Share

Bab 5

Author: Dania Zahra
Menghadapi permintaan maaf yang mendadak dari Annie, Livy merasa kebingungan. Secara refleks, dia menatap ke arah Preston yang duduk di belakang meja, berharap bisa mendapatkan penjelasan dari ekspresinya.

Ketika Preston melihat tatapan Livy yang bingung dan penuh kepolosan itu, tenggorokannya terasa kering sejenak. Dia langsung teringat bagaimana sorot mata itu menatapnya dengan malu-malu semalam.

Setelah berusaha mengendalikan diri, Preston mengendurkan dasinya dan berkata, "Karena ini cuma salah paham, aku akan minta departemen HR untuk batalin pengajuan pemecatan."

"Annie, kamu sudah berada di jajaran manajemen. Sebagai pemimpin, aku berharap kamu nggak melakukan kesalahan kecil seperti ini lagi. Jadilah teladan bagi bawahanmu."

Meskipun Preston mengucapkan tiga kata "kesalahan kecil" dengan nada santai, Annie bisa merasakan teguran di balik ucapannya. Kekesalan yang mendalam terpancar dari matanya, tetapi dia tetap mengangguk sambil menjawab, "Akan saya ingat itu, Pak Preston."

Meski Livy belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi, dia mulai menyadari satu hal. Sepertinya dia tidak akan dipecat.

Kegembiraan mulai membanjiri dirinya. Sepanjang sore, Livy merasa seperti berada di ujung tanduk dan bahkan sudah bersiap untuk menghadapi skenario terburuk. Namun tak disangka, situasinya malah berbalik.

Livy terlalu senang hingga tidak menyadari tatapan penuh kebencian dan kecemburuan dari Annie saat meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, hanya Livy dan Preston yang tersisa di kantor itu. Livy menghimpun keberanian untuk berjalan mendekati Preston dan bertanya dengan hati-hati, "Pak Preston, jadi aku benar-benar nggak akan dipecat?"

Mendengar panggilan Livy yang sopan, Preston samar-samar mengangkat alisnya. Dengan suara tenang dan dingin, dia berkata, "Buatkan aku secangkir kopi."

Livy terdiam sejenak.

Semua orang di departemen sekretaris tahu bahwa Preston sangat pemilih. Biasanya, dia hanya minum kopi yang dibuat oleh Bendy atau Annie. Hanya mereka berdua yang bisa memenuhi standar suhu dan kekentalan yang diinginkan Preston.

Jadi, ketika Preston tiba-tiba memintanya untuk membuatkan kopi, Livy merasa agak gugup. Dia khawatir kopi buatannya tidak sesuai dengan selera Preston dan akhirnya membuat Preston marah.

Namun karena Preston telah menyuruhnya, Livy tentu tidak bisa menolak. Setelah ragu sejenak, dia berbalik dan pergi keluar.

Saat berdiri di depan mesin kopi di pantri, pikiran Livy bercampur aduk. Diam-diam, dia merasa menyesal telah menikahi Preston dengan gegabah. Meskipun pekerjaannya dulu memang melelahkan, setidaknya Livy bisa bebas setelah jam kerja selesai. Namun sekarang, dengan adanya hubungan "kerja sama" ini, Livy merasa hari-harinya ke depan akan lebih terbatas.

Sepertinya dia tidak perlu sampai mengorbankan masa depannya hanya demi membuat Stanley marah. Namun sampai di titik ini, Livy juga tidak bisa mundur lagi. Setelah selesai menyeduh kopi, Livy membawa cangkir itu dan masuk kembali ke kantor Preston.

"Ini kopi Anda ...." Dia meletakkan kopi panas di atas meja Preston. Saat ujung jarinya baru saja terlepas dari cangkir panas tersebut, pergelangan tangan Livy tiba-tiba dicengkeram oleh sebuah tangan yang hangat.

Tenaga Preston sangat kuat. Hanya dengan sekali gerakan, dia telah menarik Livy ke dalam pelukannya. Posisi ini terasa tidak asing bagi Livy. Tubuhnya masih mengingat keintiman yang terjadi malam sebelumnya.

Hanya dengan duduk di pangkuan Preston, berbagai kenangan mulai membanjiri benak Livy. Semua itu adalah pengalaman dari malam sebelumnya.

"Lagi mikir apa sampai wajahmu semerah ini?" Suara Preston yang dingin, diiringi dengan napasnya yang hangat, membelai daun telinga Livy dan menimbulkan sensasi yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Ng ... nggak kok," jawab Livy dengan tergagap dan hati yang semakin kacau.

Ada apa dengan dirinya ini?

Sebelumnya saat Livy menjalin hubungan dengan Stanley, mereka sering bertengkar soal masalah kedekatan. Stanley ingin membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih intim. Namun pada saat itu, Livy benar-benar tidak memiliki keinginan seperti itu. Sampai-sampai, Stanley mulai curiga bahwa Livy mungkin tidak memiliki ketertarikan seksual.

Ketika Livy mengetahui bahwa Stanley berselingkuh dengan Chloe, dia bahkan beralasan bahwa hal itu terjadi karena Livy tidak bisa memuaskannya. Stanley mengatakan bahwa itulah sebabnya dia mendekati Chloe. Seiring berjalannya waktu, mereka pun jatuh cinta dan akhirnya bersama.

Livy menundukkan kepalanya dengan lesu. Begitu Preston mendekatinya sedikit saja, bahkan tanpa sentuhan yang berlebihan sekalipun, Livy langsung mulai terangsang. Mana mungkin dia tidak memiliki ketertarikan seksual? Bahkan bisa dibilang, Livy benar-benar "haus" saat ini ....

Livy merasa sangat malu hingga ingin melarikan diri. Sepertinya, bukan dia yang tidak menginginkan hubungan badan, melainkan tidak tertarik secara fisik pada Stanley. Kebingungan yang dialaminya selama bertahun-tahun ini, kini terasa semakin jelas.

"Lagi mikir apa?" tanya Preston tiba-tiba.

Livy tersadar dari lamunannya dan buru-buru mengalihkan topik, "Kenapa Bu Annie minta maaf sama aku? Kamu kasih tahu dia soal pernikahan kita?"

"Nggak," jawab Preston.

Pandangannya tertuju pada wajah Livy yang memerah. Dengan sudut bibir yang sedikit terangkat, dia menjelaskan, "Kesalahan data itu terjadi karena Annie nggak sengaja mengubahnya. Bukan karena kesalahan catatanmu."

"Semua komputer di perusahaan ini mencatat setiap perubahan secara real-time. Setelah diperiksa, nggak ada kesalahan saat kamu memasukkan data. Dokumen final yang kamu kirim juga benar."

Livy tidak terlalu terkejut bahwa mereka diawasi setiap saat. Namun, dia tak menyangka bahwa Preston akan menyelidiki masalah ini secara pribadi. Jika memang Livy yang membuat kesalahan kali ini, apakah berarti Preston akan langsung memecatnya?

Memikirkan hal itu membuat Livy berkeringat dingin. Preston memang pria yang tegas dan adil. Meskipun Livy sekarang adalah "istrinya", bukan berarti bisa menggoyahkan keputusan Preston yang adil.

Untungnya, kali ini memang bukan karena kelalaiannya. Masalah ini membuat Livy kembali percaya diri. Bagaimanapun, Livy sudah bekerja selama tiga tahun di perusahaan ini. Sekacau apa pun pikirannya sekarang, Livy yakin tidak akan melakukan kesalahan seperti itu.

Melihat perubahan ekspresi pada wajah Livy, Preston kembali menjelaskan, " Annie mengakui bahwa dia membuat kesalahan data karena terlalu sibuk, lalu keliru mengira itu adalah kesalahanmu. Tapi, karena dia adalah bagian dari manajemen inti, aku akan beri dia satu kesempatan lagi."

Livy terdiam. Ternyata Annie bisa melakukan kesalahan sepele seperti itu? Kalaupun dia memang benar-benar melakukan kesalahan, Annie masih diberi kesempatan, sedangkan Livy tidak ada sama sekali?

Mengingat hal ini, hati Livy merasa tidak nyaman. Namun bagaimanapun, Annie adalah adik kelas Preston. Dia telah mengikuti Preston sangat lama dan juga merupakan tangan kanan bagi Preston. Bahkan kalau Annie benar-benar melakukan kesalahan besar sekalipun, Preston mungkin akan tetap memaafkannya.

Namun, berbeda lagi ceritanya jika Livy yang berada di posisi seperti itu.

Karena itulah, Livy tidak mengatakan apa pun lagi saat ini. Bagaimanapun, dia tidak berhak untuk meragukan apa pun. Di perusahaan ini, Livy hanyalah seorang bawahan kecil. Di antara dirinya yang mudah digantikan ini dan Annie yang merupakan "veteran", siapa yang akan dibela Preston?

Jawabannya sudah jelas.

Melihat ekspresi Livy yang murung, tatapan Preston menjadi muram. Dia memegang dagu Livy dan mengangkat kepalanya.

"Nggak senang?"

Livy langsung tersadar dan menggelengkan kepala. "Nggak, kok! Mana mungkin aku nggak senang. Lagi pula, aku nggak melakukan kesalahan dan nggak jadi dipecat. Tentu saja aku senang!"

'Ah, sudahlah, kenapa harus memikirkan semua ini?' batin Livy.

Pernikahannya dan Preston hanyalah sandiwara semata. Dia tidak mungkin mengharapkan Preston menjadi lebih toleran hanya karena mereka punya selembar akta pernikahan. Bahkan, mungkin Preston akan semakin menuntut dan menekannya.

Bos sialan!

Namun, selama masih bisa mempertahankan pekerjaannya, Livy sudah merasa cukup puas. Setidaknya, gaji dan tunjangan di Grup Sandiaga sangat memadai.

Sambil mencoba menghibur dirinya sendiri, Livy tiba-tiba melihat sekilas layar komputer di meja. Dia melihat dokumen yang telah disusunnya sebelumnya ....

Livy menelan ludah, lalu bertanya dengan hati-hati, "Pak Preston, semua yang kamu katakan tadi ... kamu memeriksa semuanya sendiri?"

Preston mengangkat alisnya. "Siapa lagi kalau bukan aku?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 6

    Livy tertegun seketika. Hanya karena masalah sekecil ini, Preston turun tangan langsung untuk memeriksanya sendiri? Pria ini benar-benar tegas! Kalau sampai Preston tahu bahwa kejadian di resor itu bukan sebuah kecelakaan, melainkan Livy yang memang sengaja menggodanya ....Livy bergidik ngeri, tidak berani membayangkan kemungkinan yang akan terjadi."Ini untukmu." Suara Preston yang berat tiba-tiba menarik Livy kembali ke kenyataan. Dia melihat sebuah kartu bank disodorkan di depannya. Livy berkedip beberapa kali dengan kaget."Di dalamnya ada 20 miliar, pakai saja sesukamu," ucap Preston.Mata Livy melebar seketika.Preston memang pernah menyebutkan akan memberikan uang saku dan bayaran untuk perannya dalam "drama" pernikahan mereka. Namun, hal itu dibicarakan ketika mereka sedang berada di ranjang. Saat itu, Livy dalam keadaan setengah sadar sehingga dia lupa menegosiasikan jumlahnya.Dia awalnya berpikir Preston hanya akan memberikan jumlah yang sebanding dengan gajinya di Grup San

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 7

    Annie sebenarnya datang dengan alasan mengantarkan dokumen, tapi tujuan utamanya adalah untuk meminta maaf lagi kepada Preston. Kesalahan kecil yang dia buat itu terlalu merusak citranya dan dia tidak ingin Preston menganggapnya sebagai orang yang ceroboh.Meskipun kesalahan itu memang sengaja dibuat untuk menjebak Livy, Annie terpaksa mengakui bahwa kejadian itu adalah ketidaksengajaan di hadapan Preston. Hanya saja, Annie tidak menyangka bahwa Livy berada di ruangan Preston selama itu."Kamu ngobrol apaan sama Pak Preston di dalam? Kenapa bisa selama itu?" Annie menatap Livy dengan tajam. Wajahnya tampak kesal dan hatinya merasa tidak nyaman.Saat teringat dengan Livy yang menggagalkan rencananya di resor malam itu, emosi Annie langsung memuncak. Orang yang seharusnya bersama Preston malam itu adalah dirinya, bukan Livy. Annie telah berusaha keras untuk melancarkan rencananya. Dia bahkan berhasil mencampurkan sesuatu ke dalam minuman Preston.Tepat pada saat Preston mulai bereaksi, A

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 8

    Livy mengucapkan terima kasih kepada petugas resepsionis dan langsung menuju kamar tempat neneknya sambil membawa buah-buahan dan hadiah di tangannya.Saat membuka pintu, Livy melihat neneknya yang tampak lesu di atas ranjang. Hidung Livy terasa kecut seketika dan air mata menggenang di pelupuk matanya."Nenek!" serunya sambil bergegas mendekat. Livy mencoba menahan emosinya sambil tersenyum manis dan berkata manja, "Aku kangen sekali sama Nenek.""Livy! Anak bodoh, Nenek juga kangen kamu," kata Winda seraya memegang wajah Livy dengan penuh kasih. "Dinasmu capek nggak? Kamu jadi kurusan."Livy tertawa dan menggelengkan kepala, "Sama sekali nggak capek.""Nenek, aku kerja di Grup Sandiaga. Gajinya tinggi, tunjangan dan fasilitasnya juga bagus. Lihat, aku bawa oleh-oleh ini buat Nenek. Ini semua hasil dari perjalanan dinasku, produk lokal yang diberikan gratis di resor baru perusahaan."Livy tidak berbohong. Memang benar bahwa semua barang itu adalah oleh-oleh dari resor yang dibagikan k

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 9

    Raut wajah Preston jadi lebih rileks dan suaranya juga jadi lebih lembut saat bertanya, "Perlu suruh Bendy untuk jemput kamu nggak?"Livy merasa terkejut dengan perhatian Preston. Dia jadi lupa dengan masalah Stanley dan buru-buru memanggil sebuah taksi. "Nggak usah, aku bisa pulang sendiri, kok." Setelah memeriksa waktu sejenak, dia kembali menimpali, "Jalanan agak macet, mungkin masih butuh sekitar satu jam."Khawatir bahwa Preston mungkin akan membutuhkan bantuannya, Livy terus mendesak sopir taksi untuk mempercepat laju kendaraan sepanjang perjalanan. Akhirnya, dia tiba di Harmony Residence sesuai waktu yang diperkirakan.Lampu di ruang tamu sedang menyala dan tercium aroma kopi yang khas memenuhi udara. Pencahayaan dan aroma ini membawa nuansa yang hangat dalam apartemen yang didekorasi dengan indah tersebut.Livy melangkah masuk dengan hati-hati dan menemukan Preston sedang berdiri di dekat bar dapur. Berbeda dengan penampilannya di kantor, saat ini Preston sedang mengenakan paka

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 10

    Jantung Livy terasa seakan berhenti berdetak sesaat. Dia berkedip dengan gugup, lalu menyapa dengan canggung, "Hai! Pak Preston, selamat pagi.""Hmm," Preston hanya menggumamkan jawabannya, lalu turun dari tempat tidur dan merapikan rambutnya yang acak-acakan sambil berjalan ke arah kamar mandi.Tirai jendela di kamar masih terbuka. Dari jendela besar di kamar utama, terlihat pemandangan indah dari taman pusat kota. Pakaian mereka berserakan di lantai dan udara di kamar itu masih samar-samar memancarkan aroma khas setelah berhubungan intim.Dengan wajah memerah, Livy turun dari tempat tidur dan mulai mengenakan pakaiannya. Setelah Preston keluar dari kamar mandi, Livy segera menyelinap masuk untuk mandi.Ketika dia selesai dan keluar dari kamar mandi, Preston sudah duduk mengenakan setelan jas dan menikmati secangkir kopi di meja makan. Sementara itu, Bendy sedang melaporkan urusan pekerjaan padanya. Setelah ragu-ragu sejenak, Livy memutuskan untuk berjalan mendekat."Duduk dan sarapan

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 11

    Di bawah tatapan dari rekan kerja lainnya, Annie berjalan mendekati meja kerja Livy dengan tangan bersedekap. Dia mengetuk tumpukan dokumen di meja Livy dengan jarinya, lalu berkata dengan nada merendahkan."Livy, maaf ya. Hari ini hari Jumat dan semua dokumen ini adalah dokumen yang sangat mendesak. Nggak bisa ditunda sampai hari kerja berikutnya .... Kamu harus lembur malam ini. Sebelum jam 12 malam, aku mau semua data sudah selesai dan terkirim. Bisa, 'kan?"Jari-jari Livy yang sedang mengetik di keyboard berhenti sejenak.Ivana yang tidak tahan melihat hal itu, mencoba untuk membela Livy dengan suara pelan, "Bu Annie, bahkan kalau dikerjakan tiga orang sekalipun, dokumen sebanyak ini mungkin nggak akan bisa selesai sebelum jam 12 malam, apalagi cuma dikerjakan Livy seorang ...."Annie tertawa dingin, "Kalau kamu khawatir, kamu bisa tinggal di sini untuk bantu dia."Setelah itu, Annie berbalik menghadap semua orang di ruangan dan bertanya dengan nada mengancam, "Ada lagi yang mau ik

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 12

    Rumah lama Keluarga Sandiaga terletak di pinggiran kota dan dibangun di atas bukit. Luasnya mencakup keseluruhan bukit tersebut. Tempat ini memiliki sejarah yang lama dan bahkan telah dijadikan bangunan yang dilindungi oleh ibu kota.Begitu mereka keluar dari pusat kota, pemandangan di luar jendela mulai sepi dan hampir tidak ada orang yang terlihat. Suara hujan yang teredam dan keheningan di dalam mobil membuat Livy merasa tidak nyaman.Saat dia akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, Preston terlebih dulu membuka mulut, "Kamu pernah cari tahu soal keluargaku?"Livy tertegun sejenak. Setelah merenung beberapa saat, dia mengangguk dengan jujur. Karena kasus perselingkuhan Stanley dengan Chloe, Livy sempat mempelajari banyak hal tentang silsilah keluarga Preston. Selain itu, di kantor sering ada gosip yang beredar di kalangan karyawan.Mengaku tidak tahu apa-apa tentang Keluarga Sandiaga akan terasa sangat munafik.Tatapan Preston semakin gelap, jari-jarinya secara tidak sadar menge

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 13

    Suara lantang Tristan mengejutkan Livy dan membuatnya gemetaran. Preston menepuk punggung tangan Livy dengan tenang dan memberi isyarat agar dia tetap tenang.Setelah itu, Preston melihat ke arah pria tua yang penuh semangat itu dan berbicara dengan santai, "Kamu kelihatannya sehat-sehat saja. Nggak mungkin mati kesal hanya karena masalah kecil begini."Livy merasa agak terkejut dengan cara Preston berbicara kepada ayahnya. Namun, reaksi Tristan tidak seperti yang dia duga. Bukannya marah, Tristan malah tertawa terbahak-bahak."Anak nakal, cuma kamu yang berani bicara seperti itu padaku. Tapi karena kamu sudah bawakan menantu untukku, aku nggak akan mempermasalahkannya."Setelah itu, Tristan tersenyum lebar dan melambaikan tangannya kepada Livy, "Ayo, Nak, sini biar aku lihat."Hanya melihatnya sekilas saja, Tristan sudah merasa bahwa Livy sangat cocok di matanya.Masalah pernikahan Preston telah menjadi kekhawatiran terbesar Tristan selama bertahun-tahun. Dia telah mencoba segala cara

Latest chapter

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 430

    Astaga, situasi macam apa ini?Telinga Livy terasa panas membara. Tanpa bisa dikendalikan, pikirannya mulai dipenuhi gambaran-gambaran yang tidak senonoh.Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak membalas pesan mesum dari Preston. Dia mengalihkan perhatiannya kembali ke pekerjaan dan mulai mencari informasi tentang Mathias.Informasi tentang pria itu cukup terbatas di internet. Katanya, dia adalah pria paruh baya yang merintis usahanya dari nol dan dikenal memiliki cara bicara yang baik.Namun, ada juga beberapa rumor negatif yang menyebutkan bahwa selama bertahun-tahun, dia diam-diam berselingkuh dari istrinya dan memiliki banyak wanita di luar.Livy tidak tahu mana yang benar dan mana yang tidak. Yang bisa dilakukan hanya mempersiapkan diri, mempelajari berbagai hal tentang musik, catur, kaligrafi, dan lukisan.Meskipun dia tahu usahanya mungkin tidak terlalu berpengaruh, setidaknya itu lebih baik daripada tidak mempersiapkan apa pun.Setelah sibuk sepanjang sore, Livy akhirnya tiba di r

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 429

    "Livy, ke mana saja tadi? Kenapa lama sekali tanpa bilang apa-apa ke kami? Jangan-jangan kamu malas-malasan?"Pria paruh baya itu berdiri dengan perut buncitnya. Meskipun gemuk, dia tetap berusaha memakai jas seperti orang lain. Namun, penampilannya malah seperti agen asuransi yang sedang mengalami krisis paruh baya.Livy mengerutkan keningnya sedikit dan menjelaskan, "Pak Preston mencariku, ada beberapa hal yang harus disampaikan.""Oh, ternyata Pak Preston ...." Umay menyipitkan matanya, tampak sedikit mengejek. "Ya, wajar saja Pak Preston masih memperhatikanmu. Bagaimanapun, dulu kamu bekerja di bawahnya.""Tapi, aku harap wanita sepertimu nggak langsung berpikir macam-macam hanya karena seorang pria bersikap baik sedikit kepadamu. Ingat, Pak Preston sudah punya istri. Lebih baik kamu realistis saja dan pertimbangkan untuk ....""Kak Umay, sebenarnya ada urusan apa mencariku?" Melihat pria menyebalkan di depan berbicara semakin tidak sopan, Livy buru-buru memotong ucapannya."Nggak

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 428

    Livy tertegun. Preston ... apa maksudnya?Preston kembali berkata, "Dia cuma keponakanku, sedangkan kamu adalah istriku."Oh, jadi begitu. Livy mengerti sekarang. Bagi Preston, statusnya sebagai istri memang sedikit lebih tinggi daripada status seorang keponakan. Namun, hanya sebatas itu. Hanya karena saat ini, dia masih menjadi istri Preston."Lebih baik nggak usah," ujar Livy setelah berpikir sejenak. "Aku juga jarang punya waktu untuk memakai tas seperti ini. Kalau cuma disimpan di rumah, rasanya akan terbuang sia-sia.""Biarkan saja terbuang sia-sia," kata Preston dengan tidak acuh. Baginya, uang seperti ini hanyalah jumlah kecil. Jika istrinya menyukai sesuatu, dia akan membelinya tanpa peduli apakah benda itu akan terpakai atau tidak."Tapi ...." Livy masih ingin berkata sesuatu, tetapi Preston sudah menariknya ke dalam pelukan."Aku memberikan hadiah untuk istriku, tapi kamu malah menolaknya berulang kali? Kamu pikir aku miskin sampai nggak sanggup membelikanmu sesuatu sekecil i

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 427

    "Mana mungkin!" Livy buru-buru melambaikan tangannya. "Di departemen sekretaris masih ada banyak senior. Kamu juga termasuk salah satu senior buatku. Jangan bicara seperti itu.""Ya, ya, aku paham." Ivana buru-buru menutup mulutnya, lalu melanjutkan, "Aku serius kali ini. Pak Preston mencarimu, dia suruh kamu ke atas.""Kenapa kamu yang mencariku?" Livy sedikit terkejut. Biasanya kalau ada urusan seperti ini, Bendy yang datang menemuinya.Ivana menjawab, "Sepertinya Pak Bendy ada urusan mendadak. Dia cuma sempat mampir sebentar ke departemen sekretaris untuk menyampaikan pesan. Sudahlah, Livy, cepat naik ke atas. Siapa tahu Pak Preston berubah pikiran dan mau memindahkanmu kembali ke departemen sekretaris!"Tidak mungkin, 'kan? Semalam Preston sudah mengatakan bahwa dia tidak akan memindahkannya kembali sebelum misinya selesai.Dengan penuh rasa penasaran, Livy segera mengetuk pintu kantor Preston."Masuk."Saat mendorong pintu, Livy melihat Preston sedang tidak bekerja. Pria itu memeg

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 426

    "Hah?" Livy sempat mengira dirinya salah dengar. Namun, saat melihat Preston menunggu dengan ekspresi seperti ingin dilayani, dia yakin bahwa dirinya tidak salah dengar.Membantu dia mandi? Dia menatap laki-laki di hadapannya dengan mata membelalak.Sebagian besar pakaiannya sudah terlepas, memperlihatkan tubuh ramping dengan garis otot yang tegas. Di bawah cahaya lampu, sosok itu terlihat begitu mencolok hingga membuat jantungnya berdebar.Ditambah lagi dengan wajah Preston yang dingin, tegas, dan sempurna, semuanya memberikan dampak visual yang sangat kuat.Sejak kejadian itu, sebenarnya sudah beberapa hari berlalu sejak terakhir kali mereka melakukannya. Seorang wanita ... juga memiliki kebutuhannya sendiri.Livy berdeham, mencoba menahan rasa malu yang merayap di hatinya. Dia terus mengingatkan diri sendiri bahwa dia masih membutuhkan bantuan pria ini.Sambil menggigit bibirnya, dia mulai membuka kancing kemeja Preston. Sesudah itu, dia bergerak turun ke celana. Ketika tiba giliran

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 425

    Preston masih punya sedikit kendali atas dirinya sendiri. Lagi pula, setelah 2 hari berturut-turut, tubuh Livy pasti masih butuh waktu untuk beristirahat dengan baik."Kalau begitu ... 6 juta?" Dengan berat hati, Livy menambahkan 2 juta lagi. Wajahnya pun terlihat tegang. "Benaran nggak bisa lebih lagi? Bonusku sedikit banget."Terakhir kali, dia hanya mendapat 1 juta. Itu bahkan tidak cukup untuk membayar satu hidangan Preston."Beberapa hari lagi, bagian keuangan akan mentransfer sisa bonusmu yang sebelumnya. Jadi, kamu nggak bakal sampai kekurangan uang. Lagi pula, bukannya aku sudah kasih kamu kartu? Punya uang tapi nggak dipakai. Kamu bodoh ya?" Nada suara Preston terdengar agak pasrah.Bonus sebelumnya? Livy kaget dan baru teringat. Dia buru-buru bertanya, "Masalah dengan Sherly itu ulahmu ya?"Meskipun kemungkinan besar jawabannya adalah iya, dia tetap ingin memastikan. "Hmm, aku menyuruh Bendy menyelidikinya.""Bonusmu ternyata disalahgunakan oleh Sherly, jadi aku meminta bagia

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 424

    Jantung Livy seakan-akan berhenti berdetak sejenak. Dia awalnya hanya ingin bertingkah manja untuk mencari jalan pintas, tetapi Preston malah menanggapinya dengan serius.Setelah tertegun sesaat, Livy tiba-tiba merasa dirinya seperti seorang badut. Benar juga, mereka ini pasangan suami istri macam apa?Mereka bukanlah pasangan dalam arti yang sesungguhnya. Jadi, Preston sama sekali tidak punya kewajiban untuk berbagi rahasia bisnis dengannya. Bisa jadi, dia justru sedang menjaga jarak dan tidak ingin berbagi dengannya."Kenapa diam?" Melihat Livy termenung, Preston semakin kesal dan kembali bertanya, "Apa kamu punya sedikit perasaan untukku?""Kenapa nggak? Tentu saja punya." Livy tidak mengerti kenapa pria ini tiba-tiba marah. Tadi, dia sempat mengira Preston tersinggung karena dirinya terlalu percaya diri, tetapi sekarang kenapa justru bertanya soal perasaan?Apakah dia ingin Livy membujuknya? Livy tidak yakin. Atau Preston sedang menguji perasaannya yang sebenarnya?Pada akhirnya, L

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 423

    Tadi dia ... sudahlah.Preston berdeham pelan, lalu sedikit mengubah topik pembicaraan. "Soal barbeku itu, akhir pekan ini kamu bawa aku ke sana.""Hah?" Livy tampak terkejut dan buru-buru mengingatkan, "Tempat itu cukup terpencil dan semua mejanya di luar ruangan. Aku takut kamu bakal kurang nyaman makan di sana.""Kamu bisa makan, kenapa aku nggak bisa?" balas Preston dengan santai."Baiklah."Lagi pula, Preston yang minta sendiri. Jangan sampai nanti setelah diajak, dia malah menunjukkan ekspresi tidak senang. Itu pasti akan membuat Livy kesal.Sambil menuangkan segelas air lagi untuk dirinya sendiri, Livy menyadari tatapan yang dilayangkan Preston kepadanya. Dengan sigap, dia juga menuangkan segelas air untuk pria itu.Preston menerima air putih yang diberikan Livy, lalu tiba-tiba berkata, "Aku dengar kamu berhasil mengamankan kerja sama ini hanya dalam 5 hari.""Mm ... sebenarnya masih banyak yang belum aku pahami, jadi butuh waktu cukup lama. Tapi, ya sudahlah, setidaknya ini lan

  • Malam Penuh Gelora Bersama Bosku   Bab 422

    Ryan berbicara dengan pelan, tetapi kata-katanya mengandung makna menyindir jika didengar dengan lebih saksama. Namun, kata-kata itu juga terdengar sedang mengeluh. Ryan sedang mengeluh padanya?Namun, begitu pemikiran itu muncul, Livy langsung menepis pemikiran itu dan berpikir itu pasti hanya sekadar mengeluh biasa saja. Ryan bisa mengajak seseorang dengan mudah, tetapi dia malah menolak undangannya tiga kali. Oleh karena itu, wajar saja jika Ryan mengeluh."Maaf, aku benar-benar agak sibuk," jelas Livy dengan suara pelan."Nggak masalah, aku sudah memaafkanmu," kata Ryan sambil tersenyum dan tatapannya terlihat santai, seolah-olah bisa menarik perhatian siapa pun yang melihatnya."Selesai!"Setelah mengambil beberapa foto lagi, Hesti segera mengembalikan ponselnya pada Ryan dan berkata dengan semangat, "Tuan Ryan, kamu dan Livy benar-benar terlihat sangat serasi, aku sampai nggak tahan untuk mengambil beberapa foto lagi.""Nggak masalah, terima kasih," kata Ryan sambil kembali menge

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status