“Katakan sekali lagi!” kesalnya sambil membentak.
Aku kaget dengan bentakan itu. Air mataku hampir meleleh, akan tetapi kutahan saja. Calon suamiku pergi ke belakang, entah kemana? Kenapa ia menyerahkan tanggung jawab ini hanya kepadaku? Apakah hanya aku di sini yang ingin mendapatkan restu? Sebenarnya mereka orang tua siapa?
“Kami sudah menghitung tanggal, Insya Allah akad pada tanggal tujuh Agustus,” ujarku.
Ibunya membanting tangannya di dipan yang berukuran tidak lebih dari satu setengah meter itu. Ia duduk membelakangiku, dengan punggung kami yang saling beradu. Suara tangannya yang beradu dengan dipan kayu tersebut, membuat tubuhku bereaksi karena kaget.
“Bagaimana bisa? Urusan mencari hari, mencari tanggal dan lainnya itu urusan pihak laki-laki. Bagaimana bisa kalian melangkah tanpa kami? Apa yang sebenarnya keluargamu pikirkan?” kesalnya.
Aku beranikan diri menatap wajah tuanya yang kali ini bersama azan magrib berkumandang, tidak berhenti berbicara. Ia menyalahkan aku yang terburu-buru untuk mencari hari baik. Tanpa diaba-aba, air mataku luluh.
“Kita sudah pernah meminta restu dari kalian, akan tetapi kalian memilih untuk menolak,” ucapku lirih memberanikan diri.
“Lagi pula, kata Mas Bagus menyerahkan semuanya pada keluarga kami karena ibu dan bapak tidak bisa datang,” ucapku.
Aku merasa dibohongi, tapi tidak juga menyadari. Masih saja tetap percaya padanya. Mendengar itu, ibunya berdiri, berkacak pinggang.
“Lantas? Kalian seenaknya sendiri memutuskan? Sabar, kenapa tidak sabar? Apakah kamu hamil duluan?” tanyanya.
Aku kaget, justru karena tidak mau hamil duluan, justru karena aku tidak ingin itu terjadi, makanya dengan langkah ini aku ingin agar hubungan kami halal. Jujur saja, ketika kami bersama hanya berdua, tangannya sudah ingin piknik kemana-mana. Meskipun aku bukan orang yang mengerti agama dengan baik, tidak dapat dipungkiri bahwa kecelakaan bisa saja terjadi. Kami laki-laki dan perempuan yang sudah tergolong dewasa.
“Tidak, saya masih suci. Akan tetapi, justru karena aku tidak ingin terjadi hal itu,” ucapku dengan takut.
Suara desahan napas panjang terdengar. Aku yang sejak tadi menatap wajah tua sang ibu, kini beralih dengan menatap wajah tua sang bapak yang kali ini mengenakan sarung kotak-kotak warna hijau lumut dan baju hem warna senada.
“Kok bisa kalian nekat? Nduk, harusnya tidak seperti itu. Tapi, jika kalian sudah berniat kami tidak bisa mencegah lagi. Kita putuskan nanti, ketika sudah saatnya,” lanjut bapaknya.
Hatiku sedikit tenang, ada jaminan dari sang bapak. Akan tetapi, aku masih bisa melihat bahwa ibunya tidak terima.
“Kenapa kalian bikin drama yang demikian? Kalian pikir, menikah cukup dengan biaya yang sedikit? Sabar, biarkan adikmu melangkah dulu,” lanjutnya.
“Ini minggu depan adikmu mau menikah, biarkan ia lewat dulu. Hanya melewati tahun baru penanggalan Jawa, masa tidak sabar?” kesalnya.
Aku semakin menunduk. Kedua tanganku kuremas untuk menenangkan diri. Kemana lelakiku? Kenapa ia tidak membelaku. Aku sendirian di sini yang berjuang. Kenapa ia bahkan hanya lari ke belakang.
“Aku dulu yang meminta izin pada kalian? Kenapa tidak setuju?”
Sebuah suara, itu suara lelakiku, jantanku, pujaan hatiku. Air mataku begitu deras. Ternyata ia tidak meninggalkanku. Ternyata, sejak tadi ia menahan diri agar aku yang bicara terlebih dahulu.
“Ngomong aja kamu besar-besarkan. Kamu pikir ngelamar anak orang pakai daun?” bentak sang ibu.
“Semua sudah kami tangani kalian tinggal datang. Apa susahnya?” bentak Mas Bagus.
Lelakiku, membentak orang tuanya? Ada benih keraguan di hatiku. Akan tetapi, sudah sampai sini. Apakah aku akan menyerah? Ingat tujuan awal menikah dengannya, untuk membuat ia kembali ke jalan yang benar. Bukankah keyakinanmu itu? Apakah kamu mulai goyah hanya dengan masalah seperti itu?
“Kamu punya uang berapa? Kenapa masalah datang bertubi-tubi?” keluh sang ibu.
Suaranya mulai merendah. Aku menyangka, jika wanita itu penuh dengan tekanan.
“Sudah aku bilang kalian datang saja, kenapa repot banget? Mau datang atau tidak! Kalian tidak pernah memikirkanku. Aku anak kalian, bukan hanya dia. Akan tetapi selalu saja dia yang jadi prioritas,” marah calon suamiku.
Aku belum pernah melihat ia semarah itu, sefrustrasi itu. Kugenggam tangannya, karena ia mulai meremas tangan, seperti siap untuk memukul. Lelakiku itu sepertinya dalam tahap kemarahan yang tidak terkendali.
“Sudah, sudah … waktu Maghrib tidak enak didengar tetangga. Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kalian. Kami akan datang,” ucap sang bapak.
Lega rasanya. Demikian juga dengan Mas Bagus. Sepertinya, ia juga merasa lega. Genggaman tangan lelakiku itu sudah tidak mengeras seperti tadi.
“Pak! Bagaimana kamu memutuskan begitu? Larangan bagi kita menikahkan dua anak sekaligus sebelum waktu setahun berlalu. Kamu tidak mikir resikonya?” bentak sang ibu.
“Mau bagaimana? Sudah seperti ini? Mereka berniat untuk bersama,” ucap sang bapak.
“Tidak, akan ada bahaya jika kita menerjang. Kamu saja yang datang. Aku tidak mau kehilangan anakku,” kekeh sang ibu.
Air mataku kembali mengalir. Kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Aku juga tak kalah kalut. Bagaimana ini? Mereka jadi bertengkar sendiri. Aku jadi berpikir lagi, mengingat sebulan lalu ketika kami berdua meminta restu pada mereka akan tetapi tidak disetujui. Calon suamiku ini menyerahkan semua urusan padaku, untuk mencari hari dan melakukan semuanya sendiri. Dalam sekejap, aku merasa bodoh. Mengapa aku mau melakukan ini semua sendiri?
“Bahaya apa? Bakalan bahaya jika kalian tidak mau datang. Itu artinya, tidak menganggapku anak lagi!” bentak calon suamiku yang mulai kalap lagi.
Aku memegang tangannya agar tidak sampai memukul orang tuanya karena ia hampir saja mengayunkan tangannya. Akan tetapi, tidak jadi karena aku memeluk tangannya dengan erat.
“Nggak usah main kasar! Aku bilang akan datang berarti akan datang walau tidak di akad nikah kalian. Apakah kamu tidak puas dengan jawaban kami?” kesal sang bapak.
Sang bapak yang sejak tadi masih ingin meredam diri dari rasa arah, kini ikut tersulut juga. Lelaki itu kini melotot dengan mata yang memerah.
“Berani kamu berkata begitu dengan ibumu?” bentak sang bapak.
Ia tidak terima istrinya dibentak oleh seng anak, apalagi dengan kesalahpahaman yang dibangun oleh lelaki berusia dua puluh dua tahun tersebut.Ya, usia kami hanya terpaut dua puluh lima hari saja. Kami lahir di tahun yang sama. Usia kami sekarang masih tergolong muda. Akan tetapi, semangat kami untuk hidup bersama mungkin mengalahkan pemuda berusia tiga puluhan. Walau jujur, hanya modal nekat saja.
Bagaimana tidak, kami belum memiliki pekerjaan tetap. Aku, setelah pulang merantau dari Jakarta, kini hanya bekerja sebagai penanam sayuran dan menjualnya sekaligus di pasar. Sedangkan ia, hanya sebagai tukang reparasi televisi yang tidak mesti mendapatkan pekerjaan setiap harinya. Jika waktunya mendapat pekerjaan, ia bisa sibuk seharian. Akan tetapi, jika tidak ada maka harus bersabar.
Hanya satu yang menjadi tekad kami. Tuhan tidak akan menangguhkan rezeki kami, jika memang sudah menjadi hak. Benar-benar tidak memiliki rencana yang matang saat itu. Aku hanya memegang perkataannya, akan semangat untuk kehidupan yang layak. Terpesona dengan semua semangat yang ia bangun, tanpa berpikir bagaimana lika-liku kehidupan itu akan membuat kami sengsara.
Bagiku saat itu, asal bersamanya akan fokus sehingga kita bisa merencanakan melangkah dari kemiskinan. Sungguh ironis, akan tetapi tekad kami tidak lagi bisa diganggu gugat. Semangat kami tidak akan lagi bisa digoyahkan. Harus menikah juga, meskipun tidak mendapat restu.
“Ayo kita pergi dari sini! Kita tidak diterima di sini!” kata calon suamiku menyindir. Tanganku tiba-tiba ditarik paksa olehnya.
Langkah kakiku hanya mengikutinya saja. Walau sedikit terseok karena kakinya yang panjang sedangkan kakiku mungil. Jarak tinggi badan kami memang agak jauh. Ia bertinggi badan seratus tujuh puluh tujuh, sedangkan aku sangat mungil. Bahkan dengan anak kelas enam SD saja, terkadang masih tinggi anak kelas enam. Tinggi badanku hanya seratus empat puluh delapan sentimeter. “Kamu lihat? Itu kenapa tidak mau meminta restu dari mereka. Mereka semua tidak menganggapku ada. Aku hanya sampah bagi mereka,” kesalnya. Dari ucapannya, aku merasa tertohok. Rasanya keputusan yang benar kami ambil untuk hidup bersama. Semua orang tidak percaya padanya. Orang tuanya, Pakdenya dan semua teman-temannya juga bilang ia orang yang buruk. Lelakiku ini keras kepala, ucapannya juga sangat kasar. Akan tetapi, entah bagaimana ceritanya kepercayaanku padanya sangat penuh. Jika dikumpulkan, bahkan mega-mega yang membentuk awan di langit, masih kalah penuh dengan kepercayaanku untuknya. Aku memeluk pinggangnya,
Siang itu, Mas Bagus datang untuk menanyakan perihal kesiapan. Inilah kebahagiaan yang belum pernah kudapat sebelumnya. Ia datang membalut lukaku, kini menyembuhkanku. Itu yang ada dalam anganku. “Dik, bagaimana?” tanyanya. “Aku sudah bilang ibu, akan tetapi ….” Kepalaku tertunduk sangat dalam. Tidak tega mengatakan yang sebenarnya bahwa ibu sedikit meminta lebih, bahwa orang tuanya harus datang. “Tapi kenapa?” Kedua mataku tidak dapat memandang dua netra bening itu. Rasanya di dada demikian sesak. Dalam pikiran bahkan ingin menyerah. Kedua orang tua kami sama-sama tidak mau mengalah. “Ibu minta orang tua Mas datang,” ucapku. Akhirnya, suara lirih itu lepas juga dari tenggorokan. Beberapa detik, aku menunggu reaksinya. Dari ekor mataku, terlihat ia juga mulai frustrasi. “Dik, kita jalan sendiri saja, yuk,” ucapnya. Kaget, itu reaksi yang terjadi padaku pertama kali. Mengapa ia begitu? Aku sendiri juga tidak paham. Yang pasti, calon suamiku ini sama frustrasinya denganku.
“Bu ... tidak mungkin saya harus gagal lagi ‘kan? Sepertinya, Mas Bagus serius dengan saya. Kenapa tidak?” ucapku mantap walau sebenarnya lebih karena ingin menenangkan diri saja.Andai ibu tahu hatiku, kali ini ada lebih banyak keraguan. Sebenarnya, Allah sudah menunjukkan berbagai hal yang membuatku ragu untuk melanjutkan. Akan tetapi, sesuatu yang lain ingin kutunjukkan bahwa yang mereka katakan aku tidak laku, aku pembawa sial itu tidak benar. “Baiklah jika begitu. Bagus suruh ke sini, kita pikirkan bagaimana caranya,” ucapnya. Bagai mendapat durian runtuh. Akhirnya, satu pintu dari ibuku terbuka. Aku merasa bahagia, bahkan seandainya sekarang memiliki ponsel, mungkin akan langsung menghubunginya. Bahagianya lebih dari mendapatkan setumpuk berlian. Aku bangkit setelah membersihkan sisa sayur yang sudah ada. Setelah membuang sampah, maka langsung membersihkan tangan dan kaki. Aku mirip orang gila sekarang. Aku berlari kecil, berputar dan menjatuhkan diri. Hatiku terasa meledak
“Han ... bangun! Jangan seperti ini,” ucapku. Sebenarnya, aku trenyuh, tetapi mau bagaimana lagi? Semua sudah berlalu. Janji adalah janji.Tanganku lantas menariknya pria itu agar bangun. Ini memalukan. Bahkan, beberapa menyaksikan kami dari kejauhan. Aku menoleh ke kanan dan melirik ke rumah tetangga yang juga menyaksikan peristiwa ini. Duh, malu rasanya. Ini bukan drama Korea atau drama China, Bosku!Aku berhasil membuatnya bangun. Mataku, memberanikan diri untuk menatap mata sembabnya. Lelaki itu, yang selama setahun ini menjadi temanku. Ia bahkan selalu ada untukku. Kenapa baru sekarang? Aku pernah berharap padanya, akan tetapi aku kubur karena tidak ingin kecewa lagi. Hanya dia yang menemani saat-saat paling sulit ketika Mas Dwi meninggalkanku. Bukan, lebih tepatnya aku yang tidak mau bersamanya, ketika tahu bahwa ia hanya memanfaatkanku saja. “Aku benar-benar minta maaf, Han. Aku menyesal tidak menyadari sebelumnya. Han, aku sudah janji dengannya, tidak mungkin mengingkarinya
Ibu lantas mengangguk. Ia pun membuang ingus yang mungkin sudah penuh karena menangis. Aku tersenyum, mengantarkan wanita yang paling hebat itu ke belakang dan membawakan keranjang belanjaan yang berisi beberapa lauk dari pasar. Setelah mencuci ikan, memasaknya. Ibu sudah bersiap untuk istirahat sebentar sebelum nantinya akan aktivitas merawat sayuran lagi. Setelah itu, kami berbincang tentang pernikahan. Meskipun sederhana, kami tetap akan membuat pelaminan. “Bu, tidak usah menyewa pelaminan. Itu akan membutuhkan biaya banyak,” ucapku. Ibu menoleh, ketika aku mengatakan itu. Matanya berkaca-kaca. Sekilas, aku memandang mata wanita tua ini berkaca-kaca. Kutahu, pasti hatinya sakit. Aku masih muda, ini pertama kali untukku. Akan tetapi, pernikahan ini harus sederhana. Bukan mewah intinya. Aku hanya ingin menikah untuk memberi tahu orang-orang, bahwa aku bukan pembawa sial. Atau bahasa kasarnya tidak laku. “Tidak apa-apa. Sederhana saja. Kamu daftar dulu pernikahan kalian. Setela
Meskipun aku tidak membenci ayahku, akan tetapi sampai hari ini merasa sakit karena tahu bahwa aku sebenarnya bukan anak pertama. Ada dua kakak dari pernikahan terdahulu yang keberadaannya baru kami ketahui karena kakak tiriku yang pertama itu, perempuan dan akan menikah. Jadi keluarga pertama, mencari bapak. Aku memejamkan mata. Drama apa yang terjadi dalam hidup. Mengapa? Keluargaku penuh dengan misteri. Aku sangka, bahwa orang tuaku baik-baik saja. Akan tetapi, ternyata demikian. Sungguh, ini mirip dengan film. Aku tertawa menertawakan diriku sendiri. Ibuku? Dulu dibohongi bapak. Apakah ini sebuah karma? Kami disambut baik oleh kakak tiriku. Aku memang berhubungan baik dengan mereka. Selain itu, mereka juga ingin sebenarnya memberikan aku pekerjaan agar dapat hidup lebih layak. Sebagai gambaran, kakak tiriku yang laki-laki memang pekerja keras. Terutama dengan istrinya yang sangat getol dengan usaha. Ia pedagang ikan pindang yang sudah bisa disebut juragan karena memilih masak se
“Mas!""Kenapa?" tanyanya kecewa."Aku … kalau sudah menikah, bukan hanya itu yang kamu punya. Tapi semuanya,” ucapku lirih.Bagas terlihat semakin kecewa. Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa melakukannya. Aku terlalu takut. Sebenarnya, bukan karena takut dosa, akan tetapi takut sengsara. Berapa contoh yang memberikan dirinya, menyerahkan dirinya sebelum menikah, ditinggalkan oleh lelakinya dengan biadab. Aku tidak mau begitu.*****Aku lantas ke rumah Pak lik karena ayahku tinggal di sana. Akan tetapi, di rumah itu tidak ada siapa pun. hingga kami memilih ke rumah Pakde yang tentu saja ada istrinya di rumah. Benar saja, aku disambut oleh wanita seumuran ibuku, akan tetapi wajahnya lebih terlihat bersih karena jarang terkena sinar matahari. “Kapan kalian sampai?” tanyanya. “Dari kemarin Bude, karena hujan maka saya tunda ke sini,” ucapku. “Kenapa tidak mampir ke sini dulu?” tany suara dari luar. Kami sepakat untuk menoleh bagai sebuah paduan, akan tetapi tanpa dipandu. Itu adalah
Aku tersenyum, suamiku memang nyentrik. Mas kawin, seharusnya akan dibawa bersama lamaran. Aku lupa, lamaran itu tidak pernah ada. Kita sudah membahas, bahwa tidak apa-apa aku tidak dilamar asalkan sah secara agama dan negara. Bagiku sudah cukup. Kali ini aku cukup terharu karena dia menyediakan mas kawin ini. “Terima kasih,” ucapku. “Kamu tahu, mengapa aku memilih mas kawin ini yang berbeda dari biasanya?” tanya dia. Aku hanya tersenyum saja menantikan penjelasan darinya. Lelakiku ini meraih tanganku. Tangannya yang penuh dengan lem itu menyentuh kulit tanganku sehingga menempel di telapak tanganku. Aku semakin tersipu. “Dengarlah, ini berarti. Sekarang kita tidak punya apa-apa, tandanya dengan uang pecahan dua puluh lima rupiah ini, sampai nanti kita kaya raya, tandanya uang pecahan seratus ribu ini, bersama.” Alangkah indahnya filosofi itu. Semoga menjadi doa. Aku aminkan perkataannya. Lelakiku itu, sungguh mencintaiku. Ia menginginkan bahwa hubungan ini tidak hanya sekedar s
Esok hari, tepatnya hari Jumat tanggal tujuh Agustus tahun 2009 ini, kami akan melangsungkan pernikahan ini. Semua kerabat sudah datang. Mereka berada di ruangan depan rumah ibuku. Sudah pukul enam pagi, penata rias sudah datang. Aku sudah mandi juga.Dengan baju kemben, penata rias mulai menta wajahku. Dengan sebuah doa, dimulailah wajahku dibersihkan. Semula, aku yakin akan kelancaran acara. Hingga pukul setengah sembilan, lelakiku itu tidak dapat dihubungi. Lelaki itu sungguh membuat jantungku berdebar begitu kencang. Aku sudah siap, dengan gaun putih yang dirias oleh sang penata rias.“Aduh, sebenarnya jadi nggak sih? Kenapa aku sangat takut?” gumamku.Hingga seseorang dari keluarganya datang terlebih dahulu dengan mini bus.“Akhirnya, kalian datang juga,” komentar salah satu keluarga.Aku juga lega, akan tetapi telingaku menangkap bahwa calon suamiku belum datang, malah pengiringnya terlebih dahulu yang datang. Dalam hati, kok bisa demikian? Aku hampir meledak karena marah.“Iya
“Mbak, saat aku bersama ayahmu, dia bilang pergi dari rumah setelah khitan. Kita bertemu di perantauan. Tahukah kamu, jika ibu tidak menikah dengan ayahmu, ibu tidak bisa pulang dari rumah pakdemu,” ucap ibu.Aku bingung sebenarnya dari keterangan ibu. Apa hubungannya pulang, dengan menikah? Baiklah, kita dengarkan kisah selengkapnya saja.“Jadi, dulu ibu dan ayahmu ketemu di Sumatera, di kampung trans. Ayahmu adalah pegawainya pakdemu. Kata Pakdemu, dia akan membiarkanku pulang dan bawa simbahmu, jika aku mau menikah,” ucapnya.Dia sudah bisa menghadapiku. Matanya sedikit sembab, bahkan hampir menjatuhkan buliran itu. aku memeluknya, hal yang paling jarang bahkan tidak pernah kulakukan. Tangisnya tumpah saat ini di pelukanku. Aku belum pernah melihat air mata wonder woman-ku ini, selama umurku. Ibuku, tidak pernah menangis. “Kalau tidak kuat, ceritanya bisa lain kali saja, Bu. Aku tidak buru-buru ingin mendengar,” ucapku.Demi Tuhan, aku melihat sisi rapuh dari wanita yang melahirka
Aku masih ingat saat usiaku tujuh belas tahun, tepatnya kelas dua dahulu disebut SMA. Saat SMA, aku tinggal di panti asuhan karena ibu tidak sanggup lagi membiayai sekolahku. Saat aku bilang akan sekolah, ibu menangis dan bilang dengan suara gemetar,“Mbak, ibu tidak lagi bisa membiayai sekolahmu. Saat SMP saja, kalau kamu tidak pintar dan mendapatkan beasiswa, tidak bisa lulus. Kamu masih ingat waktu kelas dua dan adikmu harus rawat jalan karena flek paru-paru, bahkan hampir saja keluar dari sekolah karena uang beasiswa digunakan untuk berobat. Sekarang SMA juga jauh di kota. Ibu hanya bisa merestuimu,” ucap ibuku.Maka berangkatlah aku di panti asuhan walau sebenarnya, bukan anak yatim atau piatu. Apalagi, anak yatim piatu. Akan tetapi, demi selembar ijazah, tidak malu diriku masuk ke dalam panti asuhan. Aku tidak tahu hukumnya, yang terpenting ingin sekolah saja.Maka dari itu, meskipun hari-hariku sulit, tetap kujalani. Tuhanku mengijabah, yang sebelumnya aku hanya bisa membaca Al
Aku hanya tersenyum saja menantikan penjelasan darinya. Lelakiku ini meraih tanganku. Tangannya yang penuh dengan lem itu menyentuh kulit tanganku sehingga menempel di telapak tanganku. Aku semakin tersipu.“Dengarlah, ini berarti. Sekarang kita tidak punya apa-apa, tandanya dengan uang pecahan dua puluh lima rupiah ini, sampai nanti kita kaya raya, tandanya uang pecahan seratus ribu ini, bersama.”Alangkah indahnya filosofi itu. Semoga menjadi doa. Aku aminkan perkataannya. Lelakiku itu, sungguh mencintaiku. Ia menginginkan bahwa hubungan ini tidak hanya sekedar sementara. Akan tetapi, ia menginginkan kita abadi, kemungkinan hanya maut yang akan memisahkan. Alangkah indahnya, hingga mataku sampai berkaca-kaca.“Alah, alah … sudah jangan terharu begitu. Masih ada aku. Gus. Jangan membuatku yang jomblo ini ngiri pada kalian,” ucap sahabatnya Mas Bagus. Aku semakin tersipu menarik tanganku yang dipegang oleh Mas Bagus. Setelah Mas Bagus mengatakan semuanya, aku pamit ke belakang untuk
Aku ke rumah Pak lik karena ayahku tinggal di sana. Akan tetapi, di rumah itu tidak ada siapa pun. hingga kami memilih ke rumah Pakde yang tentu saja ada istrinya di rumah. Benar saja, aku disambut oleh wanita seumuran ibuku, akan tetapi wajahnya lebih terlihat bersih karena jarang terkena sinar matahari. “Kapan kalian sampai?” tanyanya.“Dari kemarin Bude, karena hujan maka saya tunda ke sini,” ucapku.“Kenapa tidak mampir ke sini dulu?” tany suara dari luar.Kami sepakat untuk menoleh bagai sebuah paduan, akan tetapi tanpa dipandu. Itu adalah suara ayahku. Tidak akan pernah lupa. Suara itu yang tidak pernah kurindukan walau ia adalah lelaki yang telah mengukir diriku di dalam rahim ibuku. Kami, hanya bertemu beberapa waktu saja meskipun lelaki itu disebut ayah.“Bukan begitu, Pak. Aku lupa gangnya. Jadi aku ke rumah Mas Fatih dulu,” ucapku.Ya Fatih adalah kakakku. Lelaki itu yang mencari bapak waktu kakakku yang bernama Ratih, akan menikah. Maka sejak itu, ibu mengetahui bahwa ia
Aku tersenyum, suamiku memang nyentrik. Mas kawin, seharusnya akan dibawa bersama lamaran. Aku lupa, lamaran itu tidak pernah ada. Kita sudah membahas, bahwa tidak apa-apa aku tidak dilamar asalkan sah secara agama dan negara. Bagiku sudah cukup. Kali ini aku cukup terharu karena dia menyediakan mas kawin ini. “Terima kasih,” ucapku. “Kamu tahu, mengapa aku memilih mas kawin ini yang berbeda dari biasanya?” tanya dia. Aku hanya tersenyum saja menantikan penjelasan darinya. Lelakiku ini meraih tanganku. Tangannya yang penuh dengan lem itu menyentuh kulit tanganku sehingga menempel di telapak tanganku. Aku semakin tersipu. “Dengarlah, ini berarti. Sekarang kita tidak punya apa-apa, tandanya dengan uang pecahan dua puluh lima rupiah ini, sampai nanti kita kaya raya, tandanya uang pecahan seratus ribu ini, bersama.” Alangkah indahnya filosofi itu. Semoga menjadi doa. Aku aminkan perkataannya. Lelakiku itu, sungguh mencintaiku. Ia menginginkan bahwa hubungan ini tidak hanya sekedar s
“Mas!""Kenapa?" tanyanya kecewa."Aku … kalau sudah menikah, bukan hanya itu yang kamu punya. Tapi semuanya,” ucapku lirih.Bagas terlihat semakin kecewa. Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa melakukannya. Aku terlalu takut. Sebenarnya, bukan karena takut dosa, akan tetapi takut sengsara. Berapa contoh yang memberikan dirinya, menyerahkan dirinya sebelum menikah, ditinggalkan oleh lelakinya dengan biadab. Aku tidak mau begitu.*****Aku lantas ke rumah Pak lik karena ayahku tinggal di sana. Akan tetapi, di rumah itu tidak ada siapa pun. hingga kami memilih ke rumah Pakde yang tentu saja ada istrinya di rumah. Benar saja, aku disambut oleh wanita seumuran ibuku, akan tetapi wajahnya lebih terlihat bersih karena jarang terkena sinar matahari. “Kapan kalian sampai?” tanyanya. “Dari kemarin Bude, karena hujan maka saya tunda ke sini,” ucapku. “Kenapa tidak mampir ke sini dulu?” tany suara dari luar. Kami sepakat untuk menoleh bagai sebuah paduan, akan tetapi tanpa dipandu. Itu adalah
Meskipun aku tidak membenci ayahku, akan tetapi sampai hari ini merasa sakit karena tahu bahwa aku sebenarnya bukan anak pertama. Ada dua kakak dari pernikahan terdahulu yang keberadaannya baru kami ketahui karena kakak tiriku yang pertama itu, perempuan dan akan menikah. Jadi keluarga pertama, mencari bapak. Aku memejamkan mata. Drama apa yang terjadi dalam hidup. Mengapa? Keluargaku penuh dengan misteri. Aku sangka, bahwa orang tuaku baik-baik saja. Akan tetapi, ternyata demikian. Sungguh, ini mirip dengan film. Aku tertawa menertawakan diriku sendiri. Ibuku? Dulu dibohongi bapak. Apakah ini sebuah karma? Kami disambut baik oleh kakak tiriku. Aku memang berhubungan baik dengan mereka. Selain itu, mereka juga ingin sebenarnya memberikan aku pekerjaan agar dapat hidup lebih layak. Sebagai gambaran, kakak tiriku yang laki-laki memang pekerja keras. Terutama dengan istrinya yang sangat getol dengan usaha. Ia pedagang ikan pindang yang sudah bisa disebut juragan karena memilih masak se
Ibu lantas mengangguk. Ia pun membuang ingus yang mungkin sudah penuh karena menangis. Aku tersenyum, mengantarkan wanita yang paling hebat itu ke belakang dan membawakan keranjang belanjaan yang berisi beberapa lauk dari pasar. Setelah mencuci ikan, memasaknya. Ibu sudah bersiap untuk istirahat sebentar sebelum nantinya akan aktivitas merawat sayuran lagi. Setelah itu, kami berbincang tentang pernikahan. Meskipun sederhana, kami tetap akan membuat pelaminan. “Bu, tidak usah menyewa pelaminan. Itu akan membutuhkan biaya banyak,” ucapku. Ibu menoleh, ketika aku mengatakan itu. Matanya berkaca-kaca. Sekilas, aku memandang mata wanita tua ini berkaca-kaca. Kutahu, pasti hatinya sakit. Aku masih muda, ini pertama kali untukku. Akan tetapi, pernikahan ini harus sederhana. Bukan mewah intinya. Aku hanya ingin menikah untuk memberi tahu orang-orang, bahwa aku bukan pembawa sial. Atau bahasa kasarnya tidak laku. “Tidak apa-apa. Sederhana saja. Kamu daftar dulu pernikahan kalian. Setela