan di kantor akan selamanya buta untuk menyadari hubungan kita. Aku takkan mengatakan apapun soal hubungan ini pada mereka dan berusaha bertindak wajar seolah kita hanya karyawan dan atasan pada umumnya sehingga takkan ada yang curiga. Apa ini cukup untuk membuatmu tenang dan mau menerima tawaranku, hem?”

Suara bariton Angga yang menghentikan pergerakan langkah Ziandra menuju pintu membuat ruangan yang hanya diisi dua orang itu menjadi hening. Beberapa saat terasa sangat lama bagi Angga untuk menunggu respons Ziandra yang belum juga berbalik badan menghadapnya.

Angga mulai cemas dengan keterdiaman Ziandra yang tak segera menyahutinya. Dirinya yang sudah bangkit dari kursi mengetukkan jari telunjuknya ke meja berulang kali hingga menimbulkan suara irama.

“Apa yang membuatmu masih ragu? Aku hanya meminta tiga bulan waktumu. Dan sebagai gantinya, kau akan mendapatkan berapapun uang yang kau butuhkan.”

Ziandra hanya sedikit menolehkannya kepalanya lalu berujar lirih tapi masih bisa didengar oleh Angga yang menatapnya lamat-lamat. “Apa setelah tiga bulan selesai, Anda tidak akan lagi mengganggu hidupku?”

Angga menyunggingkan seringai tipisnya yang tak disadari oleh Ziandra. “Setelah tiga bulan selesai, kita akan kembali ke kehidupan masing-masing. Tidak ada kontrak tambahan, tidak ada hubungan apapun seolah kita tak pernah kenal. Bagaimana?”

Barulah setelah itu Ziandra mau berbalik badan untuk menghadap Angga yang sudah kembali duduk di kursinya. Dengan isyarat matanya, Angga menyuruh Ziandra mengambil kembali cek itu dari atas mejanya.

“Tulis nominal yang kau butuhkan!”

Ziandra perlahan mengambil cek itu, lalu menuliskan nominal uang yang dibutuhkannya. Ia menatap angka itu dengan ragu. Apa nominal segini tidak terlalu besar untuknya? Apa dia tidak terlihat tamak dengan kesempatan ini? Rasanya pikirannya berkecambuk.

Ziandra bermaksud merubah nominal yang sudah terlanjur ditulisnya di cek, namun kalah cepat dengan tangan Angga yang mengambil cek itu tanpa bicara. Matanya melirik angka yang tertulis di sana.

“Tiga puluh juta?” Angga tersenyum sinis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 6~Perlahan Membuat Pergerakan~

    “Apa kamu serius dengan nominal segitu?” lanjutnya membuat Ziandra menundukkan kepala dengan gugup.Sambil memilin ujung kemejanya, Ziandra mencoba untuk membalas ucapan Angga dengan suara lirih. “Ya. Itu cukup untuk semua biaya yang kubutuhkan. Kalau terlalu besar, saya bisa menguranginya...,”“Mengurangi? Astaga, Ziandra. Tiga puluh juta itu bahkan tak cukup untuk biaya makan malam keluargaku sekali duduk.”Angga memotong ucapan Ziandra dengan menyindir halus. Ia meraih pena di meja, menambahkan angka nol di akhir nominal itu, lalu mengembalikan cek itu ke tangan Ziandra.Ziandra menatap cek itu dengan mata melebar, tak menyangka bahwa uang sebesar 300 juta ada di genggamannya. Seumur-umur ia belum pernah memegang uang sebanyak itu, apalagi itu akan jadi miliknya.Ziandra mengenyahkan pikiran buruknya dengan menggelengkan kepalanya pelan. “Pak Angga, ini terlalu banyak! Saya tidak bisa menerimanya.”Ziandra bermaksud mengembalikan cek itu dan akan menulis nominal yang wajar untuknya

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-22
  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 7~Kecurigaan~

    Ziandra merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal setelah duduk lama. Layar monitor di hadapannya sudah ia matikan dan bersiap untuk pulang. Namun, baru saja ia hendak merapikan mejanya, suara berat yang tak asing menyapanya dari belakang.“Kau belum pulang?” Ziandra hampir melompat saking kagetnya. Ia menoleh cepat dan menemukan Angga berdiri tak jauh di belakangnya, kedua tangannya terselip di saku celana, ekspresinya tetap datar seperti biasa.Ziandra menelan ludah. “Saya menyelesaikan tugas sebelum—,”“—sebelum kau resmi menjadi sekretarisku,” potong Angga sambil menatapnya. “Bagus. Tapi jangan terlalu membebani dirimu sendiri. Mulai besok, kau akan jauh lebih sibuk.”Ziandra mendesah pelan. “Saya tahu....”Ziandra kembali membereskan dokumen-dokumennya, berharap Angga segera pergi. Tapi bukannya beranjak, pria itu justru mengambil salah satu dokumen yang baru saja ia rapikan dan membolak-baliknya dengan santai.“Jadi, bagaimana rasanya mendapatkan promosi mendadak?” tanya Angga,

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-24
  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 8~Tekanan~

    Keesokan harinya, seperti yang sudah Ziandra duga, kantor langsung dipenuhi bisik-bisik saat ia datang. Semua mata tertuju padanya seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang salah.“Hei, kau sudah dengar? Ziandra jadi sekretaris pribadi Pak Angga sekarang.”“Serius? Gimana caranya? Dia pasti pakai jalan pintas.”“Gila, aku iri setengah mati. Padahal dia cuma pegawai biasa kemarin.” Ziandra menundukkan kepala, berusaha mengabaikan tatapan menusuk dan komentar-komentar pedas soal dirinya. Langkahnya ia percepat berusaha untuk menjauh secepat mungkin.Di sudut ruangan lain, Elden bersandar santai di dinding dekat pantry dengan segelas kopi di tangannya. Ia mendengarkan gosip yang berseliweran dengan ekspresi tenang, lalu tersenyum miring.Semalam, Elden berniat mengejek Ziandra karena melihatnya lembur sendirian, terlihat begitu menyedihkan setelah putus darinya. Namun, siapa sangka justru ada moment menarik yang dilihatnya.Elden melihat kebersamaan antara Ziandra dan Angga—atasannya ya

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-25
  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 9~Teror yang Berlanjut~

    Ziandra menatap pesan itu dengan dahi mengernyit bingung. Tak butuh waktu lama untuknya segera membalas pesan.[Siapa kamu? Apa maksud dari pesanmu ini?]Namun hingga belasan menit Ziandra menunggu, tak ada balasan apapun dari pengirim pesan padahal sudah ada tanda dibaca.Ziandra pun memutuskan menghubungi nomor itu untuk mencari tahu. Tepat saat dirinya menekan tombol panggil, suara ponsel berdering di belakangnya membuat ia cepat menoleh.“Elden, jadi kau orangnya? Kenapa mengirimiku pesan seperti itu? Menyebalkan sekali,” kecam Ziandra ketika Elden berjalan mendekatinya.Elden menaikkan sebelah alisnya. Sebelah tangannya ia gunakan mengambil ponsel yang terselip di saku celana dan mengangkat telepon itu dengan tenang sambil memperhatikan tatapan terkejut Ziandra padanya.“Iya, sebentar lagi aku akan datang. Kau bisa mulai dulu mempersiapkan rapatnya.”Usai menjawab teleponnya, Elden menatap sepenuhnya pada Ziandra yang masih bengong.“Kau itu kenapa? Tiba-tiba marah padaku dan men

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 10~Meminta Bantuan~

    Ziandra menangis di depan Angga. Ia tak peduli tanggapan bosnya itu akan seperti apa melihatnya berantakan dengan tangis pecah begini. Ia terlalu kalut memikirkan kalau peneror itu sungguh akan melaporkannya pada keluarganya di desa.“Ada apa denganmu? Hey, berhentilah menangis dan katakan padaku apa yang terjadi!” ucap Angga sambil menuntun Ziandra agar masuk ke ruangannya.Meski Angga yakin semua karyawan sudah pulang, ia tak mau ambil risiko bahwa terpergok berduaan dengan Ziandra di depan pintu ruang kerjanya.Dengan lembut Angga mendudukkan Ziandra di sofa yang ada di ruangannya. Ia juga menyodorkan botol air mineral pada Ziandra.“Tenang dan jelaskan padaku dengan perlahan-lahan! Aku janji akan membantumu sebisanya,” ujar Angga kembali menginterupsi Ziandra yang tampak masih terpukul dengan masalahnya.Ziandra mengangguk patuh. Ia menenggak hampir separuh isi botol dan menatap ke arah Angga dengan ragu.Setelah meyakinkan dirinya bahwa ini keputusan yang tepat, ia memberanikan u

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28
  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 11~Menginap~

    Ziandra menggeleng cepat. “Aku tidak bisa. Itu akan semakin membuat gosip berkembang—,”“Peduli setan dengan gosip!” suara Angga meninggi, membuat Ziandra tersentak. Angga menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya sebelum kembali berbicara lebih lembut. “Aku lebih peduli pada keselamatanmu. Gosip bisa dengan mudah menghilang, tapi kalau terjadi sesuatu padamu, aku tidak bisa menerimanya. Ayolah, menurut padaku!”Ziandra meremas ujung bajunya. Rasa ragu dan takut bercampur jadi satu. Tetapi, melihat tatapan serius Angga yang terlihat sangat khawatir padanya, ia tahu bahwa pria itu tidak main-main.Ziandra pun memberi anggukan kecil pertanda memberi persetujuan. Bukan karena dipaksa, tapi karena di dalam hatinya ia takut tinggal sendirian di sini.Angga tersenyum lega mendapat persetujuan dari Ziandra. “Cepat kemas barang-barang yang kau butuhkan. Aku akan menunggu di luar sini sambil memantau keadaan sekitar.”Ziandra masuk ke dalam kamar dengan perasaan campur aduk. Sementara di l

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-01
  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 12~Pelaku~

    “Kenapa mempertanyakan hal itu? Apa kau sudah tahu siapa orang yang menerorku? Jika iya, cepat katakan siapa, Angga!” tuntut Ziandra yang berfirasat bahwa Angga mengetahui sesuatu, mungkin saja dia sudah tahu pelakunya.“Aku belum memastikan dia orangnya. Tapi, aku menunggu jawabanmu. Apa yang kau lakukan jika tahu pelakunya?” tegas Angga dengan suara otoriternya.Ziandra tampak berpikir dengan menggembungkan sebelah pipinya. “Entahlah, aku hanya akan bilang padanya bahwa jangan sampai memberitahukan rumor itu pada keluargaku. Akan kuberi penjelasan bahwa itu hanyalah gosip palsu yang tidak benar.”“Lalu, kau akan melepaskannya begitu saja? Setelah teror yang dia lakukan, kau hanya akan memberinya sebuah penjelasan dan setelah itu melupakan kesalahannya. Aku tak habis pikir, apa kau tak marah dan dendam padanya karena perbuatannya itu?” gerutu Angga kurang setuju dengan apa yang disampaikan Ziandra.Bahkan meski bukan Angga yang diteror, ia sudah kesal dan marah. Tapi, malah Ziandra t

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-02
  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 13~Kedekatan~

    Angga menuangkan alkohol ke gelas sloki milik Ziandra yang menerimanya dengan sopan."Aku hanya terlalu cemas soal masalahmu, hingga tanpa sadar malah melewati batas seperti tadi," kata Angga memulai pembicaraan.Angga sengaja mengajak Ziandra minum malam ini untuk berbaikan, ia pikir jika dalam keadaan sadar akan cukup canggung baginya maupun Ziandra.Ziandra meneguk alkoholnya hanya separuh gelas, sedangkan Angga langsung menghabiskannya dan kembali mengisinya hingga penuh."Kau ingat, tidak, bagaimana kita bertemu pertama kali?" tanya Angga tersenyum tipis lalu kembali meneguk alkoholnya hingga tandas.Ziandra yang melihatnya sampai dibuat melongo karena toleransi alkohol Angga sangat tinggi. Ia bahkan belum terlihat seperti sedang mabuk."Itu sungguh ketidaksengajaan. Aku juga tak menyangka kalau ternyata pria yang kutemui malam itu adalah dirimu, bosku sendiri. Aku ke kelab waktu itu juga hanya berniat mabuk, bukan malah melakukan hal yang lebih dari itu. Maaf jika pertemuan kita

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-03

Bab terbaru

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 40~Terluka~

    Ziandra menyandarkan kepalanya di jendela mobil, matanya menatap lampu-lampu jalan yang berpendar di tengah kota. Devan menyetir dengan satu tangan di kemudi, sementara tangan satunya menopang dagu.“Turunkan aku di tikungan sebelum apartemen,” ujar Ziandra tiba-tiba.Devan meliriknya sekilas, tapi tak langsung menjawab. “Kenapa? Apartemen Angga ‘kan tidak jauh lagi?”Ziandra menghela napas. “Aku tidak ingin Angga salah paham kalau melihatku turun dari mobilmu.”Devan terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia tahu ini bukan tentang malu atau takut. Ziandra hanya ingin menjaga hubungan rumah tangganya tetap baik. Sementara itu, ia sendiri sadar bahwa setelah ini, kebersamaan mereka mungkin akan berakhir. Ziandra takkan lagi duduk di sebelahnya, tertawa kecil mendengar leluconnya, atau menatapnya tanpa rasa curiga seperti tadi.Dan entah kenapa, itu terasa menyebalkan.Namun, Devan bukan seseorang yang

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 39~Makan Malam dengan Ziandra~

    Satu jam berlalu tanpa terasa. Ziandra mengira makan malam ini akan terasa canggung, tapi nyatanya, ia malah menikmati waktu bersama Devan. Pria itu jauh lebih menyenangkan dari yang ia bayangkan—humoris, santai, dan bahkan bisa membuatnya tertawa di sela-sela makan.Devan menyuapkan potongan steak ke mulutnya, lalu menatap Ziandra dengan seringai menggoda. “Jadi, bagaimana sebenarnya kau dan Angga bisa bertemu?”Ziandra yang sedang mengunyah, nyaris tersedak mendengar pertanyaan itu. Ia buru-buru meneguk air putihnya, berusaha menjaga ekspresi agar tetap tenang.“Oh, itu ...,” Ziandra menunduk sedikit, menyusun kebohongan yang terdengar masuk akal. “Kami bertemu secara kebetulan. Layaknya pasangan lain, kau tahu? Awalnya tidak menyangka, lalu saling tertarik dan jatuh cinta begitu saja.”Devan mengangkat alis, seolah tidak percaya begitu saja. “Kebetulan, ya?”Ziandra mengangguk gugup, tersenyu

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 38~Tidak Seburuk yang Diduga~

    Ziandra duduk sendirian di halte bus, pandangannya kosong menatap jalanan yang mulai gelap. Lampu-lampu kota berpendar, kendaraan berlalu-lalang, tapi ia hanya diam, larut dalam pikirannya sendiri.Sikap dingin Pak Yuda dan bentakan Angga tadi membuat hatinya terasa berat. Ia tahu suaminya sedang tertekan, tapi tetap saja, menerima perlakuan seperti itu dari orang yang ia cintai membuatnya terluka.Ziandra menarik napas panjang. Ia ingin pulang ke apartemen Angga, tapi di sana ia hanya akan sendirian. Itu akan terasa jauh lebih menyakitkan daripada duduk di halte ini. Setidaknya di sini, ia bisa menenangkan pikirannya meski hanya sementara.Tiba-tiba suara klakson mobil membuatnya tersentak. Ziandra menoleh dan melihat sebuah mobil mewah berhenti tak jauh darinya. Kaca jendela perlahan turun, memperlihatkan sosok yang duduk di balik kemudi.“Devan?” gumam Ziandra terkejut, tak menyangka bertemu adik iparnya.Pria itu menyunggingkan seny

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 37~Pelampiasan Amarah~

    Saat Angga tiba di depan ruangannya, ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu dengan cepat.Di dalam, Pak Yuda sudah duduk di kursinya dengan ekspresi datar. Wajahnya tidak menunjukkan emosi, tapi sorot matanya tajam, menusuk ke arah Angga yang baru masuk. Seakan sedang menghakimi setiap gerak-geriknya.“Duduk,” perintahnya singkat.Angga menelan ludah. Ia tahu, setiap kali ayahnya bersikap seperti ini, itu berarti ada sesuatu yang serius. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di kursi yang ada di hadapan sang ayah.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan. Pak Yuda tidak langsung berbicara, hanya menatapnya seolah sedang menimbang sesuatu.“Aku mendengar kabar bahwa kau dan Devan sedang berselisih soal jabatan,” ujar Pak Yuda akhirnya, suaranya tenang namun berisi tekanan. “Benarkah?”Angga mengangguk kecil, lalu bersandar di kursinya. “Itu benar,” jawabnya lugas.Pak

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 36~Kepercayaan Tanpa Ragu~

    Ziandra menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik. Matanya menatap Elden dengan jengah. “Apa?”Keduanya sedang ada di koridor yang cukup sepi. Elden sengaja terus mengekori Ziandra di belakang hingga membuat wanita itu risih sendiri dan akhirnya mau menyapanya seperti sekarang.Elden menyandarkan tubuhnya ke dinding, menatapnya dengan ekspresi santai, tapi nada suaranya penuh rasa ingin tahu. “Sepertinya ada perang dingin yang cukup besar antara suamimu dan saudara tirinya itu. Gosip menyebar dengan cepat mengatakan kalau mereka sedang berselisih karena perebutan kekuasaan. Apa itu benar? Kau pasti tahu lebih banyak, kan?”Ziandra menghela napas, jelas tak ingin terlibat dalam pembicaraan ini. “Jangan penasaran dan cari tahu! Ini urusan keluarga,” jawabnya singkat.Elden terkekeh, sama sekali tak mengacuhkan peringatan Ziandra padanya. Sebaliknya, ia malah makin tertantang untuk mencari tahu. “Oh, ayolah, Zia

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 35~Deklarasi Perang~

    Langkah-langkah Angga menggema di sepanjang koridor kantor, tergesa dan penuh amarah. Wajahnya mengeras, rahangnya mengatup kuat, sementara jemarinya mengepal di sisi tubuh. Kabar yang baru saja ia terima benar-benar tak masuk akal—Devan saat ini sedang memimpin rapat besar terkait proyek yang seharusnya ada di bawah kendalinya.Sialan! Anak itu benar-benar berani melewati batas, amuknya membatin.Begitu sampai di depan ruang rapat, Angga mendorong pintu tanpa ragu, mengabaikan tatapan terkejut dari para eksekutif yang tengah berkumpul. Matanya langsung mengunci pada sosok yang berdiri di depan layar presentasi—Devan, dengan ekspresi santai dan percaya diri. Seolah-olah ia memang berhak berada di sana.“Siapa yang mengizinkanmu mengambil alih proyek ini?” suara Angga terdengar tajam, nyaris seperti ancaman.Devan menyeringai kecil, tangan di sakunya. Ia menunjukkan bahwa sama sekali tidak gentar dengan kemarahan kakaknya. “Ah

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 34~Ketenangan Sesaat~

    Setibanya di apartemen, Angga menarik napas dalam. Meski hanya sebuah unit modern yang diisi hanya dirinya dan sang istri, tempat ini terasa jauh lebih nyaman dibandingkan rumah keluarganya. Tidak ada tatapan dingin ibu tirinya, tidak ada rasa tersudut karena sikap ayahnya, bahkan tak perlu bersitegang dengan Devan. Yang paling penting, hanya ada dirinya dan Ziandra, berdua dan tenang.Ziandra pun merasakan hal yang sama. Ia menyadari bahwa sikap Angga lebih santai begitu mereka tiba di sini. Suaminya itu melepas jasnya, mengendurkan dasi, lalu duduk di sofa dengan ekspresi yang jauh lebih rileks.“Kau mau teh atau kopi?” tanya Ziandra sambil melangkah ke dapur.“Kopi,” jawab Angga singkat, matanya mengawasi Ziandra yang mulai sibuk di dapur.Ziandra tidak hanya menyiapkan kopi, tetapi juga membuat sarapan sederhana dengan bahan yang ada di kulkas. Tadi pagi, mereka hampir tidak menyentuh makanan di rumah Angga karena suaminya buru

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 33~Kemunculan Adik Tiri~

    Pagi harinya, Ziandra bangun dengan perasaan lebih ringan. Ia menoleh ke sisi tempat tidur dan melihat Angga masih tertidur dengan napas yang teratur. Ia tersenyum kecil, merasa aneh melihat pria setegas Angga tampak begitu tenang dalam tidurnya.Sebelah tangan Ziandra terulur untuk mengelus pipi Angga. Karena pergerakannya itu, membuat tidur Angga sedikit terganggu.“Ada apa?” tanya Angga dengan suara serak khas bangun tidur. Sesaat kemudian ia menguap lebar dan menarik Ziandra untuk dipeluknya. Ia masih ingin melanjutkan tidur, rasanya nyaman ketika Ziandra ada di sampingnya begini.Ziandra memukul kecil lengan Angga sambil terkekeh. “Kita sudah terlambat bangun. Ayo, cepat bersiap!” ujarnya berusaha melepaskan diri dari pelukan erat suaminya.Angga mengeluh, “Tapi aku masih ingin bermanja denganmu. Nanti siang saja kita keluar kamarnya.”Angga tahu alasan kenapa Ziandra menyuruhnya untuk segera bangun. Pagi in

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 32~Malam Pengantin~

    Selesai acara, Ziandra dan Angga masuk ke dalam kamar. Kamar pengantin mereka begitu mewah, dengan pencahayaan lembut dan lampu-lampu di sudut ruangan. Sengaja Angga sedikit merubah desain kamar yang sebelumnya memiliki nuansa gelap, kini sedikit jauh lebih hangat dan nyaman.Ziandra duduk di kursi meja rias, melepas perlahan perhiasan yang tadi menghiasi tubuhnya. Sementara itu, Angga berdiri di dekat jendela yang terbuka, mengendorkan dasi dan menggulung lengan kemejanya, menghirup udara malam dengan santai.Angga melirik ke arah Ziandra yang tampak kesulitan melepaskan kalung yang melingkar di lehernya. Tanpa basa-basi, ia bergerak tenang untuk membantu melepas kaitan kalung itu dengan berdiri di belakang Ziandra.“Capek?” tanya Angga sembari melirik ke arah Ziandra lewat cermin.Mata keduanya bertatapan di cermin. Anggukan kecil dan senyum tipis Ziandra terlihat oleh mata Angga yang seketika membuatnya ikut tersenyum.Angga memutar

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status