Ghavin berjalan tergesa menuju beranda samping untuk menerima panggilan. Panggilan yang sangat penting sampai ia harus menjauh agar tidak ada yang ikut mendengar.
Pernikahan kedua Ghavin bersama Dyra sudah terjadi dua jam lalu. Sekarang Dyra sah menjadi istri kedua Ghavin Pramana. Tapi meski waktu sudah berlalu selama itu, Dyra belum beranjak dari sofa—-masih tercenung dengan pikiran berkelana jauh tak tentu arah. Beralih ke stroller Megan, senyum tipis terukir kala melihat malaikat kecilnya sedang tertidur pulas. Bayi itu benar-benar cantik dan menggemaskan. Mewarisi hampir seratus persen paras papanya. Dyra yang mengandung serta melahirkan saja nyaris tidak kebagian. Hanya rambut Megan yang seperti miliknya, keriting ikal. “Kamu alasan mama melakukan ini, Nak. Mama berharap sudah menentukan keputusan yang tepat untuk masa depanmu,” ujar Dyra pelan. “Ghavin!” Teriakan dari arah pintu utama mengejutkan Dyra juga Megan yang langsung terbangun dan menangis. Bahkan Martin yang ada di sofa berbeda ikut terkejut, lantas buru-buru menggerakan kursi rodanya ke arah ruang tamu. “Risa!” Martin tidak suka cara menantu sulungnya yang dianggap tidak beretika. “Kau tidak perlu berteriak. Ini rumah, bukan hutan.” Mengabaikan kritikan Martin, Marissa bertolak pinggang di tengah ruang tamu. "Dimana Ghavin? Aku mencari suamiku.” Sama sekali tidak ada rasa hormat Marissa terhadap Martin—mertuanya. Wanita berhak tinggi itu masih membusungkan dada dengan dagu terangkat. "Kenapa tidak kau cari sendiri!” Begitu juga Martin yang terlihat tak acuh, sangat berbeda ketika bersama Dyra. Setelah itu Martin juga langsung kembali masuk meninggalkan Marissa. “Tua bangka merepotkan!” dengus Marissa kesal yang lagi-lagi diabaikan. Sempat mendengar teriakan Marissa, begitu orang di seberang sana paham apa yang diperintahkan, Ghavin lantas memutus panggilan, dan segera memastikan ke dalam khawatir terjadi ketegangan antara Marissa dengan sang ayah. Setidaknya saat melewati ruang tengah, Ghavin lega melihat Dyra membawa Megan ke kamarnya. Sedangkan Martin sudah menunggu di dekat sofa. “Kita harus pergi sekarang. Bukankah acaramu sudah selesai?” “Aku harus kembali ke kantor. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesaikan.” Ghavin bicara jujur. Keduanya sudah bertemu di sofa panjang ruang tengah, tapi sayangnya Martin lagi-lagi harus menyaksikan minimnya adab Marissa terhadap suaminya. Selalu bicara ketus, dan tidak mau dibantah. “Tidak bisa! Kau harus pergi denganku!” Marissa tetap bersikeras memaksa. “Tunggu sebentar, ada yang ingin aku jelaskan pada kalian.” Ghavin sudah akan bangkit, tapi pertanyaan Marissa menahannya. “Kalian siapa?” Marissa bertanya dengan alis mengkerut. “Kau dan Dyra. Tunggulah sebentar. Aku panggilkan dia.” Ghavin masih sangat lembut dan tenang saat berbicara pada Marissa. Sikap yang terkadang membuat Martin kesal, putranya terlalu baik untuk Marissa yang tidak tahu diri. Tidak ingin membuang waktu, Ghavin bergegas menuju kamar Dyra. “Puas Papa sekarang sudah kembali menjadikan Dyra menantu?” hardik Marissa begitu tinggal hanya berdua dengan Martin. “Papa selalu menganggapku buruk, dan tidak layak untuk Ghavin, bukan? Padahal buktinya aku juga memikirkan kebahagiaan kalian. Terbukti sekarang aku merelakan suamiku menikah lagi. Karena aku sadar belum bisa memberinya keturunan.” Melihat Marissa memasang wajah memelas—mencari simpati, Martin sama sekali tidak terpancing. Hanya diam menatap dingin Marissa yang masih menunjukkan kesedihan palsu. Di kamar, Dyra bersyukur Megan bisa kembali tertidur setelah menghabiskan setengah botol susu. Dyra baru selesai menutup pembatas di ranjang Megan ketika Ghavin masuk. Sempat terkejut, tapi dengan cepat Dyra bisa menguasai diri. "Apa dia tidur lagi?" Meski enggan, tapi pada akhirnya Dyra menjawab dengan anggukan kepala. “Bisa bicara di luar?” Melihat Dyra kembali mengangguk, Ghavin lantas berjalan keluar lebih dulu. “Semua demi kamu, Nak. Mama akan berusaha sabar.” Menyiapkan diri menghadapi kemungkinan yang bisa saja terjadi, Dyra mendesak nafas kasar sekali sebelum ikut berjalan keluar. ********** “Selamat kau tidak jadi mantan menantu di keluarga ini,” sarkas Marissa menyambut kedatangan Dyra. “Tapi walaupun suamiku sudah menikahimu, jangan harap bisa bersaing denganku.” Nada sinis Marissa hanya Dyra balas dengan senyum kaku. Bersaing dengan Marissa sesuatu yang sangat mustahil bisa Dyra lakukan, ia juga sangat sadar diri. Mereka bak bumi dan langit. Tidak hanya berparas cantik, fashionable, dan glamor, Marissa juga memiliki karir yang cemerlang sebagai modeling. Sedangkan dirinya, hanya wanita rumahan yang tak ragu mengenakan daster usang. Sekalipun ia berusaha keras, sudah pasti tidak akan bisa setara dengan Marissa. “Risa! Jaga bicaramu!” tegas Martin tidak suka melihat cara bicara Marissa yang dianggap terlalu sombong. “Kenapa? Karena dia menantu kesayangan Papa?” Bukannya menurut, Marissa malah semakin meninggikan suara. “Risa.” Kali ini Ghavin yang menegur. Walaupun dengan suara pelan tapi penuh penegasan. Tidak hanya Marissa, Dyra yang berada di jarak cukup jauh saja ikut merasakan atmosfer yang berbeda sesaat Ghavin bersuara. Pria itu memang sangat mengintimidasi dengan pembawaan yang tenang. “Kau lupa sedang bicara dengan siapa?” Mendapat pembelaan Ghavin, Martin menatap kesal Marissa yang balas melirik sinis. Dua orang dewasa yang tidak pernah bisa akur setiap kali bertemu. Kondisi yang sebenarnya tidak asing lagi Dyra lihat, hanya saja dengan statusnya yang sekarang, timbul perasaan tidak tenang. Ia tahu Marissa tidak akan pernah berhenti menghardik dirinya. “Diam, dan dengarkan ini baik-baik.” Setelah memperingatkan Marissa, Ghavin beralih pada Dyra yang dianggap juga berhak ikut menyimak. “Kedepannya aku akan berusaha memperlakukan kalian dengan adil.” Ghavin mulai menjelaskan perannya sebagai suami dari dua istri, sekaligus ayah pengganti Megan. “Dengarkan dulu.” Ghavin melarang Marissa yang hendak melontarkan protes. “Tunjuk dimana saja rumah yang kau mau jika kau ingin tinggal di rumah baru. Karena mulai besok, Dyra beserta Papa akan tinggal di rumah yang sudah aku siapkan.” Ghavin menatap Dyra sebentar sebelum lanjut bicara. “Rumah ini terlalu banyak menyimpan kenangan mama dan Ghava. Aku lakukan ini demi kesehatan mental Papa, agar tidak lagi merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi. Hanya itu.” Kendati menekan ujung kalimatnya, tapi pandangan Ghavin penuh arti ketika kembali menatap Dyra. Sedangkan Dyra tidak peduli apapun yang Ghavin jelaskan, ia juga tidak berharap pria itu bisa mengerti dirinya. Dengan tidak lagi tinggal di rumah itu saja, ia sudah sangat bersyukur. Dyra percaya menjauh dari semua hal yang mengingatkan Ghava bisa menyembuhkan luka hatinya atas kepergian pria itu yang mendadak. Dyra juga sedang berusaha menerima takdir yang sekarang telah mengikatnya dengan pria yang tidak pernah diinginkan. “Aku akan tetap tinggal di rumah lama.” Marissa menjawab ketus, kesal ternyata Ghavin sudah menyiapkan tempat tinggal untuk Dyra. “Tapi sebagai gantinya, dalam sepekan kau harus bersamaku lima hari, baru sisanya kau bisa bersama Megan.” “Tidak! Itu tidak benar, Risa.” Ghavin meluruskan. “Tapi kenapa? Bukankah pernikahan kalian hanya karena kau menuruti permintaan Papa? Apa kau juga berniat melakukan tanggung jawabmu pada Dyra?!” Marissa bersungut-sungut, merasa Ghavin melanggar kesepakatan mereka. Tidak tahu perjanjian apa yang sebelumnya disepakati pasangan itu, tetapi ketika Marissa mencemaskan sesuatu yang Dyra anggap tidak mungkin, rasanya sangat tidak nyaman. Pernikahannya dengan Ghavin hanya karena Megan, tidak lebih. Tapi sayangnya ketika akan ikut bicara, suara Ghavin lebih dulu terdengar. “Pernikahanku dengan Dyra memang hanya karena kami ingin tetap bersama Megan. Tapi walaupun begitu, Dyra juga sudah menjadi tanggung jawabku. Apa yang aku berikan padamu, dia juga akan mendapatkan hak yang sama.” Kali ini tidak hanya Marissa yang terkejut, tapi juga Dyra. Tidak tahan hanya menyimak, Dyra akhirnya angkat bicara. “Tidak perlu Mas melakukan itu! Cukup hanya menjadi ayah pengganti Megan. Sedangkan kita tetap dua orang asing.” Dyra menegaskan “Tidak bisa Dyra. Aku menikahimu secara sah, dengan begitu aku berkewajiban memberikanmu hak yang sama seperti Marissa.” “Kenapa bisa seperti itu?” Tidak terima, Marissa melayangkan protes. “Kau hanya mengatakan akan mengambil alih tanggung jawab Megan. Bukankah terlalu berlebihan jika kau juga memperdulikan ibunya!” “Ghavin.. .” Martin menyela, sepertinya ia cukup terkejut setelah mendengar ucapan Marissa. “Jangan buat papa pusing, apa yang sebenarnya kalian sepakati?” “Ghavin mengatakan pernikahan ini atas keinginan Papa yang tidak bisa jauh dari Megan, dan aku menyetujuinya karena dia bilang tidak lebih dua tahun.” “Ghavin!” Kali ini Martin membentak putranya, dan disertai tatapan marah. Melihat reaksi Martin, Marissa menyunggingkan senyum licik."Astaga! Mas Ghavin!" Dyra seketika duduk. Sebelumnya posisi Dyra berbaring membelakangi pintu, tapi ternyata Ghavin yang tidak tahu sejak kapan datangnya sudah berdiri di dekat ranjang, dan ketika membalik badan Dyra dibuat terkejut setengah mati. “Sedang apa disini?” Dyra buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Namun, Ghavin tak bergeming, bahkan saat melihat keterkejutan Dyra. Dyra lantas menghidupkan lampu kamar menggunakan remot, dan ketika tahu penampilan Ghavin yang tak biasa, alisnya mengkerut dalam. Melihat Ghavin berdiri layaknya patung, pun dengan tatapan terkunci padanya, Dyra berubah gelisah. Ia merasa terancam. “A-ada apa?” ujarnya gugup. Selain aneh, Ghavin juga tampak berantakan. Tidak seperti biasanya yang selalu rapi. Kemeja putih yang Ghavin kenakan terburai keluar, dasi sudah melonggar tidak beraturan. Sedangkan rambutnya acak-acakan seperti tersapu angin beliung. Ghavin terlihat sangat kacau. Semakin mengherankan lagi ketika tiba-tiba langsung
Pagi itu ketiga kalinya Dyra mengajak Megan jalan-jalan pagi. Selain ingin mendapatkan udara segar, mereka juga masih perlu mengenal lingkungan baru. Tinggal di perumahan elit, Dyra bersyukur memilih tetangga yang ramah. Lingkungan sehat yang membuatnya nyaman, dan tentunya tidak ada yang tahu dirinya istri kedua Ghavin Pramana. Begitu memasuki pagar rumahnya, Dyra melihat Martin masih ada di dekat kolam ikan. Padahal matahari mulai terik untuk pria itu tetap ada di sana. Dyra segera mendorong stroller Megan mendekati sang mertua. “Papa, sudah waktunya sarapan?” Martin yang terhenyak segera menoleh "Papa sengaja menunggu kalian," kilahnya tidak ingin Dyra tahu dirinya sedang merenung. "Kalau begitu kita masuk sekarang." Dyra lantas membuka kunci rem pada roda di kursi roda Martin, dan setelahnya pria itu menarik tuas di atas roda kanan untuk jalan sendiri memasuki rumah. Melihat Martin bisa dengan mudah menggerakkan kursi rodanya, Dyra menyusul bersama stroller bayinya. “Apa
Sesekali Dyra mengalihkan pandangan dari layar televisi untuk memastikan Ghavin apakah masih serius dengan ponselnya. Ternyata pria itu benar-benar tidak pergi kemanapun. Ghavin sepertinya memang sengaja mengambil cuti. Tapi bukan itu yang Dyra pikirkan sekarang, melainkan keputusan Ghavin yang ingin bercerai dari Marissa masih sangat mengejutkan baginya. Mengingat hubungan keduanya selama ini terlihat baik-baik saja, meski belum memiliki keturunan. Dyra malah jadi resah, menganggap sudah pasti dirinya penyebab hancurnya pernikahan Ghavin dengan Marissa yang sempat membuat iri banyak orang. Tidak hanya itu, ia juga akan tersudut lantaran keputusan itu Ghavin certuskan tidak lama setelah pernikahan mereka dilakukan. “Akan ada yang datang.” Ghavin tiba-tiba bicara untuk memberitahu Dyra, tapi sayangnya Dyra yang sedang sibuk berpikir mengabaikannya. “Ada yang mengusik pikirkanmu?” Ghavin menatap heran Dyra yang masih merenung. “Hah?” Dyra terkesiap, dan seketika berubah gugup saat
“Untuk apa mereka datang?” Martin mendesak putranya yang masih bergeming, setelah kepergian Dyra ke kamar membawa Megan. “Mengundangku dan Dyra ke acara anniversary Paman Darwin.” Ghavin menjawab apa adanya. “Ingat Ghavin! Sejak dulu papa tidak pernah menyukai wanita itu. Kau tetap harus berhati-hati." Martin mengingatkan. Curiga kedatangan Bella bukan saja karena ingin menyampaikan undangan pribadi orang tuanya, melainkan ada alasan lain. “Papa tahu dia masih sangat keras kepala untuk bisa menjadi bagian keluarga kita." “Dia sudah menjadi bagian keluarga kita setelah Galih menikahinya, Pa.” Ghavin balik mengingatkan agar sang ayah segera menyingkirkan pikiran buruk terhadap mantan kekasih kembarannya. "Aku percaya Galih bisa menjaganya." Walaupun faktanya memang benar Bella telah menjadi bagian keluarga besar Pramana setelah dinikahi sang keponakan, tetap saja Martin tidak bisa tenang. Dua kali pernah kehilangan orang tersayang membuatnya berpikir kritis terhadap keturunan Darwi
Ghavin mendadak urung membuka pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Ia pilih mengintip Dyra yang masih menggantikan pakaian Megan setelah selesai dimandikan. Mendengar samar-samar suara Dyra menyanyikan lagu anak-anak, tanpa sadar Ghavin menyunggingkan senyum tipis. Kendati tidak jelas lagu apa yang sedang Dyra senandungkan, tapi rasanya Ghavin masih ingin lebih lama lagi mencuri dengar. Ghavin hanya masih tidak menyangka, Dyra—-wanita cerdas yang dulu pernah menjadi sekretaris pribadinya itu, sekarang memilih mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga. Benar-benar wanita rumahan yang mengurus putrinya seorang sendiri, tanpa bantuan pengasuh. Ketika dulu mendengar Ghava sering memuji Dyra, Ghavin menganggap adik yang hanya berbeda lima menit darinya itu terlalu bucin. Sehingga dengan mudah terperdaya oleh wanitanya. Tapi ternyata baru saja sehari tinggal bersama, Ghavin membuktikan sendiri perlakuan Dyra saat melayani bukan hanya dirinya, tapi juga sang ayah beserta putri kecil me
“Maaf telah merepotkan. Mas bisa berangkat sekarang.” Setelah sempat dibuat panik tidak menemukan putri kecilnya di ranjang, Dyra bicara ketus saat mengambil Megan dari tangan Ghavin. Sebenarnya Dyra hanya kesal, Ghavin membawa Megan tanpa memberi tahu dirinya lebih dahulu. Sedangkan di kamar tadi, ia kebingungan mengetahui ranjang putrinya kosong. Terlalu banyak kehilangan orang-orang yang disayangi, membuat Dyra berpikir paranoid. Hanya karena tidak menemukan Megan di tempat sebelumnya, ia bisa sangat kacau—akal sehat mendadak tidak bekerja. Dyra tahu saat itu Ghavin sudah pergi ke kantor, sedangkan Martin seperti biasa berada di beranda samping, mencari udara segar setelah sarapan. “Aku bisa berangkat kapan saja.” Ghavin mengingatkan. Ia hanya tidak suka Dyra bicara ketus padanya. “Aku pemimpin mereka jika kau lupa.” Ghavin tersinggung, menganggap Dyra tidak suka ia membawa Megan. Melihat kesalahpahaman terjadi di antara putra dan menantunya, Martin berniat meluruskan. Tapi terny
Marissa berjalan tergesa memasuki lobby perusahaan G2 Group. Semua karyawan yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala. Selain dikenal sebagai supermodel, Marissa yang merupakan istri Ghavin Pramana memang tidak pernah lepas dari sorotan banyak mata. Tidak hanya memiliki body goal, paras yang cantik, tapi juga minus sombong dan arogan. Terbukti, setiap karyawan suaminya yang menyapa tidak ada satupun yang mendapat balasan. Marissa selalu menunjukkan wajah angkuh dengan tatapan lurus ke depan. “Dimana suamiku?” Marissa bertanya lugas begitu berdiri di depan meja sekretaris Ghavin. “Pak Ghavin belum datang, Nyonya. Mungkin sebentar lagi.” Mendengar itu, Marissa lantas berlalu begitu saja menuju ruangan Ghavin yang tinggal beberapa langkah lagi. Marissa merasa perlu memastikan bagaimana respon Ghavin setelah kepulangannya yang tiba-tiba semalam, sedangkan dirinya tidak ada di rumah. Kabar pernikahan kedua Ghavin dengan iparnya memang tidak dirahasiakan, sehingga sampai deti
“Wanita tidak tahu diri! Janda genit! Setelah suamimu mati sekarang kau rebut suami putriku! Kenapa! Tidak ada lagi yang menghangatkan ranjangmu, iya! Dan kau takut dibuang keluarga ini! Untuk itu kau menggoda mantan atasanmu!” Sushmita langsung melontarkan cacian sesaat pintu dibuka. Momen yang langsung dimanfaatkan begitu tahu siapa yang menyambut kedatangannya. Sushmita memang sengaja datang untuk melabrak Dyra, dan ketika wanita itu yang membuka pintu untuknya, darah Sushmita seketika mendidih panas. “Aku tidak merebut Mas Ghavin, Buk.” Dyra coba meluruskan meski sebenarnya masih sangat tidak menduga Sushmita yang datang. “Semua ini—” “---cih! Kau berani membela diri rupanya hanya karena Tuan Martin memintamu menjadi istri kedua Ghavin. Kau ingin menunjukkan padaku hanya kau menantu kebanggaannya, begitu!” Suara lantang Sushmita masih mendominasi. “Kau benar-benar membuatku muak! Sejak dulu aku sudah peringatkan Risa untuk menjaga suaminya dari betina macam dirimu! Dan ternya
Menyandarkan punggung di sandaran kursi roda, menatap jauh ke depan dengan sorot mata menajam tapi menyiratkan kesedihan, Romi tidak pernah menyesal dengan apa yang sudah dilakukan sampai sejauh ini dan berakhir menjadi tahanan dokter. Yang terjadi pada dirinya sekarang hanyalah bagian dari sebuah peperangan. Begitu juga dengan kematian sosok pendukung sekaligus sekutu yang selama ini selalu ada di belakangnya. Darwin bukan hanya seorang ayah, tapi juga teman sekaligus motivator baginya. Kematian Darwin sudah pasti akan memicu pembalasan yang lebih kejam, pertumpahan darah yang sebenarnya akan terjadi setelah kondisi tubuhnya benar-benar siap. Untuk sekarang, Romi membiarkan keluarga Pratama tersenyum bahagia merayakan kemenangan mereka, tapi yang pasti akan segera tiba hari pembalasan.“Kau melamun lagi?”Suara lembut itu menyentak Romi yang seketika menoleh ke asal suara. “Sampai kapan alat sialan itu akan ada di tubuhku?”“Sampai kondisi kakimu benar-benar pulih.”Ghavin memang te
Hanya butuh kesabaran untuk sebuah kepastian. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Hidup untuk berjuang, jika pun ada keberuntungan itu hanya sebagian kecil, dan tidak bisa selalu diharapkan. Senyum Martin bak awet berformalin kala menatap personil keluarganya yang lengkap penuh kehangatan. Meski sang istri tidak lagi ada disisinya, begitu juga si bungsu penghidup suasana telah pergi lebih dulu, tetapi dengan melihat kebahagian kedua putranya yang lain, ia sudah merasa sangat beruntung. Berharap kebahagiaan itu tetap bisa dinikmati sampai dirinya menutup mata nanti.Bukan hanya hubungan Ghavin dan Dyra yang sudah mulai menuju keluarga bahagia, pun dengan Galih yang terlihat menikmati perannya sebagai suami siaga. Begitu juga Bella tidak canggung lagi menunjukkan perhatian serta kepeduliannya pada sang suami. Pemandangan yang sebelumnya Martin anggap akan sangat mustahil terjadi, ternyata berakhir lebih manis dari yang pernah diharapkan. “Aku sebenarnya semalam sangat ingin dibu
Sedangkan di kediaman Tuan Prabu, Marissa belum juga bisa menerima kenyataan jika dirinya tidak diizinkan kemanapun sekarang, bahkan profesi yang selama beberapa tahun terakhir membuatnya percaya diri telah dilepas paksa oleh Tuan Prabu. Ingin marah, tetapi ingat tujuannya datang pada pria tua itu karena menuntut balas atas kematian sang mama, ia pilih bertahan. Meski sebenarnya rasa sakit yang dulu ia terima terus teringat jelas di ingatan, tidak jarang pun ketika ia sendiri, muncul pemikiran kemana Tuan Prabu kala itu. Kenapa tidak berusaha mencarinya, mungkinkah kepergiannya tidak membawa pengaruh, lantaran dirinya hanya dijadikan pelampiasan birahi, seperti yang wanita itu katakan. Tidak mau memikirkan itu lagi, Marissa memilih berpindah duduk di tepi kolam renang dan menceburkan kedua kakinya ke dalam air. Melihat birunya air kolam yang terpantul sinar lampu, ternyata justru membuat suasana hati Marissa semakin memburuk. Ia malah mendadak ingat ketika pernah sengaja berenang
Ghavin diam menahan kemarahan yang sebenarnya sudah ingin diledakkan. Penyesalan tak luput ikut menguasai diri, pasrah menjadi titik akhir kebenaran yang selama ini membuatnya tidak bisa tenang tapi justru terlambat mengetahui. Tertinggal hanya penyesalan dan terus menyalahkan diri lantaran tidak bisa bergerak cepat. Mirisnya, ia mengetahui semua kebenaran tersebut dari orang lain. “Aku perhatikan Mas banyak diam sejak kembali dari rumah Galih.” Dyra yang baru keluar ruang ganti segera mendekat, begitu mendapati sang suami duduk di sofa tunggal. Membiarkan kaca jendela beserta gorden yang terbuka lebar, sehingga menampakkan pemandangan langit malam yang cerah bertabur bintang. Tapi sayang, tidak mampu menerangi keredupan di wajah Ghavin. “Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?” Karena memang selama di rumah Galih, Dyra pilih menemani Bella di kamar. Walaupun sebenarnya ia tidak tahu Bella menginginkan atau tidak keberadaannya. Ia hanya khawatir, ketika Bella ditinggal sendiri ba
Dyra hanya menunggu diam Bella yang masih belum berniat membuka mulut. Paham kepedihan yang sedang Bella rasakan, Dyra pilih menghormati itu dengan tetap duduk tenang di samping ranjang. Apa yang menimpa Bella memang bukan perkara mudah untuk bisa segera dilupakan, dan sudah pasti siapapun yang mengalaminya pasti juga terguncang. Setelah janinnya sempat hampir digugurkan paksa, dan dirinya dalam bahaya, semalam apa yang terjadi di kediaman Darwin seketika menggemparkan jagat media.Dari tiga puluh nyawa yang Galih temui, hanya satu yang masih memiliki kesempatan hidup, yaitu pekerja kebun Darwin. Sedangkan dua puluh delapan pelayan lainnya ditambah sang nyonya rumah, mereka meregang nyawa dengan cara yang tragis. Semua pelayan dikurung di dalam gudang yang diberi gas beracun, sedangkan suara seperti benda jatuh yang sempat Galih dengar, tak lain paman penjaga kebun berniat membuka pintu menggunakan potongan besi. Hanya saja, tubuhnya yang sudah sangat lemas meski telah melepas kaos
“Ya Tuhan bagaimana ini?” Dyra yang panik berniat pergi keluar untuk memanggil mereka yang berjaga, agar membantunya memindahkan Ghavin ke dalam kamar. Khawatir Martin tiba-tiba kembali keluar kamar dan mendapati putranya tidak sadarkan diri.Namun, ketika hendak melangkah, Dyra justru dikejutkan dengan tarikan di tangannya. “Mas?” Secepat kilat Dyra bisa berpindah tempat—duduk di atas pangkuan Ghavin yang masih memejamkan mata. Masih terlalu terkejut, Dyra menatap heran Ghavin yang bergeming. “Mas bisa mendengarku?” Ghavin perlahan membuka mata. “Kenapa tidak menjawab! Aku benar-benar takut sesuatu terjadi padamu,” gerutu Dyra yang malah Ghavin balas dengan senyum tipis.“Sebenarnya aku ketiduran tadi.” Ghavin menyingkirkan anak rambut Dyra yang menghalangi pandangannya. “Itu artinya aku sudah mengejutkanmu?” Ghavin tidak akan menjawab meski itu yang sebenarnya terjadi. “Maaf,” ujar Dyra pelan disertai menyesakan. “Tidak perlu minta maaf. Aku bisa mengabaikan apapun kesalahan yang
“Ma.. mama.. suara lemah Bella terus memanggil Mia yang tak kunjung menjawab. Mendapati rumah dalam keadaan sepi, pun kamar utama kosong, Bella semakin khawatir sesuatu terjadi pada sang mama.“Bagaimana ini, Mas. Mama tidak bisa dihubungi.” Perasaan Bella bertambah tak karuan, ketika mencoba menghubungi nomor pribadi sang mama yang ternyata berada di luar jangkauan. “Kamu yang tenang, ya. Sebaiknya duduk dulu.” Karena memang kondisinya masih sangat lemah setelah kembali dari villa, Bella menurut saat dibimbing duduk di sofa. “Aku benar-benar khawatir, Mas.” Suara Bella sudah bergetar, membayangkan Darwin juga tega membahayakan nyawa wanita yang selama ini setia, dan patuh terhadap dirinya dengan semua peraturan yang terkadang tidak masuk akal.“Percayalah mama akan baik-baik saja.” Galih menenangkan. “Sama seperti kita, pertolongan datang di waktu yang tepat.” Melihat Bella mengangguk patuh meski kecemasan masih terlihat jelas di wajahnya, Galih memilih ikut duduk. Ia seakan lupa
“Syukurlah.. akhirnya kalian pulang juga.” “Papa? Kenapa belum tidur?” Setelah sempat terkejut mendapati sang ayah ada di ruang tengah sendirian ketika hari sudah larut malam, Ghavin malah mencemaskan kondisi Martin. “Papa butuh sesuatu? Atau merasa tidak nyaman? Mau ke rumah sakit?” Ghavin yang masih terbawa ketegangan siang tadi, bertanya tidak sabar. “Tidak. Papa baik-baik saja. Papa hanya ingin menunggu kalian.” Ghavin seketika menghela nafas panjang, dan beralih menatap sang istri. Dilihat dari perubahan wajahnya, sepertinya Ghavin sadar sudah berlebihan. Seperti yang Dyra duga—Martin belum bisa tidur sebelum melihat dirinya dan Ghavin kembali. Untuk itu, ia menyarankan mereka lebih dulu membersihkan diri dan berganti pakaian di hotel terdekat sebelum kembali ke rumah. Sedangkan Janur serta Derry yang masing-masing mengalami luka tembak, tidak mau di bawa ke ruang sakit. Mereka memilih mengobati sendiri, dan kembali ke hutan. Ternyata Darwin tidak datang sendiri. Masih
“Awas Mas!!!”Dor!Seketika kondisi berubah hening, sebuah tembakan menjadi akhir dari ketenangan yang terjadi. Naasnya, belum juga kesadaran Dyra kembali, suara tembakan kembali terdengar.“Mas…” Mulut Dyra bergerak tanpa suara. Tubuhnya mendadak lemas. Tulang-tulang melunak seperti jelly. Nafas tersendat, tapi mampu melepas tekanan yang menghimpit dada.“Mas! Kamu terluka?” Galih yang khawatir segera bertanya sambil mendekati Ghavin.“Tidak. Aku baik-baik saja. Kau datang di waktu yang tepat. Terima kasih.” Ghavin hanya tidak menyangka Darwin akan berakhir di tangan Galih yang bahkan membunuh serangga saja dia tidak tega.Beberapa saat sebelumnya. Di balik sofa Ghavin masih sempat membalas tembakan Darwin hingga beberapa kali. Sedangkan Dyra yang berada di dekapannya menutup telinga dengan kedua tangan. Suara tembakan seakan mampu menembus gendang telinga. Dyra terlalu takut membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Apalagi jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada Ghavin.Kendat