Home / Romansa / Lady D Milik Sang Penguasa / Bab 59. Menciptakan alasan

Share

Bab 59. Menciptakan alasan

Author: Runayanti
last update Last Updated: 2025-03-15 10:08:28

"Ahh, ini kacau sekali... bagaimana bila kalian lupakan saja malam itu, lalu Dea..." Jean menoleh ke arah Bob dan pria lainnya yang merasa tertarik untuk mendengar lebih lanjut.

"Kurang  nyaman untuk membahas ini dengan pria sebanyak itu di belakang kita," bisik Jean.

Yama mengangguk pelan, ekspresinya berubah serius. Lalu dengan satu gerakan halus, ia mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada anak buahnya.

Semua pria di ruangan segera bergerak keluar, kecuali Bob.

"Kamu juga, Bob," perintah Yama.

"Tapi, Tuan..."

Tatapan tajam Yama membuat Bob menelan kembali protesnya. Dengan enggan, ia berbalik dan berjalan ke luar ruangan, meski tetap berdiri di depan pintu dengan ekspresi tidak senang.

Saat hanya tinggal berdua, Yama kembali fokus pada Jean. "Lanjutkan."

Jean menghela napas. "Apakah kamu sudah memiliki per

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 60.Yama bertindak

    Dia merasa masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan membayar kembali satu milyar itu. Pria di hadapannya juga tidak akan menerima begitu saja. Dan Nenek Yama akan patuh pada saat Yama mulai mencintai Dea."Bila mereka saling mencintai, tidak ada orang yang mampu memisahkan mereka karena Yama, pria penuh kuasa ini tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Dea. Yes! Sebuah pertimbangan yang sempurna," pekik Jean dalam hati. Merasa pintar!Kali ini Jean melanjutkan kalimatnya dengan nada lebih lembut. "Dea tidak akan langsung menerima pernikahan ini. Tapi jika kau bersabar, mungkin lama-kelamaan dia akan terbiasa."Yama menyipitkan matanya. "Jadi kau ingin aku menunggunya jatuh cinta padaku dulu baru menerima pernikahan?"Jean mengangguk seperti bocah kecil dan kedua mata berbinar-binar."Dan ini tentu akan membutuhkan waktu. Kamu tahu jelas, aku bukan pria yang suka bermai

    Last Updated : 2025-03-16
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 61. Aku ingin menjadi pria

    "T-tapi untuk apa? Maksudku, Tuan bisa mengutus kami bila ingin menyelidiki sesuatu. Kami akan-""Laksanakan sesuai perintahku dan jangan bertanya lagi."Klik!Panggilan diputuskan secara sepihak. Yama merasa janggal tetapi juga tertarik untuk memainkan peran barunya."Hmm, kita lihat sampai di mana permainan ini akan berlanjut," gumamnya dengan wajah dingin dan datar.Sementara itu, di dalam mobil, Bob melirik Jean dari sudut matanya. Sejak mereka meninggalkan tempat Yama, wanita itu tak mengucapkan sepatah kata pun.Sebelumnya, Jean selalu penuh celotehan, tapi kali ini ia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.Penasaran dengan hasil diskusi antara Jean dan Yama, Bob akhirnya membuka mulut. "Jadi, bagaimana? Apa yang kalian putuskan?"Jean tetap diam, menatap lurus ke luar jendela, seolah tak mendengar pertanyaan Bob.

    Last Updated : 2025-03-16
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 62. Canggung

    Dea mengernyit. "Apa yang terjadi? Wajahmu merah sekali. Kamu demam?""Tidak!" Suara Jean terlalu besar. Membuat Dea hampir menyenggol mangkuknya sendiri karena terkejut.Jean segera memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Dea dan mengatasi kecanggungan dirinya yang merasa serba salah."Ak-aku harus mandi. Panas! Gerah sekali hari ini!" Ia buru-buru berbalik dan berjalan cepat menuju kamar mandi, meninggalkan Dea yang semakin bingung dengan mie yang masih terjulur dari mulutnya."Aneh," gumamnya seraya menelan sisa mie dengan sekali sedot.Dea hanya mengangkat bahu dan kembali menikmati mi instannya. "Aneh sekali..." gumamnya sekali lagi dengan pelan.Jean berdiri di depan cermin kamar mandi, air hangat mengalir dari pancuran di belakangnya, menguapkan kaca hingga samar-samar memantulkan bayangannya.Ia menatap dirinya sendiri, menelusuri garis-garis wajahnya, la

    Last Updated : 2025-03-17
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 63. Aku tidak butuh cinta

    Jean mengetuk meja dengan jemarinya, lalu mendengus. "Dia hanya pria menyebalkan yang suka bermain dengan kata-kata. Aku tidak akan terjebak.""Hmm," Dea mengangguk pelan, tetapi tidak terdengar yakin. "Kalau begitu, kenapa wajahmu memerah saat keluar dari kamar mandi tadi?"Jean terbatuk. "Itu—itu tidak ada hubungannya dengan Bob!"Dea tersenyum penuh arti, tetapi tidak menekan lebih jauh."Hmm, Bob.""Baiklah, kalau kamu bilang begitu. Tapi ingat satu hal, Jean. Kamu boleh sekuat apa pun, boleh setegar apa pun, tetapi kamu juga manusia. Kamu bisa jatuh cinta. Itu bukan hal yang buruk.""Aku sendiri, juga ingin jatuh cinta lagi," lanjut Dea dengan mata menerawang jauh. "Tapi itu butuh waktu, Sanjaya menyakitiku terlalu dalam.""Cinta?" Jean mendengus. "Aku tidak butuh cinta. Aku hanya butuh memastikan orang-orang yang kusayangi tetap aman. Itu saja.""Kamu, te

    Last Updated : 2025-03-17
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 64. Apakah kamu memiliki dua topeng?

    Dea tidak mampu terlepas dari rasa terkejutnya. "Eh, kau tahu?""Tentu saja tahu." Yama mengelap tangannya yang kotor dengan sebuah handuk kecil lalu menatap Dea lebih serius."Untuk setiap uang yang masuk ke dompetmu, ada perjanjian yang harus ditanda tangani." Yama mendekatkan bibirnya ke telinga Dea seraya berbisik, "Katakan. Apa yang sudah kalian sepakati di belakangku?"Dea mengerjapkan kedua matanya, dia bingung bagaimana mengatakan yang sebenarnya bahwa dia menerima sejumlah uang itu sebagai persyaratan untuk memutuskan hubungan dengan pria di hadapannya saat ini."A-aku..."Yama terkekeh. "Baiklah, kalau kamu memang penasaran, kenapa tidak sekalian membantuku bekerja? Aku butuh seseorang untuk membantu menyusun barang di rak."Dea mendengus. "Aku bukan karyawan di sini.""Tapi sepertinya kamu terlalu penasaran untuk pergi." Yama menatapny

    Last Updated : 2025-03-18
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 65. Drama

    Yama tertawa kecil. "Baiklah. Tapi aku berharap kita bisa bertemu lagi, Dea. Aku tinggal di sekitar sini. Mari kita bertemu lain kali!"Dea tidak menjawab, hanya berjalan cepat keluar dari toko, mencoba menenangkan debaran aneh di dadanya. "Dia tingggal di sekitar sini?" Dea bergumam dengan kesal dan memegang erat tas jinjingnya."Apa-apaan tadi, menjadi kekasih? Bayar Nenekmu satu milyar dulu!" omel Dea sepanjang jalan.Di satu sisi dia merasa menyesal dengan keputusannya untuk menandatangani perjanjian seharga itu, tetapi uang itu juga dibutuhkan olehnya."Mau mencari kesempatan dari mana bila menolak satu milyar dengan mudah?""Uang tidak akan jatuh dari langit, Dea. Begitu pula pria tampan.""Neneknya membayar langsung, pasti karena dia memiliki kekuatan untuk menghancurkan bila perjanjian dilanggar. Dea, sadarlah!" bathin Dea seraya menepuk keningnya sendiri beberapa kali sambil melangkah menuju

    Last Updated : 2025-03-18
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 66. Terlalu tampan sebagai pasien

    “Kamu kenapa balik lagi?” tanya Dea bingung.Yama mengulurkan sesuatu. “Ini hapemu ketinggalan.”Dea menatap ponselnya di tangan Yama. Dia benar-benar tak punya alasan lagi untuk tetap marah.“Astaga.” Dea mendesah dan mengambil ponselnya. “Dengar, aku mungkin keterlaluan. Maaf.”Yama mengangkat bahu, tetapi tidak mengatakan apa-apa.Dea menggigit bibir, lalu menatap luka di wajah Yama. “Itu pasti sakit.”“Ya, terima kasih sudah menyadari,” balas Yama sarkastik.Dea menghela napas. “Ayo ikut aku.”“Kemana?”“Ke klinik. Itu luka harus diobati.”Yama mengangkat sebelah alis. “Oh, jadi sekarang kamu sedang peduli, atau sedang menjalani skenario drama yang kamu sebutka

    Last Updated : 2025-03-19
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 67. Harga yang terlalu mahal

    "Seandainya mereka tahu dia itu gigolo yang menyamar, maka mereka akan bersikap lebih ketus," kekeh Dea dalam hati seraya menghibur dirinya sendiri.Sesaat kemudian, waktu berjalan terlalu lama hanya untuk sebuah pengobatan ringan. Dea tidak tahan lagi. Ia berdiri menuju ke meja kasir, hendak membayar biaya pengobatan."Hei, tunggu! Mau ke mana?" tanya Yama, setengah bingung."Membayar! Bukankah kamu bilang aku yang harus bertanggung jawab?" sahut Dea dengan nada ketus.Yama tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Namun, beberapa detik kemudian, Dea berteriak saat melihat tagihan."Gila! Dua ratus ribu untuk perban dan antiseptik seharga lima ribu per botol?!" serunya kaget.Dengan wajah tidak percaya, Dea melangkah keluar untuk membaca nama klinik yang tertempel di depan pintu masuk. Lalu, dengan suara keras, ia membaca tulisan di papan nama."Klinik He

    Last Updated : 2025-03-19

Latest chapter

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 103.Menolak bertemu

    Dengan perasaan puas, ia mengembuskan napas perlahan dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Matanya bersinar dengan kilatan kemenangan yang berbahaya."Tunggu saja, Dea... aku akan memastikan kehancuranmu kali ini."Di luar sana, dunia berputar seperti biasa. Langit biru membentang luas tanpa peduli pada konspirasi yang sedang direncanakan di bawahnya. Namun, bagi mereka yang terlibat dalam skenario ini, langit tak lebih dari saksi bisu dari kisah yang akan segera berubah menjadi malapetaka.Dan di kandang kuda kerajaan, sebuah drama menarik akan segera dimulai!Yama turun dari mobilnya dengan penuh percaya diri, mengenakan jas hitam yang tampak elegan di bawah cahaya matahari sore yang mulai meredup. Mereka baru saja tiba di halaman istana kerajaan.Bob mengikuti di belakangnya, membawa kotak khusus yang berisi dokumen serta surat persembahan untuk Pangeran Edward. Namun, saat me

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 102. Kuda jantan

    Dea menelan ludah, tangannya menggenggam erat selimut yang masih menyelimuti tubuhnya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu-ragu. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Bahkan, ia sendiri masih mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.Yama memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berbalik menatap Dea dengan ekspresi serius. “Kamu istirahat saja dulu di sini,” katanya dengan nada yang tidak bisa ditolak. “Aku akan keluar untuk mengurus sesuatu.”Dea menggigit bibirnya. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, tetapi mulutnya seperti terkunci. Ia hanya bisa menatap Yama dengan ekspresi bingung.Seolah memahami pikirannya, Yama melangkah mendekat, menatapnya dengan intens. “Jangan pernah lari dariku lagi,” ucapnya dengan nada rendah, tapi penuh ancaman terselubung. “Atau aku akan benar-benar membencimu kali ini.”Dea menahan na

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 101. Bibirmu manis sekali

    Tapi di sisi lain, ada rasa hangat yang bertahan di dadanya. Sesuatu yang ia takuti untuk akui selama ini. Bahwa ia merasa nyaman bersama Yama. Bahwa mungkin, hanya mungkin, ia mulai menyukai lelaki itu lebih dari sekadar malam bergairah. Cinta satu malam yang ada di novel atau drama ternama. Dan semalam, Dea tidak memungkiri kenikmatan dan kepuasan yang ia dapatkan.Saat Yama bergerak dalam tidurnya, Dea buru-buru menutup matanya, berpura-pura masih tidur. Ia bisa merasakan lelaki itu mengangkat kepalanya dan mendesah pelan."Dea... aku tahu kau sudah bangun."Dea membuka satu matanya, mendapati Yama menatapnya dengan ekspresi datar namun penuh perhatian."Kamu... sadar semalam?" tanya Dea, sedikit gugup."Tentu saja," jawab Yama, menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Kemejanya yang tidak terkancing, menampilkan lekuk otot perut berkotak-kotak yang membuat Dea merasa malu u

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 100. Jangan pernah kau buang lagi benihku!

    Kemudian, tanpa memberi waktu bagi akal sehatnya untuk mengintervensi, Yama menindih tubuh Dea yang lemah di ranjang sempit rumah sakit itu. Bibirnya turun perlahan, menutup celah di antara mereka.Ciuman itu pertama kali terasa ragu, tetapi detik berikutnya menjadi lebih dalam dan menuntut. Dea mendesah manja, seolah-olah sangat dahaga. Dia merespons dengan gerakan pelan, tangannya yang lemah terangkat, meremas kerah baju Yama, seolah berusaha menahannya agar tidak pergi."Yama..." desah Dea dengan suara yang tidak dapat Yama abaikan. Suara yang membakar gairahnya secara penuh.Yama tahu ini salah. Dea masih dalam pengaruh obat, tubuhnya lemah, dan mereka ada di rumah sakit. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa menahan diri. Perasaan yang selama ini ia kubur dalam-dalam akhirnya meledak di antara mereka.Inti mereka bersatu dengan semua kerinduan dan kebencian yang bercampur aduk, dalam keheningan kamar pasien yang menjadi saksi b

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 99. Obat yang kuat

    "Kau adalah Yamaaa... pria tampan milikku!" celoteh Dea dengan wajah yang mulai memerah. Dea masih berusaha menarik Yama kembali ke dalam pelukannya. Napasnya semakin berat, tubuhnya tampak panas dan berkeringat."Yama... jangan pergi dong..." rengeknya, suaranya manja.Yama menggeram, merasa dadanya sesak melihat keadaan Dea seperti ini. Si brengsek yang memberinya obat ini akan membayar mahal! Tapi untuk saat ini, yang terpenting adalah memastikan Dea baik-baik saja. Ia meraih segelas air di meja dan menyodorkannya ke bibir Dea."Minum ini dulu. Kumohon, Dea," ucapnya dengan lembut, berusaha menenangkan gadis itu.Namun, Dea menggeleng, malah meraih tangan Yama dan mengecupnya. "Aku hanya ingin kamu..."Yama merasakan debaran jantungnya semakin cepat. Ia harus tetap waras! Harus tetap fokus!Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan keras. Seorang dokter paruh b

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 98. Mari mengulang malam itu

    Jantung Yama berdetak cepat. Ia tahu ada yang tidak beres. Dea tidak mungkin pergi tanpa menghabiskan makanannya, dia ingat bagaimana Dea menghabiskan nasi goreng pada saat di rumah sakit. Dan minuman boba itu, aneh!"Dea!" serunya, berharap mendapat jawaban. Tapi tidak ada siapa pun.Ia segera berlari keluar, mencari siapa saja yang bisa memberinya jawaban. Matanya menyapu lorong, mencari sosok Sanjaya yang mungkin berada di sana. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa pria itu yang bertanggung jawab atas semua ini."Ada yang aneh!"Yama keluar dari ruangan itu dengan perasaan tidak enak. "Segera cek rekaman CCTV!"Mereka segera berlari ke ruang sekuriti.Dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Pangeran Edward, mereka bebas mengakses data Rumah Sakit.Kedua mata Yama membulat sempurna pada saat melihat bayangan Sanjaya mengendong Dea keluar dari kamar inap ayahnya ke kamar lain."Di sana!" Tanp

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 97. Segelas boba petaka

    "Tambah gula seperti biasa, Mas?" tanya barista yang ramah.Sanjaya menelan ludah. "Iya. Jangan lupa ekstra es."Setelah menerima pesanannya, ia keluar dari toko dan berjalan menuju mobilnya yang diparkir di seberang jalan. Ia membuka pintu, duduk di kursi pengemudi, lalu merogoh saku jaketnya. Sebuah botol kecil berisi cairan bening bergetar di tangannya."Maaf, Dea," bisiknya sebelum menuangkan beberapa tetes cairan itu ke dalam minuman.Setelah memastikan obat itu larut sempurna, ia mengocok gelas boba perlahan, lalu melanjutkan perjalanan ke rumah sakit dengan perasaan yang tertekan.Seperti biasa, ia selalu membawa makanan untuk Dea, seolah tak ada yang berbeda. Dea pasti tak akan curiga. Itulah yang membuatnya semakin sakit hati. Kepercayaan yang diberikan oleh mantan kekasihnya itu akan dia lukai sekali lagi.Sesampainya di rumah sakit, ia melangkah menuju kamar tem

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 96. Ketemu!

    "Aku hanya perlu melakukan ini sekali saja," gumamnya, meyakinkan dirinya sendiri. "Setelah itu, aku bisa segera kembali ke Indonesia."Sanjaya melangkah dengan tekad bulat untuk pergi mencari obat yang bisa membuat Dea tertidur, tanpa menyadari bahwa ia tengah berjalan menuju kehancurannya sendiri, juga kehancuran Dea.Senja menjelang ketika Meisya kembali menghubungi Sanjaya. Nada suaranya dingin dan tegas, tanda bahwa kesabarannya mulai menipis."Jadi?" tanyanya tanpa basa-basi. "Mana obat tidur yang kusuruh kau beli?"Di seberang telepon, Sanjaya menelan ludah. "Aku... aku belum berhasil mendapatkannya. Obat seperti itu tidak dijual sembarangan, Meisya. Aku sudah mencari di beberapa tempat, tapi...""Alasan!" bentak Meisya. "Aku membayar mahal untuk rencana ini, Sanjaya! Kalau kau tidak becus, aku akan mencari orang lain.""J-jangan!" Sanjaya mengepalkan tangan. Diriny

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 95. Foto yang membuang uang.

    Di dalam kamar hotel yang mewah dengan lampu redup, Meisya duduk di atas sofa berlapis beludru berwarna lembut. Jemarinya yang ramping menggulung layar ponsel berisi setumpuk foto yang baru saja dikirimkan kepadanya. Bibirnya menipis, matanya menyipit menatap gambar-gambar itu.Dea tampak tersenyum di salah satu foto, duduk berdampingan dengan Sanjaya di sebuah kafe. Di foto lain, pria itu terlihat menatapnya dengan intensitas yang sulit diartikan. Meisya menggigit bibirnya, menahan amarah yang mendidih di dadanya. "Tatapan penuh cinta! Menggelikan pria munafik ini!"Dalam foto lain, Sanjaya terlihat sedang menikmati makanannya dengan Dea di kursi rumah sakit. Sebuah pemandangan yang menunjukkan keakraban mereka dalam berbagi moment kebersamaan, tetapi Meisya tidak merasa tertarik sama sekali."Cih! Foto yang membuang uang!" geram Meisya.Dia sangat kesal karena Yama tetap saja memikirkan Dea, meskipun ia telah me

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status