Share

Wisang Sakit

last update Last Updated: 2023-09-26 08:42:58

Rasanya sedikit aneh  tidak mendengar suara Wisang  beberapa hari ini di rumahnya. Taka bertanya pada Genta, tetapi anaknya pun tidak tahu alasan di balik ketidakhadiran gurunya tersebut.

“Pak, Tuan Dimas meminta bertemu!” ucap Magda di line telepon. Magda  seorang sekretaris  Taka yang cantik dan menaruh hati pada pria tampan keturunan Jepang itu.

‘Suatu kebetulan yang bagus, aku bisa sekalian bertanya kepada Dimas mengenai kabarnya Wisang,’ ucap Taka di dalam hatinya sambil berjalan keluar dari ruangannya.

Di ruangan tamu kantornya, Taka melihat Dimas tengah duduk bersama seseorang. Seperti biasa, wanita itu adalah sekretarisnya yang sudah cukup dikenal juga oleh Taka karena selalu mengekori kemanapun Dimas melangkah. 

“Hai Bro, apa kabarmu?” tanya Dimas langsung menyambut kedatangan Taka yang menghampiri mejanya.

Kedua pria itu pun berangkulan saling memberi salam.

“Hai, aku Sandra,” ucap wanita itu sambil menyodorkan tangannya. Namun Taka mengabaikannya.

“Bagaimana kabarmu? Oh ya … bagaimana dengan Wisang? Cukup lama aku tidak melihat kalian jalan bersama,” tanya Taka yang justru mengalihkan perbincangannya dengan menanyai kabar mengenai Wisang. 

Senyuman Dimas pun terbit.

“Kau ini, selalu saja menanyakannya. Dia ada di rumah seperti biasa. Dia sibuk dengan semua materi lesnya. Wanita itu benar-benar terlampau kaku, dia tak pandai memahamiku. Selalu sibuk dengan lesnya, tidak seperti wanita lainnya yang banyak kegiatan lain yang bisa membuat gairah kita para lelaki semakin jatuh cinta,” ucap Dimas kepada Taka dengan sangat entengnya. 

Taka bisa melihat gestur Sandra yang terlihat puas dengan kalimat Dimas tersebut. Hal ini memunculkan tanya di benak Taka.

Senyuman Taka pun menyimpul. Pria keturunan Jepang ini merasa sangat kesal dengan Dimas, meski begitu dia tak bisa menunjukkannya sedikitpun karena tidak ingin jika Dimas sampai mencurigai kedekatannya dengan Wisang.

‘Kau hanya tidak tahu  seperti apa Wisangmu itu, Dimas.’ 

“Jika aku jadi kau, aku justru sangat ingin seorang wanita yang tetap di rumah menyambut kepulanganku. Itulah aku,” ucap Taka sambil mempelajari sebuah proposal yang disodorkan oleh Dimas kepadanya. 

“Hey Bro, ngomong-ngomong aku datang ke sini untuk urusan bisnis bukan mengurusi para wanita. Lagi pula mengerti apa kau soal wanita, pria single sepertimu tidak akan tahu apa-apa. Sangat pusing sekali memiliki seorang istri yang kaku dan lugu,” ucap Dimas sambil terlihat asyik menunjukkan ponselnya kepada Sandra. 

“Kau benar, mungkin aku pria single yang tidak tahu menahu seorang wanita. Tapi jangan lupa jika aku juga sudah pernah beristri dan istriku dulu … “ ucap Taka terhenti.

Kenangan mengenai mendiang istrinya membuatnya seketika merasa kembali kehilangan.

Tentu saja, ditinggalkan sang istri saat pernikahan mereka masih seumur jagung bukanlah hal yang mudah untuk Taka melupakannya.

“Jika aku jadi kau, akan lebih baik jika aku menjadikan istriku sendiri sebagai sekretarisku,” ucap Taka terkesan menyindir apa yang dilakukan oleh Dimas dan Sandra saat ini. 

Kedua orang itu terlihat saling bergenggaman tangan diam-diam di atas paha Sandra dengan ditutupi tas wanita itu.

Bola mata menyipit milik Taka mendadak melebar saat melihat Sandra bergelayut manja kepada Dimas setelah tegurannya itu. 

Hal ini membuatnya terganggu sekali. 

Tak ingin memperpanjang kunjungan Dimas, Taka segera menandatangani MOU kerjasama terbaru perusahaannya dengan perusahaan Dimas yang bergerak di bidang benang sebagai supplier resmi di perusahaannya itu.

Dimas memang sudah beberapa tahun ini menjadi mitra bagi perusahaan yang dikelola oleh Taka dalam menyediakan material produksinya

“Aku sendiri tidak mengerti sampai kapan kau akan sendiri? Carilah wanita, jangan terlalu sibuk mencari uang. Anakmu akan semakin besar, sementara kau belum menikmati hidupmu,” ucap Dimas di akhir perbincangan mereka.

Pria itu tampak bahagia sekali setelah melihat Taka dengan mudah menandatangani MOU nya, padahal ada beberapa perubahan di dalam proposal pengajuan tersebut yang ternyata luput dari pengawasan Taka.

“Baiklah kami pamit,” ucap Dimas kepada Taka. 

Pria itu kemudian meninggalkan ruangan tamu kantornya. Sementara Taka langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi Wisang. 

“Halo, kau ada dimana?” tanya Taka saat Wisang mengangkat panggilannya. 

Setelah berbincang beberapa saat, Taka pun bersiap untuk pergi. Kebetulan semua janjinya hari ini sudah selesai dan sudah waktunya makan siang. Taka memilih salah satu restoran favoritnya yang memiliki menu oriental untuk mengajak Wisang makan siang di sana. 

Setengah jam berlalu, Taka sudah tiba di halaman rumah makan yang di reservasinya itu. Tapi mendadak dia menjadi ragu ketika melihat mobil milik Dimas terparkir di sana. Bola mata Taka pun mengelilingi sepanjang restoran yang memiliki dinding transparan itu.

“Mereka di sini!” ucap Taka saat melihat jelas jika Dimas bersama Sandra tengah menikmati makan siang mereka. 

“Jadi wanita itu rupanya,” ucap Taka sambil terus memperhatikan gestur tubuh Dimas dan Sandra yang sama sekali tidak mencerminkan jika mereka adalah atasan dan bawahan. 

Praduga Taka pun semakin kuat ketika melihat beberapa kali Dimas menyuapi Sandra makan. Sesuatu yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh atasan kepada staf nya.

Taka mendecih sebal. 

Pria keturunan Jepang ini pun langsung menelpon pihak restoran dan membatalkan reservasinya. Dia tidak peduli dengan sepuluh dolar yang sudah ditransferkan untuk mereservasi salah satu ruangan makan di dalam restoran tersebut.

Taka tidak ingin Wisang sampai tahu jika Dimas tengah berselingkuh di sana. 

Baru saja Taka hendak memutar balik mobilnya, pria itu menghentikan laju mobilnya saat melihat ke arah tangga di pintu masuk restoran. 

“Wisang!” ucapnya saat menyadari jika Wanita itu sudah berdiri di sana mungkin sejak tadi. 

“Sedang apa dia berdiri di situ?” ucap Taka menjadi gemas sendiri karena melihat Wisang justru tengah memandangi Dimas yang sedang asyik-asyikan dengan Sandra di dalam sana.

Taka menghentikan langkahnya, dia melihat Wisang begitu lemah sehingga dia membiarkan begitu saja suaminya bersama wanita lain.

Merasa tak tahan dengan sakit hati yang pastinya cukup menyakitkan untuk Wisang mengetahui dirinya diselingkuhi, Taka kemudian melangkah turun dan bergegas menghampiri wanita itu. 

“Manusia macam apa kau ini? Ayo pergi dari sini!” ucap Taka sambil menggenggam tangan wanita itu hendak mengajaknya pergi. 

“Ayo masuk, bukankah kau mengajakku makan di sini? Jadi ayo kita masuk,” ucap Wisang sambil meneruskan langkahnya naik menuju pintu masuk restoran tanpa mempedulikan ajakan Taka. 

“Kau sudah tak waras? Kau ingin melihat mereka lebih dekat? Kau ingin menyakiti dirimu sendiri?” ucap Taka sambil memandangi Wisang yang justru terlihat datar saja itu.

Senyuman menyimpul di sudut bibir Wisang.

“Aku punya satu kesimpulan untuk Dimas, dia menikahiku tanpa mencintaiku. Selesai.” ucap Wisang dengan raut wajahnya yang dingin membuat Taka geleng-geleng kepala. 

“Aku sudah membatalkan reservasinya, aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan. Kau ini punya hati atau tidak?” ucap Taka yang menjadi bingung dengan sikap Wisang yang tidak masuk akal ini. 

“Baiklah jika begitu, ayo pergi!” sahut Wisang dengan tetap tenang. 

Taka pun mengikuti langkah Wisang menuju parkiran, wanita itu nampaknya sudah mengenali mobil miliknya sehingga Taka tidak perlu lagi menunjukkan di mana mobilnya terparkir. 

“Kau yakin kau baik-baik saja?” tanya Taka lagi. 

“Semua akan membaik saat kau bisa berkompromi dengan keadaan. Tenanglah, aku tidak apa-apa,” ucap Wisang sambil membuang wajahnya ke arah luar mobil. 

Perlahan mobil berwarna hitam itu pun merayap di jalanan dan bergabung dengan kendaraan lainnya di ibukota ini dalam padatnya lalu lintas pada jam makan siang seperti saat ini. 

Taka menjadi tak enakan, pria ini mendapatkan jawaban dari pertanyaannya yang tadi tidak sempat diajukannya kepada Dimas. Dari apa yang sepintas dia ketahui hari ini, sudah jelas dan sudah cukup jawaban bagi Taka untuk mengetahui bagaimana rumah tangga Wisang dengan Dimas selama ini.

“Tenanglah, aku ada disini untukmu,” gumam Taka di dalam  hatinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • My Beloved Partner   Lunch

    Taka kemudian mengajak Wisang ke sebuah restoran yang terlihat tidak terlalu ramai.Kebetulan sekali tempat itu menyediakan menu yang cukup recommended sehingga Wisang pun menyetujuinya. “Sebenarnya aku tidak peduli kamu mau mengajakku makan apa,” ucap Wisang sambil tetap membuang pandangannya ke arah luar mobil. Taka tahu jika saat ini suasana hati Wisang pasti sangat-sangat buruk. Baru saja Taka menepikan mobilnya di parkiran, sebuah panggilan telepon dari putranya masuk. “Oh begitu ya, baiklah … Tidak masalah. Lagi pula besok kan kau libur panjang. Jadi kau bisa berangkat bersama Nenek dengan tenang. Bye, ayah akan menjemputmu nanti,” ucap Taka kepada sang putra“Putraku akan bepergian dengan ibu. Entah apa yang sedang direncanakan oleh ibuku itu dia selalu saja memiliki kesibukan,” ucap Taka sambil melangkah turun dari mobilnya. Wisang kemudian mengikuti dan mereka berjalan beriringan menuju bagian dalam restoran. “Kau mau pesan menu apa?” tanya Taka. “Hatiku sedang tidak ny

    Last Updated : 2023-09-26
  • My Beloved Partner   Sentuhan Yang Hebat

    “So, kita makan lagi atau kamu mau istirahat dulu,” ucap Taka sambil meraih wanita itu ke dalam pelukannya.“Aku lapar lagi, makan dulu yu sebelum perutku bernyanyi panjang,” ucap wanita bernama Wisang itu kepada Taka dengan manjanya.“Okay, just of to you, honey,” bisik Taka sangat lembut.“Mulai deh, gombal,” ucap Wisang sambil mencubit kecil pinggang pria tersebut.Mereka kemudian berjalan ke arah restoran yang berada tidak jauh dari hotel tersebut. Dengan menggunakan sebuah koridor penghubung, mereka bisa mengakses restoran berkelas itu dengan sangat mudah.Pilihan Wisang pun berakhir pada sebuah restoran Sunda yang menyuguhkan berbagai suguhan khas bumi Parahyangan ini.“Aku suka nasi liwet komplitnya, bagaimana?” ucap Wisang kepada Taka meminta persetujuan pria tersebut.“Terserah, aku ikut saja,” jawab Taka seperti biasa.“Ah, dan dua porsi sundae ice cream untuk penutupnya ya,” ucap Wisang dengan tanpa segan memesankan menu makan siang mereka kali ini.Sambil menunggu pesanan

    Last Updated : 2023-09-26
  • My Beloved Partner   Jerat Hasrat (21+)

    “Kau membuatku basah,” ucap Taka sambil menarik tubuh Wisang ke dalam dekapannya.Wisang yang mulai mencium bau hormon berkembang sejak masuk ke kamar bungalow ini tidak bisa lagi menampik tatapan sendu Taka.“Keringat maksudku!” ujar Taka sambil menyentil dahi Wisang untuk kesekian kalinya.“Awww … seneng banget nyentil jidat orang sih? Sakit, tau!” balas Wisang dengan bibir yang sudah manyun. Membuat Taka semakin gemas pada istri orang ini.Wisang tersenyum, jeda berikutnya dia justru memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Taka. Dia mencondongkan tubuhnya hingga membuat Taka harus memundurkan tubuh untuk memberikan Wisang ruang.“Cium aku lagi,” ucap Wisang yang entah mendapatkan keberanian dari mana melakukannya.Wanita itu terus menatap Taka dengan intens, membiarkan gairah kembali menyapa mereka berdua kali ini.“Ayo Taka, aku menginginkannya,” ucap Wisang dengan semakin menghimpit pria itu.Dua buntalan kembar Wisang yang berada di balik kemeja berkancing wanita itu kini sem

    Last Updated : 2023-09-26
  • My Beloved Partner   Kesayangan

    “Sialan lu. Gue kaget tau!” balas Taka sambil melempar pulpen dari saku nya. Untung saja lemparan Taka meleset. Jika tidak, sudah dipastikan jidat Dimas sebagai tempat mendarat yang sempurna.“Lagian gue panggil dari tadi lu diem aje.”Taka hanya tertawa melihat sahabatnya yang semakin lama semakin berisi itu.“Sejak nikah gendutan, Lu?”“Susunya cocok dong!!” jawab Dimas memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.Jawaban Dimas menggelitik batin Taka, jika saja dia tidak tahu kondisi rumah tangga Dimas, dipastikan dia akan ikut tertawa. Nyatanya Taka malah bersikap datar setelah tadi sempat tertawa. Dia melihat Dimas sebagai sosok lelaki yang tidak bertanggung jawab sekarang. Meskipun dia sendiri juga bukan lelaki baik karena mengajak istri sahabatnya sendiri berselingkuh.“Ngapain lu kesini?” tanya Taka setelahnya.“Lu ikutan tender kain batik yang diminta Pak Menteri?” tanya Dimas mulai serius. Dimas tahu sepak terja

    Last Updated : 2024-04-12
  • My Beloved Partner   Kunjungan Dadakan Bunda Mertua

    “Wisang … Wisang …!!” Terdengar suara mertua Wisang di balik pintu, membuat ciuman itu berhenti dan Taka menjerit karena bibirnya digigit Wisang.“Auuww …!!”“Shut! Diem Taka… sana cepet ke kamar aku dan ngumpet!! Ada mertua aku!”Taka langsung melotot dan lari terbirit-birit ke dalam kamar diikuti Wisang dan menyimpan Taka di lemarinya. “Jangan keluar sampai aku datang ya!” perintah Wisang yang membuat Taka mengernyit.“Kaki aku ga muat, Sayang!”“Tekuk aja udah. Cepet Taka!!”Taka langsung mendesah dan langsung menekuk kakinya agar muat di lemari Wisang yang memang tidak mempunyai ruang yang besar.“Ampun deh! Sempit banget!!” Umpat Taka pasrah saat Wisang langsung menutup lemari itu dan menguncinya.Sambil membereskan wajah dan bajunya yang sempat berantakan akibat ulah Taka, Wisang menenangkan degup jantungnya dan sebisa mungkin santai menghadapi mertuanya.Wisang membuka pintu itu dan ber

    Last Updated : 2024-04-12
  • My Beloved Partner   Gairah Malam

    Bagai petir di siang bolong. Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Taka, dan bukan suaminya membuat Wisang benar-benar dilanda dilema. Wisang hanya wanita yang membutuhkan kata-kata seperti itu. Merasa dibutuhkan? Siapa yang tidak seperti itu? Tapi kenapa harus Taka yang mengatakannya?Kenapa bukan suaminya sendiri? Wisang benar-benar muak terhadap kisah cintanya yang kandas. Jika pun Taka menganggap dia hanya pelarian?“Kau bukan pelarian,” ucap Taka seakan tahu apa yang sedang di pikirkan Wisang.“Benarkah?” balas Wisang dengan suara pasrahnya. “Mungkinkah aku akan terluka untuk kali kedua?” Taka menatap jauh ke dalam mata bulat milik Wisang. Dia mencoba mencari alasan mengapa Dimas memperlakukan Wisang sedemikian rupa? Salah apa wanita ini sampai Dimas sama sekali tidak berhasrat padanya. Wisang menurut pandangan Taka seratus delapan puluh derajat berbeda.“Sampai saat ini … aku tidak ada alasan untuk melukaimu! Jangan bertanya masa depan padaku, karena yang aku tahu saat

    Last Updated : 2024-04-19
  • My Beloved Partner   Diceraikan

    Desah dan lenguh terus terdengar silih berganti, membuat kamar luas yang berada di lantai atas rumah mewah bergaya minimalis ini mendadak terasa panas.Suhu AC yang menunjukkan angka 20°C nyatanya terasa panas untuk kedua insan yang kini tengah dimabuk gelora membara ini.Mereka tak juga berhenti saling memuaskan dahaga yang seakan baru saja menemukan pemiliknya."Tidak Mas, aku lelah." Wisang menahan tubuh kekar yang kini sedang menindihnya itu dengan kedua tangannya saat si pemilik tubuh hendak kembali mencumbunya."Maafkan aku, sayang." Taka pun mengubah cumbuannya menjadi kecupan lembut pada kening Wisang.Setelahnya, Taka kemudian melepaskan penyatuan mereka dan berbaring di sebelah Wisang."Kemarilah," ucap Taka sambil merentangkan tangan kanannya dan membawa Wisang berbaring di atasnya.Keduanya berpelukan dengan tenang, sementara kedua tangan mereka masih saling menggenggam."Tidurlah.""Kau mau tidur disini?""Ya, tentu saja." Taka menjawab sambil mengusap lembut kepala Wisan

    Last Updated : 2024-04-25
  • My Beloved Partner   Melawan

    Wisang merasa terpukul dengan tuntutan Dimas yang begitu tiba-tiba. Dia merasa seperti semua yang dia bangun selama ini runtuh dalam sekejap. Namun, di balik keputusasaan, ada api keberanian yang mulai berkobar di dalam dirinya. Dia tahu dia harus bertahan, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depannya. Dengan gemetar, tapi dengan tekad yang bulat, Wisang menolak untuk menandatangani surat cerai itu."Dimas, aku tidak akan menandatangani ini. Aku akan melawanmu, aku tidak akan membiarkanmu mengambil segalanya dariku," ucap Wisang dengan suara gemetar, tetapi penuh dengan tekad.Dimas terkekeh sinis, tetapi juga bisa merasakan bahwa Wisang tidak lagi menjadi wanita yang mudah ditekan seperti sebelumnya. Dia menyadari bahwa perlawanan dari Wisang tidak akan mudah, tetapi dia tidak akan menyerah begitu saja."Kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Aku sudah bersiap untuk segala kemungkinan. Dan video itu... aku akan menghadapinya dengan kepala tegak. Aku tidak akan mem

    Last Updated : 2024-05-08

Latest chapter

  • My Beloved Partner   Reuni

    Di suatu tempat yang remang-remang, di sebuah lounge eksklusif yang hanya dihadiri oleh kalangan tertentu, Larissa duduk di sofa beludru dengan segelas anggur merah di tangannya. Di hadapannya, Dimas bersandar dengan santai, mengaduk minuman di gelasnya sambil menatap Larissa dengan tatapan penuh perhitungan."Jadi, kau sudah memikirkan rencana kita?" tanya Larissa, menyesap anggurnya dengan tenang.Dimas menyeringai. "Tentu saja. Taka tidak akan bisa menolak masa lalunya. Kita hanya perlu memancingnya ke dalam situasi yang membuatnya tak punya pilihan selain kembali padamu."Larissa menyilangkan kakinya, mengangkat alisnya dengan ekspresi tertarik. "Dan bagaimana kau berencana melakukannya? Wisang adalah masalah utama di sini. Taka mungkin masih memiliki perasaan padaku, tapi Wisang selalu ada di sampingnya. Dia tidak akan begitu saja membiarkan Taka kembali padaku."Dimas mengetukkan jemarinya di atas meja, berpikir sejenak sebelum berbicara, "Kau benar. Maka kita harus membuat Wisa

  • My Beloved Partner   Undangan Reuni

    Wisang duduk di sudut kamar, tangannya mengepal di atas lututnya. Matanya menatap kosong ke arah jendela, tetapi pikirannya jauh dari pemandangan yang terbentang di luar sana. Semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir terus berputar di kepalanya seperti film yang tak ada habisnya.Pertemuannya dengan Larissa membuatnya merasa semakin terpojok. Wanita itu berbicara seolah-olah dirinya adalah korban, seolah-olah Wisang adalah orang ketiga yang masuk ke dalam pernikahan Taka. Padahal, selama ini, Wisang yang harus menghadapi kenyataan bahwa dia menikahi seorang pria yang masih dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya.Dia mencintai Taka, tidak diragukan lagi. Tetapi cinta itu kini terasa bercampur dengan rasa sakit yang sulit ia jelaskan. Bagaimana mungkin dia harus terus bertahan sementara Larissa seolah berusaha membuatnya tampak seperti perebut suami orang? Bagaimana mungkin dia harus bertahan dengan fakta bahwa Dimas dan Larissa sedang berusaha memisahkan mereka?Taka sudah ber

  • My Beloved Partner   Wisang Semakin Galau

    Malam semakin larut ketika Wisang tiba di yayasan tempat Taka bekerja. Langkahnya mantap, tapi hatinya dipenuhi keraguan. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus berputar tentang pertemuannya dengan Larissa sore tadi. Wanita itu bukan hanya kembali ke kehidupan Taka, tapi juga membawa aura ancaman yang sulit diabaikan.Ketika Wisang memasuki kantor utama yayasan, ia menemukan Taka masih sibuk di balik meja kerjanya. Pria itu tengah membaca laporan keuangan dengan serius, tetapi begitu melihat Wisang, ia langsung meletakkan dokumen itu dan menatap istrinya dengan lembut.“Kau masih di sini?” Taka bertanya, suaranya rendah namun penuh perhatian.Wisang mengangguk, kemudian duduk di kursi di hadapan suaminya. “Aku ingin bicara.”Taka menatapnya dengan penuh perhatian. “Tentang Larissa?”Wisang menghela napas, merasa terbebani dengan segala yang ada di pikirannya. “Aku bertemu dengannya sore ini. Dia datang untuk menjemput Ghenta.”Taka mengangguk, tidak terkejut. “Aku tahu dia akan datang

  • My Beloved Partner   Persekongkolan

    Malam berikutnya.Di sebuah kafe yang cukup tersembunyi di pusat kota, Dimas duduk dengan tenang, menyesap kopinya sambil menunggu seseorang. Senyumnya tipis ketika melihat seorang wanita berambut panjang berwarna cokelat keemasan memasuki ruangan.Larissa.Ia melangkah anggun, mengenakan gaun hitam sederhana yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Matanya yang tajam langsung mengunci pandangan ke arah Dimas. Begitu sampai di meja, ia duduk tanpa basa-basi, menyilangkan tangan di dada."Aku tidak menyangka kau akan menghubungiku duluan," ujar Larissa dengan nada penuh penilaian.Dimas tersenyum kecil. "Kita berdua menginginkan hal yang sama, bukan?"Larissa mengangkat alis. "Kau ingin memisahkan Taka dan Wisang, sedangkan aku hanya ingin Taka kembali padaku. Jangan salah paham, Dimas. Aku tidak peduli dengan urusan pribadimu."Dimas terkekeh. "Oh, tapi kita berdua sama-sama tahu bahwa mereka berdua tidak akan mudah dipisahkan tanpa sedikit… dorongan."Larissa menatapnya lama, lalu m

  • My Beloved Partner   Dosa Lama

    Taka berdiri di bawah lampu jalan, menunggu dengan gelisah. Hanya ada beberapa mobil yang melintas di sekitar area parkir restoran ini. Ia tidak ingin bertemu Larissa di rumah atau di tempat yang bisa menimbulkan kecurigaan. Maka, ia memilih lokasi netral—tempat yang cukup ramai untuk menghindari kesalahpahaman, tetapi cukup sepi agar mereka bisa berbicara tanpa gangguan.Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di dekatnya. Larissa keluar dari mobil dengan anggun, mengenakan mantel panjang berwarna krem. Wajahnya tetap sama seperti yang Taka ingat—dingin, penuh percaya diri, dan licik.“Kau benar-benar datang,” ucap Larissa dengan senyum tipis.Taka menyilangkan tangan di dada. “Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu keluargaku.”Larissa mengangkat alisnya, lalu melipat tangan. “Oh? Jadi sekarang kau menyebut mereka keluargamu?” Ia terkekeh kecil. “Padahal dulu, kau pernah menyebutku sebagai satu-satunya wanita yang kau cintai.”Taka menghela napas, berusaha mengendalikan emosi

  • My Beloved Partner   Masa Lalu Belum Usai

    Larissa baru saja berbalik menuju mobilnya ketika Wisang mengejarnya, langkahnya cepat dan penuh emosi yang tertahan.“Tunggu, Larissa,” panggil Wisang, suaranya tegas.Wanita itu berhenti, menoleh dengan ekspresi datar. “Apa lagi?”Wisang menatapnya tajam. “Apa sebenarnya tujuanmu datang ke sini? Kau membuat janji dengan Ghenta tanpa bicara dengan kami dulu, seolah kau lebih berhak atasnya.”Larissa menyilangkan tangan di dadanya. “Aku tidak perlu izin darimu atau Taka untuk menghabiskan waktu dengan Ghenta. Aku sudah mengenalnya sejak lama, dan dia menyayangiku.”Taka yang berdiri di ambang pintu menghela napas, tetapi membiarkan Wisang menangani ini.“Kau pikir itu alasan yang cukup?” Wisang mendekat, suaranya sedikit meninggi. “Kau tidak bisa seenaknya masuk ke dalam kehidupan kami dan membuat keputusan sepihak! Ghenta bukan anakmu, Larissa!”Mata Larissa berkilat marah. “Dan kau juga bukan ayah kandungnya, Wisang! Tapi kenapa kau bertingkah seolah kau yang paling berhak?”Ucapann

  • My Beloved Partner   Menuju Kepastian

    Malam itu, setelah menghabiskan waktu bersama di taman, Wisang duduk di teras rumah dengan secangkir teh di tangannya. Udara malam terasa lebih sejuk dari biasanya, atau mungkin hanya perasaannya saja. Ia sedang berpikir, mencerna semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir.Taka muncul dari dalam rumah, membawa selimut tipis. Tanpa banyak bicara, ia duduk di samping Wisang, menyelimutinya dengan pelan."Udara dingin," katanya singkat.Wisang menatapnya sekilas, lalu kembali memandang ke depan. "Aku baik-baik saja."Taka menghela napas, lalu mengeratkan selimut itu di bahu Wisang. "Aku tahu kau kuat. Tapi bukan berarti kau harus selalu sendiri dalam semua hal."Kata-kata itu menusuk sesuatu dalam diri Wisang. Ia tidak menjawab, hanya mengaduk tehnya perlahan.Beberapa saat berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya Taka kembali membuka suara."Kau percaya padaku, Wisang?"Pria itu terdiam. Sebuah pertanyaan sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana itu."Jujur saja," lanjut Ta

  • My Beloved Partner   Mungkin

    Wisang duduk di meja makan, menatap piring di depannya tanpa banyak nafsu. Biasanya, makan malam adalah momen yang hangat. Ia dan Taka akan duduk bersama, membicarakan hari mereka, berbagi cerita kecil tentang Ghenta. Tapi malam ini, yang ada hanyalah keheningan. Taka duduk di seberang, tampak ragu-ragu sebelum akhirnya membuka suara. “Kau sudah makan?” tanyanya pelan. Wisang mengangguk, meski hanya menyentuh makanannya sedikit. “Ya.” Taka terdiam sejenak sebelum akhirnya bangkit, membawa piring kotor ke wastafel. Biasanya, Wisang yang selalu mengomel saat ia lupa mencuci piringnya sendiri. Tapi kali ini, Wisang hanya diam, membiarkan Taka bergerak dengan caranya sendiri. Ketika Taka kembali ke meja makan, ia menatap Wisang lama. Ada begitu banyak yang ingin ia katakan, tapi kata-kata terasa sulit untuk keluar. “Aku akan tidur lebih awal,” Wisang berkata akhirnya, bangkit dari kursinya. Taka refleks berdiri juga. “Wisang…” Wisang menoleh, menunggu. Taka menggigit bibi

  • My Beloved Partner   Pukul Dua Pagi

    Taka masih duduk di ruang tamu. Lampu utama sudah ia matikan, menyisakan cahaya lampu meja yang temaram. Di hadapannya, secangkir kopi yang tadi ia buat sudah dingin. Matanya terpaku pada pintu kamar yang tertutup rapat.Di balik pintu itu, Wisang ada di sana. Tapi entah kenapa, rasanya ia seperti berada sangat jauh.Taka menghela napas, mencoba memahami perasaannya sendiri. Ia marah. Ia kecewa. Tapi yang lebih besar dari itu semua—ia takut.Selama ini, ia selalu berpikir bahwa meski ada pertengkaran di antara mereka, Wisang tidak akan benar-benar pergi. Wisang akan tetap berada di sisinya, tetap mencintainya, tetap menjadi tempat pulang bagi dirinya dan Ghenta.Tapi jawaban Wisang tadi—Aku tidak tahu—menghantamnya lebih keras dari apa pun.Taka mengusap wajahnya. Ia ingin masuk ke kamar itu, berbicara dengan Wisang, meminta maaf jika memang itu yang diperlukan. Tapi kakinya terasa berat. Ia takut, jika ia memaksa masuk, Wisang akan semakin menjauh.Malam semakin larut.Dan untuk pert

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status