Home / Romansa / Mencintai Seorang Climber / bab 03. Dianggap Tidak Ada

Share

bab 03. Dianggap Tidak Ada

last update Last Updated: 2024-09-30 21:34:00

Setelah itu, Marco kerap beli peyek buatan Maryam, sebelum dikirim ke kantin. Katanya peyek itu buat teman makan nasi kalau di rumah, kadang jadi cemilan saat dia sedang mengerjakan tugas kuliah. Maryam tentu senang punya pelanggan tetap yang selalu membeli peyeknya dalam jumlah cukup banyak.

Kadang-kadang Marco mengajak Maryam ngobrol cukup banyak, tentang kampung halaman Maryam di Cirebon. Marco minta dicarikan baju batik khas Cirebon, yang dibuat oleh wong Cirebon, katanya dia pengin pakai baju batik buat acara keluarga besarnya. Maryam mencari di pengrajin batik, di wilayah Trusmi. Dikirimkannya beberapa foto baju batik beraneka motif, ke nomor WA Marco. Sekalian dengan informasi harga. Maryam mengirim gambar baju batik dari yang cukup murah, menengah, dan mahal.

Motif batik yang dipilih Maryam adalah yang khas Cirebon, seperti motif mega mendung, singa barong, dan paksi naga liman. Ternyata Marco menyukai motif batik tersebut, lantas mentransfer sejumlah uang ke rekening Maryam, untuk membeli tiga kemeja batik, yang harganya menengah. Maryam memberikan barang pesanan itu di kampus, sekalian dengan sisa uang. Marco tidak mau mengambil sisa uangnya, walau sisa uang itu masih sekitar 135 ribu, katanya itu buat ganti ongkos Maryam ke Kawasan Trusmi.

Maryam jadi punya ide untuk menawarkan jasa titip batik ke rekan-rekannya. Lumayanlah, sebulan sekali Maryam pulang ke Cirebon, selalu ada saja yang titip batik. Maryam tidak menaikkan harga terlalu tinggi, cukuplah ada ganti ongkos dan sedikit laba. Hasilnya sebagian ditabung. Hingga saat Maryam menapaki semester VI, dia sudah bisa membeli laptop, walau second. Maryam tidak perlu lagi menahan rasa malu ketika pinjam laptop milik markas dakwah kampus. Dia sudah bisa tenang saat mengerjakan tugas, dan kelak bikin skripsi, dengan laptop miliknya sendiri.

Sekarang Maryam sudah di tingkat akhir, urusannya dengan Marco masih sebatas peyek kacang dan teri. Namun hati Maryam sulit menolak pandangannya yang terpesona juga dengan pemanjat tebing andalan kampusnya itu.

“Salahkah aku jika menyimpan rasa suka pada dirinya? Karena di mataku Marco itu orang yang baik. Tidak pernah ada sikapnya yang membuatku kesal. Tapi mau sampai kapan aku melamunkan dirinya? Ujung-ujungnya hanya halu. Ya Allah, aku nggak sanggup kalau terus saja mencintai seseorang … tapi orang itu nggak mungkin aku raih karena aku dan dia terlalu jauh berbeda dari segi ekonomi keluarga. Jangan biarkan aku patah hati, ya Allah, karena aku takut tidak sanggup menanggung rasa sakitnya. Singkirkan Marco dari pikiranku, dari hatiku. Biarkan saja hatiku hampa, daripada penuh dengan harapan semu.”

***

“Aku mau mati sebagai climber!”

“Lekas turun dari situ! Lo sudah gila ya?!”

“Jangan halangi aku! Mending aku mati sebagai climber!”

“Tidak! Jangaaan ....!”

Suara alarm berbunyi nyaring. Seorang pria muda terbangun dari mimpi buruk. Sepi dan gelap. Alarm pada ponselnya sudah biasa distel untuk berbunyi pada jam 05:00, maksudnya supaya dia ingat menunaikan shalat shubuh.

“Marco, matikan atuh alarmnya … berisik.” ujar rekannya yang tidur bersama dalam tenda.

Pria muda bernama Marco itu merangkak ke luar dari tenda sembari membawa ponselnya. Marco dan rekan-rekannya baru saja beristirahat pada jam dua dini hari, setelah semalam bikin acara jurit malam dan api unggun untuk para anggota yunior dari organisasi pencinta alam kampusnya. Saat ini mereka berada di kawasan karst Citatah, Kabupaten Bandung. Marco bersama rombongan datang ke situ sejak kemarin siang untuk pelatihan panjat tebing bagi anggota yunior. Latihan usai saat hari mulai gelap, dan mereka bermalam di situ.

Hari masih gelap. Marco masih mengantuk, namun dia enggan masuk tenda lagi karena berdesakan. Di dalam tenda itu ada empat orang laki-laki yang sedang menggeletak, anggota senior dan yuniornya. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Marco duduk di luar tenda. Dikenakannya jaket parka untuk menahan hawa dingin udara subuh.

Marco mengeluarkan ponsel untuk melihat notifikasi, siapa tahu ada pesan penting dari keluarganya. Ternyata tidak ada. Lantas dia melihat media sosial. Dia melihat postingan dari akun seorang mahasiswi yang saling follow dengannya. Marco tersenyum tipis saat melihat unggahan mahasiswi itu, sedang praktik mengajar di sebuah sekolah yang cukup jauh dari kampus.

“Ibu guru Maryam.” Hanya itu komentar yang diketik Marco, lantas diberi emoticon love.

Saat hari sudah terang, Marco dan rekan-rekannya membereskan bekas camping. Selain membongkar tenda, mereka juga mengemasi sampah bekas makanan dan minuman. Yang paling penting untuk dikerjakan adalah memastikan tidak ada bara sisa pembakaran dan puntung rokok yang masih menyala.

Komandan organisasi pencinta alam yang memimpin rombongan itu bernama Raymond, dia mengabsen para peserta pelatihan, yaitu 17 orang anggota yunior. Walaupun tidak semua anggota yunior itu punya cukup nyali untuk memanjat tebing sungguhan, tapi para senior yang jadi instruktur tidak memaksa. Yang berani saja yang berlatih climbing, yang kurang nyali dilatih tali temali. Latihan akan diulang dua minggu mendatang di tempat yang sama, yaitu tebing 48 meter.

Setelah acara mengabsen, Raymond membubarkan barisan. Dia tidak mengabsen nama Marco. Padahal Marco adalah salah seorang instruktur pelatihan panjat tebing itu.

Cepi, salah seorang pemanjat senior, berbisik pada Marco. “Lo kagak diabsen, mungkin lo cuma dianggap laler yang ngikutin acara ini.”

Marco tentu saja geram dengan sikap Raymond, tapi dia tidak protes. Dia sudah tahu kenapa Raymond bersikap begitu terhadap dirinya. Marco tahu jika Raymond tidak suka padanya, dan tidak pernah berusaha menutupi ketidaksukaan itu.

Marco menggendong ransel di punggung, berjalan beriringan dengan rombongan untuk meninggalkan Citatah. Mereka melewati dinding-dinding batu kapur, berpapasan dengan para pekerja yang hendak menambang batu kapur itu. Para penambang batu tradisional, yang harus bersaing dengan mesin-mesin besar milik pabrik, untuk berlomba mengeruk dinding karst Citatah setiap harinya. Marco berpikir, suatu saat karst Citatah akan habis digerus, dan hilanglah tebing-tebing panjatan yang jadi kebanggaan para climber Bandung.

Akhirnya mereka tiba di jalan raya. Raymond mengambil mobil jeep miliknya yang sejak kemarin pagi dititipkan di sebuah bengkel. Beberapa orang anggota Adventure yang perempuan turut dengan Raymond. Sisanya naik mobil yang dibawa rekannya, ada juga yang boncengan motor. Semua pulang bersama, kecuali Marco dan Cepi yang masih duduk di sebuah warung, sedang makan ketan bakar yang dicocol ke sambal oncom dan serundeng.

“Bang Marco, Bang Cepi, kita duluan ya.” Pamit beberapa anggota yunior. Mereka masih menghargai Marco sebagai mantan komandan UKM pencinta alam.

“Hati-hati di jalan.” Marco dan Cepi mengangkat tangan, membalas ucapan pamit mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Mencintai Seorang Climber   bab 04. Mimpi Buruk Sang Climber

    Setelah rombongan itu pergi, Marco bicara. “Gue mimpi lagi .... ketemu Tonny ... dia terus saja bilang ... aku mau mati sebagai climber.”Cepi menjawab lirih, “Jangan dipikirin terus. Semua sudah berakhir, Bro. Nggak ada lagi yang bisa lo perbuat untuk Tonny.”Marco bertanya dalam hati, Kapan ya, pertama kali datangnya mimpi itu? Mimpi buruk tentang sebuah pemanjatan di tebing, bersama seorang rekan bernama Tonny. Dalam mimpinya, Tonny sesumbar, “Aku mau mati sebagai climber!”Dulu ... sekitar tiga tahun lalu mimpi buruk itu berawal, tapi kemudian Marco merasa semua bakal pulih seperti sedia kala, termasuk hatinya. Namun sekarang, setelah bertahun lewat, mimpi buruk itu datang lagi. Marco merasa, mimpi itu datang karena ada kaitannya dengan seseorang yang masuk dalam organisasi pencinta alam kampus. Tepatnya, seorang mahasiswi, adik kelasnya, yang masuk menjadi anggota Adventure setahun lalu. Gadis itu bernama Silvi. Sejak Silvi masuk ke organisasi Adventure, Marco kembali mengalami

    Last Updated : 2024-10-01
  • Mencintai Seorang Climber   bab 05. Komandan Baru yang Arogan

    Gadis itu punya nama lengkap Maryam Nur Asyifa, penampilannya sederhana, pakaian dan jilbabnya dari bahan yang murah, dan berwarna gelap. Wajahnya selalu polos tanpa make up. Namun di balik kesederhanaan itu, sebenarnya Maryam berparas cantik, dengan kulit kuning langsat. Saat dia tersenyum ada lekuk mungil di pipinya, giginya rapi dan bersih, matanya bulat bening. Tubuhnya tinggi semampai. Saat ini Maryam sudah memasuki tahun ke empat masa kuliah. Maryam tidak sempat jualan peyek, karena sibuk praktik mengajar di sebuah SMP, di Cicalengka. Itu yang dilihat Marco di akun media sosial milik Maryam. Marco dan Maryam saling follow akun medsos, walau Maryam jarang membuat postingan, Marco juga begitu. Postingan yang dibuat Maryam kadang-kadang diberi tanda like oleh Marco. Sedangkan postingan terakhir Marco di akun pribadinya, adalah saat dirinya melakukan serah terima jabatan komandan Adventure kepada yuniornya yang bernama Raymond Sanjaya. Postingan itu lewat di beranda akun medsos

    Last Updated : 2024-10-01
  • Mencintai Seorang Climber   bab 06. Kembali ke Rumah Kos

    “Hei, ibu guru sudah pulang!”Maryam tiba di teras rumah kos, disambut teriakan rekan satu kos. Tempat kos itu untuk perempuan. Di sore hari yang basah oleh gerimis, Maryam kembali ke rumah kos, setelah menyelesaikan satu bulan praktik mengajar di kawasan yang cukup jauh dari kampusnya. Sebenarnya Maryam pengin pulang ke kampungnya di Cirebon, tapi dekan FKIP meminta para mahasiswa yang sudah menyelesaikan praktik mengajar, untuk berkumpul di kampus besok siang. Maka Maryam menunda pulang ke Cirebon.“Maaf ya, nggak sempat bawa oleh-oleh.” ujar Maryam. “Tadi setelah terakhir kali mengajar, aku pamit sama orang-orang di sana, terus langsung balik ke sini.”“Nggak apa-apa.”Sebuah gerobak bakso berhenti di depan rumah kos itu. Maryam yang hendak masuk ke kamarnya, menoleh pada Mang Ujo, tukang bakso langganan anak kos. Maryam merasa lapar karena belum makan siang.“Ke mana aja, Mang? Kayaknya sudah seminggu nggak muncul. Pindah rute jualan ya?” tanya salah seorang penghuni kos.“Istri s

    Last Updated : 2024-10-10
  • Mencintai Seorang Climber   bab 07. Menemukan Pistol

    “Eh, siapa kamu?”“Ini aku, Maryam. Kamu mau ngapain ke kampus malam-malam begini, Silvi?”“Aku mau ke homebase, ada barangku yang ketinggalan.”"Kenapa harus loncat pagar?”“Aku nggak masuk lewat gerbang, karena malas ngomong minta dibukain gerbang sama satpam..”“Bisa besok lagi kamu ambil barang yang ketinggalan itu.”“Ya sudahlah, besok aja!” Silvi terlihat marah, lalu kembali memanjat pagar besi. Maryam juga terpaksa manjat lagi sambil menahan rasa sakit pada kakinya. Tak lama mereka sudah ada di trotoar jalan.“Ngapain sih, Mbak ngikutin aku?!” gerutu Silvi sambil duluan jalan, kembali ke gang tempat rumah kos mereka berada. Maryam membuntuti dengan langkah terpincang-pincang.“Heran aja ngelihat kamu ke kampus malam-malam begini. Aku juga terkadang ada barang tertinggal di markas dakwah kampus, aku cari besoknya lagi, nggak malam-malam datang ke kampus.”Silvi merengut sembari terus melangkah masuk gang. Tiba di rumah kos, Silvi mengeluarkan kunci dari saku celana panjangnya, l

    Last Updated : 2024-10-10
  • Mencintai Seorang Climber   bab 08. Dendam

    “Marco itu pembunuh keji!” ucap Silvi.Maryam terdiam sejenak, hatinya tersentak dengan ucapan Silvi tentang Marco. Tentu saja Maryam tak percaya. Maryam bertanya, “Bagaimana cara dia membunuh kakakmu?”“Dijatuhkan dari tebing.”“Hah?!” Maryam makin tercengang. “Apakah kakakmu kuliah di sini?”“Bang Tonny kuliah di PTS lain. Dia atlet panjat tebing dan panjat dinding tingkat nasional. Suatu saat ada latihan gabungan antara seluruh atlet panjat tebing se Jawa Barat, latihannya di Tebing Lawe, di Jawa Tengah. Kemudian … Bang Tonny pulang dalam keranda, diantar rekan-rekannya sesama pemanjat tebing. Menurut mereka, kakakku terjatuh dari tebing, dan kematiannya adalah akibat kecelakaan.""Orang tuaku terpaksa menerima keadaan itu. Tapi setelah kematian Bang Tonny, ayahku jadi murung, merasa nggak punya lagi anak laki-laki yang bisa meneruskan nama keluarga. Setelah itu… ayahku menikah lagi, dengan alasan ingin punya anak laki-laki, karena ibuku sudah terlalu tua untuk melahirkan lagi. Ib

    Last Updated : 2024-10-13
  • Mencintai Seorang Climber   bab 09. Gadis Pantura

    Maryam bergidig melihat cara Silvi bicara. Tampaknya Silvi sudah dibutakan oleh dendam yang berkarat dalam hatinya.Maryam berujar, “Aku akan bicara pada Marco, supaya dia berhati-hati terhadap orang yang dia anggap teman, padahal musuh yang mengejarnya.”“Silakan kamu bilang sama Marco, kalau aku mau bunuh dia!” Silvi malah menantang. “Aku berharap Marco akan percaya ucapanmu, lalu dia terprovokasi, dan suatu saat dia mengintimidasi aku terlebih dahulu! Mungkin dia akan terpancing untuk melakukan penganiayaan terhadap diriku, di hadapan banyak orang! Dengan senang hati, aku akan melaporkan Marco ke polisi, atas berbagai tuduhan, misalnya penganiayaan, atau mengancam keselamatanku. Oh ya, ada tuduhan yang lebih kejam lagi, pelecehan seksual, supaya dia dipermalukan sekalian di hadapan seisi kampus!”Silvi tersenyum penuh kemenangan. Dia betul-betul tak punya lagi rasa takut, biarpun dia melihat Maryam melangkah menuju homebase. Buat Maryam, tingkah Silvi sudah tergolong nekad, mending

    Last Updated : 2024-10-15
  • Mencintai Seorang Climber   bab 10. Mencari Pria Gondrong

    Silvi malah teriak lagi, “Ayo Mbak Maryam, bilang aja terus terang sama dia!” Lantas Silvi duduk santai di bangku kayu, yang ada di teras homebase.“Ada apa?” tanya Marco.Maryam tak tahu harus bicara apa. Ketika sedang berpikir, pandangan Maryam menangkap sosok seorang pedagang yang berjalan masuk ke dalam areal kampus sembari membawa baki. Pedagang itu tiba di depan pintu homebase.Maryam mengenali sosok pedagang itu sebagai Mang Ujo, pedagang bakso yang kerap mampir di tempa kosnya.Maryam berpikir, “Tumben Mang Ujo dagang di kampus, karena biasanya dia jualan keliling. Atau mungkin dia sudah lelah berkeliling, jadi sekarang memilih mangkal di kampus?”“Ini baksonya, A.” Mang Ujo menghampiri Marco dengan membawa baki berisi semangkuk bakso dan segelas jus buah.Marco menoleh pada Mang Ujo. “Oh iya, makasih Mang. Kebetulan saya sudah haus banget.” Marco mengambil gelas berisi jus alpukat pesanannya. Dia menoleh pada Maryam. “Kamu mau bakso? Atau jus buah? Atau dua-duanya? Aku pesa

    Last Updated : 2024-10-15
  • Mencintai Seorang Climber   bab 11. Jus Alpukat

    Marco masuk ke dalam homebase, meletakkan ranselnya. Sedangkan para penghuni homebase pura-pura kembali pada aktivitasnya semula, sambil menunggu reaksi Marco. Akan tetapi Marco malah membuka lemari, mengorek-ngorek isinya. “Cari apa lo?” tanya Raymond. “Tambang yang merah ada di mana?” Marco menyahut dengan tanya juga. “Itu tambang bukan punya kita, gue pinjam dari Skyger, mau gue balikin. Ada di mana?” “Di dalam peti.” jawab Raymond, lalu dia memberi isyarat pada temannya. Temannya Raymond bicara, “Bang, tuh bakso sama jus alpukat, barusan diantarin pedagangnya. Katanya buat Abang ya?” Marco berjalan mendekati meja, lalu membuka kertas penutup gelas, mengangkat gelas itu, dan meminumnya…. Matanya melotot. Secepat kilat dia berlari ke luar, lalu muntah-muntah di selokan kecil samping homebase. Seisi homebase terbahak-bahak. Dari luar terdengar beraneka ragam sumpah serapah dari mulut Marco. Lantas Marco masuk lagi ke homebase dengan gelas kosong di tangan. Jus mengkudu itu sud

    Last Updated : 2024-10-16

Latest chapter

  • Mencintai Seorang Climber   bab 163. Kecewa Lagi

    Marco berpikir, "Kayaknya enak kalau siang ini datang ke restoran Sunda, yang ada kolam ikan, lalu ada pondok di tengah kolam itu."Di pondok itulah Marco ingin makan siang, nasi merah hangat plus lauk pauk dicocol ke sambel pedas. Berdua saja, supaya romantis. Marco tahu ada restoran Sunda seperti itu di kawasan Ujungberung.“Kira-kira Maryam mau nggak ya? Kayaknya sih, dia nggak bakal mau kalau diajak naik mobil berduaan saja, terus makan berduaan di pondok tengah empang. Tapi tak ada salahnya mencoba mengajak Maryam. Kalau Maryam tetap tidak mau makan berduaan di saung, ya sudahlah. Berarti makan siang bareng Maryam di rumah makan dekat TK Bunga Bangsa. Menu pedas juga, di warung nasi Padang, yang nggak ada romantis-romantisnya. Tapi biarlah.”Hari Sabtu siang jalanan Kota Bandung macet pada beberapa ruas jalan. Marco sempat mampir ke sebuah toko makanan. Lalu kembali melaju dengan mobilnya. Dia memasuki sebuah jalan, antri dengan kendaraan lain, lalu belok ke sebuah kompleks perum

  • Mencintai Seorang Climber   bab 162. Wisuda

    Setelah mengunci mobilnya, Marco memandang berkeliling halaman parkir dari gedung besar yang bernama Sabuga, atau Sasana Budaya Ganesha, yang menjadi lokasi wisuda. Sudah ratusan mobil berjejer. Para wisudawan diantar oleh keluarga, banyak yang sedang berfoto bersama. Marco membuka lipatan toganya, lalu dikenakan. Dia berjalan menuju gedung tempat acara wisuda akan diselenggarakan. Beberapa orang juru foto khusus membuntutinya, lalu memotretnya beberapa kali. Mereka berharap seusai acara wisuda nanti, para wisudawan dan keluarganya akan membeli foto hasil jepretan mereka. Biasanya memang laris. Karena moment wisuda mungkin cuma satu kali seumur hidup.Marco berbaur dengan rekan-rekannya sesama wisudawan. Tak ada lagi wajah stress karena skripsi yang dirombak habis-habisan oleh dosen pembimbing. Tak ada lagi ekspresi tegang karena menghadapi sidang sarjana. Yang ada cuma luapan keceriaan, kebahagiaan, sumringah, tanpa beban. Untuk sesaat wisuda bisa jadi ajang kegembiraan. Sebelum beso

  • Mencintai Seorang Climber   bab 161.

    Dalam interogasi polisi, Ningrum mengakui bahwa menjelang acara gathering, dirinya yang menghubungi telepon di ruang administrasi, pakai ponselnya. Ningrum menyuruh Maryam menerima telepon yang terus berdering itu. Saat Maryam pergi untuk angkat telepon, dan yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, Ningrum membubuhkan sedikit obat pembasmi rayap ke dalam krim penghias kue black forest. Rencananya Ningrum akan membuat kondisi keracunan masal. Jika puluhan orang keracunan, kondisi tiap orang akan berbeda-beda, ada yang cepat pulih, ada yang parah, dan bisa juga ada yang sampai meninggal, tergantung ketahanan tubuh masing-masing. Jadi jika ada seorang tamu acara gathering yang sampai meninggal, mungkin dokter dan polisi akan mengira kalau korban meninggal karena kondisi fisiknya tidak kuat dengan racun pada black forest.Padahal sebetulnya Ningrum sudah menyiapkan racun dalam hidangan lain. Dia membeli segelas sirup jeruk, persis sama dengan yang dibeli Rina untuk acara gathering.

  • Mencintai Seorang Climber   bab 160. Seperti Sleeping Beauty

    Maryam memandang ke samping tempatnya berbaring, ada Hanif dan Vera. “Di mana ibuku?” tanyanya.“Pulang ke tempat kos kamu, bersama adik perempuanmu.” jawab Hanif.“Kamu mau makan? Biar aku yang menyuapi ya?” tanya Vera.“Nanti saja.”“Atau… kamu mau bicara dengan… Marco? Dia ada di depan.”Maryam malah berbalik sehingga posisi berbaringnya jadi membelakangi Hanif dan Vera. “Aku capek, mau tidur saja.”“Jangan tidur terus Maryam, makanlah sedikit saja.” bujuk Vera. "Aku ngantuk banget, mau tidur dulu sebentar saja." Maryam memejamkan matanya.Hanif lantas pamit pulang. Di koridor dia bertemu Marco.“Maryam baru saja tidur lagi.”“Ya sudahlah, aku pulang saja.” Marco akhirnya pulang juga, teringat mamanya yang mengajak makan malam bersama di sebuah restoran. Jarang sekali Marco bisa makan bersama orang tuanya, makanya dia bergegas pergi untuk menemui mamanya. Vera juga pulang, saat rekan-rekan Maryam dari tempat kos datang.“Maryam, kita sudah minta izin sama ibumu supaya bisa jagai

  • Mencintai Seorang Climber   bab 159. Penyesalan

    Inspektur Ekky bertanya pada Maryam, “Apakah Anda pernah meninggalkan obat-obatan itu, sehingga ada orang yang punya kesempatan untuk menukarnya?”Maryam mengingat-ingat kejadian sebelum dirinya tak sadar. “Saat itu saya ke poliklinik untuk berobat, diantar oleh Bu Ningrum. Setelah dari ruang periksa dokter, Bu Ningrum menyuruh saya duduk saja di ruang tunggu, dia yang membawa resep ke loket di klinik itu. Bu Ningrum yang ambil obat, dan membayar biayanya. Lalu saya kembali ke TK, sedangkan obat itu … dibawa oleh Bu Ningrum. Saya berbaring di ruang P3K. lantas Bu Ningrum datang, memberikan bungkusan berisi obat untuk saya. Obat itu baru saya minum setelah pulang ke tempat kos.”“Mungkin ada yang menukar obat-obatan itu. Kami curiga yang melakukannya adalah seseorang di TKIT Bunga Bangsa. Jika orang itu tahu bahwa hari ini Anda masih hidup, mungkin dia akan datang ke sini berpura-pura menjenguk Anda. Kita susun rencana untuk menjebaknya.”Lalu disusunlah skenario untuk menjebak Ningru

  • Mencintai Seorang Climber   bab 158. Kliping Koran

    Polisi segera mencari arsip kasus kematian Ilham Ramadhan, dan menemukan bahwa ibunya Ilham bernama Ningrum. Polisi kemudian mewawancarai Maryam seputar temuan itu. Zakki juga menyimak pemeriksaan polisi terhadap Maryam.“Waktu itu saya menjenguk Bu Ningrum, karena beliau sakit dan tidak masuk kerja.” ujar Maryam. “Saya datang ke rumahnya sepulang kerja. Saya menginap di sana, karena hujan lebat, dan saya juga merasa tidak enak badan. Pagi harinya saat Bu Ningrum sedang mandi, saya membuka laci meja riasnya, untuk mencari jarum dan benang. Lipatan baju saya robek, dan saya ingin menjahitnya. Di dalam laci itu saya menemukan kliping koran.”Maryam lanjut bertutur, “Tadinya saya kira kliping resep masakan, karena biasanya wanita suka mengumpulkan resep masakan dari koran dan majalah. Ternyata… itu kliping tentang… kasus kematian Ilham Ramadhan. Saya menemukan nama ZW sebagai salah satu tersangka yang menyebabkan Ilham tewas. Mulanya saya tidak tahu, siapa itu ZW. Tapi… kemudian dalam kl

  • Mencintai Seorang Climber   bab 157. Penangkapan

    “AGH!” Ningrum terjengkang saat sebuah t3ndangan mengh@jar perutnya. Wanita separo abad itu berusaha bangkit, lalu menatap ke arah sang pasien. Dia tercengang.Pasien yang tadinya terbaring diam, sekarang duduk tegak di ranjang sambil menodongkan sepucuk pistol ke arahnya. Wanita muda itu bukan Maryam! Dengan tangkas, wanita muda itu meringkus Ningrum, lalu memborgolnya.“Siapa kamu?” suara Ningrum parau.“Briptu. Karlina dari Polrestabes Bandung! Saudari Ningrum, Anda ditahan atas tuduhan pembvnuhan berencana terhadap Valentina Chairunnisa Wiratama, dan melakukan peracunan massal dengan sengaja pada acara gathering di TKIT Bunga Bangsa!”“Di mana Maryam?” Suara Ningrum menggigil ketakutan.“Ada di tempat lain!”“Apakah … apakah Maryam sudah sembuh? Atau … sudah ….”Polwan yang menyamar jadi pasien itu tidak lagi peduli pada pertanyaan Ningrum, dia mengambil handy Talkie, dan bicara. “Target sudah diamankan.”Empat orang pria masuk ke ruangan itu, terdiri dari seorang dokter, seorang

  • Mencintai Seorang Climber   bab 156. Ketika Sadar

    Hanif geleng-geleng kepala. “Kalau di depanku Maryam kelihatan baik-baik saja, tegar, dan katanya dia sudah tidak peduli lagi sama Marco.” Hanif mengeluarkan ponselnya. “Biar aku sampaikan semua itu kepada Marco. Dia harus tahu, karena mungkin dia penyebab semua kejadian ini.”“Nanti Bang Marco bakal merasa bersalah….” ujar Nuri.“Biar saja. Saya sudah eneg sama kelakuan dia!” Hanif tampaknya kesal. Dan saat ponselnya sudah terhubung dengan nomor Marco, dia bicara. “Marco, ente ada di mana?”“Di kampus.”“Ente sudah tahu, kenapa Maryam sampai pingsan?”“Kenapa memangnya?”“Kata polisi Maryam sengaja menelan obat penenang melebihi dosis. Ada juga surat pamitannya. Dia mau bvnuh diri, karena batal menikah… dengan ente!”“Jangan main-main Nif! Gue lagi pusing nih, sebentar lagi mau masuk ke ruang ujian!”“Ini serius Marco! Semua fakta yang ditemukan polisi memang menunjukkan kalau Maryam mau bvnuh diri! Nuri juga sudah melihat surat yang ditulis Maryam, dan Nuri yakin kalau itu memang tu

  • Mencintai Seorang Climber   bab 155. Over Dosis Obat

    Di rumah sakit, Maryam dibawa ke bangsal IGD. Dokter bertanya, sejak kapan pasien tidak sadarkan diri? Apa yang baru saja dimakannya? Apakah pasien punya penyakit? Apakah dia berada di tempat terbuka yang bersuhu rendah? Dan beberapa pertanyaan lain, yang sulit dijawab oleh para pengantar, karena tidak tahu.Kondisi Maryam terus menurun, sehingga dokter mengatakan bahwa Maryam akan dipindah dari IGD ke ruang ICU. Dengan tangan gemetar Marco menandatangani berkas rumah sakit. Baru pertama kali dalam hidupnya, dia membubuhkan tanda tangan sebagai penanggung jawab pasien. Lantas dia memberikan kartu ATM miliknya untuk digesek, membayar deposit biaya perawatan sebesar 500 ribu rupiah. Marco diminta ke ruang dokter. Ternyata dokter itu mengatakan bahwa pihak rumah sakit akan melaporkan kasus itu kepada polisi, supaya ada pemeriksaan resmi. Agar semuanya menjadi lebih jelas, apa yang sesungguhnya terjadi pada Maryam."Ya, silakan Dokter." jawab Marco.Ibu kos dan anak-anak kos sudah pulan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status