Home / Romansa / Mencintai Seorang Climber / bab 07. Menemukan Pistol

Share

bab 07. Menemukan Pistol

last update Last Updated: 2024-10-10 05:57:21

“Eh, siapa kamu?”

“Ini aku, Maryam. Kamu mau ngapain ke kampus malam-malam begini, Silvi?”

“Aku mau ke homebase, ada barangku yang ketinggalan.”

"Kenapa harus loncat pagar?”

“Aku nggak masuk lewat gerbang, karena malas ngomong minta dibukain gerbang sama satpam..”

“Bisa besok lagi kamu ambil barang yang ketinggalan itu.”

“Ya sudahlah, besok aja!” Silvi terlihat marah, lalu kembali memanjat pagar besi. Maryam juga terpaksa manjat lagi sambil menahan rasa sakit pada kakinya. Tak lama mereka sudah ada di trotoar jalan.

“Ngapain sih, Mbak ngikutin aku?!” gerutu Silvi sambil duluan jalan, kembali ke gang tempat rumah kos mereka berada. Maryam membuntuti dengan langkah terpincang-pincang.

“Heran aja ngelihat kamu ke kampus malam-malam begini. Aku juga terkadang ada barang tertinggal di markas dakwah kampus, aku cari besoknya lagi, nggak malam-malam datang ke kampus.”

Silvi merengut sembari terus melangkah masuk gang. Tiba di rumah kos, Silvi mengeluarkan kunci dari saku celana panjangnya, lantas membuka pintu kamarnya, mencabut kunci, kemudian dia masuk kamar. Dari luar kamar itu, Maryam mendengar suara selot pintu yang dipasang. Karena tingkah Silvi mencurigakan, Maryam penasaran, dan mengintip kamar Silvi melalui lubang kunci. Kebetulan kunci tidak terpasang. Bola mata Maryam melebar saat melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Silvi.

Maryam mengetuk pintu kamar Silvi. Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka, dan Silvi melotot melihat Maryam berdiri di depan pintunya.

“Silvi, kakiku terkilir … sakit banget. Biasanya kamu punya balsam, boleh minta?”

Silvi masuk lagi ke kamarnya, Maryam membuntuti. Silvi menyodorkan balsam. Maryam menerimanya, lalu membuka tutup wadahnya. Karena tergesa, wadah balsam itu terjatuh, dan kaki Maryam bergerak sedikit, balsam itu tertendang masuk ke kolong tempat tidur Silvi.

“Aduh Sil, kakiku sakit, susah ditekuk. Tolong ambilin balsamnya!”

“Makanya Mbak, jangan suka kepo urusan orang!” gerutu Silvi sambil merunduk lalu melihat-lihat ke kolong ranjang.

Silvi meraih ponselnya, menyalakan senter untuk menerangi kolong ranjang. Dia sudah bisa melihat posisi balsam itu. Dia merangkak ke kolong ranjang untuk menggapai balsam itu. Dengan susah payah, dia merangkak mundur, mengeluarkan lagi tubuhnya dari kolong ranjang, dengan balsam di tangan. Dilemparkannya balsam itu ke atas kasur. Maryam mengambil balsam, lalu segera mengolesi kakinya. Setelah mengucapkan terima kasih, dia keluar dari kamar Silvi.

***

Keesokan harinya, usai salat subuh dan suasana masih gelap, Maryam bergegas menuju rumah Nining, rekannya jualan peyek. Dalam tas yang dijinjingnya, Maryam membawa sesuatu yang berasal dari kamar Silvi. Maryam teringat jika Nining punya adik yang baru lulus dari Pendidikan Bintara Polisi.

“Adikku itu tinggal di asrama, di markas polisi yang Jalan Merdeka.” ujar Nining. “Biarlah aku telepon dia. Adikku mungkin bisa menghubungkan kita dengan pihak yang lebih berwenang.”

Setelah mengobrol dengan adiknya, Nining bicara pada Maryam. “Kita disuruh nunggu di sini. Barang yang kamu bawa itu jangan disentuh.”

“Lha, aku sudah megang barang ini ….”

“Tas kamu taruh di halaman rumahku, daripada bahaya.”

Halaman depan rumah Nining adalah taman kecil yang dipenuhi tanaman bumbu dapur. Maryam meletakkan tasnya di taman itu. Menunggu.

Setengah jam kemudian datanglah beberapa orang ke rumah itu, untuk mengambil benda yang dibawa Maryam. Sedangkan tas dikembalikan pada Maryam.

“Milik siapa ini?” Inspektur Polisi Satu (Iptu.) Ekky Wahyudi mengamati benda yang dibawa Maryam. Iptu. Ekky adalah polisi senior berusia 40 tahun, berdinas sebagai reserse di Markas Polrestabes Bandung. Benda yang sedang dipegangnya adalah sepucuk pistol.

“Memang pistol rakitan. Tapi ada pelurunya, dan kemungkinan besar bisa berfungsi, bisa meledak. Pistol siapa ini?” tanya Iptu. Ekky lagi.

“Dapat nemu dalam tempat sampah di belakang kampus saya.” Maryam tak yakin jika polisi itu bakal percaya dengan ucapannya. Akan tetapi daripada bilang bahwa semalam dia mengintip Silvi yang sedang merogoh pistol itu dari saku jaket, lalu dimasukkan ke laci meja belajar.

Semalam, Maryam masuk ke kamar Silvi untuk minta balsam. Maryam sengaja menjatuhkan balsam itu, lalu menendangnya ke kolong ranjang. Saat Silvi merangkak ke kolong ranjang untuk meraih balsam, secepat kilat Maryam membuka laci meja belajar Silvi, dan mengambil pistol itu, lalu disembunyikan di balik bajunya. Akibatnya semalaman Maryam tidak nyenyak tidur memikirkan ada pistol di dalam kamarnya.

Pagi-pagi sekali Maryam berangkat ke rumah Nining, yang punya adik anggota polisi. Adiknya Nining itulah yang melapor pada instrukturnya, minta bantuan. Sang instruktur segera melapor ke Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim). Maka dikirimlah beberapa orang reserse ke rumah Nining.

Sudah lima kali ditanya, Maryam tetap bilang bahwa pistol itu ditemukannya di tempat sampah, akhirnya Iptu. Ekky tidak bertanya lagi. Para polisi itu pamit. Maryam merasa lega, sudah menyerahkan pistol itu ke tangan pihak yang lebih berwenang.

Maryam menuju kampus. Saat itu sudah pukul 08:20, kampus sudah ramai. Maryam berbelok ke pos security kampus.

“Pak, tadi malam ada yang mondok di homebase?” tanya Maryam.

“Kayaknya nggak ada.” jawab seorang satpam.

“Sekitar jam 9 malam, apakah ada orang di homebase?”

“Oooh, kalau masih jam segitu ada, tapi dia pergi sekitar jam 10 malam.” Satpam itu menatap Maryam dengan senyum aneh dan sorot mata curiga. “Ada apa nih, kok nanyain orang yang mondok di homebase?”

“Cuma khawatir, jangan-jangan teman saya ikutan mondok. Teman saya itu cewek, sedangkan yang mondok di homebase kan, cowok melulu.”

“Nggak ada cewek yang mondok di kampus ini.”

“Jadi siapa yang tadi malam ada di homebase, sekitar jam sembilan malam?”

Suara motor trail yang bising memasuki gerbang kampus.

“Nah, motor berisik itu yang semalam ada di tempat parkir.” ujar satpam.

Maryam menatap pengendara motor, yaitu Marco. Pagi itu Marco mengenakan kemeja warna biru tua lengan panjang, celana panjang hitam dan sepatu trail boots yang biasa dipakai para pendaki gunung. Setelah parkir motor, dia menuju homebase sambil menenteng helm. Rambutnya yang gondrong melampaui bahu dibiarkan tergerai dikibarkan angin, tampak rada kusut, tapi tidak pernah mengurangi kadar gantengnya.

Maryam pergi menuju taman belakang kampus, karena sebelumnya ada beberapa chat dari Silvi. Di taman itu Silvi sudah menunggu Maryam, untuk membicarakan masalah … pistol!

“Mana barang itu?!” Silvi langsung menarik tangan Maryam.

“Sudah aku berikan sama polisi.”

“Kenapa sih, kamu ikut campur urusanku!” teriak Silvi.

“Barang itu bisa membahayakan orang lain, dan juga diri kamu! Aku nggak bilang kalau barang itu milik kamu, aku bilang nemu di tempat sampah. Jadi polisi nggak bakal mencari kamu”

“Aku sudah jual gelang dan cincin emasku buat beli barang itu dari preman. Seenaknya aja kamu colong!” Silvi penuh amarah.

Maryam berbisik, “Kemarin malam kamu datang ke kampus dengan membawa pistol itu. Kamu mau menembak Marco?”

“Huh!”

“Benar begitu? Kenapa Silvi? Sepertinya Marco baik sama kamu.”

“Baik apanya? Dia bajingan yang sudah membunuh kakakku, Bang Tonny!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Mencintai Seorang Climber   bab 08. Dendam

    “Marco itu pembunuh keji!” ucap Silvi.Maryam terdiam sejenak, hatinya tersentak dengan ucapan Silvi tentang Marco. Tentu saja Maryam tak percaya. Maryam bertanya, “Bagaimana cara dia membunuh kakakmu?”“Dijatuhkan dari tebing.”“Hah?!” Maryam makin tercengang. “Apakah kakakmu kuliah di sini?”“Bang Tonny kuliah di PTS lain. Dia atlet panjat tebing dan panjat dinding tingkat nasional. Suatu saat ada latihan gabungan antara seluruh atlet panjat tebing se Jawa Barat, latihannya di Tebing Lawe, di Jawa Tengah. Kemudian … Bang Tonny pulang dalam keranda, diantar rekan-rekannya sesama pemanjat tebing. Menurut mereka, kakakku terjatuh dari tebing, dan kematiannya adalah akibat kecelakaan.""Orang tuaku terpaksa menerima keadaan itu. Tapi setelah kematian Bang Tonny, ayahku jadi murung, merasa nggak punya lagi anak laki-laki yang bisa meneruskan nama keluarga. Setelah itu… ayahku menikah lagi, dengan alasan ingin punya anak laki-laki, karena ibuku sudah terlalu tua untuk melahirkan lagi. Ib

    Last Updated : 2024-10-13
  • Mencintai Seorang Climber   bab 09. Gadis Pantura

    Maryam bergidig melihat cara Silvi bicara. Tampaknya Silvi sudah dibutakan oleh dendam yang berkarat dalam hatinya.Maryam berujar, “Aku akan bicara pada Marco, supaya dia berhati-hati terhadap orang yang dia anggap teman, padahal musuh yang mengejarnya.”“Silakan kamu bilang sama Marco, kalau aku mau bunuh dia!” Silvi malah menantang. “Aku berharap Marco akan percaya ucapanmu, lalu dia terprovokasi, dan suatu saat dia mengintimidasi aku terlebih dahulu! Mungkin dia akan terpancing untuk melakukan penganiayaan terhadap diriku, di hadapan banyak orang! Dengan senang hati, aku akan melaporkan Marco ke polisi, atas berbagai tuduhan, misalnya penganiayaan, atau mengancam keselamatanku. Oh ya, ada tuduhan yang lebih kejam lagi, pelecehan seksual, supaya dia dipermalukan sekalian di hadapan seisi kampus!”Silvi tersenyum penuh kemenangan. Dia betul-betul tak punya lagi rasa takut, biarpun dia melihat Maryam melangkah menuju homebase. Buat Maryam, tingkah Silvi sudah tergolong nekad, mending

    Last Updated : 2024-10-15
  • Mencintai Seorang Climber   bab 10. Mencari Pria Gondrong

    Silvi malah teriak lagi, “Ayo Mbak Maryam, bilang aja terus terang sama dia!” Lantas Silvi duduk santai di bangku kayu, yang ada di teras homebase.“Ada apa?” tanya Marco.Maryam tak tahu harus bicara apa. Ketika sedang berpikir, pandangan Maryam menangkap sosok seorang pedagang yang berjalan masuk ke dalam areal kampus sembari membawa baki. Pedagang itu tiba di depan pintu homebase.Maryam mengenali sosok pedagang itu sebagai Mang Ujo, pedagang bakso yang kerap mampir di tempa kosnya.Maryam berpikir, “Tumben Mang Ujo dagang di kampus, karena biasanya dia jualan keliling. Atau mungkin dia sudah lelah berkeliling, jadi sekarang memilih mangkal di kampus?”“Ini baksonya, A.” Mang Ujo menghampiri Marco dengan membawa baki berisi semangkuk bakso dan segelas jus buah.Marco menoleh pada Mang Ujo. “Oh iya, makasih Mang. Kebetulan saya sudah haus banget.” Marco mengambil gelas berisi jus alpukat pesanannya. Dia menoleh pada Maryam. “Kamu mau bakso? Atau jus buah? Atau dua-duanya? Aku pesa

    Last Updated : 2024-10-15
  • Mencintai Seorang Climber   bab 11. Jus Alpukat

    Marco masuk ke dalam homebase, meletakkan ranselnya. Sedangkan para penghuni homebase pura-pura kembali pada aktivitasnya semula, sambil menunggu reaksi Marco. Akan tetapi Marco malah membuka lemari, mengorek-ngorek isinya. “Cari apa lo?” tanya Raymond. “Tambang yang merah ada di mana?” Marco menyahut dengan tanya juga. “Itu tambang bukan punya kita, gue pinjam dari Skyger, mau gue balikin. Ada di mana?” “Di dalam peti.” jawab Raymond, lalu dia memberi isyarat pada temannya. Temannya Raymond bicara, “Bang, tuh bakso sama jus alpukat, barusan diantarin pedagangnya. Katanya buat Abang ya?” Marco berjalan mendekati meja, lalu membuka kertas penutup gelas, mengangkat gelas itu, dan meminumnya…. Matanya melotot. Secepat kilat dia berlari ke luar, lalu muntah-muntah di selokan kecil samping homebase. Seisi homebase terbahak-bahak. Dari luar terdengar beraneka ragam sumpah serapah dari mulut Marco. Lantas Marco masuk lagi ke homebase dengan gelas kosong di tangan. Jus mengkudu itu sud

    Last Updated : 2024-10-16
  • Mencintai Seorang Climber   bab 12. Prank

    “Raymond meninggal karena apa? Ada yang ngasih tau?” tanya Maryam. Sungguh Maryam merasa khawatir sekali, jika tadi siang, Marco salah pengertian terhadap segala yang telah diucapkannya. Tujuan Maryam supaya Marco berhati-hati terhadap orang di sekitarnya. Tapi bagaimana jika tanggapan Marco malah jadi overthinking terhadap seseorang? Bagaimana jika setelah Maryam pergi dari hadapan Marco, lantas Marco malah mendatangi homebase dan bertengkar dengan Raymond? Bisa saja Marco salah sangka, mengira seseorang yang dimaksud Maryam adalah Raymond. Padahal seseorang yang dimaksud Maryam adalah Silvi. Maryam menyesal sekali, tidak bicara to the point saja, menceritakan soal niat Silvi yang ingin balas dendam pada Marco. “Menurut info, Raymond keracunan.” Nining menjelaskan berita duka yang dia peroleh dari grup WA antarmahasiswa.“Keracunan apa?” Maryam tampak heran.“Nggak tahu. Keracunan itu juga masih dugaan. Menurut info, Raymond sudah meninggal sebelum sempat dirawat di rumah sakit. I

    Last Updated : 2024-10-18
  • Mencintai Seorang Climber   bab 13. Arsenik

    Selanjutnya Johan diminta mengamati rekaman CCTV yang memperlihatkan bagian depan homebase. Dari rekaman itu tampak orang-orang yang masuk dan ke luar dari homebase. Johan diminta mengidentifikasi setiap orang yang masuk ke dalam homebase, menjelang kejadian tewasnya Raymond. Sebagai anggota lama UKM Adventure, mestinya Johan mengenali orang-orang itu. Johan menuliskan nama-nama mereka, berikut fakultas tempat orang-orang itu kuliah, dan tahun angkatannya.Polisi menuding seorang wanita yang mengenakan gamis panjang dan berjilbab lebar, tampak berdiri cukup lama di halaman homebase, sesekali dia berjalan bolak-balik, tapi tidak kentara masuk ke markas pencinta alam itu.“Siapa dia?”“Namanya Maryam.”“Dia anggota Adventure?”“Bukan Pak, dia pacarnya Marco.”“Kenapa dia ada di dekat homebase, sebelum kejadian tewasnya Raymond?”“Nggak tahu Pak. Nah, itu Marco datang. Mereka ngobrol tuh.”Inspektur Ekky Wahyudi memperhatikan rekaman CCTV itu dengan seksama. Tampak seorang pedagang datan

    Last Updated : 2024-10-19
  • Mencintai Seorang Climber   bab 14. Beberapa Kesaksian

    Mang Sueb, pedagang es buah di dekat Kampus Universitas Taruma, sedang berada di kantor polisi untuk memberi kesaksian.“Jadi pada saat Marco membeli jus alpukat dari gerobak saya, ada dua orang mahasiswi yang mau beli es buah. Setelah Marco pergi, salah satu cewek menyebut Marco sebagai orang yang belagu banget. Lantas temannya menyahut, “Ah, lo sewot karena sudah setahun ikut-ikutan naik gunung, masih belum bisa juga menaklukkan Marco! Cari aja yang lain! Masih banyak cowok gondrong!” Lalu cewek itu menjawab, “Kalau gondrong tapi kere, ogah! Gua maunya yang tajir!” Lalu temannya bilang, “Dasar matre!” Lalu kedua cewek itu makan es buah. Begitulah ceritanya , Pak.”Inspektur Ekky bicara, “Mang Sueb sudah boleh pulang. Terima kasih sudah mau datang. Tapi kalau saya butuh keterangan lagi, Mang Sueb mau kan, dipanggil lagi ke sini?”“Iya Pak. Tapi… apakah saya sudah boleh dagang lagi Pak?”“Silakan Mang Sueb, mudah-mudahan laris.”Inspektur Ekky menyuruh anak buahnya memanggil saksi ber

    Last Updated : 2024-10-20
  • Mencintai Seorang Climber   15. Mendadak Pulang Kampung

    Masih banyak waktu untuk menunggu keberangkatan. Bibi yang bernama Rumsih itu mengeluarkan makanan yang tadi dibelinya, ada lontong isi oncom, bakwan sayur, lemper isi ayam dan pisang molen untuk sarapan. Marco mulai makan, dan menyuruh Maryam juga makan. Di pool travel itu ada juga toko oleh-oleh, di toko itu bibi membeli air mineral buat minum majikannya. “Den, bibi mau belanja sekarang aja ya.” “Belum buka supermarketnya.” “Bibi nggak belanja di supermarket, mau belanja di pasar aja. Bibi hapal daerah sini, di dekat sini ada pasar. Bibi mah lebih senang belanja di pasar daripada di supermarket. Bibi mau naik angkot aja.” “Bibi naik taksi aja.” Marco mengambil ponselnya, hendak pesan taksi online. “Naik angkot juga nggak apa-apa atuh Den. Bibi mah lebih senang naik angkot.” “Ya sudahlah, terserah bibi aja. Uang belanja sudah dibawa, kan?” “Sudah atuh. Bibi pergi dulu ya.” “Nanti pulangnya naik taksi aja ya Bi, angkot nggak masuk ke kompleks kita.” Bi Rumsih cuma ter

    Last Updated : 2024-10-25

Latest chapter

  • Mencintai Seorang Climber   bab 163. Kecewa Lagi

    Marco berpikir, "Kayaknya enak kalau siang ini datang ke restoran Sunda, yang ada kolam ikan, lalu ada pondok di tengah kolam itu."Di pondok itulah Marco ingin makan siang, nasi merah hangat plus lauk pauk dicocol ke sambel pedas. Berdua saja, supaya romantis. Marco tahu ada restoran Sunda seperti itu di kawasan Ujungberung.“Kira-kira Maryam mau nggak ya? Kayaknya sih, dia nggak bakal mau kalau diajak naik mobil berduaan saja, terus makan berduaan di pondok tengah empang. Tapi tak ada salahnya mencoba mengajak Maryam. Kalau Maryam tetap tidak mau makan berduaan di saung, ya sudahlah. Berarti makan siang bareng Maryam di rumah makan dekat TK Bunga Bangsa. Menu pedas juga, di warung nasi Padang, yang nggak ada romantis-romantisnya. Tapi biarlah.”Hari Sabtu siang jalanan Kota Bandung macet pada beberapa ruas jalan. Marco sempat mampir ke sebuah toko makanan. Lalu kembali melaju dengan mobilnya. Dia memasuki sebuah jalan, antri dengan kendaraan lain, lalu belok ke sebuah kompleks perum

  • Mencintai Seorang Climber   bab 162. Wisuda

    Setelah mengunci mobilnya, Marco memandang berkeliling halaman parkir dari gedung besar yang bernama Sabuga, atau Sasana Budaya Ganesha, yang menjadi lokasi wisuda. Sudah ratusan mobil berjejer. Para wisudawan diantar oleh keluarga, banyak yang sedang berfoto bersama. Marco membuka lipatan toganya, lalu dikenakan. Dia berjalan menuju gedung tempat acara wisuda akan diselenggarakan. Beberapa orang juru foto khusus membuntutinya, lalu memotretnya beberapa kali. Mereka berharap seusai acara wisuda nanti, para wisudawan dan keluarganya akan membeli foto hasil jepretan mereka. Biasanya memang laris. Karena moment wisuda mungkin cuma satu kali seumur hidup.Marco berbaur dengan rekan-rekannya sesama wisudawan. Tak ada lagi wajah stress karena skripsi yang dirombak habis-habisan oleh dosen pembimbing. Tak ada lagi ekspresi tegang karena menghadapi sidang sarjana. Yang ada cuma luapan keceriaan, kebahagiaan, sumringah, tanpa beban. Untuk sesaat wisuda bisa jadi ajang kegembiraan. Sebelum beso

  • Mencintai Seorang Climber   bab 161.

    Dalam interogasi polisi, Ningrum mengakui bahwa menjelang acara gathering, dirinya yang menghubungi telepon di ruang administrasi, pakai ponselnya. Ningrum menyuruh Maryam menerima telepon yang terus berdering itu. Saat Maryam pergi untuk angkat telepon, dan yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, Ningrum membubuhkan sedikit obat pembasmi rayap ke dalam krim penghias kue black forest. Rencananya Ningrum akan membuat kondisi keracunan masal. Jika puluhan orang keracunan, kondisi tiap orang akan berbeda-beda, ada yang cepat pulih, ada yang parah, dan bisa juga ada yang sampai meninggal, tergantung ketahanan tubuh masing-masing. Jadi jika ada seorang tamu acara gathering yang sampai meninggal, mungkin dokter dan polisi akan mengira kalau korban meninggal karena kondisi fisiknya tidak kuat dengan racun pada black forest.Padahal sebetulnya Ningrum sudah menyiapkan racun dalam hidangan lain. Dia membeli segelas sirup jeruk, persis sama dengan yang dibeli Rina untuk acara gathering.

  • Mencintai Seorang Climber   bab 160. Seperti Sleeping Beauty

    Maryam memandang ke samping tempatnya berbaring, ada Hanif dan Vera. “Di mana ibuku?” tanyanya.“Pulang ke tempat kos kamu, bersama adik perempuanmu.” jawab Hanif.“Kamu mau makan? Biar aku yang menyuapi ya?” tanya Vera.“Nanti saja.”“Atau… kamu mau bicara dengan… Marco? Dia ada di depan.”Maryam malah berbalik sehingga posisi berbaringnya jadi membelakangi Hanif dan Vera. “Aku capek, mau tidur saja.”“Jangan tidur terus Maryam, makanlah sedikit saja.” bujuk Vera. "Aku ngantuk banget, mau tidur dulu sebentar saja." Maryam memejamkan matanya.Hanif lantas pamit pulang. Di koridor dia bertemu Marco.“Maryam baru saja tidur lagi.”“Ya sudahlah, aku pulang saja.” Marco akhirnya pulang juga, teringat mamanya yang mengajak makan malam bersama di sebuah restoran. Jarang sekali Marco bisa makan bersama orang tuanya, makanya dia bergegas pergi untuk menemui mamanya. Vera juga pulang, saat rekan-rekan Maryam dari tempat kos datang.“Maryam, kita sudah minta izin sama ibumu supaya bisa jagai

  • Mencintai Seorang Climber   bab 159. Penyesalan

    Inspektur Ekky bertanya pada Maryam, “Apakah Anda pernah meninggalkan obat-obatan itu, sehingga ada orang yang punya kesempatan untuk menukarnya?”Maryam mengingat-ingat kejadian sebelum dirinya tak sadar. “Saat itu saya ke poliklinik untuk berobat, diantar oleh Bu Ningrum. Setelah dari ruang periksa dokter, Bu Ningrum menyuruh saya duduk saja di ruang tunggu, dia yang membawa resep ke loket di klinik itu. Bu Ningrum yang ambil obat, dan membayar biayanya. Lalu saya kembali ke TK, sedangkan obat itu … dibawa oleh Bu Ningrum. Saya berbaring di ruang P3K. lantas Bu Ningrum datang, memberikan bungkusan berisi obat untuk saya. Obat itu baru saya minum setelah pulang ke tempat kos.”“Mungkin ada yang menukar obat-obatan itu. Kami curiga yang melakukannya adalah seseorang di TKIT Bunga Bangsa. Jika orang itu tahu bahwa hari ini Anda masih hidup, mungkin dia akan datang ke sini berpura-pura menjenguk Anda. Kita susun rencana untuk menjebaknya.”Lalu disusunlah skenario untuk menjebak Ningru

  • Mencintai Seorang Climber   bab 158. Kliping Koran

    Polisi segera mencari arsip kasus kematian Ilham Ramadhan, dan menemukan bahwa ibunya Ilham bernama Ningrum. Polisi kemudian mewawancarai Maryam seputar temuan itu. Zakki juga menyimak pemeriksaan polisi terhadap Maryam.“Waktu itu saya menjenguk Bu Ningrum, karena beliau sakit dan tidak masuk kerja.” ujar Maryam. “Saya datang ke rumahnya sepulang kerja. Saya menginap di sana, karena hujan lebat, dan saya juga merasa tidak enak badan. Pagi harinya saat Bu Ningrum sedang mandi, saya membuka laci meja riasnya, untuk mencari jarum dan benang. Lipatan baju saya robek, dan saya ingin menjahitnya. Di dalam laci itu saya menemukan kliping koran.”Maryam lanjut bertutur, “Tadinya saya kira kliping resep masakan, karena biasanya wanita suka mengumpulkan resep masakan dari koran dan majalah. Ternyata… itu kliping tentang… kasus kematian Ilham Ramadhan. Saya menemukan nama ZW sebagai salah satu tersangka yang menyebabkan Ilham tewas. Mulanya saya tidak tahu, siapa itu ZW. Tapi… kemudian dalam kl

  • Mencintai Seorang Climber   bab 157. Penangkapan

    “AGH!” Ningrum terjengkang saat sebuah t3ndangan mengh@jar perutnya. Wanita separo abad itu berusaha bangkit, lalu menatap ke arah sang pasien. Dia tercengang.Pasien yang tadinya terbaring diam, sekarang duduk tegak di ranjang sambil menodongkan sepucuk pistol ke arahnya. Wanita muda itu bukan Maryam! Dengan tangkas, wanita muda itu meringkus Ningrum, lalu memborgolnya.“Siapa kamu?” suara Ningrum parau.“Briptu. Karlina dari Polrestabes Bandung! Saudari Ningrum, Anda ditahan atas tuduhan pembvnuhan berencana terhadap Valentina Chairunnisa Wiratama, dan melakukan peracunan massal dengan sengaja pada acara gathering di TKIT Bunga Bangsa!”“Di mana Maryam?” Suara Ningrum menggigil ketakutan.“Ada di tempat lain!”“Apakah … apakah Maryam sudah sembuh? Atau … sudah ….”Polwan yang menyamar jadi pasien itu tidak lagi peduli pada pertanyaan Ningrum, dia mengambil handy Talkie, dan bicara. “Target sudah diamankan.”Empat orang pria masuk ke ruangan itu, terdiri dari seorang dokter, seorang

  • Mencintai Seorang Climber   bab 156. Ketika Sadar

    Hanif geleng-geleng kepala. “Kalau di depanku Maryam kelihatan baik-baik saja, tegar, dan katanya dia sudah tidak peduli lagi sama Marco.” Hanif mengeluarkan ponselnya. “Biar aku sampaikan semua itu kepada Marco. Dia harus tahu, karena mungkin dia penyebab semua kejadian ini.”“Nanti Bang Marco bakal merasa bersalah….” ujar Nuri.“Biar saja. Saya sudah eneg sama kelakuan dia!” Hanif tampaknya kesal. Dan saat ponselnya sudah terhubung dengan nomor Marco, dia bicara. “Marco, ente ada di mana?”“Di kampus.”“Ente sudah tahu, kenapa Maryam sampai pingsan?”“Kenapa memangnya?”“Kata polisi Maryam sengaja menelan obat penenang melebihi dosis. Ada juga surat pamitannya. Dia mau bvnuh diri, karena batal menikah… dengan ente!”“Jangan main-main Nif! Gue lagi pusing nih, sebentar lagi mau masuk ke ruang ujian!”“Ini serius Marco! Semua fakta yang ditemukan polisi memang menunjukkan kalau Maryam mau bvnuh diri! Nuri juga sudah melihat surat yang ditulis Maryam, dan Nuri yakin kalau itu memang tu

  • Mencintai Seorang Climber   bab 155. Over Dosis Obat

    Di rumah sakit, Maryam dibawa ke bangsal IGD. Dokter bertanya, sejak kapan pasien tidak sadarkan diri? Apa yang baru saja dimakannya? Apakah pasien punya penyakit? Apakah dia berada di tempat terbuka yang bersuhu rendah? Dan beberapa pertanyaan lain, yang sulit dijawab oleh para pengantar, karena tidak tahu.Kondisi Maryam terus menurun, sehingga dokter mengatakan bahwa Maryam akan dipindah dari IGD ke ruang ICU. Dengan tangan gemetar Marco menandatangani berkas rumah sakit. Baru pertama kali dalam hidupnya, dia membubuhkan tanda tangan sebagai penanggung jawab pasien. Lantas dia memberikan kartu ATM miliknya untuk digesek, membayar deposit biaya perawatan sebesar 500 ribu rupiah. Marco diminta ke ruang dokter. Ternyata dokter itu mengatakan bahwa pihak rumah sakit akan melaporkan kasus itu kepada polisi, supaya ada pemeriksaan resmi. Agar semuanya menjadi lebih jelas, apa yang sesungguhnya terjadi pada Maryam."Ya, silakan Dokter." jawab Marco.Ibu kos dan anak-anak kos sudah pulan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status