Share

7.

last update Last Updated: 2025-03-25 21:14:16

𝗔𝗴𝗿𝗮

Bau mesiu masih menggantung di udara.

Aku melepaskan napas pelan, menurunkan pistol dengan gerakan santai. Tubuh pria itu tergeletak tak bernyawa di lantai, darahnya mulai menggenang di bawah kepalanya. Gudang ini sunyi kecuali suara langkah kaki para anak buahku yang mulai merapikan sisa kekacauan.

Mataku beralih ke Calia.

Dia masih berdiri di tempatnya, tubuhnya menegang, matanya lekat menatap mayat di lantai. Aku memperhatikan bagaimana jemarinya sedikit gemetar di sisi tubuhnya, meski wajahnya berusaha tetap tanpa ekspresi.

"Jangan menatap terlalu lama," suaraku rendah, nyaris seperti bisikan. "Kau akan terbiasa lebih cepat dari yang kau kira."

Calia menoleh ke arahku, dan aku melihat sesuatu di matanya—bukan ketakutan, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum bisa kupahami sepenuhnya.

Aku menyimpan pistolku, lalu berjalan melewatinya, memberi isyarat agar dia mengikutiku.

"Kita selesai di sini."

Tanpa banyak bicara, kami meninggalkan gudang dan mengantar nya ke apartemen kumuh nya itu. Begitu kecil dan jelek.

Selama perjalanan, Calia tidak mengatakan apa pun dan aku membiarkan hal itu karena masih banyak hal lain yang harus ku urus.

Setelah mengantarkan Calia, aku kembali ke kantorku.

Ruangan ini luas dan megah, diterangi cahaya temaram dari lampu gantung kristal yang memantulkan kilauan samar di atas meja kayu eboni beraksen emas. Dinding kaca di belakangku menampilkan pemandangan kota yang berpendar di malam hari, sementara lantai marmer hitam berkilau di bawah pantulan cahaya.

Aku duduk di kursiku, bersandar dengan santai, lalu mengangkat sebatang rokok ke bibir. Asapnya melayang di udara, bercampur dengan aroma samar minuman mahal yang tertinggal di gelas di sampingku.

Semua berjalan sesuai rencana—sampai Tristan Kovach memutuskan mengacaukannya.

Black Viper.

Mereka sudah mulai bergerak, dan aku tahu ini belum selesai. Pria sialan yang melarikan diri pasti sudah melaporkan semua yang terjadi kepada bosnya. Dan fakta bahwa mereka sekarang tahu tentang Calia hanya membuat situasinya semakin rumit.

Aku mengetukkan ujung jariku ke meja, berpikir.

Seharusnya aku tidak membiarkan dia ikut. Seharusnya aku tidak membiarkan dia melihat semua itu.

Tapi dia yang memilih jalan ini dan kenapa aku harus peduli dengan nya?

Sekarang, dia harus siap menanggung konsekuensinya.

Tok tok tok.

Tanpa menunggu izin, Andre masuk. Aku tidak repot-repot menegurnya. Dia selalu seperti itu.

"Bos, ada yang harus kita bicarakan," katanya sambil menjatuhkan tubuhnya ke kursi di depan mejaku.

Aku mengangkat alis, meniupkan asap rokok sebelum bertanya, "Kabar buruk?"

Andre menyeringai kecil. "Kau selalu tahu."

Dia melemparkan selembar kertas ke meja. Aku mengambilnya, membaca sekilas isi laporan itu.

Black Viper mulai bergerak.

Tidak mengejutkan. Tristan Kovach bukan tipe pria yang membiarkan sesuatu berlalu begitu saja.

Andre menyilangkan tangan, menatapku. "Pria yang kau biarkan hidup mungkin sudah menyebarkan informasi tentang gadis itu."

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap kosong ke kertas di tanganku.

Andre mengangkat bahu dengan ekspresi berpikir. "Menurutku, ini saatnya menyingkirkannya, Bos."

Aku menoleh, menatapnya tajam.

Andre tetap tenang. "Kau tahu aku benar. Wanita itu sudah menarik terlalu banyak perhatian. Panthers tidak butuh gangguan seperti ini. Kenapa harus menyeret wanita itu kedalam dunia kita? Buang saja Wanita itu."

Aku meletakkan kertas itu, bersandar ke kursi dengan ekspresi datar. "kau berpikir aku akan membuangnya begitu saja?"

Andre menatapku lama, lalu mengangkat satu alis.

"Biasanya kau tidak akan berpikir dua kali untuk melakukannya," katanya, menekankan kata biasanya.

Aku tidak menyangkalnya. Calia memang membuat situasi ini lebih rumit. Membiarkannya tetap di sekitarku mungkin adalah kesalahan.

Tapi ada sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang membuatku ingin melihat seberapa jauh dia bisa bertahan.

Aku memutar rokok di jariku sebelum berkata, "Bukan sekarang."

Andre menghela napas, jelas tidak puas. "Kalau begitu, setidaknya pastikan dia tidak bertindak bodoh."

Aku mendengus kecil, tapi tidak menanggapi.

Andre lalu menyeringai, matanya berbinar seolah menemukan sesuatu yang menarik. "Tunggu... Jangan bilang kau mulai menyukainya?"

Aku mengangkat sebelah alis, tidak tertarik dengan leluconnya. "Jangan bodoh."

Dia terkekeh, lalu mengangkat kedua tangannya. "Baiklah, baiklah. Tapi serius, kalau kau ingin menyimpannya lebih lama, setidaknya buat semuanya lebih resmi."

Aku menatapnya, sedikit tertarik. "Maksudmu?"

"Kontrak," jawabnya santai. "Kau belum membuat kontrak kerja. Buatlah kontrak resmi. Setidaknya ada batasan yang jelas."

Aku terdiam sejenak, mempertimbangkan idenya.

Mungkin itu bukan ide yang buruk.

Aku mengangguk sekali. "Buatkan kontraknya. Satu bulan. Selama itu, dia adalah asistenku. Tidak lebih, tidak kurang . . . Sesuai kesepakatan."

Andre menyeringai puas. "Baik, Bos. Aku akan segera mengurusnya."

Setelah percakapan itu, aku segera pergi ke rumah ku untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran ku.

Keesokan harinya, di malam dan jam yang sama, aku kembali ke café kecil itu.

Mobilku berhenti di depan pintu kaca, di mana lampu-lampu di dalam masih menyala remang. Berbeda dari tadi malam, café ini tidak sepenuhnya sepi. Aku bisa melihat Calia di dalam, berdiri di belakang counter, merapikan beberapa gelas sebelum menutup tempat ini untuk malam ini.

Aku turun dari mobil, mendorong pintu café yang tidak dikunci. Aroma kopi langsung menyambutku, bercampur dengan wangi vanilla yang samar-samar tercium dari tubuhnya.

Calia menoleh dan—seperti biasa—tidak terlihat terkejut melihatku.

Tanpa berkata apa-apa, dia berbalik mengambil cangkir, lalu mulai menuangkan kopi ke dalamnya.

Aku duduk di kursi biasa, memperhatikan setiap gerakannya. Tidak ada gemetar di tangannya, tidak ada kebingungan di wajahnya. Tapi aku tahu lebih baik daripada mempercayai apa yang terlihat di permukaan.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku akhirnya.

Calia meletakkan cangkir di depanku. "Haruskah aku tidak baik-baik saja?"

Aku menyeringai kecil. "Biasanya, seseorang akan butuh waktu lebih dari sehari untuk mencerna apa yang terjadi tadi malam."

Dia terdiam sebentar sebelum menatapku. "Aku tahu ke mana aku melangkah sejak awal...dan itu bukan pertama kalinya aku melihat mu menembak orang sampai mati."

Aku menyesap kopi, mengamati ekspresinya. Ada sesuatu dalam dirinya—entah itu keberanian atau kebodohan—yang membuatnya berbeda dari orang lain.

Tanpa berbasa-basi lagi, aku mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam jas dan meletakkannya di atas meja di antara kami.

Calia melirik kertas itu sebelum menatapku dengan alis sedikit berkerut. "Apa ini?"

"Kontrak kerja." Aku menyandarkan punggung ke kursi. "Satu bulan. Kau jadi asistenku."

Dia tidak langsung mengambil kertas itu, matanya hanya menatapnya seolah sedang menimbang sesuatu.

"Aku tidak perlu kontrak, Agra. Kau tahu aku tidak akan kabur, karena akulah yang meminta menjadi asisten mu sejak awal," katanya akhirnya.

Aku menyeringai. "Tapi aku perlu. Aku butuh kesepakatan resmi."

Calia mendesah, akhirnya meraih dokumen itu dan mulai membacanya. Aku memperhatikannya, menunggu reaksi yang kutahu akan datang.

Dan benar saja.

Hanya butuh beberapa detik sebelum matanya melebar, wajahnya berubah drastis saat membaca salah satu kalimat di dalamnya yang dianggap tak masuk akal.

Dia melotot ke arahku. "Kau serius?"

Aku menyilangkan tangan. "Kau pasti sudah menyadari jika aku adalah pemimpin Panthers. Sebelum tanda tangan… baca baik-baik kesepakatan itu."

Aku bisa melihat ketegangan di wajahnya, tapi dia tidak serta-merta meletakkan kertas itu dan menolak. Tidak ada teriakan atau langkah mundur yang panik.

Sebaliknya, dia membaca lebih lanjut.

Dan aku mulai bertanya-tanya… apakah dia akan menandatanganinya? walaupun ada beberapa kesepakatan yang diluar nalar?

Karena aku sengaja mengajukan kesepakatan diluar nalar itu.

Bersambung…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   8

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku menatap kontrak di tanganku, mata masih terpaku pada salah satu poin yang barusan kubaca. 'Dilarang jatuh cinta pada Agra.' Memangnya aku akan jatuh cinta dengan nya? Aku hanya mendekati nya karena Manda, tidak lebih. Konyol. Benar-benar konyol. Aku mengangkat wajahku, melotot ke arahnya. "Kau serius?" Agra menyilangkan tangan di dada, ekspresinya tetap tenang. "Kau pasti sudah menyadari jika aku adalah pemimpin Panthers. Sebelum tanda tangan. . . baca baik-baik kesepakatan itu." Tentu saja aku tahu siapa dia dan tentu saja aku tidak sebodoh itu untuk mengabaikan sesuatu yang aneh dalam kontrak ini. Tapi tetap saja . . . ini benar-benar tidak masuk akal. Aku kembali menunduk, membaca ulang kalimatnya untuk memastikan aku tidak salah lihat. Tidak ada yang berubah. Masih sama. Masih sama gilanya. Satu bulan. Hanya satu bulan kesempatan ku untuk mendekati nya. Aku menggigit bibir, lalu menatap Agra dengan tatapan penuh arti. "Bagaimana kalau justru kau yang jatuh

    Last Updated : 2025-03-29
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   1. Kekasih Sewaan

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku menghela napas panjang, menatap bayanganku di cermin besar di kamarku. Gaun hijau zamrud dengan potongan rendah menghiasi tubuhku, membingkai kulitku dengan sempurna. Kainnya lembut, membelai kulitku setiap kali aku bergerak. Tapi tetap saja, meski tampak luar biasa di luar, perutku terasa seperti diaduk dari dalam. Aku menarik napas dalam. Tenang, Calia. Ini hanya pesta. Pesta pernikahan mantanku. Bodoh? Ya, sangat. Tapi aku tidak akan membiarkan Dion berpikir aku masih terluka karena pengkhianatannya. Masalahnya… aku tidak punya pasangan. Semua teman yang kumintai tolong mendadak sibuk, termasuk Lita, satu-satunya karyawan di café-ku. Aku berjalan keluar apartemen menelusuri trotoar, membiarkan angin malam menampar wajahku. Aku butuh seseorang—siapa pun—untuk jadi penyelamatku malam ini. Lalu aku melihatnya. Seorang pria bersandar santai di mobil hitam mengilap, merokok dengan tenang. Asap putih tipis mengepul di udara malam yang sejuk, mengitari wajahnya yang

    Last Updated : 2025-02-15
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   2. Permainan Dimulai

    Calia Aku duduk di meja makan dengan perasaan campur aduk. Perutku terasa mual, bukan karena makanan di hadapanku, tetapi karena pemandangan menjijikkan di seberang meja. Manda—ibu tiriku, yang selalu terlihat angkuh dan tak tersentuh—hari ini tersenyum lembut seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta. Tatapannya berbinar, tangannya dengan santai melingkar di lengan pria di sampingnya. Pria itu adalah Agra. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan ekspresi kesal. Takdir memang punya selera humor yang kejam. Kemarin malam, aku menyewa pria asing untuk menjadi pasangan pura-puraku di pesta pernikahan mantan. Dan sekarang? Aku justru mendapati pria yang sama duduk dengan santai di samping ibu tiriku. Dunia benar-benar gila. Aku melirik ke arah Agra, mencoba mencari petunjuk di wajahnya. Tapi pria itu tetap dengan ekspresi datarnya, seolah kehadiranku di sini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Dia tampak santai, bahkan nyaris bosan, sementara Manda terus menempel padanya dengan

    Last Updated : 2025-02-15
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   3. Kesepakatan

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Hari ini seharusnya menjadi hari biasa di café kecilku. Seperti biasa, aku bersiap menghadapi pelanggan yang hanya datang untuk mencari WiFi gratis atau sekadar berfoto tanpa membeli apa pun. Tapi hari ini, takdir rupanya ingin bermain-main denganku lagi. Begitu pintu café terbuka, aku mendongak, dan napasku langsung tercekat. Agra. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan santai, mengenakan jaket kulit hitam yang terlihat sangat mahal. Tatapannya tajam seperti biasa, penuh misteri yang tak bisa kutebak. Aku bahkan bisa merasakan aura intimidatifnya membuat Lita, karyawanku, menegang di belakang mesin kasir. Aku segera mengangkat alis, berusaha tetap tenang meski hatiku berdegup kencang. Bagaimana dia bisa tahu tempat ini? Agra melangkah santai ke meja kasir, seolah ini bukan pertama kalinya dia datang ke sini. "Kau terlihat terkejut," katanya, suaranya tetap datar. Aku menyandarkan tangan di meja dan menyipitkan mata. "Bagaimana kau tahu aku di sini?" Dia menyeringai

    Last Updated : 2025-02-15
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   4. Hari Pertama

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Hari ini terasa lebih panjang dari biasanya. Aku baru saja menyelesaikan shift sore di café. Lita sudah pulang lebih dulu, meninggalkanku sendirian untuk merapikan meja dan menutup kasir. Mataku terasa berat, tubuhku lelah, dan aku sudah membayangkan kasur empuk di apartemen kecilku. Namun, rencana itu buyar begitu suara berat yang familier terdengar jelas. "Siap bekerja?" Aku menoleh dan mendapati Agra berdiri di depan meja kasir. Dia mengenakan setelan hitam yang jauh lebih rapi dibanding biasanya. Tidak ada jaket kulit, tidak ada rokok di tangan, hanya kemeja hitam yang pas di tubuhnya, memperlihatkan bahunya yang tegap dan dada bidangnya. Aura misteriusnya tetap sama—mungkin justru lebih kuat dalam pakaian seperti itu. Aku menyandarkan tangan di meja kasir, menatapnya dengan alis terangkat. "Serius? Aku pikir pekerjaan ini dimulai besok pagi. Ini kan hampir malam banget." Dia menyeringai tipis. "Kau pikir jadi asisten ku itu seperti pekerjaan kantoran yang punya j

    Last Updated : 2025-02-15
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   5. Kebenaran

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku masih merasakan getaran di ujung jariku. Rasanya seperti sengatan listrik halus, kecil namun tak kunjung hilang. Tubuhku terasa lemas, keringat dingin mengalir di punggungku, dan bayangan darah yang menggenang di lantai tadi masih menari-nari dalam pikiranku. Pria itu benar-benar mati. Ditembak oleh Agra di depan mata ku. Aku mengira bisa mengendalikan situasi, bisa bermain dengan Agra demi membalas dendam pada Manda. Tapi sekarang, kenyataan menghantamku keras—aku tidak sedang bermain di zona nyaman. Aku sedang bermain di dunia Agra. Dunia yang penuh kekejaman tanpa belas kasihan. Di depanku, Agra hanya berdiri dengan santai, ekspresinya tetap tenang seolah apa yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang luar biasa. Seolah membunuh hanyalah bagian dari rutinitas hariannya. "Kau bisa pergi sekarang," katanya, nada suaranya ringan, hampir seperti sedang menawarkan minuman. "Aku tidak akan menahanmu." Aku masih membeku di tempat, tidak bisa berpikir jernih. Agra m

    Last Updated : 2025-02-15
  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   6.

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Malam ini, aku kembali berada di dalam mobil Agra. Aku masih belum tahu apakah ini keputusan yang benar. Tapi setelah semua yang kulihat sejauh ini—aku tahu satu hal: aku sudah masuk terlalu dalam untuk mundur. Sore tadi, tepat setelah café tutup, aku menerima pesan dari nomor yang lagi-lagi berbeda. "Aku akan menjemputmu jam delapan. Bersiaplah." Tentu saja itu dari Agra. Aku membalas singkat seperti biasa, tapi kali ini kutambahi sedikit godaan. "Baik, tuan penguasa yang ganteng." Tidak ada balasan. Tentu saja. Dan sekarang, di sinilah aku. Duduk di kursi penumpang, menatap jalanan yang diterangi lampu kota, sementara Agra mengemudi dengan ekspresi datar seperti biasa. "Apa kali ini aku akan melihat seseorang mati lagi?" tanyaku, mencoba terdengar santai, meskipun jauh di dalam, aku tidak yakin dengan jawabannya. Agra melirikku sekilas. "Mungkin." Jawaban itu membuat punggungku menegang. Tidak ada kepastian dalam dunia Agra, dan itu menakutkan. Kami berhenti di

    Last Updated : 2025-02-16

Latest chapter

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   8

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku menatap kontrak di tanganku, mata masih terpaku pada salah satu poin yang barusan kubaca. 'Dilarang jatuh cinta pada Agra.' Memangnya aku akan jatuh cinta dengan nya? Aku hanya mendekati nya karena Manda, tidak lebih. Konyol. Benar-benar konyol. Aku mengangkat wajahku, melotot ke arahnya. "Kau serius?" Agra menyilangkan tangan di dada, ekspresinya tetap tenang. "Kau pasti sudah menyadari jika aku adalah pemimpin Panthers. Sebelum tanda tangan. . . baca baik-baik kesepakatan itu." Tentu saja aku tahu siapa dia dan tentu saja aku tidak sebodoh itu untuk mengabaikan sesuatu yang aneh dalam kontrak ini. Tapi tetap saja . . . ini benar-benar tidak masuk akal. Aku kembali menunduk, membaca ulang kalimatnya untuk memastikan aku tidak salah lihat. Tidak ada yang berubah. Masih sama. Masih sama gilanya. Satu bulan. Hanya satu bulan kesempatan ku untuk mendekati nya. Aku menggigit bibir, lalu menatap Agra dengan tatapan penuh arti. "Bagaimana kalau justru kau yang jatuh

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   7.

    𝗔𝗴𝗿𝗮 Bau mesiu masih menggantung di udara. Aku melepaskan napas pelan, menurunkan pistol dengan gerakan santai. Tubuh pria itu tergeletak tak bernyawa di lantai, darahnya mulai menggenang di bawah kepalanya. Gudang ini sunyi kecuali suara langkah kaki para anak buahku yang mulai merapikan sisa kekacauan. Mataku beralih ke Calia. Dia masih berdiri di tempatnya, tubuhnya menegang, matanya lekat menatap mayat di lantai. Aku memperhatikan bagaimana jemarinya sedikit gemetar di sisi tubuhnya, meski wajahnya berusaha tetap tanpa ekspresi. "Jangan menatap terlalu lama," suaraku rendah, nyaris seperti bisikan. "Kau akan terbiasa lebih cepat dari yang kau kira." Calia menoleh ke arahku, dan aku melihat sesuatu di matanya—bukan ketakutan, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum bisa kupahami sepenuhnya. Aku menyimpan pistolku, lalu berjalan melewatinya, memberi isyarat agar dia mengikutiku. "Kita selesai di sini." Tanpa banyak bicara, kami meninggalkan gudang dan mengantar nya ke

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   6.

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Malam ini, aku kembali berada di dalam mobil Agra. Aku masih belum tahu apakah ini keputusan yang benar. Tapi setelah semua yang kulihat sejauh ini—aku tahu satu hal: aku sudah masuk terlalu dalam untuk mundur. Sore tadi, tepat setelah café tutup, aku menerima pesan dari nomor yang lagi-lagi berbeda. "Aku akan menjemputmu jam delapan. Bersiaplah." Tentu saja itu dari Agra. Aku membalas singkat seperti biasa, tapi kali ini kutambahi sedikit godaan. "Baik, tuan penguasa yang ganteng." Tidak ada balasan. Tentu saja. Dan sekarang, di sinilah aku. Duduk di kursi penumpang, menatap jalanan yang diterangi lampu kota, sementara Agra mengemudi dengan ekspresi datar seperti biasa. "Apa kali ini aku akan melihat seseorang mati lagi?" tanyaku, mencoba terdengar santai, meskipun jauh di dalam, aku tidak yakin dengan jawabannya. Agra melirikku sekilas. "Mungkin." Jawaban itu membuat punggungku menegang. Tidak ada kepastian dalam dunia Agra, dan itu menakutkan. Kami berhenti di

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   5. Kebenaran

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku masih merasakan getaran di ujung jariku. Rasanya seperti sengatan listrik halus, kecil namun tak kunjung hilang. Tubuhku terasa lemas, keringat dingin mengalir di punggungku, dan bayangan darah yang menggenang di lantai tadi masih menari-nari dalam pikiranku. Pria itu benar-benar mati. Ditembak oleh Agra di depan mata ku. Aku mengira bisa mengendalikan situasi, bisa bermain dengan Agra demi membalas dendam pada Manda. Tapi sekarang, kenyataan menghantamku keras—aku tidak sedang bermain di zona nyaman. Aku sedang bermain di dunia Agra. Dunia yang penuh kekejaman tanpa belas kasihan. Di depanku, Agra hanya berdiri dengan santai, ekspresinya tetap tenang seolah apa yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang luar biasa. Seolah membunuh hanyalah bagian dari rutinitas hariannya. "Kau bisa pergi sekarang," katanya, nada suaranya ringan, hampir seperti sedang menawarkan minuman. "Aku tidak akan menahanmu." Aku masih membeku di tempat, tidak bisa berpikir jernih. Agra m

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   4. Hari Pertama

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Hari ini terasa lebih panjang dari biasanya. Aku baru saja menyelesaikan shift sore di café. Lita sudah pulang lebih dulu, meninggalkanku sendirian untuk merapikan meja dan menutup kasir. Mataku terasa berat, tubuhku lelah, dan aku sudah membayangkan kasur empuk di apartemen kecilku. Namun, rencana itu buyar begitu suara berat yang familier terdengar jelas. "Siap bekerja?" Aku menoleh dan mendapati Agra berdiri di depan meja kasir. Dia mengenakan setelan hitam yang jauh lebih rapi dibanding biasanya. Tidak ada jaket kulit, tidak ada rokok di tangan, hanya kemeja hitam yang pas di tubuhnya, memperlihatkan bahunya yang tegap dan dada bidangnya. Aura misteriusnya tetap sama—mungkin justru lebih kuat dalam pakaian seperti itu. Aku menyandarkan tangan di meja kasir, menatapnya dengan alis terangkat. "Serius? Aku pikir pekerjaan ini dimulai besok pagi. Ini kan hampir malam banget." Dia menyeringai tipis. "Kau pikir jadi asisten ku itu seperti pekerjaan kantoran yang punya j

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   3. Kesepakatan

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Hari ini seharusnya menjadi hari biasa di café kecilku. Seperti biasa, aku bersiap menghadapi pelanggan yang hanya datang untuk mencari WiFi gratis atau sekadar berfoto tanpa membeli apa pun. Tapi hari ini, takdir rupanya ingin bermain-main denganku lagi. Begitu pintu café terbuka, aku mendongak, dan napasku langsung tercekat. Agra. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan santai, mengenakan jaket kulit hitam yang terlihat sangat mahal. Tatapannya tajam seperti biasa, penuh misteri yang tak bisa kutebak. Aku bahkan bisa merasakan aura intimidatifnya membuat Lita, karyawanku, menegang di belakang mesin kasir. Aku segera mengangkat alis, berusaha tetap tenang meski hatiku berdegup kencang. Bagaimana dia bisa tahu tempat ini? Agra melangkah santai ke meja kasir, seolah ini bukan pertama kalinya dia datang ke sini. "Kau terlihat terkejut," katanya, suaranya tetap datar. Aku menyandarkan tangan di meja dan menyipitkan mata. "Bagaimana kau tahu aku di sini?" Dia menyeringai

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   2. Permainan Dimulai

    Calia Aku duduk di meja makan dengan perasaan campur aduk. Perutku terasa mual, bukan karena makanan di hadapanku, tetapi karena pemandangan menjijikkan di seberang meja. Manda—ibu tiriku, yang selalu terlihat angkuh dan tak tersentuh—hari ini tersenyum lembut seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta. Tatapannya berbinar, tangannya dengan santai melingkar di lengan pria di sampingnya. Pria itu adalah Agra. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan ekspresi kesal. Takdir memang punya selera humor yang kejam. Kemarin malam, aku menyewa pria asing untuk menjadi pasangan pura-puraku di pesta pernikahan mantan. Dan sekarang? Aku justru mendapati pria yang sama duduk dengan santai di samping ibu tiriku. Dunia benar-benar gila. Aku melirik ke arah Agra, mencoba mencari petunjuk di wajahnya. Tapi pria itu tetap dengan ekspresi datarnya, seolah kehadiranku di sini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Dia tampak santai, bahkan nyaris bosan, sementara Manda terus menempel padanya dengan

  • Menggoda Kekasih Ibu Tiri   1. Kekasih Sewaan

    𝗖𝗮𝗹𝗶𝗮 Aku menghela napas panjang, menatap bayanganku di cermin besar di kamarku. Gaun hijau zamrud dengan potongan rendah menghiasi tubuhku, membingkai kulitku dengan sempurna. Kainnya lembut, membelai kulitku setiap kali aku bergerak. Tapi tetap saja, meski tampak luar biasa di luar, perutku terasa seperti diaduk dari dalam. Aku menarik napas dalam. Tenang, Calia. Ini hanya pesta. Pesta pernikahan mantanku. Bodoh? Ya, sangat. Tapi aku tidak akan membiarkan Dion berpikir aku masih terluka karena pengkhianatannya. Masalahnya… aku tidak punya pasangan. Semua teman yang kumintai tolong mendadak sibuk, termasuk Lita, satu-satunya karyawan di café-ku. Aku berjalan keluar apartemen menelusuri trotoar, membiarkan angin malam menampar wajahku. Aku butuh seseorang—siapa pun—untuk jadi penyelamatku malam ini. Lalu aku melihatnya. Seorang pria bersandar santai di mobil hitam mengilap, merokok dengan tenang. Asap putih tipis mengepul di udara malam yang sejuk, mengitari wajahnya yang

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status