Home / Romansa / Menggoda Kekasih Ibu Tiri / 2. Permainan Dimulai

Share

2. Permainan Dimulai

last update Last Updated: 2025-02-15 11:25:49

Calia

Aku duduk di meja makan dengan perasaan campur aduk. Perutku terasa mual, bukan karena makanan di hadapanku, tetapi karena pemandangan menjijikkan di seberang meja.

Manda—ibu tiriku, yang selalu terlihat angkuh dan tak tersentuh—hari ini tersenyum lembut seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta. Tatapannya berbinar, tangannya dengan santai melingkar di lengan pria di sampingnya.

Pria itu adalah Agra.

Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan ekspresi kesal. Takdir memang punya selera humor yang kejam. Kemarin malam, aku menyewa pria asing untuk menjadi pasangan pura-puraku di pesta pernikahan mantan. Dan sekarang? Aku justru mendapati pria yang sama duduk dengan santai di samping ibu tiriku.

Dunia benar-benar gila.

Aku melirik ke arah Agra, mencoba mencari petunjuk di wajahnya. Tapi pria itu tetap dengan ekspresi datarnya, seolah kehadiranku di sini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Dia tampak santai, bahkan nyaris bosan, sementara Manda terus menempel padanya dengan sikap yang sangat menjijikkan.

Lalu, tiba-tiba, Manda menyandarkan kepalanya ke bahu Agra.

Aku hampir tersedak anggurku.

"Sayang," katanya dengan suara manja. "Kamu pasti iri, ya?"

Aku mengangkat alis. "Iri?" tanyaku, berusaha terdengar acuh tak acuh meskipun dalam hati aku ingin membanting gelas anggur ke lantai.

Manda tersenyum dengan penuh kemenangan. "Iya, lihat saja. Aku akhirnya bertemu pria yang benar-benar mencintaiku, bukan uangku."

Bukan uangnya? Aku hampir tertawa. Manda tak pernah menjalin hubungan tanpa alasan yang menguntungkan dirinya.

Tangannya yang lentik mulai mengusap lengan Agra dengan gerakan yang terlalu lambat, terlalu sensual. Aku menahan diri untuk tidak meringis.

"Tidak seperti dulu saat aku harus mengurus semua urusan keuangan sendirian setelah ayahmu pergi," lanjutnya. "Tapi ya, kamu kan masih terlalu muda untuk mengerti."

Aku meletakkan garpu di piring dengan sedikit lebih keras dari yang diperlukan. Mataku menatapnya tajam, tetapi Manda tetap tersenyum seolah dia baru saja membicarakan cuaca.

"Mengurus keuangan?" ulangku dengan nada rendah. "Maksudmu, saat kau merebut semua warisan milik ayahku?"

Ketegangan di meja makan meningkat.

Aku bisa melihat bagaimana ekspresi Manda sedikit berubah, tapi dia cepat menutupinya dengan seringai kecil.

"Jangan membesar-besarkan, Calia." Dia mengangkat gelas anggurnya dengan anggun, memutarnya perlahan di tangannya, seolah menikmati permainan ini.

"Lagipula, akulah yang mengurus semuanya setelah ayahmu tiada. Kau masih terlalu kecil, terlalu naif untuk memahami dunia bisnis. Aku hanya memastikan semuanya tetap berjalan dengan baik."

Darahku mendidih.

Aku mengepalkan tanganku yang satu nya di bawah meja, kuku-kuku jariku hampir menusuk telapak tangan.

"Memastikan semuanya tetap berjalan?"

Aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatapnya lurus. "Maksudmu, memastikan semua uangnya tetap masuk ke kantong mu sendiri?"

Manda tersenyum tipis, memainkan ujung rambutnya. "Calia, sayang. Bisnis itu kejam. Ayahmu pun pasti akan melakukan hal yang sama jika dia berada di posisiku."

Aku bisa merasakan ujung garpu yang kembali kugenggam mulai melengkung karena genggamanku terlalu kuat.

Aku ingin menampar wanita ini. Aku ingin berteriak di wajahnya bahwa aku bukan lagi gadis kecil yang bisa dia permainkan.

Lalu tiba-tiba, suara berat yang tenang menyela.

"Warisan?"

Aku dan Manda sama-sama menoleh ke arah Agra.

Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di matanya yang membuatku menggigil.

Manda tertawa kecil, melambaikan tangan seolah ini bukan masalah besar. "Ah, itu hanya masalah lama, sayang. Hanya kesalahpahaman kecil di keluarga."

Aku mendengus sinis. "Masalah lama? Kesalahpahaman? Kau merebut semua hakku dan menyebutnya kesalahpahaman?"

Aku bisa melihat bibir Agra melengkung sedikit, tapi bukan dalam senyuman. Lebih seperti ekspresi seseorang yang baru menemukan sesuatu yang menarik.

Manda tampak sedikit tidak nyaman sekarang.

Dia mengambil ponselnya dari dalam tas dan melirik layar sekilas. "Sayang," katanya kepada Agra dengan nada manja, tangannya menggenggam lengannya. "Aku harus pergi sebentar, ada urusan penting yang harus aku tangani. Kamu tidak keberatan, kan?"

Agra menoleh ke arahnya, ekspresinya tetap datar. "Pergilah."

Jawabannya sederhana, tanpa emosi. Tapi Manda tersenyum puas, seolah mendapatkan jawaban yang dia inginkan.

"Baiklah, aku akan kembali nanti." Dia melirikku dengan nada mengejek. "Calia, jangan bersikap buruk di depan Agra"

Aku hanya tersenyum sinis, menunggu sampai dia benar-benar pergi sebelum mengalihkan perhatian kembali ke arah pria di depanku.

Sekarang hanya ada aku dan Agra di meja makan.

Aku mengaduk-aduk makanan di piringku dengan garpu, mencoba mencari cela untuk membaca pria ini.

Tiba-tiba, ide gila muncul di kepalaku. Jika Manda bisa merebut sesuatu yang berharga dariku, kenapa aku tidak melakukan hal yang sama?

Aku melirik Agra sekilas. Pria itu tampak tidak peduli, tapi ada sesuatu di matanya yang membuatku bertanya-tanya.

Baiklah, kalau ibu tiriku begitu mencintai pria ini, maka aku akan melakukan hal yang sama.

Aku akan merebut Agra darinya. Apa pun akan kulakukan untuk membuat Manda hancur dan merasakan penderitaan yang sama seperti yang kurasakan.

Untuk sekarang aku harus tahu... apakah Agra sudah menyadari rencanaku?

Aku kembali menoleh ke arahnya, tetapi Agra sudah lebih dulu menatapku. Tatapan itu tajam, menelanjangi setiap pikiran ku.

"Aku bisa merasakan tatapan mu," Katanya secara tiba-tiba.

Aku tersentak, tapi dengan cepat memasang senyum santai. "Apa aku tidak boleh melihat kekasih ibu tiriku sendiri?"

Dia tidak segera menjawab. Sebaliknya, dia menyesap anggurnya, lalu meletakkan gelasnya dengan tenang.

"Kau punya banyak cara untuk melihat, Calia," katanya, nada suaranya begitu tenang hingga terasa seperti bisikan. "Tapi cara yang kau gunakan saat ini... menarik."

Aku tertawa kecil, menutupi kegugupanku. "Aku hanya mencoba memahami pria yang begitu tiba-tiba muncul dalam hidup ibu tiriku." Aku meletakkan daguku di telapak tangan, menatapnya dengan intens. "Kau pria seperti apa, Agra?"

Dia menyeringai tipis, tetapi tidak seperti pria yang terjebak dalam permainan. Lebih seperti seseorang yang sudah menguasai permainan ini sejak awal.

"Aku?" katanya sambil bersandar ke kursinya. "Aku hanya pria biasa, tidak ada yang spesial."

Aku mendengus pelan. "Entahlah...Seorang pria biasa tidak akan bersikap seperti ini. Aku punya feeling jika kamu bukan sekedar pria biasa"

Dia tidak membantah, juga tidak meluruskan.

Aku bersandar ke kursiku, menyesap anggurku sekali lagi. "Jadi, apa yang kau cari dari ibu tiriku? Kekayaan? Pengaruh? Atau kau benar-benar menyukainya?"

Agra mengangkat alisnya, seolah tertarik dengan pertanyaanku. "Menurutmu?"

Aku menatapnya dengan tajam. "Aku pikir kau pria yang lebih licik dari yang terlihat."

Dia tersenyum samar, tetapi tidak mengatakan apa pun. Itu membuatku semakin frustrasi.

Lalu, dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

"Aku juga punya pertanyaan untukmu, Calia," katanya pelan, matanya mengunci milikku. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"

Aku menelan ludah, jantungku berdegup lebih cepat.

Aku tersenyum santai, meskipun dalam hati aku mulai sadar…

Aku bukan satu-satunya pemain dalam permainan ini.

Agra juga ikut bermain.

Dan aku tidak tahu siapa yang akan menang pada akhirnya. Yang jelas, aku akan berusaha untuk memenangkan permainan ini.

Bagaimanapun caranya.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   3. Kesepakatan

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Hari ini seharusnya menjadi hari biasa di café kecilku. Seperti biasa, aku bersiap menghadapi pelanggan yang hanya datang untuk mencari WiFi gratis atau sekadar berfoto tanpa membeli apa pun. Tapi hari ini, takdir rupanya ingin bermain-main denganku lagi. Begitu pintu café terbuka, aku mendongak, dan napasku langsung tercekat. Agra. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan santai, mengenakan jaket kulit hitam yang terlihat sangat mahal. Tatapannya tajam seperti biasa, penuh misteri yang tak bisa kutebak. Aku bahkan bisa merasakan aura intimidatifnya membuat Lita, karyawanku, menegang di belakang mesin kasir. Aku segera mengangkat alis, berusaha tetap tenang meski hatiku berdegup kencang. Bagaimana dia bisa tahu tempat ini? Agra melangkah santai ke meja kasir, seolah ini bukan pertama kalinya dia datang ke sini. "Kau terlihat terkejut," katanya, suaranya tetap datar. Aku menyandarkan tangan di meja dan menyipitkan mata. "Bagaimana kau tahu aku di sini?" Dia menyeringai

    Last Updated : 2025-02-15
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   4. Hari Pertama

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Hari ini terasa lebih panjang dari biasanya. Aku baru saja menyelesaikan shift sore di café. Lita sudah pulang lebih dulu, meninggalkanku sendirian untuk merapikan meja dan menutup kasir. Mataku terasa berat, tubuhku lelah, dan aku sudah membayangkan kasur empuk di apartemen kecilku. Namun, rencana itu buyar begitu suara berat yang familier terdengar jelas. "Siap bekerja?" Aku menoleh dan mendapati Agra berdiri di depan meja kasir. Dia mengenakan setelan hitam yang jauh lebih rapi dibanding biasanya. Tidak ada jaket kulit, tidak ada rokok di tangan, hanya kemeja hitam yang pas di tubuhnya, memperlihatkan bahunya yang tegap dan dada bidangnya. Aura misteriusnya tetap sama—mungkin justru lebih kuat dalam pakaian seperti itu. Aku menyandarkan tangan di meja kasir, menatapnya dengan alis terangkat. "Serius? Aku pikir pekerjaan ini dimulai besok pagi. Ini kan hampir malam banget." Dia menyeringai tipis. "Kau pikir jadi asisten ku itu seperti pekerjaan kantoran yang punya j

    Last Updated : 2025-02-15
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   5. Kebenaran

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku masih merasakan getaran di ujung jariku. Rasanya seperti sengatan listrik halus, kecil namun tak kunjung hilang. Tubuhku terasa lemas, keringat dingin mengalir di punggungku, dan bayangan darah yang menggenang di lantai tadi masih menari-nari dalam pikiranku. Pria itu benar-benar mati. Ditembak oleh Agra di depan mata ku. Aku mengira bisa mengendalikan situasi, bisa bermain dengan Agra demi membalas dendam pada Manda. Tapi sekarang, kenyataan menghantamku keras—aku tidak sedang bermain di zona nyaman. Aku sedang bermain di dunia Agra. Dunia yang penuh kekejaman tanpa belas kasihan. Di depanku, Agra hanya berdiri dengan santai, ekspresinya tetap tenang seolah apa yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang luar biasa. Seolah membunuh hanyalah bagian dari rutinitas hariannya. "Kau bisa pergi sekarang," katanya, nada suaranya ringan, hampir seperti sedang menawarkan minuman. "Aku tidak akan menahanmu." Aku masih membeku di tempat, tidak bisa berpikir jernih. Agra m

    Last Updated : 2025-02-15
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   6.

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Malam ini, aku kembali berada di dalam mobil Agra. Aku masih belum tahu apakah ini keputusan yang benar. Tapi setelah semua yang kulihat sejauh ini—aku tahu satu hal: aku sudah masuk terlalu dalam untuk mundur. Sore tadi, tepat setelah café tutup, aku menerima pesan dari nomor yang lagi-lagi berbeda. "Aku akan menjemputmu jam delapan. Bersiaplah." Tentu saja itu dari Agra. Aku membalas singkat seperti biasa, tapi kali ini kutambahi sedikit godaan. "Baik, tuan penguasa yang ganteng." Tidak ada balasan. Tentu saja. Dan sekarang, di sinilah aku. Duduk di kursi penumpang, menatap jalanan yang diterangi lampu kota, sementara Agra mengemudi dengan ekspresi datar seperti biasa. "Apa kali ini aku akan melihat seseorang mati lagi?" tanyaku, mencoba terdengar santai, meskipun jauh di dalam, aku tidak yakin dengan jawabannya. Agra melirikku sekilas. "Mungkin." Jawaban itu membuat punggungku menegang. Tidak ada kepastian dalam dunia Agra, dan itu menakutkan. Kami berhenti di

    Last Updated : 2025-02-16
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   7.

    𝗔𝗴𝗿𝗮 Bau mesiu masih menggantung di udara. Aku melepaskan napas pelan, menurunkan pistol dengan gerakan santai. Tubuh pria itu tergeletak tak bernyawa di lantai, darahnya mulai menggenang di bawah kepalanya. Gudang ini sunyi kecuali suara langkah kaki para anak buahku yang mulai merapikan sisa kekacauan. Mataku beralih ke Calia. Dia masih berdiri di tempatnya, tubuhnya menegang, matanya lekat menatap mayat di lantai. Aku memperhatikan bagaimana jemarinya sedikit gemetar di sisi tubuhnya, meski wajahnya berusaha tetap tanpa ekspresi. "Jangan menatap terlalu lama," suaraku rendah, nyaris seperti bisikan. "Kau akan terbiasa lebih cepat dari yang kau kira." Calia menoleh ke arahku, dan aku melihat sesuatu di matanya—bukan ketakutan, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum bisa kupahami sepenuhnya. Aku menyimpan pistolku, lalu berjalan melewatinya, memberi isyarat agar dia mengikutiku. "Kita selesai di sini." Tanpa banyak bicara, kami meninggalkan gudang dan mengantar nya ke

    Last Updated : 2025-03-25
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   8

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku menatap kontrak di tanganku, mata masih terpaku pada salah satu poin yang barusan kubaca. 'Dilarang jatuh cinta pada Agra.' Memangnya aku akan jatuh cinta dengan nya? Aku hanya mendekati nya karena Manda, tidak lebih. Konyol. Benar-benar konyol. Aku mengangkat wajahku, melotot ke arahnya. "Kau serius?" Agra menyilangkan tangan di dada, ekspresinya tetap tenang. "Kau pasti sudah menyadari jika aku adalah pemimpin Panthers. Sebelum tanda tangan. . . baca baik-baik kesepakatan itu." Tentu saja aku tahu siapa dia dan tentu saja aku tidak sebodoh itu untuk mengabaikan sesuatu yang aneh dalam kontrak ini. Tapi tetap saja . . . ini benar-benar tidak masuk akal. Aku kembali menunduk, membaca ulang kalimatnya untuk memastikan aku tidak salah lihat. Tidak ada yang berubah. Masih sama. Masih sama gilanya. Satu bulan. Hanya satu bulan kesempatan ku untuk mendekati nya. Aku menggigit bibir, lalu menatap Agra dengan tatapan penuh arti. "Bagaimana kalau justru kau yang jatuh

    Last Updated : 2025-03-29
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   1. Kekasih Sewaan

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku menghela napas panjang, menatap bayanganku di cermin besar di kamarku. Gaun hijau zamrud dengan potongan rendah menghiasi tubuhku, membingkai kulitku dengan sempurna. Kainnya lembut, membelai kulitku setiap kali aku bergerak. Tapi tetap saja, meski tampak luar biasa di luar, perutku terasa seperti diaduk dari dalam. Aku menarik napas dalam. Tenang, Calia. Ini hanya pesta. Pesta pernikahan mantanku. Bodoh? Ya, sangat. Tapi aku tidak akan membiarkan Dion berpikir aku masih terluka karena pengkhianatannya. Masalahnya… aku tidak punya pasangan. Semua teman yang kumintai tolong mendadak sibuk, termasuk Lita, satu-satunya karyawan di café-ku. Aku berjalan keluar apartemen menelusuri trotoar, membiarkan angin malam menampar wajahku. Aku butuh seseorang—siapa pun—untuk jadi penyelamatku malam ini. Lalu aku melihatnya. Seorang pria bersandar santai di mobil hitam mengilap, merokok dengan tenang. Asap putih tipis mengepul di udara malam yang sejuk, mengitari wajahnya yang

    Last Updated : 2025-02-15

Latest chapter

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   8

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku menatap kontrak di tanganku, mata masih terpaku pada salah satu poin yang barusan kubaca. 'Dilarang jatuh cinta pada Agra.' Memangnya aku akan jatuh cinta dengan nya? Aku hanya mendekati nya karena Manda, tidak lebih. Konyol. Benar-benar konyol. Aku mengangkat wajahku, melotot ke arahnya. "Kau serius?" Agra menyilangkan tangan di dada, ekspresinya tetap tenang. "Kau pasti sudah menyadari jika aku adalah pemimpin Panthers. Sebelum tanda tangan. . . baca baik-baik kesepakatan itu." Tentu saja aku tahu siapa dia dan tentu saja aku tidak sebodoh itu untuk mengabaikan sesuatu yang aneh dalam kontrak ini. Tapi tetap saja . . . ini benar-benar tidak masuk akal. Aku kembali menunduk, membaca ulang kalimatnya untuk memastikan aku tidak salah lihat. Tidak ada yang berubah. Masih sama. Masih sama gilanya. Satu bulan. Hanya satu bulan kesempatan ku untuk mendekati nya. Aku menggigit bibir, lalu menatap Agra dengan tatapan penuh arti. "Bagaimana kalau justru kau yang jatuh

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   7.

    𝗔𝗴𝗿𝗮 Bau mesiu masih menggantung di udara. Aku melepaskan napas pelan, menurunkan pistol dengan gerakan santai. Tubuh pria itu tergeletak tak bernyawa di lantai, darahnya mulai menggenang di bawah kepalanya. Gudang ini sunyi kecuali suara langkah kaki para anak buahku yang mulai merapikan sisa kekacauan. Mataku beralih ke Calia. Dia masih berdiri di tempatnya, tubuhnya menegang, matanya lekat menatap mayat di lantai. Aku memperhatikan bagaimana jemarinya sedikit gemetar di sisi tubuhnya, meski wajahnya berusaha tetap tanpa ekspresi. "Jangan menatap terlalu lama," suaraku rendah, nyaris seperti bisikan. "Kau akan terbiasa lebih cepat dari yang kau kira." Calia menoleh ke arahku, dan aku melihat sesuatu di matanya—bukan ketakutan, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum bisa kupahami sepenuhnya. Aku menyimpan pistolku, lalu berjalan melewatinya, memberi isyarat agar dia mengikutiku. "Kita selesai di sini." Tanpa banyak bicara, kami meninggalkan gudang dan mengantar nya ke

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   6.

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Malam ini, aku kembali berada di dalam mobil Agra. Aku masih belum tahu apakah ini keputusan yang benar. Tapi setelah semua yang kulihat sejauh ini—aku tahu satu hal: aku sudah masuk terlalu dalam untuk mundur. Sore tadi, tepat setelah café tutup, aku menerima pesan dari nomor yang lagi-lagi berbeda. "Aku akan menjemputmu jam delapan. Bersiaplah." Tentu saja itu dari Agra. Aku membalas singkat seperti biasa, tapi kali ini kutambahi sedikit godaan. "Baik, tuan penguasa yang ganteng." Tidak ada balasan. Tentu saja. Dan sekarang, di sinilah aku. Duduk di kursi penumpang, menatap jalanan yang diterangi lampu kota, sementara Agra mengemudi dengan ekspresi datar seperti biasa. "Apa kali ini aku akan melihat seseorang mati lagi?" tanyaku, mencoba terdengar santai, meskipun jauh di dalam, aku tidak yakin dengan jawabannya. Agra melirikku sekilas. "Mungkin." Jawaban itu membuat punggungku menegang. Tidak ada kepastian dalam dunia Agra, dan itu menakutkan. Kami berhenti di

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   5. Kebenaran

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku masih merasakan getaran di ujung jariku. Rasanya seperti sengatan listrik halus, kecil namun tak kunjung hilang. Tubuhku terasa lemas, keringat dingin mengalir di punggungku, dan bayangan darah yang menggenang di lantai tadi masih menari-nari dalam pikiranku. Pria itu benar-benar mati. Ditembak oleh Agra di depan mata ku. Aku mengira bisa mengendalikan situasi, bisa bermain dengan Agra demi membalas dendam pada Manda. Tapi sekarang, kenyataan menghantamku keras—aku tidak sedang bermain di zona nyaman. Aku sedang bermain di dunia Agra. Dunia yang penuh kekejaman tanpa belas kasihan. Di depanku, Agra hanya berdiri dengan santai, ekspresinya tetap tenang seolah apa yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang luar biasa. Seolah membunuh hanyalah bagian dari rutinitas hariannya. "Kau bisa pergi sekarang," katanya, nada suaranya ringan, hampir seperti sedang menawarkan minuman. "Aku tidak akan menahanmu." Aku masih membeku di tempat, tidak bisa berpikir jernih. Agra m

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   4. Hari Pertama

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Hari ini terasa lebih panjang dari biasanya. Aku baru saja menyelesaikan shift sore di café. Lita sudah pulang lebih dulu, meninggalkanku sendirian untuk merapikan meja dan menutup kasir. Mataku terasa berat, tubuhku lelah, dan aku sudah membayangkan kasur empuk di apartemen kecilku. Namun, rencana itu buyar begitu suara berat yang familier terdengar jelas. "Siap bekerja?" Aku menoleh dan mendapati Agra berdiri di depan meja kasir. Dia mengenakan setelan hitam yang jauh lebih rapi dibanding biasanya. Tidak ada jaket kulit, tidak ada rokok di tangan, hanya kemeja hitam yang pas di tubuhnya, memperlihatkan bahunya yang tegap dan dada bidangnya. Aura misteriusnya tetap sama—mungkin justru lebih kuat dalam pakaian seperti itu. Aku menyandarkan tangan di meja kasir, menatapnya dengan alis terangkat. "Serius? Aku pikir pekerjaan ini dimulai besok pagi. Ini kan hampir malam banget." Dia menyeringai tipis. "Kau pikir jadi asisten ku itu seperti pekerjaan kantoran yang punya j

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   3. Kesepakatan

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Hari ini seharusnya menjadi hari biasa di café kecilku. Seperti biasa, aku bersiap menghadapi pelanggan yang hanya datang untuk mencari WiFi gratis atau sekadar berfoto tanpa membeli apa pun. Tapi hari ini, takdir rupanya ingin bermain-main denganku lagi. Begitu pintu café terbuka, aku mendongak, dan napasku langsung tercekat. Agra. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan santai, mengenakan jaket kulit hitam yang terlihat sangat mahal. Tatapannya tajam seperti biasa, penuh misteri yang tak bisa kutebak. Aku bahkan bisa merasakan aura intimidatifnya membuat Lita, karyawanku, menegang di belakang mesin kasir. Aku segera mengangkat alis, berusaha tetap tenang meski hatiku berdegup kencang. Bagaimana dia bisa tahu tempat ini? Agra melangkah santai ke meja kasir, seolah ini bukan pertama kalinya dia datang ke sini. "Kau terlihat terkejut," katanya, suaranya tetap datar. Aku menyandarkan tangan di meja dan menyipitkan mata. "Bagaimana kau tahu aku di sini?" Dia menyeringai

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   2. Permainan Dimulai

    Calia Aku duduk di meja makan dengan perasaan campur aduk. Perutku terasa mual, bukan karena makanan di hadapanku, tetapi karena pemandangan menjijikkan di seberang meja. Manda—ibu tiriku, yang selalu terlihat angkuh dan tak tersentuh—hari ini tersenyum lembut seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta. Tatapannya berbinar, tangannya dengan santai melingkar di lengan pria di sampingnya. Pria itu adalah Agra. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan ekspresi kesal. Takdir memang punya selera humor yang kejam. Kemarin malam, aku menyewa pria asing untuk menjadi pasangan pura-puraku di pesta pernikahan mantan. Dan sekarang? Aku justru mendapati pria yang sama duduk dengan santai di samping ibu tiriku. Dunia benar-benar gila. Aku melirik ke arah Agra, mencoba mencari petunjuk di wajahnya. Tapi pria itu tetap dengan ekspresi datarnya, seolah kehadiranku di sini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Dia tampak santai, bahkan nyaris bosan, sementara Manda terus menempel padanya dengan

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   1. Kekasih Sewaan

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku menghela napas panjang, menatap bayanganku di cermin besar di kamarku. Gaun hijau zamrud dengan potongan rendah menghiasi tubuhku, membingkai kulitku dengan sempurna. Kainnya lembut, membelai kulitku setiap kali aku bergerak. Tapi tetap saja, meski tampak luar biasa di luar, perutku terasa seperti diaduk dari dalam. Aku menarik napas dalam. Tenang, Calia. Ini hanya pesta. Pesta pernikahan mantanku. Bodoh? Ya, sangat. Tapi aku tidak akan membiarkan Dion berpikir aku masih terluka karena pengkhianatannya. Masalahnya… aku tidak punya pasangan. Semua teman yang kumintai tolong mendadak sibuk, termasuk Lita, satu-satunya karyawan di café-ku. Aku berjalan keluar apartemen menelusuri trotoar, membiarkan angin malam menampar wajahku. Aku butuh seseorang—siapa pun—untuk jadi penyelamatku malam ini. Lalu aku melihatnya. Seorang pria bersandar santai di mobil hitam mengilap, merokok dengan tenang. Asap putih tipis mengepul di udara malam yang sejuk, mengitari wajahnya yang

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status