Home / Romansa / Mencintai Seorang Climber / Bab 02. Hanya Sebatas Iwak Peyek

Share

Bab 02. Hanya Sebatas Iwak Peyek

last update Last Updated: 2024-09-30 18:17:50

Maryam merasa Marco sedang menatapnya dengan perasaan kesal karena lantai homebase yang masih kotor.

“Nanti homebase itu saya sapu, setelah beres cuci piring.” ujar Maryam.

“Itu di meja ada nasi kuning dan lauk pauk, kenapa belum dibawa ke lokasi acara?” tanya Marco sembari menuding meja di dalam homebase.

“Itu nasi kuning buat di sini ….”

Para akhwat juga memasak nasi kuning buat anak-anak pencinta alam, walaupun tentu tidak akan cukup jika untuk semua anggota. Namun cukup banyak beras yang dimasak, dua kilo. Lauknya orek tempe dan urap sayuran. Itulah masakan tanda terima kasih karena sudah diizinkan pinjam homebase.

Beberapa anggota pencinta alam masuk ke dalam homebase. Ada yang melongokkan kepala memandangi Maryam. “Teteh, itu nasi dan ce-esnya, buat kita?”

“Iya, silakan dimakan ya.” jawab Maryam.

“Asyik, makasih banyak Teteh cantik. Hei Guys, makan kuy!”

Marco berdiri di pintu, memandangi para anggota pencinta alam yang mau makan. “Hei, kelar makan nanti, lo semua bersihin nih homebase!”

“Siap Bang!”

Maryam merasa tidak enak hati, karena homebase itu kotor akibat aktivitas memasak. “Biar saya dan teman-teman saya yang bersihin nanti.”

Marco tidak menjawab, tidak juga masuk ke dalam homebase untuk gabung makan, dia malah jongkok di teras, mengeluarkan isi ranselnya. Maryam melirik sembari tetap mencuci wadah-wadah kotor bekas masak. Saat melihat isi ransel Marco yang terserak di teras homebase, Maryam menahan ketawa, dia menunduk menatap keran air. Tak urung bibirnya membentuk seulas senyum geli.

“Isi ransel mahasiswa kok, tambang.” pikir Maryam.

Saat itu Marco sedang mencari kartu ATM-nya, karena tidak ada di dompet, maka dia cari di ransel. Supaya gampang, dia mengeluarkan seluruh isi ranselnya. Tidak ada buku catatan dan diktat kuliah, melainkan peralatan memanjat tebing, seperti harnest, karabiner[1], sling[2], piton[3], martil tebing, dan tambang. Akhirnya dia menemukan kartu ATM-nya, lalu dimasukkannya lagi peralatan buat panjat tebing itu.

Maryam sudah selesai mencuci perabot, dia berjalan menghampiri Marco.

“Saya titip dulu perabotan itu di teras, sedang dikeringkan. Nanti teman-teman saya yang ambil.” ujar Maryam, karena takut dikira mau pergi begitu saja sementara perabotan yang habis dicuci bertumpuk di sudut teras homebase itu.

“Kamu mau ke acara itu?” tanya Marco seraya menuding ke aula kampus, di mana acara syukuran khinatan massal sedang berlangsung. Anak-anak kecil yang telah dikhitan beberapa hari lalu, dihadirkan di aula, bersama orang tuanya. Undangan adalah para petinggi kampus, dosen, dan para pengurus dari organisasi kampus. Tentu saja Marco yang komandan organisasi juga diundang, entah kenapa dia masih belum masuk ke aula.

“Saya lihat tadi para akhwat sudah masuk ke aula.”

“Iya, biar saja mereka yang mengurus makanan buat undangan.” Maryam malas ke aula, karena bajunya basah kena air cucian piring. Bisa saja dia pulang dulu ke tempat kos, ganti baju, lantas ke aula. Tapi dia juga sudah capek. Dia ingin istirahat sejenak sebelum nanti ikut beres-beres seusai acara tersebut.

“Permisi.” ucap Maryam, lantas meninggalkan homebase, mau pulang.

***

Maryam telah memperoleh beasiswa sejak semester III. Di waktu luangnya yang sedikit, Maryam membuat peyek, di rumah seorang temannya yang dekat kampus. Maryam dan temannya memasarkan peyek buatan mereka ke kantin kampus, dan beberapa warung. Lumayan laris, tapi karena pendapatan harus dibagi dua, laba yang didapat Maryam tidak banyak. Maryam tetap bersyukur, bisa menabung sedikit demi sedikit, karena dia ingin beli laptop untuk keperluan kuliah. Supaya jika ada tugas kuliah, dia tak perlu lagi pinjam laptop milik organisasi dakwah kampus.

Suatu pagi Maryam sedang berjalan menuju kampus, membawa sekantong besar peyek. Baru masuk gerbang kampus, dia berpapasan dengan Marco yang hendak ke luar gerbang.

“Hei Ukhti, bawa apa itu?” tanya Marco.

Sepagi itu kampus masih sepi. Jika sudah ramai, Maryam tidak akan buru-buru menjawab, karena merasa tidak yakin jika dirinya yang diajak bicara oleh komandan organisasi pencinta alam yang ganteng itu.

“Ini peyek, mau dibawa ke kantin.”

“Kamu yang bikin?”

“Iya.”

Marco tersenyum. “Saya sering beli peyek di kantin kampus, ternyata peyek bikinan kamu. Boleh saya beli?”

“Boleh.” Maryam tersenyum, dan senyumnya makin lebar karena Marco memborong sepuluh bungkus peyek kacang dan teri.

Marco bilang dia dan rekan-rekannya akan berangkat ke Pajajaran Sport Hall, ada turnamen panjat tebing yang akan mereka ikuti. Maksudnya tentu tebing buatan, yaitu climbing wall. Sebelum berangkat ke arena, mereka kumpul di kampus dan akan sarapan bersama. Mereka sudah masak nasi di rice cooker buat sarapan, dan bikin telur dadar. Marco yang belum mau makan kalau tidak ada kerupuk atau apa saja yang kriuk, lantas hendak ke luar kampus untuk mencari warung yang sudah buka. Saat itulah dia berpapasan dengan Maryam.

“Kamu mau mampir dulu di homebase?” tanya Marco setelah memberikan uang 50 ribu untuk harga 10 bungkus peyek. “Kita bareng sarapan.”

Karena merasa sudah familier dengan homebase itu, sudah dua kali Maryam memasak di homebase itu, maka Maryam melangkah ke pintu homebase, dia tidak masuk, hanya melongokkan kepala melihat orang-orang yang sedang makan.

“Hei Teteh, sini makan bareng!” ajak mereka.

“Iya, mangga tuang sing raos[4].” sahut Maryam dalam Bahasa Sunda, saat melihat mereka makan nasi dengan telur dadar dan kecap. Lantas Marco memberikan lima bungkus peyek untuk teman-temannya itu, yang segera disambut dengan gembira. Lima bungkus lagi ada di dalam ransel Marco.

“Jangan kebanyakan makan, nanti kalian jadi lambat saat memanjat.” ujar Marco pada rekan-rekannya.

“Memangnya nggak ada kuliah hari ini?” tanya Maryam.

“Ada yang libur, ada yang bolos.” jawab Marco.

“Saya mau ke kantin dulu, mau kirim peyek.” Maryam pamit, tapi Marco malah berjalan menyertainya ke kantin kampus.

Maryam menyerahkan 12 bungkus peyek pada pengelola kantin.

“Sudah ada masakan yang mateng, Bu?” tanya Marco, dia berharap ada teman makan nasi selain telur.

“Ada gorengan.”

Marco enggan makan gorengan, karena suka kepancing untuk makan cabe rawit, padahal dia mau ikut turnamen climbing. Takut sakit perut pas lagi manjat dinding. Maka dia tidak beli apa-apa. Marco berjalan menyertai Maryam.

“Saya duluan.” ujar Maryam dengan perasaan tidak karuan, karena beberapa pasang mata melihat dia berjalan bersama Marco. Ada yang menyindir.

“Penampilan aja syar’i, gamis dan jilbab lebar, ternyata cegil juga, pengin nempel juga sama si Abang.” Itu suara perempuan, tapi Maryam tidak mau mencari sumber suara.

Maryam kembali ke tempat kos.

[1] karabiner adalah cincin kait dari logam. Karabiner dipakai untuk menautkan tambang yang terikat pada tubuh pemanjat dengan anchor, ataupun sling dengan anchor. (Anchor adalah system pengamanan dalam instalasi tali temali, dalam kegiatan panjat tebing alami atau panjat dinding)

[2] Sling adalah tali pipih seperti pita, dengan kedua ujung disambungkan membentuk lingkaran, fungsinya untuk menautkan tambang yang dibawa pemanjat dengan anchor.

[3] piton adalah paku tebing dengan lubang di salah satu ujungnya, untuk tempat mengaitkan karabiner. Penggunaan piton yaitu diselipkan di antara rekahan batu, sebagai alat pengaman anchor saat pemanjatan tebing alami.

[4] Silakan makan enak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Mencintai Seorang Climber   bab 03. Dianggap Tidak Ada

    Setelah itu, Marco kerap beli peyek buatan Maryam, sebelum dikirim ke kantin. Katanya peyek itu buat teman makan nasi kalau di rumah, kadang jadi cemilan saat dia sedang mengerjakan tugas kuliah. Maryam tentu senang punya pelanggan tetap yang selalu membeli peyeknya dalam jumlah cukup banyak. Kadang-kadang Marco mengajak Maryam ngobrol cukup banyak, tentang kampung halaman Maryam di Cirebon. Marco minta dicarikan baju batik khas Cirebon, yang dibuat oleh wong Cirebon, katanya dia pengin pakai baju batik buat acara keluarga besarnya. Maryam mencari di pengrajin batik, di wilayah Trusmi. Dikirimkannya beberapa foto baju batik beraneka motif, ke nomor WA Marco. Sekalian dengan informasi harga. Maryam mengirim gambar baju batik dari yang cukup murah, menengah, dan mahal. Motif batik yang dipilih Maryam adalah yang khas Cirebon, seperti motif mega mendung, singa barong, dan paksi naga liman. Ternyata Marco menyukai motif batik tersebut, lantas mentransfer sejumlah uang ke rekening Ma

    Last Updated : 2024-09-30
  • Mencintai Seorang Climber   bab 04. Mimpi Buruk Sang Climber

    Setelah rombongan itu pergi, Marco bicara. “Gue mimpi lagi .... ketemu Tonny ... dia terus saja bilang ... aku mau mati sebagai climber.”Cepi menjawab lirih, “Jangan dipikirin terus. Semua sudah berakhir, Bro. Nggak ada lagi yang bisa lo perbuat untuk Tonny.”Marco bertanya dalam hati, Kapan ya, pertama kali datangnya mimpi itu? Mimpi buruk tentang sebuah pemanjatan di tebing, bersama seorang rekan bernama Tonny. Dalam mimpinya, Tonny sesumbar, “Aku mau mati sebagai climber!”Dulu ... sekitar tiga tahun lalu mimpi buruk itu berawal, tapi kemudian Marco merasa semua bakal pulih seperti sedia kala, termasuk hatinya. Namun sekarang, setelah bertahun lewat, mimpi buruk itu datang lagi. Marco merasa, mimpi itu datang karena ada kaitannya dengan seseorang yang masuk dalam organisasi pencinta alam kampus. Tepatnya, seorang mahasiswi, adik kelasnya, yang masuk menjadi anggota Adventure setahun lalu. Gadis itu bernama Silvi. Sejak Silvi masuk ke organisasi Adventure, Marco kembali mengalami

    Last Updated : 2024-10-01
  • Mencintai Seorang Climber   bab 05. Komandan Baru yang Arogan

    Gadis itu punya nama lengkap Maryam Nur Asyifa, penampilannya sederhana, pakaian dan jilbabnya dari bahan yang murah, dan berwarna gelap. Wajahnya selalu polos tanpa make up. Namun di balik kesederhanaan itu, sebenarnya Maryam berparas cantik, dengan kulit kuning langsat. Saat dia tersenyum ada lekuk mungil di pipinya, giginya rapi dan bersih, matanya bulat bening. Tubuhnya tinggi semampai. Saat ini Maryam sudah memasuki tahun ke empat masa kuliah. Maryam tidak sempat jualan peyek, karena sibuk praktik mengajar di sebuah SMP, di Cicalengka. Itu yang dilihat Marco di akun media sosial milik Maryam. Marco dan Maryam saling follow akun medsos, walau Maryam jarang membuat postingan, Marco juga begitu. Postingan yang dibuat Maryam kadang-kadang diberi tanda like oleh Marco. Sedangkan postingan terakhir Marco di akun pribadinya, adalah saat dirinya melakukan serah terima jabatan komandan Adventure kepada yuniornya yang bernama Raymond Sanjaya. Postingan itu lewat di beranda akun medsos

    Last Updated : 2024-10-01
  • Mencintai Seorang Climber   bab 06. Kembali ke Rumah Kos

    “Hei, ibu guru sudah pulang!”Maryam tiba di teras rumah kos, disambut teriakan rekan satu kos. Tempat kos itu untuk perempuan. Di sore hari yang basah oleh gerimis, Maryam kembali ke rumah kos, setelah menyelesaikan satu bulan praktik mengajar di kawasan yang cukup jauh dari kampusnya. Sebenarnya Maryam pengin pulang ke kampungnya di Cirebon, tapi dekan FKIP meminta para mahasiswa yang sudah menyelesaikan praktik mengajar, untuk berkumpul di kampus besok siang. Maka Maryam menunda pulang ke Cirebon.“Maaf ya, nggak sempat bawa oleh-oleh.” ujar Maryam. “Tadi setelah terakhir kali mengajar, aku pamit sama orang-orang di sana, terus langsung balik ke sini.”“Nggak apa-apa.”Sebuah gerobak bakso berhenti di depan rumah kos itu. Maryam yang hendak masuk ke kamarnya, menoleh pada Mang Ujo, tukang bakso langganan anak kos. Maryam merasa lapar karena belum makan siang.“Ke mana aja, Mang? Kayaknya sudah seminggu nggak muncul. Pindah rute jualan ya?” tanya salah seorang penghuni kos.“Istri s

    Last Updated : 2024-10-10
  • Mencintai Seorang Climber   bab 07. Menemukan Pistol

    “Eh, siapa kamu?”“Ini aku, Maryam. Kamu mau ngapain ke kampus malam-malam begini, Silvi?”“Aku mau ke homebase, ada barangku yang ketinggalan.”"Kenapa harus loncat pagar?”“Aku nggak masuk lewat gerbang, karena malas ngomong minta dibukain gerbang sama satpam..”“Bisa besok lagi kamu ambil barang yang ketinggalan itu.”“Ya sudahlah, besok aja!” Silvi terlihat marah, lalu kembali memanjat pagar besi. Maryam juga terpaksa manjat lagi sambil menahan rasa sakit pada kakinya. Tak lama mereka sudah ada di trotoar jalan.“Ngapain sih, Mbak ngikutin aku?!” gerutu Silvi sambil duluan jalan, kembali ke gang tempat rumah kos mereka berada. Maryam membuntuti dengan langkah terpincang-pincang.“Heran aja ngelihat kamu ke kampus malam-malam begini. Aku juga terkadang ada barang tertinggal di markas dakwah kampus, aku cari besoknya lagi, nggak malam-malam datang ke kampus.”Silvi merengut sembari terus melangkah masuk gang. Tiba di rumah kos, Silvi mengeluarkan kunci dari saku celana panjangnya, l

    Last Updated : 2024-10-10
  • Mencintai Seorang Climber   bab 08. Dendam

    “Marco itu pembunuh keji!” ucap Silvi.Maryam terdiam sejenak, hatinya tersentak dengan ucapan Silvi tentang Marco. Tentu saja Maryam tak percaya. Maryam bertanya, “Bagaimana cara dia membunuh kakakmu?”“Dijatuhkan dari tebing.”“Hah?!” Maryam makin tercengang. “Apakah kakakmu kuliah di sini?”“Bang Tonny kuliah di PTS lain. Dia atlet panjat tebing dan panjat dinding tingkat nasional. Suatu saat ada latihan gabungan antara seluruh atlet panjat tebing se Jawa Barat, latihannya di Tebing Lawe, di Jawa Tengah. Kemudian … Bang Tonny pulang dalam keranda, diantar rekan-rekannya sesama pemanjat tebing. Menurut mereka, kakakku terjatuh dari tebing, dan kematiannya adalah akibat kecelakaan.""Orang tuaku terpaksa menerima keadaan itu. Tapi setelah kematian Bang Tonny, ayahku jadi murung, merasa nggak punya lagi anak laki-laki yang bisa meneruskan nama keluarga. Setelah itu… ayahku menikah lagi, dengan alasan ingin punya anak laki-laki, karena ibuku sudah terlalu tua untuk melahirkan lagi. Ib

    Last Updated : 2024-10-13
  • Mencintai Seorang Climber   bab 09. Gadis Pantura

    Maryam bergidig melihat cara Silvi bicara. Tampaknya Silvi sudah dibutakan oleh dendam yang berkarat dalam hatinya.Maryam berujar, “Aku akan bicara pada Marco, supaya dia berhati-hati terhadap orang yang dia anggap teman, padahal musuh yang mengejarnya.”“Silakan kamu bilang sama Marco, kalau aku mau bunuh dia!” Silvi malah menantang. “Aku berharap Marco akan percaya ucapanmu, lalu dia terprovokasi, dan suatu saat dia mengintimidasi aku terlebih dahulu! Mungkin dia akan terpancing untuk melakukan penganiayaan terhadap diriku, di hadapan banyak orang! Dengan senang hati, aku akan melaporkan Marco ke polisi, atas berbagai tuduhan, misalnya penganiayaan, atau mengancam keselamatanku. Oh ya, ada tuduhan yang lebih kejam lagi, pelecehan seksual, supaya dia dipermalukan sekalian di hadapan seisi kampus!”Silvi tersenyum penuh kemenangan. Dia betul-betul tak punya lagi rasa takut, biarpun dia melihat Maryam melangkah menuju homebase. Buat Maryam, tingkah Silvi sudah tergolong nekad, mending

    Last Updated : 2024-10-15
  • Mencintai Seorang Climber   bab 10. Mencari Pria Gondrong

    Silvi malah teriak lagi, “Ayo Mbak Maryam, bilang aja terus terang sama dia!” Lantas Silvi duduk santai di bangku kayu, yang ada di teras homebase.“Ada apa?” tanya Marco.Maryam tak tahu harus bicara apa. Ketika sedang berpikir, pandangan Maryam menangkap sosok seorang pedagang yang berjalan masuk ke dalam areal kampus sembari membawa baki. Pedagang itu tiba di depan pintu homebase.Maryam mengenali sosok pedagang itu sebagai Mang Ujo, pedagang bakso yang kerap mampir di tempa kosnya.Maryam berpikir, “Tumben Mang Ujo dagang di kampus, karena biasanya dia jualan keliling. Atau mungkin dia sudah lelah berkeliling, jadi sekarang memilih mangkal di kampus?”“Ini baksonya, A.” Mang Ujo menghampiri Marco dengan membawa baki berisi semangkuk bakso dan segelas jus buah.Marco menoleh pada Mang Ujo. “Oh iya, makasih Mang. Kebetulan saya sudah haus banget.” Marco mengambil gelas berisi jus alpukat pesanannya. Dia menoleh pada Maryam. “Kamu mau bakso? Atau jus buah? Atau dua-duanya? Aku pesa

    Last Updated : 2024-10-15

Latest chapter

  • Mencintai Seorang Climber   bab 163. Kecewa Lagi

    Marco berpikir, "Kayaknya enak kalau siang ini datang ke restoran Sunda, yang ada kolam ikan, lalu ada pondok di tengah kolam itu."Di pondok itulah Marco ingin makan siang, nasi merah hangat plus lauk pauk dicocol ke sambel pedas. Berdua saja, supaya romantis. Marco tahu ada restoran Sunda seperti itu di kawasan Ujungberung.“Kira-kira Maryam mau nggak ya? Kayaknya sih, dia nggak bakal mau kalau diajak naik mobil berduaan saja, terus makan berduaan di pondok tengah empang. Tapi tak ada salahnya mencoba mengajak Maryam. Kalau Maryam tetap tidak mau makan berduaan di saung, ya sudahlah. Berarti makan siang bareng Maryam di rumah makan dekat TK Bunga Bangsa. Menu pedas juga, di warung nasi Padang, yang nggak ada romantis-romantisnya. Tapi biarlah.”Hari Sabtu siang jalanan Kota Bandung macet pada beberapa ruas jalan. Marco sempat mampir ke sebuah toko makanan. Lalu kembali melaju dengan mobilnya. Dia memasuki sebuah jalan, antri dengan kendaraan lain, lalu belok ke sebuah kompleks perum

  • Mencintai Seorang Climber   bab 162. Wisuda

    Setelah mengunci mobilnya, Marco memandang berkeliling halaman parkir dari gedung besar yang bernama Sabuga, atau Sasana Budaya Ganesha, yang menjadi lokasi wisuda. Sudah ratusan mobil berjejer. Para wisudawan diantar oleh keluarga, banyak yang sedang berfoto bersama. Marco membuka lipatan toganya, lalu dikenakan. Dia berjalan menuju gedung tempat acara wisuda akan diselenggarakan. Beberapa orang juru foto khusus membuntutinya, lalu memotretnya beberapa kali. Mereka berharap seusai acara wisuda nanti, para wisudawan dan keluarganya akan membeli foto hasil jepretan mereka. Biasanya memang laris. Karena moment wisuda mungkin cuma satu kali seumur hidup.Marco berbaur dengan rekan-rekannya sesama wisudawan. Tak ada lagi wajah stress karena skripsi yang dirombak habis-habisan oleh dosen pembimbing. Tak ada lagi ekspresi tegang karena menghadapi sidang sarjana. Yang ada cuma luapan keceriaan, kebahagiaan, sumringah, tanpa beban. Untuk sesaat wisuda bisa jadi ajang kegembiraan. Sebelum beso

  • Mencintai Seorang Climber   bab 161.

    Dalam interogasi polisi, Ningrum mengakui bahwa menjelang acara gathering, dirinya yang menghubungi telepon di ruang administrasi, pakai ponselnya. Ningrum menyuruh Maryam menerima telepon yang terus berdering itu. Saat Maryam pergi untuk angkat telepon, dan yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, Ningrum membubuhkan sedikit obat pembasmi rayap ke dalam krim penghias kue black forest. Rencananya Ningrum akan membuat kondisi keracunan masal. Jika puluhan orang keracunan, kondisi tiap orang akan berbeda-beda, ada yang cepat pulih, ada yang parah, dan bisa juga ada yang sampai meninggal, tergantung ketahanan tubuh masing-masing. Jadi jika ada seorang tamu acara gathering yang sampai meninggal, mungkin dokter dan polisi akan mengira kalau korban meninggal karena kondisi fisiknya tidak kuat dengan racun pada black forest.Padahal sebetulnya Ningrum sudah menyiapkan racun dalam hidangan lain. Dia membeli segelas sirup jeruk, persis sama dengan yang dibeli Rina untuk acara gathering.

  • Mencintai Seorang Climber   bab 160. Seperti Sleeping Beauty

    Maryam memandang ke samping tempatnya berbaring, ada Hanif dan Vera. “Di mana ibuku?” tanyanya.“Pulang ke tempat kos kamu, bersama adik perempuanmu.” jawab Hanif.“Kamu mau makan? Biar aku yang menyuapi ya?” tanya Vera.“Nanti saja.”“Atau… kamu mau bicara dengan… Marco? Dia ada di depan.”Maryam malah berbalik sehingga posisi berbaringnya jadi membelakangi Hanif dan Vera. “Aku capek, mau tidur saja.”“Jangan tidur terus Maryam, makanlah sedikit saja.” bujuk Vera. "Aku ngantuk banget, mau tidur dulu sebentar saja." Maryam memejamkan matanya.Hanif lantas pamit pulang. Di koridor dia bertemu Marco.“Maryam baru saja tidur lagi.”“Ya sudahlah, aku pulang saja.” Marco akhirnya pulang juga, teringat mamanya yang mengajak makan malam bersama di sebuah restoran. Jarang sekali Marco bisa makan bersama orang tuanya, makanya dia bergegas pergi untuk menemui mamanya. Vera juga pulang, saat rekan-rekan Maryam dari tempat kos datang.“Maryam, kita sudah minta izin sama ibumu supaya bisa jagai

  • Mencintai Seorang Climber   bab 159. Penyesalan

    Inspektur Ekky bertanya pada Maryam, “Apakah Anda pernah meninggalkan obat-obatan itu, sehingga ada orang yang punya kesempatan untuk menukarnya?”Maryam mengingat-ingat kejadian sebelum dirinya tak sadar. “Saat itu saya ke poliklinik untuk berobat, diantar oleh Bu Ningrum. Setelah dari ruang periksa dokter, Bu Ningrum menyuruh saya duduk saja di ruang tunggu, dia yang membawa resep ke loket di klinik itu. Bu Ningrum yang ambil obat, dan membayar biayanya. Lalu saya kembali ke TK, sedangkan obat itu … dibawa oleh Bu Ningrum. Saya berbaring di ruang P3K. lantas Bu Ningrum datang, memberikan bungkusan berisi obat untuk saya. Obat itu baru saya minum setelah pulang ke tempat kos.”“Mungkin ada yang menukar obat-obatan itu. Kami curiga yang melakukannya adalah seseorang di TKIT Bunga Bangsa. Jika orang itu tahu bahwa hari ini Anda masih hidup, mungkin dia akan datang ke sini berpura-pura menjenguk Anda. Kita susun rencana untuk menjebaknya.”Lalu disusunlah skenario untuk menjebak Ningru

  • Mencintai Seorang Climber   bab 158. Kliping Koran

    Polisi segera mencari arsip kasus kematian Ilham Ramadhan, dan menemukan bahwa ibunya Ilham bernama Ningrum. Polisi kemudian mewawancarai Maryam seputar temuan itu. Zakki juga menyimak pemeriksaan polisi terhadap Maryam.“Waktu itu saya menjenguk Bu Ningrum, karena beliau sakit dan tidak masuk kerja.” ujar Maryam. “Saya datang ke rumahnya sepulang kerja. Saya menginap di sana, karena hujan lebat, dan saya juga merasa tidak enak badan. Pagi harinya saat Bu Ningrum sedang mandi, saya membuka laci meja riasnya, untuk mencari jarum dan benang. Lipatan baju saya robek, dan saya ingin menjahitnya. Di dalam laci itu saya menemukan kliping koran.”Maryam lanjut bertutur, “Tadinya saya kira kliping resep masakan, karena biasanya wanita suka mengumpulkan resep masakan dari koran dan majalah. Ternyata… itu kliping tentang… kasus kematian Ilham Ramadhan. Saya menemukan nama ZW sebagai salah satu tersangka yang menyebabkan Ilham tewas. Mulanya saya tidak tahu, siapa itu ZW. Tapi… kemudian dalam kl

  • Mencintai Seorang Climber   bab 157. Penangkapan

    “AGH!” Ningrum terjengkang saat sebuah t3ndangan mengh@jar perutnya. Wanita separo abad itu berusaha bangkit, lalu menatap ke arah sang pasien. Dia tercengang.Pasien yang tadinya terbaring diam, sekarang duduk tegak di ranjang sambil menodongkan sepucuk pistol ke arahnya. Wanita muda itu bukan Maryam! Dengan tangkas, wanita muda itu meringkus Ningrum, lalu memborgolnya.“Siapa kamu?” suara Ningrum parau.“Briptu. Karlina dari Polrestabes Bandung! Saudari Ningrum, Anda ditahan atas tuduhan pembvnuhan berencana terhadap Valentina Chairunnisa Wiratama, dan melakukan peracunan massal dengan sengaja pada acara gathering di TKIT Bunga Bangsa!”“Di mana Maryam?” Suara Ningrum menggigil ketakutan.“Ada di tempat lain!”“Apakah … apakah Maryam sudah sembuh? Atau … sudah ….”Polwan yang menyamar jadi pasien itu tidak lagi peduli pada pertanyaan Ningrum, dia mengambil handy Talkie, dan bicara. “Target sudah diamankan.”Empat orang pria masuk ke ruangan itu, terdiri dari seorang dokter, seorang

  • Mencintai Seorang Climber   bab 156. Ketika Sadar

    Hanif geleng-geleng kepala. “Kalau di depanku Maryam kelihatan baik-baik saja, tegar, dan katanya dia sudah tidak peduli lagi sama Marco.” Hanif mengeluarkan ponselnya. “Biar aku sampaikan semua itu kepada Marco. Dia harus tahu, karena mungkin dia penyebab semua kejadian ini.”“Nanti Bang Marco bakal merasa bersalah….” ujar Nuri.“Biar saja. Saya sudah eneg sama kelakuan dia!” Hanif tampaknya kesal. Dan saat ponselnya sudah terhubung dengan nomor Marco, dia bicara. “Marco, ente ada di mana?”“Di kampus.”“Ente sudah tahu, kenapa Maryam sampai pingsan?”“Kenapa memangnya?”“Kata polisi Maryam sengaja menelan obat penenang melebihi dosis. Ada juga surat pamitannya. Dia mau bvnuh diri, karena batal menikah… dengan ente!”“Jangan main-main Nif! Gue lagi pusing nih, sebentar lagi mau masuk ke ruang ujian!”“Ini serius Marco! Semua fakta yang ditemukan polisi memang menunjukkan kalau Maryam mau bvnuh diri! Nuri juga sudah melihat surat yang ditulis Maryam, dan Nuri yakin kalau itu memang tu

  • Mencintai Seorang Climber   bab 155. Over Dosis Obat

    Di rumah sakit, Maryam dibawa ke bangsal IGD. Dokter bertanya, sejak kapan pasien tidak sadarkan diri? Apa yang baru saja dimakannya? Apakah pasien punya penyakit? Apakah dia berada di tempat terbuka yang bersuhu rendah? Dan beberapa pertanyaan lain, yang sulit dijawab oleh para pengantar, karena tidak tahu.Kondisi Maryam terus menurun, sehingga dokter mengatakan bahwa Maryam akan dipindah dari IGD ke ruang ICU. Dengan tangan gemetar Marco menandatangani berkas rumah sakit. Baru pertama kali dalam hidupnya, dia membubuhkan tanda tangan sebagai penanggung jawab pasien. Lantas dia memberikan kartu ATM miliknya untuk digesek, membayar deposit biaya perawatan sebesar 500 ribu rupiah. Marco diminta ke ruang dokter. Ternyata dokter itu mengatakan bahwa pihak rumah sakit akan melaporkan kasus itu kepada polisi, supaya ada pemeriksaan resmi. Agar semuanya menjadi lebih jelas, apa yang sesungguhnya terjadi pada Maryam."Ya, silakan Dokter." jawab Marco.Ibu kos dan anak-anak kos sudah pulan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status