Pria itu hanya sebuah iklan lewat bagi dirinya yang tidak pernah mempercayai makhluk berjenis kelamin 'laki-laki'.
Jean meletakkan ponselnya di meja, lalu berbaring. Matahari besok akan membawa hari baru, dan ia harus siap menghadapi Dea dengan argumen yang lebih kuat agar sahabatnya itu tetap tinggal.
***
Pagi-pagi sekali, ponsel Dea sudah bergetar tanpa henti. Nama "Ibu" berkedip di layar, dan seperti yang sudah diduga, panggilan itu bukan sekadar menanyakan kabarnya.
"Dea, kamu ada uang, kan? Rumah sakit sudah menagih lagi," suara ibunya terdengar mendesak, tanpa basa-basi.
Dea menekan ujung hidungnya yang terasa dingin, berusaha mengusir lelah yang belum sepenuhnya pergi.
"Tapi semalam, aku baru membayar enam puluh juta dan-"
"Ya, kau kira operasi itu murah? Itu hanya pembayaran pertama!" potong ibunya tanpa membiarkan kesempatan bagi Dea untuk mengatakan lebih lanjut.
Apa maksudnya? Kenapa Meisya tiba-tiba menawarkan bantuan seperti itu? Rasa waspada dalam dirinya meningkat. Namun, di sisi lain, pikirannya dipenuhi oleh kondisi sang ayah. Pengobatan di luar negeri mungkin memang satu-satunya jalan."Gimana, Dea?" Suara Meisya yang lembut membuyarkan lamunannya.Dea menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Apa yang terjadi?”Meisya tetap tersenyum, seolah memahami kebingungan yang melanda diri Dea.“Ayahku harus menjalani perawatan di luar negeri,” jawabnya akhirnya, dengan nada lesu.Senyum Meisya semakin lebar. “Baguslah.”Dea terkejut. Alisnya bertaut. “Apa maksudmu?”Meisya terkesiap, lalu segera mengoreksi ucapannya. “Maksudku, bukankah lebih baik ada pengobatan yang tepat daripada tidak ada kesembuhan di sini? Bukankah kamu ingin menyembuh
"Dea, sebelum aku mengatur semuanya, aku ingin memastikan kita memiliki kesepakatan yang resmi," ujar Meisya, suaranya lembut tetapi tegas.Dea merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu dalam cara Meisya berbicara yang membuatnya tak nyaman. Ia meraih map itu dengan tangan sedikit gemetar, lalu membuka isinya."Apa ini?" tanyanya, meski ia sudah bisa menebak jawabannya.Meisya menggeser kertas-kertas di dalamnya ke arah Dea. "Ini adalah surat pernyataan bahwa kamu telah menerima bantuan dariku dan bersedia meninggalkan Yama selamanya."Dea menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Ia sudah menduga akan ada sesuatu seperti ini. Meisya bukan tipe orang yang akan membiarkan segalanya berjalan tanpa jaminan. Dan sekarang, ia berada di sudut yang sulit untuk keluar. Dea menyadari bahwa wanita itu sudah mempersiapkan semuanya dengan lengkap, berarti dia sudah merencanakan semua ini juga. Namun, Dea
Omelan dari wanita paruh baya itu membuat Dea merasa terbakar dalam amarah, Dea sedikit terkejut dengan setiap perkataan dari sang ibu, namun ia tidak punya pilihan selain menurut. Mengikuti langkah dari ibunya yang masih tetap berceloteh panjang lebar.Dengan langkah tergesa, ia menuju ke kasir. Pegawai kasir tersenyum ramah, lalu menyebutkan jumlah tagihannya."Totalnya tiga ratus dua puluh lima juta rupiah, Bu."Dea membelalakkan mata. Jantungnya berdebar kencang. Jumlah itu lebih dari cukup untuk membeli sebuah apartemen kecil. Tapi ia mencoba tetap tenang. Dengan polos, ia mengeluarkan kartu tipis berlogo phoenix dan menyerahkannya pada kasir.Kasir itu sedikit terpana. Hanya beberapa orang yang memiliki kartu istimewa seperti ini. Dia menegadahkan kepalanya melihat Dea dengan lebih teliti dan wajah penuh kecurigaan.Dea berdehem kecil untuk menutupi kecanggungannya.Akhirnya kasir itu menggesek
Meisya mengibaskan tangannya, "pergi sana. Laksanakan semua sesuai rencana. Jangan ada kesalahan sama sekali!"Pria itu mengangguk, lalu pergi. Meisya menyandarkan punggungnya, menikmati perasaan puas yang mengalir dalam dirinya. Jika Dea pergi, Yama akan menjadi miliknya sepenuhnya. Tidak ada lagi gangguan, tidak ada lagi ancaman dari wanita itu."Langkah terakhir adalah bersama dengan Yama, pergi mengunjungi Nenek di Rumah Sakit," ucap Meisya lalu menyesap minumannya perlahan seraya memuji dirinya yang bahkan bisa mengajak sang nenek untuk ikut dalam drama yang dimainkan olehnya.Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Sanjaya. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Jangan kecewakan aku."Sanjaya yang saat itu masih berada di rumah sakit membaca pesan itu sekilas, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia menatap Dea dengan tatapan penuh strategi. Jika ini berhasil, ia tidak hanya mendapatkan uang dari Meisya, teta
Dia memang memilih menjalani skenario ini tanpa sadar. Dia memang murahan! Di hadapan mereka. Di hadapan semua orang saat ini.Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, mengalir membasahi pipinya. Dia mengepalkan tangannya, menatap punggung Yama yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang berubah dalam diri pria itu. Dan perubahan itu membuat Dea semakin merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Tidak sanggup dia jelaskan sendiri.Walaupun Dea berusaha menanamkan pikiran bahwa Yama hanya pria yang singgah dalam waktu seminggu dan belum memiliki arti apa-apa, namun entah mengapa, hatinya terasa nyeri saat ini.Sementara itu, Sanjaya masih berdiri di tempatnya. Dengan nada mengejek, ia berkata, "Tak perlu menangis, Dea. Toh, sejak awal kau memang tidak punya pilihan.""Apa maksudmu?" Dea menoleh tajam ke arahnya, kemarahan bercampur dengan luka menguasai tatapannya. "Aku lebih baik mati daripada diperm
Nenek yang mendengar suara itu hanya menoleh sekilas. Tatapannya dingin, tak ada kepedulian dalam sorot matanya. Ia menatap luka kecil di jari Meisya sebentar, lalu dengan sikap acuh, ia kembali memalingkan wajahnya.Meisya merasakan sesuatu mencubit perasaannya. Ia tahu bahwa dirinya bukan cucu kesayangan neneknya, hanya calon cucu menantu yang akan terlihat seperti bawahannya.Meisya mengerti perbedaan dalam status mereka, tetapi betapa dinginnya wanita itu tetap saja membuatnya merasa tidak berarti. Seolah-olah keberadaannya tidak penting. Seolah-olah ia hanyalah bayangan yang tidak perlu diperhatikan.Perasaan itu menggerogoti hatinya, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa duduk diam, menatap apel yang belum selesai ia kupas, dan membiarkan perasaan tidak berharga itu semakin mengakar dalam dirinya."Pergilah kalau kamu sudah selesai. Nenek ingin istrahat." Suara nan ketus dari wanita tua itu membuat Meisya
Tanpa pikir panjang, dia menghampiri pintu itu dan mendapati bahwa terkunci. Namun, itu tidak menghentikannya.Brak!Pintu kamar mandi terbuka dengan keras akibat tendangan Yama. Dea, yang tengah mandi di balik tirai shower, terlonjak kaget dan memekik. Segera menutup bagian tubuhnya yang terbuka dengan sebelah tangannya. Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi."Yama?! Apa yang kau lakukan?!" serunya dengan panik, tangannya buru-buru menarik handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah.Namun Yama tidak menjawab. Nafasnya memburu, emosinya menggelegak, dan sebelum Dea sempat berbuat lebih banyak, dia melangkah maju dan meraih dagu gadis itu dengan kasar."Kau pikir bisa kembali kepada mantan kekasihmu itu?" suaranya dalam dan sarat emosi. "Di mana harga dirimu, Dea?""Lepaskan aku! Kau sudah gila!" Dea meronta, berusaha mendorong Yama
"Sial!" Jean memaki dalam hati. Dia tertangkap lagi oleh Bob. Tubuhnya dipikul di bahu Bob dengan mudah seperti memikul karung goni.Bob, yang masih kesakitan, bangkit dengan cepat. Matanya membara penuh kemarahan. "Kau membuatku benar-benar marah sekarang."Jean melakukan perlawan dengan memukul punggung Bob, kedua matanya mencari sesuatu untuk mempertahankan diri. Jean bisa mendengar dengan jelas, suara Dea di dalam kamar mandi. Temannya juga sedang dilecehkan oleh Yama. Tubuhnya bergetar karena marah!Kebencian Jean berkilat di matanya. Saat Bob menurunkan tubuhnya. Matanya melirik vas bunga di meja sudut. Ia meraihnya dengan cepat dan mengangkatnya tinggi-tinggi."Jangan mendekat, Bob!" ancamnya dengan suara gemetar.Bob menyeringai, lalu melangkah maju. "Dan kalau aku tetap maju? Kau mau apa?"Jean tidak ragu. Dengan sekuat tenaga, ia
Wanita itu bahkan membuang benihnya dengan menelan obat kontrasepsi, serendah itukah moralnya sebagai seorang wanita? Sejijik itukah dia untuk memiliki bayi bersamanya?Yama mendengus dan mengepalkan tangannya erat-erat! Sklera merah pada matanya membuat sorotan tatapannya tajam seperti elang yang hendak membunuh mangsanya. Dia membenci Dea!Setibanya di hotel, Yama langsung masuk ke suite mewahnya tanpa banyak bicara. Ia membuka laptop dan mulai membaca laporan-laporan yang dikirimkan Bob satu hari sebelumnya. Sementara Bob mengekori langkah majikannya sambil berulang kali meniup tangan dan menempelkannya ke telinga untuk mengatasi dengung akibat jetflag yang ia alami dalam setiap penerbangan.Setiap detail tentang proyek ini telah dipersiapkan dengan matang. Da membaca ulang daftar tamu yang akan menghadiri pesta kerajaan. Ada beberapa nama yang menarik perhatiannya—tokoh bisnis, politisi, serta anggota keluarga kerajaan
Bob tidak tahan lagi. Dengan cepat, ia melangkah maju, menarik Jean dari genggaman Ayah tirinya."Hei, kau siapa? Sekuriti!" teriak Ayah tiri Jean mulai marah."Aku pacarnya," kata Bob dengan nada tegas. "Dan kamu hanya ayah tirinya. Kamu tidak punya hak mengurusnya!"Semua orang di ruangan itu terkejut. Termasuk Jean yang kini berada dalam pelukan Bob."Ada apa ini?" Ibu Jean datang menghampiri mereka dan sedikit terkejut melihat keberadaan Bob dalam pesta mereka, "hei, bagaimana kamu bisa masuk kemari?"Ayah tiri Jean menyipitkan mata. "Apa maksudmu? Panggil sekuriti, lepaskan putriku!"Bob menarik napas dalam sebelum mengucapkan kalimat yang membuat ruangan membeku."Kami bahkan sudah tinggal bersama. Kita akan menikah dalam waktu dekat! Jean milikku! Dia bukan putri kecil milikmu lagi, mengerti!? "Suasana mendadak hening.
"Siapkan semua dokumen yang diperlukan untuk perjalanan ke Inggris. Aku ingin kita berangkat dalam tiga hari. Selain itu, selidiki bagaimana cara mendapatkan perhatian dari sang Pangeran dan Ratu. Kita tidak bisa datang begitu saja dan berharap mereka tertarik dengan proyek kita. Kita harus mencari cara yang lebih cerdas."Bob mengangguk, mencatat perintah itu dalam kepalanya. "Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi beberapa kontak di sana dan mencari tahu informasi lebih lanjut.""Bagus. Dan satu hal lagi, pastikan kita mendapatkan akses ke pesta perayaan yang diadakan oleh sang Ratu. Itu akan menjadi langkah pertama kita."Bob tersenyum kecil. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan memastikan undangan itu ada di tangan Anda sebelum keberangkatan kita."Namun sebelum Bob keluar ruangan, ia tampak ragu sejenak. Yama yang peka terhadap perubahan ekspresi orang-orang di sekitarnya segera menyadarinya.
Yama masih menatap Neneknya. Dia tidak percaya sepenuhnya karena dia mengenal kedua wanita beda generasi itu dengan baik. Ada hal lain yang perlu dipastikan sebelum ia benar-benar memutuskan segalanya."Nek, kamu ingin aku segera menyelesaikan proyek di Inggris, bukan?" tanyanya, mencoba menegaskan posisinya dalam keputusan ini.Sang Nenek mengangguk lagi. "Ya, sesudah itu, kalian akan melangsungkan pernikahan. Hal itu sudah kusampaikan dari jauh hari sebelum kamu bertemu dengan Dea si murahan itu."Meisya menahan senyum kemenangan di balik ekspresi datarnya. Ini berjalan lebih lancar dari yang ia bayangkan."Baik," Yama akhirnya berkata. "Aku akan segera berangkat ke Inggris dan menyelesaikan semuanya.""Aku ikut," selak Meisya cepat, nadanya penuh ketegasan.Yama menoleh padanya dengan ekspresi kesal. "Terserah!" sahutnya ketus sebelum beranjak pergi.
“Jadi, kau baru menyadarinya sekarang?”Suara lembut itu menyusup masuk ke dalam ruangannya seperti angin dingin. Yama tidak menoleh. Bahkan tidak menegadahkan kepalanya. Ia tahu siapa yang berbicara. Meisya, wanita yang selama ini duduk di sisi sang nenek, menatapnya dengan senyum simpati yang penuh arti.“Aku sudah menduganya sejak awal,” lanjut Meisya, berdiri dengan anggun lalu melangkah mendekati Yama dan duduk di sampingnya dengan elegan.“Tapi aku tidak ingin ikut campur. Aku ingin kau sendiri yang menyadari siapa Dea sebenarnya.”"Namun, dari hari ke hari, dia malah semakin menjadi-jadi."Yama diam. Matanya masih terpaku pada bukti-bukti di hadapannya. Meisya bergerak perlahan, lalu dengan lembut mengambil salah satu foto yang ada di meja dan menatapnya dengan tatapan menyelidik.“Dia tidak pernah benar-benar mencintaimu, Yama,” bisiknya pelan,
Yama membaca semua yang tertulis di sana dengan hati yang bergetar hebat bercampur amarah.Yama merasakan sesuatu yang asing dalam dadanya. Bukan sekadar kemarahan, tetapi juga rasa sakit. Selama ini, ia mempercayai Dea, meskipun ia menahannya dalam kendalinya. Ia mengira Dea adalah miliknya, tetapi kenyataan yang terpampang di depannya perlahan meruntuhkan semua keyakinannya."Aku tidak percaya ini," gumamnya lirih, meski suaranya terdengar goyah.Meisya menatapnya penuh simpati. "Aku tahu ini sulit, Yama. Tapi kau harus melihat kenyataan. Kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik."Yama menutup matanya sesaat, mencoba mengendalikan pikirannya yang berkecamuk. Jika semua ini benar, maka perjuangannya selama ini sia-sia. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa lelah. Begitu lelah."Ini, tidak mungkin...," ucapnya dengan suara yang lebih rendah dari biasanya."Dia hanya
Dea terdiam, akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke jendela. Di luar, langit malam tampak begitu luas dan dingin. Hatinya juga terasa sama—dingin dan penuh ketidakpastian.***Sementara itu, di mansion keluarga Yama, pria tinggi itu melangkah masuk dengan ekspresi gelap. Para pelayan menunduk dalam ketakutan saat melihat wajahnya yang penuh amarah. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ruang utama, di mana neneknya sudah menunggu dengan ekspresi dingin."Duduk," perintah wanita tua itu.Yama menahan diri untuk tidak melawan. Dengan rahang mengeras, ia duduk di sofa berhadapan dengan neneknya."Apa yang sedang kau lakukan, Yama?" suara neneknya terdengar tenang, namun penuh tekanan."Menutup bandara hanya untuk mencari seorang wanita tidak berguna? Berita apa lagi yang ingin kau timbulkan untuk membuat saham kita jatuh?""Ak
Mobil sudah sampai di terminal keberangkatan. Dengan kemarahan yang nyaris meledak, Yama melangkah cepat masuk ke dalam terminal VIP bandara yang kini ditutup atas perintahnya.Matanya menyapu sekeliling dengan penuh harapan, namun bayangan Dea sama sekali tidak terlihat. Rasa frustrasi menyelimutinya. Sudah pasti mereka terlambat."Brengsek!" Yama menghempaskan pantatnya dengan kasar di kursi tunggu. Napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan amarah yang nyaris meluap. Kedua matanya penuh dengan sklera merah.Yama menyadari sesuatu, Neneknya terlibat dalam hal ini. Atau Meisya! Mereka sengaja mengatur agar Dea segera menghilang dalam kehidupannya, tapi ke Inggris?Yama mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Satu-satunya negara yang belum dia taklukkan! Rencana Nenek secara keseluruhan sudah mulai tercium olehnya.Bob menelan ludah, lalu mencoba meredakan ketegangan. "Kita bisa kejar k
Ibunya tampak sedikit goyah saat mereka menaiki helikopter, tapi tidak berkata apa-apa. Dea sendiri hanya bisa menatap kosong ke layar ponselnya yang masih berdering sesekali, menunjukkan panggilan terakhir dari Jean. Ia menggenggam ponselnya erat, lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya sebelum melangkah masuk.Saat helikopter mulai lepas landas, Dea menoleh ke samping. Ibunya sibuk dengan ponselnya, mengetik pesan dengan cepat. Sesekali, wanita itu mengambil beberapa foto selfie dengan ekspresi bangga, seolah ini adalah perjalanan wisata bukannya perjalanan penuh kecemasan menuju ketidakpastian.Dea hanya bisa menatap lurus ke depan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan gejolak emosi yang sejak tadi menghantam dirinya. Ini bukan sekadar perjalanan untuk ayahnya. Ini adalah perjalanan yang akan mengubah segalanya.Di dalam benaknya, nama Yama berkelebat. Pria yang hanya singgah sesaat, j