"Seandainya mereka tahu dia itu gigolo yang menyamar, maka mereka akan bersikap lebih ketus," kekeh Dea dalam hati seraya menghibur dirinya sendiri.
Sesaat kemudian, waktu berjalan terlalu lama hanya untuk sebuah pengobatan ringan. Dea tidak tahan lagi. Ia berdiri menuju ke meja kasir, hendak membayar biaya pengobatan.
"Hei, tunggu! Mau ke mana?" tanya Yama, setengah bingung.
"Membayar! Bukankah kamu bilang aku yang harus bertanggung jawab?" sahut Dea dengan nada ketus.
Yama tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Namun, beberapa detik kemudian, Dea berteriak saat melihat tagihan.
"Gila! Dua ratus ribu untuk perban dan antiseptik seharga lima ribu per botol?!" serunya kaget.
Dengan wajah tidak percaya, Dea melangkah keluar untuk membaca nama klinik yang tertempel di depan pintu masuk. Lalu, dengan suara keras, ia membaca tulisan di papan nama.
"Klinik He
"Uangku terbatas, dan aku lebih milih buat beli makan malam daripada bayar ojek," katanya tegas.Yama mengangguk-angguk, lalu tanpa peringatan, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. "Nih, buat ojek."Dea menatap uang itu dengan ekspresi horor. "Nggak! Aku nggak butuh belas kasihan!""Siapa yang bilang ini belas kasihan? Ini investasi.""Investasi apa?""Investasi biar kamu nggak terlibat drama lain di tengah jalan dan bikin aku kena masalah."Dea mengerang frustasi. "Aku nggak akan terlibat drama lagi selama kamu tidak ada di sekitarku! Sudahlah, aku naik bus saja."Yama hanya mengangkat bahu. "Oke, terserah kamu. Aku sih tetap di sini sampai busnya datang.""Kenapa?""Karena aku baik hati." Ia tersenyum lebar."Dan aku ingin dekat-dekat denganmu." Yama mengatakan
Jean sudah menunggu di pemberhentian bus, tepat seperti instruksi Dea. Ia duduk di atas motor dengan ekspresi datar, sesekali memainkan ponselnya. Begitu melihat sosok Dea berjalan mendekat, ia segera menegakkan tubuh dan menghidupkan mesin.Dari kejauhan, Yama melangkah mendekat. Napasnya sedikit berat, mungkin karena luka di bahunya yang masih nyeri. Namun, bukan itu yang membuatnya merasa lebih sakit. Melainkan pemandangan Dea yang seolah tak ingin lagi ada hubungannya dengan dirinya."Sampai bertemu lagi," ujar Yama dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, tapi penuh ketulusan.Dea menoleh sekilas. Mata mereka bertemu. Tapi yang ia lihat bukan kerinduan, bukan juga harapan. Hanya dingin."Lebih baik tidak usah," sahut Dea tanpa ekspresi. "Urus dirimu sendiri, Yama. Setelah malam itu, kita tak punya urusan lagi."Yama mengernyit. Ada sesuatu dalam nada suara Dea yang membu
Beberapa saat kemudian, Yama menatap pemandangan di hadapannya dengan mata menyipit tajam. Di lantai ruang tamunya yang berukuran sempit, dua orang tergeletak dengan wajah lembam dan pakaian kusut.Lelaki itu, Sanjaya, tampak menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit, sementara wanita di sampingnya, Melia, menangis pelan dengan tubuh gemetar. Mereka berdua jelas habis menerima perlakuan kasar.Di sudut ruangan, Bob berdiri tegak, tangannya masih berlumuran darah yang tidak jelas milik siapa. Mata anak buah kepercayaannya itu memancarkan kepuasan, seolah baru saja menyelesaikan tugas besar yang membanggakan."Apa yang sudah kau lakukan, Bob?" Suara Yama terdengar datar dengan tatapan dingin, ada bahaya yang mengintai di balik ketenangan itu.Bob mengangkat kepalanya, tampak bingung dengan reaksi Yama. "Saya hanya menjalankan perintah, Tuan.""Perintah?" Yama mendekat dengan langkah berat. "Sa
Malam itu, di rumah Jean yang kecil namun nyaman, Dea duduk di tepi ranjang dengan wajah penuh keraguan. Jean yang tengah merapikan beberapa buku di mejanya menoleh dan menatap Dea dengan tajam."Aku ingin pulang besok, Jean," kata Dea dengan suara pelan, namun cukup jelas untuk didengar oleh sahabatnya.Jean segera meletakkan bukunya dan menatap Dea tajam. "Tidak! Kau tidak boleh pulang."Dalam hati, Jean sebenarnya ingin mengatakan, 'Apalagi setelah ada kesepakatan dengan Yama.' Namun, Jean masih memilih merahasiakan pertemuan singkat mereka.Dea menghela napas. "Tapi, Jean... Aku merasa bersalah meninggalkan Ibu dan Adikku begitu saja. Ayahku juga sedang sakit. Hum,mereka pasti butuh aku."Jean mendengus dan melipat tangannya di dada. "Kau tahu, Dea? Mereka hanya akan terus menguras uangmu. Kau tahu betul itu. Lebih baik kau menghindar sementara sampai keadaan lebih tenang."Dea terdiam, menunduk dan memikirkan perkataan Jean. Ia tahu sahabatnya itu tidak asal bicara. Ada kebenaran
Pria itu hanya sebuah iklan lewat bagi dirinya yang tidak pernah mempercayai makhluk berjenis kelamin 'laki-laki'.Jean meletakkan ponselnya di meja, lalu berbaring. Matahari besok akan membawa hari baru, dan ia harus siap menghadapi Dea dengan argumen yang lebih kuat agar sahabatnya itu tetap tinggal.***Pagi-pagi sekali, ponsel Dea sudah bergetar tanpa henti. Nama "Ibu" berkedip di layar, dan seperti yang sudah diduga, panggilan itu bukan sekadar menanyakan kabarnya."Dea, kamu ada uang, kan? Rumah sakit sudah menagih lagi," suara ibunya terdengar mendesak, tanpa basa-basi.Dea menekan ujung hidungnya yang terasa dingin, berusaha mengusir lelah yang belum sepenuhnya pergi."Tapi semalam, aku baru membayar enam puluh juta dan-""Ya, kau kira operasi itu murah? Itu hanya pembayaran pertama!" potong ibunya tanpa membiarkan kesempatan bagi Dea untuk mengatakan lebih lanjut.
Apa maksudnya? Kenapa Meisya tiba-tiba menawarkan bantuan seperti itu? Rasa waspada dalam dirinya meningkat. Namun, di sisi lain, pikirannya dipenuhi oleh kondisi sang ayah. Pengobatan di luar negeri mungkin memang satu-satunya jalan."Gimana, Dea?" Suara Meisya yang lembut membuyarkan lamunannya.Dea menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Apa yang terjadi?”Meisya tetap tersenyum, seolah memahami kebingungan yang melanda diri Dea.“Ayahku harus menjalani perawatan di luar negeri,” jawabnya akhirnya, dengan nada lesu.Senyum Meisya semakin lebar. “Baguslah.”Dea terkejut. Alisnya bertaut. “Apa maksudmu?”Meisya terkesiap, lalu segera mengoreksi ucapannya. “Maksudku, bukankah lebih baik ada pengobatan yang tepat daripada tidak ada kesembuhan di sini? Bukankah kamu ingin menyembuh
"Dea, sebelum aku mengatur semuanya, aku ingin memastikan kita memiliki kesepakatan yang resmi," ujar Meisya, suaranya lembut tetapi tegas.Dea merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu dalam cara Meisya berbicara yang membuatnya tak nyaman. Ia meraih map itu dengan tangan sedikit gemetar, lalu membuka isinya."Apa ini?" tanyanya, meski ia sudah bisa menebak jawabannya.Meisya menggeser kertas-kertas di dalamnya ke arah Dea. "Ini adalah surat pernyataan bahwa kamu telah menerima bantuan dariku dan bersedia meninggalkan Yama selamanya."Dea menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Ia sudah menduga akan ada sesuatu seperti ini. Meisya bukan tipe orang yang akan membiarkan segalanya berjalan tanpa jaminan. Dan sekarang, ia berada di sudut yang sulit untuk keluar. Dea menyadari bahwa wanita itu sudah mempersiapkan semuanya dengan lengkap, berarti dia sudah merencanakan semua ini juga. Namun, Dea
Omelan dari wanita paruh baya itu membuat Dea merasa terbakar dalam amarah, Dea sedikit terkejut dengan setiap perkataan dari sang ibu, namun ia tidak punya pilihan selain menurut. Mengikuti langkah dari ibunya yang masih tetap berceloteh panjang lebar.Dengan langkah tergesa, ia menuju ke kasir. Pegawai kasir tersenyum ramah, lalu menyebutkan jumlah tagihannya."Totalnya tiga ratus dua puluh lima juta rupiah, Bu."Dea membelalakkan mata. Jantungnya berdebar kencang. Jumlah itu lebih dari cukup untuk membeli sebuah apartemen kecil. Tapi ia mencoba tetap tenang. Dengan polos, ia mengeluarkan kartu tipis berlogo phoenix dan menyerahkannya pada kasir.Kasir itu sedikit terpana. Hanya beberapa orang yang memiliki kartu istimewa seperti ini. Dia menegadahkan kepalanya melihat Dea dengan lebih teliti dan wajah penuh kecurigaan.Dea berdehem kecil untuk menutupi kecanggungannya.Akhirnya kasir itu menggesek
Dea terdiam, akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke jendela. Di luar, langit malam tampak begitu luas dan dingin. Hatinya juga terasa sama—dingin dan penuh ketidakpastian.***Sementara itu, di mansion keluarga Yama, pria tinggi itu melangkah masuk dengan ekspresi gelap. Para pelayan menunduk dalam ketakutan saat melihat wajahnya yang penuh amarah. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ruang utama, di mana neneknya sudah menunggu dengan ekspresi dingin."Duduk," perintah wanita tua itu.Yama menahan diri untuk tidak melawan. Dengan rahang mengeras, ia duduk di sofa berhadapan dengan neneknya."Apa yang sedang kau lakukan, Yama?" suara neneknya terdengar tenang, namun penuh tekanan."Menutup bandara hanya untuk mencari seorang wanita tidak berguna? Berita apa lagi yang ingin kau timbulkan untuk membuat saham kita jatuh?""Ak
Mobil sudah sampai di terminal keberangkatan. Dengan kemarahan yang nyaris meledak, Yama melangkah cepat masuk ke dalam terminal VIP bandara yang kini ditutup atas perintahnya.Matanya menyapu sekeliling dengan penuh harapan, namun bayangan Dea sama sekali tidak terlihat. Rasa frustrasi menyelimutinya. Sudah pasti mereka terlambat."Brengsek!" Yama menghempaskan pantatnya dengan kasar di kursi tunggu. Napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan amarah yang nyaris meluap. Kedua matanya penuh dengan sklera merah.Yama menyadari sesuatu, Neneknya terlibat dalam hal ini. Atau Meisya! Mereka sengaja mengatur agar Dea segera menghilang dalam kehidupannya, tapi ke Inggris?Yama mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Satu-satunya negara yang belum dia taklukkan! Rencana Nenek secara keseluruhan sudah mulai tercium olehnya.Bob menelan ludah, lalu mencoba meredakan ketegangan. "Kita bisa kejar k
Ibunya tampak sedikit goyah saat mereka menaiki helikopter, tapi tidak berkata apa-apa. Dea sendiri hanya bisa menatap kosong ke layar ponselnya yang masih berdering sesekali, menunjukkan panggilan terakhir dari Jean. Ia menggenggam ponselnya erat, lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya sebelum melangkah masuk.Saat helikopter mulai lepas landas, Dea menoleh ke samping. Ibunya sibuk dengan ponselnya, mengetik pesan dengan cepat. Sesekali, wanita itu mengambil beberapa foto selfie dengan ekspresi bangga, seolah ini adalah perjalanan wisata bukannya perjalanan penuh kecemasan menuju ketidakpastian.Dea hanya bisa menatap lurus ke depan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan gejolak emosi yang sejak tadi menghantam dirinya. Ini bukan sekadar perjalanan untuk ayahnya. Ini adalah perjalanan yang akan mengubah segalanya.Di dalam benaknya, nama Yama berkelebat. Pria yang hanya singgah sesaat, j
"Pergilah mengurusnya! Jadilah anak berbakti, Dea," sahut ibunya tanpa melihat ke arahnya. Fokus utamanya ke layar ponsel berisi foto Leo-sang adik.Ibunya mengibas sebelah tangannya seperti mengusir lalat imajiner, matanya masih berbinar penuh kebanggaan terhadap adik Dea, tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi di hati putri sulungnya. Dia bahkan lupa menanyakan tentang helikopter ambulance yang akan mereka pakai atau bagaimana mereka akan membayar semua itu seolah-olah semua adalah tanggung jawab Dea.Dia merasa tidak perlu memusingkan hal itu.Dengan langkah berat, Dea beranjak menuju ruang administrasi rumah sakit untuk memastikan semua berkas keberangkatan telah siap.Perawat memberikan beberapa dokumen yang perlu ditandatangani, dan ia menandatanganinya dengan tangan yang sedikit gemetar. Semua ini terasa begitu nyata sekarang."Lima ratus juta... " gumam Dea dengan suara kecil seraya mengeluarkan kartu tipis yang diberikan
Dea memeluk dirinya, terasa nyeri di bagian depan dadanya karena apa yang dilakukan oleh Yama tadi. Dia menyadari betapa terobsesinya pria itu terhadap tubuhnya dan itu sangat menjijikkan serta membuat hatinya terpuruk.Dea terdiam sejenak, sebelum menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca, suaranya terdengar rapuh ketika berbicara. "Tidak..."Suaranya kecil, hampir tidak terdengar."Yama... dia hanya menginginkan tubuhku, tapi saat aku menyerah... saat aku pasrah, dia malah tidak melanjutkan aksinya."Dea merasa dirinya mungkin akan menginginkan sentuhan Yama bila dilakukan dengan cara yang lebih lembut. Pemaksaan seperti itu lebih bisa dinilai sebagai sebuah pelecehan daripada pemuasan gairah dan itu sangat menjengkelkan baginya.Jean mengernyit. "Apa maksud dia?" tanyanya bingung. "Arghhh!" geram Jean."Entah apa yang ada di dalam pikiran para pria itu?"Bayangan Bob yang memaksa mencium serta menindihnya tadi tiba-tiba
"Sial!" Jean memaki dalam hati. Dia tertangkap lagi oleh Bob. Tubuhnya dipikul di bahu Bob dengan mudah seperti memikul karung goni.Bob, yang masih kesakitan, bangkit dengan cepat. Matanya membara penuh kemarahan. "Kau membuatku benar-benar marah sekarang."Jean melakukan perlawan dengan memukul punggung Bob, kedua matanya mencari sesuatu untuk mempertahankan diri. Jean bisa mendengar dengan jelas, suara Dea di dalam kamar mandi. Temannya juga sedang dilecehkan oleh Yama. Tubuhnya bergetar karena marah!Kebencian Jean berkilat di matanya. Saat Bob menurunkan tubuhnya. Matanya melirik vas bunga di meja sudut. Ia meraihnya dengan cepat dan mengangkatnya tinggi-tinggi."Jangan mendekat, Bob!" ancamnya dengan suara gemetar.Bob menyeringai, lalu melangkah maju. "Dan kalau aku tetap maju? Kau mau apa?"Jean tidak ragu. Dengan sekuat tenaga, ia
Tanpa pikir panjang, dia menghampiri pintu itu dan mendapati bahwa terkunci. Namun, itu tidak menghentikannya.Brak!Pintu kamar mandi terbuka dengan keras akibat tendangan Yama. Dea, yang tengah mandi di balik tirai shower, terlonjak kaget dan memekik. Segera menutup bagian tubuhnya yang terbuka dengan sebelah tangannya. Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi."Yama?! Apa yang kau lakukan?!" serunya dengan panik, tangannya buru-buru menarik handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah.Namun Yama tidak menjawab. Nafasnya memburu, emosinya menggelegak, dan sebelum Dea sempat berbuat lebih banyak, dia melangkah maju dan meraih dagu gadis itu dengan kasar."Kau pikir bisa kembali kepada mantan kekasihmu itu?" suaranya dalam dan sarat emosi. "Di mana harga dirimu, Dea?""Lepaskan aku! Kau sudah gila!" Dea meronta, berusaha mendorong Yama
Nenek yang mendengar suara itu hanya menoleh sekilas. Tatapannya dingin, tak ada kepedulian dalam sorot matanya. Ia menatap luka kecil di jari Meisya sebentar, lalu dengan sikap acuh, ia kembali memalingkan wajahnya.Meisya merasakan sesuatu mencubit perasaannya. Ia tahu bahwa dirinya bukan cucu kesayangan neneknya, hanya calon cucu menantu yang akan terlihat seperti bawahannya.Meisya mengerti perbedaan dalam status mereka, tetapi betapa dinginnya wanita itu tetap saja membuatnya merasa tidak berarti. Seolah-olah keberadaannya tidak penting. Seolah-olah ia hanyalah bayangan yang tidak perlu diperhatikan.Perasaan itu menggerogoti hatinya, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa duduk diam, menatap apel yang belum selesai ia kupas, dan membiarkan perasaan tidak berharga itu semakin mengakar dalam dirinya."Pergilah kalau kamu sudah selesai. Nenek ingin istrahat." Suara nan ketus dari wanita tua itu membuat Meisya
Dia memang memilih menjalani skenario ini tanpa sadar. Dia memang murahan! Di hadapan mereka. Di hadapan semua orang saat ini.Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, mengalir membasahi pipinya. Dia mengepalkan tangannya, menatap punggung Yama yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang berubah dalam diri pria itu. Dan perubahan itu membuat Dea semakin merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Tidak sanggup dia jelaskan sendiri.Walaupun Dea berusaha menanamkan pikiran bahwa Yama hanya pria yang singgah dalam waktu seminggu dan belum memiliki arti apa-apa, namun entah mengapa, hatinya terasa nyeri saat ini.Sementara itu, Sanjaya masih berdiri di tempatnya. Dengan nada mengejek, ia berkata, "Tak perlu menangis, Dea. Toh, sejak awal kau memang tidak punya pilihan.""Apa maksudmu?" Dea menoleh tajam ke arahnya, kemarahan bercampur dengan luka menguasai tatapannya. "Aku lebih baik mati daripada diperm