"Setelah pernikahan nanti, jangan pernah berfikir saya akan benar-benar menganggapmu sebagai istri. Ini cuma sandiwara." Demi menghindari perjodohan orang tua, Zahira menjadi korban keegoisan Gema. Gadis yatim piatu itu harus menjadi istri pura-puranya. Tanpa cinta dan interaksi yang baik, meskipun keduanya tinggal di rumah yang sama. Akankah benih cinta bersemi di antara keduanya?
View More"Duh, sial banget sih, hari ini," Rutuk seorang gadis. Berjalan tergesa-gesa sambil mengetuk keningnya beberapa kali.
Masih terlihat jelas, rutinitas sejak pagi buta tadi, hingga membuatnya terlambat masuk kelas, di hari pertama perkuliahan ini. Membuatnya diminta menghadap dosen, yang entah siapa namanya. Ia bahkan tidak sempat mengingat nama dosen muda tadi.
Seorang dosen yang menurutnya galak. Saat ini ia hanya sedang menyiapkan mental untuk kembali bertemu dengannya. Zahira menghentikan langkah di depan ruang yang pintunya tertutup rapat.
Ia menggigit bibir bawah, demi menetralisir rasa takut tanpa alasan. Ini sudah dua kali zahira mengangkat tangan untuk mengetuk pintu, tetapi tangan mungil itu masih saja tak bergerak. Terpaku oleh rasa bimbang, antara berani dan tidak.
Namun, saat ia akan memberanikan diri, pintu itu telah terbuka dari dalam. Zahira mengerjap gugup, apalagi yang nampak pertama adalah tag nama bertuliskan Gema Mahardika.
"Anda telah membuat saya menunggu lama," Suara yang memarahinya di kelas tadi, kini kembali menggema di telinga. Zahira membelalak tanpa kedip beberapa saat. Melihat sosok tinggi di depan, bersuara tanpa menatapnya sedikitpun.
"Masuk!" Sang Dosen kembali bersuara, Zahira gelagapan.
"Eh, i, iya, Pak." Ia terlambat menyadari, bahwa saat ia mengatakan kalimat bodoh itu, ternyata dosen tadi telah menghilang dari hadapan.
Zahira maju dengan langkah terseret, mendekati meja yang pemiliknya telah duduk menatap layar ponsel. Setelah berdiri beberapa saat, ia yakin, sampai nanti pun, dosen itu tidak akan pernah memintanya duduk. Maka ia memutuskan mengambil inisiatif sendiri, menjatuhkan badan ke atas kursi di dekatnya.
Menunggu sampai bosan, sebab orang yang memintanya datang ini tak segera bersuara. Malah semakin asyik dengan layar kecil di tangan. Zahira jengah, menunduk takzim sejak tadi pun rasanya tak ada guna.
"Pak, kenapa saya diminta kesini?" Zahira bertanya jengkel, menatap kesal wajah dosen yang ternyata tetap fokus pada ponselnya.
Wajah kesalnya makin menjadi, saat beberapa menit berlalu tanpa jawaban sama sekali. Zahira kembali angkat suara, "Pak! Saya tanya, kenapa saya diminta kesini?"
Suaranya cukup lantang, sosok pria itu menatapnya tajam. Zahira perlahan menyadari, bahkan belum terdengar jawaban, ia kembali menunduk.
"Kenapa? Coba tanya pada dirimu sendiri."
"Iya, Pak. Karena saya datang terlambat, maafkan saya." Zahira menjawab asal karena rasa kesal masih menggenggam dada.
"Itu, sudah tau." Zahira akan lega jika Dosen itu melanjutkan kata. Sayangnya, malah kembali pada layar ponsel.
"Saya tau, Pak. Terus, abapak minta saya kesini ini kenapa? Saya minta maaf, dan masalahnya selesai. Nggak usah dibikin panjang. Bisa, kan?"
"Apakah itu sopan?" Zahira mendelik, rasanya ingin bersumpah demi apapun. Dosen itu memiliki sifat dingin, angkuh, cuek, dan sikap-sikap lainnya yang sejenis. Ia mendesah jengkel.Bahkan saat rentetan kalimat yang ia lontarkan tadi, tak berpengaruh apapun pada wajah dosen bernama Gema.
"Saya ingin menambah hukuman Anda. Nanti sore, temui saya di tempat itu." Dosen tadi berlalu setelah menjatuhkan kertas kecil di depan Zahira.
Gadis itu, menatap heran punggung yang baru saja keluar pintu. Menggeleng tak habis pikir, bagaimana ada seorang pengajar dengan sikap kejam seperti itu.
"Restoran?" Gumamnya saat mengetahui keterangan yang ada dalam kertas kecil tadi. "Jadi, hukumannya adalah, makan?" Ia bertanya pada diri sendiri. Kejap selanjutnya, gadis itu melompat girang.
"Yes. Jarang-jarang ada pengajar yang ngasih hukuman begini. Tapi .... " Bibir yang tadinya melengkung senyum itu, kembali. "Jangan-jangan, aku yang disuruh bayarin makanan dosen galak itu? Hah? Enak aja!" Zahira melesat keluar dengan uring-uringan tak jelas.
Senang sekaligus penasaran, akan hukuman yang ternyata di restoran. Sepanjang perkuliahan, bahkan Zahira tak sabar menanti sore tiba.
Sore ini, setelah mengantarkan pesanan pembeli, Zahira memarkirkan motor scoopy kesayangan. Yang ia beli dengan jerih payahnya sendiri. Hasil dari tabungan bisnis pakaian online, selama beberapa tahun ini, hingga ia akhirnya bisa melanjutkan angan terpendam. Yaitu kuliah, meski di usia yang lebih dari yang lain.
Belum lama ia duduk, dosen tadi datang. Zahira berfikir, pria itu memang orang disiplin dan menghargai waktu. Tak heran lagi, jika hanya dengan alasan terlambat, ia harus menerima hukuman.
"Ikut saya." Suara Pak Gema, yang bahkan Zahira belum sempat menyapanya. Ia malah dibuat gelagapan dengan perintah mendadak di luar perkiraan. Bahkan saat ini, Gema telah berdiri di depan mobilnya.
"Kita mau kemana?" Zahira bertanya, setelah menyusul dengan langkah tergesa.
"Masuk!" Sekali lagi perintah dari sang dosen, Zahira menepuk kening. Meski begitu, ia akan tetap patuh.
Ia masuk setelah mendengus kecil, dan belum sempurna meletakkan badan, matanya kembali dikejutkan dengan tangan Gema, memegang tas kecil di depan wajah.
"Cepat pakai, dan rapikan rambutmu yang berantakan itu." Zahira kembali mendengus, ia bahkan belum sempat bertanya.
Beruntung ia bergerak cepat, seenaknya saja pemilik mobil itu masuk dan menghidupkan mesinnya.
"Kita mau kemana sih, pak? Terus, motor saya gimana?" Tanya Zahira saat mobil melaju kencang, menuju tempat yang ia tak tau kemana. Sayangnya, pertanyaan tadi tak pernah dijawab oleh Pak Gema.
Hanya saja, tak butuh waktu lama, mobil itu berhenti di depan rumah luas dan asri. Zahira yakin, itu pasti rumah Dosennya. Namun, hingga detik ini, ia tak mengerti, kenapa Dosen itu mengajaknya kemari.
"Siapa namamu tadi?" Suara Gema membuyarkan lamunan Zahira, membuat gadis itu terkejut berlebihan. Selebihnya adalah, tak habis pikir. Jadi, Dosen yang akan memberikan hukuman itu belum tau namanya.
Ya Tuhan, ia menepuk kening. "Nama saya Zahira, Pak. Lebih lengkapnya adalah, Wardah Zahira." Ia menekan setiap kata tentang namanya, dan mengetahui pria di depan kemudi tak bereaksi sama sekali.
"Tidak peduli siapa. Yang jelas, apapun yang akan kamu hadapi setelah ini, kamu hanya cukup menurut dan menjawab iya. Paham, kamu?"
"Iya, Pak Dosen." Ia menjawab nyengir. Mengekor saja, berjalan cepat demi mengejar langkah panjang pria tadi. Sepanjang langkah ia tetap bergumam pada diri sendiri, hukuman apa yang sebenarnya akan diterima.
Keduanya masuk ruangan depan, yang di sana terdapat beberapa orang berpenampilan indah. Zahira membelalak lebar, masih belum tau apa sebenarnya akan terjadi. Dan yang membuatnya semakin gugup adalah, mengetahui bahwa semua mata di ruangan ini, semua menatap ke arahnya.
"Gema! Jadi hanya karena perempuan jelek itu, kamu nolak aku?" Teriak sosok yang terlihat paling cantik, dengan dandanan mewah di antara yang lain.
Zahira memicing, menatap semua orang satu persatu. Tak peduli dengan pandangan mereka semua, yang menyiratkan kebencian entah karena apa. Kini, ia beralih melihat Gema. Pria itu tetap tak bereaksi di sebelahnya. Namun, sedikit banyak, ia paham apa yang terjadi.
Apalagi perempuan cantik tadi, kini perlahan mendekat, menatapnya penuh amarah dan kebencian. Tatapan yang sama juga terarah pada Gema. Zahira menghela nafas dalam-dalam, hatinya mendadak diliputi rasa khawatir.
"Jadi kamu lebih memilih dia, daripada aku yang telah bertahun-tahun mencintai kamu, Gema!"
"Kita tidak cocok." Singkat dan padat, mungkin itulah watak dari seorang dosen bernama Gema.
"Apa yang membuat kita nggak cocok? Latar belakang keluarga kita sejajar!" Perempuan tadi berteriak lantang, tetapi Gema tak lagi merespon.
"Gema. Apa-apaan ini? Kamu mau bikin malu papa dan mama?" Zahira yang kaget, saat tiba-tiba terdengar suara pria mendekat. Yang ia yakini itu adalah Ayah Gema.
"Maaf, Papa. Tapi saya tidak mencintai Aurel. Saya akan menikahi dia dalam waktu dekat, bukan begitu, Zahira?" Suara Gema, dan wajah itu mengarah ke Zahira. Ia mendelik kaget.
Bersambung ***
Zahira menahan kesal. Ia memilih pergi, menerobos hujan.Sedangkan Gema sebenarnya termangu di tempat. Namun, pria itu cepat berdecih tak suka. "Dasar, gadis bodoh!" Rutuknya membuka pintu mobil.Gema pun menerobos hujan bercampur petir, menggunakan mobilnya. Kendaraan roda empat itu melaju kencang. Bahkan telah beberapa kali mendapatkan peringatan dari kendaraan yang lain, berupa klakson keras-keras. Sebab ia menyalip tanpa aturan.Ia tak peduli lagi pada sosok tercengang di dekat pintu sebelah. "Kenapa buru-buru sekali, sih?" Gumam Yasmin tampak tak nyaman. Wanita itu sesekali berjingkit, bahkan menutup mata ketika mobil melaju dengan kecepatan maksimal."Gema, kamu kenapa, sih?" Tak lantas mendapatkan jawaban, Yasmin menyentak. Gema yang dari tadi fokus ke depan itu hanya menatap sekilas. Lalu kembali pada posisi semula."Ini hujan deras. Aku harus cepat nganterin kamu pulang," Jawab Gema tanpa menatap lawan bicara."Tapi, katanya kita mau makan siang dulu?""Sedang hujan. Lain kal
Zahira beberapa kali menyalakan mesin motor yang entah kenapa tak juga menyala. Lalu dengan sengaja, Gema melajukan Mobil, seperti tak melihat kesulitan yang Zahira alami.Pria itu hanya sekilas saja melirik ke arah Zahira, lalu bukannya membantu atau mengajak berangkat bersama. Gema bahkan tetap acuh, dan melintas di depan sang gadis dengan cepat.Membiarkan Zahira berdecih tak habis pikir, "jangan kamu pikir aku bakal ngemis, mau ikut mobil kamu ya, pak!" Ia mendengus. Melirik jam tangan, yang tak lama lagi mata kuliah akan dimulai.Mata kuliah Gema, ia harus segera berangkat, meksipun harus berjalan kaki. Beberapa ratus meter perjalanan, ketika ia melangkah cepat, dengan sesekali menyeka keringat di dahi. Tiba-tiba ada motor sport berhenti di samping."Kok jalan kaki?" Tanya pemilik motor gede itu."Eh, motorku mogok tadi, dan nggak mungkin mampir ke bengkel. Bisa telat," Jawabnya tersipu."Ya udah. Ayo, naik." Pria yang selalu baik padanya itu menawarkan bantuan. Kemudian, mana mu
"Kamu mau halangi saya lagi?" Yasmin yang telah tiba di depan pintu kamar Gema itu menyentak. Zahira awalnya berwajah tegang, tapi hanya sesaat saja. Setelahnya, gadis itu tersenyum ceria.Bahkan malah membukakan pintu kamar Gema. Ia masuk terlebih dahulu, dan Yasmin mengekor di belakang, mengamati sang gadis yang meletakkan nampan ke atas meja di depan ranjang Gema."Yasmin, kamu datang lagi?" Tanya Gema, pria itu baru saja terbangun dari tidurnya. Yang ditanya segera mendekat."Iya, Gema. Gimana keadaan kamu? Udah lebih baik?" Wanita itu memperlihatkan wajah penuh kekhawatiran."Sudah. Kamu harus berterimakasih dengan Zahira." Gema menunjuk pada gadis yang dimaksud, membuat Yasmin mengikuti arah wajah pria itu. Yasmin mendengus dalam hatinya. "Kenapa?" Ia bertanya. Tatapannya masih terarah pada sosok Zahira yang senyam-senyum, seperti tanpa dosa."Karena dia, aku bisa sembuh tanpa harus pergi ke dokter.""Ck! Maksudnya apa, ini? Kamu mau menghina aku?""Kenapa kami jadi sewot begitu
Zahira mengejar, hingga terjadi kegaduhan sejenak di depan pintu kamar Gema. Bahkan hingga Yasmin membuka kasar pintu itu, dan melihat si pemilik kamar duduk. Menatap tajam mereka berdua."Apa maksud kalian?" Tanya pria yang terlihat masih belum ada perubahan dari Sebelumnya. Zahira ingin mendekat, tetapi dicegah oleh Yasmin. Dan wanita cantik itu yang berhasil mendekati tempat tidur Gema."Gema, kamu kenapa? Kok nggak masuk? Aku tadi mau kesini, tapi dilarang sama dia. Makanya sempat ribut," Ungkap wanita dewasa yang cantik itu. Gema mengikuti arah telunjuk pada gadis yang dimaksud, ia melihat Zahira melepas nafas lirih sambil menunduk."Keluar!" Gema memerintah ke arah Zahira, gadis itu mendongak kaget. "Tapi, Pak. Gimana kalau Pak Gema .... ""Kamu pikir saya orang jahat?" Sentak Yasmin, Zahira kembali tertunduk. Entah mengapa ada perasaan khawatir dengan suaminya itu, padahal sudah jelas, kedua dosen itu saling mencintai dan menginginkan."Cepat, keluar. Jangan ikut campur dengan
"Pak," Panggil Zahira yang langsung membuat pria di atas sana hanya menoleh sekilas."Gimana kalau saya nggak mau?" Pertanyaan gadis itu, sontak membuat Gema menghentikan langkah. Tatapannya menyipit ke arah yang bertanya.Sementara Zahira, gadis itu mulai tersenyum menang. Ia yakin, pria di atas sana pasti bingung hendak menjawabnya."Bukan urusan saya!" Jawaban yang keluar dari bibir Gema, diluar perkiraan. Zahira tercengang melihat sosok tadi melanjutkan langkah dan menghilang di sana.Wajah yang tadi membentuk senyuman, kini ditariknya lagi. Zahira mendengus kecil sambil menghentakkan kaki. Selanjutnya, daripada pusing memikirkan yang tidak jelas, ia memilih untuk segera masuk kamar. Beristirahat sejenak, sebab sebentar lagi ia harus bekerja di dapur. Membuat makan malam untuk dirinya dan sang suami, jika Gema bersedia.Hari-hari kembali berlalu seperti biasa. Tak ada lagi komunikasi yang baik antara Gema dan Zahira. Nampaknya pria itu benar-benar tak ingin merubah prinsip sedikit
Zahira mendekati meja makan, ia dan Yasmin menatap heran pria yang berlari, sambil membekap mulut itu. "Gema kenapa?" Tanya Yasmin pada Zahira di sebelahnya."Jadi, saya atau anda yang paham dengan kondisi Pak Gema?" Zahira menggumam jengah.Wanita tadi mungkin sadar bahwa dirinya memang salah. Namun, karena enggan mengakui, Yasmin hanya mendengus dan berlari menyusul Gema yang sudah berada di dalam kamar. Zahira juga tak mau kalah.Kini, kedua perempuan itu telah berada di depan pintu kamar Gema. Mereka saling menatap, ragu untuk segera mengetuk pintu.Cukup lama mereka di sana, dan pada saat Yasmin akan mengetuk pintu, Gema telah muncul dari sana. Membuat dua orang perempuan tadi mendongak penasaran."Ngapain kalian di sini?" Tanya Gema."Gema, kamu tadi kenapa? Kamu, nggak apa-apa, kan? Boleh aku masuk?" Pertanyaan beruntun dari Yasmin, dan entah kenapa, Gema mengangguk tanpa bertanya.Namun, pada saat Zahira akan mengikuti langkah Yasmin, Gema menghadangnya. "Kamu mau kemana?" Tan
Namun, karena mendengar seperti suara berdebat, Zahira melongok di pintu. Ia melihat ada bu Yasmin yang melebarkan mata saat menatap ke arahnya.Sementara Gema yang juga kaget, karena akhirnya dosen cantik itu mengetahui keberadaan Zahira di sini, ia berlari. Mendekati Zahira dan mendorong kasar badan kecil gadis itu, hingga menabrak meja ruang tamu."Bodoh, kamu!" Dengus Gema menatap kesal, Zahira yang bingung dengan kesalahannya, ia hanya menampilkan wajah penuh tanya."Kenapa kamu malah mengintip di pintu, hah? Atau kamu memang sengaja, agar mereka semua tau?""Pak Gema?" Belum sempat Zahira menjawab, suara Bu Yasmin telah terdengar dari ambang pintu. Perempuan itu masih tak percaya dengan apa yang dilihat saat ini. Ia berjalan mendekati mereka, perlahan sambil memperhatikan wajah keduanya secara bergantian.Begitu pula Gema yang bingung, karena ia berfikir statusnya ini akan terbongkar. Pria itu bahkan membiarkan Zahira yang meringis kesakitan. Ia lebih memilih mendekati Yasmin, m
Namun, saat ia akan mengambil dompet di tas, Gema telah mengulurkan beberapa lembar uang ke kasir. Zahira kaget. Gadis itu menatap sang suami penuh tanya, saat petugas kasir mengucapkan terimakasih dan memberikan uang kembaliannya."Loh, Pak?" Ia hendak bertanya, tetapi pria itu malah beranjak pergi. Maka, mau tidak mau Zahira menyusul dengan langkah panjangnya."Pak, tunggu, Pak. Pak Gema!" Teriak gadis itu menyusul Gema yang telah berada di depan mobil."Ada apa lagi?" Tanya pria itu. Sementara Zahira malah mengamati sekeliling, banyak orang. Tak mungkin ia bertanya di tempat ramai seperti ini, jika tidak ingin membuat dirinya malu."Ayo, masuk." Gema memerintahkan, dan dia telah berada di dalam mobil. Zahira mengangguk cepat, juga segera menyusul sang suami ke sana. Mobil melaju perlahan."Pak, kenapa tadi Bapak yang bayarin?" Zahira akhirnya memberanikan diri. Ia menoleh Gema yang tetap berkonsentrasi ke arah depan, tetapi nampak pria itu membuat senyum miring."Memangnya, uangmu
"Sore, Pak. Baru pulang?" Zahira menyapa, tetapi Gema hanya bergeming. Pria itu memperhatikan Zahira yang tangannya masih memegangi ponsel, yang entah kapan benda itu sangat melekat dengannya.Gema hanya mendengus, sambil beranjak cepat menaiki anak tangga. Ke lantai atas. Sementara Zahira, ia tak merasa curiga atau apapun. Sebab setelah Gema menghilang dari depannya, gadis itu kembali melebarkan senyum. Mengarahkan sorot matanya kembali ke layar ponsel.Ia pasti tidak tau, bahwa Gema di atas sana masih melongok ke bawah. Memastikan apa yang terjadi, dan hanya membuatnya semakin jengah.Saat senja telah berakhir, Zahira keluar dari kamar, dengan penampilan lebih segar dari sebelumnya. Pakaian yang ia kenakan juga terbaik di lemarinya.Gadis itu, sejak seperti tak pernah berhenti tersenyum. Ia berlari cepat, naik ke lantai atas. Mungkin lupa atau tidak peduli dengan aturan rumah yang dibuat Gema."Pak Gema, Pak. Buka pintunya," Teriak Zahira sambil menggedor-gedornya beberapa kali. Hin
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments