Share

Bab 5

Penulis: SY
last update Terakhir Diperbarui: 2023-12-23 21:10:40

3 Minggu kemudian

Tepat sebulan Zidan dan Reva melangsungkan pernikahan dan tinggal bersama. Kehidupan pernikahan mereka berjalan dengan baik atau lebih tepatnya kehidupan pernikahan di depan orangtua mereka. Zidan dan Reva memang tinggal satu atap tapi tidak satu kamar dan sibuk mengurusi kehidupan pribadi masing-masing.

Beberapa hari yang lalu Reva sudah mendaftar ujian seleksi masuk perguruan tinggi dan ujian akan dilaksanakan hari ini jam 9 pagi. Jam telah menunjukkan pukul setengah 9 pagi, ia bangun kesiangan tadi gara-gara semalam begadang nonton drama korea favoritenya sehingga membuatnya harus melakukan segala sesuatunya secara terburu-buru. Sementara Zidan terlihat sudah rapi dengan setelan jas biru tua dengan dalaman kemeja putih dilengkapi dengan dasi dan rompi dengan warna senada. Ia tengah duduk bersantai di ruang keluarga sembari menyesap segelas kopi susu di pagi hari. Sebentar lagi ia akan berangkat kerja.

Beberapa saat kemudian, Reva datang ke ruang keluarga, hendak memakai sepatu. Ia tampak sudah rapi dengan pakaian hitam putih dan tas selempang yang sudah menggantung cantik di lengan kanannya.

“Om, cepetan ngopinya. Nanti aku telat,” celetuk Reva seraya melirik Zidan yang duduk di hadapannya. Kopinya terlihat masih sisa setengah.

Setelah menandatangani perjanjian pernikahan itu Reva memang sudah terbiasa memanggil Zidan dengan panggilan itu karena jarak usia mereka yang terpaut jauh sekitar 12 tahun namun itu tidak berlaku saat di hadapan orangtua mereka. Saat di depan Orangtua mereka, biasanya Reva memanggil Zidan dengan sebutan Mas.

“Siapa yang mau ngantarin kamu? aku mau berangkat kerja.”

Reva mendongak, menatap Zidan yang sudah berdiri. “Oh ayolah Om, antarin aku sebentar aja. Kalau mencari kendaraan umum dulu nanti aku bisa telat.”

“Salah sendiri kenapa bangun telat.”

Zidan berbalik, baru saja ingin melangkah pergi, Reva dengan cepat menarik lengan Zidan. “Please antarin aku Om. Sebentar lagi ujiannya akan dimulai, kalau aku enggak bisa ikut ujian nanti aku enggak bisa lanjut kuliah kalau aku enggak bisa lanjut kuliah nanti aku enggak bisa gapai cita-citaku. Tega banget kamu."

Zidan melirik sinis orang di sebelahnya, menarik tangannya hingga tautan tangan mereka terlepas. “Lebay banget kamu. Kalau kamu enggak bisa ikut ujian yang ini, ikut jadwal ujian yang selanjutnya. Itu aja kok repot,” tutur Zidan lalu melangkah pergi.

Reva sontak memeriksa jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 8.40 pagi. “Aduh, gimana nih,” gumamnya seraya mengigit kuku jari-jarinya. Perut sudah mules gara-gara mau ujian eh ditambah bangun kesiangan sampai membuatnya kemungkinan akan terlambat mengikuti ujian. Namun ia tak pantang menyerah, kembali mengejar Zidan yang sudah berada di luar.

Ia melihat Zidan sudah masuk ke mobil. Dengan langkah cepat, ia ikut masuk ke mobil Zidan dan langsung memasang seatbelt.

“Ngapain kamu?”

“Please antarin aku ya Om, pleasee ....” Reva terus memohon dengan wajah diimut-imutkan, berharap suaminya luluh.

“Tidak.”

“Ayolah Om tolong aku, tega banget sih kamu. Aku bakal ngelakuin apa pun deh asal kamu mau antarin aku sekarang.”

“Apa pun?” tanya Zidan seperti tertarik dengan tawaran dari Reva. Reva mengangguk.

Setelah berpikir sebentar, Zidan akhirnya memperbolehkan. “Oke, aku bakal antar kamu tapi dengan satu syarat, aku mau kamu melakukan sesuatu untukku nanti malam. Bagaimana?”

“Melakukan apa?”

“Jawab saja mau apa enggak?”

“Ya udah iya-iya,” jawab Reva tanpa berpikir panjang, yang penting sekarang adalah sampai di kampus sebelum ujian di mulai. “Ayo berangkat sekarang.”

“Kunci dulu pintu rumah.”

“Oh iya, sebentar ya Om. Jangan ke mana-mana.”

“Hm.”

Saat mengunci pintu, Reva melamun, memikirkan perkataan Zidan barusan. ‘Om Zidan mau minta apa ya nanti malam? kenapa harus malam-malam?’ matanya sontak melebar ketika terbesit sesuatu di pikirannya. ‘Hah jangan-jangan ....”

Setelah mengunci pintu, Reva kembali masuk ke mobil. Zidan pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumah.

Setibanya di kampus, Reva bergegas melepas seatbeltnya. “Makasih Om,” lalu turun dari mobil. Zidan yang melihat Reva berlari menuju ruangannya sontak menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian melanjutkan perjalanan menuju perusahaan.

***

Malamnya

Reva tengah duduk di lantai ruang keluarga dengan beberapa kertas yang berserakan di atas meja. Ia sedang belajar mengenai soal-soal yang keluar di tes masuk perguruan tinggi tadi. Sambil menunggu hasil tes keluar, yang mungkin akan keluar beberapa Minggu lagi, ia akan terus belajar. Bila ia gagal nanti setidaknya ia sudah ada persiapan yang lebih matang untuk mengikuti ujian selanjutnya. Namun tiba-tiba Zidan datang dan langsung mengambil duduk di sofa. “Kamu lagi ngapain?”

“Lagi belajar.”

“Ohh. Tolong buatin aku creme brulee latte dong," ujar Zidan santai.

“Hah! cream apa?”

“Creme brulee latte. Minuman kopi yang kekinian itu.”

Reva menggaruk kepalanya yang tak gatal, jangankan tahu bentuknya, namanya saja ia tidak pernah dengar, maklum karena ia memang bukan pecinta kopi. “Kenapa minta buatin sama aku? aku enggak tahu cara buatnya. Kenapa enggak pesan online aja? biasanya juga pesan online,” tutur Reva lalu kembali menulis.

“Tapi malam ini aku maunya kamu yang buat. Kamu enggak ingat sama janji kamu tadi pagi? Katanya kamu bakal lakuin apapun untukku. Kamu lupa?”

Reva menatap Zidan kesal. “Tapi aku enggak tahu cara buatnya Om. Bahan-bahannya untuk buatnya juga kayaknya enggak ada.”

“Kamu ‘kan bisa lihat resepnya di hp. Untuk bahan-bahannya, aku udah beli tadi. Tuh, ada di dapur.”

Reva kaget, seniat itu ternyata suaminya demi minuman kopi favoritenya. Ia menghela napas pasrah lalu berdiri. “Oke. Tunggu sebentar.”

Zidan menganggukkan kepalanya, setelah istrinya pergi ke dapur, ia melipat tangan di atas dada seraya tersenyum menang.

Sementara itu Reva di dapur menemukan sekantong plastik belanjaan di atas pantry. Saat membongkarnya ia mendapati ada bubuk espresso, sirup vanilla, bubuk whipped cream, susu cair, gula, bubuk creamer dan lainnya.

Ia kembali menggaruk kepalanya.

“Duh, ini apa aja sih? Kenapa banyak banget bahannya. Apa aja yang harus diapke?” mulutnya berdecak sebelum akhirnya kembali ke ruang keluarga.

“Sudah selesai?” tanya Zidan.

“Apanya yang udah selesai. Aku baru mau lihat resepnya di hp.”

“Kenapa enggak dari tadi sih? lama banget,” ujar Zidan namun Reva tidak menjawab karena ia tampak fokus menatap layar ponselnya.

“Kamu maunya dingin atau hangat Om?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya.

“Yang hangat aja.”

“Oke.” Reva kembali ke dapur.

Sambil melihat ponsel, ia mencocokan bahan-bahannya, memisahkannya dari bahan lain yang tidak terpakai lalu mulai membuatnya.

20 menit kemudian dua cangkir creme brulee latte ala Reva akhirnya jadi. Satu cangkir untuk Zidan dan satu cangkir lagi untuk dia, dia ‘kan juga pengen ngerasain karena minuman itu kelihatannya enak tapi dia sengaja memasukkan punyanya ke kulkas karena ia suka yang dingin-dingin.

Ia pun membawa kopi satunya lagi ke ruang keluarga. “Ini. Silakan di minum Tuan!” ucap Reva seraya tersenyum lebar dan sengaja menekankan kata Tuan.

“Sedotannya mana?”

“Hah?”

“Tadi aku beli sedotan juga. Kamu enggak lihat di belakang? ambil sekarang. Aku mau minumnya pake sedotan.”

Reva mengepalkan tangannya, rasanya ingin menjitak kepala suaminya itu namun apa daya ia harus memenuhi janjinya. Ia pun menyunggingkan senyumnya. “Oke, sebentar ya Tuan.”

Tak lama kemudian Reva memberikan sedotan kepada Zidan. “Eum lumayan juga. Ternyata kamu cepat belajar ya.”

“Oh iya jelas dong Om. Aku memang cewek yang cerdas dan serba bisa,” ucap Reva berbangga diri. Setelah itu Reva pun hendak kembali duduk di tempatnya semula, di lantai yang dingin favoritenya pasalnya ia tidak terlalu suka duduk di sofa, ia lebih suka duduk di lantai.

Saat melewati Zidan, ia tak sengaja tersandung kaki besar Zidan sehingga membuat tubuhnya oleng dan mendarat mulus di pangkuan Zidan. Reflek Zidan melingkarkan tangannya di pinggang Reva. Reva menoleh, menatap wajah suaminya yang hanya berjarak beberapa cm darinya. Zidan menatap mata Reva sejenak lalu turun ke bibir pink kenyal itu. Dada keduanya berdebar sampai akhirnya Reva bangkit dari pangkuan Zidan, membasahi bibirnya gugup. "Hmm, a-aku ... aku ke belakang dulu ya," ucapnya tanpa menatap Zidan lalu melangkah cepat ke belakang.

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 6

    “Jadi mau sampai kapan kita di sini Rian? sebulanan ini aku sudah berusaha untuk menghindari kontak dengan keluargaku. Keluargaku pasti marah besar padaku terutama adikku karena dia terpaksa harus menggantikanku untuk menikah,” omel seorang wanita berwajah kecil dengan rambut pendek berponi. “Loh, kok kamu malah jadi nyalahin aku? rencana kabur itu ‘kan rencana kita berdua, kamu juga terlibat dalam rencana ini Risa,” ucap seorang pria berwajah bulat dengan rambut pendek belah tengah. Sebenarnya pria itu lebih muda dari wanita itu namun pria itu agak risih bila harus memanggil dengan sebutan kakak karena mereka berpacaran walaupun kekasihnya lebih tua 2 tahun darinya dan kekasihnya juga tidak masalah dengan itu.Risa dan Rian, sepasang kekasih yang saling mencintai itu kabur dari rumah karena salah satunya akan dijodohkan. Mereka kini tengah terlibat pertengkaran kecil di sebuah kafe yang terletak di kota Surabaya. “Iya. Itu karena awalnya aku pikir kamu bakal nikahin aku secepatnya k

    Terakhir Diperbarui : 2024-01-12
  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 7

    “Perkenalkan saya Riri dan ini Pak Anton. Kami diperintahkan Bu Eva untuk bekerja di sini,” jawab wanita muda berambut panjang lurus berponi itu.‘Disuruh mama Eva? tapi kenapa Mama Eva enggak ngabarin aku dulu ya sebelumnya?’ batin Reva. “Hm, Mbak, Pak. Maaf saya permisi ke dalam sebentar ya.” “Oh iya Mbak, silakan.” Reva pun bergegas kembali ke kamarnya, mengambil ponsel dan pas sekali ada panggilan masuk dari mamanya Zidan. “Halo, assalamualaikum Ma,”“Waalaikumussaalam. Kamu ke mana aja Rev? Mama telepon dari tadi, enggak diangkat-angkat.” “Ya, Ma tadi aku lagi enggak megang hp, maaf ya Ma. Ada apa ya Ma?” “Ini Mama cuma mau kasih tahu kalau nanti ada seorang ART sama seorang satpam yang datang ke rumah kalian. Mama udah bayar mereka untuk kerja jaga rumah sama bantu-bantu kamu. Kasihan kalau kamu harus ngurus rumah sendirian. Mama sengaja memperkerjakan ART yang muda biar bisa akrab sama kamu, bisa jadi teman atau kakak untuk kamu jadi kamu enggak merasa kesepian di rumah k

    Terakhir Diperbarui : 2024-01-13
  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 8

    Seminggu kemudian“Rosa, hasilnya udah keluar belum sih?” tanya Reva di telepon. Ia sedang duduk di kamarnya, bersandar di sandaran ranjang, menghubungi sahabatnya sejak SMA, menanyakan hasil ujian seleksi masuk perguruan tinggi yang akan keluar sore ini. Mereka memang sudah berencana untuk masuk ke kampus dan fakultas yang sama.“Belum. Katanya sih jam 3 keluarnya."Reva melirik jam dinding di kamarnya yang baru menunjukkan pukul 2 siang. “Oh, masih 1 jam lagi dong. Kita ketemuan aja yuk, biar meriksanya bareng nanti.” “Ayo! ke kafe biasa ya~” “Oke, aku siap-siap dulu. Sampai jumpa di sana ya bye-bye~” “Bye~” Setelah memutuskan sambungan, Reva beranjak dari kasur, berdiri di depan lemari, memeriksa koleksi pakaiannya cukup lama sampai pilihannya jatuh kepada celana highwaist snowblack dengan atasan blouse crinckle putih lengan panjang, ada hiasan pita di bagian dadanya. Setelah mengenakan pakaian, ia duduk di depan meja hias, menata rambutnya. Ia membuka kotak yang berisi banyak a

    Terakhir Diperbarui : 2024-01-14
  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 9

    “Tumben belum berangkat, Om? biasanya cepat,” celetuk Reva yang terus memandang Zidan sampai duduk di kursi yang berhadapan dengan Zidan.Zidan mendongak menatap Reva datar. “Kamu enggak lihat aku masih makan?”“Wes santai dong Om, nanya doang padahal,” ucap Reva seraya menyendokkan nasi goreng ke atas piringnya. Zidan pun hanya diam.Setelah menyendokkan nasi, Reva kembali menatap orang di hadapannya. “Ehem!” Reva berdehem sekali namun Zidan tak terganggu sama sekali. “Hmm semalam siapa ya yang ngasih lampu hias ke aku?” sambung Reva kembali berbicara dengan pandangan mata yang pura-pura melirik ke arah lain.Zidan kembali menatap Reva. Reva ikut melirik Zidan. “Kamu lagi ngomong sama siapa?”Reva menghela napas kesal. “Ya, sama kamu lah Om. Memangnya di ruang makan ini ada siapa saja selain kita berdua?”“Oh, kirain kamu ngomong sendiri. Anak remaja kayak kamu ‘kan hobi ngomong sendiri.”Reva menyipitkan matanya, menatap sinis suaminya yang enggak jelas itu. “Dih, apaan sih. Udah ng

    Terakhir Diperbarui : 2024-01-15
  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 10

    Hari terus berganti sampai tibalah saat mahasiswa baru menjalani pengenalan kehidupan kampus dan disinilah Reva, di kediamannya sudah sibuk bersiap-siap pagi-pagi sekali pasalnya pkkmb akan dilaksanakan jam 7 pagi, mau tak mau Reva, si calon mahasiswa baru harus datang sebelum jam 7. Tok tok tok!“Om, buka pintunya!”Reva mengedor pintu kamar Zidan, berseru membangunkannya.Ceklek! “Kenapa sih? Pagi-pagi udah ribut aja kamu.” Zidan keluar dengan muka kusut, dan mata yang belum sepenuhnya terbuka.“Om cepat mandi, antarin aku ke kampus. Hari ini, hari pertama aku pkkmb.”“Kamu ‘kan ada motor. Kenapa enggak berangkat sendiri?” tanya Zidan setelah menguap lebar.“Kalau lagi pkkmb enggak dibolehin bawa kendaraan sendiri Om. Ayolah cepat pleasee, udah jam 6 lewat ini. Kamu aja belum siap-siap, aku masuknya jam 7.”“Ya udah iya-iya. Kamu tunggu di bawah aja, aku mau siap-siap dulu.”“Oke. Jangan lama-lama tapi, awas aja kalau lama,” ucap Reva seraya menunjuk wajah Zidan, mengancamnya.“Hm

    Terakhir Diperbarui : 2024-01-16
  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 11

    ‘Hah, siapa ini? kok mesra banget. Apa Om Zidan punya pacar?’ batin Reva bertanya-tanya namun ia kembali pada posisi semula ketika Zidan kembali.Zidan sontak menoleh ketika Reva duduk menjauh darinya. “Kenapa kamu?”“Enggak apa-apa.”Zidan sebenarnya menaruh curiga namun ia tidak mau ambil pusing dan kembali menonton.Reva pun meraih ponselnya dan sibuk sendiri dengan ponselnya. “Ya ampun! cakep-cakep banget sih aktor korea ini. Udah ganteng, tinggi, putih, kaya, berbakat lagi!” celetuk Reva sengaja dengan suara keras, melirik Zidan yang tak bergeming. Itupun membuat Reva kesal, ia menggembungkan pipinya kesal. “Mana sifatnya juga baik, lembut, gentleman ke lawan mainnya," sambung Reva namun Zidan tetap bersikap tidak perduli. Karena tidak mendapatkan reaksi yang diinginkan, Reva akhirnya mendekati Zidan. “Om, lihat deh aktor korea ini cakep-cakep banget ya. Kira-kira aku cocoknya sama siapa ya di antara 3 cowok ini?” tanya Reva seraya menunjukkan beberapa foto aktor korea di depan

    Terakhir Diperbarui : 2024-01-18
  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 12

    “Kevin,” ucap Reva ketika melihat orang itu.Kevin, pria itu mengangkat sudut bibirnya sedikit. “Aku terharu ternyata kamu masih mengingatku. Aku pikir kamu sudah melupakanku.” melangkah mendekati Reva.“Hm, aku rasa kamu enggak banyak berubah jadi aku masih mengingatmu,” jawab Reva seadanya. Sebenarnya ia tidak terlalu akrab dengan salah satu teman SMP-nya itu tapi namanya bertemu teman lama, tidak mungkin ia bersikap pura-pura tidak tahu.“Oh iya aku udah denger kabar kalau kamu udah nikah dengan seorang CEO terkenal dari perusahaan manufaktur ternama.”Reva mengalihkan pandangannya ketika Kevin menatapnya intens setelah berbicara. “Hm, iya. Aku di jodohin. Jadi, mau tidak mau, aku harus nikah,” jawabnya tanpa menatap sang lawan bicara.“Ohh. Tapi enak dong jadi istri CEO kaya raya dan tampan. Tinggal ongkang-ongkang kaki aja terus terima duit banyak. Hidup mewah."Reva sontak melirik Kevin tajam. “Aku rasa itu bukan urusanmu. Kenapa kamu kelihatan sibuk sekali mengurus rumah tangga

    Terakhir Diperbarui : 2024-01-19
  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 13

    “Mama~” Reva keluar dari kamar dan langsung menghambur ke dalam pelukan mamanya.“Reva, mama kangen banget sama kamu. Kamu kangen enggak sama Mama?”Reva mendongak menatap wajah mamanya tanpa melepas pelukan. “Kangen banget Ma~” lalu kembali memeluk erat mamanya. Mamanya tersenyum sambil menutup mata, hatinya menghangat bertemu dengan anak bungsunya.“Pagi Mama Dina!” sapa Zidan yang baru muncul dengan senyum ramah membuat kedua wanita cantik itu melepas pelukannya.“Eh, Zidan. Pagi!” Zidan tak lupa menyalim tangan mertuanya. “Kamu mau berangkat kerja ya?” sambung Dina ketika memperhatikan pakaian Zidan yang sudah rapi.“Iya Ma.”“Aku juga mau berangkat kuliah Ma. Mama enggak apa-apa ‘kan sendirian dulu di rumah? Eh, tapi ada Mbak Riri kok,” timpal Reva.“Iya enggak apa-apa. Eh, tapi kalian enggak keberatan ‘kan kalau Mama nginap di sini selama beberapa hari?”“Enggak lah Ma, kami malah senang,” ucap Zidan.“Iya apalagi aku senang banget lah Mama ada di sini."Dina menarik sudut bibir

    Terakhir Diperbarui : 2024-01-20

Bab terbaru

  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 59

    Mereka tiba di penginapan menjelang malam hari. Mereka sengaja pulang setelah makan malam agar bisa langsung istirahat.Reva langsung mengambil kesempatan untuk mandi duluan ketika melihat Zidan sedang duduk di depan tv.Setelah 20 menit, Reva keluar dengan wajah lebih fresh, rambutnya masih basah. Ia mengenakan kemeja putih oversize dengan bawahan celana pendek selutut warna hitam.“Mas, kamu mau mandi enggak? Aku udah selesai.”Zidan menoleh, seketika matanya terkunci pada penampilan istrinya yang terlihat fresh dan seksi. Bulir-bulir air dari rambutnya yang basah mengalir hingga ke lehernya, wajahnya putih bersih, bibirnya merah. Kaki jenjangnya yang mulus terekspos sempurna. Penampakan yang sangat indah di mata Zidan.“Ih, kenapa lihatin aku gitu banget sih Mas.” Reva reflek menutup dada dan pahanya. Ia takut sama suaminya sendiri pasalnya Zidan menatapnya liar, tanpa berkedip.Zidan berdiri, bergerak mendekati istrinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Mau tak mau Reva me

  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 58

    2 Minggu kemudian Tak terasa tahun telah berganti. Awal tahun adalah awal yang baik untuk memulai kembali apa yang sudah dilakukan di tahun sebelumnya dan berusaha untuk lebih baik lagi dari sebelumnya dalam hal apapun.Terhitung sudah 8 bulan pernikahan Zidan dan Reva berjalan, masih terbilang seumur jagung memang namun berbagai macam rintangan yang datang sudah mereka lewati dan mereka bertekad untuk selalu berpegang tangan bersama melewati segala rintangan yang mungkin akan datang di masa depan. Dari akhir tahun menjelang awal tahun biasanya orang ramai berbondong-bondong menghabiskan waktu untuk liburan sebelum kembali ke rutinitas. Tak terkecuali dengan Zidan dan Reva yang baru mau pergi berlibur ke luar kota pada awal tahun ini, cukup terlambat memang tapi tidak apa-apa. Mereka berencana akan menghabiskan waktu liburan di luar kota selama 3-4 harian saja karena Zidan juga tidak mungkin mengambil libur panjang.“Mas, apa semuanya sudah siap?” Reva datang dari belakang, memp

  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 57

    Zidan akhirnya berhasil membawa istrinya pulang. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan syukurnya. Saat tiba di rumah, ia langsung menggendong istrinya bridal style, berputar-putar seperti drama india.“Aduh duh Mas. Kamu bersemangat banget, aku jadi pusing nih," celetuk Reva seraya menyentuh kepalanya, pura-pura merasa pusing.“Ups! maaf enggak sengaja.” Zidan malah nyengir sementara Reva menggelengkan kepalanya seraya mengerucutkan bibir. Zidan membawa istrinya masuk, mendudukkannya pelan ke sofa empuk lalu berlutut, memegang tangan istrinya. “Aku minta maaf ya. Aku enggak tahu apa kata maaf ini cukup tapi aku janji akan selalu percaya sama kamu.”Reva menyunggingkan senyum kecil, sebelah tangannya diletakkannya di atas tangan Zevano. “Aku maafin. Tapi mulai sekarang kamu harus janji kalau kita harus selalu saling percaya satu sama lain. Janji?” Reva mengangkat jari kelingkingnya.“Harus begitu?”“Iya, Mas. Kamu enggak mau janji sama aku?” Reva merengek seperti anak keci

  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 56

    Zidan kembali bersama orangtua Rian ke tempat di mana Rian ditawan. Ia akan lakukan apapun agar Rian buka suara, mengakui semua kesalahannya.“Rian, astaga! ke mana saja kamu selama ini nak? apa kamu enggak kasihan sama Mama, Papa?!” wanita paruh baya yang memakai hijab segi empat itu lari menghampiri anaknya, menangkup wajah anaknya dengan berlinang air mata. Rian hanya diam, menunduk, tidak berani menatap mata mamanya. Ia merasa sangat bersalah pada mamanya.“Jawab Mama, Rian hiks. Ka-kamu udah enggak sayang sama Mama, huh? Kenapa kamu enggak pernah pulang ke rumah?” Riska, mamanya Rian terisak. Ia ngomong terbata-bata, bibirnya bergetar.Walaupun Rian anak yang nakal namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia menyayangi orangtuanya terutama Mamanya. Kristal bening lolos dari pelupuk matanya, hati kerasnya tergoyah ketika mendengar isakan pilu mamanya. “Maafkan aku Ma, hiks.” Rian ikut terisak, merutuki diri dalam-dalam.Riska menarik Rian dalam pelukannya, mengusap kepala anaknya lemb

  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 55

    Jam 8 malam, Zidan sudah bersiap untuk pulang. Namun ia tidak langsung pulang ke rumah melainkan bertolak menuju rumah orangtua Reva. Ia berniat untuk menjemput Reva, ia akan berusaha dulu untuk membawa istrinya pulang. Dia datang lagi ke rumah orangtua Reva dengan membawa makanan. Ting! Ting! Ceklek! Kali ini yang membuka pintu adalah Reno, Papanya Reva. Zidan sontak menelan ludahnya lalu membasahi bibirnya gugup. “Selamat malam Papa Reno.” “Malam,” jawab Reno dengan wajah datar membuat Zidan semakin gugup, ia berusaha untuk tersenyum walaupun senyumannya malah lebih terlihat seperti senyum kikuk daripada senyum ramah. “Ayo masuk,” sambung Reno kemudian masuk lebih dulu. “Duduk lah di sana,” perintah Reno seraya menunjuk sofa kosong di sebelahnya. Zidan mengangguk, mengikuti perintah papa mertuanya. “Oh iya Pa, ini ada martabak untuk Papa dan Mama.” “Makasih.” Zidan mengangguk namun matanya terlihat berkeliling memandang ke sekitar. “Hm, ngomong-ngomong Reva mana, P

  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 54

    “Rian siapa?” tanya Arka dengan dahi mengernyit.“Mantanku,” jawab Risa cepat. “Aku tidak ada masalah kalau kamu mau ngomongin dia. Aku juga sudah tidak peduli dengannya,” sambung Risa seraya melirik Zidan sekilas.“Apa kamu bisa membantuku?” tanya Zidan, Risa diam, manik matanya bergerak pelan, menunjukkan wajah seperti sedang berpikir sementara Arka tampak melirik Zidan dan Risa bergantian. Ia tidak tahu menahu soal ini jadi ia hanya menyimak.Sementara itu Zaki sedang bertemu dengan Eva, mama Zidan di perusahaan milik suami Eva. Zaki yang minta bertemu mumpung Eva sedang ada di perusahaan. Biasanya Eva jarang datang ke perusahaan, datang bila ada perlunya saja.“Selamat siang Kakak ipar,” sapa Zaki saat memasuki ruangan Eva.Eva menyunggingkan senyum kecil. “Siang. Silakan duduk Zaki.” Eva mempersilakan Zaki untuk duduk di sofa depannya. Eva menyilangkan kakinya, menatap Zaki serius. “Jadi ada perlu apa, Zaki?” tanya Eva to the point, entah kenapa bila berhadapan dengan Zaki,

  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 53

    “Halo, Pak Agus.” Di pagi hari yang cerah ini, Zidan terlihat sedang menjawab telepon dari asisten pribadinya di saat sedang menikmati kopi susu favoritenya.“Iya. Jadi bagaimana?” tanyanya dengan wajah serius.“Oke, nanti saya ke sana. Terima kasih Pak Agus.” Setelah memutuskan sambungan, Zidan kembali menyesap kopinya yang tersisa setengah hingga habis kemudian bergegas pergi menuju ke tempat pak Agus berada.Kurang lebih setengah jam akhirnya Zidan sampai di tempat yang dimaksud. Terlihat Pak Agus sudah menunggu di depan sebuah rumah.“Selamat pagi Pak Zidan.”“Pagi. Di mana dia sekarang?” tanya Zidan tanpa basa-basi.“Dia ada di dalam Pak,” jawab pak Agus seraya menunjuk ke dalam rumah dengan ibu jarinya.Zidan melangkah masuk ke dalam rumah kosong itu dengan tubuh tegap dan wajah datarnya.Rian menoleh ketika mendengar derap langkah kaki, ia sontak menggertakan giginya seraya menatap tajam orang yang baru saja masuk. “Baj*ngan kau. Apa yang kau lakukan padaku! Lepaskan ak

  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 52

    “Apa-apaan lo! sadar!” Arka, pria yang menarik Zidan tadi meneriaki sahabatnya itu sambil mendorong bahunya kesal. Sementara wanita itu sudah menghilang entah ke mana. Zidan hanya diam, menatap Arka dengan mata sayunya. Arka geram, ia sontak menyeret Zidan keluar bar. Bugh!Arka melayangkan bogeman mentah ke sahabatnya sendiri hingga membuat Zidan sedikit terhuyung ke belakang. Ia merasakan panas dan nyeri yang menjalar dari pipi hingga ke dekat bibirnya namun ia tidak membalas, ia hanya menyentuh sudut bibirnya yang sepertinya mengeluarkan darah.“Sadar! udah berapa kali gue bilang bukan gini caranya menyelesaikan masalah!” Zidan masih tetap diam, mengalihkan pandangannya, enggan menatap Arka.“Kalau lo masih gini terus mending kita enggak usah temenan lagi. Gue malas temanan sama orang kayak lo."“Ka, tunggu!” Zidan dengan cepat menarik tangan Arka. Arka tadinya mau langsung pergi. “ Gue minta maaf,” ucapnya pelan dengan mata yang hampir tertutup.Arka menarik tangannya.

  • Mendadak Dinikahi CEO Galak   Bab 51

    Sementara itu di tempat lain, tak jauh dari Zidan, Reva tampak membuka koper, mengeluarkan sebuah kemeja putih milik Zidan yang sengaja dibawanya dari rumah. Walaupun berpisah untuk sementara waktu, ia tetap membawa salah satu barang yang berkaitan dengan Zidan karena ia ingin merasakan kehadiran suaminya bersamanya. Ia memandang kemeja putih itu dengan mata berkaca-kaca.Ia memeluk kemeja itu sambil memejamkan mata, menghirup aroma parfum maskulin dan segar suaminya yang melekat di kemeja tersebut, membuat hatinya tenang. “Aku merindukanmu Mas.” Setetes kristal bening keluar dengan mudah dari pelupuk matanya. Walaupun baru terpisah sehari, namun rasa rindunya telah membuncah hingga menyesakkan hati.Tanpa Reva sadari, Risa melihat itu semua. Ia tak sengaja lewat di depan kamar Reva, kamarnya tidak tertutup sepenuhnya. Risa merasa iba pada adiknya, tatapan matanya turun, sudut bibirnya turun, helaan napas keluar dari bibirnya. Ia tidak tega melihatnya namun ia juga tidak bisa berbua

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status