370. Semuanya Terbongkar (Bagian B)Baik ketika dia masih bujangan, maupun ketika dia sudah berumah tangga. Lalu bagaimana bisa dia mengatakan aku lebay?“Lebay?” tanyaku sambil terkekeh kecil. “Siapa yang kamu bilang lebay? Mbak?” tanyaku lagi.“Ya, iyalah. Siapa lagi, Mbak? Mbak itu terlalu lebay, kalau menurutku. Ibu itu menggunakan uang yang Mbak berikan untuk berinvestasi, kok. Memang tidak berinvestasi batubara pada temanku, tetapi Ibu kan berinvestasi dengan membelikan sawah dan juga tanah!” ujar Marwan dengan nada pongah.“Wan!” Ibu terlihat ingin marah, dia menatap anak bungsunya itu dengan pandangan tajam.Namun, Marwan Hanya mendengus. Dia kemudian kembali menatapku dengan pandangan mengejek, syarat akan rasa yang sulit aku artikan. Dia menatapku seolah aku adalah bahan lelucon, yang patut untuk ditertawakan.“Kamu jangan mengada-ngada, investasi dengan membelikan sawah dan juga tanah dengan menggunakan uangku, investasi apa itu?” tanyaku sambil menyeringai kecil. “Jika Ibu
371. Semuanya Terbongkar (Bagian C)“Udah deh, Bu. Aku udah nggak mau dengar apapun lagi, aku udah terlanjur kecewa sama Ibu. Bagaimana bisa Ibu membohongi aku seperti saat ini? Aku benar-benar kecewa!” kataku dengan penuh penekanan.“Adikmu benar, Ibu melakukan ini semua untuk investasi kita, Nduk. Untuk investasi kita, bukan untuk orang lain!” Akhirnya Ibu berkata jujur.Namun kejujuran itu sama sekali tidak terasa menyenangkan di telingaku, aku malah menganggapnya sebagai kata-kata dusta belaka yang sanggup membuat aku menjadi amat terluka.“Investasi apa” tanyaku dengan cepat. “Bukan investasi namanya, Bu. Ibu membeli tanah dan juga sawah itu dengan cara menipuku dan juga Mas Aji, lalu investasi apa yang Ibu maksudkan?” tanyaku dengan nada putus asa.“Ibu nggak menipu kamu—”“Nggak menipu bagaimana? Ibu jelas-jelas menipu aku, loh. Kami sampai berhutang ke rentenir, dan juga mengandaikan SK-ku ke bank untuk mendapatkan uang itu, dan ternyata uangnya malah Ibu gunakan untuk Marwan
PILIH KASIH (Membungkam Mertua dan Ipar secara Elegant)372. Lisa diusir (Bagian A)“Tapi, kamu itu udah cerai sekarang. Jadi, udah nggak ada yang diharapkan!” ujar Ibu lagi dengan nada ketus.Beliau mendengus dan berjalan ke arah kasur lagi, dia menghempaskan dirinya di samping Marwan dan memeluk bahu Adik bungsuku itu dengan penuh kasih sayang.“Seharusnya, kalau kamu masih menjadi istri Aji kamu itu bisa mencari cara, agar dia tidak meminta uangnya secepat ini,” kata Ibu sambil menatapku dengan pandangan tajam.“Bu!” Aku berseru dengan nada tidak percaya.“Apa? Jamu jangan bersikap seperti itu, Lisa. Aku ini adalah ibumu, berani-beraninya kamu membentak aku!” ujar Ibu dengan nada tidak suka.Aku langsung tertawa tanpa suara, menggeleng-gelengkan kepalaku dengan raut tidak percaya. Ibu benar-benar sudah sangat keterlaluan.Jadi, selagi aku dan Mas Aji Masih bersama dia masih ingin memperalat aku agar bisa mendapatkan uang lebih banyak dari keluarga Mas Aji.“Untuk beberapa hal, aku
373. Lisa diusir (Bagian B)“Gila! Dari mana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Bahkan untuk mengembalikan uang Aji saja, Ibu masih bingung. Dan sekarang kamu sudah meminta uangmu juga? Enam ratus juta itu tidak sedikit, Sa! Jangan main-main kamu!” sahut Ibu dengan nada ketus.Sedangkan Marwan sendiri berkali-kali mengusap peluh yang ada di dahinya, dia juga sepertinya sangat ketakutan saat ini karena ancaman yang sedang mengintainya adalah jeruji besi.“Aku nggak mau tahu, Bu. Yang pasti, aku ingin uang itu kembali. Kalau Ibu memang tidak punya uang, kenapa tidak Ibu jual saja tanah dan juga sawah yang sudah Ibu belikan untuk Marwan dan juga Mbak Rosa?” sahutku dengan nada santai“Enak saja!” Marwan kemudian berteriak panik. “Sawah itu adalah milikku, dan aku tidak akan pernah menjualnya kepada siapapun!” ujar Marwan lagi.“Hei, sawahmu itu dibeli dengan menggunakan uangku, dan saat ini Ibu berkewajiban untuk mengembalikan uang itu ketika dia tidak punya uang. Lalu kamu pikir,
374. Lisa diusir (Bagian C)“Baiklah kalau begitu, aku akan pergi dari sini. Aku akan pindah dan membawa anak-anakku, Ibu tenang saja. Tapi untuk yang pertama, kembalikan dulu perhiasan itu!” kataku semakin menadahkan tanganku ke arahnya.Ibu kelihatannya sangat kesal, karena dia langsung melepas segala perhiasan yang dipakainya dengan amat kasar. Seolah-olah ingin memutuskan semuanya.Empat buah cincin, sepuluh buah gelang, satu gelang keroncong, dan satu buah kalung panjang, sudah berpindah ke tanganku. Kemudian Ibu menatapku dengan pandangan yang amat sangat nyalang.“Kamu benar-benar membuat Ibu kecewa, Sa!” ujar Ibu sambil menunjukku.“Aku lebih kecewa dengan Ibu!” sahutku dengan nada keras. “Sekarang, silakan kalian keluar dari kamarku karena aku akan membereskan pakaianku, dan juga anak-anakku. Kami akan pergi dari sini sekarang juga!” kataku sambil menunjuk pintu kamar.Ibu dan Marwan kemudian langsung keluar dengan kaki yang menghentak, mereka sepertinya tidak terima dengan p
PILIH KASIH (Membungkam Mertua dan Ipar secara Elegant)375. Pergi dari rumah (Bagian A)Aku kemudian mendengus, dan melipat tanganku di depan dada. Aku memalingkan wajah dan menatap ke arah halaman dengan tidak sabar, ternyata menunggu seseorang benarlah sangat menyiksa batinku. Rasa-rasanya, aku ingin berteriak karena temanku itu terlalu lama.“Sebenarnya ini ada apa, sih? Coba jelaskan dulu sama Bapak, biar Bapak mengerti.” Bapak berujar dengan cepat ke arah Ibu untuk meminta penjelasan.“Bapak nggak perlu tahu, yang pasti Bapak nggak perlu untuk menahan Lisa pergi. Biarkan dia mau ke mana! Biar dirasanya, enak tidak jika tidak ada orang tua!” sahut Ibu dengan nada ketus.“Lah, selama ini bagaimana, Bu? Aku memang tidak pernah merasakan ada orang tua bersamaku, kok. Toh, adapun hanya untuk dibohongi oleh kalian,” kataku sambil berujar dengan nada mengejek. “Jadi, lebih baik aku pergi. Toh, aku juga bisa hidup bersama kedua anakku karena aku memang mampu!” kataku lagi.Dari ekor mat
376. Pergi dari rumah (Bagian B)“Oh ya? Lalu, maksudnya seperti apa, Pak?” tanyaku dengan nada sinis. “Maksudnya adalah, kalian akan terus membohongiku jika saja aku tidak tahu tentang kebusukan ini? Begitu?” tanyaku lagi, terus menekan mereka agar tidak berkutik di hadapanku.“Bukan begitu, Sa. Maksud kami tidak begitu, maksud Ibu adalah baik. Dia ingin membeli tanah dan juga sawah itu sebagai bentuk investasi,” ujar Bapak berusaha meredakan amarahku.“Investasi dengan menggunakan uang orang lain maksudnya?” tanyaku dengan nada pedas. “Lagi pula, kalau emang untuk investasi kalian, seharusnya tidak dibuat atas nama Mbak Rosa dan Marwan!” lanjutku dengan nada mengejek.“Memang apa salahnya kalau Ibu membelikan tanah dan juga sawah atas nama kami? Hah? Dasar kamunya aja yang iri dan juga sirik, heran aku! Sama saudara kok punya rasa dengki, gila kamu itu!” ujar Mbak Rosa sambil memakiku.“Lah, yang iri sama kalian siapa? Aku nggak peduli kalau kalian itu mau dibelikan emas, tanah, rum
377. Pergi dari rumah (Bagian C)Kini hanya tersisa aku yang tinggal dengan tas jinjing yang aku bawa, aku kemudian menatap Ibu dan juga Bapak dengan pandangan sendu tersirat jelas rasa kecewa dari wajahku.“Aku pergi Pak, Bu, terima kasih untuk semuanya, dan ingat sediakan uangku. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika aku berbuat nekat!” kataku dengan nada tegas.Kemudian aku berbalik dan berjalan dengan tegap, dadaku membusung, dan daguku terangkat tinggi. Aku tidak akan pernah berjalan tertatih, aku akan bangkit dan juga memperbaiki hidupku demi anak-anakku.Aku bisa mendengar Ibu yang memekik dan memakiku, namun aku sama sekali tidak menoleh sedikitpun dan memasuki mobil Ema dengan mantap.“Kamu yakin mau pindah, Sa?” tanya Ema sambil menatapku dengan pandangan kasihan.“Yakinlah, mana mungkin tidak yakin jika sudah seperti ini!” sahutku sambil terkekeh kecil. “Kontrakannya sudah ada, kan?” tanyaku lagi.“Sudah, aku bahkan sudah membayar untuk tiga bulan kepada Pak Ramon,” ujar Em