“Untuk apa mereka datang?”
Martin mendesak putranya yang masih bergeming, setelah kepergian Dyra ke kamar membawa Megan. “Mengundangku dan Dyra ke acara anniversary Paman Darwin.” Ghavin menjawab apa adanya. “Ingat Ghavin! Sejak dulu papa tidak pernah menyukai wanita itu. Kau tetap harus berhati-hati." Martin mengingatkan. Curiga kedatangan Bella bukan saja karena ingin menyampaikan undangan pribadi orang tuanya, melainkan ada alasan lain. “Papa tahu dia masih sangat keras kepala untuk bisa menjadi bagian keluarga kita." “Dia sudah menjadi bagian keluarga kita setelah Galih menikahinya, Pa.” Ghavin balik mengingatkan agar sang ayah segera menyingkirkan pikiran buruk terhadap mantan kekasih kembarannya. "Aku percaya Galih bisa menjaganya." Walaupun faktanya memang benar Bella telah menjadi bagian keluarga besar Pramana setelah dinikahi sang keponakan, tetap saja Martin tidak bisa tenang. Dua kali pernah kehilangan orang tersayang membuatnya berpikir kritis terhadap keturunan Darwin. “Papa hanya merasa perlu mengingatkanmu. Jangan sampai nanti kamu menyesal telah mengabaikan peringatan papa hari ini." Ghavin pilih tidak menjawab, melihat keseriusan sang ayah ia jadi berpikir. Kecemasan orang tua tak jarang bisa jadi kenyataan, dan begitu sadar siapa Bella, seketika rahangnya mengeras mengingat pengkhianatan Marissa. Melihat Ghavin tiba-tiba berdiri, Martin berubah cemas. “Mau kemana?” “Masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan.” “Gunakan hari liburmu untuk keluarga, Vin. Jangan hanya mementingkan pekerjaan yang tidak ada habisnya.” Martin kembali mengingatkan. Pasalnya selama ini putra sulungnya itu terlalu sibuk bekerja sampai-sampai jarang mengunjungi dirinya ketika masih tinggal bersama Marissa. “Aku tidak akan lama.” Ghavin hanya akan memastikan sesuatu yang sebelumnya sudah disimpan di ruang kerjanya. “Kalau begitu, pergilah.” Martin akhirnya melunak. Biar bagaimanapun ada banyak kehidupan yang digantungkan di bahu putranya. Ia tidak boleh egois hanya karena ingin mendekatkan Ghavin dengan sang cucu sekaligus ibunya. ********* Sesaat setelah duduk di kursi kerjanya, Ghavin mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam dari dalam laci, dan segera membukanya. Namun, ketika mengetahui apa isi di dalam kotak tersebut, rahangnya seketika mengeras. Ia marah meyakini hadiah itu bukan untuknya, dan langsung melemparnya ke kotak sampah. Setelahnya meraih ponsel yang semalam juga ia tinggalkan untuk menghubungi seseorang. “Dimana dia?” lugasnya bertanya begitu panggilan terhubung. Tapi detik berikutnya segera dimatikan saat tahu yang dicari tidak ada di tempat. Ghavin lantas melakukan panggilan baru ke nomor lain. “Cari tahu dimana dia sekarang,” ujarnya memberi perintah. Jika saja malam itu ia tidak pergi dan melihatnya sendiri, mungkin sampai detik ini menganggap Marissa masih hanya miliknya. Selama ini ia selalu percaya dan membiarkan Marissa dengan semua kesibukannya, tanpa pernah berpikir sang istri akan melakukan pengkhianatan. Sampai akhirnya ia sadar kerja kerasnya selama ini hanyalah kebodohan. Marissa hanya menganggap dirinya mesin penghasil uang. ******** “Tenangkan dirimu. Tidak mungkin dia ada disana malam itu. Karena aku tahu dia sedang di luar negeri.” Tidak tahan melihat kecemasan di wajah Marissa, Romi coba menenangkan tapi selalu gagal. Meski sebenarnya sekalipun Ghavin mengetahui hubungan terlarangnya dengan Marissa, ia tidak peduli. Karena memang berharap Ghavin segera tahu. “Bagaimana aku bisa tenang, coba kau pikir, dia tiba-tiba memberitahuku akan menikah lagi atas permintaan ayahnya, dan mengatakan pernikahannya itu hanya untuk dua tahun saja. Sampai bayi wanita kampung itu bisa mengenalinya. Tapi ternyata, secara mengejutkan dia malah ingin bercerai dariku. Tidak mungkin itu dia lakukan cuma gara-gara aku menghabiskan banyak uangnya untuk membeli tas serta beberapa pakaian.” Marissa menggebu saat menceritakan kecemasannya. Lantaran paham betul Ghavin sangat royal padanya. Berapapun uang yang dia habiskan dalam sehari, Ghavin tidak pernah mempermasalahkan Romi diam berpikir. Memang benar janggal, Ghavin yang selama ini terlihat sangat mencintai istrinya bisa dengan mudah memberi status istri pada wanita lain hanya karena permintaan sang ayah. Jika hanya menjadi ayah pengganti, sebenarnya tanpa menikah pun bisa, apalagi Ghavin paman kandung bayi yang Dyra lahirkan. “Sebaiknya untuk sementara kita jangan bertemu dulu. Hari ini pertemuan kita yang terakhir.” Ckii Ttttt!! Romi langsung menghentikan mobilnya saat itu juga sampai membuat tubuh Marisa terhuyung ke depan. “Apa kau sudah gila!” Marissa mengumpat kesal. “Itu salahmu mengatakan ini menjadi pertemuan terakhir kita ketika aku sedang mengemudi. Sedangkan aku tidak bisa jauh darimu.” “Aku hanya tidak mau Ghavin sampai tahu hubungan kita. Setidaknya kita harus menyembunyikan hubungan ini sampai aku berhasil mengalihkan semua hartanya atas namaku.” “Aku tidak tahu bagaimana bisa melewati waktu tanpamu.” Ketegangan yang sebelumnya seketika sirna berganti rona bahagia. Romi memang lebih paham cara membahagiakan dirinya. “Kita masih bisa bertukar pesan, ataupun melakukan panggilan.” Mereka hanya tidak akan bertemu untuk sementara waktu, bukan menghilang tanpa kabar. “Tetap saja itu berbeda ketika aku bisa menyentuhmu.” Detik itu juga, Romi langsung menarik tengkuk Marissa untuk ia lahap bibir merah merona wanitanya. Keduanya saling menggigit dan menghisap tidak sabaran. Tidak pernah sadar jika dari depan dengan jarak yang lumayan jauh, ada mobil lain ikut berhenti. Seorang pria dari dalam mobil tersebut segera mengarahkan kamera ke depan. Menggunakan jenis kamera yang canggih, pria itu bisa menembus kaca mobilnya beserta mobil Romi, sehingga hasil jepretannya sangat memuaskan.Ghavin mendadak urung membuka pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Ia pilih mengintip Dyra yang masih menggantikan pakaian Megan setelah selesai dimandikan. Mendengar samar-samar suara Dyra menyanyikan lagu anak-anak, tanpa sadar Ghavin menyunggingkan senyum tipis. Kendati tidak jelas lagu apa yang sedang Dyra senandungkan, tapi rasanya Ghavin masih ingin lebih lama lagi mencuri dengar. Ghavin hanya masih tidak menyangka, Dyra—-wanita cerdas yang dulu pernah menjadi sekretaris pribadinya itu, sekarang memilih mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga. Benar-benar wanita rumahan yang mengurus putrinya seorang sendiri, tanpa bantuan pengasuh. Ketika dulu mendengar Ghava sering memuji Dyra, Ghavin menganggap adik yang hanya berbeda lima menit darinya itu terlalu bucin. Sehingga dengan mudah terperdaya oleh wanitanya. Tapi ternyata baru saja sehari tinggal bersama, Ghavin membuktikan sendiri perlakuan Dyra saat melayani bukan hanya dirinya, tapi juga sang ayah beserta putri kecil me
“Maaf telah merepotkan. Mas bisa berangkat sekarang.” Setelah sempat dibuat panik tidak menemukan putri kecilnya di ranjang, Dyra bicara ketus saat mengambil Megan dari tangan Ghavin. Sebenarnya Dyra hanya kesal, Ghavin membawa Megan tanpa memberi tahu dirinya lebih dahulu. Sedangkan di kamar tadi, ia kebingungan mengetahui ranjang putrinya kosong. Terlalu banyak kehilangan orang-orang yang disayangi, membuat Dyra berpikir paranoid. Hanya karena tidak menemukan Megan di tempat sebelumnya, ia bisa sangat kacau—akal sehat mendadak tidak bekerja. Dyra tahu saat itu Ghavin sudah pergi ke kantor, sedangkan Martin seperti biasa berada di beranda samping, mencari udara segar setelah sarapan. “Aku bisa berangkat kapan saja.” Ghavin mengingatkan. Ia hanya tidak suka Dyra bicara ketus padanya. “Aku pemimpin mereka jika kau lupa.” Ghavin tersinggung, menganggap Dyra tidak suka ia membawa Megan. Melihat kesalahpahaman terjadi di antara putra dan menantunya, Martin berniat meluruskan. Tapi terny
Marissa berjalan tergesa memasuki lobby perusahaan G2 Group. Semua karyawan yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala. Selain dikenal sebagai supermodel, Marissa yang merupakan istri Ghavin Pramana memang tidak pernah lepas dari sorotan banyak mata. Tidak hanya memiliki body goal, paras yang cantik, tapi juga minus sombong dan arogan. Terbukti, setiap karyawan suaminya yang menyapa tidak ada satupun yang mendapat balasan. Marissa selalu menunjukkan wajah angkuh dengan tatapan lurus ke depan. “Dimana suamiku?” Marissa bertanya lugas begitu berdiri di depan meja sekretaris Ghavin. “Pak Ghavin belum datang, Nyonya. Mungkin sebentar lagi.” Mendengar itu, Marissa lantas berlalu begitu saja menuju ruangan Ghavin yang tinggal beberapa langkah lagi. Marissa merasa perlu memastikan bagaimana respon Ghavin setelah kepulangannya yang tiba-tiba semalam, sedangkan dirinya tidak ada di rumah. Kabar pernikahan kedua Ghavin dengan iparnya memang tidak dirahasiakan, sehingga sampai deti
“Wanita tidak tahu diri! Janda genit! Setelah suamimu mati sekarang kau rebut suami putriku! Kenapa! Tidak ada lagi yang menghangatkan ranjangmu, iya! Dan kau takut dibuang keluarga ini! Untuk itu kau menggoda mantan atasanmu!” Sushmita langsung melontarkan cacian sesaat pintu dibuka. Momen yang langsung dimanfaatkan begitu tahu siapa yang menyambut kedatangannya. Sushmita memang sengaja datang untuk melabrak Dyra, dan ketika wanita itu yang membuka pintu untuknya, darah Sushmita seketika mendidih panas. “Aku tidak merebut Mas Ghavin, Buk.” Dyra coba meluruskan meski sebenarnya masih sangat tidak menduga Sushmita yang datang. “Semua ini—” “---cih! Kau berani membela diri rupanya hanya karena Tuan Martin memintamu menjadi istri kedua Ghavin. Kau ingin menunjukkan padaku hanya kau menantu kebanggaannya, begitu!” Suara lantang Sushmita masih mendominasi. “Kau benar-benar membuatku muak! Sejak dulu aku sudah peringatkan Risa untuk menjaga suaminya dari betina macam dirimu! Dan ternya
“Buka! Atau aku yang akan melakukannya dengan caraku!” Perintah tegas Ghavin belum juga Marissa lakukan, masih terlalu syok melihat Ghavin bisa sangat kasar padanya. Marissa juga seperti melihat sosok lain bukan lagi suaminya. “Risa! Apa kau mendadak tuli!” Suara Ghavin menggelegar memenuhi kamar pribadi pria itu. Begitu mengetahui tuntutan Marissa yang dianggap tidak masuk akal, Ghavin tiba-tiba bangkit dari kursi kerjanya lantas menyeret Marissa untuk dibawa masuk kamar pribadi yang ada di ruangan tersebut. Marissa langsung dihempaskan kasar ke atas ranjang, dan dipaksa melepas semua pakaiannya. Lantaran Marissa bersikeras menolak, Ghavin semakin murka. Si pendiam pun akhirnya menggila. Setelah membanting apa saja yang ada di dekatnya, Ghavin juga memecahkan layar televisi yang tertanam di dinding. Masih dengan nafas memburu, Ghavin menatap nyalang Marissa yang menggigil ketakutan—-tidak menduga ketika marah Ghavin bisa sangat menakutkan.
“Risa?” Romi tak kalah terkejut mengetahui Marissa menunggunya dengan keadaan yang sangat kacau, pun dengan kemarahan yang siap mencabik gadis di sampingnya. “Pergilah. Kita akan bertemu lagi besok.” Romi meminta wanita muda itu untuk segera pergi, sebelum menjadi sasaran kemarahan Marissa. “Siapa dia?” Begitu mendengar pintu sudah kembali tertutup, artinya gadis itu sudah terselamatkan, Romi berjalan menghampiri Marissa dan langsung memeluknya erat. “Siapa dia! Apa dia mainan barumu?” Marissa masih berapi-api, terbakar cemburu. “Kau tahu mereka bisa melakukan apa saja demi mendapat nama besar. Aku bisa apa jika mereka terus memaksa.” Jawaban ringan yang langsung Marissa balas decakan kesal. “Dasar maniak,” cibirnya pelan. “Jangan melebihi batasanmu. Aku tahu kau juga menyukai setiap sentuhanku padamu.” Romi melonggarkan dekapannya, tapi kedua tangannya sudah bergerilya kemana-mana. “Kau selalu membuatku tak berdaya, Honey.” “Aku sedang tidak ingin melakukan itu sekarang.” Ma
Setelah memberi susu Megan yang kembali terlelap, Dyra tidak bisa tidur lagi. Padahal waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari, tapi rasa kantuknya seakan lenyap begitu saja. Memilih tetap duduk di sofa tunggal dekat ranjang sang putri, Dyra memperhatikan Ghavin yang tidur sendiri di ranjang king size mereka. Pria itu tertelungkup tanpa mengenakan pakaian atas, kebiasaan yang sebenarnya membuat Dyra kurang nyaman. Sebagai pria dewasa yang pernah merasakan nikmatnya berhubungan dengan lawan jenis, Dyra hanya khawatir Ghavin akan menginginkan itu darinya. Walaupun Ghavin sudah menegaskan tidak akan menceraikan dirinya, tetap saja untuk melayani pria itu, ia tidak siap. Atau mungkin tidak akan pernah siap. Kendati Ghavin memiliki wajah yang mirip dengan Ghava, Dyra tetap bisa merasakan perbedaan keduanya, dan ternyata masih saja menyakitkan untuk berdekatan dengan pria yang dulu pernah membuatnya terpuruk. “Sedang apa kau disana?” Suara serak Ghavin menyadarkan Dyra dari lamuna
“Tidurlah. Matamu sudah memerah.” Padahal Dyra sedang menahan tangis, tapi Ghavin menganggapnya sudah kembali mengantuk. “Baiklah.” Tidak ingin Ghavin melihatnya menangis, akhirnya Dyra setuju, dan menurut ketika dibimbing menuju ranjang. Setelah menutup setengah tubuh Dyra dengan selimut, Ghavin memutari ranjang untuk kembali merebahkan tubuh di tempatnya semula. Sejenak setelah berbaring Ghavin menolah Dyra yang ternyata sudah terpejam, ia pun ikut memejamkan mata karena memang sudah kembali mengantuk. Namun, karena tidak bisa tidur terlentang, ia mengubah posisinya memunggungi Dyra. Dyra yang sama sekali belum ingin tidur, kembali membuka mata. Tiba-tiba saja bulir bening mengalir di kedua pelipisnya. Ia hanya bisa menangis dalam diam, manakala kontradiksi terjadi di dalam sana. Ia ingin tetap membenci Ghavin, tapi ternyata sisi lain hatinya berkeinginan berbeda. ‘Rasanya masih sangat tidak adil jika aku begitu saja memaafkanmu, Mas,’ ujarnya dalam hati. ‘Memangnya apa la
Menyandarkan punggung di sandaran kursi roda, menatap jauh ke depan dengan sorot mata menajam tapi menyiratkan kesedihan, Romi tidak pernah menyesal dengan apa yang sudah dilakukan sampai sejauh ini dan berakhir menjadi tahanan dokter. Yang terjadi pada dirinya sekarang hanyalah bagian dari sebuah peperangan. Begitu juga dengan kematian sosok pendukung sekaligus sekutu yang selama ini selalu ada di belakangnya. Darwin bukan hanya seorang ayah, tapi juga teman sekaligus motivator baginya. Kematian Darwin sudah pasti akan memicu pembalasan yang lebih kejam, pertumpahan darah yang sebenarnya akan terjadi setelah kondisi tubuhnya benar-benar siap. Untuk sekarang, Romi membiarkan keluarga Pratama tersenyum bahagia merayakan kemenangan mereka, tapi yang pasti akan segera tiba hari pembalasan.“Kau melamun lagi?”Suara lembut itu menyentak Romi yang seketika menoleh ke asal suara. “Sampai kapan alat sialan itu akan ada di tubuhku?”“Sampai kondisi kakimu benar-benar pulih.”Ghavin memang te
Hanya butuh kesabaran untuk sebuah kepastian. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Hidup untuk berjuang, jika pun ada keberuntungan itu hanya sebagian kecil, dan tidak bisa selalu diharapkan. Senyum Martin bak awet berformalin kala menatap personil keluarganya yang lengkap penuh kehangatan. Meski sang istri tidak lagi ada disisinya, begitu juga si bungsu penghidup suasana telah pergi lebih dulu, tetapi dengan melihat kebahagian kedua putranya yang lain, ia sudah merasa sangat beruntung. Berharap kebahagiaan itu tetap bisa dinikmati sampai dirinya menutup mata nanti.Bukan hanya hubungan Ghavin dan Dyra yang sudah mulai menuju keluarga bahagia, pun dengan Galih yang terlihat menikmati perannya sebagai suami siaga. Begitu juga Bella tidak canggung lagi menunjukkan perhatian serta kepeduliannya pada sang suami. Pemandangan yang sebelumnya Martin anggap akan sangat mustahil terjadi, ternyata berakhir lebih manis dari yang pernah diharapkan. “Aku sebenarnya semalam sangat ingin dibu
Sedangkan di kediaman Tuan Prabu, Marissa belum juga bisa menerima kenyataan jika dirinya tidak diizinkan kemanapun sekarang, bahkan profesi yang selama beberapa tahun terakhir membuatnya percaya diri telah dilepas paksa oleh Tuan Prabu. Ingin marah, tetapi ingat tujuannya datang pada pria tua itu karena menuntut balas atas kematian sang mama, ia pilih bertahan. Meski sebenarnya rasa sakit yang dulu ia terima terus teringat jelas di ingatan, tidak jarang pun ketika ia sendiri, muncul pemikiran kemana Tuan Prabu kala itu. Kenapa tidak berusaha mencarinya, mungkinkah kepergiannya tidak membawa pengaruh, lantaran dirinya hanya dijadikan pelampiasan birahi, seperti yang wanita itu katakan. Tidak mau memikirkan itu lagi, Marissa memilih berpindah duduk di tepi kolam renang dan menceburkan kedua kakinya ke dalam air. Melihat birunya air kolam yang terpantul sinar lampu, ternyata justru membuat suasana hati Marissa semakin memburuk. Ia malah mendadak ingat ketika pernah sengaja berenang
Ghavin diam menahan kemarahan yang sebenarnya sudah ingin diledakkan. Penyesalan tak luput ikut menguasai diri, pasrah menjadi titik akhir kebenaran yang selama ini membuatnya tidak bisa tenang tapi justru terlambat mengetahui. Tertinggal hanya penyesalan dan terus menyalahkan diri lantaran tidak bisa bergerak cepat. Mirisnya, ia mengetahui semua kebenaran tersebut dari orang lain. “Aku perhatikan Mas banyak diam sejak kembali dari rumah Galih.” Dyra yang baru keluar ruang ganti segera mendekat, begitu mendapati sang suami duduk di sofa tunggal. Membiarkan kaca jendela beserta gorden yang terbuka lebar, sehingga menampakkan pemandangan langit malam yang cerah bertabur bintang. Tapi sayang, tidak mampu menerangi keredupan di wajah Ghavin. “Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?” Karena memang selama di rumah Galih, Dyra pilih menemani Bella di kamar. Walaupun sebenarnya ia tidak tahu Bella menginginkan atau tidak keberadaannya. Ia hanya khawatir, ketika Bella ditinggal sendiri ba
Dyra hanya menunggu diam Bella yang masih belum berniat membuka mulut. Paham kepedihan yang sedang Bella rasakan, Dyra pilih menghormati itu dengan tetap duduk tenang di samping ranjang. Apa yang menimpa Bella memang bukan perkara mudah untuk bisa segera dilupakan, dan sudah pasti siapapun yang mengalaminya pasti juga terguncang. Setelah janinnya sempat hampir digugurkan paksa, dan dirinya dalam bahaya, semalam apa yang terjadi di kediaman Darwin seketika menggemparkan jagat media.Dari tiga puluh nyawa yang Galih temui, hanya satu yang masih memiliki kesempatan hidup, yaitu pekerja kebun Darwin. Sedangkan dua puluh delapan pelayan lainnya ditambah sang nyonya rumah, mereka meregang nyawa dengan cara yang tragis. Semua pelayan dikurung di dalam gudang yang diberi gas beracun, sedangkan suara seperti benda jatuh yang sempat Galih dengar, tak lain paman penjaga kebun berniat membuka pintu menggunakan potongan besi. Hanya saja, tubuhnya yang sudah sangat lemas meski telah melepas kaos
“Ya Tuhan bagaimana ini?” Dyra yang panik berniat pergi keluar untuk memanggil mereka yang berjaga, agar membantunya memindahkan Ghavin ke dalam kamar. Khawatir Martin tiba-tiba kembali keluar kamar dan mendapati putranya tidak sadarkan diri.Namun, ketika hendak melangkah, Dyra justru dikejutkan dengan tarikan di tangannya. “Mas?” Secepat kilat Dyra bisa berpindah tempat—duduk di atas pangkuan Ghavin yang masih memejamkan mata. Masih terlalu terkejut, Dyra menatap heran Ghavin yang bergeming. “Mas bisa mendengarku?” Ghavin perlahan membuka mata. “Kenapa tidak menjawab! Aku benar-benar takut sesuatu terjadi padamu,” gerutu Dyra yang malah Ghavin balas dengan senyum tipis.“Sebenarnya aku ketiduran tadi.” Ghavin menyingkirkan anak rambut Dyra yang menghalangi pandangannya. “Itu artinya aku sudah mengejutkanmu?” Ghavin tidak akan menjawab meski itu yang sebenarnya terjadi. “Maaf,” ujar Dyra pelan disertai menyesakan. “Tidak perlu minta maaf. Aku bisa mengabaikan apapun kesalahan yang
“Ma.. mama.. suara lemah Bella terus memanggil Mia yang tak kunjung menjawab. Mendapati rumah dalam keadaan sepi, pun kamar utama kosong, Bella semakin khawatir sesuatu terjadi pada sang mama.“Bagaimana ini, Mas. Mama tidak bisa dihubungi.” Perasaan Bella bertambah tak karuan, ketika mencoba menghubungi nomor pribadi sang mama yang ternyata berada di luar jangkauan. “Kamu yang tenang, ya. Sebaiknya duduk dulu.” Karena memang kondisinya masih sangat lemah setelah kembali dari villa, Bella menurut saat dibimbing duduk di sofa. “Aku benar-benar khawatir, Mas.” Suara Bella sudah bergetar, membayangkan Darwin juga tega membahayakan nyawa wanita yang selama ini setia, dan patuh terhadap dirinya dengan semua peraturan yang terkadang tidak masuk akal.“Percayalah mama akan baik-baik saja.” Galih menenangkan. “Sama seperti kita, pertolongan datang di waktu yang tepat.” Melihat Bella mengangguk patuh meski kecemasan masih terlihat jelas di wajahnya, Galih memilih ikut duduk. Ia seakan lupa
“Syukurlah.. akhirnya kalian pulang juga.” “Papa? Kenapa belum tidur?” Setelah sempat terkejut mendapati sang ayah ada di ruang tengah sendirian ketika hari sudah larut malam, Ghavin malah mencemaskan kondisi Martin. “Papa butuh sesuatu? Atau merasa tidak nyaman? Mau ke rumah sakit?” Ghavin yang masih terbawa ketegangan siang tadi, bertanya tidak sabar. “Tidak. Papa baik-baik saja. Papa hanya ingin menunggu kalian.” Ghavin seketika menghela nafas panjang, dan beralih menatap sang istri. Dilihat dari perubahan wajahnya, sepertinya Ghavin sadar sudah berlebihan. Seperti yang Dyra duga—Martin belum bisa tidur sebelum melihat dirinya dan Ghavin kembali. Untuk itu, ia menyarankan mereka lebih dulu membersihkan diri dan berganti pakaian di hotel terdekat sebelum kembali ke rumah. Sedangkan Janur serta Derry yang masing-masing mengalami luka tembak, tidak mau di bawa ke ruang sakit. Mereka memilih mengobati sendiri, dan kembali ke hutan. Ternyata Darwin tidak datang sendiri. Masih
“Awas Mas!!!”Dor!Seketika kondisi berubah hening, sebuah tembakan menjadi akhir dari ketenangan yang terjadi. Naasnya, belum juga kesadaran Dyra kembali, suara tembakan kembali terdengar.“Mas…” Mulut Dyra bergerak tanpa suara. Tubuhnya mendadak lemas. Tulang-tulang melunak seperti jelly. Nafas tersendat, tapi mampu melepas tekanan yang menghimpit dada.“Mas! Kamu terluka?” Galih yang khawatir segera bertanya sambil mendekati Ghavin.“Tidak. Aku baik-baik saja. Kau datang di waktu yang tepat. Terima kasih.” Ghavin hanya tidak menyangka Darwin akan berakhir di tangan Galih yang bahkan membunuh serangga saja dia tidak tega.Beberapa saat sebelumnya. Di balik sofa Ghavin masih sempat membalas tembakan Darwin hingga beberapa kali. Sedangkan Dyra yang berada di dekapannya menutup telinga dengan kedua tangan. Suara tembakan seakan mampu menembus gendang telinga. Dyra terlalu takut membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Apalagi jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada Ghavin.Kendat