"Tidak, Eyang. Saya hanya kurang tidur." Jawabku pada akhirnya. Jawaban yang tidak sepenuhnya kebohongan karena aku memang tidak bisa tidur. Sama sekali. Meski sudah memaksa diri. Dan nyatanya, pulasan make up tidak benar-benar mampu menutupi wajahku yang masih eyang perhatikan. Sampai tangan tuanya menyentuh lenganku. "Kamu kebanyakan di depan laptopmu, Ndok," ucap eyang yang usapan lembutnya membuatku merasa bersalah. "Padahal belum lama kamu sakit, Runi." "Iya, Eyang, ada ... yang harus saya kerjakan." ucapku pada wanita yang tatapannya selalu lembut saat menatapku. "Usahakan jangan terlalu capek, Ndok, atau ibumu benar-benar akan datang ke sini dan langsung membawamu pulang." "Iya, Eyang." Jawabku yang bisa merasakan tatapan lelaki yang bergabung begitu telat untuk sarapan. "Eyang, kalo mbak Runi dibawa pulang, aku boleh ikut mbak Runi gak?" "Habiskan saja sarapanmu." Dan jawaban eyang membuat bibir Ares manyun lalu memakan kerupuk yang bunyinya renyah sementara Riris men
"Maaf, saya tak bermaksud mengagetkan." Ucap mas Rendra yang langsung turun. "Kalo gak ganteng, lu udah gue gibag pake tas, Bang," balas Nora membetulkan rok pendeknya setelah berdiri tegak. "Saya benar-benar minta maaf." sesal Mas Rendra membuat Nora yang melirikku tersenyum. "Kite maafin, dah. Tapi, anterin kita makan dong, Bang. Cowok kemayu aw-!" Sesaat Nora yang pinggangnya Toro cubit melotot. "Maksud gue, cowok super macho di sebelah saya ini takut banget sama becek." Lirikan Toro tak berpengaruh apapun pada Nora. Apalagi mas Rendra mengangguk untuk ucapannya. "Ayolah, mau makan di mana? saya juga belum makan," balas Mas Rendra menatapku yang hanya memperhatikannya. Sementara benakku yang mulutnya rapat tertutup bertanya, 'sejak kapan ia menunggu?' Tidak mungkin sejak jam empat seperti yang kukatakan tadi pagi, bukan? Karena saat ini langit jingga di atas kami sudah bercampur dengan gelap. Dan itu bukan karena awan mendung yang tetesan airnya sudah menciptakan genangan.
"Ojek payung, Om!" Tawar bocah perempuan yang tubuhnya kuyup, tak lagi perduli pada tetes hujan yang terus saja turun tanpa perduli apa yang rintiknya basahi. "Ojeknya dua, ya?" Ucapan mas Rendra yang menurunkan kaca membuat binar dalam mata bocah perempuan yang nyatanya benar-benar ada, bukan hanya sebuah cerita. Bocah-bocah payung. Anak-anak yang menawarkan jasa untuk mendapat lembaran rupiah saat hujan turun. "Siap, Om!" Begitu semangat becah perempuan itu berucap lalu menoleh kebelakang, "Nono, kemari! Ada yang mau ojek!" Sementara aku yang baru kali ini melihat apa yang kudengar dari berita, memperhatikan bocah lain yang tubuhnya pun kuyup, berlari mendekat dengan payung kebesaran Tidak takut tersandung kakinya sendiri yang membuat cipratan pada tiap langkah. (Ui) Sementara senyum lebar sang bocah lelaki yang disuruh mendekat pada pintu di sampingku, membuatku diam. Karena aku bisa melihat adikku dalam diri bocah yang harus menunggu lama jika mas Rendra tidak menyentuh l
"Apa maksudmu, Mas Rendra?" Rasanya aku ingin bertanya seperti itu pada lelaki yang jarinya masih menyentuh garis senyumku. Tapi, tatapan lelaki yang sorotnya terasa begitu berbeda, membuat bibirku makin rapat dengan senyum yang memudar. Karena aku yang melihat sorot macam apa yang sedang mataku tunjukkan dalam pantulan kaca di belakang tubuh mas Rendra, rasanya sadar, 'seberapa kesepiannya sorot mataku saat ini.' Bahkan, cahaya lampu dari pigeot yang melewati kendaan kami tidak mampu menyamarkan tatapanku. Namun, "aku jadi kangen rumah saja, Mas." Jawabku, "ini kali pertama aku jauh dari bapak dan ibu." Aku yang melihat sorot mas Rendra ingin mencari kebenaran dalam kalimatku, rasanya ingin berpaling. Tapi, akan semencurigakan apa jika hal itu kulakukan? Saat aku sadar, aku harus meyakinkan diri mas Rendra jika aku hanya sedang merindukan rumahku, merindukan bapak dan ibuku. Tidak lebih dari itu! "Maaf membuatmu khawatir padaku, Mas." Dan kalimatku membuat ujung jari mas Ren
Send: Eyang, saya keluar sebentar. Aku yang tangannya sudah memegang kunci, menatap kamar pemilik rumah yang pasti sudah lelap mengingat ini lewat tengah malam. "Saya pergi dulu, Eyang." Pamitku pada telinga yang tidak mungkin mendengar, lalu masuk ke dalam Honda Civic yang membelah jalanan malam setelah melewati area perumahan yang pagar-pagarnya tinggi menjulang. "Hati-hati, Neng Runi." "Terimakasih Pak Bowo." Hanya itu kalimatku pada satpam yang tidak pernah bertanya akan kemana diriku malam-malam begini. Dengan kecepatan di atas rata-rata, aku menyalip kendaraan yang ada di depanku. Tidak perduli yang beroda dua ataupun empat. Mobilku yang tidak bisa dikatakan besar, derunya menggema dalam jalanan lengang meski gerimis turun. Bahkan, rasanya aku merutuk untuk tiap lampu merah! Sampai mobil yang ku kendarai seperti orang tak beradab, memasuki kawasan yang tempat parkirnya penuh sesak meski sudah lewat tengah malam. Begitu turun dari mobil alunan musik yang menggetarkan pavi
Angin dingin menyambutku begitu keluar gedung yang ternyata hangat. Sementara langit malam yang mendung, menambah kemuraman dengan gerimis halus yang mudahnya terbang dibawa angin. Ping : Terimakasih, Mbak Runi. Kalau butuh informasi lagi tentang Joe, jangan sungkan untuk menghubungi saya. Barisan chat dari waitres yang sengaja menubrukkan badannya padaku tadi, masuk Bersama bunyi pintu mobil yang kututup. Aku yang rasanya tidak akan lagi meminta bantuannya di masa depan, tetap membalas "ya" pun, membubuhi emotikon senyum meski mulutku rapat terkatup. Ping : senang berkenalan dengan anda, Mbak Runi. Aku tidak ingin menebak adakah kejujuran dalam kalimat waitres yang begitu pandai berakting agar kamara yang menyorot kami, tidak melihat ucapkan macam apa yang ia katakan padaku. Ping: jika butuh bantuan lagi saya akan senang membantu. Karena aku sadar, aku hanya orang kesekian yang meminta bantuannya untuk sebuah informasi dengan imbalan beberapa lembar rupiah. Send : terimakasih
"Aye gorengan aje, Pak, pake uangnya Runi juga." Nora mengerling padaku. Sementara pak Salim mencatat pesanan kami."Nasi rendang, coklat sama gorengan," ulang Pak Salim menatap catatan di bukunya pada kami yang mengangguk."Terimakasih, Pak." Sementara ucapan itu kami katakan serempak pada lelaki yang kumis tebalnya sudah bercampur uban."Untung ye?""Apanya?""Pak Salim-lah, Cowok kemayu," jawab Nora. "Ongkos jalan tiap orang ngasih minimal goceng dikali 10 orang bisa jadi bisnis sendiri, tuh.""Jangan salah lo!" Balas Toro yang suaranya agak meninggi lalu menatap arah pak Salim pergi."Asal Lo tahu ya, Mpok, ada orang tega yang cuman ngasih ucapan makasih doang."Ucapan Toro membuat dahi Nora berkerut."Apalagi kalo sekelompok kayak kita gini. Dipikir, jalan ke sana ke sini gak capek apa? kadang disuruh pake uangnya dulu lagi. Iya kalo orangnya bayar, kadang pura-pura lupa dan baru bayar kalo ditagih. Itupun kalo orangnya mau bayar, kalo gak? Tekorlah pak Salim. Uang gak dapet, cap
"Runi... siapa cewek itu?""cewek yang mana?""Itu lho, Ciin, yang masuk ke ruangannya Babang Tomas," goda Toro pada Nora yang meliriknya tajam.'Calista?' ingatku yang menjawab, "sepupunya kak Tomas.""Sungguh!?" Dahi Nora yang tampak terkejut bahkan mengerut dalam, "beda banget sama Babang Tomas gue yang ramah.""Jutek maksud Lo, Ciin?""Lebih dari itu, Cowok Kemayu." Balas Nora melirik Toro. "Kesannya tuh, kasar banget orangnya. Masa yak, pak Salim aje die bantak-bentak cuman gegara ngalangin jalan yang masih selebar entu."Nora kembali mengalihkan pandangan padaku, sementara tangannya menunjukan lorong yang tidak bisa disebut kecil, "sok iye banget kayaknya tuh cewek atu dah."Toro mengangguk saat mataku beralih padanya."Kasarnye tuh ye, die kayak kesel ame sesuatu tapi nyang jadi pelampiasan pak Salim, serem kagak, tuh?""Lagi PMS kali, Cinn.""Itu sih pak Botak," sambar Anne yang lewat di belakang Nora, membuat Nora dan Toro tertawa sementara Anne mengangguk untuk sapaku."Tau
Disebut apa hubunganku dan Keiro?Entahlah.Aku tidak begitu memikirkan hal itu.Dan kurasa, lelaki yang matanya lurus menatap manik mataku pun berpikir hal sama.Apa Keiro memberi warna pada hari-hariku?Mungkin tidak ataukah iya, entahlah.Karena keberadaan Keiro tidak mempengaruhi bagaimana aku menjalani kehidupan monotonku setelah adikku memilih untuk meninggalkan rumah.Keiro hanya membuatku terbiasa dengan kehadirannya.Dan aku yang masih berdiri di tempatku, memperhatikan Keiro menatapi potret-potret dalam figura yang memang sengaja dipamerkan pada mata siapa saja.Sesekali bibir Keiro tersenyum dan mengangguk. Entah apa yang dipikirkan otak pintarnya itu.Sampai ia yang akhirnya sadar sudah tidak sendirian, berpaling dari potret-potret yang lekat ia pandangi lalu berdiri tegak.Senyum yang kuhafal tercetak setelah ia diam beberapa saat. Sementara suara langkahnya memecah kesunyian yang tercipta.Tanpa kata, Keiro yang menghampiriku langsung memeluk.Rasanya, jika aku tidak sed
Ucapanku membuat mas Rendra yang mulutnya terbuka menelan kalimat apapun yang ingin ia ucapkan. Mimpinya pasti sangat tidak menyenangkan tapi, "aku tidak akan pergi kemanapun."Ulangku pada lelaki gagah yang tidak menyukai mimpinya.Aku ingin mati, menyerah pada hidup. Itu adalah kebenaran.Tapi, keinginan yang sudah terlintas dalam diri itu urung kulakukan.Dan rasanya, aku jadi sangat menyesal saat melihat sorot mas Rendra yang begitu terpengaruh dengan mimpi yang ia miliki.Melihatnya, rasanya aku di sadarkan kembali pada siapa diriku.Aku adalah anak yang orang tuanya memilih kematian.Ayah dan ibu yang sudah terkubur, tidak melihat bagaimana aku dan adikku menjalani hidup.Sementara aku dan adikku yang keduanya tinggalkan, harus menjalani kehidupan karena waktu kami terus dan harus berjalan.Santo bisa tertawa pada dunianya karena ia masih terlalu kecil untuk paham pada perubahan dalam hidup kami yang harus berpindah-pindah tempat tinggal. Pun, mampu tertawa karena bagi Santo yan
"Saya sama bapak-bapak itu urusan sayalah, Mbak Runi." Mbak Imah yang menghapus mata basahnya berucap, "saya belanja dulu ya, Mbak, biar dapat yang segar-segar.""Ya, Mbak Im," balasku pada wanita yang keluar dari pintu samping yang belum lama ia masuki.Meninggalkanku yang membuka kulkas lalu mengeluarkan bahan-bahan yang kubutuhkan sebagai pelengkap nasi yang akan kugoreng.Telur, sosis, pokcay, dan aku mengembalikan wortel yang sudah kupegang ke dalam kulkas saat mengingat mas Rendra yang kurasa masih tidur.Aroma bawang putih yang harum langsung memenuhi dapur pun saat bawang merah dan potongan cabe kumasukkan ke dalam wajan berisi minyak dan bawang putih yang sudah menguning.Dua telur kumasukkan lalu ku aduk rata dan setelah bentuknya pas tak terlalu lembek lagi, aku memasukkan sosis kemudian pokcay yang jadi menyusut saat terkena panas wajan.Tidak butuh waktu lama, nasi yang sudah mbak Imah siapkan, kumasukkan bersama sejumput garam dan penyedap rasa yang terbuat dari bubuk ja
RASA.Pernahkah kamu bertanya seperti apa ia berupa? Seperti apa itu berwarna? Ataukah bagaimana bentuknya?Jika rasa memiki rupa, seperti apa wajah bahagianya?Wajah sedihnya?wajah kecewanya?Wajah senyumnya?Wajah takutnya?Wajah marahnya?Wajah malunya?Wajah senyumnya?Wajah ibanya?Wajah ingin tahunya?Wajah kekanakannya?Jika rasa memiki warna, apa ia akan seperti warna-warna yang kita kenal?Dan jika rasa berbentuk, seperti apa bentuknya?Apa ia memiliki ujung yang tumpul atau malah lancip penuh peringatan?Ataukah ia memliki garis lurus atau berkelok? ataukah putus-putus dengan jarak dan jeda?Jika rasa tidak hanya terasa namun memiliki bentuk yang nyata, akankah rasa membuat kita berkata, "oh, sudah kuduga" atau bahkan "bentuk macam apa ini!?"Jika dicerna lebih, mungkin lebih baik rasa tetap jadi rasa saja.Ia tak perlu berbentuk.Tidak perlu berwarna.Tidak perlu pula memiliki rupa.Karena rasa adalah sesuatu yang kita miliki, baik untuk kita selami sendiri atau ada tubu
"Terima kasih."Pedagang martabak yang menerima uang dariku tersenyum lebar. Pun, menatap kemana aku melangkah. Mungkin ia ingin tahu, kenapa wanita yang sedang hamil besar jalan sendirian tanpa seorangpun menemani. Lewat tengah malam lagi."Siapa, Met?""Orang komplek kayaknya.""Oh, tapi kok sendirian?""Mana kutahu, Sri. Yang penting uangnya gak berubah jadi daun saja."Kalimat yang mampu menyusup pada telinga, tak kuhiraukan. Meski tanganku yang membawa dua bungkus martabak mengeratkan pegangan.Langit di penghujung musim hujan terlihat cerah malam ini. bahkan rembulan yang bulat sempurna menambah keelokan bintang yang kelipnya menemani tiap langkah.Jalanan komplek sepi, meski sesekali ada saja kendaraan melewatiku yang langkahnya terasa lebih ringan."Apa kalian suka?" Ucapku yang berhenti sejenak karena kakiku protes meski perut yang kusentuh menunjukan kehidupan."Lain kali... lain kali kita jalan juga sama papa, ya?"Kalimat yang terucap itu bahkan terdengar kaku. pun terasa
Aku tahu, adikku yang terus tidur tidak mungkin memaafkanku yang ingin menyerah pada hidup. Hal yang sudah dilakukan orang tua kami dulu."Tidak mungkin Santo mau bertemu denganku sekalipun tuhan mengizinkan, kan Mas?"Mataku yang sembab kembali merasa perih, meski bibirku tersenyum saat kurasakan dua bayiku bergerak lincah, seolah menjawab ucapanku yang sedang bertanya pada ayah mereka.Gerakan keduanya menimbulkan sensasi yang kuhafal dan benar-benar kurasakan.Dan dua bocah yang tampak aktif dalam perutku ini tak ingin berhenti bergerak selama beberapa lama. Seolah mau menemaniku yang menatap ayah mereka sebelum mengusap perutku lagi."Ayo kita ketemu om Santo, banyak yang ingin mama katakan padanya."****Zreeg.Aku menutup pintu geser di belakangku sepelan saat aku membuka.Tidak ingin mengganggu apalagi membangunkan tiga tubuh yang tertidur lelap mendekap malam.Sesekali dengkuran terdengar dari satu-satunya pria yang tidur di samping ibu yang tangannya memeluk Bapak.Sementa
"Runi, ayo bawa Santo pulang."Kalimat mas Rendra membuat pupil mataku membesar, seketika lurus menatap lelaki yang kalimatnya sama persis dengan ucapan ibu, wanita yang sudah menyerah pada adikku.Tetapi, Mas Rendra melanjutkan ucapannya sebelum aku sempat mengatakan apapun!"Kamu tahu, Runi. Tinggal di rumah pasti terasa lebih nyaman untuk Santo."Dan mulutku hanya terbuka dengan penolakan yang tertahan dalam tenggorokan. Mencerna ucapan mas Rendra yang kalimatnya tidak meninggalkan celah keraguan."Tinggal di dalam kamarnya sendiri, dikelilingi benda-benda yang disukainya, pun mendengar suara dari orang-orang yang dikenal Santo--" ucap pria yang tampak sudah memikirkan semua dengan matang itu lalu tersenyum dan mengecup bibirku yang benar-benar menelan protesku, "--membawa Santo pulang ke tempat yang ia kenali, tidakkah itu terdengar lebih baik?"Mataku bahkan tidak berkedip, seolah diriku tidak ingin melewatkan kata per kata yang mas Rendra perdengarkan hanya untuk diriku detik in
"Runi, ayo kita pulang."Gedung dengan cat usang yang makin jauh tertinggal itu meninggalkan rasa pahit di dalam mulutku yang masih rapat menutup mulut.Tidak bersuara apa lagi menjawab ajakan mas rendra yang tatapannya kuraskan namun aku abaikan.Bahkan saat tanganku yang mas Rendra genggam ia kecup, aku masih tidak menoleh. Hanya menatap keluar.Dan lelaki yang tahu aku tidak akan merespon, menyalakan mesin kendaraan lalu melajukan kendaraanya menjauh dari gedung yang menjadi penjara bagi orang-orang yang mas Rendra kenal.Clara yang beberapa Minggu lagi melahirkan, Dedo yang terus mengatakan permintaan sama, Calista yang terlihat tidak perduli untuk segala hal, juga pak Bram yang butuh pertolongan.Sementara jalanan ramai yang klaksonnya dibunyikan dari banyaknya kendaran, tidak mampu mengusik diriku yang terus menatap keluar. Tidak sekalipun menoleh pada lelaki yang pandangannya terasa meski ia harus fokus pada jalan.Mas rendra yang tahu aku tidak ingin bicara, juga tidak mengata
Aku yang sudah dikuasai emosi, tidak memiliki keinginan untuk berhenti. Tongkat di tangan terus kuayunkan pada tubuh babak belur pak Bram yang terkulai di atas beton!'Apa yang sedang kulakukan?'Rasanya, sebaris kalimat itu muncul tapi tenggelam dalam emosi yang tak bisa kukendalikan.Sementara pak Bram yang tidak mampu memberi perlawanan ataupun menolak, memohon padaku yang bisa melihat Santo, adikku yang tubuhnya panas dan lemah, dipukuli hanya karena ia tidak ingin menjauh dariku yang kehilangan sadar!Di dalam kepala dan mataku, rasanya aku bisa melihat bagaimana tubuh lemahnya yang memilih tinggal di rumah dari pada kembali ke rumah perawatan, disentuh dengan cara yang kasar.Dan, dentuman keras tongkat yang kuayunkan mengalahkan lenguhan pak Bram yang pasti tidak menyangka, jika kejujurannya benar-benar meleburkan batas ketenanganku yang rasanya tidak lagi memiliki sisa!Tanganku serasa mati rasa. Telapak tanganku yang erat menggenggam tongkat serasa terbakar.Tapi, aku terus